COP Borneo

PLAYING WITH LEAVES

Continue the story of Making Nest in the Cage. Not all orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center understand hoe to make nest. For example, orangutan baby in cages or socialization cage. From all baby orangutan, only Happi could make nest.
 
In average baby orangutan are separated from the mother when not even 10 month old. Surely, it is a very young age. In Age where, baby orangutans are very dependent with their mother. Even almost all of their time is spent in the parent embrace.
 
So what do these babies do when given leaves? “They just make the leaves as toys, nibble it or scattered them. Moreover Owi, although he is the biggest among Bonti and Happi, is the only one who has never made a nest,” said Danel, coordinator of animal keeper COP Borneo.
 
However, leaves enrichment is still the best enrichment for orangutans in COP Borneo enclosure 2. In the wild, the leaves are a companion for orangutans, the leaves are their primary requirement. And the leaves are not something that is hard to find in COP Borneo. “We just choose and arrange which tree leaves to be taken today,” explained Danel again.
 
Everyday, while being away from the forest school, leaves enrichment is a must-have for enclosure 2. “Initially, this might be a futile job. Put the leaves in the cage and then just scattered them,” said Danel. Whereas taking leaves and bringing it to the enclosure needs a struggle of its own. Not to mention the piling litter and cleaning the cage gets harder . “But we believe, with the passage of time, their instincts on the leaves will appear. Baby orangutans will learn from each other. Like Bonti who started imitate and learn from Happi how to make nest. “Danel become more excited, that nothing was in vain, no matter what effort he did. (Dhea_Orangufriends)

BERMAIN DAUN
Melanjutkan cerita sarang di dalam kandang. Tidak semua orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo mengerti cara membuat sarang. Contohnya saja, bayi orangutan yang berada di kandang 2 atau kandang sosialisasi. Dari semua bayi orangutan, hanya Happi yang bisa membuat sarang.

Rata-rata bayi-bayi orangutan ini terpisah dari induknya saat belum genap berusia 10 bulan. Pastinya, itu adalah usia yang sangat muda. Usia dimana, bayi orangutan sangat tergantung sekali dengan induknya. bahkan hampir seluruh waktunya dihabiskan dalam gendongan induknya.

Lalu apa yang dilakukan bayi-bayi ini saat diberikan daun? “Mereka hanya menjadikan daun-daun itu sebagai mainan, sekedar digigit-gigit atau dihambur-hamburkan. Apalagi Owi, walaupun dia paling besar di antara Bonti dan Happi, Owi adalah satu-atunya orangutan yang belum pernah membuat sarang.”, ujar Danel, koordinator animal keeper COP Borneo.

Tetapi, tetap saja enrichment daun adalah pengayaan terbaik untuk orangutan di kandang 2 COP Borneo. Di alam liar, daun adalah sahabat bagi orangutan, daun adalah kebutuhan utama mereka. Dan daun bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan di COP Borneo. “Kami tinggal memilih dan mengatur pengambilan pohon mana yang akan diambil daunnya hari ini.”, jelas Danel lagi.

Setiap hari, ketika sedang tidak sekolah hutan, enrichment daun adalah hal yang wajib diberikan untuk kandang 2 terutama. “Awalnya, mungkin ini seperti pekerjaan yang sia-sia. Menaruh daun di kandang lalu hanya dihamburkan begitu saja.”, kata Danel. Padahal mengambil daun dan membawanya ke kandang butuh perjuangan tersendiri. Belum lagi sampah menjadi lebih banyak dan membersihkan kandang jadi bertambah berat. “Tapi kami yakin, dengan berjalannya waktu, insting mereka pada daun akan muncul. Bayi orangutan satu dengan yang lainnya akan saling belajar. Seperti Bonti yang mulai belajar pada Happi cara membuat sarang.”, Danel pun menjadi lebih bersemangat, bahwa tak ada yang sia-sia, apapun usaha yang dilakukannya. (WET)

SHE IS LECI, THE LITTLE ONE WHOSE NOT SMALL AGAIN

Where is the orangutan? Who is she? There, on the tree! Seeing semi-wild orangutan from observed cams will be its own specialty. There are food fight, some choose to be alone, some prefer to observe or some can not be silent. This time. Leci was caught on a tree, looking at us watching her from across the island.
 
Leci is a small orangutan who enters the COP Borneo orangutan rehabilitation center when she’s 2 year old. Her tiny body was fragile to hold. Someone found her alone in the middle of a garden of Kebon Agung Village, Sangattam, East Kalimantan. Yes.. she is a very wild little one. Leci seems to have split up with her mother. She also looks still very scared. Maybe her mother died when she had to protect her. Baby orangutan will continue with the mother until the age of 6-8 years. During that time, her mother will nurture her. Not only breastfeeding but also teaching independent orangutans, choosing edible food, making temporary nest and permanent nests, climbing, swinging and even protecting themselves from predators.
 
“We are worried, Leci will become tame if it continues in the enclosure,” said Paulinus Kristanto. After going through the quarantine period by observing her health, Leci seems to be getting used to the presence of the animal keeper. “Jus in Two months, Leci was not afraid of humans anymore. It’s been her bad report”.
 
The plan to put Leci into a forest school did not go smoothly. How could we keep a wild orangutan? “We want to cry when Leci does not want to go down. She quickly disappeared. Pursuing small orangutans that are nimble and wild is not easy. Leci did not even want to go down at all. Swinging from one canopy to another and invisible in the thickness of the canopy. Enough… one time only she went to forest school. We cannot afford it, “ said the animal keeper.
 
After one year, this is Leci. Little Leci is not small anymore. But Leci remained wild. We will see how she was later. The time to be released again. Maybe she was inspect the escape route from this pre-release island. “Leci.. continue practicing ok!”, shout Reza Kurniawan, COP Borneo Manager eager.(Dhea_Orangufriends)

DIA ADALAH LECI, SI MUNGIL YANG TAK KECIL LAGI
Ada dimanakah orangutannya? Siapakah dia? Itu, di atas pohon! Melihat orangutan semi liar dari camp pantau akan jadi keasikan tersendiri. Ada yang rebutan makanan, ada yang memilih untuk menyendiri, ada yang lebih suka mengamati atau ada yang tak bisa diam. Kali ini, Leci tertangkap kamera sedang berada di atas pohon, memandang kami yang sedang mengamatinya dari seberang pulau.

Leci adalah orangutan mungil yang masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo saat dia berusia 2 tahun. Tubuh mungilnya saat itu sulit sekali untuk dipegang. Seseorang menemukannya sendirian di tengah kebun desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur. Ya… dia adalah si mungil yang sangat liar. Leci sepertinya baru berpisah dengan induknya. Dia juga terlihat masih sangat ketakutan. Mungkin induknya mati saat harus melindunginya. Anak orangutan akan terus bersama induknya hingga berusia 6-8 tahun. Selama itu, induknya akan mengasuhnya. Tidak hanya menyusui, tapi juga mengajari orangutan mandiri, memilih makanan yang bisa dimakan, membuat sarang sementara dan sarang permanen, memanjat, berayun bahkan melindungi dirinya dari pemangsa.

“Kami kawatir, Leci akan menjadi jinak jika terus di kandang.”, ujar Paulinus Kristanto. Selepas melalui masa karantina dengan mengobservasi kesehatannya, Leci terlihat mulai terbiasa dengan kehadiran animal keeper. “Dua bulan saja, Leci tak takut lagi dengan manusia. Ini jadi rapot buruknya.”.

Rencana memasukkan Leci ke sekolah hutan tak berjalan mulus. Bagaimana mungkin, kami menjaga orangutan liar? “Mau nangis kami, saat Leci tak mau turun. Dia dengan cepat menghilang. Mengejar orangutan kecil yang lincah nan liar bukanlah hal yang mudah. Laci bahkan tak mau sama sekali turun. Berayun dari satu kanopi ke kanopi yang lainnya. Dan tak terlihat dirimbunnya kanopi. Cukup… 1 kali saja dia masuk sekolah hutan. Kami tak sanggup.”, begitu kata animal keeper.

Setelah satu tahun, inilah Leci. Leci yang mungil tak kecil lagi. Tapi Leci tetap liar. Tinggal nanti bagaimana saat dia, waktunya untuk dilepasliarkan kembali. Mungkin dia sedang mengamati jalan melarikan diri dari pulau pra rilis ini. “Leci… latihan terus ya!”, teriak Reza Kurniawan, manajer COP Borneo bersemangat.

SHIKHANDI [SRIKANDI] TWIN IN COP BORNEO

Shikhandi [Srikandi] Twin or Bridegroom Twin is the nickname given to Owi and Bonti. Why is that? For they are inseparable, like a pair of real soul mates. Owi is a Male Orangutan while Bonti is a Female Orangutan. I can not deny the chemistry between them is very strong indeed. How possible, almost in every activity, both of them always hugging or never distance away from each other.
 
Where there is Owi, there is Bonti. Although their two personalities are far different, the brave Owi and the leader. While Bonti is greedy and nosy. If we tease Bonti, Owi always defends and position himself as a protector of Bonti. On the contrary if they were separated, Bonti always cried sadly. Seeing their activities and their behavior at Forest School always made me smile, two lively, affectionate and indivisible orangutans.  
 
Even at noon, Owi felt unwell and had to return to the cage, without being given a signal, Bonti immediately follow and carried by Amir, animal keeper to return to the enclosure. The emotional closeness between one orangutan and another is just like any other living thing and we are human. In Forest School, young orangutans who still need to study are given space to hone their natural talents, such as climbing, hanging, making nest and more. This will be useful to them when they are released back into the forest when they are ready. Let’s go to Forest School again!! (Dhea_Orangufriends)

KEMBAR SRIKANDI DI COP BORNEO
Kembar Srikandi atau kembar pengantin adalah julukan untuk Owi dan Bonti. Mengapa demikian? Sebab mereka tak terpisahkan, bagaikan sepasang belahan jiwa sejati. Owi adalah anak orangutan jantan sedangkan Bonti adalah anak orangutan betina. Saya tidak bisa menafikan chemistry di antara mereka memang sangat kuat. Bagaimana tidak, hampir di setiap kegiatan, mereka berdua selalu berpelukan atau tidak pernah berjarak jauh satu dengan lainnya.

Dimana ada Owi, di situ ada Bonti. Walaupun dua kepribadian mereka jauh berbeda, Owi yang pemberani dan pemimpin. Sedangkan Bonti yang rakus dan usil. Jika kita menggoda Bonti, Owi selalu bersikap membela dan memposisikan diri sebagai pelindung Bonti. Sebaliknya jika mereka dipisahkan, Bonti selalu menangis sedih. Melihat aktivitas dan polah mereka berdua di sekolah selalu membuat saya tersenyum, dua anak orangutan yang lincah, saling menyayangi dan tak terpisahkan.

Bahkan saat tengah hari, Owi merasa tidak enak badan dan harus kembali ke kandang, tanpa diberi aba-aba, Bonti langsung mengikut digendong oleh Amir, animal keeper untuk kembali ke kandang. Kedekatan emosional antara satu orangutan dan lainnya sama seperti makhluk hidup lainnya dan kita manusia. Di sekolah hutan, anak orangutan muda yang masih perlu belajar di beri ruang untuk mengasah bakat alamiahnya, seperti memanjat, bergelantungan, membuat sarang dan lainnya. Ini akan berguna bagi mereka saat dilepasliarkan kembali ke hutan saat mereka sudah siap. Ayo sekolah hutan lagi! (A.Gasani_Orangufriends)

CUTE LITTLE POPI

Today is the sunny clear day and a great time for forest school. All the forest school students are looking eager to leave, not to mention… Popi. After the cage is cleaned and breakfast, time to play and study in the jungle.
 
Popi is a female orangutans aged 9 months. Popi still lives in a cage at the Borneo Cop Clinic. Popi’s adorable and humorous behavior plus her spoiled attitude often make her reluctantly distant from me and other keepers. Popi preferred to be picked up and attached to us. It takes extra patience to persuade your little Popi to learn to climb trees. Every time we put her on a tree trunk, she just wants to climb a tree if we accompany her. Even if she climbs it, its only a few meters high and asked to climb down to be picked up. If we left her, Popi cried like a child feared to be left behind by her parents at school. Instead climbing on a tree, Popi preferred to be picked up and nibbled at the tree bark surrounding the forest school.
 
Although Popi still small, I found out that orangutan strength pretty amazing. The grip and bite are strong enough, beyond the bite of a small child. Like her other friends, Popi also nosy and like to bite us. If she upset, Popi is sulking and whining. Another case with her friends, if they’re upset they will bite or urinate while showing mocking facial expression. While asleep from exhaustion, Popi curled up and snored in the cot. Aftre the day before noon, Popi began to get excited and willing to walk on the ground, climbed into a tree and played with Happi.
 
Today, Popi looks very much enjoyed the forest school. Her innocent voice and expression kept us happy. Next time, dare to ride a tree and be more independent, OK Popi !!! (Dhea_Orangufriends)

POPI, SI KECIL YANG LUCU
Hari ini adalah hari yang cerah dan waktu yang tepat untuk sekolah hutan. Semua siswa sekolah hutan pun terlihat bersemangat untuk berangkat, tak terkecuali… Popi. Setelah kandang dibersihkan dan makan pagi, waktunya bermain dan belajar di hutan…

Popi adalah orangutan balita berjenis kelamin betina yang berusia 9 bulan. Popi masih tinggal di dalam kandang di klinik COP Borneo. Tingkah laku Popi yang menggemaskan dan lucu ditambah sikapnya yang manja sering membuatnya enggan jauh dari saya maupun keeper yang lain. Popi lebih suka digendong dan lekat dengan kami. Perlu kesabaran ekstra untuk membujuk si kecil Popi agar mau belajar memanjat pohon. Setiap kali kami menaruhnya di batang pohon, ia hanya mau memanjat pohon jika kita temani. Kalaupun dia naik, jarak panjatnya hanya beberapa meter saja dan langsung segera turun minta digendong. Jika ditinggal, Popi menangis layaknya anak kecil ketakutan ditinggal orangtuannya sekolah. Daripada naik pohon, Popi lebih senang digendong dan menggigiti kulit pohon di sekitarnya saat sekolah hutan.

Walaupun Popi masih kecil, ternyata saya baru mengerti bahwa kekuatan orangutan itu luar biasa. Cengkraman dan gigitannya cukup kuat, melebihi gigitan anak kecil. Seperti teman-temannya yang lain, Popi pun suka usil dan menggigit kami. Jika sedang kesal, Popi bisa ngambek dan merengek. Lain halnya dengan teman-temannya, jika sedang kesal mereka menggigit ataupun mengencingi sambari menunjukkan ekspresi wajah mengejek. Sewaktu tertidur karena kecapean, Popi meringkuk dan mendengkur di ranjang gantung. Setelah hari menjelang cukup siang, Popi mulai bersemangat dan mau berjalan di tanah, naik ke pohon dan bermain dengan Happi.

Hari ini, Popi terlihat sangat menikmati sekolah hutan. Suara dan ekspresinya yang polos tak henti-hentinya membuat kami pun bahagia. Lain kali, lebih berani naik pohon dan lebih mandiri ya Popi!!! (A.Gasani_Orangufriends)

PERPETUATE DEBBIE IN A PHOTO FRAME 

Debbie is a ferocious female orangutan. Oops… ferocious? How can we not call her ferocious. All animal keepers who take care of enclosure 1 which is a quarantine cage had been thee victim. Not only human, the commodity barely missed by her.
    
Who know how many rolls of hoses are destroyed by Debbie. When the animal keeper sprayed water to clean the enclosure, in the blink of an eye, Debbie grabbed it and picked it up. Do not expect the hoses to be back in one piece.
 
Debbie is also very brave with the animal keeper. Clothes of the animal keeper been vandalized. Getting the grip of her hand was a terror while on duty at the enclosure 1. “Certainly, don’t be off guard when on duty in this quarantine cage,” said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo orangutan rehabilitation center.
 
Reza himself had been injured on his back. “Perhaps Debbie wants to say hello to me. But that power, is very great.” Recalls  Reza.
 
Well, this is the biggest challenge to perpetuate Debbie with no visible bars as the foreground. A.k.a, Debbie’s face should be clearly visible. The condition of this cage is in the middle of the forest. The canopy of the trees looks fused, so the sunlight is difficult to break through. Borneo orangutan’s own hair is also darker than it’s relatives in Sumatra. Plus, this Debbie ferocity, make knees give away.
 
After pacing to find the right time and opportunity, finally… yes!” successfully photogaphing Debbie !!!” Wetty Rupiana smiling happy. (Dhea_Orangufriends)   

MENGABADIKAN DEBBIE DALAM SEBUAH FRAME FOTO
Debbie adalah orangutan betina yang ganas. Ups… ganas? Bagaimana tidak kami sebut ganas. Semua animal keeper yang mengurus kandang 1 yang merupakan kandang karantina pernah menjadi korbannya. Tak hanya manusia, barang-barang pun tak luput darinya.

Entah sudah berapa gulung selang yang hancur oleh Debbie. Saat animal keeper menyemprotkan air untuk membersihkan kandang, dalam sekejap mata, Debbie meraihnya dan mengambilnya. Jangan harap selang bisa kembali dalam keadaan utuh.

Debbie juga sangat berani dengan animal keeper. Baju yang dipakai animal keeper pun pernah menjadi korbannya. Mendapatkan cengkraman tangannya adalah teror tersendiri saat bertugas di kandang 1. “Yang pasti, jangan lengah sedikit pun saat bertugas di kandang karantina ini.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Reza sendiri pernah terluka di punggungnya. “Mungkin maksudnya Debbie ingin menyapaku. Tapi apa daya, kekuatannya besar sekali.”, kenang Reza.

Nah, ini adalah tantangan terbesar untuk mengabadikan Debbie tanpa terlihat jeruji besi sebagai latar depan. Alias, wajah Debbie harus terlihat jelas. Kondisi kandang 1 ini berada di tengah hutan. Kanopi-kanopi pohon terlihat menyatu, sehingga cahaya matahari sulit menerobos kandang. Rambut orangutan Kalimantan sendiri juga lebih gelap dibanding kerabatnya yang di Sumatera. Ditambah lagi, keganasan Debbie ini, bikin lutut bergetar.

Setelah mondar-mandir mencari waktu dan kesempatan yang pas, akhirnya… yes! “Berhasil memotret Debbie!!!”, senyum Wety Rupiana senang. (WET)

DEBBIE, ORANGUTAN TERTUA DI COP BORNEO

Sejak pertama kali datang di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Debbie berada di kandang 1 atau kandang karantina berdampingan dengan orangutan Ambon dan Memo. Debbie sekarang berusia 26 tahun. Dia adalah orang tertua di COP Borneo. Debbie adalah orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan ke habitat aslinya, karena usianya yang sudah terlalu tua dan perilakunya yang sudah tidak liar lagi. Hal tersebut disebabkan sudah terlalu lama Debbie hidup bersama manusia.

Selain menjadi orangutan paling tua, Debbie adalah orangutan yang paling ganas dan galak di COP Borneo. Beberapa keeper selalu menjadi sasaran keganasan Debbie. namun, karena para keeper sudah sangat paham sifatnya Debbie, mereka bisa menghindari hal-hal buruk yang akan dilakukan Debbie.

Sudah dua tahun ini, Debbie menghuni kandang karantina ini. Debbie pun memiliki kebiasaan menyimpang yang bukan prilaku alami dari orangutan. Debbie sering meludah dan bertepuk tangan. “Prihatin sekali saat harus menatap mata Debbie. Kandang karantina seperti penjara untuknya.”, batin Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Solusi terindah untuk Debbie masih terus diusahakan. “Andai ada ‘Sanctuary Island’ untuknya. Debbie akan merasa hidup di alam bebas. Debbie akan menjelajah sesuai luas pulau tanpa ada jeruji atau dinding yang membatasi. Pagar alami bernama sungai akan menjadi batas jelajahnya.”, ujar Reza Kurniawan penuh harapan. (WET)

ANOTHER MONDAY MORNING

I am the leader of the COP baby orangutans. Bonti is on my left, and Happi is the one that holding the pineapple. This morning we’re already at the forest school, COP Borneo rehabilitation center. I must keep the spirit for the classes training, so Bonti and Happi will keep training too. They both always follow my behaviour. If I lay down and resting on the forest floor, they would do it too. If I climb the trees, they would follow too. It’s me.. Owi, the one that dreaming of ruling the remaining forest of Kalimantan.

Senin Pagi lagi…

Aku adalah ketua para bayi orangutan di COP Borneo. Bonti yang di sisi kiriku dan Happi yang sedang memegang nenas. Pagi ini kami sudah berada di sekolah hutan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Aku harus tetap bersemangat berlatih, agar Bonti dan Happi ikut berlatih juga. Mereka berdua selalu mengikuti seluruh tingkahku. Jika aku di lantai hutan bermalas-malasan, mereka pun akan bermalas-malasan juga. Jika aku memanjat, mereka pun akan memanjat. Aku… adalah Owi, yang bermimpi akan memimpin seluruh isi hutan yang tersisa di Kalimantan.

BAGAIMANA BNPB MEMBANTU ORANGUTAN?

Tak sampai seminggu surat permintaan bantuan selang pemadam kebakaran yang sudah tidak dipakai atau rusak kepada BNPB kabupaten Berau mendapat respon positif. BNPB bersedia memberikan bantuan selang bekas kepada pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur untuk digunakan kembali sebagai hammock atau ayunan/tempat tidur gantung bagi orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi.

Untuk apa sih hammock itu? Orangutan adalah satwa yang hidup dan beraktivitas di atas pohon atau sering disebut juga satwa aboreal. Bantuan selang yang akan dianyam kembali akan dibentuk menyerupai ayunan yang cukup kuat menompang berat tubuh orangutan. Ini akan membuat nyaman orangutan berada di atas, tidak di besi kandang ataupun lantai.

“Selama ini kami tidak mengira selang bekas ini bisa digunakan untuk mendukung konservasi orangutan.”, ucap staf BNPB. Kemaren, Tim APE Defender pun dengan bersemangat menuju kantor dinas pemadam kebakaran kabupaten Berau untuk mengambil donasi selang bekas ini. “Syukurlah, akhirnya Ambon (orangutan) dan orangutan lainnya akan mendapatkan tempat tidur gantung yang baru lagi.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. 5 gulungan selang ini merupakan awal bantuan Damkar Berau. Selanjutnya Damkar akan mengumpulkan selang-selang bekas lainnya dan menyumbangkannya ke COP Borneo demi membantu konservasi orangutan. (WET)

SAAT SELEBRITI DATANG KE POS PANTAU COP BORNEO

Bagi kamu yang suka jalan-jalan dan penggemar acara televisi My Trip My Adventure pasti tahu presenter asik yang mengajak kamu bereksplorasi keindahan alam Indonesia. Pria ganteng ini tak lain adalah Hamish Daud.

Kali ini, Hamish Daud dalam rangkaian acara #26authenticplaceinindonesia untuk stasiun televisi MNC TV. Dengan serombongan kru televisi dan peralatan lengkap, acara ini meliput kegiatan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di pulau pra-rilis. Suatu pulau yang hanya dihuni orangutan yang akan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Ngobrol sekilas tentang pusat rehabilitasi pun mengalir sampai saatnya memberi pakan orangutan (feeding time). Perahu-perahu mulai menyusuri sungai, berkeliling pulau dan berhenti di beberapa tempat untuk meletakkan pakan orangutan, tentunya petugas pos pantau COP Borneo yang melakukannya. “Tetap berada di perahu. Jaga jarak dengan bibir pulau!”, begitu aba-aba dari koordinator pos pantau.

Rehabilitasi adalah usaha yang tidak sebentar. Orangutan-orangutan tersebut harus menjalani banyak tahapan, hingga akhirnya bisa sampai di pulau pra-rilis ini. Setiap tahapan juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Centre for Orangutan Protection adalah organisasi non profit yang bekerja lebih sepuluh tahun ini. Menyelamatkan orangutan dan hutan yang merupakan habitat orangutan adalah langkah awal COP. Berhadapan langsung dengan permasalahan terbesar bayi-bayi orangutan terus berdatangan ke pusat rehabilitasi adalah hilangnya hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi perkebunan kelapa sawit yang memicu konflik satwa dengan manusia. Bagaimana mungkin orangutan hidup tanpa hutan! (WET)

THANK YOU OVAID FOR SUPPORTING COP BORNEO CLINIC

The arrival of Nigel DVM from OVAID surprised COP Borneo Clinic. The clinic became fully loaded with medicine and medical equipment that was brought by Nigel from England. After drh. Rian Winardi listed all of the things that has been brought, Reza Kurniawan then listed what needed to equip the clinic more.Then this three guys went to the city to buy a glass cabinet to keep all the medical equipment.

“Learning is for a lifetime. Medical discussion is a really an interesting topic to talk about.”, Rian said passionately. “To harmonize between the theories and the reality in the field is one hard thing. That is where we have to be creative and innovative.”, said Reza the manager of COP Borneo Rehabilitation center.

The first meeting between drh. Rian and Nigel DVM happened during the COP School batch 3. Nigel was the lecturer for medical lesson, this give a deep impression for Rian. “This is a reunion between a teacher and his student, finally after 4 years.”, Rian said.

Thank you OVAID for supporting the medical needs of COP for the last 3 years. The medical equipments and the medicine has landed safely in COP Borneo, hoping this cooperation is going to continues and lasts. Once again Thank you OVAID.

Kedatangan drh. Nigel dari OVAID (Orangutan Veterinary Aid) membuat kaget klinik COP Borneo. Klinik menjadi penuh dengan peralatan kedokteran dan obat-obatan yang dibawa Nigel dari Inggris. Setelah drh. Rian Winardi mendata, Reza Kurniawan pun mencatat apa saja yang harus dibeli untuk merapikan klinik. Akhirnya, ketiga pria ini pun berangkat ke kota untuk membeli lemari kaca dan kotak penyimpanan untuk merapikan peralatan medis ini.

“Belajar itu sepanjang hidup. Ilmu terus berkembang. Diskusi medis pun menjadi topik yang sangat menarik.”, semangat drh Rian. “Menyelaraskan teori dan kenyataan di lapangan, itulah kesulitannya. Kita harus kreatif dan inovatif.”, kata Reza, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Pertemuan drh Rian dengan drh. Nigel adalah saat COP School Batch 3 berlangsung. Nigel yang saat itu memberi materi medis, begitu memberi kesan mendalam pada Rian. “Ini adalah pertemuan kembali antara guru dan murid setelah 4 tahun yang lalu.”, ujar Rian.

Terimakasih OVAID yang telah mendukung medis Centre for Orangutan Protection selama tiga tahun terakhir ini. Terimakasih para pendukung OVAID… peralatan medis sudah sampai di COP Borneo. Semoga kerjasama ini akan terus berlanjut.

Page 1 of 612345...Last »