ANNIE’S SECOND DAY AT FOREST SCHOOL

Do not know, then do not love. But the first look can also make us fall in love or not. Maybe that’s the way with the newcomer COP Borneo, Annie. Perhaps this is the first time to see other orangutans after three years of living with humans. Perhaps also his fading memory of his mother made him challenge Happi when he first met. It’s sad to imagine what happened three years ago, when Annie had to be separated from his mother forever.

Annie a 4-year-old male orangutan, for the first time attending a COP Borneo forest school class on May 28, 2018. Annie strikes Happi on the first day of school, and during the day, Annie is oppressed by Happi and Owi, until he gives up and dares not be far from animal keeper who always tried to protect Annie from the two male orangutans who first entered the forest school class. The ability to climb no more than 3 meters. Perhaps this is the highest climbing of Annie after parting with his mother.

The oppression of new students is not continuous. After the first day of the evaluation, the COP Borneo orangutan rehabilitation team decided to keep Annie to a forest school with Happi and Owi. Of course, the animal keeper will be more alert. “What a surprise. Happi started a good relationship with Annie. They stared and climbed the same tree.”, said Wety Rupiana while noting in Annie’s special forest schoolbook. “It turns out yesterday is the day of introduction.”, added Wety relieved. (WET)

HARI KEDUA ANNIE DI SEKOLAH HUTAN
Tak kenal maka tak sayang. Tapi tatapan pertama kali juga bisa membuat kita jatuh cinta atau tidak. Mungkin begitulah yang terjadi dengan si pendatang baru COP Borneo, Annie. Mungkin ini adalah kali pertamanya melihat orangutan lainnya setelah tiga tahun hidup bersama manusia. Mungkin juga ingatannya yang sudah mulai pudar tentang induknya membuat dia menantang Happi saat pertama kali bertemu. Sungguh menyedihkan membayangkan kejadian tiga tahun yang lalu, saat Annie harus terpisah dengan induknya untuk selamanya.

Annie orangutan jantan berusia 4 tahun, untuk pertama kalinya masuk kelas sekolah hutan COP Borneo pada 28 Mei 2018. Annie memukul Happi di hari pertama sekolah, dan sepanjang hari itu pula, Annie ditindas oleh Happi dan Owi, hingga ia menyerah dan tak berani jauh dari animal keeper yang selalu berusaha melindungi Annie dari kedua orangutan jantan yang terlebih dahulu masuk kelas sekolah hutan. Kemampuan memanjatnya tak lebih dari 3 meter. Mungkin ini adalah panjatan tertingginya Annie setelah berpisah dengan induknya.

Penindasan pada siswa baru tak terus menerus berlangsung. Setelah di hari pertama evaluasi, tim pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo memutuskan untuk tetap membawa Annie ke sekolah hutan bersama Happi dan Owi. Tentu saja, animal keeper akan lebih waspada lagi. “Sungguh mengejutkan. Happi mulai menjalin hubungan yang baik dengan Annie. Mereka bertatapan dan memanjat pohon yang sama.”, ujar Wety Rupiana sembari mencatat di buku sekolah hutan khusus Annie. “Ternyata kemaren adalah hari perkenalan.”, tambah Wety lega. (WET)

UNYIL, SELANGKAH LAGI AKAN KEMBALI KE HABITATNYA

Unyil adalah nama orangutan di pusat rehabilitasi orangutan yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Unyil punya cerita tersendiri yang membuat orang tak percaya. Anak orangutan yang dipelihara warga Muara Wahau, selama 3 tahun hidup di dalam kamar mandi. Saat itu dia berusia 2 tahun… masih bayi yang lucu dan menggemaskan. Dibeli keluarga Ngau sebesar Rp 1.500.000,00 dari orang lain.

“Kami tak menyangka, perkembangan Unyil begitu pesat. Dari anak orangutan yang begitu manja yang untuk makan saja selalu didulangi keluarga Ngau bahkan waktu itu kami heran sekali dengan rambutnya yang seperti baru saja direbonding. Masuk kelas sekolah hutan hanya bisa ngesot di lantai hutan/tanah dan kebingungan saat diberi makanan orangutan. Hingga akhirnya dia berhasil memanjat pohon dan berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Dan keberaniannya bertahan di pulau orangutan membuat kami yakin, Unyil pantas untuk hutan yang sesungguhnya.”, ujar Reza Kurniawan, pengamat primata COP.

Pelepasliaran orangutan tak semudah yang diperkirakan orang awam. Buka kandang transit dan orangutan bebas lepas. Ada tes kesehatan yang sangat detil, untuk memastikan orangutan yang dilepasliarkan dalam keadaan sehat tanpa penyakit menular. Untuk itu, tim medis COP Borneo melakukan serangkaian tes kesehatan yang meliputi darah lengkap, dan beberapa penyakit menular seperti hepatitis, herpes hingga Tuberkulosis.

Syukurlah, hasil laboratorium menyatakan Unyil bersih. Unyil bersiap ke langkah selanjutnya, menunggu administrasi dari pihak berwenang untuk pelepasliarannya ke habitatnya.

BULLIYING ON THE FIRST DAY OF ANNIE

Geez … at the beginning of the class of COP Borneo forest school, East Kalimantan, one participant has made a riot. Annie, the newcomer looked at Happi fiercely. Not only Happi, Annie also showed an attitude of unfriendly to Owi. Owi even got a hit from Annie on the way to the forest school.

But once in the forest school, the situation becomes turned 180 degrees. Annie who always wanted to challenge Happi and Owi could not do much. Happi always tried to bite and pursue Annie, wherever Annie went. Owi did not want to lose. The first day of school became more and more difficult for Annie.

The forest school has lasted half a day. Animal keeper is busy continuously separating Annie and Happi fights. Annie also looked very tired and wanted to give up. But Happi continued to approach Annie and invite a fight. Maybe this is a welcome statement to Annie from Happi. (WET)

BULLYING DI HARI PERTAMA ANNIE
Ya ampun… di awal kelas sekolah hutan COP Borneo, Kalimantan Timur, satu orang peserta telah membuat kericuhan. Annie, si pendatang baru menatap Happi dengan galaknya. Tak hanya Happi, Annie pun menunjukkan sikap tidak ramahnya pada Owi. Bahkan Owi sempat mendapatkan satu pukulan dari Annie dalam perjalanan menuju sekolah hutan.

Tapi sesampainya di sekolah hutan, situasi menjadi berbalik 180 derajat. Annie yang selalu ingin menantang Happi dan Owi tak bisa berbuat banyak. Happi selalu berusaha menggigit dan mengejar Annie, kemana pun Annie pergi. Owi pun tak mau kalah. Hari pertama sekolah menjadi semakin sulit buat Annie.

Sekolah hutan telah berlangsung setengah hari. Animal keeper sibuk terus menerus memisahkan perkelahian Annie dan Happi. Annie pun terlihat sangat capek dan ingin menyerah. Namun Happi terus mendekati Annie dan mengajak berkelahi. Mungkin ini adalah ucapan selamat datang untuk Annie dari Happi. (WET)

JONI, RAMBO DARI COP BORNEO

Ada 3 animal keeper yang sudah cukup lama bergabung dengan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Salah satunya bernama Joni. Dia tumbuh dan besar di kampung Merasa yang tak jauh dari lokasi berdirinya COP Borneo.

Sejak November 2015, Joni pun sekarang sudah mahir menggunakan tulup, senapan bius dan menagani orangutan. Joni juga jago membawa ketinting dalam jalur sungai yang berat sekalipun. Kini tanggung jawab perawatan orangutan dan logistik pun dipegangnya. Selain itu, Joni juga punya andil dalam pembangunan kandang karantina untuk orangutan serta renovasi titian.

Saat pemindahan orangutan, translokasi dan penyelamatan orangutan, Joni selalu di garis depan bersama tim medis COP Borneo. Dialah, eksekutor handal pembiusan yang selalu dipercaya tim medis. Joni pun mendapat julukan, Joni Rambo, seperti di film Hollywood yang heroik dengan senjata apinya. (WET)

SELAMAT DATANG DI SEKOLAH HUTAN, ANNIE

Dua bulan sudah Annie tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. “Perilaku Annie selama dua bulan itu sempat membuat kami yakin, Annie akan langsung memanjat pohon lalu menghilang di dedaunan. Tak hanya itu, kami juga memperkirakan, kami akan kesulitan mengajak Annie kembali ke kandang.” ujar Reza Kurniawan, antropologis primata COP.

Namun apa yang telah kami prediksi, meleset. Annie terlihat bingung di lokasi sekolah hutan. Dia hanya berjalan-jalan di sekitar animal keeper dan memanjat tidak lebih tinggi dari 3 meter. Iya, ini adalah hari pertamanya bebas dari kandang.

Annie adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di desa Merapun, Kalimantan Timur. Tiga tahun masa pemeliharaan tersebut membuat prilakunya menjadi jinak. Terlebih lagi di usianya yang masih bayi, saat itu sekitar 1 tahun. Usia bayi orangutan yang sedang berada dalam pengawasan ketat induknya. Anak orangutan akan terus menerus melekat pada induknya hingga berusia 6 tahun. Setelah itu, induk akan mulai menyapih anaknya agar bisa hidup sendiri. Orangutan pada dasarnya adalah mahkluk soliter.

Hari pertama Annie akan menjadi catatan tersendiri untuk kami. Kami berharap, para pendukung COP juga mengikuti perkembangan Annie selama di COP Borneo dan memberikan dukungannya lewat Tunggu rapot tiga bulanannya di bulan Agustus ya.

ORANGUTAN DI KEBUN BINATANG BANDUNG

Orangutan jantan ini terlihat duduk-duduk di antara rerumputan. Kandang tanpa jeruji adalah kandang modern yang direkomendasikan untuk lembaga konservasi umum atau sering disebut juga enclosure. Secara umum, kondisi enclosure Kebun Binatang Bandung ini cukup baik. Ada satu tempat berteduh berbentuk gazebo yang seharusnya bisa lebih berbentuk rumah pohon yang bisa memaksa orangutan memanjat agar bisa melatih otot-otot tangannya.

Luas enclosure yang diperkirakan sekitar 15×15 meter dilengkapi dengan 2 buah kandang jebak cukup bisa mengatasi orangutan saat enclosure harus dibersihkan secara berkala. Di dalam kandang jebak sendiri terlihat enrichment untuk mengatasi kebosanan saat berada di kandang jebak.

Papan informasi juga cukup komunikatif. Tak lupa juga himbauan untuk tidak memberi makanan maupun minuman. “Ini menuntut para pengunjung untuk lebih disiplin mematuhi peraturan yang ada.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP. “Apalagi ini akan memasuki musim liburan yang biasanya akan terjadi peningkatan jumlah pengunjung dengan latar belakang yang berbagai macam.”.

Sayang air yang seharusnya mengelilingi enclosure terlihat kering. Kolam keliling itu seharusnya bisa menjadi jarak untuk orangutan dan pengunjung selain tembok. Sehingga jika ada pengunjung nakal yang melemparkan sesuatu ke orangutan tidak bisa langsung sampai pada orangutannya. Air itu juga bisa dimanfaatkan orangutan sebagai air minumnya saat dia kehausan.

SATWA SITAAN PEDAGANG ILEGAL KEMBALI LIAR DI HABITATNYA

Usaha merehabilitasi satwa liar dari perdagangan tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Satwa hasil sitaan dari operasi gabungan Kepolisian dan Centre for Orangutan Protection bersama organisasi lainnya pada tahun 2013 baru bisa dikembalikan ke alam di tahun 2018 ini. “Seperti kelima ekor musang pandan (Paradoxurus hermaphroditus) yang dititipkan dan direhabilitasi di Wildlife Rescue Centre Jogja, sejak 18 September 2013 ini.”, jelas Daniek Hendarto, manajer program eks situ COP.

Tak hanya sekedar merehabilitasi, pencarian lokasi pelepasliaran juga menjadi permasalahan tersendiri. “Jaringan harus cukup kuat agar proses bisa berjalan dengan cepat. Untuk itu, tak jarang kami juga harus menyertakan bukti seperti foto bahwa lokasi pelepasliaran merupakan habitat satwa tersebut.”, tambah Daniek Hendarto.

19 Mei 2018 ini ada delapan satwa liar dari operasi penyitaan perdagangan ilegal satwa liar yaitu 5 musang pandan, 2 kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dan satu landak jawa (Hystrix Javanica). Kedelapan satwa sudah menunjukkan kelayakan untuk dikembalikan ke habitatnya baik dari sisi kesehatan dan perilakunya. “Semua satwanya sehat, tidak ada penyakit dan perilakunya layak untuk dikembalikan lagi ke alam.”, kata drh. Irhamna Putri Rahmawati., M.Sc.

WRC Jogja yang berada di bawah Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta berlokasi di Paigan, Pengasih, Kulon Progo saat ini masih merawat 170-an satwa liar yang dilindungi. Semuanya merupakan hasil operasi penyitaan BKSDA maupun Kepolisian dibantu COP, Animals Indonesia dan lembaga swadaya masyarakat lainnya. Perdagangan satwa liar memang masih cukup tinggi, ini disebabkan kesadaran masyarakat memelihara dan memiliki satwa liar sebagai hewan pelihara sangat rendah. Centre for Orangutan Protection berharap besar pada peran Orangufriends (kelompok pendukung COP) yang selama ini menjalankan edukasi dan penyadartahuan ke sekolah maupun masyarakat. “Satwa liar… ya di alam rumahnya.”.(NIK)

BAGAIMANA KABAR AMBON?

Ambon, orangutan jantan dewasa yang sudah puluhan tahun hidup di balik jeruji telah berhasil bertahan hidup selama satu bulan di pulau orangutan. Pulau, dimana Ambon hidup tanpa pembatas buatan. Sungai beraliran deraslah yang menjadi pagar alami untuknya sebagai batas interaksi orangutan dengan manusia.

Ambon juga telah berhasil memanjat pohon, yang sebelumnya sempat membuat tim kawatir akan kemampuan memanjatnya, mengingat sejarah Ambon yang tak pernah hidup di luar kandang. Di luar perkiraan, hanya dalam hitungan 3 jam, Ambon sudah berada di atas pohon yang dipilihnya.

Sebulan berlalu. Tim pemantau tak melihat Ambon turun untuk makan. Tim memanggil-manggil Ambon, namun Ambon tak kunjung turun untuk makan. Pakan alami di pulau tidak cukup untuk menompang orangutan, itu sebabnya, tim COP Borneo setiap pagi dan sore selalu meletakkan makanan orangutan sembari mengecek keberadaan orangutan di pulau.

Tiga hari berlalu, tim mulai menyusun rencana untuk menarik Ambon ke kandang. Pertengahan April 2018, Ambon kembali ke kandang karantina. Tim medis mengamati Ambon lebih detil lagi. Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi yang merupakan ahli antropologi primata juga tak lepas dalam mengamati Ambon.

“Akhirnya Ambon mau makan.”. Ambon terlihat lebih nyaman berada di dalam kandangnya. Memang tidak mudah merubah sebuah kebiasaan. Apalagi sudah terbiasa selama puluhan tahun. Tim hanya bisa merencanakan kembali, kapan Ambon bisa kembali ke pulau. Bagaimana pun, Ambon berhak hidup tanpa jeruji besi.

HERCULES TERLIHAT RENOVASI SARANG LAMA

Sebulan sudah Hercules menghuni pulau orangutan sendirian. Tanpa orangutan Ambon yang terlihat lebih besar dan dominan, Hercules menjadi lebih leluasa menjelajah pulau. Berita menggembirakan dari perkembangan Hercules. Hercules terlihat memperbaiki sarang lama bekas orangutan Novi.

“Tak lama setelah Hercules sibuk di sarang lama bekas Novi, hari menjadi gelap. Dan Hercules masih tetap disitu dan tak bergerak. Kemungkinan dia benar-benar tidur di sarang ini.”, ujar Inoy saat mengamati pulau dari camp pantau.

“Ini adalah berita yang menggembirakan. Permulaan yang baik untuk perkembangan Hercules. Harapan itu tak pernah putus, kami di COP Borneo pun menjadi lebih bersemangat lagi. Bahwa tak ada yang tak mungkin!”, tegas Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi COP Borneo.

Hercules adalah orangutan jantan dari kebun binatang, tepatnya Kebun Raya Unmul Samarinda/KRUS. Tahun 2010 yang lalu, Hercules adalah orangutan yang sangat nakal hingga berulang kali keluar dari kandang tanpa jeruji besi/enclosure untuk makan dari warung. Tubuhnya yang besar sempat membuat takut animal keeper yang lain. Namun perkembangan Hercules seperti berhenti, orangutan yang seumuran dengannya berkembang lebih pesat lagi seiring dengan kemampuan bertahan di alam mereka. Seperti membuat sarang, memanjat, mencari pakan alami bahkan bertahan hidup dengan berkelahi dengan orangutan lainnya. Orangutan lainnya, yang sebelumnya menghuni pulau orangutan bersama Hercules sedang menjalani masa karantina untuk pelepasliaran kembali ke habitatnya. Sementara Hercules ditinggal karena kemampuannya bertahan hidup dianggap tidak memenuhi prasyaratan pelepasliaran tersebut. “Kini, kami bisa kembali berharap, Hercules pun punya harapan untuk kembali ke habitatnya.”, ujar Inoy dengan semangat. (NOY)

COP BORNEO NEED HANDY TALKIE

Smart Phone sudah menjamur menjadi kebutuhan primer yang akan selalu diutamakan untuk bepergian kemana saja. Kantor, warung, pantai ataupun ke tempat pacar. Bahkan bagi beberapa orang, lebih memilih ketinggalan dompetnya dibandingkan ketinggalan smart phone miliknya. Kebutuhan fungsi dari smart phone sendiri sudah dirasa sangat penting dalam menjaga komunikasi di sektor pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Hampir seluruh hal bisa dilakukan dengan smart phone seperti SMS, berbicara, nonton TV, edit foto maupun video bahkan untuk mengerjakan laporan. Komunikasi menjadi hal yang sangt penting bagi kehidupan sekarang. Ini semua tergantung dengan ketersediaan sinyal telepon maupun internet. Lantas bagaimana dengan nasib orang-orang yang tinggal di hutan?

Tidak adanya sinyal membuat fungsi smart phone berkurang lebih dari 50%. Smart phone hanya berfungsi menjadi kamera, mendengarkan musik, main game dan mengetik sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup di hutan dan tanpa sinyal, konflik antar manusia sangatlah rentan terjadi, hal ini disebabkan seringnya mis komunikasi diantara mereka. Kami hanya bisa berkomunikasi jarak dekat. Jika berbeda lokasi, hanya bisa menyampaikan pesan lewat teman yang akan bertemu dengan orang tersebut. “Untuk langsung berteriak? Wah… mustahil karena jarak yang lumayan jauh.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo. “Ini cukup menghambat pekerjaan, karena harus saling tunggu menunggu.”, tambahnya lagi.

Dalam maktu dekat ini, COP Borneo akan melepasliarkan 2 individu orangutan terbaiknya. Akan ada 2 titik lokasi rilis dengan 2 tim monitoring. Handy Talkie akan menjadi satu hal vital untuk melancarkan kegiatan ini. Bantu kami yuk lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

Page 2 of 1612345...10...Last »