PAINTING ORANGUTAN CAGES AT COP BORNEO

Since 2015, the cages for orangutan in orangutan rehabilitation center have not been repainted. Just several times fixing the rusted iron by replacing and welding it. At first, the keepers were planning to just paint the cage pole. But turned out, the entire cage were repaint.

Danel, amir, Steven, with the help of two volunteers started the cage maintenance. “Regular cage maintenance is important. While painting, we could pay attention to which part needs improvement. Repainting can also inhibits the rusting of iron. ” said Amir

“Coincidentally, quarantine cages are empty, because the orangutan release candidates are on the orangutan sanctuary island. So, the orangutan who live in the cage that are being repainted will be moved within a few weeks until the paint dries and the smell of it is gone.” added Steven.

We understand that the funds that come to orangutan rehabilitation center are from many people’s donation. That’s why we use the money so carefully. We did the repainting activity by ourselves without the help of workman to save the money, and of course without disrupting orangutan’s schedule to go to the forest school as well. (SAR)

PENGECATAN KANDANG ORANGUTAN DI COP BORNEO
Sejak tahun 2015, kandang untuk orangutan di pusat rehabilitasi orangutan belum pernah dicat ulang. Beberapa kali hanya membetulkan besi-besi yang keropos dengan menggantinya dan mengelas. Awalnya, para karyawan berencana untuk mengecat tiang kandang saja. Tapi nyatanya, seluruh kandang dicat ulang.

Danel, Amir, Steven dengan bantuan dua relawan memulai perawatan kandang ini. “Perawatan berkala sangat penting. Sambil mengecat, kami bisa memperhatikan bagian-bagian yang memerlukan perbaikan. Pengecatan ulang juga bisa menghambat pengeroposan besi-besi kandang.”, ujar Amir.

“Kebetulan, kandang karantina kosong, karena orangutan yang akan dilepasliarkan dipindahkan ke pulau orangutan. Jadinya, orangutan penghuni kandang yang sedang dicat ulang akan pindah dalam beberapa minggu sampai bau cat hilang dan cat mengering.”, tambah Steven menjelaskan.

Kami memahami dana yang sampai di pusat rehabilitasi adalah donasi dari banyak orang. Itu sebabnya kami menggunakan dana tersebut dengan hati-hati sekali. Pengecatan seperti ini kami lakukan sendiri tanpa memanggil tukang untuk menghemat pengeluaran, tentu saja dengan tidak menganggu jadwal orangutan ke kelas sekolah hutan. (WET)

KARANTINA TAK MEMBUAT LECI JINAK

Leci mematah-matahkan ranting dan mengeluarkan suara saat mengetahui ada teknisi (orang yang bertugas merawat orangutan di pulau orangutan COP Borneo) yang datang membawa buah. Itu adalah cara Leci kecil menunjukkan wilayah teritorialnya.

Di pulau pra-rilis, Leci memang orangutan yang paling kecil diantara yang lainnya. Tetapi dari segi kemampuan dan kepintaran, Leci berani disejajarkan dengan orangutan Novi yang jauh lebih besar darinya.

Sudah seminggu Leci di pulau pra-rilis, setelah lima bulan di kandang karantina. Dia tidak kehilangan naluri alaminya seperti mencari makan dan juga membuat sarang untuk istirahat. “Kalau dulu Leci sering menumpang tidur di sarang orangutan yang lain, kini Leci sudah berani tidur sendiri di sarangnya dan biasanya sarangnya masih dekat dengan sarang orangutan lainnya.”, ujar Idham, teknisi pos pantau pulau orangutan COP Borneo. (WET)

THIS MORNING DRAMA WITH POPI

Just like our kids who just got into school, there are times when they don’t want to separate from us. Woke up late, took a bath and had breakfast along with cries and in the end didn’t want to separate from you when you had arrived at the school gate. What a full of drama morning!

Popi, the orangutan baby is just like that. This morning after breakfast in the cage, Popi was carried out to the forest school. Oh no!!! She grasped even tighter when we arrived at the forest school. And her eye looks was… Who have the heart to force her to climb the trees?

It’s not too cold this morning, even the weather is at its best. But what can i do, Popi the orangutan baby who has been in orangutan rehabilitation center COP Borneo since her umbilical cord cut, doesn’t loosen her arms a bit. Popi had to lose her mother. Her mother subtitute is only her keeper who is currently held tight by her. (SAR)

DRAMA PAGI INI BERSAMA POPI
Seperti anakmu yang baru saja masuk sekolah. Ada kalanya tidak ingin berpisah darimu. Bangun terlambat, mandi dan sarapan diselingi tangisan dan akhirnya tidak mau lepas darimu saat sudah tiba di gerbang sekolah. Pagi yang penuh drama!

Popi, bayi orangutan ini pun seperti itu. Pagi ini usai sarapan di kandang, Popi digendong untuk ke sekolah hutan. Oh tidak!!! Pelukannya semakin erat saat tiba di sekolah hutan. Dan tatapan matanya… Tegakah memaksanya untuk memanjat pohon?

Pagi ini tidak terlalu dingin, bahkan cuaca sedang enak-enaknya. Tapi apa daya, Popi, bayi orangutan yang sejak pupak tali pusarnya sudah berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ini tak juga mengendurkan pelukannya. Popi harus kehilangan induknya. Induk penggantinya, ya si penjaganya yang saat ini dipeluknya dengan erat saat ini.

Peluk Popi yuk… dengan terus menyumbang. Popi sama seperti anak-anak kita, yang punya mimpi untuk kembali liar ke habitat aslinya.

WELCOME BACK TO ORANGUTAN ORANGUTAN ISLAND

After being in quarantine cage for 5 months, the four orangutan release candidates are now back to the orangutan island. The return aims for the orangutan to get used to their natural characters before release. Those four candidates had gone through the last rehab process before return back to their original home, the rainforest of East Borneo.

Leci, Unyil, Untung, and Novi are the four lucky orangutans this year. “Transfering without anesthesia turned out to be quite difficult. These  four orangutans are already on wild stage, the animal keeper couldn’t avoid getting bitten by orangutan and got injured.”, said Rian Winardi, vet of COP.

Transportation from quarantine cage to the island was taken for 1 hour. This time the transfer was done very carefully so that the orangutans wouldn’t got stressed during the trip. As they came to the island,  and shortly after transportation cage was opened, the orangutans immediately ran towards the nearest trees. “That was a happy moment, looking at the orangutans climbing trees of their choice, in orangutan sanctuary island.” (SAR)

SELAMAT DATANG KEMBALI DI PULAU ORANGUTAN
Setelah berada di kandang karantina selama 5 bulan, kini keempat kandidat orangutan pelepasliaran dikembalikan ke pulau orangutan. Pengembalian ini untuk membiasakan kembali sifat alami orangutan sebelum dilepasliarkan. Keempat kandidat tersebut telah menjalani proses terakhir sebelum dikembalikan ke rumah aslinya, hutan hujan Kalimantan.

Leci, Unyil, Untung dan Novi adalah keempat orangutan yang beruntung tahun ini. “Pemindahan tanpa bius ini ternyata cukup sulit. Keempat orangutan ini sudah pada tahap liar, animal keeper tak luput dari gigitan orangutan dan mengalami luka-luka.”, ujar Rian Winardi, dokter hewan COP.

Transportasi dari kandang karantina ke pulau orangutan ditempuh selama satu jam. Pemindahan kali ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar orangutan tidak mengalami stres selama perjalanan. Sesampai di pulau, dan sesaat setelah kandang transport dibuka, orangutan pun langsung berlari menuju pepohonan terdekat. “Itu adalah momen yang membahagiakan, melihat orangutan kembali memanjat pohon pilihannya, di pulau orangutan.”. (RYN)

HERCULES GOT INTO QUARANTINE

Hercules, a 16 years old orangutan is finally going through his pre-release quarantine period. His ability may be below the average of other orangutans in orangutan sanctuary island in East Borneo. His loneliness in the island for the last 5 months and his togetherness with Ambon orangutan had encouraged him to be up on the trees all the time and he had seen fixing old nest.

Withdrawal of Hercules to quarantine cage in COP Borneo orangutan rehab center was done on July 29, 2018 and he will be going through medical check up including blood, feces, urin, and  sputum examination. To ensure the orangutans to release are free from infectious diseases such as hepatitis, herpes, malaria, dengue fever, and tuberculosis are absolute necessity. Orangutans should be healthy and able to survive in their natural habitat, without the help of human.

This series of examinations requires a lot of funds. If you want to help this process, you can help through . Orangutan is owned by Indonesian. (SAR)

HERCULES MASUK KARANTINA
Hercules, orangutan berusia 16 tahun ini akhirnya menjalani masa karantina pra-pelepasliaran. Kemampuannya mungkin dibawah rata-rata orangutan jantan lainnya yang bersamanya di pulau orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur. Kesendiriannya di pulau orangutan selama lima bulan terakhir dan kebersamaannya bersama orangutan Ambon sempat memacunya untuk terus menerus berada di atas pohon dan terlihat memperbaiki sarang lama.

Penarikan Hercules ke kandang karantina di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dilakukan pada tanggal 29 Juli 2018 yang lalu dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis meliputi pemeriksaan darah, feses, urin dan dahak. Memastikan orangutan yang dilepasliarkan bebas dari penyakit menular seperti hepatitis, herpes, malaria, demam berdarah hingga tuberkolosis adalah mutlak. Orangutan harus sehat dan dapat bertahan hidup di habitat aslinya, tanpa bantuan manusia.

Rangkaian pemeriksaan ini memerlukan dana yang tidak sedikit. Jika kamu mau membantu proses ini bisa melalui Orangutan adalah milik orang Indonesia. (RYN)

COUNTING DOWN THE RELEASE OF ORANGUTAN

After going through the long process of quarantine, finally the four candidates are all ready to release. Quarantine process has been started since March 1st, 2018.  Those four orangutans were moved from orangutan sanctuary island into quarantine cage to underwent the last rehab process before release. The process including medical check up, physical check up, to behavior observation. All candidates have gone through the process fairly well.

The four candidates are Leci, Novi, Unyil, and Untung orangutan. They came from different  places. Some are from local’s pet, palm oil plantation conflict, also from zoo. They have been at the COP Borneo orangutan rehabilitation centre since 2016 to undergo a rehabilitation process. Now, those four candidates are ready to go back to their nature home, Borneo rainforest.

All release preparation has been made, from release site preparation to administrative  documents related to the government. We hope all four candidates can be released soon to their habitat, recalling they have been too long being in a cage and not hanging from trees. (SAR)

MENGHITUNG MUNDUR PELEPASLIARAN ORANGUTAN
Setelah menjalani proses karantina yang panjang di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur, akhirnya keempat kandidat orangutan siap untuk dilepasliarkan. Proses karantina dimulai sejak 1 Maret 2018. Keempat kandidat orangutan tersebut dipindahkan dari Pulau Orangutan menuju kandang karantina untuk menjalani proses terakhir sebelum dilepasliarkan. Proses tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan fisik, hingga pengamatan perilaku. Kini, keempat orangutan tersebut telah menjalani proses tersebut dengan baik. 

Empat kandidat orangutan yang menjalani proses karantina pelepasliaran adalah Orangutan Leci, Novi, Unyil, dan Untung. Keempat kandidat orangutan tersebut berasal dari berbagai tempat. Ada yang dari peliharaan warga, konflik perkebunan kelapa sawit, serta kebun binatang. Mereka telah berada di Pusat Rehabilitasi COP Borneo sejak tahun 2016 untuk menjalani proses rehabilitasi. Kini keempat kandidat tersebut sudah siap untuk kembali ke rumah aslinya, hutan hujan Kalimantan. 

Segala persiapan pelepasliaran sudah dilakukan. Mulai dari menyiapkan lokasi pelepasliaran, hingga adminitrasi yang berhubungan pihak pemerintah. Harapan kami semua, keempat kandidat tersebut dapat segera dilepasliarkan ke habitat alaminya. Mengingat mereka sudah terlalu lama berada di kandang dan tidak merasakan bergelantungan di pepohonan. (RYN)

COP GOES TO SOLAR ELECTRICITY

We have completed the installation of the solar electricity in our monitoring post just across the pre release island. Now, the night getting more beautiful without noisy sound from gasoline generators. We will save a lot. No more money being burnt to buy gasoline for electricity.

The next plan is develop the same thing in our main camp. This is quite bigger power. We need at least 1500 dollar for it. Please donate through our website. We have paypal there: Donate

JOJO IS CURIOUS OF LUWING

Jojo, orangutan who have to go through another medical test because the previous result reported that she’s infected by Hepatitis B. So now she just can play in the playground, climb and swing from one rope to another to train her leg and hand muscles.

Vet Flora looked away from her for a second and Jojo had inserted something into her mouth. There’s no such beans as that, look like rubber seed but bigger, Flora thought. Hahahaha apparently that is a luwing or milipede!

An anthropod belongs to diplopoda class called milipede will immediately protect itself by coil its body like a ball when being touched unusually or being threaten. It turns out fascinated her. Is that a food? Jojo tried to bite that luwing. Could not…and she threw away.

Just like human, at the stage of childhood orangutan has such a great curiosity. Yeah.. human shares 97% of their DNA with orangutan.

JOJO PENASARAN DENGAN LUWING
Jojo, orangutan yang masih harus menjalani tes kesehatan lanjutan karena hasil tes sebelumnya menyatakan bahwa Jojo menderita hepatitis B hingga saat ini hanya bisa bermain di playground. Memanjat, berayun dari satu tali ke tali yang lain untuk terus melatih otot-otot tangan maupun kakinya.

Baru saja sesaat, drh. Flora mengalihkan pandangannya, Jojo sudah memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Tak ada biji yang seperti itu batin Flora, seperti biji karet tapi koq besar. Hahahaha… ternyata itu luwing atau kaki seribu.

Antropoda kelas Dipiopoda yang disebut milipede akan segera bertahan dengan cara melingkarkan tubuhnya seperti bola saat ada sentuhan tak biasa maupun ancaman. itu ternyata menarik untuk Jojo. Apakah itu makanan? Jojo pun mencoba untuk menggigit luwing hutan itu. Tak bisa… dan akhirnya dibuangnya.

Orangutan seperti juga anak manusia, pada usia anak-anak adalah usia dimana rasa ingin tahu menjadi begitu besar. Ya… manusia berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan.

TIME FOR PINGPONG TO BACK TO SCHOOL

His name is Pingpong. This male orangutan has an uncomfortable story when he had to go back and forth like pingpong ball because the man who found him didn’t know where to hand him over. Until finally, APE Defender team met him and took care of him. The cage become his barrier to express himself and school become his place to training.

In the middle of 2016, Pingpong moved to sanctuary island managed by COP Borneo Center of Orangutan Rehabilitation. “We hope Pingpong forced to be more independent by the circumstances and see other male orangutans develope. But unfortunately, living in sanctuary island is too hard for him. March 2017, We had to took Pingpong back to the cage because he was suffering from malnutrition.”, says Reza Kurniawan, COP’s primate anthropologist.

Both COP’s vets take turn to watch over his health. “Not much improvement, his behaviour hasn’t changed much either. Even when we took him back to the forest school, he was likely to be on the ground. It took a lot of effort to got him climbed the tree and stayed for a while.”, says drh. Flora.

Pingpong also often attacks the animal keeper by bitting them. “We dont’ want to lose hope, even Pingpong has the right to go back to his nature habitat.” says Idham, animal keeper who was watching him that day. Every orangutan is an unique individual, has their own characteristics that can’t be generalized with other orangutans. Help COP Borneo takes care of them through

SAAT PINGPONG KEMBALI SEKOLAH
Pingpong namanya. Orangutan jantan ini punya cerita yang tidak mengenakan, saat dia harus mondar-mandir seperti bola pingpong karena yang menemukannya tak tahu harus diserahkan kemana orangutan ini. Hingga akhirnya tim APE Defender bertemu dengannya dan merawatnya. Kandang menjadi pembatas untuknya berekspresi, dan sekolah menjadi tempatnya berlatih.

Pada pertengahan tahun 2016, Pingpong dipindahkan ke pulau orangutan yang dikelolah pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. “Kami berharap, Pingpong terpaksa dengan kondisi yang ada untuk lebih mandiri dan melihat orangutan jantan lainnya berkembang. Namun sangat disayangkan, kehidupan di pulau orangutan terlalu berat untuknya. Maret 2017, kami terpaksa menarik Pingpong ke kandang kembali karena Pingpong mengalami mal nutrisi.”, ujar Reza Kurniawan, antropologis primata COP.

Kedua dokter hewan COP saling bergantian mengawasi kesehatan Pingpong. “Tidak banyak perkembangannya, untuk prilakunya juga tidak banyak berubah. Bahkan saat kami membawanya ke sekolah hutan kembali, dia masih lebih suka berada di tanah. Perlu usaha keras agar dia mau memanjat pohon dan bertahan agak lama di sana.”, ujar drh. Flora.

Pingpong juga lebih sering menyerang animal keeper dengan cara menggigit. “Kami tidak mau berhenti berharap, Pingpong pun berhak untuk kembali ke alamnya.”, ujar Idham, animal keeper yang mengawasinya hari itu. Setiap orangutan adalah individu yang unik, punya karakter sendiri yang tak bisa disama ratakan dengan orangutan lainnya. Bantu COP Borneo merawat orangutan-orangutannya yuk lewat

REST IN PEACE MR. TORAN APUI

Centre for Orangutan Protection team in orangutan rehab center COP Borneo, East Borneo is in grief. A father who has always been a place of comfort, tell stories, and ask for advice is gone. On Wednesday night, July 11, 2018, we received a sad news that Sir Toran Apui had passed away because of the illness he suffered for the past weeks.

Toran Apui is the elder of Merasa village who was very helpfull to COP team back in 2014, the first time COP Borneo orangutan rehab center built in Merasa village, Berau, East Borneo. “Good bye, SIr. We who work and volunteer at COP Borneo will miss how determined you were when telling the story of Dayakness life around Kelay river stream in the past accompanied with a glass of coffee and peanuts.”

Hopefully, we can continue the determination of Toran Apui to bring Merasa village forward.

SELAMAT JALAN TORAN APUI
Rasa duka sedang dialami tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan di COP Borneo, Kalimantan Timur. Seorang Bapak yang sering dijadikan tempat untuk berlindung, bercerita dan meminta nasehat sudah tiada. Rabu malam, 11 Juli 2018, kabar duka itu kami terima bahwa bapak Toran Apui sudah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya selama beberapa minggu ini.

Toran Apui adalah kepala adat kampung Merasa yang sangat membantu tim COP di tahun 2014 saat memulai pembangunan Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur. “Selamat jalan pak Toran, kami yang bekerja dan menjadi relawan di COP Borneo akan merindukan bagaimana semangatnya bapak bercerita tentang kehidupan orang Dayak di aliran sungai Kelay di masa lalu dengan ditemani segelas kopi dan kacang.”

Semoga, semangat Toran Apui untuk memajukan kampung Merasa bisa kami teruskan.

Page 1 of 1612345...10...Last »