SEPTI BERKELILING KANDANG MENANTI PAGI

Hujan deras pagi ini membuat siapapun enggan keluar dari selimutnya. Tapi detik jam tak pernah berhenti sesaat pun, para perawat satwa yang telah selesai libur Natal dan Tahun Baru dengan semangat memotong buah, menimbang dan mencuci nya untuk orangutan-orangutan yang telah menunggunya di kandang. 

Masih ditemani para relawan, membersihkan kandang, menyikat lantai kandang yang mulai berlumut dan saatnya memberi makanan. Septi terlihat di atas dan mulai berkeliling kandang. “Bagus Septi, mungkin kamu kangen sama perawat satwa yang libur ya. Semakin sering bergerak samakin bagus untuk perutmu yang kembung”, ujar Lia, relawan dari Tanggerang yang merupakan alumni COP School Batch 7.

Lalu, apa yang akan dimakan Septi pagi ini ya? Septi memilih pepaya dan kali ini, dia memakannya. “Kemarin dia mengunyah pepaya, tapi dilepehnya, itu si Berani yang kandangnya bersebelahan malah mencuri lepehannya.”, Lia yang merupakan lulusan Psikologi sangat memperhatikan orangutan-orangutan di COP Borneo. “Orangutan pun punya pribadi yang unik.”.

 

MICHELLE, KAMU BISA!

Tahun 2019 yang lalu mungkin tahun yang tidak tepat untuk orangutan Michelle. Michelle yang merupakan satu-satunya kandidat orangutan betina yang akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya dan sudah berhasil melalui rangkaian medis untuk bisa dilepasliarkan terpaksa kembali ke kandang karantina setelah melalui tiga bulan hidup di pra-rilis pulau orangutan Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Michelle adalah orangutan yang besar di kebun binatang. Perlakuan perawat satwa sebelumnya di kebun binatang terhadapnya mungkin terlalu dimanja. Kebiasaan itu membuatnya kesulitan menjalani hari-hari di pulau orangutan. Pulau orangutan merupakan tahapan akhir orangutan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya, dimana orangutan dipaksa hidup secara mandiri tanpa campur tangan manusia. 

Perilaku Michelle yang sangat membahayakan dirinya dengan tidur di gresik (daratan terbuka) memaksanya kembali ke kandang karantina. Bulan November dan seterusnya dengan curah hujan yang cukup tinggi, bisa sewaktu-waktu menyapu gresik dimana Michelle sering tidur di malam hari. “Bahaya ini jika Michelle tetap di pulau. Selama tiga bulan itu pula, Michelle tidak pernah terlihat membuat sarang.”, ujar Inoy dengan kawatir.

Dua bulan lebih Michelle kembali ke kandang karantina. Michelle masih tetap memiliki harapan untuk kembali ke habitatnya. Mungkin Michelle akan kembali ke pulau pra-rilis usai Nigel dan Hercules dilepasliarkan dan tentu saja ada orangutan betina lainnya yang menjadi kandidat pelepasliaran juga, agar dia belajar dari orangutan lainnya untuk menjadi liar. 

HERCULES JATUH KE SUNGAI

Apakah kamu bisa membedakan saat orangutan bermain atau berkelahi? Kalau orangutan yang dimaksud adalah Hercules dan Nigel yang berada di pulau orangutan, dapat dipastikan itu adalah perkelahian dua orangutan jantan yang menuju dewasa. Walau tentunya bukan perkelahian untuk memperebutkan orangutan betina, namun dapat dipastikan untuk menentukan teritorial orangutan.

Hercules terlihat bersama Nigel di dekat tempat pemberian makanan. Terlihat seperti bermain bersama. Tiba-tiba Hercules terjatuh ke sungai. Amanda, relawan orangutan yang bertugas di pos pantau pulau bersama Inoy, perawat satwa mulai menyusun rencana untuk menolong Hercules. Syukurlah arus tak sederas sebelumnya, dimana dermaga pulau sampai tertutup banjir. Hercules berhasil naik ke daratan. 

Hercules menjauh dari Nigel dan makan sendiri sambil terus menjaga jarak dengan Nigel. Pagi yang mengejutkan untuknya tentunya. Bukan hanya Hercules, kami pun kaget. Sorenya, Hercules makan sendiri sambil melihat-lihat ke belakang. “Seperti takut ada Nigel di belakangnya. Hercules terlihat waspada.”, ujar Amanda Rahma, orangufriends Yogyakarta yang menjadi relawan di Pusat Rehabilitasi Orangutan selama libur Natal dan Tahun Baru 2020 ini.

MENANGIS SAAT MELIHAT AMBON

Tak ada yang lebih menyedihkan saat menyaksikan Ambon, si orangutan jantan dengan cheekpad nya yang besar menatapmu dengan dalam. Tak ada cerita tentangnya yang terlewatkan semenjak dia berada di kebun binatang dan selama dia berada di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. 

Ambon, orangutan terberat di COP Borneo, tak melepaskan pandangannya. Mungkin dia mengingatku, atau mungkin juga sudah lupa. Tapi aku tak pernah lupa dengan harapanku, melihatnya berada di alam, bukan dibalik jeruji besi yang bernama kandang. Bobotnya yang kini 80 kg tak mengubah tatapan matanya padaku. Apakah keinginannya untuk tetap di kandang atau kesempatan untuk kembali ke pulau orangutan sebagai sanctuary nya?

Bagaimana menurutmu? Apakah dia memohon untuk berada di sanctuary island? Bantu kami mewujudkannya ya. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com Apa harapanmu untuk Ambon di tahun depan? 

 

POPI BERSAMA RELAWAN ORANGUTAN

Pagi ini, hanya dua orangutan yang beruntung yang akan ke sekolah hutan. Cuti bersama untuk hari Natal sudah di mulai. Selama para perawat satwa merayakan Natal, beberapa relawan akan membantu di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Tentu saja, ini menjadi pengalaman luar biasa dan langka. 

Lalu, siapakah kedua orangutan yang beruntung itu? Popi… ternyata. Menurut para relawan, Popi adalah orangutan yang sangat terkenal. Wajah imutnya membuat banyak orang jatuh hati. Apalagi kalau mengetahui latar belakang Popi. Iya, Popi yang tali pusarnya baru saja lepas. Usianya saat itu baru 1 bulan. Mimpi terburuk bagi para bayi,. Itu juga yang memaksa COP Borneo memiliki seorang baby sitter. Karena Popi benar-benar membutuhkan perawatan intensif, pengganti ibunya yang mungkin telah mati.

Tiga tahun sudah berlalu, Popi di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tiga tahun yang cukup lambat. Popi masih harus terus dirangsang untuk lebih banyak menghabiskan waktunya di pohon. Hingga saat ini, Popi masih sering terjatuh dari pohon. Sering memilih pohon  maupun dahan yang tidak cukup kuat, karena tubuhnya yang juga sudah bertambah berat. 

Semoga tidak ada lagi Popi-Popi yang lain yang terpaksa berada di tangan manusia. Bagaimana pun, bayi orangutan akan lebih baik bersama induknya di alam. 

COLA, SI ORANGUTAN YANG BERJALAN TEGAK

Komitmen kedua negara antara Indonesia dan Thailand untuk memerangi perdagangan satwa liar ilegal diwujudkan dengan telah selesainya kasus hukum di negeri Thailand dan satwa yang diseludupkan kembali ke tanah air. Cola, orangutan repatriasi ini, telah tiba di Berau, Kalimantan Timur.

Perilaku menyimpang dengan berjalan tegak dengan kedua kakinya dan sering membanting-bantingkan tubuhnya ke lantai merupakan catatan tersendiri untuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kelahirannya di Thailand dan terpaksa berpisah dengan induknya saat Cola berusia tiga bulan, mengisyaratkan betapa dekatnya dia dengan manusia dan kemungkinan besar tak mengenal prilaku alami orangutan. 

Perpindahan Cola dari kandang transportasi yang dihuninya selama lebih 2×24 jam terlihat sempat membuatnya nyaman. Cola enggan untuk keluar dari kandang transport tersebut. Lima belas menit pertama, dia semakin masuk ke dalam kandang transportnya, perlahan dia melangkahkan kakinya ke kandang karantina COP Borneo. Kembali berdiri tegak sembari melipat tangannya di dada. Cola berjalan dengan tegak, namun di langkah ke empat, desain kandang memaksanya untuk menggunakan keempat alat geraknya. Kedua tangannya memegang lantai besi. “Tentu saja sulit bagi orangutan untuk berjalan seperti manusia dengan desain kandang seperti ini. Kandang Cola saat di Khao Son Wildlife Breeding Center, Thailand berlantai semen, dan itu memang memudahkan dia untuk berdiri tegak.”, ujar drh. Flora Felisitas, dokter hewan COP Borneo yang ikut menjemput Cola di Thailand.

Proses pemulangan orangutan Cola bukanlah hal yang mudah. Komunikasi antara kedua negara dan komunikasi internal di dalam negara masing-masing juga menjadikan repatriasi orangutan berhasil. Terimakasih semua pihak yang telah terlibat, semoga Cola bertahan dan berhasil kembali ke habitatnya.

BERANI PENASARAN DENGAN ORANG BARU

Saat pertama kali bertemu dengan orangutan, hati-hati dengan tatapan matanya. Seperti halnya saat kita pertama kali berkenalan dengan seseorang. Tatapan mata biasanya sulit untuk berbohong. Tidak terkecuali orangutan yang bernama Berani. Berani, menunjukkan keingintahuannya. Rasa penasaran akan sesuatu yang baru, terutama orang yang akan mengurusnya. 

Pagi ini, delapan orangutan akan ke sekolah hutan, termasuk Berani. Berani adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari kandang kayu rumah warga Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tanpa bius, Berani yang berusia 6 tahun dimasukkan kandang evakuasi. “Berani terlalu jinak untuk orangutan.”, ujar Hardi saat evakuasi. 

Berada di sekolah hutan hampir setahun terakhir ini belum juga membuatnya liar. Berani masih sering terlihat di lantai hutan. Sibuk dengan dirinya sendiri bahkan mengajak bermain perawat satwa. Memegang tangan perawat satwa, memperhatikannya dan kemudian mencoba memanjat pohon. Pilihan pohonnya biasanya pohon mati. kemudian turun lagi, tak lebih di ketinggian lima meter, Berani akan turun dengan sendirinya. Jhonny, kordinator perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, dimana Berani saat ini berada mengatakan, “Berani seperti Pingpong. Pingpong dulu juga lebih sering bermain di lantai hutan. Merehabilitasi Berani pasti sulit sekali.”.

Setiap individu orangutan adalah pribadi yang unik. Selama proses di COP Borneo, setiap orangutan memiliki catatan tersendiri. Khusus orangutan Berani, proses ini akan lebih panjang dan penuh tantangan. Terimakasih atas dukungan pecinta orangutan. Semoga Berani memberikan harapan lebih baik lagi di bulan selanjutnya. 

 

MARY FLU

Sebulan terakhir ini, Mary terlihat bersin. Pilek benar-benar membuatnya sulit bersaing mendapatkan makanan di pagi hari dari perawat satwa. Tentu saja, karena Mary menjadi sedikit lebih lambat dalam menghabiskan makanan paginya sebelum berangkat ke sekolah hutan. Makanannya sering direbut Bonti bahkan Jojo. Kebiasaannya untuk menghabiskan makanan di atas juga penyebabnya. 

Usia Mary saat ini masih dua tahun. Tubuh kecilnya terlihat sangat lincah. Mengambil makanan yang diberikan perawat satwa dan langsung naik ke atas hammock untuk menghabiskan makanannya. Untunglah, perawat satwa mengingat siapa saja yang belum mendapatkan bagian buahnya. Mary pun dipanggil lagi untuk mengambil buah sirsak bagiannya. “Mary…”. Dan Mary pun turun untuk mengambil bagiannya.

Khusus untuknya, ada ‘bolus’. Bolus adalah bulatan obat yang telah dicampur dengan makan bayi dan madu. Pemberian bolus sesekali mengalami kesulitan karena Mary terlihat bosan. Di dalam bolus terdapat campuran obat flu dan vitamin. Kadang dia pun tersedak karena bolus cukup besar dan dia langsung menelannya. Semoga pileknya cepat sembuh ya, walaupun hujan terus menerus turun di saat sore hari di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur.

BERANI DAN ANNIE BERKELAHI DI SEKOLAH HUTAN

Bukan anak-anak kalau tidak pernah berkelahi dengan temannya. Begitu pula dengan siswa sekolah hutan Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Kedua orangutan ini adalah siswa yang tak seharusnya berada di sekolah hutan yang sama. Keduanya adalah jantan yang seumuran. Keduanya juga masih suka berada di lantai hutan. Kemalasan keduanya pun sama, tak akan bertahan lama di atas pohon. Lalu apa jadinya jika keduanya satu kelas?

Pagi ini, Berani dan Annie berangkat ke sekolah hutan. Sejak di keluarkan dari kandang, keduanya sudah saling ingin menyentuh. Bahkan untuk membawa keduanya ke sekolah hutan sudah mulai merepotkan. Tubuhnya yang tak ringan lagi membuat para perawat satwa kehabisan nafas. Lalu…

Keduanya mulai turun dari gendongan perawat satwa. tak ada keinginan untuk langsung memanjat pohon. Baik Annie maupun Berani saling mendekat dan mulai saling dorong, berguling di lantai hutan, mencoba manjat lalu ditarik lagi, begitu terus… 

Para perawat satwa pun mulai melerai. Tak jarang, gigitan akhirnya mendarat di tangan maupun kaki perawat satwa. Hingga akhirnya, keduanya dibiarkan terus bergumul hingga capek. Jeritan Annie lebih sering terdengar. Annie pun lebih sering tersudut. Berani memang lebih berani jika melawan Annie. Tapi ya itu… di lantai hutan. 

 

NIGEL KEMBALI KE PULAU ORANGUTAN

Nigel, orangutan jantan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur ini terpaksa kembali ke kandang karantina pada 19 Juni 2017. Nigel yang seharusnya menjadi kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan pada tahun itu harus menjalani terapi karena mengidap penyakit herpes. Tim APE Defender, tim yang merawat orangutan di COP Borneo benar-benar kecewa. Mereka tidak menyangka, Nigel gagal kembali ke habitatnya.

Satu tahun menjalani terapi, Nigel pun dinyatakan bersih dan siap dilepasliarkan secara medis. Tapi sayang, tidak semudah itu untuk bisa melepasliarkan kembali Nigel. Nigel harus menjalani pembiasaan kembali, hidup tanpa jeruji besi. Tidak semudah itu pula untuk bisa kembali ke pulau orangutan, pulau sebagai wahana latihan untuk orangutan yang akan dilepasliarkan, kami menyebutnya pulau pra rilis orangutan, karena pulau telah diperuntukan untuk kandidat orangutan rilis lainnya. Nigel harus bersabar menunggu gilirannya untuk kembali melatih otot dan kemampuannya bertahan di alam.

Akhir November 2019, waktu yang dinanti akhirnya tiba. Pulau siap dihuni Nigel, orangutan yang akan dilepasliarkan tahun depan. Pemeriksaan fisik sebagai tanda perkembangan Nigel pun dilakukan. Nigel kini memiliki cheekpad yang tidak kecil lagi. Cheekpadnya sebagai penanda  sebagai orangutan jantan telah membesar. Berat tubuhnya kini 54 kg. 

Nama Nigel berasal dari nama seorang dokter hewan sekaligus pendiri organisasi OVAID yaitu drh. Nigel Hicks. OVAID adalah organisasi yang banyak membantu pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di bidang medis. Semoga saja, orangutan Nigel berhasil menunjukkan perkembangan yang baik selama di pulau orangutan dan segera kembali ke habitatnya. Terimakasih The Orangutan Project yang telah membantu perawatan Nigel selama setahun terakhir ini. 

Page 2 of 2712345...1020...Last »