BERANI’S FIRST DAY AT FOREST SCHOOL

One more hope in early 2019. An orangutan was rescued from a wooden box in the village of Meratak, East Kutai, East Kalimantan on 23 October 2018. After going through a quarantine period and extended with a comprehensive medical examination, Berani, the orangutan, started his forest school class. He did not scream. He did not move much either. The first day Berani just spent his time staying on the ground, under the hammock of the animal keeper.

The second week is of course different from the first week. Berani started to climb trees. Went up and down from the same tree. He has not touched hanging roots and branches yet. Berani is still trying to adjust.

The look in his eyes slowly began to change. From fear to calm with hope. Berani will keep trying, it all depends on the skills of the animal keepers who take him to forest school. Let’s send your enthusiasm to the animal keepers. (Lina_CB)

HARI PERTAMA BERANI DI SEKOLAH HUTAN
Satu lagi harapan di awal tahun 2019. Ini adalah orangutan yang diselamatkan dari kotak kayu di desa Meratak, Kutai Timur, Kalimantan Timur pada 23 Oktober 2018 yang lalu. Setelah melalui masa karantina dan diperpanjang dengan pemeriksaan medis secara menyeluruh, orangutan Berani pun memulai kelas sekolah hutannya. Tak ada teriakan darinya. Tak ada pergerakan juga dari Berani. Hari pertama Berani hanya dihabiskan dengan berdiam di tanah, di bawah hammock animal keeper.

Minggu pertama tentu saja berbeda dengan minggu kedua. Berani mulai memanjat pohon. Naik dan kemudian turun dari pohon yang sama. Tali akar yang menggantung bahkan ranting-ranting yang bercabang belum juga dijamahnya. Berani terus berusaha menyesuaikan diri.

Tatapan matanya perlahan mulai berubah. Dari takut jadi teduh dengan harapan. Berani akan terus mencoba, semua tergantung kecakapan para animal keeper yang membawanya ke sekolah hutan. Yuk kirim semangat mu untuk para animal keeper. (Lina_CB)

THE FIRST 6 MONTHS FOR ANNIE IN FOREST SCHOOL

This is Annie, an orangutan who has just been in the COP Borneo forest school for 6 months. Annie is a 5-year-old male orangutan. On the first day, he received bullying from the other orangutans. But that doesn’t make him go back to his cage. He chooses to go to his animal keeper, Jhonny, who can defend him if the bullying happens. Without the presence of Jhonny, Annie chose to not go out of the cage to undergo forest school.

What happened when Jhonny took him to forest school? Annie climbed the tree, away from the forest school location and played alone. According to Jhonny, Annie is often seen getting food in the trees.

Like other orangutan children in the forest school, at noon, Annie will go down to the ground and join other orangutans, playing on the forest ground. Based on the records of the animal keeper, Annie hasn’t seen making a nest yet.

2018 has just passed, the existing report is still too early. Annie’s spirit is the hope of COP Borneo. We are waiting for Annie’s development in the next semester. (IND)

ANNIE SELAMA 6 BULAN DI SEKOLAH HUTAN COP BORNEO
Ini dia Annie, orangutan yang baru masuk kelas sekolah hutan COP Borneo selama 6 bulan ini. Annie adalah orangutan jantan berusia 5 tahun. Hari pertama masuk kelas mendapat perundungan dari orangutan yang lebih dahulu masuk kelas ini. Tapi bukan berarti dia memilih untuk berada di dalam kandang saja, tapi dia memilih animal keepernya, yang tentu saja bisa membelanya jika perundungan itu terjadi. Pilihan itu pun jatuh pada Jhonny. Tanpa kehadiran Jhonny, Annie memilih untuk tidak keluar kandang untuk menjalani kelas sekolah hutan.

Tapi apa yang terjadi sesaat Jhonny membawanya ke sekolah hutan? Annie memanjat pohonnya, menjauh dari lokasi sekolah hutan dan bermain sendiri. Menurut Jhonny, Annie sering terlihat mendapatkan makanan di atas pohon.

Seperti anak orangutan lain yang berada di kelas sekolah hutan, saat siang hari, Annie akan turun ke tanah dan bergabung dengan orangutan lainnya, bermain di lantai hutan. Berdasarkan catatan animal keeper, Annie belum terlihat membuat sarang.

Tahun 2018 baru saja berlalu, rapot yang ada itu masih awal. Semangat Annie adalah harapan COP Borneo. Kita tunggu perkembangan Annie semester depan yuk.

HOPE FOR OWI IN 2019

The end of 2018 is so thrilling. Reports had been submitted one by one and the evaluation began. Forest schools are the orangutan hope to sharpen their instincts as wild orangutans. In the previous quarter year, Owi was no longer always seen with Bonti. This forced him to play more in the trees on his own. Owi actively plays in the liana roots, swings from one tree to another and explores the forest.

Unfortunately, Owi hasn’t shown the ability to make nests yet. Maybe he still doesn’t need a nest because when he was tired of playing in the trees, he preferred to go down and invite other orangutans to play on the ground.

Owi is an orangutan found by a worker in the palm oil plantation area in East Kalimantan. At that time he was only 2 years old. The worker took him and then gave him to a soldier in Tenggarong.

This is Owi’s second year at the COP Borneo orangutan rehabilitation center. Climbing, a crucial skill for arboreal animals, is no longer a problem for him. “Entering his third year, we hope he can make a nest,” said Wety Rupiana excitedly. “Owi is already good at looking for food in the trees,” added Wety again. (IND)

HARAPAN UNTUK OWI DI TAHUN 2019
Akhir tahun menjadi begitu mendebarkan. Laporan demi laporan masuk dan evaluasi pun dimulai. Sekolah hutan adalah harapan orangutan untuk mengasah instingnya sebagai orangutan liar. Owi pada kuartal sebelumnya tak lagi selalu terlihat dengan orangutan Bonti. Hal ini memaksanya untuk lebih banyak bermain di atas pohon. Owi menjadi aktif bermain di akar-akar liana, berayun-ayun dari satu pohon ke pohon yang lain dan melakukan penjelajahan tanpa menyentuh tanah.

Sayang, Owi belum menunjukkan kemampuannya membuat sarang. Mungkin Owi masih belum memerlukan sarang karena ketika Owi terlihat sudah cukup lama bermain di atas pohon, Owi lebih suka turun ke tanah dan mengajak orangutan lain bermain.

Owi adalah orangutan yang ditemukan pekerja di area perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur. Saat itu usianya baru 2 tahun, karena kasihan, pekerja tersebut membawanya dan akhirnya berpindah tangan pada seorang tentara di daerah Tenggarong.

Ini adalah tahun keduanya di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Memanjat yang merupakan modal dasar satwa aboreal sudah bukan masalah lagi untuk Owi. “Memasuki tahun ketiganya, tentu saja kami berharap dia bisa membuat sarang.”, ujar Wety Rupiana bersemangat. “O… iya… Owi sudah pandai mencari makan di atas pohon.”, tambah Wety lagi.

HOW IS YOUR DAY, MEMO?

This is Memo, an orangutan who can peels coconuts cleanly at COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Kalimantan. After peeling it off, she broke the shell to drink the coconut water. She uses a unique technique to break the coconut, very unusual compared to other orangutans. Memo breaks the coconut by banging it on the cage wall. Then, she eats her coconut meat, slowly until it runs out.

Memo is an adult female orangutan. Her movements are limited because she spent most of her life inside a cage. She only has few activities besides looking out through the cold iron bars. We don’t know how many hammocks have been damaged, repaired or even replaced with new ones, but Memo will continue her life inside the cage.

She is Memo, an orangutan who dares to dream of living without iron bars. She cannot join with other orangutans and cannot be released into her habitat because she has hepatitis B. This disease is contagious and cannot be cured. Memo, an orangutan who was kept for years by a villager in Muara Wahau, East Kalimantan and got hepatitis from humans. “Don’t pet orangutans, we share 97% of the same DNA. Our diseases are same and can infect each other. Now you understand, don’t you?”, said Daniek Hendarto, manager of the COP Ex-Situ program. (IND)

BAGAIMANA HARI-HARIMU, MEMO?
Ini dia orangutan yang mengupas buah kelapa hingga bersih di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Selesai mengupasnya, dia pun memecahkan tempurungnya untuk meminum airnya yang segar. Cara memecahkan tempurung kelapa ini pun berbeda dengan orangutan yang lainnya. Hanya Memo yang memecahkan kelapa dengan membenturkan kelapanya ke dinding kandang. Kemudian, dia akan memakan daging kelapanya, perlahan-lahan sampai habis.

Memo orangutan betina yang sudah bukan anak-anak lagi. Usianya sudah memasuki usia dewasa. Gerakannya terbatas pada kandang. Melihat keluar dari balik jeruji besi yang dingin. Entah sudah berapa belas hammock yang rusak, diperbaiki bahkan diganti dengan yang baru. Dan Memo akan terus di dalam kandang.

Dia adalah Memo, orangutan yang berani bermimpi untuk hidup tanpa jeruji besi lagi walau bukan di habitat aslinya karena penyakit yang dideritanya yaitu hepatitis B. Itulah sebabnya, Memo tidak bisa bergabung dengan yang lainnya dan tidak mungkin dilepasliarkan ke habitatnya. Penyakit menularnya akan mewabah jika dia bergabung dengan yang lainnya. Memo, orangutan yang bertahun-tahun dipelihara seorang warga Muara Wahau, Kalimantan Timur dan tertular hepatitis dari manusia. “Jangan pelihara orangutan, kita berbagi 97% DNA yang sama. Penyakit yang diderita pun sama dan bisa saling menularkan. Sekarang kamu mengertikan.”, ujar Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP.

HAPPI SEIZED BONTI’S NEST

Observing the child’s development every day will be very astonishing. Children develop according to age and stimuli around them. If yesterday he preferred to play with himself, the next day he might be more likely to play with his friends. Same things happen to orangutan babies.

Happi, a 4-year-old orangutan, was the idol of the animal keepers last year. His ability to make a nest truly amazes the animal keepers. Even the orangutans who are older than him in the forest school have not been able to make a nest. Secretly Bonti, another orangutan, watched him and imitated how to make a nest. Now, Bonti makes the nest bigger and stronger, while Happi just occupies Bonti nest.

If Bonti used to learn from Happi, now Happi is learning from Bonti. Bonti is currently 5 years old, one year older than Happi. If only they were still with their mother, of course, they would be far more independent. Orangutan mother is the best teacher ever. Mom and kid bonds in orangutans are very close. Orangutan kids will be in their parental care until 6-8 years. During that time, the mother will not leave her child, not even to meet another male. That’s what causes orangutan breeding to be very slow. (IND)

HAPPI MEREBUT SARANG BONTI
Mengamati perkembangan anak setiap hari akan sangat mencengangkan. Anak berkembang sesuai usia dan rangsangan yang ada di sekitarnya. Jika kemarin dia lebih suka bermain dengan dirinya sendiri, keesokan harinya mungkin saja dia akan lebih senang bermain dengan teman-temannya. Tak terkecuali, anak orangutan.

Happi, orangutan yang berusia 4 tahun, tahun lalu menjadi idola para animal keeper. Kemampuannya membuat sarang dimana orangutan seusianya bahkan lebih tua darinya yang saat itu berada di kelas sekolah hutan belum ada yang bisa membuat sarang, benar-benar membuat kagum para animal keeper. Insting yang yang dimiliki Happi saat itu berhasil membuat sarang yang cukup untuknya. Diam-diam orangutan Bonti mengamatinya dan meniru cara membuat sarang. Kini, Bonti membuat sarang lebih besar dan kokoh, sementara Happi menempati sarang Bonti begitu saja.

Jika dulu Bonti belajar dari Happi, sekarang Happi yang belajar dari Bonti. Memang usia Bonti saat ini 5 tahun, setahun lebih tua dari Happi. Andai saja mereka masih bersama induknya, tentu mereka akan jauh lebih mandiri. Ibunya adalah guru terbaik yang pernah ada. Ikatan ibu dan anak pada orangutan bahkan sangat erat. Anak orangutan akan dalam pengasuhan induknya hingga usia 6-8 tahun. Selama itu pula, induk tidak akan meninggalkan anaknya, bahkan tidak untuk bertemu jantan lain. Itulah yang menyebabkan perkembangbiakan orangutan menjadi begitu lambat.

AMBON SCREAMS AT A QUIET NIGHT

There is not much Ambon does in the cage. Space has always limit anyone’s movements. No exceptions for Ambon, an adult male orangutan with a big body. The cage becomes even smaller when used.

Ambon friendly ayes often make us misunderstood. Yes, lately Ambon become more aggressive to animal keepers. Ambon will be angry when being approached or being seen. In the middle of a quiet night, the team who is in charge in COP Borneo often heard Ambon shouts.

The big and heavy Ambon sounds more hideous at night. The team rushed to check on Ambon condition. “Indeed, Ambon often makes noises during the night, usually because there are animals entering the block 1 cage like pigs,” said Wety Rupiana, the coordinator of COP Borneo rehabilitation centre, East Kalimantan. (SAR)

TERIAKAN AMBON DI SUNYINYA MALAM
Tidak banyak yang dilakukan orangutan Ambon di dalam kandang. Ruang memang selalu membatasi gerak siapapun. Tak terkecuali Ambon, orangutan jantan dewasa dengan tubuh besarnya. Kandang pun menjadi lebih sempit saat digunakannya.

Tatapan Ambon yang ramah sering membuat kita salah sangka. Ya… akhir-akhir ini Ambon menjadi lebih agresif pada animal keeper, Ambon akan marah kalau didekati atau dilihat berlama-lama. Di tengah malam yang sepi, tim yang bertugas di COP Borneo pun sering mendengar teriakan Ambon.

Suara Ambon yang besar dan berat terdengar lebih seram saat malam hari. Tim bergegas memeriksa kondisi Ambon. “Memang Ambon sering mengeluarkan suara-suara saat malam hari, biasanya karena ada binatang yang masuk ke kandang blok 1 mencari makan seperti babi.”, ujar Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo, Kalimantan Timur.

BONTI AND ANNIE ARE THE MOST DIFFICULT TO HANDLE IN ORANGUTAN POSYANDU

There are 6 small orangutans in the school forest. They are Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie and Jojo. Their behaviour development are always being monitored through daily journal, including their physical development. Every month in the 2nd week, COP Borneo orangutan rehabilitation centre holds an “Orangutan Posyandu”. The small orangutans will be weighed and measured in height. Dental and overall health examination will also be carried out.

“It’s different from human children, who has mother and caretaker to answer precisely about their name, date of birth or their medical history. While orangutans, age determination can be made by examining and calculating their number of teeth,”, said drh. Felisitas Flora.

Among the 6 orangutans who attend the forest school, Bonti and Annie are the 4-5 years old orangutans. “The mischievous age”, Wety Rupiana, coordinator of the COP Borneo rehabilitation centre, interrupted. If other small orangutans are easily to be measured and examined, these two are not. Both of them are the most difficult to be taken to the Orangutan Posyandu. Neither did they want to extent their arms and legs to be measured. They also didn’t want to open their mouths at all. and they were always trying to escape.

There’s no other way to deal with the two orangutans, Bonti and Annie, to be examined. The most effective ways to make them open their mouth, that is tickling their armpits and neck, was no longer working for them. “Maybe they’re embarrassed because they are old…”, said Flora with laugh. (SAR)

BONTI DAN ANNIE PALING SULIT DI POSYANDU ORANGUTAN
Ada enam orangutan kecil yang mengikuti kelas sekolah hutan. Mereka adalah Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie dan Jojo. Perkembangan perilaku mereka selalu terpantau melalui catatan harian termasuk juga perkembangan fisiknya. Setiap bulan di minggu kedua, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo menggelar “Posyandu Orangutan”. Para orangutan kecil akan ditimbang dan diukur tinggi badannya. Tak luput juga pemeriksaan gigi serta kesehatan secara menyeluruh.

“Tidak sama seperti anak manusia, ada ibunya atau pengasuhnya yang bisa menjawab dengan pasti, nama maupun tanggal lahirnya bahkan sekilas riwayat kesehatannya. Sementara orangutan, penentuan usia dapat dilihat dari pemeriksaan dan penghitungan jumlah gigi.”, ujar drh. Felisitas Flora.

Dari keenam orangutan yang mengikuti kelas sekolah hutan, Bonti dan Annie adalah orangutan berusia 4-5 tahun. “Usia nakal-nakalnya itu.”, sela Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo. Jika anak orangutan yang lain bisa dengan cepat dilakukan pengukuran dan pemeriksaan, berbeda dengan keduanya. Keduanya paling susah diajak ke Posyandu Orangutan. Keduanya pula tidak mau mengulurkan tangan dan kakinya untuk diukur. Untuk membuka mulut pun keduanya tidak mau sama sekali. Dan mereka berdua selalu berusaha kabur.

Tak ada cara lagi untuk mengatasi kedua orangutan, Bonti dan Annie agar mau diperiksa. Cara paling ampuh dengan mengelitik bagian ketiak dan leher pun sudah tak berlaku lagi buat mereka. “Mungkin mereka malu karena sudah tua…”, kata Flora sambil tertawa. (FLO)

UNTUNG TURNS TO GO BACK HOME

He is Untung, a lucky orangutan with imperfect fingers who can compete in the COP Borneo pre-release island. In 2011, when Centre for Orangutan Protection took him to the school forest for the first time, he looked scared, his body trembled while hugging the branch of tree. His confidence was lacking. COP staffs patiently accompanied him, talked to him with deep voice, and gently fondled him. On the next forest school, Untung had to grab fruits between branches for his meal. His hunger guided him to reach the banana. From that day onward, we believe that Untung will be back to its habitat one day.

Almost 8 years has passed. Going back and forth inside and outside the cage to teach him that he’d better avoid humans whenever they approaches him with a long pipe. He would then made voices to scare people. And whenever our eyes met, he would looked at us with dislike. Untung is getting wilder.

The pre-release island is surrounded by river and is dominated by the orangutan release candidates. the animal keeper will only stop by to put some foods in the morning and evening, to complement the natural food that is available on the island. Untung’s grumpy attitude was always on to drive away the on-duty animal keepers without exception.

Thankfully, Untung succeeded this stage. Release preparations have also begun.”, explained Jhony, the coordinator of COP Borneo animal keepers in Berau, East Kalimantan. Untung will be one of the second orangutan who had entered a zoo and went to COP Borneo rehabilitation centre to be released. COP Bornea has succeeded with Oki orangutans, the one from Mulawarman University Botanical Garden, Samarinda. Now it is Untung turn! (SAR)

GILIRAN UNTUNG UNTUK KEMBALI KE RUMAH
Dia adalah Untung, orangutan yang beruntung walau dengan jari yang tidak sempurna mampu bersaing di kelas pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Untung di tahun 2011 saat Centre for Orangutan Protection mengajaknya pertama kali ke sekolah hutan, Untung terlihat ketakutan, tubuhnya bergetar memeluk dahan. Terlihat rasa percaya dirinya yang sangat porak poranda. Dengan telaten, staf COP menemaninya, berbicara dengan suara rendah dan membelai punggungnya dengan lembut. Saat sekolah hutan berikutnya, Untung harus meraih buah-buahan sebagai makanannya di antara dahan. Rasa laparnya menuntunnya meraih pisang. Saat itulah, kami yakin, kelak Untung akan kembali ke habitatnya.

Hampir delapan tahun berlalu. Bolak balik ke luar kandang mengajarkannya, saat seseorang dengan pipa panjang mendekatinya, sebaiknya dia menghindar. Dia pun akan segera mengeluarkan suara untuk mengusir. Dan saat kita bertatapan, dia pun melihat kita dengan kebencian. Untung semakin meliar.

Pulau pra rilis orangutan adalah sebuah pulau yang dibatasi oleh sungai. Pulau mutlak dikuasai oleh orangutan-orangutan kandidat pelepasliaran. Hanya pada saat pagi dan sore hari, para animal keeper akan berlabuh sesaat di dermaganya untuk meletakkan makan pagi dan sore sebagai tambahan dari makanan yang sudah tersedia secara alami di pulau. Sikap galak Untung pun tanpa terkecuali, dengan galak dia berekspresi, mengusir para animal keeper yang bertugas.

“Syukurlah, Untung berhasil pada tahapan ini. Persiapan untuk pelepasliarannya pun sudah dimulai.”, jelas Jhony, koordinator animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Untung akan menjadi orangutan kedua yang pernah di kebun binatang dan masuk pusat rehabilitasi COP Borneo untuk dilepasliarkan. COP Borneo telah berhasil dengan orangutan Oki, orangutan dari Kebun Raya Unviversitas Mulawarman, Samarinda. Kini giliran Untung!

TIDY UP THE TREES AROUND THE ORANGUTAN CAGES

The lush trees at the orangutan rehabilitation centre of COP Borneo, Berau, East Kalimantan, make it hard for sunlight to break into orangutan cages. Though sunlight is very necessary in managing air humidity, especially in the enclosure of COP Borneo. Finally, the team scheduled to trim the branches that block the sunlight from reaching the cage.

Jevri and Amir, two animal keepers who are masters in climbing 15 meters high trees at the school forest, were tasked with trimming the branches. With agility, both of them reached the end of the tree and effortlessly cut the sticky branches. After taking care of the twigs of one tree, they headed to another tree. Instead of going down and climb another, they were crossing over through branches as the bridge. Very similar to orangutans, just not swinging. “So that’s why all the forest school students are so good at climbing and moving from one tree to another.”, said drh. Felisitas Flora. Indeed, one of the added values for animal keeper at COP Borneo is being good at climbing.

COP Borneo orangutan rehabilitation center is the one and only rehabilitation centre founded and run by Indonesian young generation. Even most of people who run the rehab centre of COP Borneo are the local people who live in Merasa village, Berau, the nearest village to the centre. You can support the orangutan protection through kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

MERAPIKAN POHON DI SEKITAR KANDANG ORANGUTAN
Rimbunnya pepohonan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur membuat cahaya matahari sulit menerobos kandang orangutan. Padahal sinar matahari sangat diperlukan agar udara tidak terlalu lembab terutama di kandang orangutan pusat rehabilitasi COP Borneo. Akhirnya, tim mengagendakan untuk memangkas ranting-ranting yang menghalangi sinar matahari sampai ke kandang.

Biasanya, Jevri dan Amir, dua animal keeper yang menjadi andalan dalam memanjat pohon yang tingginya sekitar 15 meter pada saat sekolah hutan berlangsung kali ini bertugas merapikan ranting-ranting. Dengan lincah, keduannya sampai ke ujung pohon dan tanpa kesulitan memotong ranting-ranting yang menjulur. Selesai mengurus ranting di satu pohon, mereka pun menuju ke pohon yang lain. Tidak turun ke tanah malainkan melalui dahan yang menjadi jembatannya. Sangat mirip dengan orangutan, hanya saja tidak berayun. “Wjar saja, siswa sekolah hutan yang diasuh selama ini sangat pandai memanjat dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.”, ujar drh. Felisitas Flora. Memang, salah satu nilai tambah untuk animal keeper di COP Borneo adalah pandai memanjat.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan dan dijalankan oleh putra-putri Indonesia. Sebagian besar yang menjalankan pusat rehabilitasi bahkan orang lokal yang bertempat tinggal di desa terdekat yaitu desa Merasa, Berau. Kamu pun bisa mendukung perlindungan orangutan melalui kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

WHEN ANNIE DISAPPEARED AND KEEPERS WERE BUSY LOOKING FOR HIM

The absence of Annie at the forest school means that Jhonny the animal keeper is off from work. The average students of the forest school class will attend the class for 20 days a month. The other 10 days will be spent in the cage with various enrichment due to heavy rain or when the keeper is on day-offs.

After a day-off from forest school, Annie is usually more enthusiastic about the class. Annie chose his tree and nightmare was inevitable. Annie disappeared from Jhonny’s sight. Jhony then asked for help from other keepers. If the student of forest school disappeared from animal keeper’s sight, usually by calling the orangutan’s name, they will notify their position to the keepers by breaking the twigs or shaking the leaves. But this time was different. Annie was silent, hiding and letting the animal keeper confused looking for him.

Turned out, Annie was climbing the big, tall tree that day. When he was tired of playing on the tree, he went down and sought Happi to get away from the forest school location. Jhonny was almost getting a heart attack, though he had just turned his attention away from Annie for a moment and watched Popi that didn’t want to do anything. “Annie!!! Please if someone calls you, you have to notify ok!”, said Jhonny furiously. (SAR)

SAAT ANNIE MENGHILANG DAN KEEPER SIBUK MENCARI
Tak ada Annie di sekolah hutan, itu berarti, Jhonny si animal keeper pilihannya sedang libur. Rata-rata siswa kelas sekolah hutan akan hadir di kelas untuk 20 hari dalam satu bulan. Sepuluh hari lainnya, mereka habiskan di kandang dengan enrichment yang bervariasi karena hujan deras atau saat keeper sedang libur.

Setelah hari libur dari sekolah hutan, biasanya Annie lebih bersemangat untuk kelas ini. Annie memilih pohonnya. Dan mimpi buruk pun tak terhindarkan. Annie hilang dari pantauan Jhonny. Jhonny pun meminta bantuan para animal keeper yang lainnya. Jika para siswa sekolah hutan hilang dari pantauan animal keeper, biasanya dengan memanggil namanya orangutan tersebut, orangutan yang dipanggil akan memberitahukan keberadaannya dengan mematahkan ranting atau menggoyang-goyangkan daun. Namun berbeda dengan Annie. Annie diam, bersembunyi dan membiarkan animal keeper bingung mencarinya.

Ternyata, Annie memanjat pohon yang besar dan tinggi hari itu. Ketika dia sudah bosan bermain di atas pohon, dia akan turun ke tanah lalu mengajak orangutan Happi untuk menjauh dari lokasi sekolah hutan. Hampir saja jantung Jhonny copot, padahal dia baru saja sesaat memalingkan perhatiannya dari Annie karena Popi lagi tidak mau ngapa-ngapain. “Annie!!! Kalau kamu dipanggil kamu harus kasih tahu ya!”, ujar Jhonny gemas.

Page 3 of 2112345...1020...Last »