BULLIYING ON THE FIRST DAY OF ANNIE

Geez … at the beginning of the class of COP Borneo forest school, East Kalimantan, one participant has made a riot. Annie, the newcomer looked at Happi fiercely. Not only Happi, Annie also showed an attitude of unfriendly to Owi. Owi even got a hit from Annie on the way to the forest school.

But once in the forest school, the situation becomes turned 180 degrees. Annie who always wanted to challenge Happi and Owi could not do much. Happi always tried to bite and pursue Annie, wherever Annie went. Owi did not want to lose. The first day of school became more and more difficult for Annie.

The forest school has lasted half a day. Animal keeper is busy continuously separating Annie and Happi fights. Annie also looked very tired and wanted to give up. But Happi continued to approach Annie and invite a fight. Maybe this is a welcome statement to Annie from Happi. (WET)

BULLYING DI HARI PERTAMA ANNIE
Ya ampun… di awal kelas sekolah hutan COP Borneo, Kalimantan Timur, satu orang peserta telah membuat kericuhan. Annie, si pendatang baru menatap Happi dengan galaknya. Tak hanya Happi, Annie pun menunjukkan sikap tidak ramahnya pada Owi. Bahkan Owi sempat mendapatkan satu pukulan dari Annie dalam perjalanan menuju sekolah hutan.

Tapi sesampainya di sekolah hutan, situasi menjadi berbalik 180 derajat. Annie yang selalu ingin menantang Happi dan Owi tak bisa berbuat banyak. Happi selalu berusaha menggigit dan mengejar Annie, kemana pun Annie pergi. Owi pun tak mau kalah. Hari pertama sekolah menjadi semakin sulit buat Annie.

Sekolah hutan telah berlangsung setengah hari. Animal keeper sibuk terus menerus memisahkan perkelahian Annie dan Happi. Annie pun terlihat sangat capek dan ingin menyerah. Namun Happi terus mendekati Annie dan mengajak berkelahi. Mungkin ini adalah ucapan selamat datang untuk Annie dari Happi. (WET)

JONI, THE RAMBO FROM COP BORNEO

There are 3 animal keepers who have joined the COP Borneo, Berau, East Kalimantan orangutan rehabilitation center for a long time. One of them is Joni. He grew up in the Merasa Village, near from the location of COP Borneo.

Since November 2015, Joni has now become adept at using tulup (blowpipe), drug gun and taking care of orangutans. Joni is also good at carrying ketinting (little machine boat) on a various kind of river courses. Now, he holds the responsibility for the care of orangutans and logistics. In addition, Joni also has a stake in the construction of quarantine cages for orangutans and renovation of the wood bridge.

When transferring orangutans, translocations and orangutan rescue, Joni is always on the front line with the COP Borneo medical team. He is the reliable executor of anesthesia that the medical team has always trusted. Joni got the nickname, Joni Rambo, like the heroic Hollywood movie with his gun.(IND)

JONI, RAMBO DARI COP BORNEO
Ada 3 animal keeper yang sudah cukup lama bergabung dengan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Salah satunya bernama Joni. Dia tumbuh dan besar di kampung Merasa yang tak jauh dari lokasi berdirinya COP Borneo.

Sejak November 2015, Joni pun sekarang sudah mahir menggunakan tulup, senapan bius dan menagani orangutan. Joni juga jago membawa ketinting dalam jalur sungai yang berat sekalipun. Kini tanggung jawab perawatan orangutan dan logistik pun dipegangnya. Selain itu, Joni juga punya andil dalam pembangunan kandang karantina untuk orangutan serta renovasi titian.

Saat pemindahan orangutan, translokasi dan penyelamatan orangutan, Joni selalu di garis depan bersama tim medis COP Borneo. Dialah, eksekutor handal pembiusan yang selalu dipercaya tim medis. Joni pun mendapat julukan, Joni Rambo, seperti di film Hollywood yang heroik dengan senjata apinya. (WET)

WELCOME TO OUR FOREST SCHOOL, ANNIE

Two months ago Annie arrived at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Kalimantan. “Annie’s behavior for two months had made us believe, Annie would immediately climb a tree and disappear in the canopy. Not only that, but we also estimate we will have difficulty asking Annie back to the cage,” said Reza Kurniawan, a primate anthropologist of COP.

But what we have predicted is missed. Annie looks confused at the forest school. He just walked around the animal keeper and climbed no higher than 3 meters. Yes, this is the first day he is free from the cage.

Annie is a male orangutan who was rescued from Merapun village, East Kalimantan. He was an illegal pet for three years before we rescue him. The owner made his behavior became tame. He was still a baby when the owner brought him, around 1 year old. At that age, orangutan babies suppose to be under parental care. The babies will continue to be attached to their mothers until they are 6 years old. After that, the mother will start weaning her child to live alone. Orangutans are basically solitary animals.

Annie’s first day at forest school will be a special note for us. We hope that COP supporters also follow Annie’s development at COP Borneo and give support to her through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Wait for her three-month report in August. (IND)

SELAMAT DATANG DI SEKOLAH HUTAN, ANNIE
Dua bulan sudah Annie tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. “Perilaku Annie selama dua bulan itu sempat membuat kami yakin, Annie akan langsung memanjat pohon lalu menghilang di dedaunan. Tak hanya itu, kami juga memperkirakan, kami akan kesulitan mengajak Annie kembali ke kandang.” ujar Reza Kurniawan, antropologis primata COP.

Namun apa yang telah kami prediksi, meleset. Annie terlihat bingung di lokasi sekolah hutan. Dia hanya berjalan-jalan di sekitar animal keeper dan memanjat tidak lebih tinggi dari 3 meter. Iya, ini adalah hari pertamanya bebas dari kandang.

Annie adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di desa Merapun, Kalimantan Timur. Tiga tahun masa pemeliharaan tersebut membuat prilakunya menjadi jinak. Terlebih lagi di usianya yang masih bayi, saat itu sekitar 1 tahun. Usia bayi orangutan yang sedang berada dalam pengawasan ketat induknya. Anak orangutan akan terus menerus melekat pada induknya hingga berusia 6 tahun. Setelah itu, induk akan mulai menyapih anaknya agar bisa hidup sendiri. Orangutan pada dasarnya adalah mahkluk soliter.

Hari pertama Annie akan menjadi catatan tersendiri untuk kami. Kami berharap, para pendukung COP juga mengikuti perkembangan Annie selama di COP Borneo dan memberikan dukungannya lewat Tunggu rapot tiga bulanannya di bulan Agustus ya.

ORANGUTAN IN THE BANDUNG ZOO

This male orangutan was seen sitting on the grass. Cages without bars is a modern kind of cage recommended for
conservation institutions, it’s often known as enclosure. Generally, conditions of the Bandung Zoo enclosure was pretty good. There were one shelter in the form of gazebo that should be better if it was in the form of tree house to force orangutans to climb and train their muscles.

The enclosure area estimated to be around 15×15 meters equipped with 2 trap cages that’s enough for the orangutans when the enclosure must be cleaned regularly. Inside the trap cages was seen enrichment to entertain them whenever they’re inside the cage.

The information board was also quite communicative. There was also a prohibition to not to feed the animals. “It demands the visitors to be more disciplined in obeying the existing regulations.”, said Hery Susanto, coordinator of COP’s Anti Wildlife Crime unit. “Moreover, holiday season is coming soon which usually will increase the number of visitors with various backgrounds.”.

Unfortunately, the water inside the pond that surrounds the enclosure looked dry. The pond should be a distance between the orangutans and visitors besides the wall. So if there’s visitor trying to throw something, it can’t directly hit the orangutans. The water can be also used to drink for the orangutans whenever they are thirsty. (SAR)

ORANGUTAN DI KEBUN BINATANG BANDUNG
Orangutan jantan ini terlihat duduk-duduk di antara rerumputan. Kandang tanpa jeruji adalah kandang modern yang direkomendasikan untuk lembaga konservasi umum atau sering disebut juga enclosure. Secara umum, kondisi enclosure Kebun Binatang Bandung ini cukup baik. Ada satu tempat berteduh berbentuk gazebo yang seharusnya bisa lebih berbentuk rumah pohon yang bisa memaksa orangutan memanjat agar bisa melatih otot-otot tangannya.

Luas enclosure yang diperkirakan sekitar 15×15 meter dilengkapi dengan 2 buah kandang jebak cukup bisa mengatasi orangutan saat enclosure harus dibersihkan secara berkala. Di dalam kandang jebak sendiri terlihat enrichment untuk mengatasi kebosanan saat berada di kandang jebak.

Papan informasi juga cukup komunikatif. Tak lupa juga himbauan untuk tidak memberi makanan maupun minuman. “Ini menuntut para pengunjung untuk lebih disiplin mematuhi peraturan yang ada.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP. “Apalagi ini akan memasuki musim liburan yang biasanya akan terjadi peningkatan jumlah pengunjung dengan latar belakang yang berbagai macam.”.

Sayang air yang seharusnya mengelilingi enclosure terlihat kering. Kolam keliling itu seharusnya bisa menjadi jarak untuk orangutan dan pengunjung selain tembok. Sehingga jika ada pengunjung nakal yang melemparkan sesuatu ke orangutan tidak bisa langsung sampai pada orangutannya. Air itu juga bisa dimanfaatkan orangutan sebagai air minumnya saat dia kehausan.

WILDLIFE CONFISCATED WILDLIFE TRADERS RETURN WILD IN THEIR HABITAT

The attempt to rehabilitate wildlife from trade is not as easy as turning a palm. The confiscated animals from the joint Police and Center for Orangutan Protection operations with other organizations in 2013 can only be returned to nature by 2018. “Like the five pandanus weeds (Paradoxurus hermaphroditus) that were entrusted and rehabilitated in the Wildlife Rescue Center of Jogja, since 18 September 2013.”, explained Daniek Hendarto, COP ex situ program manager.

Not just rehabilitate, the location search for release is also a problem in itself. “The network must be strong enough for the process to run quickly. For that, not infrequently we also must include evidence such as photographs that the release location is the habitat of these animals.”, added Daniek Hendarto.

May 19, 2018 There are eight wild animals from illegal trade seizure trade of 5 wild pandanus, 2 forest cats (Prionailurus bengalensis) and one Javanese hedgehog (Hystrix Javanica). The eight animals have shown the feasibility to be returned to their habitat both in terms of health and behavior. “All the animals are healthy, there is no disease and the behavior is feasible to be returned to nature.”, said drh. Irhamna Putri Rahmawati., M.Sc.

WRC Jogja under the Yogyakarta Nature Conservation Foundation is located in Paigan, Pengasih, Kulon Progo currently cares for 170 protected wildlife. Everything is the result of BKSDA seizure operations as well as Police assisted by COP, Animals Indonesia and other non-governmental organizations. Trade in wildlife is still quite high, this is due to the awareness of the community to maintain and have wild animals as very low maintenance animals. The Center for Orangutan Protection is looking forward to the role of Orangufriends (a group of COP supporters) who have been running education and awareness to schools and communities. “Wildlife … yes in the nature of his home.”. (LSX)

SATWA SITAAN PEDAGANG ILEGAL KEMBALI LIAR DI HABITATNYA
Usaha merehabilitasi satwa liar dari perdagangan tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Satwa hasil sitaan dari operasi gabungan Kepolisian dan Centre for Orangutan Protection bersama organisasi lainnya pada tahun 2013 baru bisa dikembalikan ke alam di tahun 2018 ini. “Seperti kelima ekor musang pandan (Paradoxurus hermaphroditus) yang dititipkan dan direhabilitasi di Wildlife Rescue Centre Jogja, sejak 18 September 2013 ini.”, jelas Daniek Hendarto, manajer program eks situ COP.

Tak hanya sekedar merehabilitasi, pencarian lokasi pelepasliaran juga menjadi permasalahan tersendiri. “Jaringan harus cukup kuat agar proses bisa berjalan dengan cepat. Untuk itu, tak jarang kami juga harus menyertakan bukti seperti foto bahwa lokasi pelepasliaran merupakan habitat satwa tersebut.”, tambah Daniek Hendarto.

19 Mei 2018 ini ada delapan satwa liar dari operasi penyitaan perdagangan ilegal satwa liar yaitu 5 musang pandan, 2 kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dan satu landak jawa (Hystrix Javanica). Kedelapan satwa sudah menunjukkan kelayakan untuk dikembalikan ke habitatnya baik dari sisi kesehatan dan perilakunya. “Semua satwanya sehat, tidak ada penyakit dan perilakunya layak untuk dikembalikan lagi ke alam.”, kata drh. Irhamna Putri Rahmawati., M.Sc.

WRC Jogja yang berada di bawah Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta berlokasi di Paigan, Pengasih, Kulon Progo saat ini masih merawat 170-an satwa liar yang dilindungi. Semuanya merupakan hasil operasi penyitaan BKSDA maupun Kepolisian dibantu COP, Animals Indonesia dan lembaga swadaya masyarakat lainnya. Perdagangan satwa liar memang masih cukup tinggi, ini disebabkan kesadaran masyarakat memelihara dan memiliki satwa liar sebagai hewan pelihara sangat rendah. Centre for Orangutan Protection berharap besar pada peran Orangufriends (kelompok pendukung COP) yang selama ini menjalankan edukasi dan penyadartahuan ke sekolah maupun masyarakat. “Satwa liar… ya di alam rumahnya.”.(NIK)

HOW IS AMBON NOW?

Ambon, an adult male orangutan who has lived behind bars for decades has managed to survive for a month on the orangutan island. At the island, Ambon lives without any artificial boundaries. The fast flowing river is the natural fence for him to limiting orangutan interaction with humans.

Ambon has also succeeded in climbing trees. Previously, he made the team worried about his climbing ability because he almost had no experience lived outside the cage. Unexpectedly, in just 3 hours, Ambon was already in the tree he chose.

A month passed. The monitoring team did not see Ambon go down to eat. The team called Ambon, but Ambon never went down to eat. Natural food on the island is not enough to support orangutans, that’s why the COP Borneo team every morning and evening always puts orangutan food while checking the presence of orangutans on the island.

Three days passed, the team began to plan to take Ambon back to the cage. Mid-April 2018, Ambon returned to the quarantine enclosure. The medical team observed Ambon in more detail. Reza Kurniawan, the manager of the rehabilitation center who also a primate anthropologist is also involving to observe Ambon.

“Finally Ambon wants to eat.” Ambon looks more comfortable in his cage. It is not easy to change a habit. Moreover, it has been inside the cage for decades. The team is still planning when Ambon can return to the island. However, Ambon has the right to live without iron bars. (IND)

BAGAIMANA KABAR AMBON?
Ambon, orangutan jantan dewasa yang sudah puluhan tahun hidup di balik jeruji telah berhasil bertahan hidup selama satu bulan di pulau orangutan. Pulau, dimana Ambon hidup tanpa pembatas buatan. Sungai beraliran deraslah yang menjadi pagar alami untuknya sebagai batas interaksi orangutan dengan manusia.

Ambon juga telah berhasil memanjat pohon, yang sebelumnya sempat membuat tim kawatir akan kemampuan memanjatnya, mengingat sejarah Ambon yang tak pernah hidup di luar kandang. Di luar perkiraan, hanya dalam hitungan 3 jam, Ambon sudah berada di atas pohon yang dipilihnya.

Sebulan berlalu. Tim pemantau tak melihat Ambon turun untuk makan. Tim memanggil-manggil Ambon, namun Ambon tak kunjung turun untuk makan. Pakan alami di pulau tidak cukup untuk menompang orangutan, itu sebabnya, tim COP Borneo setiap pagi dan sore selalu meletakkan makanan orangutan sembari mengecek keberadaan orangutan di pulau.

Tiga hari berlalu, tim mulai menyusun rencana untuk menarik Ambon ke kandang. Pertengahan April 2018, Ambon kembali ke kandang karantina. Tim medis mengamati Ambon lebih detil lagi. Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi yang merupakan ahli antropologi primata juga tak lepas dalam mengamati Ambon.

“Akhirnya Ambon mau makan.”. Ambon terlihat lebih nyaman berada di dalam kandangnya. Memang tidak mudah merubah sebuah kebiasaan. Apalagi sudah terbiasa selama puluhan tahun. Tim hanya bisa merencanakan kembali, kapan Ambon bisa kembali ke pulau. Bagaimana pun, Ambon berhak hidup tanpa jeruji besi.

HERCULES LOOKS RENOVATED THE OLD NEST

It was already a month that Hercules inhabited the orangutan island alone. Without the greater and dominant Ambon orangutan, Hercules becomes more freely exploring the island. Exciting news from the development of Hercules. Hercules is seen fixing the old nest of former the orangutan Novi.

“Shortly after Hercules was busy in the old nest of Novi, the day became dark. And Hercules is still there and immobile. Chances are he really slept in this nest.”, Inoy said while watching the island from the camp monitor.

“This is exciting news. A good start for the development of Hercules. That hope never broke, we in COP Borneo became more excited again. That nothing is impossible!.”, said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo rehabilitation center.

Hercules is a male orangutan from the zoo, precisely Botanical Garden Unmul Samarinda/ KRUS. In 2010, Hercules was a very naughty orangutan who repeatedly came out of the cage without the iron bars/ enclosures to eat from the stalls. His large body could have scared the other animal keeper. But the development of Hercules is like quitting, the orangutan whose age are growing more rapidly in line with their survival abilities. Like making nests, climbing, looking for natural food and even survive by fighting with other orangutans. Other orangutans, who previously inhabited the orangutan island along with Hercules are undergoing quarantine period for reintroduction back into their habitat. While Hercules is left behind because of its survival ability is considered not fulfilling the pre-release prerequisites. “Now, we can return to hope, Hercules also have hope to return to their habitat.”, Inoy said with enthusiasm. (LSX)

HERCULES TERLIHAT RENOVASI SARANG LAMA
Sebulan sudah Hercules menghuni pulau orangutan sendirian. Tanpa orangutan Ambon yang terlihat lebih besar dan dominan, Hercules menjadi lebih leluasa menjelajah pulau. Berita menggembirakan dari perkembangan Hercules. Hercules terlihat memperbaiki sarang lama bekas orangutan Novi.

“Tak lama setelah Hercules sibuk di sarang lama bekas Novi, hari menjadi gelap. Dan Hercules masih tetap disitu dan tak bergerak. Kemungkinan dia benar-benar tidur di sarang ini.”, ujar Inoy saat mengamati pulau dari camp pantau.

“Ini adalah berita yang menggembirakan. Permulaan yang baik untuk perkembangan Hercules. Harapan itu tak pernah putus, kami di COP Borneo pun menjadi lebih bersemangat lagi. Bahwa tak ada yang tak mungkin!”, tegas Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi COP Borneo.

Hercules adalah orangutan jantan dari kebun binatang, tepatnya Kebun Raya Unmul Samarinda/KRUS. Tahun 2010 yang lalu, Hercules adalah orangutan yang sangat nakal hingga berulang kali keluar dari kandang tanpa jeruji besi/enclosure untuk makan dari warung. Tubuhnya yang besar sempat membuat takut animal keeper yang lain. Namun perkembangan Hercules seperti berhenti, orangutan yang seumuran dengannya berkembang lebih pesat lagi seiring dengan kemampuan bertahan di alam mereka. Seperti membuat sarang, memanjat, mencari pakan alami bahkan bertahan hidup dengan berkelahi dengan orangutan lainnya. Orangutan lainnya, yang sebelumnya menghuni pulau orangutan bersama Hercules sedang menjalani masa karantina untuk pelepasliaran kembali ke habitatnya. Sementara Hercules ditinggal karena kemampuannya bertahan hidup dianggap tidak memenuhi prasyaratan pelepasliaran tersebut. “Kini, kami bisa kembali berharap, Hercules pun punya harapan untuk kembali ke habitatnya.”, ujar Inoy dengan semangat. (NOY)

COP BORNEO NEED HANDY TALKIE

Smart phones have mushroomed into the primary needs that will always be prioritize to travel anywhere. Office, shop, beach or to the place of a girlfriend. Even for some people, prefer to miss his wallet than missed his smart phone. The needs of the function of the smart phone itself is considered very important in maintaining communication in the work sector and personal life. Almost all things can be done with smart phones like SMS, talk, watch TV, edit photos or even video to work on reports. Communication is the most important thing for life now. This all depends on the availability of telephone and internet signals. So what about the fate of the people who live in the forest?

The absence of signals makes the smart phone function less than 50%. Smart phones only serve to be cameras, listening to music, playing games and typing reports. For people living in the forest and without signal, human-to-human conflicts are particularly vulnerable, due to frequent miscommunication among them. We can only communicate at close range. If different locations, can only convey messages through friends who will meet with the person. “To immediately shout? Wow … impossible because of a considerable distance.”, said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo. “This is quite a hindrance to the work, because they have to wait for each other waiting.”, he added.

In the near future, COP Borneo will release 2 of the best orangutan individuals. There will be 2 release location points with 2 monitoring teams. Handy Talkie will be one vital thing to launch this activity. Help us through KITABISA

COP BORNEO MEMBUTUHKAN HT
Smart Phone sudah menjamur menjadi kebutuhan primer yang akan selalu diutamakan untuk bepergian kemana saja. Kantor, warung, pantai ataupun ke tempat pacar. Bahkan bagi beberapa orang, lebih memilih ketinggalan dompetnya dibandingkan ketinggalan smart phone miliknya. Kebutuhan fungsi dari smart phone sendiri sudah dirasa sangat penting dalam menjaga komunikasi di sektor pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Hampir seluruh hal bisa dilakukan dengan smart phone seperti SMS, berbicara, nonton TV, edit foto maupun video bahkan untuk mengerjakan laporan. Komunikasi menjadi hal yang sangt penting bagi kehidupan sekarang. Ini semua tergantung dengan ketersediaan sinyal telepon maupun internet. Lantas bagaimana dengan nasib orang-orang yang tinggal di hutan?

Tidak adanya sinyal membuat fungsi smart phone berkurang lebih dari 50%. Smart phone hanya berfungsi menjadi kamera, mendengarkan musik, main game dan mengetik sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup di hutan dan tanpa sinyal, konflik antar manusia sangatlah rentan terjadi, hal ini disebabkan seringnya mis komunikasi diantara mereka. Kami hanya bisa berkomunikasi jarak dekat. Jika berbeda lokasi, hanya bisa menyampaikan pesan lewat teman yang akan bertemu dengan orang tersebut. “Untuk langsung berteriak? Wah… mustahil karena jarak yang lumayan jauh.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo. “Ini cukup menghambat pekerjaan, karena harus saling tunggu menunggu.”, tambahnya lagi.

Dalam maktu dekat ini, COP Borneo akan melepasliarkan 2 individu orangutan terbaiknya. Akan ada 2 titik lokasi rilis dengan 2 tim monitoring. Handy Talkie akan menjadi satu hal vital untuk melancarkan kegiatan ini. Bantu kami yuk lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

CAMP MONITOR ORANGUTAN WITH SOLAR POWER

The destruction of generator sets at monitoring stations or monitoring camps of the orangutan island of Borneo COP became the night conditions on the island of pitch darkness. The team had to go back and forth to the village to fill the flashlight batteries and other communication devices by riding in people’s houses in turn. Of course this slows down the work.

The presence of two Samarinda residents who happened to live in the village of Merasa, East Kalimantan managed to repair the solar panels to turn on electricity. “Thank you bang Simangunsong and bang Siregar! Now the monitor power monitor has been on for 24 hours. Of course this is increasingly support our activities.”, Inoy said happy because no need to pace back to the village again.

We also still need some solar panels for camp at COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. The required electricity in the COP of Borneo is greater because to turn the water machine to clean the orangutan cages. Yuk help orangutans with the procurement of solar panels through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan (LSX)

CAMP PANTAU ORANGUTAN TERANG DENGAN TENAGA SURYA
Rusaknya mesin genset di pos pantau atau camp monitoring pulau orangutan COP Borneo menjadi kondisi malam hari di pulau gelap gulita. Tim terpaksa bolak balik ke kampung untuk mengisi baterai senter maupun alat komunikasi lainnya dengan menumpang di rumah-rumah warga secara bergantian. Tentu saja ini memperlambat pekerjaan.

Kehadiran dua orang warga Samarinda yang kebetulan tinggal di kampung Merasa, Kalimantan Timur berhasil memperbaiki surya panel untuk menghidupkan listrik. “Terimakasih bang Simangunsong dan bang Siregar! Sekarang listrik camp pantau sudah menyala 24 jam. Tentu saja ini semakin menunjang aktivitas kami.”, ujar Inoy senang karena tak harus mondar-mandir ke kampung lagi.

Kami juga masih memerlukan beberapa panel surya untuk camp di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Listrik yang diperlukan di COP Borneo lebih besar karena untuk menghidupkan mesin air untuk membersihkan kandang-kandang orangutan. Yuk bantu orangutan dengan pengadaan panel surya lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan (NOY)

SPUTUM SAMPLING OF  PRE-RELEASE ORANGUTAN

Finally, the taking of sample of pre-release orangutan sputum is running. This step aims to examine Tuberculosis in orangutan. Sputum sampling was done to four orangutans who will be released in the near future. They are orangutan Leci, Novi, Unyil, and Untung. The process of sampling was done in 2,5 hours. The plan is, tomorrow, samples will be delivered directly by medical team  to the Microbiology lab of Universitas Indonesia, which is a recommended by the Ministry of Health to examine Tuberculosis with high standards.

Sputum samples are only last for 24 hours and with the temperature of 6-8 degrees celcius. “That’s why, we will fly directly to deliver this samples. The document that is involved  will be completely taken as well.” said drh. Ryan Winardi.

COP Borneo is an orangutan rehabilitation center founded by Centre for Orangutan Protection. In its 3rd year, there’s 4 orangutans that are  located in sanctuary island of orangutan will be released soon to their habitat. The four orangutans have different background. Leci was own by locals, she was still wild since found. Novi is an orangutan who was illegally own by Kongbeng villager whose neck was always chained and was living under the house befriended by a dog. While Unyil was an orangutan living in a toilet. And Untung is an orangutan with imperfect fingernails. “The result of sputum examination will determine either they are going to be released to their habitat or not, hopefully the results are negative.”, said drh. Felisitas Flora with full of hope. (SAR)

PENGAMBILAN SPUTUM ORANGUTAN PRA-RILIS
Akhirnya pengambilan sampel dahak/sputum orangutan pra-pelepasliaran berjalan. Tahapan ini adalah untuk pemeriksaan Tuberculosis pada orangutan. Pengambilan sampel dahak ini dilakukan pada 4 orangutan yang akan dilepasliarkan kembali dalam waktu dekat ini. Mereka adalah orangutan Leci, Novi, Unyil dan Untung. Proses pengambilan berlangsung selama 2,5 jam. Rencananya, keesokan hari, sample akan dibawa langsung tim medis ke laboratorium Mikrobiologi UI, yang merupakan laboratorium rekomendasi Kementrian Kesehatan untuk pemeriksaan Tubercolosis dengan standar tinggi.

Sampel dahak hanya bertahan selama 24 jam dan dengan suhu 4-8 derajat celsius. “Itu sebabnya, kami akan terbang langsung membawa sampel dahak ini. Dokumen yang akan menyertainya juga dengan lengkap akan dibawa.”, ujar drh. Rian Winardi.

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang dibangun oleh Centre for Orangutan Protection. Di tahun ke-3 nya, ada 4 orangutan yang berada di pulau orangutan akan segera dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Keempat orangutan tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Leci yang dipelihara warga, sejak ditemukan memang masih liar. Novi adalah orangutan yang dipelihara secara ilegal oleh warga Kongbeng dengan leher yang selalu dirantai dan tinggal di bawah kolong rumah berteman seekor anjing. Sementara Unyil adalah orangutan yang hidup di dalam toilet. Dan Untung adalah orangutan yang jari-jarinya tak sempurna. “Hasil pemeriksaan sputum ini akan menentukan mereka akan dilepasliarkan ke habitatnya, semoga hasilnya negatif.”, ujar drh. Felisitas Flora dengan penuh harapan. (RYN)

Page 4 of 17« First...23456...10...Last »