HAPPI MEREBUT SARANG BONTI

Mengamati perkembangan anak setiap hari akan sangat mencengangkan. Anak berkembang sesuai usia dan rangsangan yang ada di sekitarnya. Jika kemarin dia lebih suka bermain dengan dirinya sendiri, keesokan harinya mungkin saja dia akan lebih senang bermain dengan teman-temannya. Tak terkecuali, anak orangutan.

Happi, orangutan yang berusia 4 tahun, tahun lalu menjadi idola para animal keeper. Kemampuannya membuat sarang dimana orangutan seusianya bahkan lebih tua darinya yang saat itu berada di kelas sekolah hutan belum ada yang bisa membuat sarang, benar-benar membuat kagum para animal keeper. Insting yang yang dimiliki Happi saat itu berhasil membuat sarang yang cukup untuknya. Diam-diam orangutan Bonti mengamatinya dan meniru cara membuat sarang. Kini, Bonti membuat sarang lebih besar dan kokoh, sementara Happi menempati sarang Bonti begitu saja.

Jika dulu Bonti belajar dari Happi, sekarang Happi yang belajar dari Bonti. Memang usia Bonti saat ini 5 tahun, setahun lebih tua dari Happi. Andai saja mereka masih bersama induknya, tentu mereka akan jauh lebih mandiri. Ibunya adalah guru terbaik yang pernah ada. Ikatan ibu dan anak pada orangutan bahkan sangat erat. Anak orangutan akan dalam pengasuhan induknya hingga usia 6-8 tahun. Selama itu pula, induk tidak akan meninggalkan anaknya, bahkan tidak untuk bertemu jantan lain. Itulah yang menyebabkan perkembangbiakan orangutan menjadi begitu lambat.

BONTI AND ANNIE ARE THE MOST DIFFICULT TO HANDLE IN ORANGUTAN POSYANDU

There are 6 small orangutans in the school forest. They are Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie and Jojo. Their behaviour development are always being monitored through daily journal, including their physical development. Every month in the 2nd week, COP Borneo orangutan rehabilitation centre holds an “Orangutan Posyandu”. The small orangutans will be weighed and measured in height. Dental and overall health examination will also be carried out.

“It’s different from human children, who has mother and caretaker to answer precisely about their name, date of birth or their medical history. While orangutans, age determination can be made by examining and calculating their number of teeth,”, said drh. Felisitas Flora.

Among the 6 orangutans who attend the forest school, Bonti and Annie are the 4-5 years old orangutans. “The mischievous age”, Wety Rupiana, coordinator of the COP Borneo rehabilitation centre, interrupted. If other small orangutans are easily to be measured and examined, these two are not. Both of them are the most difficult to be taken to the Orangutan Posyandu. Neither did they want to extent their arms and legs to be measured. They also didn’t want to open their mouths at all. and they were always trying to escape.

There’s no other way to deal with the two orangutans, Bonti and Annie, to be examined. The most effective ways to make them open their mouth, that is tickling their armpits and neck, was no longer working for them. “Maybe they’re embarrassed because they are old…”, said Flora with laugh. (SAR)

BONTI DAN ANNIE PALING SULIT DI POSYANDU ORANGUTAN
Ada enam orangutan kecil yang mengikuti kelas sekolah hutan. Mereka adalah Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie dan Jojo. Perkembangan perilaku mereka selalu terpantau melalui catatan harian termasuk juga perkembangan fisiknya. Setiap bulan di minggu kedua, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo menggelar “Posyandu Orangutan”. Para orangutan kecil akan ditimbang dan diukur tinggi badannya. Tak luput juga pemeriksaan gigi serta kesehatan secara menyeluruh.

“Tidak sama seperti anak manusia, ada ibunya atau pengasuhnya yang bisa menjawab dengan pasti, nama maupun tanggal lahirnya bahkan sekilas riwayat kesehatannya. Sementara orangutan, penentuan usia dapat dilihat dari pemeriksaan dan penghitungan jumlah gigi.”, ujar drh. Felisitas Flora.

Dari keenam orangutan yang mengikuti kelas sekolah hutan, Bonti dan Annie adalah orangutan berusia 4-5 tahun. “Usia nakal-nakalnya itu.”, sela Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo. Jika anak orangutan yang lain bisa dengan cepat dilakukan pengukuran dan pemeriksaan, berbeda dengan keduanya. Keduanya paling susah diajak ke Posyandu Orangutan. Keduanya pula tidak mau mengulurkan tangan dan kakinya untuk diukur. Untuk membuka mulut pun keduanya tidak mau sama sekali. Dan mereka berdua selalu berusaha kabur.

Tak ada cara lagi untuk mengatasi kedua orangutan, Bonti dan Annie agar mau diperiksa. Cara paling ampuh dengan mengelitik bagian ketiak dan leher pun sudah tak berlaku lagi buat mereka. “Mungkin mereka malu karena sudah tua…”, kata Flora sambil tertawa. (FLO)

GILIRAN UNTUNG UNTUK KEMBALI KE RUMAH

Dia adalah Untung, orangutan yang beruntung walau dengan jari yang tidak sempurna mampu bersaing di kelas pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Untung di tahun 2011 saat Centre for Orangutan Protection mengajaknya pertama kali ke sekolah hutan, Untung terlihat ketakutan, tubuhnya bergetar memeluk dahan. Terlihat rasa percaya dirinya yang sangat porak poranda. Dengan telaten, staf COP menemaninya, berbicara dengan suara rendah dan membelai punggungnya dengan lembut. Saat sekolah hutan berikutnya, Untung harus meraih buah-buahan sebagai makanannya di antara dahan. Rasa laparnya menuntunnya meraih pisang. Saat itulah, kami yakin, kelak Untung akan kembali ke habitatnya.

Hampir delapan tahun berlalu. Bolak balik ke luar kandang mengajarkannya, saat seseorang dengan pipa panjang mendekatinya, sebaiknya dia menghindar. Dia pun akan segera mengeluarkan suara untuk mengusir. Dan saat kita bertatapan, dia pun melihat kita dengan kebencian. Untung semakin meliar.

Pulau pra rilis orangutan adalah sebuah pulau yang dibatasi oleh sungai. Pulau mutlak dikuasai oleh orangutan-orangutan kandidat pelepasliaran. Hanya pada saat pagi dan sore hari, para animal keeper akan berlabuh sesaat di dermaganya untuk meletakkan makan pagi dan sore sebagai tambahan dari makanan yang sudah tersedia secara alami di pulau. Sikap galak Untung pun tanpa terkecuali, dengan galak dia berekspresi, mengusir para animal keeper yang bertugas.

“Syukurlah, Untung berhasil pada tahapan ini. Persiapan untuk pelepasliarannya pun sudah dimulai.”, jelas Jhony, koordinator animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Untung akan menjadi orangutan kedua yang pernah di kebun binatang dan masuk pusat rehabilitasi COP Borneo untuk dilepasliarkan. COP Borneo telah berhasil dengan orangutan Oki, orangutan dari Kebun Raya Unviversitas Mulawarman, Samarinda. Kini giliran Untung!

TIDY UP THE TREES AROUND THE ORANGUTAN CAGES

The lush trees at the orangutan rehabilitation centre of COP Borneo, Berau, East Kalimantan, make it hard for sunlight to break into orangutan cages. Though sunlight is very necessary in managing air humidity, especially in the enclosure of COP Borneo. Finally, the team scheduled to trim the branches that block the sunlight from reaching the cage.

Jevri and Amir, two animal keepers who are masters in climbing 15 meters high trees at the school forest, were tasked with trimming the branches. With agility, both of them reached the end of the tree and effortlessly cut the sticky branches. After taking care of the twigs of one tree, they headed to another tree. Instead of going down and climb another, they were crossing over through branches as the bridge. Very similar to orangutans, just not swinging. “So that’s why all the forest school students are so good at climbing and moving from one tree to another.”, said drh. Felisitas Flora. Indeed, one of the added values for animal keeper at COP Borneo is being good at climbing.

COP Borneo orangutan rehabilitation center is the one and only rehabilitation centre founded and run by Indonesian young generation. Even most of people who run the rehab centre of COP Borneo are the local people who live in Merasa village, Berau, the nearest village to the centre. You can support the orangutan protection through kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

MERAPIKAN POHON DI SEKITAR KANDANG ORANGUTAN
Rimbunnya pepohonan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur membuat cahaya matahari sulit menerobos kandang orangutan. Padahal sinar matahari sangat diperlukan agar udara tidak terlalu lembab terutama di kandang orangutan pusat rehabilitasi COP Borneo. Akhirnya, tim mengagendakan untuk memangkas ranting-ranting yang menghalangi sinar matahari sampai ke kandang.

Biasanya, Jevri dan Amir, dua animal keeper yang menjadi andalan dalam memanjat pohon yang tingginya sekitar 15 meter pada saat sekolah hutan berlangsung kali ini bertugas merapikan ranting-ranting. Dengan lincah, keduannya sampai ke ujung pohon dan tanpa kesulitan memotong ranting-ranting yang menjulur. Selesai mengurus ranting di satu pohon, mereka pun menuju ke pohon yang lain. Tidak turun ke tanah malainkan melalui dahan yang menjadi jembatannya. Sangat mirip dengan orangutan, hanya saja tidak berayun. “Wjar saja, siswa sekolah hutan yang diasuh selama ini sangat pandai memanjat dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.”, ujar drh. Felisitas Flora. Memang, salah satu nilai tambah untuk animal keeper di COP Borneo adalah pandai memanjat.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan dan dijalankan oleh putra-putri Indonesia. Sebagian besar yang menjalankan pusat rehabilitasi bahkan orang lokal yang bertempat tinggal di desa terdekat yaitu desa Merasa, Berau. Kamu pun bisa mendukung perlindungan orangutan melalui kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

WHEN ANNIE DISAPPEARED AND KEEPERS WERE BUSY LOOKING FOR HIM

The absence of Annie at the forest school means that Jhonny the animal keeper is off from work. The average students of the forest school class will attend the class for 20 days a month. The other 10 days will be spent in the cage with various enrichment due to heavy rain or when the keeper is on day-offs.

After a day-off from forest school, Annie is usually more enthusiastic about the class. Annie chose his tree and nightmare was inevitable. Annie disappeared from Jhonny’s sight. Jhony then asked for help from other keepers. If the student of forest school disappeared from animal keeper’s sight, usually by calling the orangutan’s name, they will notify their position to the keepers by breaking the twigs or shaking the leaves. But this time was different. Annie was silent, hiding and letting the animal keeper confused looking for him.

Turned out, Annie was climbing the big, tall tree that day. When he was tired of playing on the tree, he went down and sought Happi to get away from the forest school location. Jhonny was almost getting a heart attack, though he had just turned his attention away from Annie for a moment and watched Popi that didn’t want to do anything. “Annie!!! Please if someone calls you, you have to notify ok!”, said Jhonny furiously. (SAR)

SAAT ANNIE MENGHILANG DAN KEEPER SIBUK MENCARI
Tak ada Annie di sekolah hutan, itu berarti, Jhonny si animal keeper pilihannya sedang libur. Rata-rata siswa kelas sekolah hutan akan hadir di kelas untuk 20 hari dalam satu bulan. Sepuluh hari lainnya, mereka habiskan di kandang dengan enrichment yang bervariasi karena hujan deras atau saat keeper sedang libur.

Setelah hari libur dari sekolah hutan, biasanya Annie lebih bersemangat untuk kelas ini. Annie memilih pohonnya. Dan mimpi buruk pun tak terhindarkan. Annie hilang dari pantauan Jhonny. Jhonny pun meminta bantuan para animal keeper yang lainnya. Jika para siswa sekolah hutan hilang dari pantauan animal keeper, biasanya dengan memanggil namanya orangutan tersebut, orangutan yang dipanggil akan memberitahukan keberadaannya dengan mematahkan ranting atau menggoyang-goyangkan daun. Namun berbeda dengan Annie. Annie diam, bersembunyi dan membiarkan animal keeper bingung mencarinya.

Ternyata, Annie memanjat pohon yang besar dan tinggi hari itu. Ketika dia sudah bosan bermain di atas pohon, dia akan turun ke tanah lalu mengajak orangutan Happi untuk menjauh dari lokasi sekolah hutan. Hampir saja jantung Jhonny copot, padahal dia baru saja sesaat memalingkan perhatiannya dari Annie karena Popi lagi tidak mau ngapa-ngapain. “Annie!!! Kalau kamu dipanggil kamu harus kasih tahu ya!”, ujar Jhonny gemas.

JOJO IN COP BORNEO FOREST SCHOOL

We haven’t heard about Jojo for a long time. Jojo is a baby orangutan who entered COP Borneo orangutan rehabilitation center in April 2018. Jojo must take a long and extra care medical check-up process. From the prior examination, Jojo was declared to have hepatitis. After going through PCR testing, hepatitis suffered by Jojo is hepatitis of orangutan strain. Thus, the medical team allowed Jojo to enter the forest school.

Do you still remember when you entered school for the first time? Afraid? Confused? Feeling alone? That is what Jojo experienced, an orangutan who finally got his chance into the COP Borneo forest school. Jojo sat on the ground, playing alone while sweeping dry leaves with his hands. Then, other orangutans are interested in the new orangutan they just met. Curiosity starts from just staring, then continue with touching even biting. Jojo also experienced that. Other orangutan babies such as Owi, Bonti, Happi, Popi and even Annie, who were still just entering the forest school, joined in.

“Come on Jojo, you can do it. Adapt quickly. Be wild, remember your time with your mother”, said Joni with full hope. Jojo will continue to be accompanied by an animal keeper until he can adjust to other baby orangutans. “Hopefully it doesn’t take too long. Every orangutan has a unique way. It cannot be determined the length of time needed for each orangutan to achieve certain abilities. But proper stimulation can speed up the process”. (IND)

JOJO DI KELAS SEKOLAH HUTAN COP BORNEO
Lama tidak mendengar kabar dari Jojo, bayi orangutan yang masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bulan April 2018 yang lalu. Pemeriksaan kesehatan yang panjang dan ekstra teliti harus dijalani Jojo. Hasil pemeriksaan di awal, Jojo menderita Hepatitis. Dan setelah melalui pengujian PCR, Hepatitis yang diderita Jojo adalah strain orangutan, akhirnya tim medis mengijinkan Jojo masuk kelas sekolah hutan.

Masih ingatkah saat kamu masuk sekolah pertama kali? Takut? Bingung? Merasa sendirian? Seperti itulah yang dialami Jojo, orangutan yang akhirnya bisa masuk kelas sekolah hutan COP Borneo. Jojo duduk di tanah, bermain sendiri sambil menyapu-nyapu daun kering dengan tangannya. Dan orangutan lain pun tertarik dengan orangutan yang baru mereka temui. Rasa ingin tahu itu mulai dari hanya menatap, lalu menyentuh bahkan menggigit. Jojo pun mengalami itu, bayi-bayi orangutan lain seperti Owi, Bonti, Happi, Popi bahkan Annie yang juga masih baru masuk kelas sekolah hutan, ikut menganggunya.

“Ayo Jojo, kamu pasti bisa. Cepatlah beradaptasi. Kembalilah liar, ingatlah masa-masa mu bersama indukmu.”, ujar Joni penuh harapan. Jojo akan terus didampingi animal keeper hingga dia bisa menyesuaikan diri dengan bayi orangutan lainnya. “Semoga tidak memakan waktu terlalu lama. Setiap orangutan punya cara yang unik. Sehingga tidak bisa ditentukan waktu yang dibutuhkan setiap orangutan untuk mencapai kemampuan tertentu. Tapi stimulasi yang tepat dapat mempercepat sebuah proses. (JON)

RELEASING NOVI AND LECI IN THIS NOVEMBER

There was no dramatic moment when the former rehab orangutans of COP Borneo were released. No orangutan hugged his nurse to say goodbye. Nor does anyone come down to give a flower as orangutans do to conservation experts. Everything was fast and spontaneously. When we release orangutans from the cage, there are only two possibilities: Jump and climb trees as high as possible and then disappear or attack people.

November 3rd is a thrilling day for the Center for Orangutan Protection family. This was our second orangutan release after a year earlier. In 2017, we released orangutan from the zoo, named Oki. Oki managed to make an achievement as an orangutan who used to live behind bars and could go back wild. Now, Novi and Leci also get their chance to return to their habitat.

Novi, previously kept under a house with chains around his neck. In April 2015, Novi was rescued from Kongbeng, East Kalimantan. His body was so small because of lack of nutrition, as he did not eat proper food for orangutans. At that time, Novi made friends with dogs.

While Leci is a wild agile orangutan who lost his mother in the middle of a field. How were Novi and Leci when their cage doors were lifted? (IND)

MELEPAS NOVI DAN LECI DI AWAL NOVEMBER
Tidak ada momen yang dramatis pada saat orangutan mantan pusat rehabilitasi COP Borneo dilepasliarkan. Tidak ada orangutan yang memeluk perawatnya untuk berpamitan. Pun tidak ada yang turun memberikan sekuntum bunga seperti yang dilakukan orangutan ke para pakar konservasi. Semuanya akan berlangsung cepat dan waspada. Orangutan yang dilepaskan dari kandang, kemungkinannya hanya dua. Langsung melompat dan memanjat pohon setinggi mungkin dan lalu menghilang atau menyerang orang – orang.

3 November menjadi hari yang mendebarkan keluarga Centre for Orangutan Protection. Walaupun ini adalah pelepasliaran orangutan kedua setelah setahun sebelumnya, orangutan mantan dari kebun binatang berhasil dilepasliarkan. Orangutan Oki namanya. Oki berhasil mengukir prestasi sebagai orangutan yang terbiasa tinggal dibalik jeruji besi dan bisa kembali liar. Kini, orangutan Novi dan Leci mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya.

Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu mengalungi lehernya hingga meninggalkan bekas akan mendapatkan kebebasannya. April 2015, Novi diselamatkan dari Kongbeng, Kalimantan Timur. Tubuhnya kecil karena kurang gizi, dia dipelihara dengan makan makanan yang bukan makanannya. Saat itu, Novi bertemankan anjing.

Sementara Leci, adalah orangutan lincah nan liar yang kehilangan induknya di tengah ladang buah. Bagaimana Novi dan Leci saat pintu kandang diangkat?

BELIKAN MESIN KETINTING DONK!

Orangutan yang berada di pulau adalah orangutan yang siap dilepasliarkan. Mereka adalah orangutan-orangutan yang sedang belajar mandiri tanpa ikut campur tangan manusia. Tapi keterbatasan pakan alami yang berada di pulau, menjadwalkan tim Pos Pantau untuk mengirim makanan pada pagi dan sore hari. Ini dilakukan untuk terus mengawasi keberadaan dan perkembangan orangutan yang berada di pulau pra-rilis.

Patroli berkala dalam satu hari dilakukan dengan menggunakan perahu bermesin atau sering juga disebut ketinting. Tapi sayang, perahu ‘way back home’ terus menerus mengalami kebocoran. Mungkin karena usia dan penggunaan tanpa henti untuk kirim pakan dan patroli. “Sudah satnya beli yang baru. Tapi tim masih berusaha menambalnya, karena harga perahu yang cukup mahal.”, ujar Danel, asisten Logistik pusat rehabilitasi COP Borneo.

Tak hanya perahu/ketinting yang mengalami kerusakan. Mesin yang menggerakkan perahu pun kembali rusak. Tim pos pantau tak kehilangan akal. Utak-atik mesin dilakukan. Dua mesin dari berbeda tahun yaitu pembelian mesin 2015 dan mesin tahun 2017 disulap menjadi satu mesin yang bisa digunakan. “Senang sekali, kedua mesin rusak bisa menghasilkan satu mesin yang bisa mengantarkan pakan orangutan ke pulau pra rilis orangutan.”, ujar Danel lagi.

Tapi apa daya, sebulan kemudian, mesin pun kembali bermasalah. Kali ini ring pistonnya yang diganti. Jika mesin ketinting benar-benar tidak bisa digunakan seperti kemarin, tim terpaksa menyewa mesin ke warga. Tentu saja ini sangat menghambat aktivitas. Bantu pusat rehabilitasi COP Borneo beli mesin ketinting yang baru yuk. Donasi bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Terimakasih…

THE ‘WAY BACK HOME’ BOAT IS BADLY BROKEN

The APE Defender Team has tried to survive with a leaky boat for the past 4 months. Various efforts have been made. We were patching it with adhesive glue and cloth, but the leakage appears again at the other parts.

The boat is almost two years old now.  With high usage around the orangutan island, we strongly need a new boat soon. “At midnight, we also have to check the island. It is exhausting to frequently check the water that enters the boat. If we did not remove the water from the boat, the boat will sink with the engine” said Daniel, who is in charge of all vehicles at the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

The ‘Way Back Home’ boat is the operational vehicle for the COP Borneo orangutan island. The boat is purchased from the benefits of Sound For Orangutan music charity or often called SFO. It is the greatest gift from the hard work of Orangufriends, COP support group. This music charity will also be held on Monday, October 29, 2018 in Yogyakarta. (IND)

PERAHU ‘WAY BACK HOME’ RUSAK PARAH

Tim APE Defender mencoba bertahan dengan perahu yang bocor selama 4 bulan terakhir ini. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari menambalnya dengan lem perekat dan kain, namun muncul lagi kebocoran di bagian yang lain.

Usia perahu yang hampir dua tahun ini dengan penggunaan yang tinggi di sekitar pulau orangutan menuntut untuk segera ada perahu baru lagi. “Saat tengah malam, kami pun harus mengecek keberadaan pulau, karena kalau tidak dicek dengan menguras air yang masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam bersama mesin perahu..”, ujar Daniel, penanggung jawab kendaraan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Perahu ‘Way Back Home’ adalah kendaraan operasional pulau orangutan COP Borneo. Perahu yang dibeli dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan atau sering disebut juga SFO merupakan kerja keras orangufriends, kelompok pendukung COP. Acara musik ini pun akan digelar Senin, 29 Oktober 2018 di Yogyakarta.

BONTI IS NOT OWI’S FOLLOWER ANYMORE

Every month, the development of orangutans is evaluated. Small changes are often given by the COP Borneo team in East Kalimantan can find the right formula to deal with the rehabilitated orangutans. Like Bonti orangutan, the first semester of 2018 still showed his dependence on Owi orangutan. Therefore, in the second semester, Bonti and Owi were not in one cage anymore.

Bonti who always follows wherever Owi goes and whatever Owi does, now not anymore. As he arrived at the forest school, Bonti would immediately climbed the tree without waiting for Owi. Bonti was even more confident to play alone up in the tree. Bonti, an orangutan who has succeeded made his nest by watching Happi orangutan, increasingly shows his abilities.The nests he made is getting better and better. Even Happi became curious and often approached Bonti. And if this happens, Bonti would give in and leave because Happi occupied the nest Bonti made.

Yup… Bonti is no longer Owi’s loyal follower. Then what will Owi does without Bonti? Will Bonti be the best orangutans at the end of 2018? What are your wishes at the end of 2018? (SAR)

BONTI BUKAN FOLLOWER OWI LAGI
Setiap bulan, perkembangan orangutan dievaluasi. Perubahan-perubahan kecil pun sering diberikan agar tim yang menjalankan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur ini bisa menemukan formula yang tepat untuk menghadapi setiap orangutan yang ada. Seperti orangutan Bonti yang semester pertama tahun 2018 ini masih menunjukkan ketergantungannya pada orangutan Owi. Sehingga pada semester keduanya, Bonti dan Owi tidak berada dalam satu kandang lagi.

Bonti yang selalu mengikuti kemana pun Owi pergi dan mengikuti apapun yang dilakukan Owi, kini tak lagi. Ketika sampai di sekolah hutan, Bonti akan langsung memanjat pohon tanpa menunggu Owi lagi. Bonti pun semakin percaya diri untuk bermain sendiri di atas pohon. Bonti, orangutan yang berhasil membuat sarang dengan memperhatikan orangutan Happi semakin menunjukkan kemampuannya. Sarang buatannya semakin lama semakin baik. Bahkan Happi menjadi penasaran dan sering mendekati Bonti. Kalau sudah begini, Bonti pun mengalah pergi karena Happi pun menempati sarang buatannya Bonti ini.

Ya… Bonti sudah tidak menjadi follower setianya Owi lagi. Lalu apa yang dilakukan Owi tanpa Bonti ya? Akankah Bonti menjadi orangutan terbaik di akhir tahun 2018 ini? Apakah harapanmu di akhir 2018 ini?

Page 1 of 1812345...10...Last »