SARANG HERCULES DI TANAH?

Setiap individu unik? Termasuk orangutan Hercules? Orangutan Hercules adalah orangutan yang sangat jarang membuat sarang di pulau pra-rilis COP Borneo. Ketika sore tiba, saat orangutan Novi, Unyil dan Untung sibuk memilih pohon untuk membuat sarang, orangutan Hercules juga sibuk memilih bekas sarang orangutan lain untuk dijadikan tempat tidurnya. Lalu… apa perkembangan Hercules di bulan Oktober ini?

Akhir-akhir ini, Hercules sering membuat sarang. Namun sarang yang dibuatnya bukanlah di pohon, melainkan di tanah. Ya, sangat berbeda dengan sarang orangutan di pohon. Sarang yang Hercules buat terdiri dari rumput-rumput, tidak ada daun maupun ranting dan tak bisa dikatakan untuk tempat beristirahat. Hercules terlihat hanya bermain dengan menumpuk-numpuk rerumputan.

Hercules adalah orangutan yang paling besar saat dia berada sekandang dengan Oki, Antak dan Nigel di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS), Kalimantan Timur di tahun 2010. Dia terkenal dengan sikapnya agresif dan suka merebut makanan ketiga orangutan yang sekandang dengannya. Saat diajak ke sekolah hutan, Hercules adalah orangutan besar yang takut ketinggian.

Perkembangannya yang lambat itulah yang membuatnya masih belum menjadi calon orangutan yang akan dilepasliarkan pada tahun 2017 ini. Tapi sarang buatannya kali ini memberikan harapan pada kami, semoga Hercules bisa terus belajar dan berkembang agar kelak kembali ke hutan yang merupakan habitatnya. (WET)

UNYIL DAN SARANGNYA

Siapakah orangutan yang sering membuat sarang di pulau orangutan? Jawabannya adalah orangutan Novi dan Unyil. Kalau Novi sering membuat sarang ketika selesai feeding sore, sementara Unyil membuat sarang pada siang hari.

Di pulau pra-rilis orangutan banyak terdapat pohon ara. Orangutan Unyil sangat suka sekali makan buah ara dan biasanya orangutan Unyil akan membuat sarang di pohon ara. Penasaran seperti apa sarang buatan orangutan Unyil? Sama seperti sarang orangutan pada umumnya. Sarang Unyil pun terdiri dari tumpukan daun dan ranting yang dipatah-patahkan dan terlihat nyaman untuk dijadikan tempat istirahat.

Tapi… saat sarang sudah selesai dibuat. “Unyil akan meninggalkannya begitu saja. Sering juga ranting dan daun-daun penyusun sarang dihamburkan lagi.”, ujar Idam teknisi pos pantau pulau orangutan. Dan itu tidak hanya kelakuan Unyil, orangutan lainnya yang menghuni pulau pra-rilis orangutan COP Borneo juga tak menggunakan sarang sebagai tempat istirahatnya saat siang hari. “Mereka membuat sarang hanya untuk bermain, seperti Unyil. Mungkinkah mereka meniru Unyil?”, gumam Idam lagi.

Ketika sore semakin pekat, semua orangutan di pulau akan mencari pohon favoritnya dan sibuk membuat sarang untuk tidur, tak terkecuali Unyil. Unyil akan mencari kembali bekas sarang buatannya, merenovasinya dengan tambahan daun maupun ranting baru. (WET)

SAAT SI BOS KECIL MENGGEMASKAN KAMI

Dia memang orang yang paling kecil di pulau orangutan COP Borneo. Suatu pulau yang dihuni para orangutan yang menjalani rehabilitasi untuk dikembalikan ke alam. Tubuh kecilnya bukan berarti dia dengan gampang di “bully” oleh orangutan lain. Sebaliknya, Leci mendapat perlakuan yang baik dari semua penghuni orangutan pra-rilis. Bahkan Hercules, si penguasa pulau pun bisa dikatakan takluk dengan Leci.

Biasanya, saat feeding, orangutan Hercules selalu berusaha merampas makanan dari semua orangutan, namun Hercules tak pernah sekalipun merebut makanan Leci. Malah sebaliknya, Leci lah yang merebut makanan Hercules. Kalau sudah begitu, orangutan Hercules hanya bisa pasrah dan menyerahkan makanan ke orangutan Leci. Mungkinkah karena Leci dianggap anak kecil yang harus selalu dituruti? Atau anak kecil yang tak peduli dengan keberadaan orangutan yang lainnya?

Saat para laki-laki berada di satu tempat, mustahil tanpa perkelahian. Seperti halnya di pulau pusat rehabilitasi orangutan yang berpenghuni orangutan jantan. Perkelahian pun tak bisa terelakan lagi. Perebutan makanan atau sekedar ketidak-sukaan bisa memicu perkelahian. Dan ketika ada orangutan yang berkelahi, biasanya Leci akan mendekat lalu dengan santainya tidur-tiduran di antara mereka yang berkelahi. Kalau sudah begitu, mereka tidak jadi berkelahi lalu satu per satu pergi dengan sendirinya dan Leci tetap di situ untuk bermain.

Memang dasar anak kecil, umurnya masih sekitar 5 tahunan. Umur dimana anak orangutan seharusnya masih bersama induknya, bermain… dan bermain… tanpa peduli bahaya yang mengincar. (WET)

MAMPUKAH NOVI BERTAHAN DI TAHAP AKHIR?

Tatapan matanya semakin tajam saat suara mesin perahu mendekati pulau. Sikapnya sangat awas sekali. Terisolir dari campur tangan manusia membuatnya begitu asing dengan manusia. Tak terkecuali animal keeper yang selalu mengirim makan pagi dan sore. Bahkan dia dengan sabar menunggu pakan diletakkan dan animal keeper menjauh. Itu adalah Novi. Orangutan jantan remaja yang menghuni pulau pra rilis orangutan di COP Borneo sejak Desember 2015 yang lalu.

Novi adalah orangutan yang diselamatkan APE Defender dari kecamatan Kongbeng, Kalimantan Timur. Hilangnya hutan sebagai habitatnya yang mengantarkan mimpi buruknya berada di kolong rumah dengan rantai terikat di leher. Rantai itu menghiasi lehernya selama 5 tahun, sepanjang hari dan malam hingga meninggalkan bekas. Berteman seekor anjing pemburu, Novi bertahan hidup.

Masih teringat saat Novi pertama kali masuk sekolah hutan. Novi tampak merinding dan bingung saat ditinggal di atas akar. Dia mencoba memanjat lebih tinggi lagi sambil menggigiti akar maupun daun yang diraihnya. Novi pun tak bisa membedakan mana akar, dahan atau duri rotan hingga tangannya terluka.

Kini Novi terlihat lebih sering menyendiri. Novi juga lebih sering mencari makanannya sendiri tanpa berharap makanan yang diantar animal keeper setiap pagi dan sore hari. Sarang buatannya pun semakin kokoh. Apakah Novi orangutan selanjutnya yang akan dilepasliarkan kembali ke alam tahun ini?

Mari berikan dukunganmu lewat https://en.kitabisa.com/orangindo4orangutan?ref=2a0a9&utm_source=embed&utm_medium=usershare&utm_campaign=embed COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia. Centre for Orangutan Protection adalah satu-satunya gerakan akar rumput lokal untuk menyelamatkan orangutan Indonesia. Sekarang kamu tahu, Indonesia bisa!

ENRICHMENT BENTUK SARANG LEBAH

Jevri, alumni siswa COP School Batch 7 ini adalah seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ide kreatifnya kali ini membuat enrichment dari akar pohon yang bergelantungan.

Sepanjang jalan dari camp COP Borneo menuju ke kandang orangutan memang banyak akar-akar yang bergelantungan. Awalnya, Jevri menjadikan akar-akar ini mainan untuk dirinya sendiri. Jevri mengikat batu-batu sebesar telapak tangan pada akar-akar tersebut. “Iseng aja.”, katanya. Dari keisengannya itu, dia jadi tahu, akar itu sangat kuat sekali dan mulailah dia berkreasi.

Enrichment yang dibuatnya kali ini diberi nama, enrichment sarang lebah. Akar-akar pohon tersebut dililit-lilit hingga menyerupai sarang lebah, lalu di dalamnya diberi daun dan juga kuaci, tidak lupa dilumuri dengan madu diluarnya. Sangat susah dan membutuhkan kesabaran yang tinggi untum membuat enrichment ini. Dari bentuknya sangat sayang kalau enrichent sarang lebah hanya akan dirusak oleh orangutan Ambon maupun Debbie hanya dalam waktu singkat. Karena untuk membuat satu enrichment, Jevri menghabiskan waktu 30 menit sendiri. Dan benar… tak sampai 10 menit orangutan Ambon berhasil membuka dengan mengigitnya. Sama halnya Memo yang tumbuh menjadi orangutan betina dewasa yang tak mungkin kembali ke hutan karena penyakit hepatitis yang dideritanya. Memo pun menggigit akar-akar itu dengan mudah dan menikmati kuaci yang terseimpan di dalamnya.

“Tujuan enrichment ini sih untuk membuat orangutan sibuk dan melatih insting liarnya dalam mencari makanan.”, jelas Jevri pada saat menjalin akar-akar gantung tersebut. Yang terjadi… ini enrichment untuk orangutan atau manusia ya? (WET)

KUNJUNGAN SEKRETARIS BLI DI COP BORNEO

Hampir 2 tahun Centre for Orangutan Protection mencari lokasi untuk pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Timur. Suatu kondisi yang sangat mendesak dengan semakin prihatinnya orangutan yang berada di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) saat itu. Dengan ijin dari BKSDA Kalimantan Timur dan B2P2EHD Samarinda, COP membangun pusat rehabilitasi orangutan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan. Tahun 2014 menjadi tahun yang bersejarah bagi dunia konservasi Indonesia untuk pertama kalinya putra-putri Indonesia mendirikan pusat rehabilitasi orangutan.

Usaha membangun pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo tak lepas dari dukungan para orangufriends. Orangufriends adalah kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection yang bekerja tanpa henti, dimana saja dan kapan saja. Dukungan itu tak hanya dari dalam negeri saja, beberapa organisasi seperti Orangutan Outreach, The Orangutan Project dan With Compassion and Soul dan perorangan juga mendukung finansial pembangunan COP Borneo. Mimpi anak bangsa untuk orangutan Indonesia yang diwujudkan dari kerjasama semua pihak.

Kunjungan Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi (BLI), ibu DR. Sylvana Ratina bersama Kepala Balai Besar Litbang Ekosistem Hutan Dipterokarpa, bapak Ir. Ahmad Saerozi pada 6 Oktober 2017 menjadi semangat untuk teman-teman di lapangan untuk merehabilitasi orangutan hingga orangutan bisa dilepasliarkan kembali. Rehabilitasi adalah proses panjang dan berbiaya besar yang membutuhkan dukungan dari banyak pihak.

Para tamu disambut dengan sederhana oleh manajer operasional COP, Daniek Hendarto dan manajer komunikasi, Ramadhani. “Bantu kami memberikan kesempatan kedua bagi orangutan-orangutan ini, untuk kembali ke habitatnya dan menjalankan fungsi alaminya di hutan.”, ujar Ramadhani.

SEKOLAH HUTAN COP BORNEO UNTUK BAYI

Ketika mendengar kata sekolah hutan pasti banyak diantara kita yang bertanya apa itu sekolah hutan? Sekolah kok di hutan! Sekolah apa itu?

Sekolah hutan adalah rutinitas setiap hari para animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ketika selesai bersih kandang dan feeding pagi biasanya para bayi orangutan akan dibawa ke hutan untuk sekolah hutan. Untuk apa mereka dibawa ke sekolah hutan?

Rata-rata bayi orangutan yang datang di COP Borneo masih berusia sangat muda, di bawah satu tahun. Di COP Borneo para bayi orangutan wajib untuk mengikuti sekolah hutan. Di sekolah hutan mereka akan belajar dan bermain, belajar mengenali alam liar tempat tinggal mereka kelak dan juga bermain untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka. Di alam liar para bayi orangutan akan selalu bersama induknya sampai sekitar umur 6-7 tahun dan selama itu pulalah mereka akan belajar bertahan hidup dari induknya. Di COP Borneo para keeperlah yang mengajari dan menemani mereka bermain di hutan. Lalu para bayi orangutan ini bermain apa di sekolah?

Bermacam-macam aktivitas selama bayi orangutan berada di sekolah hutan. Arena sekolah hutan seperti tempat untuk mengekspresikan diri mereka, sekedar berguling-guling di tanah atau berayun-ayun di akar. Akar yang menggantung di antara pepohonan adalah mainan idola bagi para bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo karena dengan bantuan akar tersebut mereka dapat naik ke ujung pohon. Bonti adalah salah satu orangutan yang sangat suka bermain di akar, biasanya dia akan berayun-ayun di akar dan ketika sudah bosan dia hanya akan bergelantungan di akar sambil memandangi keeper dari atas pohon. (WET)

WHEN BONTI SEPERATED WITH OWI

Even baby Bonti the Orangutan always with baby Owi, not that he always stuck like a glue in stamps on the envelope. Owi always had a way to get rid of his loyal followers… Bonti. The way Owi.. escaped and approached the animal keeper who was then invited him to go to the forest school. Bonti is most is most afraid of the animal keeper. Maybe Bonti traumatized with humans. “The baby’s orangutan is separated from her mother when the dog is pursuing the mother.”, Bonti’s founder said when asked by the APE Crusader team.

Over the past three months, Bonti has been practicing more often in the trees. “Climbing the tree though not too high is enough to make us happy,” said Wety Rupiana. Just look at how he tried to move from one tree to another. The movement of his feet make the animal keeper stand their ground, worrying Bonti might fell. “Too Bad, Bonti still can not make a nest. He just broke the twigs and turned it into a toy.”, added Wety.

Hopefully the weather will be more friendly, to keep the forest schools running every day. “We believe. The more they practice in the forest school, the orangutan babies will accelerate more quickly. They must have their natural instincts, “said Reza Kurniawan, manager of the COP Borneo. (dhea_orangufriends)

SAAT BONTI TERPISAH DENGAN OWI
Walaupun bayi orangutan Bonti selalu bersama bayi orangutan Owi, bukan berarti dia selalu menempel seperti perangko menempel pada amplop. Owi selalu ada cara untuk lepas dari pengikut setianya… Bonti. Caranya… Owi melarikan diri dan mendekati animal keeper yang saat itu mengajaknya ke sekolah hutan. Bonti memang paling takut dengan animal keeper. Mungkin, Bonti trauma dengan manusia. “Bayi orangutan betina ini terpisah dari induknya saat anjing mengejar induk orangutan ini.”, ujar penemu orangutan Bonti saat ditanyai tim APE Crusader.

Selama tiga bulan terakhir, Bonti semakin sering berlatih di pohon. “Memanjat pohon walau tak terlalu tinggi sudah cukup membuat kami bahagia.”, ujar Wety Rupiana. Lihat saja bagaimana dia mencoba berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Gerakan kakunya membuat para animal keeper berjaga-jaga, kawatir Bonti terjatuh. “Sayang, Bonti masih belum bisa membuat sarang. Dia hanya mematah-matahkan ranting dan dijadikan mainan.”, tambah Wety.

Semoga saja cuaca semakin bersahabat, agar sekolah hutan tetap berjalan setiap hari. “Kami berkeyakinan, semakin sering mereka berlatih di sekolah hutan, bayi-bayi orangutan akan semakin cepat menyesuaikan diri. Mereka pasti punya insting alaminya.”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

COP BORNEO ORANGUTAN FUNDRAISING TOUR – MARCH 2018

Ini adalah salah satu cara kamu berdonasi untuk orangutan. Ikut perjalanan COP Borneo Orangutan Fundraising di bulan Maret 2018. Selama delapan hari dengan grup kecil akan menyaksikan orangutan, beruang madu dan kehidupan satwa liar lainnya termasuk mengamati burung. Tak hanya menikmati hutan hujan tropis Kalimantan, tapi keindahan dan keunikan budaya Dayak yang merupakan suku asli Kalimantan pun ikut menyapa kamu.

Orangutan adalah satwa unik yang mirip sekali dengan manusia. Kunjungan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan oleh putra putri Indonesia akan membawa kita ke suasana lokal yang kental. COP Borneo dijalankan oleh anak muda lokal dengan mimpi untuk mengembalikan orangutan ke alam sebagi rumah terbaik orangutan.

Hardi Baktiantoro si pendiri Centre for Orangutan Protection (COP), akan menemani perjalananmu di COP Borneo Orangutan Fundraising. Tak hanya Hardi, tapi Leif Cocks yang juga merupakan pendiri The Orangutan Project (TOP) akan berbagi pengalaman denganmu, bagaimana menyelamatkan orangutan dan melepasliarkan kembali orangutan ke alam. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa bertemu dengan keduanya, mendengarkan pengalaman nyata mereka di dunia konservasi orangutan.

Tunggu apalagi? Segera daftarkan keikutsertaanmu di COP Borneo Orangutan Fundraising Tour. Just click http://www.orangutanodysseys.com/EXPEDITIONS/INDONESIA/Expeditions/Detail/COP%20Borneo%20Orangutan%20Fundraising%20Tour%20-%20March%202018&xpdkey=COPBOFT/referrer_source=COP

HAPPI WON’T COME DOWN

Lina walk faster to the Clinic. She took a bottle, pour in warm water and four spoon full of milk then stir it. Milk for luring Happi the orangutan that won’t come down were made in the speed of tlight.

This is not the first time Happi the orangutan won’t come down from the tree. Usually when the time to come home, Owi the orangutan came down and not long after other orangutans will follow, Happi not exception. But this time when all the orangutans had come down, back to the cage and all the hammocks had been packed, Happi the orangutan still did not want to go down. it’s had been 45 minutes for Herlina, animal keeper yelled for Happi but ignored. Happi was busy eating the fruit of the forest, sitting in the nest at the tip of the tree.

Climb to catch up.. not possible. The tree is to high, almost 25 meters. Desperate, Herlina sat at the root of the tree waiting for Happi the orangutan. The milk she made was also useless, Happi the orangutan did not look down at all. But Lina did not give up, her eyes always looked up, hoping Happi will saw it.

“Pucuk di cinta, ulam pun tiba” (shoots in loved, dish arrived – Indonesian words means : gaining something more than what been hope for/ dream for – Ed). Herlina waited was not in vain. Happi the orangutan sees it and immediately looks for ways to get off. It took about 10 minutes for Happi to get off the tree. “Happi is to cool to play, not realizing that all other orangutans are back in the cage,” said Lina. “Happi, if you want to climb later on, remember the time ya, Nak! Your mother is not able to climb to get you,” she added. (Dhea_Orangufriends)

HAPPI TIDAK MAU TURUN
Kaki Lina melaju cepat menuju klinik. Lina mengambil botol, mengisinya dengan air hangat dan memasukkan empat sendok susu lalu mengaduknya. Susu untuk memancing orangutan Happi yang tak mau turun pun jadi secepat kilat.

Ini bukan kali pertama orangutan Happi tidak mau turun pohon. Biasanya ketika waktunya pulang, orangutan Owi akan turun lalu tak lama kemudian orangutan yang lain akan mengikutinya, tidak terkecuali Happi. Namun kali ini ketika semua orangutan sudah turun, kembali ke kandang dan semua hammock sudah dikemasi, orangutan Happi masih saja tidak mau turun. 45 menit sudah Herlina, animal keeper teriak-teriak memanggil Happi tetapi tidak juga dihiraukannya. Happi sibuk memakan buah hutan, duduk di sarang buatannya di ujung pohon.

Memanjat untuk menyusulnya… tidak mungkin. Pohonnya terlalu tinggi, hampir 25 meter. Seperti putus asa, Herlina duduk di akar pohon menunggu orangutan Happi. Susu yang dibuatnya pun juga seperti tidak berguna, orangutan Happi tidak melihat ke bawah sama sekali. Tapi Lina tidak menyerah, matanya selalu melihat ke atas, berharap orangutan Happi melihatnya.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Penantian Herlina tidak sia-sia. Orangutan Happi melihatnya dan segera mencari cara untuk turun. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk Happi bisa turun dari pohonnya. “Happi terlalu asik main, tidak sadar kalau teman-temannya sudah kembali ke kandang semua.”, ujar Lina. “Happi, besok-besok kalau manjat, ingat waktu ya nak. Ibumu ini ngak bisa manjat nyusulin kamu.”, tambahnya. (WET)

Page 10 of 17« First...89101112...Last »