RELEASING NOVI AND LECI IN THIS NOVEMBER

There was no dramatic moment when the former rehab orangutans of COP Borneo were released. No orangutan hugged his nurse to say goodbye. Nor does anyone come down to give a flower as orangutans do to conservation experts. Everything was fast and spontaneously. When we release orangutans from the cage, there are only two possibilities: Jump and climb trees as high as possible and then disappear or attack people.

November 3rd is a thrilling day for the Center for Orangutan Protection family. This was our second orangutan release after a year earlier. In 2017, we released orangutan from the zoo, named Oki. Oki managed to make an achievement as an orangutan who used to live behind bars and could go back wild. Now, Novi and Leci also get their chance to return to their habitat.

Novi, previously kept under a house with chains around his neck. In April 2015, Novi was rescued from Kongbeng, East Kalimantan. His body was so small because of lack of nutrition, as he did not eat proper food for orangutans. At that time, Novi made friends with dogs.

While Leci is a wild agile orangutan who lost his mother in the middle of a field. How were Novi and Leci when their cage doors were lifted? (IND)

MELEPAS NOVI DAN LECI DI AWAL NOVEMBER
Tidak ada momen yang dramatis pada saat orangutan mantan pusat rehabilitasi COP Borneo dilepasliarkan. Tidak ada orangutan yang memeluk perawatnya untuk berpamitan. Pun tidak ada yang turun memberikan sekuntum bunga seperti yang dilakukan orangutan ke para pakar konservasi. Semuanya akan berlangsung cepat dan waspada. Orangutan yang dilepaskan dari kandang, kemungkinannya hanya dua. Langsung melompat dan memanjat pohon setinggi mungkin dan lalu menghilang atau menyerang orang – orang.

3 November menjadi hari yang mendebarkan keluarga Centre for Orangutan Protection. Walaupun ini adalah pelepasliaran orangutan kedua setelah setahun sebelumnya, orangutan mantan dari kebun binatang berhasil dilepasliarkan. Orangutan Oki namanya. Oki berhasil mengukir prestasi sebagai orangutan yang terbiasa tinggal dibalik jeruji besi dan bisa kembali liar. Kini, orangutan Novi dan Leci mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya.

Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu mengalungi lehernya hingga meninggalkan bekas akan mendapatkan kebebasannya. April 2015, Novi diselamatkan dari Kongbeng, Kalimantan Timur. Tubuhnya kecil karena kurang gizi, dia dipelihara dengan makan makanan yang bukan makanannya. Saat itu, Novi bertemankan anjing.

Sementara Leci, adalah orangutan lincah nan liar yang kehilangan induknya di tengah ladang buah. Bagaimana Novi dan Leci saat pintu kandang diangkat?

PLEASE HELP US BUYING A KETINTING MACHINE

Orangutans on the island are those who ready to be released. They are learning to live independently without human intervention. But the limitations of natural food on the island makes the team in monitoring post need to send food every morning and evening. The monitoring team is there to keep observing on the existence and development of orangutans on the pre-release island.

Routine patrols are carried out using a motorized boat or often called ketinting. Unfortunately, the ‘way back home’ boat continues to have leaks. Maybe because of the boat age and relentless use to send food and to patrol. “It’s time to buy a new one. But the team is still trying to patch it because the price of the boat is quite expensive,” said Danel, assistant logistics officer for the COP Borneo Rehabilitation Center.

Not only the boat is broken but also the boat machine. The monitoring team is not losing their minds. They were tinkering the machine. Two machines from different years, manufactured in 2015 and 2017, are transformed into one usable machine. “It’s a pleasure, the two broken machines can produce one machine that can deliver orangutan food to the pre-release island,” said Danel again.

But sadly, a month later, the machine has a problem again. This time the piston ring is replaced. If the ketinting machine really can’t be used like before, the team was forced to rent a machine to the local residents. Of course, this will inhibit our team activity. Please help the COP Borneo Rehabilitation Center to buy a new ketinting machine. Donations can be sent to https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Thank you. (IND)

BELIKAN MESIN KETINTING DONK!
Orangutan yang berada di pulau adalah orangutan yang siap dilepasliarkan. Mereka adalah orangutan-orangutan yang sedang belajar mandiri tanpa ikut campur tangan manusia. Tapi keterbatasan pakan alami yang berada di pulau, menjadwalkan tim Pos Pantau untuk mengirim makanan pada pagi dan sore hari. Ini dilakukan untuk terus mengawasi keberadaan dan perkembangan orangutan yang berada di pulau pra-rilis.

Patroli berkala dalam satu hari dilakukan dengan menggunakan perahu bermesin atau sering juga disebut ketinting. Tapi sayang, perahu ‘way back home’ terus menerus mengalami kebocoran. Mungkin karena usia dan penggunaan tanpa henti untuk kirim pakan dan patroli. “Sudah satnya beli yang baru. Tapi tim masih berusaha menambalnya, karena harga perahu yang cukup mahal.”, ujar Danel, asisten Logistik pusat rehabilitasi COP Borneo.

Tak hanya perahu/ketinting yang mengalami kerusakan. Mesin yang menggerakkan perahu pun kembali rusak. Tim pos pantau tak kehilangan akal. Utak-atik mesin dilakukan. Dua mesin dari berbeda tahun yaitu pembelian mesin 2015 dan mesin tahun 2017 disulap menjadi satu mesin yang bisa digunakan. “Senang sekali, kedua mesin rusak bisa menghasilkan satu mesin yang bisa mengantarkan pakan orangutan ke pulau pra rilis orangutan.”, ujar Danel lagi.

Tapi apa daya, sebulan kemudian, mesin pun kembali bermasalah. Kali ini ring pistonnya yang diganti. Jika mesin ketinting benar-benar tidak bisa digunakan seperti kemarin, tim terpaksa menyewa mesin ke warga. Tentu saja ini sangat menghambat aktivitas. Bantu pusat rehabilitasi COP Borneo beli mesin ketinting yang baru yuk. Donasi bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Terimakasih…

APE DEFENDER TERPAKSA MENCUKUR AMBON

Pemeriksaan kesehatan orangutan secara berkala adalah salah satu cara untuk terus memantau perkembangan orangutan di tangan medis. Pengukuran fisik seperti panjang tangan, telapak tangan, kaki, lingkar kepala, pinggang hingga jarak antara kedua mata serta besar pipi (cheekpad) khusus pada orangutan jantan dewasa pun tidak luput dari pengukuran.

September 2018, pemeriksaan kesehatan melalui x-ray dada pun dijadwalkan drh. Flora Felisitas. Orangutan Ambon, yang merupakan orangutan jantan dewasa pun menjalani pemeriksaan. “Untuk orangutan yang besar tentu saja melalui pembiusan. Mustahil mengajak mereka untuk di rontgen.”, ujar drh. Flora sambil tertawa.

Pemeriksaan ini pun akhirnya memaksa tim untuk mencukur rambut gimbalnya Ambon. Rambut-rambut Ambon tumbuh dengan sangat lebat dan terlihat banyak kotoran yang menempel. “Berbeda sekali saat Ambon berada di pulau waktu bulan Februari 2018 lalu. Rambut gimbalnya begitu indah saat itu.”, kata Jhonny sambil menghela. “Sayang Ambon belum siap untuk hidup lebih mandiri lagi. Ambon hidup terlalu lama dibalik jeruji.”, tambahnya lagi.

Orangutan Ambon adalah orangutan yang hampir dua puluh tahun berada di dalam kandang. Belasan tahun hidup di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur membuatnya merasa lebih nyaman berada di dalam kandang. Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, masih terus mencari formula yang tepat untuk memperkenalkan Ambon pada prilaku dan habitatnya.

THE ‘WAY BACK HOME’ BOAT IS BADLY BROKEN

The APE Defender Team has tried to survive with a leaky boat for the past 4 months. Various efforts have been made. We were patching it with adhesive glue and cloth, but the leakage appears again at the other parts.

The boat is almost two years old now.  With high usage around the orangutan island, we strongly need a new boat soon. “At midnight, we also have to check the island. It is exhausting to frequently check the water that enters the boat. If we did not remove the water from the boat, the boat will sink with the engine” said Daniel, who is in charge of all vehicles at the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

The ‘Way Back Home’ boat is the operational vehicle for the COP Borneo orangutan island. The boat is purchased from the benefits of Sound For Orangutan music charity or often called SFO. It is the greatest gift from the hard work of Orangufriends, COP support group. This music charity will also be held on Monday, October 29, 2018 in Yogyakarta. (IND)

PERAHU ‘WAY BACK HOME’ RUSAK PARAH

Tim APE Defender mencoba bertahan dengan perahu yang bocor selama 4 bulan terakhir ini. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari menambalnya dengan lem perekat dan kain, namun muncul lagi kebocoran di bagian yang lain.

Usia perahu yang hampir dua tahun ini dengan penggunaan yang tinggi di sekitar pulau orangutan menuntut untuk segera ada perahu baru lagi. “Saat tengah malam, kami pun harus mengecek keberadaan pulau, karena kalau tidak dicek dengan menguras air yang masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam bersama mesin perahu..”, ujar Daniel, penanggung jawab kendaraan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Perahu ‘Way Back Home’ adalah kendaraan operasional pulau orangutan COP Borneo. Perahu yang dibeli dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan atau sering disebut juga SFO merupakan kerja keras orangufriends, kelompok pendukung COP. Acara musik ini pun akan digelar Senin, 29 Oktober 2018 di Yogyakarta.

BONTI IS NOT OWI’S FOLLOWER ANYMORE

Every month, the development of orangutans is evaluated. Small changes are often given by the COP Borneo team in East Kalimantan can find the right formula to deal with the rehabilitated orangutans. Like Bonti orangutan, the first semester of 2018 still showed his dependence on Owi orangutan. Therefore, in the second semester, Bonti and Owi were not in one cage anymore.

Bonti who always follows wherever Owi goes and whatever Owi does, now not anymore. As he arrived at the forest school, Bonti would immediately climbed the tree without waiting for Owi. Bonti was even more confident to play alone up in the tree. Bonti, an orangutan who has succeeded made his nest by watching Happi orangutan, increasingly shows his abilities.The nests he made is getting better and better. Even Happi became curious and often approached Bonti. And if this happens, Bonti would give in and leave because Happi occupied the nest Bonti made.

Yup… Bonti is no longer Owi’s loyal follower. Then what will Owi does without Bonti? Will Bonti be the best orangutans at the end of 2018? What are your wishes at the end of 2018? (SAR)

BONTI BUKAN FOLLOWER OWI LAGI
Setiap bulan, perkembangan orangutan dievaluasi. Perubahan-perubahan kecil pun sering diberikan agar tim yang menjalankan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur ini bisa menemukan formula yang tepat untuk menghadapi setiap orangutan yang ada. Seperti orangutan Bonti yang semester pertama tahun 2018 ini masih menunjukkan ketergantungannya pada orangutan Owi. Sehingga pada semester keduanya, Bonti dan Owi tidak berada dalam satu kandang lagi.

Bonti yang selalu mengikuti kemana pun Owi pergi dan mengikuti apapun yang dilakukan Owi, kini tak lagi. Ketika sampai di sekolah hutan, Bonti akan langsung memanjat pohon tanpa menunggu Owi lagi. Bonti pun semakin percaya diri untuk bermain sendiri di atas pohon. Bonti, orangutan yang berhasil membuat sarang dengan memperhatikan orangutan Happi semakin menunjukkan kemampuannya. Sarang buatannya semakin lama semakin baik. Bahkan Happi menjadi penasaran dan sering mendekati Bonti. Kalau sudah begini, Bonti pun mengalah pergi karena Happi pun menempati sarang buatannya Bonti ini.

Ya… Bonti sudah tidak menjadi follower setianya Owi lagi. Lalu apa yang dilakukan Owi tanpa Bonti ya? Akankah Bonti menjadi orangutan terbaik di akhir tahun 2018 ini? Apakah harapanmu di akhir 2018 ini?

ANNIE THE PICKY ONE

Wow, this is Annie. Orangutan who has only been 5 months in the forest school class. Annie is a picky orangutan, including in choosing the person who is going to be his keeper when the forest school class takes place. If jhonny is going to carry him to the school, Annie immediately approaches and hugs Jhonny. But if it’s not Jhonny, Annie would rather stay in the cage, pretend not to see and be cool with himself.

“This also what convinced the animal keepers who are local people that orangutans are unique individuals.”, said Wety Rupiana, COP Borneo manager, an orangutan rehabilitation centre founded by Indonesian young generation.

The character of each orangutan is a separate record in the centre. This will facilitate the handling of orangutans while in forest school classes. Annie was also recorded as the best orangutan in climbing trees and exploring the forest after Bonti orangutan in the last three months. “A very good development!”, said Reza Kurniawan, COP primate anthropologist, while reading the quarterly reports of orangutans. (SAR)

ANNIE SI PEMILIH
Wow, ini dia Annie. Orangutan yang baru lima bulan di kelas sekolah hutan. Annie adalah orangutan yang pemilih, termasuk memilih orang yang menjadi keepernya saat kelas sekolah hutan berlangsung. Jika Jhonny yang akan menggendongnya ke hutan, Annie langsung mendekat dan mameluk Jhonny. Namun jika bukan Jhonny, Annie seperti memilih tetap berada di kandang saja. Pura-pura tidak melihat dan asik dengan dirinya sendiri.

“Ini pula yang menyakinkan para animal keeper yang merupakan orang lokal bahwa setiap orangutan adalah individu yang unik.”, ujar Wety Rupiana, manajer COP Borneo, pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia ini.

Karakter setiap orangutan menjadi catatan tersendiri di pusat rehabilitasi. Ini akan mempermudah penanganan orangutan saat berada di kelas sekolah hutan. Annie juga tercatat sebagai orangutan terbaik dalam memanjat pohon dan menjelajah hutan setelah orangutan Bonti dalam tiga bulan terakhir ini. “Suatu perkembangan yang sangat baik!”, ujar Reza Kurniawan, antropolog primata COP saat membaca laporan tiga bulanan orangutan.

PATIENCE IS BITTER, BUT ITS FRUIT IS SWEET

I always believe in my parents’ advice, that people who are patient are always loved by God and I believe God loves Popi very much.

Who would have thought that baby orangutan who used to cry and sleep in a forest school had become a new pride for us at the COP Borneo orangutan rehabilitation center? A baby orangutan who used to be choked when she drank milk and picky foods is now very smart to find food in the forest. A baby who used to not be able to climb trees is now agile to move trees through the hanging roots. A baby who had never been able to escape from her babysitter now look more independent.

In her 2 years, Popi showed her quality. All mother must be happy and proud to see the achievements of her child. My tears flowed on my own when I watched Popi climb a tall tree and eat the forest fruits that she found.

My presence at the forest school was no longer what Popi was waiting for. When she saw me coming she would only pay attention to me from above, so she would never want to come down from the tree. From her gaze, it seems like she whispered “Mother, I am big now. I dare to climb and swing on trees. Today I find flowers that taste very good.”

There was a sense of sadness in my heart and also an extraordinary sense of pride, and it felt like there was now a relief feeling. Patience in taking care of Popi now become sweet, no longer need to worry about Popi. She’s a great baby orangutan and every month her forest school report makes me proud. (IND)

KESABARAN ITU BERBUAH MANIS
Saya selalu percaya dengan nasehat orangtua saya, bahwa orang yang sabar selalu disayang Tuhan dan saya percaya Tuhan sangat menyayangi Popi.

Siapa sangka bayi orangutan yang dulu sering menangis dan tidur di sekolah hutan kini menjadi kebanggaan baru bagi kami di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Bayi orangutan yang dulu sering kesedak saat minum susu dan pilih-pilih makanan kini sangat pintar mencari makan di hutan. Bayi yang dulu tidak bisa memanjat pohon kini telah lincah berpindah pohon melalui akar-akar yang bergelantungan. Bayi yang dulu tidak pernah bisa lepas dari babysitter nya kini terlihat semakin mandiri.

Diusianya yang menginjak 2 tahun ini, Popi menunjukkan kualitas dirinya. Ibu mana yang tidak haru dan berbangga hati melihat prestasi yang diraih oleh anaknya. Air mata saya mengalir dengan sendirinya ketika menyaksikan Popi memanjat pohon tinggi dan asik makan buah hutan yang ditemukannya.

Kehadiran saya di lokasi sekolah hutan bukan lagi hal yang ditunggu oleh Popi. Ketika dia melihat saya datang dia hanya akan memperhatikan saya dari atas, dipanggil pun dia tidak akan pernah mau turun dari pohon. Dari tatapannya saya bisa artikan “Ibu, aku sudah besar sekarang. Aku sudah berani memanjat dan berpindah pohon. Hari ini aku menemukan bunga yang sangat enak rasanya.”

Ada rasa sedih dalam hati saya dan juga rasa bangga yang luar biasa, dan rasanya sekarang ada perasaan lega dalam diri saya. Kesabaran dalam merawat Popi kini berbuah manis, sudah tidak perlu lagi sekarang mengkhawatirkan Popi. Dia bayi orangutan yang hebat dan setiap bulan laporan sekolah hutannya membuat saya bangga. (WET)

THE BEST NEWS FROM JOJO

Jojo is an orangutan rescued by the Center for Orangutan Protection in April 2018. During the last five months, Jojo has also undergone a rehabilitation center curriculum. Orangutan Jojo was unable to follow the routine of forest school like other orangutan babies because the results of the medical checkup found that Jojo suffered from hepatitis B.

COP Medical Team conducted another test through PCR. The result showed that hepatitis suffered by Jojo is an orangutan strain and Jojo was declared able to join other baby orangutans. “Really, this is very encouraging news,” said Wety Rupiana.

September 28 this will be a history for Jojo and us. Jojo underwent forest school for the first time. Jojo orangutan looks very stiff when he met another baby orangutan. Jojo looks like he is still adapting to our forest school environment. Let’s help COP Borneo take care of Jojo through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan and look forward to the next Jojo story. (IND)

BERITA TERBAIK DARI JOJO
Jojo, adalah orangutan yang diselamatkan oleh Centre for Orangutan Protection pada bulan April 2018. Selama lima bulan terakhir ini, Jojo pun menjalani kurikulum pusat rehabilitasi. Orangutan Jojo tidak dapat mengikuti rutinitas sekolah hutan seperti bayi orangutan lainnya karena dari hasil MCU, Jojo menderita penyakit hepatitis B.

Tim Medis COP kembali melakukan pengujian melalui PCR dan hasilnya, hepatitis yang diderita oleh orangutan Jojoadalah strain orangutan dan Jojo dinyatakan bisa bergabung dengan bayi orangutan lainnya. “Sungguh, ini adalah berita yang sangat menggembirakan.”, ujar Wety Rupiana.

28 September ini akan menjadi sejarah bagi kami untuk Jojo. Jojo menjalani sekolah hutan untuk pertama kalinya. Orangutan Jojo terlihat sangat kaku waktu bertemu dengan bayi orangutan lainnya. Jojo terlihat masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah hutannya ini. Yuk bantu COP Borneo merawat Jojo melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan dan nantikan cerita Jojo selanjutnya. (WET)

GIVING DAY FOR APES 2018

Time passes so quickly. We will celebrate the Giving Day for Apes again on September 25, 2018. Centre for Orangutan Protection really needs your help! Let’s celebrate the day by supporting the release of four orangutans that each of them has unique background story. Those who lived in zoo, toilet and lost his mother by the reason of palm oil plantation.

How do we easily remember the success of our life? Simply by donating to Giving Day for Apes. For those of you who celebrate birthdays or want to give presents for your loved ones, you can do it by donating to COP on Giving Day 2018. Of course, the orangtans of COP Borneo will be gladly accept it.

Let’s get to know the four orangutan release candidate this year. Do you remember Novi? Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog. After rehabilitation process, Novi will be release back to his habitat.

Next month, the orangutan from the zoo will go toward the freedom. Untung, the lucky one, even with imperfect fingers, can still climb trees and move like other normal orang-utans. Of course, his disablity doesn’t prevent him to be one of the release candidates this year. After going through a series of medical examination, Untung was declared clean from infectious diseases.

Unyil, the orangutan that is very famous because finally he can live normally, not in the bathroom (toilet) like before. The rescue action was very dramatic because his birthday celebration as Valentino Unyil Ngau had just taken place. The keeper of Until finally gave him to be rehabilitated. His hair was just straightened, and made the rescue team wonder, what was wrong with Unyil’s hair.

One more heartbreaking story come from Leci. Leci was found in a fruit garden near palm oil plantation in Kebon Agung village, Sangatta, East Kalimantan. Alone without his mother. Leci was very wild, even he bit one of the rescue team member. He looked nervous in the cage, until the team close it so that he felt more calm. Given leaves and twigs was immediately greeted by arranging it into nests.

So would you help the four orangutans? https://givingdayforapes.mightycause.com/organization/Center-For-Orangutan-Protection They supposed to be in their habitat, living without any human intervention and develop their role as reliable natural reforestation agent. (SAR)

Waktu berlalu dengan cepatnya. Kita akan merayakan Giving Day for Apes lagi pada 25 September 2018 ini. Centre for Orangutan Protection sangat membutuhkan bantuan anda. Mari rayakan hari ini dengan mendukung pelepasliaran empat orangutan COP Borneo dengan latar belakang yang unik. Mereka yang hidup dari kebun binatang, toilet rumah dan yang kehilangan ibunya karena perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana kita dengan mudah mengingat keberhasilan hidup kita? Cukup dengan donasi di Giving Day for Apes. Untuk kamu yang merayakan ulang tahun atau ingin memberikan hadiah untuk yang kamu sayangi, bisa dengan donasi COP di Giving Day 2018. Tentu saja orangutan COP Borneo akan dengan senang hati menerimanya.

Yuk mengenal keempat orangutan kandidat pelepasliaran tahun ini. Masih ingat dengan Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah penduduk berteman seekor anjing dengan leher dirantai? Setelah melalui rehabilitasi, Novi akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Bulan depan, orangutan dari kebun binatang akan menuju kebebasannya.

Untung si beruntung walau dengan jari tangan yang tidak sempurna, tetap bisa memanjat pohon dan beraktivitas seperti orangutan normal lainnya. Tentu saja disabilitasnya tak menghalanginya untuk tetap menjadi kandidat pelepasliaran tahun ini. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan kesehatan, Untung pun dinyatakan bersih dari penyakit menular.

Unyil, si orangutan yang terkenal sekali karena akhirnya dapat hidup normal tidak di dalam kamar mandi (toilet) lagi. Aksi penyelamatannya yang sangat dramatis karena baru saja perayaan ulang tahunnya sebagai Valentino Unyil Ngau berlangsung. Si pemelihara Unyil akhirnya menyerahkannya untuk direhabilitasi. Rambutnya saat itu baru saja direbonding, sempat membuat tim penyelamat heran, ada apa dengan rambut Unyil.

Satu lagi kisah memilukan dari Leci. Leci ditemukan di ladang buah dekan perkebunan sawit di desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur, sendiri tanpa induknya. Leci masih sangat liar, bahkan salah satu tim penyelamat digigitnya. Selama di kandang, dia terlihat gelisah, hingga akhirnya tim menutup kandangnya agar dia lebih tenang. Pemberian daun-daunan dan ranting langsung disambutnya dengan menyusunnya menjadi sarang.

Jadi, maukah kamu mendukung keempat orangutan ini? Mereka sudah sepantasnya berada di habitatnya, hidup tanpa campur tangan manusia, dan berkembang di alamnya untuk menjalankan perannya sebagai agen reboisasi alami yang handal.

WETY AND POPI

“Now Popi will not let herself share food with others, even to me,” said Wety Rupiana, the captain of APE Defender team. She is fully responsible at the current COP Borneo’s orangutan rehabilitation center. Wety was also Popi’s personal keeper when Popi entered this rehabilitation center 2 years ago. Wety, along with our veterinarians, took turns carrying a bottle of milk for baby Popi. Popi came as a very weak baby and just removed her umbilical cord.

Like a human baby, baby Popi was also crying and shrieking. Popi felt fear when she left alone, even though Wety was in the bathroom for a moment. Wety fell so many times from the stairs and even from the bridge between the camp and clinic because suddenly Popi screamed in the clinic. Wety’s appearance is almost irreplaceable. Like a human baby who is very dependent on her mother, a baby orangutan also has similar dependency on her mother.

Months passed, Popi grew up to be an orangutan child with an unpredictable behavior. Her pampered attitude began to change with a defiant attitude. It is not easy to tell Popi to climb the tree when she enjoyed playing on the ground, like rolling around or watching the roots covered in moss. But it was also not easy to tell her to come down from the tree when she enjoyed swinging from one branch to another. “Even the lure of milk will be ignored,” added Wety.

Popi is a baby orangutan who is forced to lose her mother. Popi loses her natural life in the forest with her mother. Baby orangutans are very dependent and they should be with the mother until they are 6 years old. “We helped her at COP Borneo. We hope that her wild nature continues to emerge as she grows older,” said Wety. Let’s help Popi to get her way back home through this link orangutanprotection.com/adopt/#4 (IND)

WETY DAN POPI
“Kini Popi tak akan membiarkan dirinya berbagi makanan dengan yang lain, bahkan padaku.”, kata Wety Rupiana, kapten APE Defender, orang yang bertanggung jawab penuh di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo saat ini. Wety jugalah yang menjadi perawat pribadi Popi saat Popi masuk pusat rehabilitasi ini 2 tahun yang lalu. Wety bersama dokter hewan lainnya bergantian membawakan botol berisi susu untuk bayi Popi yang baru saja lepas tali pusar nya. Bayi yang sangat lemah.

Seperti saat bayi manusia menjerit dengan tangisannya, Popi pun seperti itu. Rasa takut ketika ditinggal sendirian padahal Wety sesaat saja ke kamar mandi. Entah berapa kali Wety terjatuh dari tangga bahkan jembatan titian antara camp dan klinik karena tiba-tiba saja Popi menjerit saat dalam perawatan di klinik. Keberadaan Wety hampir tak tergantikan. Seperti bayi manusia yang sangat bergantung pada ibunya. Seperti itulah bayi orangutan dengan induknya.

Detik demi detik berlalu, Popi tumbuh menjadi anak orangutan dengan tingkahnya yang sulit ditebak. Sikap manja nya mulai berubah dengan sikap membangkang. Tak mudah menyuruhnya naik ke atas pohon, saat dia asik bermain di bawah, berguling-guling di tanah atau sedang memperhatikan akar yang diselimuti lumut. Tapi juga tak mudah menyuruhnya turun dari pohon, saat dia sudah asik bermain dari satu dahan ke dahan yang lain. “Bahkan iming-iming susu pun akan diabaikannya.”, tambah Wety.

Popi adalah salah satu bayi orangutan yang terpaksa kehilangan induknya. Popi kehilangan kehidupan alaminya di hutan bersama induknya. Suatu masa dimana bayi orangutan sangat tergantung pada induknya hingga dia berusia 6 tahun. “Kami di COP Borneo membantunya, kami berharap sifat alami liarnya terus muncul seiring usianya yang bertambah.”, ujar Wety. Yuk bantu Popi lewat http://www.orangutan.id/adopt/#4

Page 2 of 1912345...10...Last »