REST IN PEACE MR. TORAN APUI

Centre for Orangutan Protection team in orangutan rehab center COP Borneo, East Borneo is in grief. A father who has always been a place of comfort, tell stories, and ask for advice is gone. On Wednesday night, July 11, 2018, we received a sad news that Sir Toran Apui had passed away because of the illness he suffered for the past weeks.

Toran Apui is the elder of Merasa village who was very helpfull to COP team back in 2014, the first time COP Borneo orangutan rehab center built in Merasa village, Berau, East Borneo. “Good bye, SIr. We who work and volunteer at COP Borneo will miss how determined you were when telling the story of Dayakness life around Kelay river stream in the past accompanied with a glass of coffee and peanuts.”

Hopefully, we can continue the determination of Toran Apui to bring Merasa village forward.

SELAMAT JALAN TORAN APUI
Rasa duka sedang dialami tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan di COP Borneo, Kalimantan Timur. Seorang Bapak yang sering dijadikan tempat untuk berlindung, bercerita dan meminta nasehat sudah tiada. Rabu malam, 11 Juli 2018, kabar duka itu kami terima bahwa bapak Toran Apui sudah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya selama beberapa minggu ini.

Toran Apui adalah kepala adat kampung Merasa yang sangat membantu tim COP di tahun 2014 saat memulai pembangunan Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur. “Selamat jalan pak Toran, kami yang bekerja dan menjadi relawan di COP Borneo akan merindukan bagaimana semangatnya bapak bercerita tentang kehidupan orang Dayak di aliran sungai Kelay di masa lalu dengan ditemani segelas kopi dan kacang.”

Semoga, semangat Toran Apui untuk memajukan kampung Merasa bisa kami teruskan.

LITTLE FOREST FOR JOJO

Jojo is a baby orangutan who was rescued last April 2018. At this time Jojo supposes to attend forest school, but the medical check-up results are not good. It makes Jojo must be isolated from other orangutans. “Sadly we must accept the fact that Jojo cannot join other orangutans. Jojo was detected with hepatitis B”, said vet Flora Felistita.

We don’t want to see Jojo spend his day in the cage. Every morning after checking the orangutans in the cage, drh. Flora, a doctor and Jojo’s mother at the same time, invited Jojo to play at the baby house.

The baby house that was built in 2016 by Angle’s Team coordinated with Australia’s Compassion and Soul has begun to decay. There are many broken ropes that need repairment. But this did not break the spirit of drh. Flora to invite Jojo to play. This morning, the enclosure in front of the clinic was transformed by drh. Flora to become a very cool playing area like a small forest with the addition of leaves and twigs.

From inside the cage, Jojo looks very impatient to play. After arriving at the baby house, Jojo looked confused because he had previously only hung on ropes without branches, twigs or leaves. “It’s natural. This is the first day Jojo played in the forest. Jojo had fallen to the ground because he chose the tree branch wrongly and was really shocked, but he quickly woke up again”, explained drh. Flora proud.

Compared to the beginning of Jojo’s arrival at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Jojo showed a very good progress. Jojo is very active when given leaves and twigs in a cage. He tries to arrange it like making a nest. “Hopefully someday Jojo will have an enclosure and can feel living and sleeping in a real tree.” (IND)

HUTAN KECIL UNTUK JOJO
Jojo, si bayi orangutan yang diselamatkan pada bulan April 2018 yang lalu. Seharusnya, saat ini Jojo sudah mengikuti kelas sekolah hutan. Namun hasil tes yang tidak bagus membuat Jojo harus diisolasi dengan orangutan yang lain. “Dengan sedih kami harus menerima kenyataan bahwa Jojo tidak dapat bergabung dengan para orangutan yang lain. Jojo terdeteksi hepatitis B.”, kata drh. Flora Felistita.

Kami tidak mau melihat Jojo menghabiskan harinya di kandang. Setiap pagi selesai mengecek para orangutan di kandang, drh. Flora, dokter sekaligus merangkap ibu bagi orangutan Jojo mengajak Jojo untuk bermain di baby house.

Baby house yang dibangun tahun 2016 oleh Angle’s Team yang dikoordinir With Compassion and Soul Australia sudah mulai lapuk. Tali temali yang ada banyak yang putus dan membutuhkan perbaikan. Tapi ini tidak mematahkan semangat drh. Flora untuk mengajak Jojo bermain. Pagi ini, enclosure yang berada di depan klinik disulap drh. Flora menjadi area bermain yang sangat sejuk layaknya hutan kecil dengan penambahan daun-daunan dan ranting.

Dari dalam kandang, terlihat Jojo sangat tidak sabar untuk bermain. Namun setelah sampai di baby house, Jojo terlihat bingung karena sebelumnya dia hanya bergelantungan di tali-tali tanpa dahan, ranting maupun daun. “Wajar… ini adalah hari pertama Jojo bermain di ‘hutan’nya dan Jojo sempat jatuh ke tanah karena salah memilih ranting pohon untuk bergelantung dan sungguh mengejutkan, dia dengan sigap langsung naik lagi.”, urai drh. Flora bangga.

Dibandingkan dengan awal kedatangan Jojo di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Jojo menunjukkan perkembangan yang baik. Jojo sangat aktif bahkan ketika diberi daun dan ranting di dalam kandang, dia berusaha menatanya layaknya membuat sarang. “Semoga suatu saat nanti Jojo mempunyai enclosure dan bisa merasakan tinggal dan tidur di pohon sesungguhnya.”. (WET)

OWI AND LIANA PLANT

Finally, Own played by himself. Apparently, his followers weren’t always near him. Owi who had a loyal follower named Bonti, had to learn independently. It’s because Bonti was busy exploring his forest school class.

Owi grabed Liana plant. Liana that hanging in the forest school of COP Borneo area is a mainstay for orangutan to climb, hang, and move from one big tree to another tree. The movements of little orangutans are so agile and the animal keepers must be more alert when they are busy playing with this Liana plant. The exploration of little orangutans know no time.

“Owi, be careful!”, Simon shouted. Owi turned around for a moment, looked at Samson (animal keeper) and continued to climb. Simson’s tasks will be even harder. Following Owi’s movement and having to get ready when Owi refused to go down. That’s right, every animal keeper in COP Borneo orangutan rehabilitation centre must have the ability to climb also. “We are far behind when it comes to climb compares to orangutans. Sometimes I feel these little orangutas mocked us because of our slowness. But I am happy, they are indeed have to be better.”, he added.(SAR)

OWI DAN TANAMAN LIANA
Akhirnya Owi pun bermain sendirian. Ternyata tak selamanya para pengikut itu selalu berada di dekatnya. Owi yang mempunyai pengikut sejati bernama Bonti akhirnya harus belajar mandiri. Karena Bonti juga sekarang lebih sibuk dengan mengeksplore kelas sekolah hutannya.

Owi meraih tanaman Liana. Liana yang bergelantungan di sekolah hutan COP Borneo memang menjadi andalan para orangutan untuk memanjat, bergelantungan dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon yang lain. Pergerakan orangutan-orangutan kecilnya sangat lincah, dan para animal keeper harus lebih waspada saat meraka sudah asik dengan tanaman Liana ini. Karena penjelajahan orangutan kecil ini tak mengenal waktu.

“Owi! Hati-hati ya!”, begitu teriak Simson. Owi pun berbalik sesaat, menatap Simson (animal keeper) dan kembali memanjat. Tugas Simson akan semakin berat. Mengikuti perpindahan Owi dan harus bersiap saat Owi tak mau turun. Benar, setiap animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo juga harus bisa memanjat. “Kita sih kalah jauh kalau urusan memanjat dibandingkan orangutan. Kadang juga merasa diejek orangutan-orangutan kecil ini karena kelambatan kita. Tapi senang, mereka memang harus lebih jago.”, tambahnya lagi.

ANNIE ANNOYING SIMSON

“Annie! Climb Up! “, Simson shouted, the animal keeper staring at Annie, who began to approach the hammock where she was waiting for the orangutans in the COP Borneo forest school class. But the name orangutans with the age of five … like a human child in general. They are very dependent on their mother. Very eager to be close to her mother. Maybe that’s what Annie felt. Being in a foreign place for the first time, he sought the protection of Simson, the animal keeper who took him to a jungle school.

For four years Annie was kept illegally in the village of Merapun. Living in a 3 x 3m wooden cage makes it very dependent on its keepers. Meals like humans, become the daily menu. Of course this will make it difficult for COP Borneo orangutan rehabilitation center in the process of returning Annie to live in her habitat. “Yes, this will be a challenge for the team. We will urgently need the support of all parties.”, said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo.

Not only Annie, at the orangutan rehabilitation center is the only one that was founded by the Indonesian children and there are also small orangutans with various backgrounds. Such as Popi, which since September 2016 entered the orangutan rehabilitation center located in Berau, East Kalimantan. Popi is a female orangutan who just loose his umbilical cord. Her little body is still very weak. Even to hold the bottle alone, he has not been able. Now Popi grew and developed into a hopeful orangutan. Playing in a jungle school was able to drown it into the afternoon. Please help rehabilitation orangutan of COP Borneo through DONATE (LSX)

ANNIE MENGGANGGU SIMSON
“Annie! Naik!”, hardik Simson, si animal keeper sambil menatap Annie yang yang mulai mendekati hammock tempatnya menungguin orangutan-orangutan di kelas sekolah hutan COP Borneo. Tapi yang namanya orangutan dengan usia balita… seperti anak manusia pada umumnya. Mereka sangat tergantung pada ibunya. Sangat ingin selalu dekat dengan ibunya. Mungkin itulah yang dirasakan Annie. Berada di tempat asing untuk pertama kalinya, dia berusaha mencari perlindungan Simson, si animal keeper yang membawanya ke sekolah hutan.

Selama empat tahun Annie dipelihara secara ilegal di desa Merapun. Hidup di dalam kandang kayu berukuran 3 x 3m membuatnya sangat tergantung dengan pemeliharanya. Makanan layaknya manusia, menjadi menunya sehari-hari. Tentu saja ini akan menyulitkan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dalam proses mengembalikan Annie untuk bisa hidup di habitatnya. “Ya, ini akan jadi tantangan tersendiri untuk tim. Kami akan sangat membutuhkan dukungan semua pihak.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Tak hanya Annie, di pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia ini juga ada orangutan-orangutan kecil dengan berbagai latar belakang. Seperti Popi yang sejak September 2016 masuk pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Popi adalah orangutan betina yang baru saja lepas tali pusarnya. Tubuh kecilnya masih sangat lemah. Bahkan untuk memegang botol minumnya saja, dia belum mampu. Kini Popi tumbuh dan berkembang menjadi orangutan yang penuh harapan. Bermain di sekolah hutan mampu menenggelamkannya hingga sore hari. Yuk bantu rehabilitasi orangutan COP Borneo lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

THE ESPECIALLY OF COP BORNEO FOREST SCHOOL

This is the long-awaited moment. The animal keeper brings the orangutans to the forest school. Carrying is the most effective way for orangutans under 4 years of age. Indeed at such an age, orangutans are very dependent on their mothers and spend their time in their parent arms. The bond of the child and its mother is so strong. While at the rehabilitation center of COP Borneo orangutan located in East Kalimantan, the animal keeper is the tip of the spear. They are the ones who know exactly the character of each orangutan.

Owi … Bonti … Happi … Popi … and Annie. These five orangutans will learn together. They care for each other. If it had been Happi the little one who always followed the bigger orangutans. Now Happi was able to build his own nest. The more … the more solid. While Bonti is always a follower of Owi, Bonti is now able to climb higher than Owi. Even Bonti began to compose twigs and leaves after watching Happi. If Owi, even more lazy to practice in the trees, he is more interested in disturbing the animal keeper or just playing on the forest floor.

What about Popi? The little Popi now prefers to spend the COP Borneo forest school class in the tree. The development is satisfactory! If Annie… Of course she had to fit in first. Her first day at a forest school was full of surprises. Every orangutan is a unique individual. And every animal keeper knows every orangutan as a different person. (LSX)

ISTIMEWANYA SEKOLAH HUTAN COP BORNEO
Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu. Para animal keeper membawa anak-anak orangutan ke sekolah hutan. Menggendong adalah cara yang paling efektif untuk orangutan-orangutan usia di bawah 4 tahun. Memang di usia seperti itu, orangutan sangat tergantung dengan induknya dan menghabiskan waktunya dengan berada dalam gendongan induknya. Ikatan anak dan induknya pun begitu kuatnya. Sementara di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur ini, para animal keeper-lah yang menjadi ujung tombaknya. Merekalah yang tahu persis karakter orangutan asuhnya.

Owi… Bonti… Happi… Popi… dan Annie. Kelima anak-anak orangutan ini akan belajar bersama. Mereka saling memperhatikan. Kalau dulu Happi si kecil yang selalu mengikuti orangutan yang lebih besar. Kini Happi sudah bisa membangun sarangnya sendiri. Semakin hari… semakin kokoh. Sementara Bonti yang selalu menjadi pengikut Owi, saat ini Bonti sudah bisa memanjat lebih tinggi dari Owi. Bahkan Bonti mulai menyusun-nyusun ranting dan daun-daun setelah memperhatikan Happi. Kalau Owi, malah semakin malas berlatih di pepohonan, dia lebih tertarik menganggu animal keeper atau hanya bermain di lantai hutan.

Bagaimana dengan Popi? Si mungil Popi sekarang lebih senang menghabiskan kelas sekolah hutan COP Borneo di atas pohon. Perkembangan yang memuaskan! Kalau Annie… tentu saja dia harus menyesuaikan diri dulu. Hari pertamanya di sekolah hutan penuh kejutan. Setiap orangutan adalah individu yang unik. Dan setiap animal keeper mengenal setiap orangutan sebagai pribadi yang berbeda.

NOVI IS WAITING FOR HIS FREEDOM

This is Novi, an orangutan who lives under the house and be friend’s dog. In April 2015, the APE Crusader team rescued him and took him to the COP Borneo Orangutan Rehabilitation Center in Berau, East Kalimantan. Novi is fast developing. Since last December 2015, Novi has lived freely on the orangutan island, which is only limited by fast-flowing rivers. However, human intervention still exists, by giving food every morning and evening. The supervision was also carried out by the patrol team to ensure that orangutans living on the island were in good condition.

Now Novi is ready to be released back to its habitat. A series of medical examinations have been passed and the results are good. The report of his behavior during the orangutan island was also satisfying. “There is no reason to hold him longer in a rehabilitation center. Novi is ready to be released.”, said Reza Kurniawan, Borneo COP manager.

The orangutan release process is not as easy as turning your palm. Orangutans still have to undergo a quarantine period while waiting for readiness for the release site. This will be a boring time for him. Being in the quarantine cage with space restrictions greatly affects the orangutans including the team in the field. Let’s support Novi and the team to stay excited. “Novi … be patient!” (LSX)

NOVI MENANTIKAN KEBEBASANNYA
Ini adalah Novi, orangutan yang hidup di kolong rumah berteman anjing. Pada April 2015 yang lalu, tim APE Crusader menyelamatkannya dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Novi cepat sekali perkembangannya. Sejak Desember 2015 yang lalu, Novi hidup bebas di pulau orangutan yang hanya dibatasi oleh sungai berarus deras. Namun, campur tangan manusia masih ada, dengan memberikan makanan setiap pagi dan sore. Pengawasan juga dilakukan oleh tim patroli untuk memastikan orangutan yang hidup di pulau dalam kondisi baik.

Kini Novi siap untuk dilepaskan kembali ke habitatnya. Serangkaian pemeriksaan medis sudah dilaluinya dan hasilnya baik. Laporan perilakunya selama di pulau orangutan juga memuaskan. “Tak ada alasan untuk menahannya lebih lama di pusat rehabilitasi. Novi siap dilepasliarkan.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Proses pelepasliaran orangutan tak semudah membalik telapak tangan. Orangutan masih harus menjalani masa karantina sembari menunggu kesiapan lokasi pelepasliaran. Ini akan menjadi masa-masa membosankan untuknya. Berada di kandang karantina dengan batasan ruang sangat mempengaruhi mental orangutan termasuk tim di lapangan. Yuk dukung Novi dan tim untuk tetap bersemangat. “Novi… sabar ya!”.

SPUTUM SAMPLE OF LECI THE ORANGUTAN, CLEAN

Taking sputum sample of orangutan is a tension of its own. “From COP Borneo orangutan rehabilitation center to the town of Berau already takes 90 minutes. Not to mention fly from Berau, transit in Balikpapan, and arrive in Jakarta. And then continue from the airport to Microbiology Laboratorium of Universitas Indonesia which traffic is unpredictable.” explained Ryan Winardi, the vetenarian of COP Borneo. The sample is impossible to send via expedition because it can only last within 24 hours. Plus, the temperatur should be kept in the range of 4-8 degrees Celcius.

But, the difficulty paid off when arrived at the laboratory and the sample still in a good condition. The result which can be known a week later is also a thrilling waiting. And if it fails, the calculation of cost and time will overshadow. The result is… Yes… the light-footed Leci can be released.

Step by step, rehabilitation of orangutan leci goes. Of course, all of this is supported by all parties, including goverments, individuals, and other institution. Right now, Leci is waiting for the green light of release site. The location that will be home to her. Lets help orangutan Leci for the release process and the monitoring afterward.. email us if you can be a volunteer  info@orangutanprotection.com (SAR)

SAMPEL DAHAK ORANGUTAN LECI, BERSIH
Pembawaan sampel dahak orangutan merupakan ketegangan tersendiri. “Dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ke kota Berau saja sudah 90 menit. Belum lagi terbang dari Berau, transit di Balikpapan dan ke Jakarta. Lanjut lagi bandara ke Laboratorium Mikrobiologi UI yang macetnya sulit diprediksi.”, urai Ryan Winardi, dokter hewan COP Borneo. Sampel mustahil dikirim lewat ekspedisi karena sampel hanya bisa bertahan dalam waktu 24 jam. Selain itu, suhu yang menjaga sampel tersebut harus dalam kisaran 4-8 derajat celsius.

Namun kesulitan itu terbayar saat sampai laboratorium dan sampel masih berada dalam kondisi baik. Hasil yang dapat diketahui seminggu kemudian juga merupakan penantian yang mendebarkan. Dan jika gagal, kalkulasi biaya dan waktu pun membayangi. Hasilnya… Yes… si lincah Leci bisa dilepasliarkan kembali.

Tahap demi tahap rehabilitasi orangutan Leci berjalan. Tentu saja ini atas dukungan semua pihak baik pemerintah, perorangan dan lembaga lainnya. Saat ini, Leci menunggu lampu hijau lokasi pelepasliaran. Lokasi yang kelak menjadi rumah baginya. Bantu orangutan Leci untuk proses lepas liar dan monitoring setelahnya yuk… email kami jika kamu bisa menjadi relawan info@orangutanprotection.com

UNTUNG IS FREE FROM TUBERCULOSIS

The first week of May, Untung had undergone a sputum sampling for pre-release orangutan. The orangutan called Untung is an orangutan who came from a zoo in Samarinda. Untung is a second orangutan who will go back to the wild, after Oki in September 2017.

The sputum sampling aims to examine Tuberculosis in orangutan. Orangutan who will be released must be ensured free from infectious diseases, including Tuberculosis.

The result of UI Microbiology Laboratorium states that Untung is clean. “Thankfully.. Untung is clean and healthy.”, says drh. Ryan Winardi blissfully. “Just another technical process that Untung has to undertake. Hopefully, the administrative affairs of the release site will be approved soon, so that Untung, who is lucky without perfect fingernails, can be released to his habitat soon.” says Reza Kurniawan, the Manager of COP Borneo, orangutan rehabilitation center in Berau regency, East Borneo. (SAR)

UNTUNG BERSIH DARI TUBERKULOSIS
Minggu pertama bulan Mei, Untung telah menjalani pengambilan sampel dahak/sputum orangutan pra-pelepasliaran. Orangutan yang bernama Untung ini adalah, orangutan yang berasal dari kebun binatang di Samarinda. Untung adalah orangutan kebun binatang kedua yang akan kembali ke alam, setelah sebelumnya Oki pada September 2017.

Pengambilan sampel dahak ini bertujuan untuk pemeriksaan Tuberkulosis pada orangutan. Orangutan yang akan dilepasliarkan ke alam harus dipastikan tidak mengidap penyakit menular salah satunya Tuberculosis.

Hasil pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi UI menyatakan Untung bersih. “Syukurlah… Untung bersih dan sehat.”, ujar drh. Ryan Winardi lega. “Tinggal proses teknis lainnya yang akan dijalanin Untung. Semoga urusan administrasi lokasi pelepasliaran segera disetujui, agar Untung, yang beruntung karena tanpa jari-jari yang sempurnanya, bisa segera dilepasliarkan ke habitatnya.”, kata Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini.

ANNIE’S SECOND DAY AT FOREST SCHOOL

Do not know, then do not love. But the first look can also make us fall in love or not. Maybe that’s the way with the newcomer COP Borneo, Annie. Perhaps this is the first time to see other orangutans after three years of living with humans. Perhaps also his fading memory of his mother made him challenge Happi when he first met. It’s sad to imagine what happened three years ago, when Annie had to be separated from his mother forever.

Annie a 4-year-old male orangutan, for the first time attending a COP Borneo forest school class on May 28, 2018. Annie strikes Happi on the first day of school, and during the day, Annie is oppressed by Happi and Owi, until he gives up and dares not be far from animal keeper who always tried to protect Annie from the two male orangutans who first entered the forest school class. The ability to climb no more than 3 meters. Perhaps this is the highest climbing of Annie after parting with his mother.

The oppression of new students is not continuous. After the first day of the evaluation, the COP Borneo orangutan rehabilitation team decided to keep Annie to a forest school with Happi and Owi. Of course, the animal keeper will be more alert. “What a surprise. Happi started a good relationship with Annie. They stared and climbed the same tree.”, said Wety Rupiana while noting in Annie’s special forest schoolbook. “It turns out yesterday is the day of introduction.”, added Wety relieved. (LSX)

HARI KEDUA ANNIE DI SEKOLAH HUTAN
Tak kenal maka tak sayang. Tapi tatapan pertama kali juga bisa membuat kita jatuh cinta atau tidak. Mungkin begitulah yang terjadi dengan si pendatang baru COP Borneo, Annie. Mungkin ini adalah kali pertamanya melihat orangutan lainnya setelah tiga tahun hidup bersama manusia. Mungkin juga ingatannya yang sudah mulai pudar tentang induknya membuat dia menantang Happi saat pertama kali bertemu. Sungguh menyedihkan membayangkan kejadian tiga tahun yang lalu, saat Annie harus terpisah dengan induknya untuk selamanya.

Annie orangutan jantan berusia 4 tahun, untuk pertama kalinya masuk kelas sekolah hutan COP Borneo pada 28 Mei 2018. Annie memukul Happi di hari pertama sekolah, dan sepanjang hari itu pula, Annie ditindas oleh Happi dan Owi, hingga ia menyerah dan tak berani jauh dari animal keeper yang selalu berusaha melindungi Annie dari kedua orangutan jantan yang terlebih dahulu masuk kelas sekolah hutan. Kemampuan memanjatnya tak lebih dari 3 meter. Mungkin ini adalah panjatan tertingginya Annie setelah berpisah dengan induknya.

Penindasan pada siswa baru tak terus menerus berlangsung. Setelah di hari pertama evaluasi, tim pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo memutuskan untuk tetap membawa Annie ke sekolah hutan bersama Happi dan Owi. Tentu saja, animal keeper akan lebih waspada lagi. “Sungguh mengejutkan. Happi mulai menjalin hubungan yang baik dengan Annie. Mereka bertatapan dan memanjat pohon yang sama.”, ujar Wety Rupiana sembari mencatat di buku sekolah hutan khusus Annie. “Ternyata kemaren adalah hari perkenalan.”, tambah Wety lega. (WET)

UNYIL, ONE MORE STEP TOWARDS HIS HABITAT

Unyil is the name of one of orangutans in orangutan rehabilitation centre located in Berau regency, East Kalimantan. Unyil has his own story that is quite unbelievable. This young orangutan which once kept as pet by locals in Muara Wahau, was living in a bathroom for 3 years. He was only 2 years old at that time.. still a cute and adorable baby. He was bought by Ngau family for IDR 1.500.000,00 from others.

“We didn’t expect that unyil’s progress would be that fast. From a spoiled baby orangutan which had to be fed by Ngau family to eat, even we were surprised seeing his hair straight as if his hair was just straighten. The first time he joined the forest school, he was just shuffling on the ground and confused when he was given orangutan food. Until finally, he successfully climbed the trees and moved from one tree to another. And his courage to survive on the orangutan island convinced us that Unyil deserves the real forest.”, said Reza Kurniawan, COP primate observer.

The release of orangutans is not as easy as people think it is, like just open the transit cage and let the orangutan free. There are a very detailed medical test to ensure the orangutan is in a good condition of health without any infectious disease. Therefore, COP Borneo medical team carried out a series of medical check-up which included a complete blood test, and several infectious diseases tests such as hepatitis, herpes, and tuberculosis.

Thankfully, laboratory results state that Unyil is clear. Unyil prepares for the next step, waiting for administration from the authorities to release him to his habitat. (SAR)

UNYIL, SELANGKAH LAGI AKAN KEMBALI KE HABITATNYA
Unyil adalah nama orangutan di pusat rehabilitasi orangutan yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Unyil punya cerita tersendiri yang membuat orang tak percaya. Anak orangutan yang dipelihara warga Muara Wahau, selama 3 tahun hidup di dalam kamar mandi. Saat itu dia berusia 2 tahun… masih bayi yang lucu dan menggemaskan. Dibeli keluarga Ngau sebesar Rp 1.500.000,00 dari orang lain.

“Kami tak menyangka, perkembangan Unyil begitu pesat. Dari anak orangutan yang begitu manja yang untuk makan saja selalu didulangi keluarga Ngau bahkan waktu itu kami heran sekali dengan rambutnya yang seperti baru saja direbonding. Masuk kelas sekolah hutan hanya bisa ngesot di lantai hutan/tanah dan kebingungan saat diberi makanan orangutan. Hingga akhirnya dia berhasil memanjat pohon dan berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Dan keberaniannya bertahan di pulau orangutan membuat kami yakin, Unyil pantas untuk hutan yang sesungguhnya.”, ujar Reza Kurniawan, pengamat primata COP.

Pelepasliaran orangutan tak semudah yang diperkirakan orang awam. Buka kandang transit dan orangutan bebas lepas. Ada tes kesehatan yang sangat detil, untuk memastikan orangutan yang dilepasliarkan dalam keadaan sehat tanpa penyakit menular. Untuk itu, tim medis COP Borneo melakukan serangkaian tes kesehatan yang meliputi darah lengkap, dan beberapa penyakit menular seperti hepatitis, herpes hingga Tuberkulosis.

Syukurlah, hasil laboratorium menyatakan Unyil bersih. Unyil bersiap ke langkah selanjutnya, menunggu administrasi dari pihak berwenang untuk pelepasliarannya ke habitatnya.

Page 3 of 1712345...10...Last »