OWI ESCAPE FROM FOREST SCHOOL

This is the development story of Owi the orangutan. Owi still a role model to Bonti and Happi the orangutans in the last 3 months. Owi the ‘Gang Boss’ recorded undergoing forest school as much as 36 times. The extreme weather that causes the school notes are not taken every day. The baby orangutans are still very frightened when they heard thunder and see lightning flashes.

Bringing Owi to the forest school always keeps animal keepers anxious. For several times Owi escaped during the forest school. This may be due to the location of the forest school which is indeed in controlled by Owi. Owi looks like to explore furher.

But… Bonti who always follow Owi wherever he goes, he held back Owi motion . Maybe that’s why, Owi run away. Tired of facing ‘follower’. In forest schools, the average height of the trees is 30 meters high. Owi usually climb up to the end of the tree. Maybe if the trees in the forest school reach to 100 meters, he will climb up to the tip too. What about the animal keeper watching him > Tucked in gratitude. Forgive us Owi. (Dhea_Orangufriends)

KABURNYA OWI DI SEKOLAH HUTAN
Ini adalah cerita perkembangan orangutan Owi. Owi masih menjadi panutan untuk orangutan Bonti dan Happi dalam 3 bulan terakhir ini. Owi si ‘Bos Geng’ tercatat menjalani sekolah hutan sebanyak 36 kali. Cuaca ekstrim yang menyebabkan catatan sekolah hutan tak setiap hari. Bayi-bayi orangutan ini ternyata masih sangat ketakutan saat mendengar halilintar maupun melihat kilat petir.

Membawa Owi ke sekolah hutan selalu saja membuat animal keeper was-was. Bagaimana tidak kawatir. Owi beberapa kali kabur saat sekolah hutan. Ini mungkin karena lokasi sekolah hutan yang memang sangat dikuasai Owi. Owi terlihat ingin menjelajah lebih jauh.

Tapi… Bonti yang selalu mengikuti Owi kemanapun dia pergi, membuat gerak Owi tidak leluasa. Mungkin itu juga sebabnya, Owi melarikan diri. Capek menghadapi ‘follower’. Di sekolah hutan, rata-rata ketinggian pohon 30 meter. Owi biasanya memanjat hingga ujung pohon. Mungkin kalau pohon-pohon di sekolah hutan mencapai 100 meter, dia akan memanjat sampai ujungnyanya juga. Bagaimana dengan para animal keeper yang mengawasinya? Terselip rasa syukur. Maafkan kami Owi. (WET)

BAMBOO CANE ENRICHMENT

When happi spends his time at the socialization enclosure, the animal keepers are making enrichment for him. These enrichment are to help the orangutans shows their natural instinct. Not only for making them busy, but also to avoid boredom and feeling stressed out being in a cage. Therefore, these bamboos-and-leaves-made enrichment are created for them.

Several kinds of Happi’s favorite fruits are inserted inside the bamboo cane. Guavas, papayas, bananas, and corns are diced, then put into the bamboo cane with a hole on the top of it, then sealed with leaves. And the keepers also add some honey to stimulates their sense of smell and taste bud so they are more excited when opening the bamboo cane.

In the end, Happi needed a quite long time opening the cane. He even asked for our help opening this bamboo enrichment. Perhaps he begins to feel desperate. Happi is in the same enclosure with Owi, Bonti and Pingpong, and they are started to work together. They take turns to smash the bamboo cane, working through the hole, extended their finger and mouth to reach the fruits inside until they finally get the prize.

Would you like to be his adopter? Find this link to adopting him https://www.orangutan.org.au/adoption/adopt/happi/?referrer_source=COP

ANTARA THREE MUSKETEER ATAU KEMBAR SRIKANDI

Judulnya memang terasa janggal, seolah mempertanyakan ada apa dengan sang tiga sekawan atau si duo lengket tak terpisahkan. Kenapa? Tiga sekawan yang dimaksud adalah kelompok anak-anak orangutan yang sangat kompak di COP Borneo yaitu Owi (2 tahun), Bonti (2 tahun) dan Happi (16 bulan).

Pada suatu hari yang cerah, mereka bertiga pergi ke sekolah hutan bersama si kecil Popi (9 bulan). Uniknya mereka bertiga sangatlah dekat, mungkin karena diletakkan pada satu kandang sosialisasi sehingga mereka sering berbagi waktu yang sama. Selain itu, usia mereka juga tidak terpaut begitu jauh.

Sekolah hutan adalah waktu yang ditunggu-tunggu sebab mereka bebas bermain di hutan hujan tropis. Mereka bisa menjelajah dari satu pohon ke pohon yang lain, menggigit kulit pohon, mencoba berbagai macam daun-daun, berguling-guling di tanah bahkan memanjat pilar-pilar hutan yang menjulang tinggi. Tiga sekawan ini pun terlihat kompak dengan saling berpelukan. Mereka saling berlomba untuk bermain dan mencari kesibukan di hutan. Di antara mereka bertiga, Happi lah yang paling pintar. Ya… dia cukup mandiri dan mampu membuat sarang sendiri di pohon. (A.Gasani_Orangufriends)

TUMBUH KEMBANG BAYI ORANGUTAN COP BORNEO

Siang ini, para animal keeper disibukkan oleh bayi-bayi orangutan di klinik COP Borneo. Posyandu… Posyandu… begitu kalau di desa. Pastikan membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Bayi akan diperiksa kesehatannya. Bagaimana tumbuh kembangnya. Berat badannya bertambah atau tidak, tingginya tetap atau tidak. Pola makan anak juga akan dievaluasi. Ya… hari ini adalah jawal pengecekkan tumbuh kembang bayi orangutan penghuni pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kurang lebih, hampir sama dengan aktivitas di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) seperti yang kita kenal.

Pendataan fisik terjadwal ini dengan keempat bayi orangutan. Popi, Happi, Owi dan Bonti siap untuk dievaluasi. Pengukuran data fisik orangutan biasanya dilakukan ketika orangutan pertama kali masuk ataupun keluar dari pusat rehabilitasi dan juga saat translokasi ataupun kebutuhan yang lain, demikian penjelasan drh. Ryan Winardi pada animal keeper.

Ini adalah pengalaman pertama Herlina dan juga Steven mengikuti pengukuran data fisik orangutan. Mereka berdua adalah animal keeper yang baru di COP Borneo. “Sangat menyenangkan, tapi… agak takut saat harus membuka mulut orangutan Happi untuk menghitung jumlah giginya.”, ujar Herlina, animal keeper yang baru bergabung sejak Juli 2017 yang lalu.

Gimana ngak takut, giginya lebih besar dari bayi manusia. Apala lagi mereka sering mendengar cerita animal keeper terdahulu yang selalu jadi sasaran gigitan bayi-bayi orangutan. “Gigitan bayi manusia aja sakit… apalagi bayi orangutan!”, ujar drh. Ryan sambil tersenyum.

Tidak seperti biasanya, bayi-bayi orangutan kali ini memberontak dan agak liar. Bahkan Popi yang biasanya diam saat di sekolah hutan, saat pendataan membutuhkan 3 orang perawat untuk menahannya. “Hari ini, kita butuh energi ekstra rupanya.”, ujar drh. Ryan. (WET)

HOW IS POPI DOING?

“I will cry if I couldn’t get off from the tree and immediately asleep if I’m tired of playing.”
Who else is it if it’s not Popi, the 11 months old baby orangutan.

Forest school must be the hardest thing for Popi. Because in forest school, Popi is forced to climb the tree. Wety, the baby sitter is going to scare Popi rattan if she isn’t quick enough to reach and climb the branches near her.

In other time Popi could quickly climb and also immediately climb down. The animal keeper have to keep their eyes on her and carry her to climb the tree again. The question is always who is stronger? The animal keeper that wants Popi on the trees or Popi that loves the ground?

The unique thing is that once she is having fun climbing, Popi would not really care about the height of the tree. Soon we would be able to hear her cry because she couldn’t climb down.

“If Popi is already too tired she will come down and join the animal keeper to the hammock and sleep hugging the Animal keeper.”, said Lina the Animal Keeper. Maybe her instinct is told her to sleep under the embrace of her mom, she must love the hug from her mother. Hearing her mother heartbeat and the rhythm of her mother breath makes her comfortable and fell immediately asleep.
“It is sad to think about how Popi belongs with her mom and how she must be missing her mother”, said Lina softly.

“It is not only Popi that frequently fell asleep in the Forest School. When orangutan Happi was 10 months old, she liked to sleep in the Forest School.”, said Danel, the coordinator of Animal Keeper.

Just like human, orangutan like to have an afternoon nap. Especially the babies have longer nap time. Even human babies could fall asleep when they are eating or talking, the same thing goes for Baby Orangutan. When the sleepiness came, wherever and whenever, they would be found sleeping. (Grace_Orangufriends)

APAKABAR POPI?
Akan menangis ketika tidak bisa turun dari pohon. Langsung tertidur ketika sudah lelah bermain. Siapa lagi kalau bukan Popi, si bayi orangutan yang kini berusia 11 bulan.

Sekolah hutan mungkin adalah hal terberat Popi. Karena di sekolah hutan, Popi dipaksa untuk memanjat. Wety, sang baby sister akan menakuti-nakutinya dengan duri rotan jika dia tak segera meraih dahan dan memanjat pohon terdekatnya.

Tak jarang, Popi pun langsung memeluk pohon, memanjatnya dan segera turun ke tanah. Animal keeper akan langsung membawanya naik ke pohon lagi. Siapa yang paling bisa bertahan… animal keeper yang menginginkan Popi di pohon, atau Popi yang lebih nyaman di tanah?

Uniknya, kalau Popi sudah asik memanjat, dia tidak akan peduli berapa tinggi dan berapa lama dia di pohon. Dan… kita akan mendengarkan tangisannya bahwa dia tak bisa turun tapi ingin turun. Hahaha… Popi… Popi.

“Popi kalau sudah capek akan turun dan menyusul animal keeper ke hammock… lalu tidur dalam pelukan.” ujar Lina, animal keper. Mungkin dia secara naluri, selalu tertidur dalam pelukan ibunya. Rasa nyaman berada dalam pelukan ibunya. Mendengarkan detak jantung ibunya. Dan merasakan hebusan nafas ibunya, membuatnya benar-benar nyaman hingga tertidur. “Sedih rasanya membayangkan arti ibu bagi Popi. Seharusnya Popi bersama ibunya.”, ujar Lina lirih.

“Tidak hanya orangutan Popi yang pernah tertidur di sekolah hutan. Dulu, ketika orangutan Happi berumur 10 bulanan, dia juga sering tertidur di tengah sekolah hutan.”, ujar Danel, koordinator animal keeper.

Seperti layaknya manusia, orangutan akan tidur siang. Khusus para bayi, dia membutuhkan waktu tidur lebih panjang lagi. Bahkan bayi manusia bisa tertidur saat dia makan atau saat kita baru saja mendengar celotehannya dan tiba-tiba sunyi senyap karena sang bayi ternyata sudah tertidur. Begitu pula bayi orangutan. Saat kantuk menyerang… dimana saja dan kapan saja… dia akan tertidur. (WET)

PERAHU WAY BACK HOME II, SIAP PAKAI

Perahu Way Back Home Pertama terlihat terlalu capek bekerja sendirian. Dalam satu hari saja, perahu yang didanai dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang digagas oleh orangufriends (kelompok pendukung COP) bisa berputar 4 sampai 5 kali pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Itu di luar kejadian luar biasa yang mengharuskan pulau turun ke sungai kembali.

Satu perahu untuk rilis orangutan yang akan dilakukan bulan depan juga tidak cukup. Itu sebabnya, kami membuat perahu lagi dan kami beri nama Way Back Home Kedua. Perahu ini akan membawa orangutan menuju rumahnya. Perahu ini juga yang akan mewujudkan mimpi untuk kembali pulang. Perahu ini juga bukti kepedulian banyak orang pada orangutan.

Saat ini, perahu berada di dermaga, siap untuk mengantarkan orangutan-orangutan pulang ke rumahnya. Dengan daya tampung perahu sebanyak 7 orang termasuk motoris (orang yang mengendalikan perahu) atau juga sebanding dengan 3 kandang angkut orangutan. Perahu ini memang lebih besar dari perahu terdahulu. Perahu ini dengan impian yang lebih besar.

Terimakasih The Orangutan Project yang telah membantu mewujudkan impian para orangutan. Para orangufriends yang tersebar di penjuru dunia, kalian adalah malaikat orangutan di COP Borneo. (WET)

PLAYING WITH LEAVES

Continue the story of Making Nest in the Cage. Not all orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center understand hoe to make nest. For example, orangutan baby in cages or socialization cage. From all baby orangutan, only Happi could make nest.
 
In average baby orangutan are separated from the mother when not even 10 month old. Surely, it is a very young age. In Age where, baby orangutans are very dependent with their mother. Even almost all of their time is spent in the parent embrace.
 
So what do these babies do when given leaves? “They just make the leaves as toys, nibble it or scattered them. Moreover Owi, although he is the biggest among Bonti and Happi, is the only one who has never made a nest,” said Danel, coordinator of animal keeper COP Borneo.
 
However, leaves enrichment is still the best enrichment for orangutans in COP Borneo enclosure 2. In the wild, the leaves are a companion for orangutans, the leaves are their primary requirement. And the leaves are not something that is hard to find in COP Borneo. “We just choose and arrange which tree leaves to be taken today,” explained Danel again.
 
Everyday, while being away from the forest school, leaves enrichment is a must-have for enclosure 2. “Initially, this might be a futile job. Put the leaves in the cage and then just scattered them,” said Danel. Whereas taking leaves and bringing it to the enclosure needs a struggle of its own. Not to mention the piling litter and cleaning the cage gets harder . “But we believe, with the passage of time, their instincts on the leaves will appear. Baby orangutans will learn from each other. Like Bonti who started imitate and learn from Happi how to make nest. “Danel become more excited, that nothing was in vain, no matter what effort he did. (Dhea_Orangufriends)

BERMAIN DAUN
Melanjutkan cerita sarang di dalam kandang. Tidak semua orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo mengerti cara membuat sarang. Contohnya saja, bayi orangutan yang berada di kandang 2 atau kandang sosialisasi. Dari semua bayi orangutan, hanya Happi yang bisa membuat sarang.

Rata-rata bayi-bayi orangutan ini terpisah dari induknya saat belum genap berusia 10 bulan. Pastinya, itu adalah usia yang sangat muda. Usia dimana, bayi orangutan sangat tergantung sekali dengan induknya. bahkan hampir seluruh waktunya dihabiskan dalam gendongan induknya.

Lalu apa yang dilakukan bayi-bayi ini saat diberikan daun? “Mereka hanya menjadikan daun-daun itu sebagai mainan, sekedar digigit-gigit atau dihambur-hamburkan. Apalagi Owi, walaupun dia paling besar di antara Bonti dan Happi, Owi adalah satu-atunya orangutan yang belum pernah membuat sarang.”, ujar Danel, koordinator animal keeper COP Borneo.

Tetapi, tetap saja enrichment daun adalah pengayaan terbaik untuk orangutan di kandang 2 COP Borneo. Di alam liar, daun adalah sahabat bagi orangutan, daun adalah kebutuhan utama mereka. Dan daun bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan di COP Borneo. “Kami tinggal memilih dan mengatur pengambilan pohon mana yang akan diambil daunnya hari ini.”, jelas Danel lagi.

Setiap hari, ketika sedang tidak sekolah hutan, enrichment daun adalah hal yang wajib diberikan untuk kandang 2 terutama. “Awalnya, mungkin ini seperti pekerjaan yang sia-sia. Menaruh daun di kandang lalu hanya dihamburkan begitu saja.”, kata Danel. Padahal mengambil daun dan membawanya ke kandang butuh perjuangan tersendiri. Belum lagi sampah menjadi lebih banyak dan membersihkan kandang jadi bertambah berat. “Tapi kami yakin, dengan berjalannya waktu, insting mereka pada daun akan muncul. Bayi orangutan satu dengan yang lainnya akan saling belajar. Seperti Bonti yang mulai belajar pada Happi cara membuat sarang.”, Danel pun menjadi lebih bersemangat, bahwa tak ada yang sia-sia, apapun usaha yang dilakukannya. (WET)

SHE IS LECI, THE LITTLE ONE WHOSE NOT SMALL AGAIN

Where is the orangutan? Who is she? There, on the tree! Seeing semi-wild orangutan from observed cams will be its own specialty. There are food fight, some choose to be alone, some prefer to observe or some can not be silent. This time. Leci was caught on a tree, looking at us watching her from across the island.
 
Leci is a small orangutan who enters the COP Borneo orangutan rehabilitation center when she’s 2 year old. Her tiny body was fragile to hold. Someone found her alone in the middle of a garden of Kebon Agung Village, Sangattam, East Kalimantan. Yes.. she is a very wild little one. Leci seems to have split up with her mother. She also looks still very scared. Maybe her mother died when she had to protect her. Baby orangutan will continue with the mother until the age of 6-8 years. During that time, her mother will nurture her. Not only breastfeeding but also teaching independent orangutans, choosing edible food, making temporary nest and permanent nests, climbing, swinging and even protecting themselves from predators.
 
“We are worried, Leci will become tame if it continues in the enclosure,” said Paulinus Kristanto. After going through the quarantine period by observing her health, Leci seems to be getting used to the presence of the animal keeper. “Jus in Two months, Leci was not afraid of humans anymore. It’s been her bad report”.
 
The plan to put Leci into a forest school did not go smoothly. How could we keep a wild orangutan? “We want to cry when Leci does not want to go down. She quickly disappeared. Pursuing small orangutans that are nimble and wild is not easy. Leci did not even want to go down at all. Swinging from one canopy to another and invisible in the thickness of the canopy. Enough… one time only she went to forest school. We cannot afford it, “ said the animal keeper.
 
After one year, this is Leci. Little Leci is not small anymore. But Leci remained wild. We will see how she was later. The time to be released again. Maybe she was inspect the escape route from this pre-release island. “Leci.. continue practicing ok!”, shout Reza Kurniawan, COP Borneo Manager eager.(Dhea_Orangufriends)

DIA ADALAH LECI, SI MUNGIL YANG TAK KECIL LAGI
Ada dimanakah orangutannya? Siapakah dia? Itu, di atas pohon! Melihat orangutan semi liar dari camp pantau akan jadi keasikan tersendiri. Ada yang rebutan makanan, ada yang memilih untuk menyendiri, ada yang lebih suka mengamati atau ada yang tak bisa diam. Kali ini, Leci tertangkap kamera sedang berada di atas pohon, memandang kami yang sedang mengamatinya dari seberang pulau.

Leci adalah orangutan mungil yang masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo saat dia berusia 2 tahun. Tubuh mungilnya saat itu sulit sekali untuk dipegang. Seseorang menemukannya sendirian di tengah kebun desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur. Ya… dia adalah si mungil yang sangat liar. Leci sepertinya baru berpisah dengan induknya. Dia juga terlihat masih sangat ketakutan. Mungkin induknya mati saat harus melindunginya. Anak orangutan akan terus bersama induknya hingga berusia 6-8 tahun. Selama itu, induknya akan mengasuhnya. Tidak hanya menyusui, tapi juga mengajari orangutan mandiri, memilih makanan yang bisa dimakan, membuat sarang sementara dan sarang permanen, memanjat, berayun bahkan melindungi dirinya dari pemangsa.

“Kami kawatir, Leci akan menjadi jinak jika terus di kandang.”, ujar Paulinus Kristanto. Selepas melalui masa karantina dengan mengobservasi kesehatannya, Leci terlihat mulai terbiasa dengan kehadiran animal keeper. “Dua bulan saja, Leci tak takut lagi dengan manusia. Ini jadi rapot buruknya.”.

Rencana memasukkan Leci ke sekolah hutan tak berjalan mulus. Bagaimana mungkin, kami menjaga orangutan liar? “Mau nangis kami, saat Leci tak mau turun. Dia dengan cepat menghilang. Mengejar orangutan kecil yang lincah nan liar bukanlah hal yang mudah. Laci bahkan tak mau sama sekali turun. Berayun dari satu kanopi ke kanopi yang lainnya. Dan tak terlihat dirimbunnya kanopi. Cukup… 1 kali saja dia masuk sekolah hutan. Kami tak sanggup.”, begitu kata animal keeper.

Setelah satu tahun, inilah Leci. Leci yang mungil tak kecil lagi. Tapi Leci tetap liar. Tinggal nanti bagaimana saat dia, waktunya untuk dilepasliarkan kembali. Mungkin dia sedang mengamati jalan melarikan diri dari pulau pra rilis ini. “Leci… latihan terus ya!”, teriak Reza Kurniawan, manajer COP Borneo bersemangat.

SHIKHANDI [SRIKANDI] TWIN IN COP BORNEO

Shikhandi [Srikandi] Twin or Bridegroom Twin is the nickname given to Owi and Bonti. Why is that? For they are inseparable, like a pair of real soul mates. Owi is a Male Orangutan while Bonti is a Female Orangutan. I can not deny the chemistry between them is very strong indeed. How possible, almost in every activity, both of them always hugging or never distance away from each other.
 
Where there is Owi, there is Bonti. Although their two personalities are far different, the brave Owi and the leader. While Bonti is greedy and nosy. If we tease Bonti, Owi always defends and position himself as a protector of Bonti. On the contrary if they were separated, Bonti always cried sadly. Seeing their activities and their behavior at Forest School always made me smile, two lively, affectionate and indivisible orangutans.  
 
Even at noon, Owi felt unwell and had to return to the cage, without being given a signal, Bonti immediately follow and carried by Amir, animal keeper to return to the enclosure. The emotional closeness between one orangutan and another is just like any other living thing and we are human. In Forest School, young orangutans who still need to study are given space to hone their natural talents, such as climbing, hanging, making nest and more. This will be useful to them when they are released back into the forest when they are ready. Let’s go to Forest School again!! (Dhea_Orangufriends)

KEMBAR SRIKANDI DI COP BORNEO
Kembar Srikandi atau kembar pengantin adalah julukan untuk Owi dan Bonti. Mengapa demikian? Sebab mereka tak terpisahkan, bagaikan sepasang belahan jiwa sejati. Owi adalah anak orangutan jantan sedangkan Bonti adalah anak orangutan betina. Saya tidak bisa menafikan chemistry di antara mereka memang sangat kuat. Bagaimana tidak, hampir di setiap kegiatan, mereka berdua selalu berpelukan atau tidak pernah berjarak jauh satu dengan lainnya.

Dimana ada Owi, di situ ada Bonti. Walaupun dua kepribadian mereka jauh berbeda, Owi yang pemberani dan pemimpin. Sedangkan Bonti yang rakus dan usil. Jika kita menggoda Bonti, Owi selalu bersikap membela dan memposisikan diri sebagai pelindung Bonti. Sebaliknya jika mereka dipisahkan, Bonti selalu menangis sedih. Melihat aktivitas dan polah mereka berdua di sekolah selalu membuat saya tersenyum, dua anak orangutan yang lincah, saling menyayangi dan tak terpisahkan.

Bahkan saat tengah hari, Owi merasa tidak enak badan dan harus kembali ke kandang, tanpa diberi aba-aba, Bonti langsung mengikut digendong oleh Amir, animal keeper untuk kembali ke kandang. Kedekatan emosional antara satu orangutan dan lainnya sama seperti makhluk hidup lainnya dan kita manusia. Di sekolah hutan, anak orangutan muda yang masih perlu belajar di beri ruang untuk mengasah bakat alamiahnya, seperti memanjat, bergelantungan, membuat sarang dan lainnya. Ini akan berguna bagi mereka saat dilepasliarkan kembali ke hutan saat mereka sudah siap. Ayo sekolah hutan lagi! (A.Gasani_Orangufriends)

CUTE LITTLE POPI

Today is the sunny clear day and a great time for forest school. All the forest school students are looking eager to leave, not to mention… Popi. After the cage is cleaned and breakfast, time to play and study in the jungle.
 
Popi is a female orangutans aged 9 months. Popi still lives in a cage at the Borneo Cop Clinic. Popi’s adorable and humorous behavior plus her spoiled attitude often make her reluctantly distant from me and other keepers. Popi preferred to be picked up and attached to us. It takes extra patience to persuade your little Popi to learn to climb trees. Every time we put her on a tree trunk, she just wants to climb a tree if we accompany her. Even if she climbs it, its only a few meters high and asked to climb down to be picked up. If we left her, Popi cried like a child feared to be left behind by her parents at school. Instead climbing on a tree, Popi preferred to be picked up and nibbled at the tree bark surrounding the forest school.
 
Although Popi still small, I found out that orangutan strength pretty amazing. The grip and bite are strong enough, beyond the bite of a small child. Like her other friends, Popi also nosy and like to bite us. If she upset, Popi is sulking and whining. Another case with her friends, if they’re upset they will bite or urinate while showing mocking facial expression. While asleep from exhaustion, Popi curled up and snored in the cot. Aftre the day before noon, Popi began to get excited and willing to walk on the ground, climbed into a tree and played with Happi.
 
Today, Popi looks very much enjoyed the forest school. Her innocent voice and expression kept us happy. Next time, dare to ride a tree and be more independent, OK Popi !!! (Dhea_Orangufriends)

POPI, SI KECIL YANG LUCU
Hari ini adalah hari yang cerah dan waktu yang tepat untuk sekolah hutan. Semua siswa sekolah hutan pun terlihat bersemangat untuk berangkat, tak terkecuali… Popi. Setelah kandang dibersihkan dan makan pagi, waktunya bermain dan belajar di hutan…

Popi adalah orangutan balita berjenis kelamin betina yang berusia 9 bulan. Popi masih tinggal di dalam kandang di klinik COP Borneo. Tingkah laku Popi yang menggemaskan dan lucu ditambah sikapnya yang manja sering membuatnya enggan jauh dari saya maupun keeper yang lain. Popi lebih suka digendong dan lekat dengan kami. Perlu kesabaran ekstra untuk membujuk si kecil Popi agar mau belajar memanjat pohon. Setiap kali kami menaruhnya di batang pohon, ia hanya mau memanjat pohon jika kita temani. Kalaupun dia naik, jarak panjatnya hanya beberapa meter saja dan langsung segera turun minta digendong. Jika ditinggal, Popi menangis layaknya anak kecil ketakutan ditinggal orangtuannya sekolah. Daripada naik pohon, Popi lebih senang digendong dan menggigiti kulit pohon di sekitarnya saat sekolah hutan.

Walaupun Popi masih kecil, ternyata saya baru mengerti bahwa kekuatan orangutan itu luar biasa. Cengkraman dan gigitannya cukup kuat, melebihi gigitan anak kecil. Seperti teman-temannya yang lain, Popi pun suka usil dan menggigit kami. Jika sedang kesal, Popi bisa ngambek dan merengek. Lain halnya dengan teman-temannya, jika sedang kesal mereka menggigit ataupun mengencingi sambari menunjukkan ekspresi wajah mengejek. Sewaktu tertidur karena kecapean, Popi meringkuk dan mendengkur di ranjang gantung. Setelah hari menjelang cukup siang, Popi mulai bersemangat dan mau berjalan di tanah, naik ke pohon dan bermain dengan Happi.

Hari ini, Popi terlihat sangat menikmati sekolah hutan. Suara dan ekspresinya yang polos tak henti-hentinya membuat kami pun bahagia. Lain kali, lebih berani naik pohon dan lebih mandiri ya Popi!!! (A.Gasani_Orangufriends)

Page 10 of 16« First...89101112...Last »