JOJO IN COP BORNEO FOREST SCHOOL

We haven’t heard about Jojo for a long time. Jojo is a baby orangutan who entered COP Borneo orangutan rehabilitation center in April 2018. Jojo must take a long and extra care medical check-up process. From the prior examination, Jojo was declared to have hepatitis. After going through PCR testing, hepatitis suffered by Jojo is hepatitis of orangutan strain. Thus, the medical team allowed Jojo to enter the forest school.

Do you still remember when you entered school for the first time? Afraid? Confused? Feeling alone? That is what Jojo experienced, an orangutan who finally got his chance into the COP Borneo forest school. Jojo sat on the ground, playing alone while sweeping dry leaves with his hands. Then, other orangutans are interested in the new orangutan they just met. Curiosity starts from just staring, then continue with touching even biting. Jojo also experienced that. Other orangutan babies such as Owi, Bonti, Happi, Popi and even Annie, who were still just entering the forest school, joined in.

“Come on Jojo, you can do it. Adapt quickly. Be wild, remember your time with your mother”, said Joni with full hope. Jojo will continue to be accompanied by an animal keeper until he can adjust to other baby orangutans. “Hopefully it doesn’t take too long. Every orangutan has a unique way. It cannot be determined the length of time needed for each orangutan to achieve certain abilities. But proper stimulation can speed up the process”. (IND)

JOJO DI KELAS SEKOLAH HUTAN COP BORNEO
Lama tidak mendengar kabar dari Jojo, bayi orangutan yang masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bulan April 2018 yang lalu. Pemeriksaan kesehatan yang panjang dan ekstra teliti harus dijalani Jojo. Hasil pemeriksaan di awal, Jojo menderita Hepatitis. Dan setelah melalui pengujian PCR, Hepatitis yang diderita Jojo adalah strain orangutan, akhirnya tim medis mengijinkan Jojo masuk kelas sekolah hutan.

Masih ingatkah saat kamu masuk sekolah pertama kali? Takut? Bingung? Merasa sendirian? Seperti itulah yang dialami Jojo, orangutan yang akhirnya bisa masuk kelas sekolah hutan COP Borneo. Jojo duduk di tanah, bermain sendiri sambil menyapu-nyapu daun kering dengan tangannya. Dan orangutan lain pun tertarik dengan orangutan yang baru mereka temui. Rasa ingin tahu itu mulai dari hanya menatap, lalu menyentuh bahkan menggigit. Jojo pun mengalami itu, bayi-bayi orangutan lain seperti Owi, Bonti, Happi, Popi bahkan Annie yang juga masih baru masuk kelas sekolah hutan, ikut menganggunya.

“Ayo Jojo, kamu pasti bisa. Cepatlah beradaptasi. Kembalilah liar, ingatlah masa-masa mu bersama indukmu.”, ujar Joni penuh harapan. Jojo akan terus didampingi animal keeper hingga dia bisa menyesuaikan diri dengan bayi orangutan lainnya. “Semoga tidak memakan waktu terlalu lama. Setiap orangutan punya cara yang unik. Sehingga tidak bisa ditentukan waktu yang dibutuhkan setiap orangutan untuk mencapai kemampuan tertentu. Tapi stimulasi yang tepat dapat mempercepat sebuah proses. (JON)

RELEASING NOVI AND LECI IN THIS NOVEMBER

There was no dramatic moment when the former rehab orangutans of COP Borneo were released. No orangutan hugged his nurse to say goodbye. Nor does anyone come down to give a flower as orangutans do to conservation experts. Everything was fast and spontaneously. When we release orangutans from the cage, there are only two possibilities: Jump and climb trees as high as possible and then disappear or attack people.

November 3rd is a thrilling day for the Center for Orangutan Protection family. This was our second orangutan release after a year earlier. In 2017, we released orangutan from the zoo, named Oki. Oki managed to make an achievement as an orangutan who used to live behind bars and could go back wild. Now, Novi and Leci also get their chance to return to their habitat.

Novi, previously kept under a house with chains around his neck. In April 2015, Novi was rescued from Kongbeng, East Kalimantan. His body was so small because of lack of nutrition, as he did not eat proper food for orangutans. At that time, Novi made friends with dogs.

While Leci is a wild agile orangutan who lost his mother in the middle of a field. How were Novi and Leci when their cage doors were lifted? (IND)

MELEPAS NOVI DAN LECI DI AWAL NOVEMBER
Tidak ada momen yang dramatis pada saat orangutan mantan pusat rehabilitasi COP Borneo dilepasliarkan. Tidak ada orangutan yang memeluk perawatnya untuk berpamitan. Pun tidak ada yang turun memberikan sekuntum bunga seperti yang dilakukan orangutan ke para pakar konservasi. Semuanya akan berlangsung cepat dan waspada. Orangutan yang dilepaskan dari kandang, kemungkinannya hanya dua. Langsung melompat dan memanjat pohon setinggi mungkin dan lalu menghilang atau menyerang orang – orang.

3 November menjadi hari yang mendebarkan keluarga Centre for Orangutan Protection. Walaupun ini adalah pelepasliaran orangutan kedua setelah setahun sebelumnya, orangutan mantan dari kebun binatang berhasil dilepasliarkan. Orangutan Oki namanya. Oki berhasil mengukir prestasi sebagai orangutan yang terbiasa tinggal dibalik jeruji besi dan bisa kembali liar. Kini, orangutan Novi dan Leci mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya.

Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu mengalungi lehernya hingga meninggalkan bekas akan mendapatkan kebebasannya. April 2015, Novi diselamatkan dari Kongbeng, Kalimantan Timur. Tubuhnya kecil karena kurang gizi, dia dipelihara dengan makan makanan yang bukan makanannya. Saat itu, Novi bertemankan anjing.

Sementara Leci, adalah orangutan lincah nan liar yang kehilangan induknya di tengah ladang buah. Bagaimana Novi dan Leci saat pintu kandang diangkat?

THE ‘WAY BACK HOME’ BOAT IS BADLY BROKEN

The APE Defender Team has tried to survive with a leaky boat for the past 4 months. Various efforts have been made. We were patching it with adhesive glue and cloth, but the leakage appears again at the other parts.

The boat is almost two years old now.  With high usage around the orangutan island, we strongly need a new boat soon. “At midnight, we also have to check the island. It is exhausting to frequently check the water that enters the boat. If we did not remove the water from the boat, the boat will sink with the engine” said Daniel, who is in charge of all vehicles at the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

The ‘Way Back Home’ boat is the operational vehicle for the COP Borneo orangutan island. The boat is purchased from the benefits of Sound For Orangutan music charity or often called SFO. It is the greatest gift from the hard work of Orangufriends, COP support group. This music charity will also be held on Monday, October 29, 2018 in Yogyakarta. (IND)

PERAHU ‘WAY BACK HOME’ RUSAK PARAH

Tim APE Defender mencoba bertahan dengan perahu yang bocor selama 4 bulan terakhir ini. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari menambalnya dengan lem perekat dan kain, namun muncul lagi kebocoran di bagian yang lain.

Usia perahu yang hampir dua tahun ini dengan penggunaan yang tinggi di sekitar pulau orangutan menuntut untuk segera ada perahu baru lagi. “Saat tengah malam, kami pun harus mengecek keberadaan pulau, karena kalau tidak dicek dengan menguras air yang masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam bersama mesin perahu..”, ujar Daniel, penanggung jawab kendaraan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Perahu ‘Way Back Home’ adalah kendaraan operasional pulau orangutan COP Borneo. Perahu yang dibeli dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan atau sering disebut juga SFO merupakan kerja keras orangufriends, kelompok pendukung COP. Acara musik ini pun akan digelar Senin, 29 Oktober 2018 di Yogyakarta.

PATIENCE IS BITTER, BUT ITS FRUIT IS SWEET

I always believe in my parents’ advice, that people who are patient are always loved by God and I believe God loves Popi very much.

Who would have thought that baby orangutan who used to cry and sleep in a forest school had become a new pride for us at the COP Borneo orangutan rehabilitation center? A baby orangutan who used to be choked when she drank milk and picky foods is now very smart to find food in the forest. A baby who used to not be able to climb trees is now agile to move trees through the hanging roots. A baby who had never been able to escape from her babysitter now look more independent.

In her 2 years, Popi showed her quality. All mother must be happy and proud to see the achievements of her child. My tears flowed on my own when I watched Popi climb a tall tree and eat the forest fruits that she found.

My presence at the forest school was no longer what Popi was waiting for. When she saw me coming she would only pay attention to me from above, so she would never want to come down from the tree. From her gaze, it seems like she whispered “Mother, I am big now. I dare to climb and swing on trees. Today I find flowers that taste very good.”

There was a sense of sadness in my heart and also an extraordinary sense of pride, and it felt like there was now a relief feeling. Patience in taking care of Popi now become sweet, no longer need to worry about Popi. She’s a great baby orangutan and every month her forest school report makes me proud. (IND)

KESABARAN ITU BERBUAH MANIS
Saya selalu percaya dengan nasehat orangtua saya, bahwa orang yang sabar selalu disayang Tuhan dan saya percaya Tuhan sangat menyayangi Popi.

Siapa sangka bayi orangutan yang dulu sering menangis dan tidur di sekolah hutan kini menjadi kebanggaan baru bagi kami di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Bayi orangutan yang dulu sering kesedak saat minum susu dan pilih-pilih makanan kini sangat pintar mencari makan di hutan. Bayi yang dulu tidak bisa memanjat pohon kini telah lincah berpindah pohon melalui akar-akar yang bergelantungan. Bayi yang dulu tidak pernah bisa lepas dari babysitter nya kini terlihat semakin mandiri.

Diusianya yang menginjak 2 tahun ini, Popi menunjukkan kualitas dirinya. Ibu mana yang tidak haru dan berbangga hati melihat prestasi yang diraih oleh anaknya. Air mata saya mengalir dengan sendirinya ketika menyaksikan Popi memanjat pohon tinggi dan asik makan buah hutan yang ditemukannya.

Kehadiran saya di lokasi sekolah hutan bukan lagi hal yang ditunggu oleh Popi. Ketika dia melihat saya datang dia hanya akan memperhatikan saya dari atas, dipanggil pun dia tidak akan pernah mau turun dari pohon. Dari tatapannya saya bisa artikan “Ibu, aku sudah besar sekarang. Aku sudah berani memanjat dan berpindah pohon. Hari ini aku menemukan bunga yang sangat enak rasanya.”

Ada rasa sedih dalam hati saya dan juga rasa bangga yang luar biasa, dan rasanya sekarang ada perasaan lega dalam diri saya. Kesabaran dalam merawat Popi kini berbuah manis, sudah tidak perlu lagi sekarang mengkhawatirkan Popi. Dia bayi orangutan yang hebat dan setiap bulan laporan sekolah hutannya membuat saya bangga. (WET)

THE BEST NEWS FROM JOJO

Jojo is an orangutan rescued by the Center for Orangutan Protection in April 2018. During the last five months, Jojo has also undergone a rehabilitation center curriculum. Orangutan Jojo was unable to follow the routine of forest school like other orangutan babies because the results of the medical checkup found that Jojo suffered from hepatitis B.

COP Medical Team conducted another test through PCR. The result showed that hepatitis suffered by Jojo is an orangutan strain and Jojo was declared able to join other baby orangutans. “Really, this is very encouraging news,” said Wety Rupiana.

September 28 this will be a history for Jojo and us. Jojo underwent forest school for the first time. Jojo orangutan looks very stiff when he met another baby orangutan. Jojo looks like he is still adapting to our forest school environment. Let’s help COP Borneo take care of Jojo through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan and look forward to the next Jojo story. (IND)

BERITA TERBAIK DARI JOJO
Jojo, adalah orangutan yang diselamatkan oleh Centre for Orangutan Protection pada bulan April 2018. Selama lima bulan terakhir ini, Jojo pun menjalani kurikulum pusat rehabilitasi. Orangutan Jojo tidak dapat mengikuti rutinitas sekolah hutan seperti bayi orangutan lainnya karena dari hasil MCU, Jojo menderita penyakit hepatitis B.

Tim Medis COP kembali melakukan pengujian melalui PCR dan hasilnya, hepatitis yang diderita oleh orangutan Jojoadalah strain orangutan dan Jojo dinyatakan bisa bergabung dengan bayi orangutan lainnya. “Sungguh, ini adalah berita yang sangat menggembirakan.”, ujar Wety Rupiana.

28 September ini akan menjadi sejarah bagi kami untuk Jojo. Jojo menjalani sekolah hutan untuk pertama kalinya. Orangutan Jojo terlihat sangat kaku waktu bertemu dengan bayi orangutan lainnya. Jojo terlihat masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah hutannya ini. Yuk bantu COP Borneo merawat Jojo melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan dan nantikan cerita Jojo selanjutnya. (WET)

GIVING DAY FOR APES 2018

Time passes so quickly. We will celebrate the Giving Day for Apes again on September 25, 2018. Centre for Orangutan Protection really needs your help! Let’s celebrate the day by supporting the release of four orangutans that each of them has unique background story. Those who lived in zoo, toilet and lost his mother by the reason of palm oil plantation.

How do we easily remember the success of our life? Simply by donating to Giving Day for Apes. For those of you who celebrate birthdays or want to give presents for your loved ones, you can do it by donating to COP on Giving Day 2018. Of course, the orangtans of COP Borneo will be gladly accept it.

Let’s get to know the four orangutan release candidate this year. Do you remember Novi? Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog. After rehabilitation process, Novi will be release back to his habitat.

Next month, the orangutan from the zoo will go toward the freedom. Untung, the lucky one, even with imperfect fingers, can still climb trees and move like other normal orang-utans. Of course, his disablity doesn’t prevent him to be one of the release candidates this year. After going through a series of medical examination, Untung was declared clean from infectious diseases.

Unyil, the orangutan that is very famous because finally he can live normally, not in the bathroom (toilet) like before. The rescue action was very dramatic because his birthday celebration as Valentino Unyil Ngau had just taken place. The keeper of Until finally gave him to be rehabilitated. His hair was just straightened, and made the rescue team wonder, what was wrong with Unyil’s hair.

One more heartbreaking story come from Leci. Leci was found in a fruit garden near palm oil plantation in Kebon Agung village, Sangatta, East Kalimantan. Alone without his mother. Leci was very wild, even he bit one of the rescue team member. He looked nervous in the cage, until the team close it so that he felt more calm. Given leaves and twigs was immediately greeted by arranging it into nests.

So would you help the four orangutans? https://givingdayforapes.mightycause.com/organization/Center-For-Orangutan-Protection They supposed to be in their habitat, living without any human intervention and develop their role as reliable natural reforestation agent. (SAR)

Waktu berlalu dengan cepatnya. Kita akan merayakan Giving Day for Apes lagi pada 25 September 2018 ini. Centre for Orangutan Protection sangat membutuhkan bantuan anda. Mari rayakan hari ini dengan mendukung pelepasliaran empat orangutan COP Borneo dengan latar belakang yang unik. Mereka yang hidup dari kebun binatang, toilet rumah dan yang kehilangan ibunya karena perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana kita dengan mudah mengingat keberhasilan hidup kita? Cukup dengan donasi di Giving Day for Apes. Untuk kamu yang merayakan ulang tahun atau ingin memberikan hadiah untuk yang kamu sayangi, bisa dengan donasi COP di Giving Day 2018. Tentu saja orangutan COP Borneo akan dengan senang hati menerimanya.

Yuk mengenal keempat orangutan kandidat pelepasliaran tahun ini. Masih ingat dengan Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah penduduk berteman seekor anjing dengan leher dirantai? Setelah melalui rehabilitasi, Novi akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Bulan depan, orangutan dari kebun binatang akan menuju kebebasannya.

Untung si beruntung walau dengan jari tangan yang tidak sempurna, tetap bisa memanjat pohon dan beraktivitas seperti orangutan normal lainnya. Tentu saja disabilitasnya tak menghalanginya untuk tetap menjadi kandidat pelepasliaran tahun ini. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan kesehatan, Untung pun dinyatakan bersih dari penyakit menular.

Unyil, si orangutan yang terkenal sekali karena akhirnya dapat hidup normal tidak di dalam kamar mandi (toilet) lagi. Aksi penyelamatannya yang sangat dramatis karena baru saja perayaan ulang tahunnya sebagai Valentino Unyil Ngau berlangsung. Si pemelihara Unyil akhirnya menyerahkannya untuk direhabilitasi. Rambutnya saat itu baru saja direbonding, sempat membuat tim penyelamat heran, ada apa dengan rambut Unyil.

Satu lagi kisah memilukan dari Leci. Leci ditemukan di ladang buah dekan perkebunan sawit di desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur, sendiri tanpa induknya. Leci masih sangat liar, bahkan salah satu tim penyelamat digigitnya. Selama di kandang, dia terlihat gelisah, hingga akhirnya tim menutup kandangnya agar dia lebih tenang. Pemberian daun-daunan dan ranting langsung disambutnya dengan menyusunnya menjadi sarang.

Jadi, maukah kamu mendukung keempat orangutan ini? Mereka sudah sepantasnya berada di habitatnya, hidup tanpa campur tangan manusia, dan berkembang di alamnya untuk menjalankan perannya sebagai agen reboisasi alami yang handal.

WETY AND POPI

“Now Popi will not let herself share food with others, even to me,” said Wety Rupiana, the captain of APE Defender team. She is fully responsible at the current COP Borneo’s orangutan rehabilitation center. Wety was also Popi’s personal keeper when Popi entered this rehabilitation center 2 years ago. Wety, along with our veterinarians, took turns carrying a bottle of milk for baby Popi. Popi came as a very weak baby and just removed her umbilical cord.

Like a human baby, baby Popi was also crying and shrieking. Popi felt fear when she left alone, even though Wety was in the bathroom for a moment. Wety fell so many times from the stairs and even from the bridge between the camp and clinic because suddenly Popi screamed in the clinic. Wety’s appearance is almost irreplaceable. Like a human baby who is very dependent on her mother, a baby orangutan also has similar dependency on her mother.

Months passed, Popi grew up to be an orangutan child with an unpredictable behavior. Her pampered attitude began to change with a defiant attitude. It is not easy to tell Popi to climb the tree when she enjoyed playing on the ground, like rolling around or watching the roots covered in moss. But it was also not easy to tell her to come down from the tree when she enjoyed swinging from one branch to another. “Even the lure of milk will be ignored,” added Wety.

Popi is a baby orangutan who is forced to lose her mother. Popi loses her natural life in the forest with her mother. Baby orangutans are very dependent and they should be with the mother until they are 6 years old. “We helped her at COP Borneo. We hope that her wild nature continues to emerge as she grows older,” said Wety. Let’s help Popi to get her way back home through this link orangutanprotection.com/adopt/#4 (IND)

WETY DAN POPI
“Kini Popi tak akan membiarkan dirinya berbagi makanan dengan yang lain, bahkan padaku.”, kata Wety Rupiana, kapten APE Defender, orang yang bertanggung jawab penuh di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo saat ini. Wety jugalah yang menjadi perawat pribadi Popi saat Popi masuk pusat rehabilitasi ini 2 tahun yang lalu. Wety bersama dokter hewan lainnya bergantian membawakan botol berisi susu untuk bayi Popi yang baru saja lepas tali pusar nya. Bayi yang sangat lemah.

Seperti saat bayi manusia menjerit dengan tangisannya, Popi pun seperti itu. Rasa takut ketika ditinggal sendirian padahal Wety sesaat saja ke kamar mandi. Entah berapa kali Wety terjatuh dari tangga bahkan jembatan titian antara camp dan klinik karena tiba-tiba saja Popi menjerit saat dalam perawatan di klinik. Keberadaan Wety hampir tak tergantikan. Seperti bayi manusia yang sangat bergantung pada ibunya. Seperti itulah bayi orangutan dengan induknya.

Detik demi detik berlalu, Popi tumbuh menjadi anak orangutan dengan tingkahnya yang sulit ditebak. Sikap manja nya mulai berubah dengan sikap membangkang. Tak mudah menyuruhnya naik ke atas pohon, saat dia asik bermain di bawah, berguling-guling di tanah atau sedang memperhatikan akar yang diselimuti lumut. Tapi juga tak mudah menyuruhnya turun dari pohon, saat dia sudah asik bermain dari satu dahan ke dahan yang lain. “Bahkan iming-iming susu pun akan diabaikannya.”, tambah Wety.

Popi adalah salah satu bayi orangutan yang terpaksa kehilangan induknya. Popi kehilangan kehidupan alaminya di hutan bersama induknya. Suatu masa dimana bayi orangutan sangat tergantung pada induknya hingga dia berusia 6 tahun. “Kami di COP Borneo membantunya, kami berharap sifat alami liarnya terus muncul seiring usianya yang bertambah.”, ujar Wety. Yuk bantu Popi lewat http://www.orangutan.id/adopt/#4

BEFRIENDED WITH HEADLAMP, WRITING ORANGUTANS’ REPORT

Last night, APE Defender team who runs the COP Borneo orangutan rehabilitation center, were still recapitulating daily orangutan activities. Bringing the headlights on, Steven rewrote his notes. ” This is daily orangutan report. If i don’t work on it tonight, it will keep on accumulated tomorrow.”

Steven, the monitoring and patrolling staff, is the guy who ensure the feed needs and security of orangutans in COP Borneo. The solar panel was in trouble tonight so the camp was in the dark. While writing, Steven muttered, ” Today unyil ate figs several times, Mas.” And i fell asleep listening to the story of the development of other orangutans.

There are four orangutans to be released next month. Unyil is one of them. Unyil was rescued from Muara Wahau, Unyil who never climbed a tree. Unyil who was always eating rice fed by human. Unyil whom hair was straightened. Yes.. that Unyil who was living years in the toilet will be released. This are all because of your trust to support us, Indonesian youth who dream for Indonesian orangutans future. (SAR)

BERTEMAN HEADLAMP, TULIS RAPOT ORANGUTAN
Malam ini, Tim APE Defender yang menjalankan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo masih rekapitulasi aktivitas orangutan harian. Bertemankan cahaya lampu kepala, Steven menulis kembali catatannya, “Ini adalah rapot harian orangutan di pulau. Kalau ngak dikerjain malam ini, besok akan menumpuk terus.”.

Steven, staf monitoring dan patroli pulau orangutan adalah orang yang memastikan kebutuhan pakan dan keamanan orangutan di COP Borneo. Malam ini solar panel sedang bermasalah sehingga camp gelap-gulita. Sambil menulis, Steven bergumam, “Unyil hari ini makan buah ara beberapa kali mas.”. Dan aku pun tertidur sambil mendengarkan cerita perkembangan orangutan lainnya.

Ada empat orangutan yang akan dilepasliarkan bulan depan. Unyil salah satunya. Unyil yang diselamatkan dari Muara Wahau. Unyil yang tidak pernah memanjat pohon. Unyil yang selalu makan nasi dengan cara disuapi. Unyil yang rambutnya direbonding. Ya… Unyil yang hidup bertahun-tahun di dalam toilet itu akan dilepasliarkan kembali. Ini semua berkat kepercayaan kamu untuk mendukung kami, anak-anak Indonesia yang punya mimpi untuk orangutan Indonesia. (NIK)

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY

Raju, a juvenile orangutan was found in the palm oil concession in Kutai Timur, East Kalimantan. After four years living as a pet, the APE Crusader team rescued Raju and moved him to COP Borneo rehabilitation center. Raju then changed his name to Jojo. We conducted a full medical check-up of his health and behavioral study for 2 months. The result is displeasing. Jojo has hepatitis, possibly contagious by humans. 

Memo, an orangutan who used to ride a motorbike with her owner and travel around from village to villages. Memo has joined COP rehabilitation center since 11 April 2015. She is 18 years old now but has a somber future. Memo has hepatitis because she contacted with humans numerous times in the past.

Both of these orangutans will live forever in the cage. The quarantine cages which is limiting their space and movement. They will live behind solid bars, without any chance to feel the fresh air in their habitat. They did not have hepatitis by natural causes. It is transmitted by humans.

Memo and Jojo still have a dream to climb the highest tree, to swing from one tree to another, like the other orangutans do. We also had a dream, to create the first and the only orangutan rehabilitation center that is built and organized by Indonesian people. This dream came true in 2014. Now, our homework is to actualize Memo and Jojo’s dream. Let’s help COP Borneo to buy an island as a sanctuary for Jojo and Memo. They have a right to live as wild orangutans, not in the cage!

Today, as we celebrate The International Day of Charity, we hope you could help our future action by donating through Paypal account of Centre for Orangutan Protection http://www.orangutan.id/what-you-can-do/, or through this crowdfunding site https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Your donation will be used to build a sanctuary island for orangutans with hepatitis in COP Borneo. Your donation could change the life of Memo and Jojo. (IDI)

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY 
Orangutan bernama Raju ini ditemukan di kebun sawit, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Setelah 4 tahun dalam pemeliharaan warga, keberadaan Raju diketahui tim APE Crusader. 4 April 2018 yang lalu, Raju pun masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dan berganti nama menjadi Jojo. Serangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi prilaku dilalui Jojo selama dua bulan penuh. Dan hasil yang sangat mengecewakan pun keluar. Jojo menderita hepatitis dari manusia.

Memo, orangutan yang selalu dibonceng naik sepeda motor oleh pemeliharanya dan diajak berkeliling desa masuk ke pusat rehabilitasi orangutan pada 11 April 2015. Orangutan betina yang berusia 18 tahun ini pun dibayangi masa depan yang suram. Dari hasil laboratorium, Memo menderita hepatitis.

Kedua orangutan COP Borneo ini akan hidup di dalam kandang. Kandang karantina yang terbatas pada ruang dan geraknya. Hidup di balik jeruji besi tanpa ada masa depan untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Hepatitis yang diderita mereka adalah penularan dari manusia.

Memo dan Jojo masih punya mimpi untuk bisa memanjat pohon yang tinggi, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain sebagai orangutan yang memiliki daya jelajah terbatas. Seperti mimpi kami yang berada di pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Pusat rehabilitasi lokal yang sudah berdiri sejak 2014 yang lalu. Mari bantu COP Borneo untuk membeli sebuah pulau sebagai sanctuary island untuk Jojo dan Memo. Mereka pun berhak untuk hidup liar!

Tepat di hari ini, International Day of Charity, berikan bantuan mu lewat akun Kitabisa https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Sanctuary island untuk orangutan hepatitis COP Borneo. Ijinkan Jojo dan Memo liar.

FATHERS DAY 2018 IN AUSTRALIA

Ayah akan selalu menjadi pria pertama yang dicintai putrinya. Ide untuk menghormati ayah dan merayakan peran sebagai ayah lah sehingga muncul Hari Ayah, bahwa tak semua anak perempuan saja, tapi semua anak juga mengakui keberadaan ayah.

Di hari khusus ini 2 September 2018, adakah warga Australia yang akan menjadi ayah angkat bagi orangutan yang berada di pusat rehabilitasi COP Borneo? Atau akankah kamu mendaftarkan ayahmu untuk menjadi ayah angkat orangutan COP Borneo? Langsung klik tautan ini ya orangutanprotection.com/adopt

Page 1 of 1712345...10...Last »