PENGURUS RUMAH TANGGA COP BORNEO

Biasa dipanggil Nia. Sania namanya, merupakan staf bagian rumah tangga pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sejak April ini, dia menyediakan segala keperluan yang berhubungan dengan dapur dan perawatan rumah COP Borneo. Warga desa Merasa dari RT IV ini juga bertanggung jawab dengan menu masakan untuk seluruh penghuni COP Borneo kecuali orangutannya.

“Senang sih bisa bergabung.”, ujar Sania malu-malu.

Selamat bergabung Nia… dan selamat menjalankan tugas.(WET)

THE “WAY BACK HOME” BOAT IS PULLED BACK TO THE LAND

“Way Back Home” boat had worked for COP Borneo orangutan rehabilitation center for one year and now it has serious damage. The boat is broken due to age and high usage cannot be avoided anymore. High mobility makes the boat brittle. “We were forced to pull back the boat to land.

Lifting the boat to the mainland is a challenge. Kelay River is currently on a low tide condition so lift a boat requires extra energy. After lifting it up, the boat is washed clean while marking the part of the leaked spot. Joni and Amir carefully mark it. “This is what makes the water going in,” he said while brushing the boat.

The weather in the monitoring camp is very bright. The boat dries quickly in just a few days. The next process is gluing. “Next week it will be checked again whether the gluing activity needs to be repeated or not,” added Joni.

The “Way Back Home” boat is bought by the profit from the Sound For Orangutan (SFO), a charity music program coordinated by Orangufriends (COP support group). This boat serves as a patrol vehicle on the COP Borneo orangutan island. Besides ensuring the condition of orangutans on the island, this boat is also working to transport orangutan food and other mobility needed. No wonder the villagers saying the WBH boat was the busiest boat in the Merasa Village because of its high mobility. Hopefully, the repairment of WBH boat will be done soon so it can be immediately driven on the Kelay River again. (IND)

PERAHU “WAY BACK HOME” DITARIK KE DARAT
Kerja keras perahu “Way Back Home” pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo selama satu tahun menyebabkan kerusakan cukup serius. Kebocoran lambung perahu karena usia dan penggunaan tidak bisa dihindarkan lagi. Mobilitas yang tinggi membuat fisik perahu mulai rapuh. “Kami terpaksa ‘mengkandangkan’ perahu menuju daratan.

Pengangkatan perahu ke daratan menjadi tantangan tersendiri. Air sungai Kelay yang saat ini sedang surut menambah jarak dengan medan terjal yang membutuh energi ekstra. Usai pengangkatan, perahu dicuci bersih sambil penandaan bagian rongga yang bocor. Joni dan Amir dengan teliti menandainya. “Ini nih yang bikin air masuk terus.”, katanya sambil terus menyikat perahu.

Cuaca di camp pantau memang lagi cerah sekali, perahu menjadi cepat kering hanya dalam beberapa hari. Proses selanjutnya adalah pengeleman. “Minggu depan akan di cek ulang apakah perlu pengulangan lagi atau tidak.”, tambah Joni.

Perahu “Way Back Home” adalah perahu hasil keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang dikoordinir Orangufriends (kelompok pendukung COP). Perahu ini bertugas sebagai kendaraan patroli di pulau orangutan COP Borneo. Selain patroli untuk memastikan kondisi orangutan di pulau, perahu ini juga untuk mengangkut pakan orangutan dan mobilitas lainnya. Tak heran jika warga kampung Merasa menjuluki perahu WBH adalah perahu paling sibuk di kampung Merasa karena mobilitasnya yang tinggi. Semoga perahu WBH lancar menjalani perawatan kali ini agar bisa segera bertugas mengarungi sungai Kelay kembali. (NIK)

DUA MINGGU PERTAMA JOJO DI COP BORNEO

Orangutan Jojo terlihat sulit bernafas. Apalagi saat sedang makan atau minum. Terdengar suara ngorok nya saat menarik nafas. Tak jarang, Jojo terlihat bernafas melalui mulut bukan hidung. Dengan kondisi Jojo yang lebih kecil dibandingkan dengan orangutan yang seumuran dengannya, membuat tim medis memberikan perhatian lebih pada tumbuh kembangnya. “Bagaimana pun juga, induk orangutan tau yang terbaik untuk anaknya. Sementara kami, tim medis berusaha lakukan yang terbaik. Anak orangutan adalah anak yang sangat tergantung pada induknya hingga usia 7 tahun. Selama itu, induk akan sangat melindunginya, mengajari yang mustahil bisa kami lakukan. Kami berharap, Jojo bisa cepat menyesuaikan diri dan bertahan dengan bantuan kami.”, ucap drh. Flora dengan penuh harapan.

Sejak 12 April 2018, Jojo masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Buah dan sayur yang merupakan pakan orangutan di pusat rehabilitasi ini, nyaris tak disentuhnya. Ini karena selama dalam pemeliharaan ilegal, Jojo diberi makanan nasi, sama seperti manusia. Tapi berkat ketelatenan para animal keeper di COP Borneo, Jojo sekarang menyukai jeruk dan pepaya.

Jojo, anak orangutan berusia 4 tahun ini masih dalam kandang karantina. Pemeriksaan kesehatan dan fisik akan menentukan bergabung tidaknya orangutan Jojo di sekolah hutan. Pengembalian kepercayaan diri Jojo juga menjadi fokus yang tak kalah pentingnya. “Tapi kami yakin, trauma yang dialami Jojo perlahan dapat diatasi.”, ujar Danel Jemy, koordinator animal keeper COP Borneo.

Mari bantu kami dalam perlindungan orangutan. Jika kamu mengetahui kepemilikan ilegal orangutan di sekitar mu, segera hubungi Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 (telpon atau sms) atau email kami di info@orangutanprotection.com agar tidak ada Jojo-Jojo yang lain, yang salah penanganan sehingga semakin menyulitkan proses rehabilitasi untuk kembali dilepasliarkan. (FLO)

SEPTI’S EXPRESSION AND HER COCONUT

Her tummy is getting bigger. Medical team became worried. It’s been almost a month now that septi’s tummy is bloated. fruits that cause belly bloat immediately cut from her diet. ” Do not give jackfruit to Septi, ok.”, drh. Felista ordered.

Periodic anthelmintic treatments had been done, but Septi’s tummy still looks big. Examination of septi’s feces was carried out. Hopefully the result will not distressing. Jevri then got a trick, everytime he feeds Septi, he put it on various corners of the cage. “So that Septi not just sit in the corner.”, said Jevri when asked.

Yeah.. maybe Septi needs more exercise. It’s really cute when Septi enjoyed coconut that succesfully cracked open by herself. This picture will be the first Septi’s expression. Septi stares at us while chewing. “Her teeth gives goosebumps!.”

EKSPRESI SEPTI DAN KELAPANYA
Perutnya semakin membesar. Tim medis menjadi kawatir. Sudah hampir sebulan ini, perut Septi kembung. Buah-buahan yang menyebabkan perut tidak nyaman segera dibuang dari menu makanan Septi. “Jangan kasih nangka ke Septi ya.”, begitu pesan drh. Felista.

Pemberian obat cacing secara berkala sudah dilakukan, namun perut Septi masih juga terlihat besar. Pemeriksaan feses Septi pun dilakukan. Semoga saja hasilnya tidak semakin membuat kawatir. Jevri pun tak habis akal, setiap kali memberikan makanan ke Septi, Jevri meletakannya di berbagai sudut kandang. “Biar Septi tak hanya duduk di sudut saja.”, begitu kata Jevri saat ditanya. Ya… mungkin Septi kurang banyak bergerak.

Sungguh lucu saat Septi menikmati kelapa yang berhasil dibukanya. Ini menjadi foto dengan ekspresi Septi yang pertama. Septi menatap kami sambil mengunyah. “Giginya bikin merinding!”.

DANEL JEMY, THE ANIMAL KEEPER COORDINATOR

Lets meet the most senior animal keeper in COP Borneo. He is usually called Brother Anen. His name is Danel Jemy, with responsibility as animal keeper coordinator in orangutan rehabilitation center COP Borneo, Anen has to ensures the process of orangutan care run according to the procedures. In his young age, this position becomes so challenging. Anen is also a native son, come from Merasa Village, the nearest village to COP Borneo.

November 2015, is the time when Anen first joined the orangutan rehabilitation center. ” Take care of orangutans? Not an interesting or cool job. But Anen shows his dedication to the nature. Young and fast learning with full responsibility.”, said Daniek Hendarto, manager of COP ex-situ program.

Don’t ask how dexterous he is in taking care of orangutans. With confidence, Anen will handle the orangutans ranging from infants to adults. As a native son, Anen is also a master of blowpipe and gunshot. Always on target, so that orangutan who wants to be saved or moved not experiencing stress when dealing with the team.

Currently, there are 17 orangutans who is in his supervision. Anen even has to set the work rhythm of the other animal keepers. Work schedule as well as day-offs are in his setting. Of course it’s not an easy things to do, because not all orangutans want be with specific animal keeper. Anen has to understand the psychological orangutan and its keeper. But hard work and good work ethic make Anen carried out his work smoothly. (NIK)

DANEL JEMY, SANG KOORDINATOR ANIMAL KEEPER
Kenalan yuk dengan animal keeper yang paling senior di COP Borneo. Dia biasanya dipanggil bang Anen. Danel Jemy namanya, dengan tanggung jawabnya sebagai koordinator animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Anen harus memastikan proses perawatan orangutan berjalan sesuai prosedur. Di usianya yang masih muda, jabatan ini menjadi begitu menantang. Anen juga merupakan putra daerah, kampung Merasa yang merupakan desa terdekat dengan COP Borneo.

November 2015, adalah saat Anen pertama kali bergabung di pusat rehabilitasi orangutan. “Ngurusin orangutan? Bukan kerjaan yang menarik atau keren. Tapi Anen menunjukkan dedikasinya untuk alam. Muda dan cepat belajar dengan penuh tanggung jawab.”, kata Daniek Hendarto, manajer program eks-situ COP.

Jangan ditanya kecekatannya merawat orangutan. Dengan percaya diri, Anen akan menangani orangutan mulai dari yang bayi hingga dewasa. Sebagai putra daerah, Anen pun jago menulup dan menembak. Selalu tepat sasaran, hingga orangutan yang mau diselamatkan atau dipindahkan tak sampai stres berhadapan dengan tim.

Saat ini, ada 17 orangutan yang berada dalam pengawasannya. Anen pun harus mengatur ritme kerja para animal keeper lainnya. Jadwal pekerjaan maupun libur ada dalam pengaturannya. Tentu saja bukan hal yang mudah, karena tidak semua orangutan mau bersama animal keeper tententu, Anen harus memahami psikologis orangutan asuh dan keepernya. Tapi kerja keras dan etos kerja yang baik membuat Anen dengan lancar menjalankan tanggung jawabnya. (NIK)

HERCULES HARUS BERTAHAN DI PULAU ORANGUTAN

Kehadiran Ambon di pulau orangutan sejak 1 Maret 2018 yang lalu membuat Hercules, orangutan yang sudah 2 tahun tinggal di pulau tersebut menghindar dan memanjat pohon tertingginya. Jika dilihat dari usia, Ambon memang jauh lebih tua. Cheekpad nya yang besar cukup membuat siapapun yang melihat takut. Walaupun Ambon terkenal sebagai orangutan yang kalem.

Hercules sempat selama beberapa hari tidak berani turun dan mengambil makanan yang diberikan animal keeper pada pagi maupun sore hari di feeding platform. Rasa laparnyalah yang memaksanya turun dan usaha animal keeperlah yang meletakkan makanan di tempat yang mudah di jangkau Hercules namun tak terlihat oleh Ambon. Hercules pun akhirnya makan.

Hercules adalah orangutan jantan dari kebun binatang di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS). COP mengenalnya sejak 2010 saat Hercules berada dalam satu kandang dengan orangutan kecil lainnya. Hercules sempat menjalanin sekolah hutan di KRUS yang saat itu dikelola tim APE Defender COP. Dari kandang pindah ke enclosure dengan sesekali menjalani sekolah hutan membuat Hercules percaya diri. Hercules juga beberapa kali melarikan diri dari enclosure, namun sayang dia menuju warung yang berada di sekitaran KRUS. “Memang sulit untuk meliarkan kembali orangutan yang sudah terlanjur lama berada dekat dengan manusia.”, ujar Reza Kurniawan, primatologist COP.

Dua tahun berada di pulau orangutan juga tak juga membuat Hercules berhasil membuat sarang untuknya beristirahat. Hercules memilih menggunakan sarang yang dibuat orangutan lain. Saat suara perahu datang, Hercules bukannya menjauh atau menghindar, namun mendekat dan mengharapkan makanan dileparkan. “Itu sebabnya Hercules bukanlah kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan tahun 2018 ini.”, ujar Reza dengan kecewa.

DEBBIE FOUND IN KELAY RIVER

The discovery of a human-like figure near IPA Sambalung PDAM, Berau, East Kalimantan on Thursday afternoon, 12 April 2018 shocked the COP Borneo team. Sadness so enveloped Tim that Tim finally arrived at RSUD Abdul Rivai to make sure the corpse was an orangutan.

After measuring the distance of the eyes and body and checking the tooth structure, the corpses of the orangutans who had not been in the intact state were closely approached physically to the disappearance of the Debbie orangutan since late March.

The team’s effort down the Kelay river for a whole week since its disappearance did not work. That still leaves Debbie hope to survive. “Every time we send food to the island and patrol we are still looking for Debbie. But now, that hope is gone. Debbie is dead, “Inoy said sadly.

Debbie is a deceased orangutan living in a cage. Female orangutans from the Botanical Garden of Unmul Samarinda are entrusted to COP Borneo orangutan rehabilitation center. On March 1, 2018, Debbie had the opportunity to be released on the island of orangutans. The island that will be a place to live forever because of the possibility to be released into the habitat is almost impossible because of Debbie’s previous life history that is always in the cage.

The development of Debbie on the island is quite astonishing. Debbie makes a hiding place or a nest on the ground. He can completely disguise and disappear to avoid Ambon, the male orangutan that was once a cage with him in KRUS. Debbie also managed to climb a tree as high as 15 meters. “Thank you Debbie, you have made us happy to see you live on the island during the month of March. Watching your progress once made us cry happily. And now we are crying sadly with your departure.”. (Dhea_Orangufriends)

DEBBIE DITEMUKAN DI SUNGAI KELAY
Penemuan sosok seperti manusia di dekat IPA PDAM Sambaliung, Berau, Kalimantan Timur pada Kamis sore, 12 April 2018 membuat kaget Tim COP Borneo. Kesedihan begitu menyelimuti Tim hingga akhirnya Tim tiba di RSUD Abdul Rivai untuk memastikan mayat adalah orangutan.

Setelah melakukan pengukuran jarak mata dan tubuh serta pengecekan struktur gigi, mayat orangutan yang sudah tidak dalam keadaan utuh tersebut mendekati fisik orangutan Debbie yang hilang sejak akhir bulan Maret.

Usaha tim menyusuri sungai Kelay selama seminggu penuh sejak hilangnya juga tidak membuahkan hasil. Itu pun masih menyisakan harapan Debbie bisa bertahan. “Setiap kali mengirimkan makanan ke pulau dan patroli kami masih terus mencari-cari sosok Debbie. Tapi kini, harapan itu pupus. Debbie sudah mati.”, ujar Inoy sedih.

Debbie adalah orangutan yang sudah puluhan tahun hidup di dalam kandang. Orangutan betina yang berasal dari Kebun Raya Unmul Samarinda ini dititipkan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Pada 1 Maret 2018 yang lalu, Debbie berkesempatan dilepas di pulau orangutan. Pulau yang akan menjadi tempat hidup selamanya karena kemungkinan untuk dilepas liarkan ke habitatnya hampir tidak mungkin karena sejarah hidup Debbie sebelumnya yang selalu berada di dalam kandang.

Perkembangan Debbie selama di pulau cukup mencengangkan. Debbie membuat tempat persembunyian atau sarang di tanah. Dia benar-benar bisa menyamar dan menghilang untuk menghindari Ambon, orangutan jantan yang pernah satu kandang dengannya di KRUS. Debbie juga sudah berhasil memanjat pohon setinggi 15 meter. “Terimakasih Debbie, kamu sudah membuat kami bahagia dengan melihatmu hidup di pulau selama bulan Maret lalu. Menyaksikan perkembanganmu pernah membuat kami menangis bahagia. Dan kini kami menangis sedih dengan kepergianmu.”.

SEPTI BERBAGI KANDANG DENGAN POPI

Usaha memasukkan Popi ke kandang sosialisasi bersama orangutan kecil lainnya tak berhasil. Popi di-bully oleh orangutan lainnya. Ditarik-tarik lalu digigit, dan Popi terus menerus tidak bisa membela diri. Tubuh Popi memang sangat kecil dibanding orangutan lainnya. Mungkin Popi juga terlalu manja karena Popi sedari masih bayi sudah mengenal manusia.

Saat bayi Popi baru tiba di COP Borneo, September 2017 yang lalu, Popi tinggal di klinik. Keranjang dengan selimutlah yang menjadi tempat tidurnya. Popi pun tumbuh dan semakin banyak keinginan, Popi pun dipindahkan ke kandang yang berada di belakang klinik COP Borneo. Hingga akhirnya Popi sudah mulai mencoba kekuatannya. “Kandang yang berada di belakang klinik tidak cukup kuat, itulah sebabnya dia dipindahkan ke kandang sosialisasi, bergabung bersama orangutan kecil lainnya. Sayangnya, Owi, Bonti bahkan Happi menarik-nariknya, bahkan menggigitnya. Popi pun menjerit-jerit. Hingga akhirnya kami mencoba memperkenalkan Popi pada Septi. Syukurlah, Septi bisa menerima Popi.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

“Popi sempat menangis ketika Septi mendekat. Dia terlihat ketakutan, namun Septi segera mencium Popi dan dengan seketika tangis Popi hilang. Sungguh saat yang mengharukan. Rasa takut kami pun sirna dengan seketika. Septi bisa menerima Popi dan Popi merasa nyaman.”, tambah Wety Rupiana, baby sitter Popi selama ini.

Kini, sudah satu bulan Septi berbagi tempat tidur dengan Popi. Tak hanya tempat tidur, makanan pun selalu dibagi Septi. Tak ada lagi yang harus kami kawatirkan. Terimakasih Septi. (WET)

A MONTH WITH ANNIE AT COP BORNEO

This is Annie. The new orangutan male entered the COP Borneo orangutan rehabilitation center on March 11, 2018. He isn’t more than 4 years old. He lives with people in Merapun village. Inside the 3 × 3 m, this cage of wood became his home.

Three years of living with humans has changed his behavior and his present nature. Ever since childhood, Annie had to live without his mother’s affection. When viewed from outside physical conditions, Annie looks fine, in terms of not skinny.

First time entering the quarantine cage at COP Borneo, Annie looks confused. Annie often sounded loud like shouting during the daytime. During a month of watching Annie, Annie is a very spoiled orangutan. When any animal keeper comes along, he will be pretending to be shy to come. But when the animal keeper starts to move away from the cage, Annie begins to cry.

There was another month left for Annie in the quarantine cage. This benign behavior is going to be the toughest animal keeper homeworks. “But we are optimistic, every orangutan brought to COP Borneo will learn fast. The Borneo COP forest school is truly Borneo’s true rainforest. This forest will teach Annie.”, said Anen spirit. (SLX)

ANNIE SELAMA SEBULAN DI COP BORNEO
Inilah Annie. Orangutan jantan yang baru masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo pada tanggal 11 Maret 2018. Usianya tak lebih dari 4 tahun. Dia hidup bersama warga di desa Merapun. Di dalam kandang berukuran 3 x 3m dari kayu ini menjadi rumahnya.

Tiga tahun hidup bersama manusia telah mengubah perilaku dan sifatnya yang sekarang. Sejak kecil, Annie harus hidup tanpa kasih sayang induknya. Jika dilihat dari kondisi fisik luar, Annie terlihat baik-baik saja, dalam artian tidak kurus.

Pertama kali masuk kandang karantina di COP Borneo, Annie terlihat bingung. Annie sering bersuara keras seperti berteriak ketika siang hari. Selama sebulan mengamati Annie, Annie merupakan orangutan yang sangat manja. Ketika ada animal keeper datang, dia akan malu-malu kucing mendekat. Namun ketika animal keeper mulai menjauh dari kandang, Annie pun mulai menangis.

Masih ada waktu satu bulan lagi yang harus dilalui Annie di kandang karantina. Perilaku jinak nya ini akan jadi PR terberat animal keeper. “Tapi kami optimis, setiap orangutan yang dibawa ke COP Borneo akan belajar cepat. Sekolah hutan COP Borneo benar-benar hutan hujan Kalimantan yang sesungguhnya. Hutan ini akan mengajarkan Annie.”, ujar Anen semangat. (EJA)

DEBBIE IS MISSING FROM THE ISLAND

March 1st is a very historic day for Center for Orangutan Protection. The day that COP stands to address the orangutans and habitat problems by documenting the conditions in the field where orangutans lose their habitat. In the year 2018 is also the history of zoo orangutans who have dozens and even tens of years will learn to live without the iron bars that restrict movement. The lucky orangutan is Ambon and Debbie.

Debbie, a 20-year-old female orangutan, after waiting in the quarantine cage for 2 years and 9 months at the orangutan rehabilitation center COP Borneo, Berau, East Kalimantan, finally enjoys his freedom. One … the first two weeks, Debbie still struggling downstairs. Make a nest / hideout from the leaves it finds underneath. Calling Debbie to the feeding platform while feeding also keeps track of her progress. Debbie climbed the first tree. He survives at a height of 15 meters. The next day, March 25, 2018, Debbie is still in the same tree, just above the feeding platform and dear, it was the last encounter with Debbie when the team finished feeding in the afternoon.

Debbie’s search was immediately made. When feeding morning at 09.00 WITA (26/3/2018) Debbie is not seen. The team toured the island until it got darker. The next day the team searched Debbie by sweeping the orangutan island, and checked out the usual place Debbie had visited. Unfortunately the search still has not produced results.

The addition of personnel to search Debbie was done, sweeping the island repeated, down river began to be done up to Nyapak village and Long Lanuk village. The village is about 4 hours down of the river with ketinting / boat from the orangutan island where Debbie lives. A whole week, Debbie is in searched and the team loses Debbie.

Not desperate, the team still continue to check the details on every corner of the island and the riverside. But there is no sign of its existence. Debbie is missing without a trace. (LSX)

DEBBIE HILANG DARI PULAU
1 Maret adalah hari yang sangat bersejarah untuk Centre for Orangutan Protection. Hari dimana COP berdiri untuk menjawab permasalahan orangutan dan habitatnya dengan mendokumentasi kondisi di lapangan dimana orangutan kehilangan habitatnya. Di tahun 2018 ini pula sejarah orangutan kebun binatang yang telah belasan bahkan puluhan tahun akan belajar hidup tanpa jeruji besi yang membatasi gerakannya. Orangutan yang beruntung itu adalah Ambon dan Debbie.

Debbie, orangutan betina yang berusia 20 tahun, setelah menanti di kandang karantina selama 2 tahun 9 bulan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur, akhirnya bisa menikmati kebebasannya. Satu… dua minggu pertama, Debbie masih berkutat di bawah. Membuat sarang/tempat persembunyian dari daun-daun yang ditemukannya di bawah. Memanggil Debbie ke feeding platform saat memberi makan juga untuk terus memantau perkembangannya. Debbie pun memanjat pohon pertamanya. Dia bertahan di ketinggian 15 meter. Keesokan harinya, 25 Maret 2018, Debbie masih berada di pohon yang sama, tepat di atas feeding platform dan sayang, itu adalah perjumpaan terakhir dengan Debbie saat tim selesai melakukan feeding di sore hari.

Pencarian Debbie pun langsung dilakukan. Saat feeding pagi pukul 09.00 WITA (26/3/2018) Debbie tidak terlihat. Tim berkeliling pulau hingga hari semakin gelap. Keesokan harinya tim mencari Debbie dengan menyisir pulau orangutan, dan mengecek tempat yang biasa Debbie kunjungi. Sayang pencarian masih belum membuahkan hasil.

Penambahan personil untuk pencarian Debbie pun dilakukan, penyisiran pulau diulang, penyusuran sungai mulai dilakukan hingga kampung Nyapak dan kampung Long Lanuk. Kampung tersebut sekitar 4 jam menyurusuri sungai dengan ketinting/perahu dari pulau orangutan tempat Debbie tinggal. Seminggu penuh, Debbie dalam pencarian dan tim kehilangan Debbie.

Tak kenal putus asa, tim pun masih terus melakukan pengecekkan detil di setiap sudut pulau dan pinggiran sungai. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya. Debbie hilang tanpa bekas.

Page 5 of 17« First...34567...10...Last »