AMIR : CLEAN CAGES AND ORANGUTAN EATS ON TIME

Amir is one of the young villagers of Merasa who work at COP Borneo, an orangutan rehabilitation center established by Indonesian children. Since January 2017, Amir works as an animal keeper. The man born in Tarakan, East Borneo, 20 years ago is very good at boat motorist, forest school, animal enrichment, equipment maintenance to technical personnel. COP Borneo is fortunate to have a versatile Amir in this rehabilitation center.

Amir looks more excited while in the forest school. Yes… with baby orangutans without their father and mother. And his favorite baby orangutan is Owi, because Amir considers, Owi is the most intelligent baby orangutan and the leady of other baby orangutans in COP Borneo forest school.

“My activity when in the forest scholl is to record what the orangutans eat. What kind of jungle fruits, which forest flowers, leaves tree bark to termites and even what kind of grains they eat in the forest, it shoul be recorded in detail in order to know the development of orangutans in forest schools.” Amir explained seriously.

Amir also tells which fruits is the baby orangutans in COP Borneo favorites is Molinese Bananas. It’s a small shaped and sweet tasted banana. “Molinese banana is the favorite food of the orangutans in our rehabilitation center, mas.” said Amir.

Disinfectant program was a recommendations from the medical team also conducted by Amir two times a week. Spraying is done to sterilized the cages and prevent disease. When asked, what his feeling joining COP Borneo, Amir replied firmly, “Happy and proud, mas. I can learn a lot here with orangutans and new friends”.

Amir memorized all orangutans foods. The most favorites fruits and what he have to over. “Every day there is a variety of food given to orangutans. Fruits and vegetables are mixed at least 8 types, as directed by the veterinarian.”

Antak and Pingpong, very fond of long beans and mustard greens, so if they sulking, Amir will give their favorite food. “ I have to make sure every day orangutans eats on time and the cages should be clean, because that is my responsibility,” said Amir ending the evening chat at COP Borneo. (Dhea_Orangufriends)

AMIR: KANDANG BERSIH DAN ORANGUTAN MAKAN TEPAT WAKTU
Amir adalah salah satu pemuda desa Merasa yang bekerja di COP Borneo, pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia. Sejak januari 2017, Amir bekerja sebagai animal keeper. Pria kelahiran Tarakan, kalimantan Timur, 20 tahun yang lalu ini sangat cakap di urusan motoris kapal, sekolah hutan, enrichment satwa, perawatan alat hingga tenaga teknis. COP Borneo beruntung memiliki Amir yang serba bisa di pusat rehabilitasi ini.

Amir terlihat lebih bersemangat saat berada di sekolah hutan. Ya… bersama bayi-bayi orangutan tanpa ayah dan ibu ini. Dan bayi orangutan favoritnya adalah orangutan Owi, karena Amir menganggap, Owi adalah bayi orangutan yang paling cerdas dan sebagai pemimpin bayi orangutan lainnya di sekolah hutan COP Borneo.

“Aktivitas saya ketika sekolah hutan adalah mencatat apa saja yang dimakan orangutan. Makan buah hutan apa, bunga hutan apa, daun, kulit pohon hingga rayap bahkan biji-bijian apa yang dimakan orangutan di hutan, harus dicatat dengan detil agar bisa mengetahui perkembangan orangutan di sekolah hutan.”, jelas Amir serius.

Amir juga bercerita buah kesenangan para bayi orangutan di COP Borneo yaitu pisang Moli. Pisang dengan bentuk kecil dan manis. “Pisang Moli ini adalah makanan favorit para orangutan di pusat rehabilitasi kita, mas.”, ujar Amir.

Program disinfektan rekomendasi dari tim medis juga dilakukan Amir seminggu 2 kali. Penyemprotan ini dilakukan untuk sterilisasi kandang dan mencegah penyakit. Ketika ditanya bagaimana perasaan gabung di COP Bornei, Amir menjawab dengan tegas, “Senang dan bangga, mas. Saya bisa belajar banyak hal di sini, dengan orangutan dan teman-teman baru.”.

Amir paling hafal dengan menu makanan orangutan. Buah yang paling disukai orangutan dan apa saja yang harus disajikannya. “Setiap hari ada variasi makanan yang diberikan ke orangutan. Buah dan sayur dicampur dengan minimal 8 jenis, sesuai arahan dari dokter hewan.”

Antak dan Pingpong, sangat suka kacang panjang dan sawi, maka kalo mereka lagi ngambek makan, Amir akan memberikan makanan kesukaan mereka. “Saya setiap hari harus memastikan orangutan makan tepat waktu dan kandang harus bersih, karena itu adalah tanggung jawab saya.”, ungkap Amir mengakhiri obrolan menjelang malam di COP Borneo. (NIK)

HERCULES, THE GALLANT AND STRONG

In Greek mythology, Hercules is gallant, brave, and very strong. And Hercules is one of the oldest orangutan in Pre-release Island in COP Borneo Centre of Rehabilitaion. Hercules is an alpha male and other orangutans respect him so mcuh. You will feel amazed when you see his figure. Muscular, big, and great hair. “He is one of the orangutans that eat the most in this island,” stated Joni, Pre-release Island coordinator. He will finish each meal the keeper give the, and not hesitate to attack when interrupted. “The Feeding method has been changed. We no longer put the food on the platform, we throw the food all over the island, using the boat. Ths will reduce his dominance, and teach the other orangutans to actually look for their own food,” stated Reza Kurniawan, COP APE Defender Captain. During each routine patrol, they observed that Hercules has a good climbing skill. They always spot them on top of the tree. “Through routine ibservation, we figured that Hercules is good at moving from one tree to another. However, his nesting skill is still need to be improved. He likes to use the old nest, or old nest from another orangutan,” stated Rian Winardi, COP Vet. Therefore, Hercules has not been picked for the next release candidate, unlike Nigel and Oki, which based on the team observation, have been considered ready to be released. “Hercules’s dominance is very visible during feeding time. One day, we added some egg for extra nutrition. We wrapped the egg with leaves. Hercules took all the egg, even stole it from another orangutan, so the team added some more and changed the feeding method so Hercules wont take everything for himslef alone,” added Rian. Now, Hercules’s development has been considered good. We hope he will have the chance to come home to the jungle of Kalimantan. (Zahra_Orangufriends)

Dalam mitologi Yunani, Hercules adalah orang yang gagah, berani dan sangat kuat. Dan Hercules adalah nama salah satu orangutan tertua yang berada di pulau pra-pelepasliaran Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Hercules merupakan jantan dominan yang sangat disegani oleh orangutan lainnya di pulau pra-pelepasliaran. Melihat sosoknya, siapapun yang melihatnya akan sangat takjub, postur tegak, berotot dan memiliki tubuh yang besar dengan rambut yang indah.

“Dia adalah salah satu orangutan dengan makan makanan terbanyak di pulau.”, ungkap Joni, koordinator pulau pra-pelepasliaran COP Borneo. Dia akan menghabiskan setiap makanan yang diberikan oleh animal keeper dan menguasainya serta tak segan-segan menyerang ketika diganggu.

“Metode feeding telah diubah. Tidak hanya diletakkan di platform/dermaga pakan saja, melainkan kita sebar di segala penjuru pulau dengan menggunakan perahu. Ini akan mengurangi dominasi Hercules dan juga mengajarkan orangutan di pulau ini untuk belajar mencari pakan sendiri dari buah yang dilempar oleh animal keeper.”, jelas Reza Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Setiap patroli rutin dilakukan, Hercules terpantau memiliki kemampuan memanjat yang baik. Hercules juga terlihat selalu berada di atas pohon. “Dari hasil monitoring tim di pulau orangutan, Hercules pintar memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya. Namun kemampuan membuat sarang masih kurang. Dia masih senang memakai sarang lama atau bekas sarang orangutan lainnya.”, ujar drh. Rian Winardi, tim medis COP Borneo. Makanya ketika pemilihan kandidat orangutan yang akan dirilis dalam waktu dekat ini, Hercules belum masuk daftar dan masih tergeser oleh orangutan Nigel dan Oki yang secara pengamatan tim, perilaku mereka berdua masuk dalam kriteria siap rilis.

“Dominasi Hercules cukup terlihat saat perebutan makanan. Pernah dalam satu waktu, kami memberikan nutrisi pakan tambahan berupa telur rebus untuk semua orangutan. Telur kami bungkus dengan daun. Hercules merampas semuanya dan memakan tanpa ampun jatah orangutan lainnya, sehingga tim harus membuat makanan tambahan baru dengan metode pemberian yang berbeda agar aman dari jangkauan Hercules.” tambah drh. Rian.

Namun, perkembangan Hercules dalam catatan tim monitoring mengalami peningkatan yang baik dan berharap, dia akan memiliki kesempatan yang sama untuk kembali pulang ke rumahnya di jantung hutan hujan pulau Kalimantan. (NIK)

JHONY MARCUS, RELIABLE COP KETITITING [BOAT] MOTORIST

Born 20 years ago in Kluber, North Borneo with the blood of Dayak from mother side and Bugis tribe in the father side. Jhony joins the COP Borneo orangutan rehabilitation center since November 2015 with the position of post coordinator of orangutan island. Under Jhony’s cooridination, 7 orangutans in orangutan islands should always be monitored, island patrols and feeding.

“We patrolled by boat 5 times a day and 2 times at monitoring post with binoculars,” said Jhony. When it rains for days, working at orangutan monitoring post is quite a high risk.Kelay River that surrounds the orangutan island will rise and floods will come. The main route to monitor the island becomes swift. The island will be submerged and leaving 50% of its land. Floods usually drag timber from up stream of Kelay river in the form of the size of an adult’s hand to the extend of the utility pole. The current reading skill and the obstacle ate absolutely necessary. Don’t let the boat hit the timber, it will cause the boat propeller destroyed or even carried away by the current, capsized and sink.

Since the age of 12, Jhony has understood the river and the flow of light and large floods. “Under the condition of massive flooding with lots of timber and debris, we have to move lane, dodge and spin or we will be hit by the debris that are carried by the water, crushed, capsized and drowned”, explains Jhony. “We have to keep patroling wirt the flood to make sure the orangutans are in a safe place, not to let them to be dragged, drifting and lost,” he added.

Jhony also tell us one of his annoyance when there are people who interfere with orangutans on the island. Usually Jhony will reprimand and explain that at any time orangutans can strike if we are too close.

Then who is his favorite orangutan? Yes… Nigel the smartestof all , not nosy with other orangutans and pretty wild. When Jhony hear about Nigel is selected as one of the candidates who will be released in the near future, he said,” Hearing him as a candidate, Makes me very happy. I can not wait for Nigel to be released and if it works… the hard work of my friends and me are not in vain”. (Dhea_Orangufriends)

JHONY MARKUS, MOTORIS HANDAL KETITING COP

Lahir 20 tahun lalu di Kluber, Kalimantan Utara dengan darah ibu suku Dayak dan bapak suku Bugis. Jhony bergabung di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo sejak November 2015 dengan jabatan sebagai kordinator pos pantau pulau orangutan. Di bawah kordinasi Jhony, 7 orangutan yang berada di pulau orangutan harus terus dipantau/ monitoring, patroli pulau dan feeding orangutan.

“Kami melakukan patroli dengan menggunakan perahu sehari 5 kali dan 2 kali monitoring di pos pantau dengan teropong.”, ujar Jhony. Bekerja di pos pantau orangutan cukup beresiko tinggi, manakala hujan turun selama berhari-hari. Sungai Kelay yang mengelilingi pulau orangutan akan naik dan banjir besar pun datang. Jalur utama untuk memantau pulau pun menjadi berarus deras. Pulau akan terendam dan menyisakan 50% daratannya. Banjir biasanya menyeret kayu-kayu dari hulu sungai Kelay dari ukuran tangan orang dewasa hingga sepanjang tiang listrik. Kemahiran membaca arus dan halangannya mutlak dilakukan. Jangan sampai menghantam kayu yang bisa menyebabkan perahu pecah bahkan baling-baling mesin hancur atau malah terbawa arus, perahu terbalik dan tenggelam.

Jhony sejak usia 12 tahun sudah paham medan sungai dan aliran yang ringan dan banjir besar. “Dalam kondisi banjir besar dengan banyak kayu, kita harus pindah jalur, menghindar dan berputar atau kita akan tertabrak kayu yang terbawa banjir, hancur, terbalik dan tenggelam.”, jelas Jhony. “Kami harus tetap patroli dengan kondisi banjir untuk memastikan orangutan berada di tempat yang aman, tak sampai terseret arus, hanyut dan hilang.”, tambahnya.

Jhony pun menceritakan kejengkelannya saat ada orang yang mengganggu orangutan di pulau. Biasanya Jhony akan menegur dan menjelaskan bahwa sewaktu-waktu orangutan bisa menyerang jika terlalu dekat.

Lalu siapakah orangutan favoritnya? Ya… Nigel yang paling pintar, tidak usil dengan orangutan lainnya dan cukup liar. Saat Jhony mendengar, Nigel adalah salah satu kandidat yang akan dilepasliarkan dalam waktu dekat ini, “Mendengarnya sebagai kandidat saja, saya sudah senang sekali. Saya tidak sabar menunggu Nigel dilepasliarkan dan jika berhasil… usaha saya dan teman-teman tidak sia-sia.”. (NIK)

POPI DAN GIGI BARUNYA LAGI

Apa jadinya saat bayi mulai tumbuh gigi? Dia akan menggali terus, sejauh mana gigi itu berfungsi. Seperti bayi orangutan Popi yang saat diselamatkan di bulan September 2016 masih berusia 8 minggu, tanpa gigi. Kini semakin percaya diri menggigit animal keeper atau orangutan lainnya yang mengganggu dia. Gigi bisa menjadi senjata mempertahankan diri, mungkin itu yang disimpulkan Popi.

Awal bulan Juni 2017, sepasang gigi taring bagian atas melengkapi 18 buah gigi Popi. Sama seperti bayi manusia ketika akan tumbuh gigi, Popi pun akan menggigit apa saja yang dilihat dan bisa diraihnya.

Baby sister dan animal keeper, tak satu pun luput dari gigitannya. Terimakasih semua pihak yang telah membuat Popi bertahan untuk hidup. Bayi orangutan adalah bayi yang sangat tergantung pada induknya. Kondisi tubuhnya sangat ringkih dan bisa dibilang dengan tingkat presentase yang rendah untuk hidup. Untuk para adopter Popi, inilah Popi anak virtual yang membangun mimpi, untuk bisa kembali ke hutan, sebagai orangutan yang liar. Sebuah jalan panjang yang tak mudah. (WET)

NIGEL IS BEEN WITHDRAWN FROM THE ORANGUTAN ISLAND

Yipieee… Nigel finally managed to be sedated and moved. June 19th 2017, lapse 3 days after Oki entered the quarantine cage. Nigel is one of two orangutans to be released in the near future. Nigel managed to defeat Hercules and 5 other orangutans on the orangutan island of COP Borneo. An island where orangutans trained before being released into their habitat in the wild. It is a pre-release island.

During in the pre-release island, Nigel made Hercules and Antak have to be evacuated from the island and underwent treatment. Nigel developed into a dominant male orangutan. Jhony was forced to fire two shots to paralyze him. Furthermore, alternately, the APE Guardian team carried Nigel to the boat and put him into the quarantine cage. Teamwork is absolutely necessary.

Medical process was swiftly done by vet Rian Winardi. Blood sampling and overall physical examination, to qualify Nigel for release is fulfilled. Okay Nigel, the way home is getting closer. Your freedom is the happiness for all of us, the big family of Center for Orangutan Protection. (Dhea_Orangufriends)

NIGEL DITARIK DARI PULAU ORANGUTAN

Yipieee… akhirnya Nigel berhasil dibius dan dipindahkan. 19 Juni 2017, selang 3 hari setelah Oki masuk ke kandang karantina. Nigel adalah satu diantara dua orangutan yang akan dilepasliarkan dalam waktu dekat. Nigel berhasil mengalahkan Hercules dan 5 orangutan lainnya yang ada di pulau orangutan COP Borneo. Suatu pulau sebagai tempat orangutan berlatih sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Itu adalah pulau pra-rilis.

Selama di pulau pra-rilis, Nigel membuat Hercules dan Antak harus dievakuasi dari pulau dan menjalani perawatan. Nigel berkembang menjadi orangutan jantan dominan. Jhony terpaksa menembakkan 2 kali tembakan bius untuk melumpuhkannya. Selanjutnya, secara bergantian, tim APE Guardian menggendong Nigel ke perahu dan memasukkannya ke kandang karantina. Kerja tim, mutlak dilakukan.

Proses medis pun dengan sigap dilakukan drh. Rian Winardi. Pengambilan sample darah dan pemeriksaan fisik secara keseluruhan, untuk memenuhi syarat pelepasliaran pun dipenuhi. Baiklah Nigel, jalan pulang itu sudah semakin dekat. Kebebasanmu adalah kebahagiaan kami semua, keluarga besar Centre for Orangutan Protection.

URGENT: COP BORNEO NEED MORE DART SYIRINGES

Could you help us to get them? For those who travel to Indonesia in the near future, please bring us more dart syiringes.

COP BORNEO BUTUH DART
Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo sedang melakukan beberapa tahapan proses pelepasliaran orangutan. Beberapa orangutan remaja sudah tidak bisa ditangani secara manual lagi. Proses penanganan orangutan remaja semi liar ini adalah dengan cara bius dengan tulup atau dengan tembak bius.

Seperti proses pemindahan orangutan dari pulau pra-pelepasliaran menuju kandang karantina yang cukup rumit karena persentase orangutan gagal terbius cukup tinggi. Cadangan drat (selongsong peluru bius) yang COP Borneo miliki sudah sangat menipis.

Kami sangat senang jika ada yang berkenan, donasi untuk alat ini. Kamisangat memerlukan dart dalam jumlah cukup untuk saat ini. Email kami di info@orangutanprotection.com

DEBBIE’S CAGE FLOOR FIXED

Debbie is a smart adult female orangutan. Her fad was using branches to ruin the cage floor on Block 1 in orangutan rehabilitation center at COP Borneo. Initially there was a rift on the floor because it’s had been aged for more than two years and the condition of the soil was eroded by water. This makes cleaning effort not at the maximal.

In the meantime, fixing the floor not an easy task, as Debbie became more nosy as we worked on it. Our equipment is taken by her, how to quickly fix finishing the cage floor ? Not only that, Debbie also pelted us with the remaining small branches she made for the nest. Until finally, one of us invited her to play and communicate to distract her.

Nothing new about Debbie’s mischief. How many time have the hose to clean the cage become her victim. Pulling the animal keeper who was on duty was often done by her. Every animal keeper always keep their distance, because Debbie’s power is very strong. Even the keeper had to take off his shirt when he was pulled by Debbie.

Yes, Debbie, we know, you want to get out of the quarantine cage. Free to move wherever you like. Maybe your support can help Debbie. Contact us at info@orangutanprotection.com for your help to get to Debbie. (Dhea_Orangufriends)

LANTAI KANDANG DEBBIE DIPERBAIKI

Debbie adalah orangutan betina dewasa yang pintar. Keisengannya menggunakan rating kayu hingga merusak lantai kandang blok 1 pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Awalnya memang terjadi keretakan pada lantai karena usia yang sudah lebih dari dua tahun dan kondisi tanah yang tergerus air. Ini membuat pembersihan kandang menjadi tidak maksimal.

Sementara itu, untuk memperbaiki lantai bukanlah hal yang mudah, karena Debbie menjadi lebih usil saat kami bekerja memperbaiki lantai. Peralatan kami direbut, bagaimana bisa menyelesaikan perbaikan lantai kandang dengan cepat? Tak hanya itu, Debbie juga melempari kami dengan ranting-ranting kecil sisa dia membuat sarang. Sampai akhirnya, salah satu dari kami mengajaknya bermain dan berkomunikasi untuk mengalihkan perhatiannya.

Bukan hal baru lagi tentang kejahilan Debbie. Selang untuk membersihkan kandang, entah sudah berapa kali menjadi korban. Menarik animal keeper yang sedang bertugas pun sering dilakukannya. Setiap animal keeper selalu menjaga jarak padanya, karena tenaga Debbie yang sangat kuat sekali. Bahkan animal keeper sampai harus melepaskan bajunya saat ditarik Debbie.

Ya Debbie, kami tahu, kamu pasti ingin lepas dari kandang karantina. Bebas bergerak kemana pun kamu suka. Mungkin dukunganmu bisa membantu Debbie. Hubungi info@orangutanprotection.com agar bantuanmu sampai pada Debbie.

MIMPI ANAK PUNK UNTUK ORANGUTAN

Dia adalah Inoy, staf COP Borneo. Inoy bukanlah orang baru di COP karena sejak 2010, dia adalah salah satu relawan awal yang ikut membesarkan APE Warrior di Yogyakarta. Edukasi, penanganan bencana, kampanye hingga penyelamatan orangutan yang dipelihara secara ilegal pernah dikerjakannya secara sukarela di APE Warrior. Inoy juga seorang musisi beraliran punk yang tergabung di band Miskin Porno. Komunitas punk telah membesarkan seorang Inoy dan mengenalkannya pada dunia perlindungan satwa liar.

Sejak Januari 2017, Inoy memulai karirnya menjadi animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola Centre for Orangutan Protection di Kalimantan Timur. Enam bulan ini, membersihkan kandang, memberi makan dan sekolah hutan menjadi awal masa belajar bekerja di COP Borneo.

“Awal kecintaan saya untuk orangutan adalah ketika menjadi relawan COP. Saya bertemu teman-teman yang punya dedikasi tinggi untuk satwa liar.”, ujar Inoy. Kecintaan dia terhadap dunia perlindungan satwa merambah ke dunia musik yang dia cintai. Membuat lagu tentang lingkungan dan satwa liar serta kampanye perlindungan satwa liar, dia lakukan bersama bandnya saat tampil di panggung. Saat ini, dia meninggalkan segala kesenangannya, menuju hal yang lebih membahagiakan dirinya, terjun langsung menyelamatkan satwa liar.

Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo berada jauh dari keramaian. Sinyal telekomunikasi di dapat setelah bergeser sekitar 5 km. Update status di facebook dan media sosial lainnya sangat sulit. “Saya menikmati proses ini untuk belajar dan berguru termasuk dari masyarakat lokal di sekitar pusat rehabilitasi COP Borneo. Saya punya mimpi sederhana untuk membantu orangutan-orangutan di sini. Kelak, orangutan-orangutan di sini bisa pulang kembali ke hutan dengan kemampuan saya yang terbatas ini. Tapi saya optimis mimpi ini akan berjalan jika ada kerja keras dari saya dan tim di sini tentunya.”, semangat Inoy.

Kalau kamu? (NIK)

THE GREEDY BONTI

There is one baby orangutan at the COP Borneo orangutan rehabilitation center who eats the most and likes to take other orangutan food. He is Bonti. This information is not only according to orangutan nurses but also from veterinarians and COP Borneo manager who study orangutan behavior at the COP Borneo.

All fruits prepared by the animal keeper are always eaten until finished by Bonti. Additional food was soon consumed by him. “Bonti will soon finish the milk and … rob the rest of the milk belonging to the others”, said drh. Rian Winardi. “Even Pingpong, who is older than Bonti, also had to give up his milk to the greedy Bonti” added Rian.

Could it be that Bonti became the dominant orangutan later? “It’s too early to conclude that,” said Reza. “This is still an orangutan baby delinquency stage. Physical and behavioral development will continue to be monitored. This will be a note to move to a higher level.”

COP Borneo is an orangutan rehabilitation center established and run by the best Indonesian. Give your best support for the orangutan conservation and their habitat through Center for Orangutan Protection. (IND)

BONTI SI RAKUS
Ada satu bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang paling banyak makan dan suka merebut makanan orangutan lainnya. Dia adalah Bonti. Informasi ini tak hanya menurut para perawat orangutan, tapi dari dokter hewan dan manajer COP Borneo yang mempelajari tingkah laku orangutan di COP Borneo.

Semua buah yang dipersiapkan animal keeper selalu dimakan sampai habis oleh Bonti. Makanan tambahan pun segera habis olehnya. “Bonti akan segera menghabiskan susunya dan… merampok jatah susu milik yang lainnya.”, ujar drh. Rian Winardi. “Bahkan Pingpong yang berumur lebih tua darinya, juga dirampas susu jatahnya.”, tambah Rian.

Mungkinkah Bonti menjadi orangutan dominan nantinya? “Masih terlalu dini menyimpulkan itu.”, ujar Reza. Ini masih tahap kenakalan bayi orangutan. Perkembangan fisik dan tingkah laku akan terus dipantau. Ini akan menjadi catatan untuk pindah ketingkat yang lebih tinggi lagi.

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan dan dijalankan oleh putra putri terbaik Indonesia. Berikan dukungan terbaikmu untuk kelestarian orangutan dan habitatnya lewat Centre for Orangutan Protection.

POPI, ORANGUTAN PALING KECIL DI COP BORNEO

Popi namanya. Dia adalah orangutan paling muda di COP Borneo. Popi masih tinggal di klinik dan kandang karantina pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, terpisah dengan bayi orangutan lainnya. Pemisahan ini agar Popi mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Wety dan drh. Rian Winardi adalah orang yang selalu mengontrol kondisi Popi setiap saat. Kontrol pakan, kebersihan kandang, susu dan kebutuhan lainnya dikerjakan secara intensif oleh mereka berdua.

Sesekali, Popi dibawa ke sekolah hutan dan belajar bersama Owi, Bonti dan Happi di program sekolah hutan. Prestasi terbaik Popi ada pada tanggal 10 Juni 2017. Dimana Popi memanjat pohon sampai pada ketinggian 25-30 meter. Popi memanjat pohon dengan memanfaatkan akar dan ranting kecil yang menempel di pohon.

Popi juga sempat terpantau meminum air hujan yang terjebak di lubang pohon dan sesekali mengambil daun untuk dimakan. “Sebelumnya Popi kalau sekolah hutan, memanjat pohon namun tidak terlalu tinggi. Kalau memanjat pun, dia tidak berani turun, hingga para animal keeeper terpaksa memanjat pohon tersebut dan menggendongnya turun. Hari ini, Popi luar biasa. Dia memanjat pohon yang tinggi dan turun sendiri, tanpa bantuan siapa pun.”, ujar Wety Rupiana, baby sister Popi dengan haru. (NIK)

Page 17 of 20« First...10...1516171819...Last »