OWI DAN GIGITANNYA

Ini dia orangutan paling besar di sekolah hutan, Owi. Selain paling besar umur dan badannya, orangutan Owi juga orangutan yang paling nakal di sekolah hutan. Kenakalan yang paling sering dibuatnya adalah menggigit para animal keeper. Selain itu, Owi adalah orangutan yang paling usil di sekolah hutan, ketika Owi melihat ada hammock yang kosong ditinggalkan animal keeper sebentar saja… dengan segera Owi turun menuju hammock lalu bermain di hammock. Kalau Owi diusir untuk pergi, dia marah dan menggigit. “Andalannya kalau marah ya itu… menggigit. Pernah loh hammock sampai robek dan tidak bisa dipakai lagi karena digigit Owi.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Walaupun Owi adalah orangutan yang paling jagoan di sekolah hutan, jika hari mulai sore dan waktunya pulang, Owi akan berubah menjadi anak yang sangat manis. Dia akan diam di dalam gendongan animal keeper.

Saat kelas sekolah hutan, Owi sangat takut dengan animal keeper Joni dan Jevri. Tapi dia akan manis sekali pada Danel. “Duh… nakalnya Owi! Jangan ganggu Popi terus!”, teriak Joni. Akhir-akhir ini, Owi memang sering menganggu Popi yang asik memanjat. Owi memang paling suka menganggu bayi orangutan yang lain. Kenakalannya itu sampai membuatnya lupa untuk belajar membuat sarang. (WET).

TUHAN MASIH SAYANG KAMI

Selasa malam, hujan deras bercampur angin mengguyur camp COP Borneo. Beberapa minggu terakhir ini, cuaca di Labanan memang tidak menentu. Pagi hari cerah tapi tiba-tiba pukul 10.00 WITA hujan deras sekali hingga malamnya.

Hujan 28 November 2017 jam 22.10 WITA ini berbeda dari biasanya. Hujan benar-benar deras bercampur angin. Hanya kami berempat di camp, sementara yang lainnya sedang ke kota untuk keesokan harinya belanja logistik. Kami tertidur di tengah derak pepohonan sambil berdoa tidak tertimpa pohon tumbang.

Pagi hari… cuaca menjadi begitu tenang. Sekitar 10 meter dari camp ada pohon tumbang tepat di titian dan menutup jalan. “Syukurlah, Tuhan masih sayang dengan kami.”, ujar Herlina.Ternyata kami tertidur sangat lelap. Kami berempat tidak ada yang sadar kalau ada pohon yang tumbang. “Mendengar saja tidak. Untung pohon tidak jatuh ke arah camp, tetapi jatuh ke arah titian.”, tambah Herlina lagi.

Selesai memberi makan pagi orangutan-orangutan, kami bergotong-royong membersihkan jalan. Mesin gergaji yang kami miliki kurang besar untuk memotong pohon yang jatuh. Akhirnya kami memutuskan menunggu mobil dari kota untuk ke desa Merasa meminjam gergaji mesin yang lebih besar. Titian sedikit rusak, tapi kami semua selamat. (WET)

POPI, INI SARANG UNTUKMU

Sudah enam bulan bayi orangutan yang bernama Popi mengikuti kegiatan sekolah hutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Selama itu juga, para animal keeper bersabar menunggu perkembangan Popi di sekolah hutan. Mulai dari Popi hanya bisa berdiam di hammock, tidur dimana pun yang ia inginkan, menangis sepanjang berada di sekolah hutan karena ditinggal dan bingung untuk turun hingga sampai saat ini, Popi berani memanjat dan turun pohon sendiri.

Perkembangan Popi tak lepas dari program di sekolah hutan COP Borneo. Program yang menuntut para animal keeper sabar karena tingkah murid sekolah hutan yang tak mau tahu jika mereka telah asik bermain. Enam bulan saat yang tepat mengenalkan Popi sebuah sarang di sekolah hutan. Pagi ini, Danel memanjat pohon, menjalin beberapa ranting dan menyempurnakannya dengan daun-daun. Sarang buatan Danel untuk Popi. “Kita ini kan ibunya bayi-bayi malang ini. Kalau bukan kita yang mengajarinya atau mengenalkan sarang orangutan di hutan. Terus siapa lagi?”, ujar Danel serius.

Danel hampir saja selesai membuat sarang. Sementara itu, Jevri bersiap-siap membawa Popi untuk naik ke atas pohon. Dalam gendongan Jevri, Popi mempererat peganggannya. “Rasanya benar-benar jadi seorang ibu yang menggendong bayinya. Popi memelukku dengan kuatnya, seakan-akan dia tak mau sampai jatuh. Aku sendiri pun takut jika Popi sampai terjatuh.”, kenang Jevri saat makan malam bersama di dapur.

Sungguh luar biasa. Popi terlihat menyukai sarang buatan Danel. Tak ada tangisan Popi saat Danel dan Jevri meninggalkannya di sarang. Popi asik menggigit-gigiti ranting, daun dan memberanikan diri bergelantungan lalu kembali lagi ke sarangnya. Popi pun mengamati animal keeper dari sarang barunya. “Popi… kalau sekarang kamu duduk-duduk di sarang buatanku. Suatu saat nanti, kamu pasti bisa buat sarang mu sendiri ya!”, teriak Danel. (WET)

HERCULES, KAMU SATWA ABOREAL KAN?

Hercules adalah orangutan yang berbadan besar menghuni pula pra-rilis orangutan COP Borneo. Suatu pulau yang dipergunakan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk meminimalisir kontak manusia dengan orangutan. Di pulau ini, orangutan hanya diberi makan pada pagi dan sore hari, selebihnya orangutan akan mencari makanannya sendiri di pulau itu. Kami memantaunya dari seberang pulau, kadang terlihat orangutan menemukan sarang semut dan rayap, sering terlihat memakan kambium pohon, daun-daun muda dan saat musim buah ara muncul, pohon itu pun jadi pohon favorit mereka.

Usia orangutan Hercules sekitar empatbelasan tahun. Perilaku alami orangutan seperti membuat sarang di siang dan sore hari masih sulit dijumpai pada Hercules. Hercules juga segera mendekat saat mendengar suara perahu yang memberi pakan mendekat.Dia bahkan sudah tahu saat pagi dan sore, perahu itu akan membawa makanannya.

Paling besar di pulau pra-rilis COP Borneo namun secara kemampuan, Hercules berada di paling akhir. Orangutan yang merupakan satwa aboreal, yang dalam kesehariannya beraktivitas di atas pohon, berpindah dari satu kanopi ke kanopi lainnya, makan tidur dan aktivitas lainnya lebih banyak di atas pohon masih belum sepenuhnya ditunjuukan Hercules. Hercules masih sering di tanah. Jika dipersentase, 60% di tanah dan 40% beraktivitas di pohon. “Hercules… trauma apapun yang menghantui mu di masa lalu cepatlah berlalu.”, harap Wety Rupiana lirih.

KEMANDIRIAN UNYIL DI PULAU ORANGUTAN

Kedekatannya dengan manusia dari kecil membuat orangutan Unyil menjadi sangat jinak. Saat itu usianya masih 3 tahun. Unyil hidup di kandang berukuran 50x50x50 cm di dalam kamar mandi. Itu sebabnya, Unyil tak takut air. April 2015, Unyil mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup kembali ke alam, dia masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Tidak bisa manjat, tidak bisa makan buah yang bertekstur keras, memakan pisang dengan kulitnya, hanya bisa menangis dan kebingunggan saat animal keeper menjauhinya, begitulah Unyil yang kami kenal pertama kali. “Unyil terbiasa makan nasi dan minum teh selayaknya manusia.”, kenang Wety Rupiana, babysitter COP Borneo.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan… Unyil menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tepat di bulan kesebelas Unyil mengikuti sekolah hutan di COP Borneo, Unyil naik ke kelas pulau orangutan. Pulau yang hanya dihuni orangutan-orangutan yang setahap lagi akan dilepasliarkan kembali ke alam. Pulau pra-rilis orangutan COP Borneo yang berada di tengah aliran sungai Kelay, Berau Kalimantan Timur.

Di pulau pra-rilis inilah, Unyil menjadi dekat dengan orangutan Nigel. Nigel lah yang selalu melindungi Unyil dari gangguan orangutan lainnya. Namun, semenjak Nigel ditarik dari pulau untuk menjalani masa karantina untuk dirilis ke alam, Unyil menjadi semakin mandiri dan terpaksa membela dirinya sendiri. “Perkembangan Unyil sangat bagus, sekarang dia lebih sering terlihat di pohon. Dia bahkan sulit sekali dijumpai saat kami patroli di siang hari. Dia memilih bersembunyi dan menghindari gangguan orangutan lainnya.”, ujar Idam, teknisi pulau orangutan.

“Kami sempat kawatir, saat waktunya kami ‘feeding’, Unyil tak kunjung muncul. Tapi sekarang tidak lagi, setelah berhasil mengintipnya dari binokular pos pantau dan pengamatan fisiknya yang tidak ada perubahan mencolok. Bahkan kami memergokki Unyil sedang memakan kambium dan beberapa kali terlihat memakan buah ara yang terdapat di pulau pra-rilis orangutan.”, cerita Idam lagi.

Di pulau, Unyil belajar lebih banyak lagi. Mulai dari mencari makan di alam dan juga bertahan hidup. Semoga kelak, ketika dia sudah siap untuk dilepasliarkan kembali, masih ada hutan yang tersisa untuk rumah tempat tinggalnya. (WET)

MICHELLE TERPAKSA MASUK KANDANG

“Mereka tumbuh menjadi lebih besar… kuat… dan pintar. Kami semakin kesulitan menangani Icel. Dua bulan terakhir ini, Icel terpaksa tidak ke sekolah hutan.”, ujar Wety dengan sedih. Michelle atau lebih sering dipanggil Icel adalah orangutan betina yang berusia 7 tahunan. Dengan tubuhnya yang semakin besar, Icel semakin sulit dikontrol bahkan menyerang animal keeper. Icel juga sering menyakiti orangutan lainnya yang jauh lebih kecil darinya.

Inilah kenyataan di orangutan. Saat masih bayi, semua orang berkeinginan untuk memeliharanya, seperti boneka. Saat orangutan tumbuh besar dan kuat dengan munculnya insting liarnya, maka kebebasannya pun harus berakhir.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang terletak di kabupaten Berau, Kalimantan Timur hanya memiliki pulau orangutan pra-rilis untuk orangutan jantan. Orangutan-orangutan jantan yang semakin besar dan mandiri, akan dilepaskan di pulau itu. Sementara untuk orangutan betina, belum memiliki pulau. Para animal keeper secara bergantian memberikan enrichment pada Michelle agar dia tetap senang dan tidak bosan selama di kandang.

Bantu COP untuk berbuat yang terbaik untuk orangutan-orangutan betina yang semakin besar. Selain itu ada orangutan-orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan kembali ke alam yang membutuhkan tempat terbaik selain kandang karantina. Mereka tidak bisa dilepasliarkan lagi karena penyakit yang bisa menularkan ke orangutan liar lainnya seperti Memo yang menderita hepatitis.

UNTUNG ‘THE LUCKY’ IN COP BORNEO

A while ago, that little 18-months-old baby had to live inside a prison.. We called him ‘Untung’ – Indonesian word for lucky – because he was lucky he could survive since he’s lost some part of his fingers. He was also lucky to survive since he suffered from Hepatitis, but he still has got chance to go back where he came from, the wild. He was lucky he was small, since his cage was a bird cage. Untung was found by orangufriends Samarinda, COP Borneo volunteers that never got tired, running away from campus activities and work, to care for orangutans at Mulawarman University park, Samarinda. Untung ‘the lucky’ is lucky now he has grown into his adolescent.

His hesitation to climb trees is not unreasonable, his fingers are not perfect therefore it makes him difficult to hold on to branches. Untung can only perch on the branches like birds.. sitting.. crying. Once.. twice.. we don’t give up on him and take him to the trees. Come on Untung, you can climb it! Get your food! Bananas are the prize for him for climbing.

6 years later, Untung is not a baby anymore. No one is brave enough to go near him. Untung is one of the resident of pre-release island in COP Borneo. He is frequently seen on top of the tree. Sitting there and monitoring the situation. When he finds orangutan Novi, he’d chase her and start a fight. That is Untung, the lucky one.

UNTUNG YANG BERUNTUNG DI COP BORNEO
Saat itu, bayi yang berumur 18 bulan itu harus tinggal dalam penjara kecil… Menyebutnya dengan Untung karena beruntung tanpa jarinya yang sempurna dia masih bisa hidup. Beruntung juga walaupun menderita hepatitis tapi itu berasal dari alam dan Untung pun masih punya harapan untuk kembali ke alam. Beruntung dengan tubuh kecilnya meskipun diletakkan di kandang burung, Untung bertemu kami, relawan COP (Orangufriends) Samarinda yang tak kenal lelah, melarikan diri dari kampus maupun kerjaan ke KRUS untuk merawat orangutan-orangutan di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda. Beruntung lah Untung yang tanpa harapan kini tumbuh menjadi orangutan remaja.

Keragu-raguan mengajaknya memanjat pohon bukanlah tanpa alasan. Jarinya tak sempurna, bagaimana menggenggam dahan yang akan menjadi tumpuan. Untung pun hanya bisa bertengger seperti burung… diam… menangis. Sekali… dua kali tak putus asa mengajaknya ke pohon… “Ayo panjat! Ambil makananmu!”. Pisang pun menjadi iming-iming agar Untung mau berusaha memanjat, meraih makanannya.

Enam tahun berlalu, Untung bukanlah bayi lagi. Tak seorang pun berani mendekatinya. Untung adalah penghuni pulau pra-rilis COP Borneo. Dia lebih sering terlihat di atas pohon. Duduk-duduk di sana dan mengamati sekitarnya. Jika dia berhasil menemukan orangutan Novi, Untung akan mengejarnya dan mengajaknya berkelahi. Itulah Untung yang akan terus beruntung seperti namanya.

SI KALEM SEPTI

Septi namanya. Orangutan betina yang berusia 13 tahun ini adalah orangutan yang sangat kalem, tidak pernah melakukan penyerangan atau melukai keeper. Septi hanya akan memperhatikan animal keeper saat kandangnya dibersihkan. Septi juga akan menunggu animal keeper selesai meletakkan makannya di tempatnya, baru dia mengambil makanannya.

Septi adalah orangutan yang masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo pada akhir Oktober 2015. Itu berarti, sudah dua tahun ini, Septi berada di kandang karantina COP Borneo. Namun, akhir-akhir ini, Septi terlihat sering membentur-benturkan kakinya ke kandang sebelahnya. Mungkin dia ingin mengajak komunikasi orangutan lainnya.

“Aku paling suka mengamati Septi saat enrichment kelapa. Septi sangat menikmatinya. Ya… dia memang suka sekali dengan kelapa. Septi akan memakan seluruh isi kelapa sampai habis dengan giginya yang mengerikan.”, ujar Wety Rupiana. “Tak terbayangkan kalau gigi itu sampai mendarat di tangan ku… pasti koyak.”, tambah Wety seram. (WET)

BANTUAN MEDIS DARI OVAID TIBA DI KLINIK COP BORNEO

Senyum bahagia menerima barang-barang medis baru tak lepas dari kedua wajah dokter hewan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru yang telah lama diimpikannya. Ya… ini adalah mainan baru yang akan menemani Ryan dan Flora di klinik COP Borneo. Klinik mungil yang akan menjadi saksi kesehatan orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi orangutan pertama yang didirikan putra-putri Indonesia.

“Ini adalah autoclave… pekerjaan mensterilisasi alat-alat medis akan semakin mudah dengan alat ini. Tak perlu secara manual lagi.”, jelas drh. Flora penuh semangat. Ryan pun dengan semangat memeluk autoclave. “Aku peluk autoclave kamu clippernya ya Flo….”, ujar Ryan, “Dan jangan lupa difoto ya Wety!”.

OVAID adalah organisasi yang diawal kelahirannya telah mendukung kegiatan COP, terutama dibidang medisnya. Ini adalah tahun ke-3 nya secara teratur membantu COP mewujudkan beberapa peralatan yang memang dibutuhkan untuk menyelamatkan orangutan. Selain itu, OVAID juga turut membantu COP membangun sumber daya manusia di bidang medis lewat komunikasi jarak jauh dan terlibat menjadi pemateri di COP School. COP School adalah sebuah pelatihan untuk mereka yang peduli pada perlindungan orangutan secara khusus dan lingkungan secara umum.

Lalu… membantu Centre for Orangutan Protection bisa dengan banyak carakan! Seperti Orangutan Veterinary Aid lakukan yaitu membelikan peralatan medis. Yuk bantu orangutan Indonesia dengan caramu sendiri. Orangutan Indonesia membutuhkan bantuan mu.

SARANG HERCULES DI TANAH?

Setiap individu unik? Termasuk orangutan Hercules? Orangutan Hercules adalah orangutan yang sangat jarang membuat sarang di pulau pra-rilis COP Borneo. Ketika sore tiba, saat orangutan Novi, Unyil dan Untung sibuk memilih pohon untuk membuat sarang, orangutan Hercules juga sibuk memilih bekas sarang orangutan lain untuk dijadikan tempat tidurnya. Lalu… apa perkembangan Hercules di bulan Oktober ini?

Akhir-akhir ini, Hercules sering membuat sarang. Namun sarang yang dibuatnya bukanlah di pohon, melainkan di tanah. Ya, sangat berbeda dengan sarang orangutan di pohon. Sarang yang Hercules buat terdiri dari rumput-rumput, tidak ada daun maupun ranting dan tak bisa dikatakan untuk tempat beristirahat. Hercules terlihat hanya bermain dengan menumpuk-numpuk rerumputan.

Hercules adalah orangutan yang paling besar saat dia berada sekandang dengan Oki, Antak dan Nigel di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS), Kalimantan Timur di tahun 2010. Dia terkenal dengan sikapnya agresif dan suka merebut makanan ketiga orangutan yang sekandang dengannya. Saat diajak ke sekolah hutan, Hercules adalah orangutan besar yang takut ketinggian.

Perkembangannya yang lambat itulah yang membuatnya masih belum menjadi calon orangutan yang akan dilepasliarkan pada tahun 2017 ini. Tapi sarang buatannya kali ini memberikan harapan pada kami, semoga Hercules bisa terus belajar dan berkembang agar kelak kembali ke hutan yang merupakan habitatnya. (WET)

Page 8 of 16« First...678910...Last »