COP Borneo

SHIKHANDI [SRIKANDI] TWIN IN COP BORNEO

Shikhandi [Srikandi] Twin or Bridegroom Twin is the nickname given to Owi and Bonti. Why is that? For they are inseparable, like a pair of real soul mates. Owi is a Male Orangutan while Bonti is a Female Orangutan. I can not deny the chemistry between them is very strong indeed. How possible, almost in every activity, both of them always hugging or never distance away from each other.
 
Where there is Owi, there is Bonti. Although their two personalities are far different, the brave Owi and the leader. While Bonti is greedy and nosy. If we tease Bonti, Owi always defends and position himself as a protector of Bonti. On the contrary if they were separated, Bonti always cried sadly. Seeing their activities and their behavior at Forest School always made me smile, two lively, affectionate and indivisible orangutans.  
 
Even at noon, Owi felt unwell and had to return to the cage, without being given a signal, Bonti immediately follow and carried by Amir, animal keeper to return to the enclosure. The emotional closeness between one orangutan and another is just like any other living thing and we are human. In Forest School, young orangutans who still need to study are given space to hone their natural talents, such as climbing, hanging, making nest and more. This will be useful to them when they are released back into the forest when they are ready. Let’s go to Forest School again!! (Dhea_Orangufriends)

KEMBAR SRIKANDI DI COP BORNEO
Kembar Srikandi atau kembar pengantin adalah julukan untuk Owi dan Bonti. Mengapa demikian? Sebab mereka tak terpisahkan, bagaikan sepasang belahan jiwa sejati. Owi adalah anak orangutan jantan sedangkan Bonti adalah anak orangutan betina. Saya tidak bisa menafikan chemistry di antara mereka memang sangat kuat. Bagaimana tidak, hampir di setiap kegiatan, mereka berdua selalu berpelukan atau tidak pernah berjarak jauh satu dengan lainnya.

Dimana ada Owi, di situ ada Bonti. Walaupun dua kepribadian mereka jauh berbeda, Owi yang pemberani dan pemimpin. Sedangkan Bonti yang rakus dan usil. Jika kita menggoda Bonti, Owi selalu bersikap membela dan memposisikan diri sebagai pelindung Bonti. Sebaliknya jika mereka dipisahkan, Bonti selalu menangis sedih. Melihat aktivitas dan polah mereka berdua di sekolah selalu membuat saya tersenyum, dua anak orangutan yang lincah, saling menyayangi dan tak terpisahkan.

Bahkan saat tengah hari, Owi merasa tidak enak badan dan harus kembali ke kandang, tanpa diberi aba-aba, Bonti langsung mengikut digendong oleh Amir, animal keeper untuk kembali ke kandang. Kedekatan emosional antara satu orangutan dan lainnya sama seperti makhluk hidup lainnya dan kita manusia. Di sekolah hutan, anak orangutan muda yang masih perlu belajar di beri ruang untuk mengasah bakat alamiahnya, seperti memanjat, bergelantungan, membuat sarang dan lainnya. Ini akan berguna bagi mereka saat dilepasliarkan kembali ke hutan saat mereka sudah siap. Ayo sekolah hutan lagi! (A.Gasani_Orangufriends)

CUTE LITTLE POPI

Today is the sunny clear day and a great time for forest school. All the forest school students are looking eager to leave, not to mention… Popi. After the cage is cleaned and breakfast, time to play and study in the jungle.
 
Popi is a female orangutans aged 9 months. Popi still lives in a cage at the Borneo Cop Clinic. Popi’s adorable and humorous behavior plus her spoiled attitude often make her reluctantly distant from me and other keepers. Popi preferred to be picked up and attached to us. It takes extra patience to persuade your little Popi to learn to climb trees. Every time we put her on a tree trunk, she just wants to climb a tree if we accompany her. Even if she climbs it, its only a few meters high and asked to climb down to be picked up. If we left her, Popi cried like a child feared to be left behind by her parents at school. Instead climbing on a tree, Popi preferred to be picked up and nibbled at the tree bark surrounding the forest school.
 
Although Popi still small, I found out that orangutan strength pretty amazing. The grip and bite are strong enough, beyond the bite of a small child. Like her other friends, Popi also nosy and like to bite us. If she upset, Popi is sulking and whining. Another case with her friends, if they’re upset they will bite or urinate while showing mocking facial expression. While asleep from exhaustion, Popi curled up and snored in the cot. Aftre the day before noon, Popi began to get excited and willing to walk on the ground, climbed into a tree and played with Happi.
 
Today, Popi looks very much enjoyed the forest school. Her innocent voice and expression kept us happy. Next time, dare to ride a tree and be more independent, OK Popi !!! (Dhea_Orangufriends)

POPI, SI KECIL YANG LUCU
Hari ini adalah hari yang cerah dan waktu yang tepat untuk sekolah hutan. Semua siswa sekolah hutan pun terlihat bersemangat untuk berangkat, tak terkecuali… Popi. Setelah kandang dibersihkan dan makan pagi, waktunya bermain dan belajar di hutan…

Popi adalah orangutan balita berjenis kelamin betina yang berusia 9 bulan. Popi masih tinggal di dalam kandang di klinik COP Borneo. Tingkah laku Popi yang menggemaskan dan lucu ditambah sikapnya yang manja sering membuatnya enggan jauh dari saya maupun keeper yang lain. Popi lebih suka digendong dan lekat dengan kami. Perlu kesabaran ekstra untuk membujuk si kecil Popi agar mau belajar memanjat pohon. Setiap kali kami menaruhnya di batang pohon, ia hanya mau memanjat pohon jika kita temani. Kalaupun dia naik, jarak panjatnya hanya beberapa meter saja dan langsung segera turun minta digendong. Jika ditinggal, Popi menangis layaknya anak kecil ketakutan ditinggal orangtuannya sekolah. Daripada naik pohon, Popi lebih senang digendong dan menggigiti kulit pohon di sekitarnya saat sekolah hutan.

Walaupun Popi masih kecil, ternyata saya baru mengerti bahwa kekuatan orangutan itu luar biasa. Cengkraman dan gigitannya cukup kuat, melebihi gigitan anak kecil. Seperti teman-temannya yang lain, Popi pun suka usil dan menggigit kami. Jika sedang kesal, Popi bisa ngambek dan merengek. Lain halnya dengan teman-temannya, jika sedang kesal mereka menggigit ataupun mengencingi sambari menunjukkan ekspresi wajah mengejek. Sewaktu tertidur karena kecapean, Popi meringkuk dan mendengkur di ranjang gantung. Setelah hari menjelang cukup siang, Popi mulai bersemangat dan mau berjalan di tanah, naik ke pohon dan bermain dengan Happi.

Hari ini, Popi terlihat sangat menikmati sekolah hutan. Suara dan ekspresinya yang polos tak henti-hentinya membuat kami pun bahagia. Lain kali, lebih berani naik pohon dan lebih mandiri ya Popi!!! (A.Gasani_Orangufriends)

PERPETUATE DEBBIE IN A PHOTO FRAME 

Debbie is a ferocious female orangutan. Oops… ferocious? How can we not call her ferocious. All animal keepers who take care of enclosure 1 which is a quarantine cage had been thee victim. Not only human, the commodity barely missed by her.
    
Who know how many rolls of hoses are destroyed by Debbie. When the animal keeper sprayed water to clean the enclosure, in the blink of an eye, Debbie grabbed it and picked it up. Do not expect the hoses to be back in one piece.
 
Debbie is also very brave with the animal keeper. Clothes of the animal keeper been vandalized. Getting the grip of her hand was a terror while on duty at the enclosure 1. “Certainly, don’t be off guard when on duty in this quarantine cage,” said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo orangutan rehabilitation center.
 
Reza himself had been injured on his back. “Perhaps Debbie wants to say hello to me. But that power, is very great.” Recalls  Reza.
 
Well, this is the biggest challenge to perpetuate Debbie with no visible bars as the foreground. A.k.a, Debbie’s face should be clearly visible. The condition of this cage is in the middle of the forest. The canopy of the trees looks fused, so the sunlight is difficult to break through. Borneo orangutan’s own hair is also darker than it’s relatives in Sumatra. Plus, this Debbie ferocity, make knees give away.
 
After pacing to find the right time and opportunity, finally… yes!” successfully photogaphing Debbie !!!” Wetty Rupiana smiling happy. (Dhea_Orangufriends)   

MENGABADIKAN DEBBIE DALAM SEBUAH FRAME FOTO
Debbie adalah orangutan betina yang ganas. Ups… ganas? Bagaimana tidak kami sebut ganas. Semua animal keeper yang mengurus kandang 1 yang merupakan kandang karantina pernah menjadi korbannya. Tak hanya manusia, barang-barang pun tak luput darinya.

Entah sudah berapa gulung selang yang hancur oleh Debbie. Saat animal keeper menyemprotkan air untuk membersihkan kandang, dalam sekejap mata, Debbie meraihnya dan mengambilnya. Jangan harap selang bisa kembali dalam keadaan utuh.

Debbie juga sangat berani dengan animal keeper. Baju yang dipakai animal keeper pun pernah menjadi korbannya. Mendapatkan cengkraman tangannya adalah teror tersendiri saat bertugas di kandang 1. “Yang pasti, jangan lengah sedikit pun saat bertugas di kandang karantina ini.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Reza sendiri pernah terluka di punggungnya. “Mungkin maksudnya Debbie ingin menyapaku. Tapi apa daya, kekuatannya besar sekali.”, kenang Reza.

Nah, ini adalah tantangan terbesar untuk mengabadikan Debbie tanpa terlihat jeruji besi sebagai latar depan. Alias, wajah Debbie harus terlihat jelas. Kondisi kandang 1 ini berada di tengah hutan. Kanopi-kanopi pohon terlihat menyatu, sehingga cahaya matahari sulit menerobos kandang. Rambut orangutan Kalimantan sendiri juga lebih gelap dibanding kerabatnya yang di Sumatera. Ditambah lagi, keganasan Debbie ini, bikin lutut bergetar.

Setelah mondar-mandir mencari waktu dan kesempatan yang pas, akhirnya… yes! “Berhasil memotret Debbie!!!”, senyum Wety Rupiana senang. (WET)

DEBBIE, ORANGUTAN TERTUA DI COP BORNEO

Sejak pertama kali datang di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Debbie berada di kandang 1 atau kandang karantina berdampingan dengan orangutan Ambon dan Memo. Debbie sekarang berusia 26 tahun. Dia adalah orang tertua di COP Borneo. Debbie adalah orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan ke habitat aslinya, karena usianya yang sudah terlalu tua dan perilakunya yang sudah tidak liar lagi. Hal tersebut disebabkan sudah terlalu lama Debbie hidup bersama manusia.

Selain menjadi orangutan paling tua, Debbie adalah orangutan yang paling ganas dan galak di COP Borneo. Beberapa keeper selalu menjadi sasaran keganasan Debbie. namun, karena para keeper sudah sangat paham sifatnya Debbie, mereka bisa menghindari hal-hal buruk yang akan dilakukan Debbie.

Sudah dua tahun ini, Debbie menghuni kandang karantina ini. Debbie pun memiliki kebiasaan menyimpang yang bukan prilaku alami dari orangutan. Debbie sering meludah dan bertepuk tangan. “Prihatin sekali saat harus menatap mata Debbie. Kandang karantina seperti penjara untuknya.”, batin Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Solusi terindah untuk Debbie masih terus diusahakan. “Andai ada ‘Sanctuary Island’ untuknya. Debbie akan merasa hidup di alam bebas. Debbie akan menjelajah sesuai luas pulau tanpa ada jeruji atau dinding yang membatasi. Pagar alami bernama sungai akan menjadi batas jelajahnya.”, ujar Reza Kurniawan penuh harapan. (WET)

ANOTHER MONDAY MORNING

I am the leader of the COP baby orangutans. Bonti is on my left, and Happi is the one that holding the pineapple. This morning we’re already at the forest school, COP Borneo rehabilitation center. I must keep the spirit for the classes training, so Bonti and Happi will keep training too. They both always follow my behaviour. If I lay down and resting on the forest floor, they would do it too. If I climb the trees, they would follow too. It’s me.. Owi, the one that dreaming of ruling the remaining forest of Kalimantan.

Senin Pagi lagi…

Aku adalah ketua para bayi orangutan di COP Borneo. Bonti yang di sisi kiriku dan Happi yang sedang memegang nenas. Pagi ini kami sudah berada di sekolah hutan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Aku harus tetap bersemangat berlatih, agar Bonti dan Happi ikut berlatih juga. Mereka berdua selalu mengikuti seluruh tingkahku. Jika aku di lantai hutan bermalas-malasan, mereka pun akan bermalas-malasan juga. Jika aku memanjat, mereka pun akan memanjat. Aku… adalah Owi, yang bermimpi akan memimpin seluruh isi hutan yang tersisa di Kalimantan.

BAGAIMANA BNPB MEMBANTU ORANGUTAN?

Tak sampai seminggu surat permintaan bantuan selang pemadam kebakaran yang sudah tidak dipakai atau rusak kepada BNPB kabupaten Berau mendapat respon positif. BNPB bersedia memberikan bantuan selang bekas kepada pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur untuk digunakan kembali sebagai hammock atau ayunan/tempat tidur gantung bagi orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi.

Untuk apa sih hammock itu? Orangutan adalah satwa yang hidup dan beraktivitas di atas pohon atau sering disebut juga satwa aboreal. Bantuan selang yang akan dianyam kembali akan dibentuk menyerupai ayunan yang cukup kuat menompang berat tubuh orangutan. Ini akan membuat nyaman orangutan berada di atas, tidak di besi kandang ataupun lantai.

“Selama ini kami tidak mengira selang bekas ini bisa digunakan untuk mendukung konservasi orangutan.”, ucap staf BNPB. Kemaren, Tim APE Defender pun dengan bersemangat menuju kantor dinas pemadam kebakaran kabupaten Berau untuk mengambil donasi selang bekas ini. “Syukurlah, akhirnya Ambon (orangutan) dan orangutan lainnya akan mendapatkan tempat tidur gantung yang baru lagi.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. 5 gulungan selang ini merupakan awal bantuan Damkar Berau. Selanjutnya Damkar akan mengumpulkan selang-selang bekas lainnya dan menyumbangkannya ke COP Borneo demi membantu konservasi orangutan. (WET)

SAAT SELEBRITI DATANG KE POS PANTAU COP BORNEO

Bagi kamu yang suka jalan-jalan dan penggemar acara televisi My Trip My Adventure pasti tahu presenter asik yang mengajak kamu bereksplorasi keindahan alam Indonesia. Pria ganteng ini tak lain adalah Hamish Daud.

Kali ini, Hamish Daud dalam rangkaian acara #26authenticplaceinindonesia untuk stasiun televisi MNC TV. Dengan serombongan kru televisi dan peralatan lengkap, acara ini meliput kegiatan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di pulau pra-rilis. Suatu pulau yang hanya dihuni orangutan yang akan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Ngobrol sekilas tentang pusat rehabilitasi pun mengalir sampai saatnya memberi pakan orangutan (feeding time). Perahu-perahu mulai menyusuri sungai, berkeliling pulau dan berhenti di beberapa tempat untuk meletakkan pakan orangutan, tentunya petugas pos pantau COP Borneo yang melakukannya. “Tetap berada di perahu. Jaga jarak dengan bibir pulau!”, begitu aba-aba dari koordinator pos pantau.

Rehabilitasi adalah usaha yang tidak sebentar. Orangutan-orangutan tersebut harus menjalani banyak tahapan, hingga akhirnya bisa sampai di pulau pra-rilis ini. Setiap tahapan juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Centre for Orangutan Protection adalah organisasi non profit yang bekerja lebih sepuluh tahun ini. Menyelamatkan orangutan dan hutan yang merupakan habitat orangutan adalah langkah awal COP. Berhadapan langsung dengan permasalahan terbesar bayi-bayi orangutan terus berdatangan ke pusat rehabilitasi adalah hilangnya hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi perkebunan kelapa sawit yang memicu konflik satwa dengan manusia. Bagaimana mungkin orangutan hidup tanpa hutan! (WET)

THANK YOU OVAID FOR SUPPORTING COP BORNEO CLINIC

The arrival of Nigel DVM from OVAID surprised COP Borneo Clinic. The clinic became fully loaded with medicine and medical equipment that was brought by Nigel from England. After drh. Rian Winardi listed all of the things that has been brought, Reza Kurniawan then listed what needed to equip the clinic more.Then this three guys went to the city to buy a glass cabinet to keep all the medical equipment.

“Learning is for a lifetime. Medical discussion is a really an interesting topic to talk about.”, Rian said passionately. “To harmonize between the theories and the reality in the field is one hard thing. That is where we have to be creative and innovative.”, said Reza the manager of COP Borneo Rehabilitation center.

The first meeting between drh. Rian and Nigel DVM happened during the COP School batch 3. Nigel was the lecturer for medical lesson, this give a deep impression for Rian. “This is a reunion between a teacher and his student, finally after 4 years.”, Rian said.

Thank you OVAID for supporting the medical needs of COP for the last 3 years. The medical equipments and the medicine has landed safely in COP Borneo, hoping this cooperation is going to continues and lasts. Once again Thank you OVAID.

Kedatangan drh. Nigel dari OVAID (Orangutan Veterinary Aid) membuat kaget klinik COP Borneo. Klinik menjadi penuh dengan peralatan kedokteran dan obat-obatan yang dibawa Nigel dari Inggris. Setelah drh. Rian Winardi mendata, Reza Kurniawan pun mencatat apa saja yang harus dibeli untuk merapikan klinik. Akhirnya, ketiga pria ini pun berangkat ke kota untuk membeli lemari kaca dan kotak penyimpanan untuk merapikan peralatan medis ini.

“Belajar itu sepanjang hidup. Ilmu terus berkembang. Diskusi medis pun menjadi topik yang sangat menarik.”, semangat drh Rian. “Menyelaraskan teori dan kenyataan di lapangan, itulah kesulitannya. Kita harus kreatif dan inovatif.”, kata Reza, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Pertemuan drh Rian dengan drh. Nigel adalah saat COP School Batch 3 berlangsung. Nigel yang saat itu memberi materi medis, begitu memberi kesan mendalam pada Rian. “Ini adalah pertemuan kembali antara guru dan murid setelah 4 tahun yang lalu.”, ujar Rian.

Terimakasih OVAID yang telah mendukung medis Centre for Orangutan Protection selama tiga tahun terakhir ini. Terimakasih para pendukung OVAID… peralatan medis sudah sampai di COP Borneo. Semoga kerjasama ini akan terus berlanjut.

SHANTI, THE QUEEN OF COP BORNEO’S KITCHEN

Shanti, the tiny-figured and pretty lady, is the one that ensures the staffs of COP Borneo have got enough ‘ammo’. The ammo was not for guns, but breakfast, lunch and dinner for the staffs. Shanti cooks the meals until it is ready to prepared. “I wake up the earliest, and start cooking before the staffs’s activity begin. They have to have breakfast first before starting their day.” stated Shanti, COP household staff.

Shanti is still young, she was born on 1996 in Bulungan, North Kalimantan. Both of her parents are Dayak people. Since June 2016, Shanti joined COP Borneo. Ensuring all the gears are clean, making shopping list, taking care of the meals and when to shop are her responsibility. The distance between COP to nearest market is 1.5 hours away, so Shanti has to be careful on making the shopping list.

When she was asked what is the staff’s favorite meal, she said while chuckling, “Mendoan. The guys love Mendoan. Mendoan is fried tempe with some flour and seasoning, but it’s not deep fried.”

And what are the pros and cons of working for COP? “The pros are having a lot of friends that’s like family, and working here is such a distinguished experience to me. The cons.. When the rain falls and we run out of stocks.”. But don’t worry.. “I will get some vegetables from my parent’s field when we are out of stocks and it’s not time to go to the market yet.” said Shanti with a smile. (Zahra_Orangufriends)

SHANTI, PENGUASA DAPUR COP BORNEO
Shanti dengan badannya yang kecil, cantik dan cekatan memastikan “amunisi” untuk para staf COP Borneo. Amunisi yang dimaksud, bukanlah untuk senapan, namun merupakan makanan pagi, siang dan malam yang akan dikonsumsi para staf. Shanti meracik bumbu, memasak hingga menjadi hidangan. “Saya bangun paling awal dan memulai memasak ketika aktivitas teman-teman belum di mulai. Teman-teman harus sarapan dulu sebelum beraktivitas.”, ujar Shanti bagian rumah tangga COP Borneo.

Usia Shanti tergolong muda, dia kelahiran 1996 di Bulungan, Kalimantan Utara. Kedua orangtuanya berasal dari suku dayak. Sejak Juni 2016, Shanti bergabung di COP Borneo. Memastikan perlengkapan COP Borneo bersih, menyusun daftar belanjaan, mengatur menu makanan dan kapan harus belanja bahan kebutuhan pokok harus dijalaninya. Jarak pasar dengan COP Borneo sekitar 1,5 jam sekali tempuh, maka Shanti harus teliti dalam perhitungan dan penentuan daftar belanja.

Ketika ditanya masakan apa yang menjadi favorit teman-teman COP Borneo, Shanti menjawab sambil tertawa, “Mendoan. Teman-teman sangat suka mendoan. Mendoan adalah tempe yang digoreng dengan larutan tepung bumbu dan digoreng tidak kering.”.

Mau tahu suka duka bekerja di COP Borneo versi Shanti? “Sukanya kerja di sini, saya punya banyak saudara dan pengalaman yang sangat berbeda. Dukanya… jika hujan dan bahan makanan habis.”. Tapi jangan kawatir, “Shanti akan mengambilkan sayuran dari ladang ibu dan bapaknya ketika bahan habis dan belum waktunya turun ke kota untuk belanja.”, ujar Shanti dengan senyum lepas. (WET)

UPDATE: AMBON TODAY

Ambon adalah orangutan tertua di COP Borneo. Usianya berkisar 25-27 tahun. Ambon berada di COP Borneo sejak 11 April 2015. Jantan dewasa ini adalah pribadi yang baik dan tenang dengan siapa pun.”Ambon tidak agresif dan menyerang manakala ada aktivitas animal keeper di area kandangnya.”, ujar Danel, koordinator Animal Keeper.

Berbeda dengan orangutan dewasa lainnya yang berada dalam satu blok yaitu Debbie dan Memo. Ambon yang dikenal animal keeper memang berbeda. Tenang, kalem dan bukan tipikal perusak yang jahil.

Pola makannya juga sangat santai dan tidak tergesa-gesa seperti Memo maupun Debbie. “Ambon sangat suka makan kelapa da buah nangka.”, tambah Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Peluang Ambon untuk dikembalikan ke habitatnya cukup berat. “Namun, semoga harapan kedua dengan cara membuat enclosure untuk masa tuanya dapat terwujud.”, harapan Reza Kurniawan.

Umur yang tua dan tingkat keliaran yang kurang memadai membuat Ambon harus tinggal di COP Borneo. Danel dan animal keeper yang lain berusaha membuat enrichment yang bisa menarik dan menghabiskan waktu cukup lama, agar Ambon asik dengan enrichment tersebut. Enrichment ataupun pengayaan sangat diperlukan. Apakah kamu punya ide untuk membuat enrihment untuk Ambon?

Bantu kami dengan membeli COP_merchandise di instagramnya COP. Atau kamu bisa langsung berdonasi lewat http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Terimakasih.

Page 2 of 712345...Last »