WHEN UNTUNG HIDING IN THE MIDDLE OF ORANGUTAN ISLAND

“Once again, Untung managed to make us upset!”, shouted Daniel, who was in charge of overseeing the orangutan’s pre-release island in East Kalimantan. After four days of not showing up at the feeding station, Untung acted up again. From morning until noon, Untung was nowhere to be seen by the monitoring team. The team even patrolled and circled the island repeatedly to find him.

Before being sent to the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Untung was kept at the Mulawarman University Botanical Garden, Samarinda. A small and empty cage like a bird cage was where he used to live. At that time Little Untung always hugged himself to keep warm. He always hid her imperfect finger. “2011 was the first time we introduced Untung to climb a tree. Now, Untung looks forward to returning to his real home.”, said Daniek Hendarto, action manager of Center for Orangutan Protection.

It was already 16.30 and we had not found him, even though it was time for dinner. Feeling upset and anxious, the team finally decided to enter the island in search of Untung. Apparently, Untung was found enjoying his time playing alone on the island. All our fear losing immediately disappeared and turned into an instant resentment seeing Untung with mud all over his face and body. It appears that when he went missing Untung played on the muddy land inside the island and he looked very happy to be able to roll his body on the muddy ground.

Untung… you always do things that make us afraid of losing you! Let’s make dreams come true for another Untungs to live outside their cages through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. (EBO)

UNTUNG MENGHILANG DI DALAM PULAU PRA RILIS ORANGUTAN
“Sekali lagi, Untung berhasil membuat kami kesal!”, teriak Daniel yang bertugas mengawasi pulau pra rilis orangutan di Kalimantan Timur ini. Setelah empat hari tidak muncul di tempat pemberian makan, Untung membuat ulah lagi. Dari pagi hingga siang hari, Untung tak terlihat sama sekali dari pantauan tim pos monitoring pulau. Bahkan tim patroli mengelilingi pulau berulang kali, untuk mencari keberadaan Untung.

Sebelum berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Untung adalah orangutan yang berada di Kebun Raya Universitas Mulawarman, Samarinda. Kandang kecil kosong seperti kandang burung menjadi tempat tinggalnya. Saat itu Untung kecil selalu memeluk dirinya sendiri. Jari tak sempurnanya selalu disembunyikannya. “Tahun 2011 adalah tahun pertama kali kami memperkenalkan Untung untuk memanjat sebuah pohon. Kini, Untung menantikan hari kembalinya ke rumah sesungguhnya.”, ujar Daniek Hendarto, manajer Aksi Centre for Orangutan Protection.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WITA dan kami belum menemukan Untung, padahal sudah waktunya untuk makan sore. Rasa kesal dan takut bercampur. Akhirnya tim memutuskan masuk ke dalam pulau untuk mencari Untung. Ternyata, ketika kami melakukan pencarian, Untung terlihat sedang asik bermain sendiri di dalam pulau. Ketakutan kami langsung hilang berubah menjadi kekesalan seketika saat melihat wajah dan badan Untung yang sangat kotor. Rupanya, Untung bermain tanah yang berlumpur di dalam pulau dan dia terlihat sangat senang sekali bisa mengguling-gulingkan badannya di tanah berlumpur tersebut.

Untung… ada-ada saja ulahmu yang membuat kami takut kehilanganmu! Mari wujudkan mimpi Untung-untung yang lain untuk hidup di luar kandang melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. (Anen)

WRONG IN CALCULATING, BERANI FELL

What do we do in orangutans rehabilitation center? Is it true that orangutans will get their second chance here? How to actualize it? COP Borneo is the only orangutan rehab center established by Indonesian people. We welcome Indonesian youth and volunteers to join us, to make orangutan become a national pride.

The growth of orangutan, which for four years lived in wooden boxes in East Kutai, East Kalimantan, showed progress. We named him Berani. He just joined our the forest school in the Kalimantan rainforest for a month. For the first time, Berani was only sat down near from the keeper’s hammock, but now he began to climb trees as a place to play.

Currently, Berani dares to try to move from one tree to another through the root rope. Before moving, Berani usually observes and tries the root rope first. But this time, he miscalculated. The chosen rope is too small so it breaks when he is moving. Berani fell from 5 meters height. He remained silent and stay in the ground. He didn’t dare to brachiate through rope again until the forest school on that day ended. He made his left temple swollen. (IND)

SALAH PERHITUNGAN, BERANI PUN TERJATUH
Apa yang dilakukan pusat rehabilitasi orangutan? Benarkah, orangutan akan mendapatkan kesempatan keduanya di sini? Bagaimana caranya? COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan oleh putra-putri Indonesia. Membuka kesempatan yang luas untuk anak muda setempat dan para relawan dalam negeri agar orangutan menjadi kebanggaan bersama, Indonesia.

Perkembangan orangutan yang selama empat tahun hidup di dalam kotak kayu di Kutai Timur, Kalimantan Timur menunjukkan kemajuan. Berani namanya, sebulan hadir di kelas sekolah hutan, kelas yang berada di hutan hujan Kalimantan. Berani yang semula hanya duduk di bawah tak jauh dari hammock animal keeper, mulai menyukai pohon sebagai tempatnya bermain.

Berani mulai berani mencoba berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain melalui tali akar. Sebelum berpindah, biasanya Berani memperhatikan dan mencoba-coba tali akar yang akan digunakannya. Namun kali ini, dia salah perhitungan. Tali akar pilihannya terlalu kecil sehingga putus saat dia bergelantungan. Berani pun terjatuh dari ketinggian 5 meter. Berani terdiam… diam hingga sekolah hutan hari itu berakhir. Berani tak mencoba tali akar lagi. Terlihat pelipis kirinya bengkak… (Lina_CB)

WHAT’S UP WITH UNTUNG?

Being in nature makes life easier. Like the proliferation of outbound activities in various tourist attractions in Indonesia. Just say traditional games by utilizing materials around us, such as re-introducing walking with coconut shells, egrang, breaking stones, jumping rope and so on. Then what about orangutans? Is the playing world the same as humans?

Heavy rain washed away a coconut tree during the flood. And it’s been week, Untung and Unyil orangutans were not seen inside the orangutan island. Patrols were intensified, again they were both seen on the stranded coconut tree. Not only coconut trees, there are several large trees which are also stranded at the end of the pre-release island of this orangutan. What did the two orangutans do?

Yes, they are hanging on the tree. Repeatedly herded to go inside the island, repeatedly also Untung turned away to patrol the team. Until finally the team decided to cut the trees so that the two orangutans could not play in the open space again. Why did the team do that? For four days, Untung did not approach the food sent by the patrol team. The team were worried because Untung didn’t seem to eat at all. The reality was …

It turned out that the coconut tree was full of coconuts. The food was really abundant and Untung became very interested in his new discovery. The patrol team found coconut remains on other tree trunks, maybe a lot of them were washed away too. “Now Untung is really angry. He didn’t care anymore when the patrol team call his name. At mealtime, he chose to be in his nest. Alright Untung, next month you will really be in your habitat. Hopefully your anger will be paid off when you return to your real home, “said Daniel, coordinator of the COP Borneo orangutan island. (EBO)

KENAPA DENGAN UNTUNG?
Berada di alam membuat hidup lebih mudah. Seperti menjamurnya kegiatan outbond di berbagai tempat wisata di Indonesia. Sebut saja permainan-permainan tradisional dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita, kembali diperkenalkan seperti berjalan dengan batok kelapa, enggrang, pecah batu, lompat tali dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan orangutan? Apakah dunia bermainnya sama dengan manusia?

Hujan lebat menghanyutkan sebatang pohon kelapa saat banjir. Dan sudah seminggu itu pula, orangutan Untung dan Unyil tidak terlihat di dalam pulau orangutan. Patroli pun semakin diperbanyak, lagi-lagi mereka berdua terlihat berada di pohon kelapa yang hanyut. Tak hanya pohon kelapa, ada beberapa pohon besar yang juga terdampar di ujung pulau pra rilis orangutan ini. Apa yang dilakukan kedua orangutan tersebut?

Ya, mereka bergelantungan di pohon itu. Berulang kali diusir untuk segera masuk ke dalam, berulang kali pula Untung berbalik mengusir tim patroli. Hingga akhirnya tim memutuskan untuk memotong-motong pohon-pohon tersebut agar kedua orangutan tak bisa bermain di tempat terbuka itu lagi. Kenapa tim sampai melakukan hal itu? Selama empat hari, Untung tak menghampiri makanan yang dikirim tim patroli. Tim khawatir karena Untung tak terlihat makan sama sekali. Kenyataannya…

Ternyata pohon kelapa itu penuh dengan buah kelapa. Makanan benar-benar melimpah dan Untung menjadi sangat tertarik dengan penemuan barunya. Tim patroli menemukan bekas kelapa di batang pohon yang lain, mungkin sudah banyak yang hanyut juga. “Sekarang Untung benar-benar marah. Panggilan tim patroli tak didengarkannya lagi. Saat jam makan, dia pun memilih berada di sarangnya. Baiklah Untung, bulan depan kamu akan benar-benar berada di habitatmu. Semoga kemarahanmu terbayarkan saat kamu kembali ke rumahmu.”, ujar Daniel, kordinator pulau orangutan COP Borneo. (Anen).

BERANI’S FIRST DAY AT FOREST SCHOOL

One more hope in early 2019. An orangutan was rescued from a wooden box in the village of Meratak, East Kutai, East Kalimantan on 23 October 2018. After going through a quarantine period and extended with a comprehensive medical examination, Berani, the orangutan, started his forest school class. He did not scream. He did not move much either. The first day Berani just spent his time staying on the ground, under the hammock of the animal keeper.

The second week is of course different from the first week. Berani started to climb trees. Went up and down from the same tree. He has not touched hanging roots and branches yet. Berani is still trying to adjust.

The look in his eyes slowly began to change. From fear to calm with hope. Berani will keep trying, it all depends on the skills of the animal keepers who take him to forest school. Let’s send your enthusiasm to the animal keepers. (Lina_CB)

HARI PERTAMA BERANI DI SEKOLAH HUTAN
Satu lagi harapan di awal tahun 2019. Ini adalah orangutan yang diselamatkan dari kotak kayu di desa Meratak, Kutai Timur, Kalimantan Timur pada 23 Oktober 2018 yang lalu. Setelah melalui masa karantina dan diperpanjang dengan pemeriksaan medis secara menyeluruh, orangutan Berani pun memulai kelas sekolah hutannya. Tak ada teriakan darinya. Tak ada pergerakan juga dari Berani. Hari pertama Berani hanya dihabiskan dengan berdiam di tanah, di bawah hammock animal keeper.

Minggu pertama tentu saja berbeda dengan minggu kedua. Berani mulai memanjat pohon. Naik dan kemudian turun dari pohon yang sama. Tali akar yang menggantung bahkan ranting-ranting yang bercabang belum juga dijamahnya. Berani terus berusaha menyesuaikan diri.

Tatapan matanya perlahan mulai berubah. Dari takut jadi teduh dengan harapan. Berani akan terus mencoba, semua tergantung kecakapan para animal keeper yang membawanya ke sekolah hutan. Yuk kirim semangat mu untuk para animal keeper. (Lina_CB)

THE FIRST 6 MONTHS FOR ANNIE IN FOREST SCHOOL

This is Annie, an orangutan who has just been in the COP Borneo forest school for 6 months. Annie is a 5-year-old male orangutan. On the first day, he received bullying from the other orangutans. But that doesn’t make him go back to his cage. He chooses to go to his animal keeper, Jhonny, who can defend him if the bullying happens. Without the presence of Jhonny, Annie chose to not go out of the cage to undergo forest school.

What happened when Jhonny took him to forest school? Annie climbed the tree, away from the forest school location and played alone. According to Jhonny, Annie is often seen getting food in the trees.

Like other orangutan children in the forest school, at noon, Annie will go down to the ground and join other orangutans, playing on the forest ground. Based on the records of the animal keeper, Annie hasn’t seen making a nest yet.

2018 has just passed, the existing report is still too early. Annie’s spirit is the hope of COP Borneo. We are waiting for Annie’s development in the next semester. (IND)

ANNIE SELAMA 6 BULAN DI SEKOLAH HUTAN COP BORNEO
Ini dia Annie, orangutan yang baru masuk kelas sekolah hutan COP Borneo selama 6 bulan ini. Annie adalah orangutan jantan berusia 5 tahun. Hari pertama masuk kelas mendapat perundungan dari orangutan yang lebih dahulu masuk kelas ini. Tapi bukan berarti dia memilih untuk berada di dalam kandang saja, tapi dia memilih animal keepernya, yang tentu saja bisa membelanya jika perundungan itu terjadi. Pilihan itu pun jatuh pada Jhonny. Tanpa kehadiran Jhonny, Annie memilih untuk tidak keluar kandang untuk menjalani kelas sekolah hutan.

Tapi apa yang terjadi sesaat Jhonny membawanya ke sekolah hutan? Annie memanjat pohonnya, menjauh dari lokasi sekolah hutan dan bermain sendiri. Menurut Jhonny, Annie sering terlihat mendapatkan makanan di atas pohon.

Seperti anak orangutan lain yang berada di kelas sekolah hutan, saat siang hari, Annie akan turun ke tanah dan bergabung dengan orangutan lainnya, bermain di lantai hutan. Berdasarkan catatan animal keeper, Annie belum terlihat membuat sarang.

Tahun 2018 baru saja berlalu, rapot yang ada itu masih awal. Semangat Annie adalah harapan COP Borneo. Kita tunggu perkembangan Annie semester depan yuk.

HOPE FOR OWI IN 2019

The end of 2018 is so thrilling. Reports had been submitted one by one and the evaluation began. Forest schools are the orangutan hope to sharpen their instincts as wild orangutans. In the previous quarter year, Owi was no longer always seen with Bonti. This forced him to play more in the trees on his own. Owi actively plays in the liana roots, swings from one tree to another and explores the forest.

Unfortunately, Owi hasn’t shown the ability to make nests yet. Maybe he still doesn’t need a nest because when he was tired of playing in the trees, he preferred to go down and invite other orangutans to play on the ground.

Owi is an orangutan found by a worker in the palm oil plantation area in East Kalimantan. At that time he was only 2 years old. The worker took him and then gave him to a soldier in Tenggarong.

This is Owi’s second year at the COP Borneo orangutan rehabilitation center. Climbing, a crucial skill for arboreal animals, is no longer a problem for him. “Entering his third year, we hope he can make a nest,” said Wety Rupiana excitedly. “Owi is already good at looking for food in the trees,” added Wety again. (IND)

HARAPAN UNTUK OWI DI TAHUN 2019
Akhir tahun menjadi begitu mendebarkan. Laporan demi laporan masuk dan evaluasi pun dimulai. Sekolah hutan adalah harapan orangutan untuk mengasah instingnya sebagai orangutan liar. Owi pada kuartal sebelumnya tak lagi selalu terlihat dengan orangutan Bonti. Hal ini memaksanya untuk lebih banyak bermain di atas pohon. Owi menjadi aktif bermain di akar-akar liana, berayun-ayun dari satu pohon ke pohon yang lain dan melakukan penjelajahan tanpa menyentuh tanah.

Sayang, Owi belum menunjukkan kemampuannya membuat sarang. Mungkin Owi masih belum memerlukan sarang karena ketika Owi terlihat sudah cukup lama bermain di atas pohon, Owi lebih suka turun ke tanah dan mengajak orangutan lain bermain.

Owi adalah orangutan yang ditemukan pekerja di area perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur. Saat itu usianya baru 2 tahun, karena kasihan, pekerja tersebut membawanya dan akhirnya berpindah tangan pada seorang tentara di daerah Tenggarong.

Ini adalah tahun keduanya di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Memanjat yang merupakan modal dasar satwa aboreal sudah bukan masalah lagi untuk Owi. “Memasuki tahun ketiganya, tentu saja kami berharap dia bisa membuat sarang.”, ujar Wety Rupiana bersemangat. “O… iya… Owi sudah pandai mencari makan di atas pohon.”, tambah Wety lagi.

HOW IS YOUR DAY, MEMO?

This is Memo, an orangutan who can peels coconuts cleanly at COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Kalimantan. After peeling it off, she broke the shell to drink the coconut water. She uses a unique technique to break the coconut, very unusual compared to other orangutans. Memo breaks the coconut by banging it on the cage wall. Then, she eats her coconut meat, slowly until it runs out.

Memo is an adult female orangutan. Her movements are limited because she spent most of her life inside a cage. She only has few activities besides looking out through the cold iron bars. We don’t know how many hammocks have been damaged, repaired or even replaced with new ones, but Memo will continue her life inside the cage.

She is Memo, an orangutan who dares to dream of living without iron bars. She cannot join with other orangutans and cannot be released into her habitat because she has hepatitis B. This disease is contagious and cannot be cured. Memo, an orangutan who was kept for years by a villager in Muara Wahau, East Kalimantan and got hepatitis from humans. “Don’t pet orangutans, we share 97% of the same DNA. Our diseases are same and can infect each other. Now you understand, don’t you?”, said Daniek Hendarto, manager of the COP Ex-Situ program. (IND)

BAGAIMANA HARI-HARIMU, MEMO?
Ini dia orangutan yang mengupas buah kelapa hingga bersih di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Selesai mengupasnya, dia pun memecahkan tempurungnya untuk meminum airnya yang segar. Cara memecahkan tempurung kelapa ini pun berbeda dengan orangutan yang lainnya. Hanya Memo yang memecahkan kelapa dengan membenturkan kelapanya ke dinding kandang. Kemudian, dia akan memakan daging kelapanya, perlahan-lahan sampai habis.

Memo orangutan betina yang sudah bukan anak-anak lagi. Usianya sudah memasuki usia dewasa. Gerakannya terbatas pada kandang. Melihat keluar dari balik jeruji besi yang dingin. Entah sudah berapa belas hammock yang rusak, diperbaiki bahkan diganti dengan yang baru. Dan Memo akan terus di dalam kandang.

Dia adalah Memo, orangutan yang berani bermimpi untuk hidup tanpa jeruji besi lagi walau bukan di habitat aslinya karena penyakit yang dideritanya yaitu hepatitis B. Itulah sebabnya, Memo tidak bisa bergabung dengan yang lainnya dan tidak mungkin dilepasliarkan ke habitatnya. Penyakit menularnya akan mewabah jika dia bergabung dengan yang lainnya. Memo, orangutan yang bertahun-tahun dipelihara seorang warga Muara Wahau, Kalimantan Timur dan tertular hepatitis dari manusia. “Jangan pelihara orangutan, kita berbagi 97% DNA yang sama. Penyakit yang diderita pun sama dan bisa saling menularkan. Sekarang kamu mengertikan.”, ujar Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP.

HAPPI SEIZED BONTI’S NEST

Observing the child’s development every day will be very astonishing. Children develop according to age and stimuli around them. If yesterday he preferred to play with himself, the next day he might be more likely to play with his friends. Same things happen to orangutan babies.

Happi, a 4-year-old orangutan, was the idol of the animal keepers last year. His ability to make a nest truly amazes the animal keepers. Even the orangutans who are older than him in the forest school have not been able to make a nest. Secretly Bonti, another orangutan, watched him and imitated how to make a nest. Now, Bonti makes the nest bigger and stronger, while Happi just occupies Bonti nest.

If Bonti used to learn from Happi, now Happi is learning from Bonti. Bonti is currently 5 years old, one year older than Happi. If only they were still with their mother, of course, they would be far more independent. Orangutan mother is the best teacher ever. Mom and kid bonds in orangutans are very close. Orangutan kids will be in their parental care until 6-8 years. During that time, the mother will not leave her child, not even to meet another male. That’s what causes orangutan breeding to be very slow. (IND)

HAPPI MEREBUT SARANG BONTI
Mengamati perkembangan anak setiap hari akan sangat mencengangkan. Anak berkembang sesuai usia dan rangsangan yang ada di sekitarnya. Jika kemarin dia lebih suka bermain dengan dirinya sendiri, keesokan harinya mungkin saja dia akan lebih senang bermain dengan teman-temannya. Tak terkecuali, anak orangutan.

Happi, orangutan yang berusia 4 tahun, tahun lalu menjadi idola para animal keeper. Kemampuannya membuat sarang dimana orangutan seusianya bahkan lebih tua darinya yang saat itu berada di kelas sekolah hutan belum ada yang bisa membuat sarang, benar-benar membuat kagum para animal keeper. Insting yang yang dimiliki Happi saat itu berhasil membuat sarang yang cukup untuknya. Diam-diam orangutan Bonti mengamatinya dan meniru cara membuat sarang. Kini, Bonti membuat sarang lebih besar dan kokoh, sementara Happi menempati sarang Bonti begitu saja.

Jika dulu Bonti belajar dari Happi, sekarang Happi yang belajar dari Bonti. Memang usia Bonti saat ini 5 tahun, setahun lebih tua dari Happi. Andai saja mereka masih bersama induknya, tentu mereka akan jauh lebih mandiri. Ibunya adalah guru terbaik yang pernah ada. Ikatan ibu dan anak pada orangutan bahkan sangat erat. Anak orangutan akan dalam pengasuhan induknya hingga usia 6-8 tahun. Selama itu pula, induk tidak akan meninggalkan anaknya, bahkan tidak untuk bertemu jantan lain. Itulah yang menyebabkan perkembangbiakan orangutan menjadi begitu lambat.

AMBON SCREAMS AT A QUIET NIGHT

There is not much Ambon does in the cage. Space has always limit anyone’s movements. No exceptions for Ambon, an adult male orangutan with a big body. The cage becomes even smaller when used.

Ambon friendly ayes often make us misunderstood. Yes, lately Ambon become more aggressive to animal keepers. Ambon will be angry when being approached or being seen. In the middle of a quiet night, the team who is in charge in COP Borneo often heard Ambon shouts.

The big and heavy Ambon sounds more hideous at night. The team rushed to check on Ambon condition. “Indeed, Ambon often makes noises during the night, usually because there are animals entering the block 1 cage like pigs,” said Wety Rupiana, the coordinator of COP Borneo rehabilitation centre, East Kalimantan. (SAR)

TERIAKAN AMBON DI SUNYINYA MALAM
Tidak banyak yang dilakukan orangutan Ambon di dalam kandang. Ruang memang selalu membatasi gerak siapapun. Tak terkecuali Ambon, orangutan jantan dewasa dengan tubuh besarnya. Kandang pun menjadi lebih sempit saat digunakannya.

Tatapan Ambon yang ramah sering membuat kita salah sangka. Ya… akhir-akhir ini Ambon menjadi lebih agresif pada animal keeper, Ambon akan marah kalau didekati atau dilihat berlama-lama. Di tengah malam yang sepi, tim yang bertugas di COP Borneo pun sering mendengar teriakan Ambon.

Suara Ambon yang besar dan berat terdengar lebih seram saat malam hari. Tim bergegas memeriksa kondisi Ambon. “Memang Ambon sering mengeluarkan suara-suara saat malam hari, biasanya karena ada binatang yang masuk ke kandang blok 1 mencari makan seperti babi.”, ujar Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo, Kalimantan Timur.

BONTI AND ANNIE ARE THE MOST DIFFICULT TO HANDLE IN ORANGUTAN POSYANDU

There are 6 small orangutans in the school forest. They are Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie and Jojo. Their behaviour development are always being monitored through daily journal, including their physical development. Every month in the 2nd week, COP Borneo orangutan rehabilitation centre holds an “Orangutan Posyandu”. The small orangutans will be weighed and measured in height. Dental and overall health examination will also be carried out.

“It’s different from human children, who has mother and caretaker to answer precisely about their name, date of birth or their medical history. While orangutans, age determination can be made by examining and calculating their number of teeth,”, said drh. Felisitas Flora.

Among the 6 orangutans who attend the forest school, Bonti and Annie are the 4-5 years old orangutans. “The mischievous age”, Wety Rupiana, coordinator of the COP Borneo rehabilitation centre, interrupted. If other small orangutans are easily to be measured and examined, these two are not. Both of them are the most difficult to be taken to the Orangutan Posyandu. Neither did they want to extent their arms and legs to be measured. They also didn’t want to open their mouths at all. and they were always trying to escape.

There’s no other way to deal with the two orangutans, Bonti and Annie, to be examined. The most effective ways to make them open their mouth, that is tickling their armpits and neck, was no longer working for them. “Maybe they’re embarrassed because they are old…”, said Flora with laugh. (SAR)

BONTI DAN ANNIE PALING SULIT DI POSYANDU ORANGUTAN
Ada enam orangutan kecil yang mengikuti kelas sekolah hutan. Mereka adalah Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie dan Jojo. Perkembangan perilaku mereka selalu terpantau melalui catatan harian termasuk juga perkembangan fisiknya. Setiap bulan di minggu kedua, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo menggelar “Posyandu Orangutan”. Para orangutan kecil akan ditimbang dan diukur tinggi badannya. Tak luput juga pemeriksaan gigi serta kesehatan secara menyeluruh.

“Tidak sama seperti anak manusia, ada ibunya atau pengasuhnya yang bisa menjawab dengan pasti, nama maupun tanggal lahirnya bahkan sekilas riwayat kesehatannya. Sementara orangutan, penentuan usia dapat dilihat dari pemeriksaan dan penghitungan jumlah gigi.”, ujar drh. Felisitas Flora.

Dari keenam orangutan yang mengikuti kelas sekolah hutan, Bonti dan Annie adalah orangutan berusia 4-5 tahun. “Usia nakal-nakalnya itu.”, sela Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo. Jika anak orangutan yang lain bisa dengan cepat dilakukan pengukuran dan pemeriksaan, berbeda dengan keduanya. Keduanya paling susah diajak ke Posyandu Orangutan. Keduanya pula tidak mau mengulurkan tangan dan kakinya untuk diukur. Untuk membuka mulut pun keduanya tidak mau sama sekali. Dan mereka berdua selalu berusaha kabur.

Tak ada cara lagi untuk mengatasi kedua orangutan, Bonti dan Annie agar mau diperiksa. Cara paling ampuh dengan mengelitik bagian ketiak dan leher pun sudah tak berlaku lagi buat mereka. “Mungkin mereka malu karena sudah tua…”, kata Flora sambil tertawa. (FLO)

Page 2 of 2012345...1020...Last »