COP Borneo

SAAT SI BOS KECIL MENGGEMASKAN KAMI

Dia memang orang yang paling kecil di pulau orangutan COP Borneo. Suatu pulau yang dihuni para orangutan yang menjalani rehabilitasi untuk dikembalikan ke alam. Tubuh kecilnya bukan berarti dia dengan gampang di “bully” oleh orangutan lain. Sebaliknya, Leci mendapat perlakuan yang baik dari semua penghuni orangutan pra-rilis. Bahkan Hercules, si penguasa pulau pun bisa dikatakan takluk dengan Leci.

Biasanya, saat feeding, orangutan Hercules selalu berusaha merampas makanan dari semua orangutan, namun Hercules tak pernah sekalipun merebut makanan Leci. Malah sebaliknya, Leci lah yang merebut makanan Hercules. Kalau sudah begitu, orangutan Hercules hanya bisa pasrah dan menyerahkan makanan ke orangutan Leci. Mungkinkah karena Leci dianggap anak kecil yang harus selalu dituruti? Atau anak kecil yang tak peduli dengan keberadaan orangutan yang lainnya?

Saat para laki-laki berada di satu tempat, mustahil tanpa perkelahian. Seperti halnya di pulau pusat rehabilitasi orangutan yang berpenghuni orangutan jantan. Perkelahian pun tak bisa terelakan lagi. Perebutan makanan atau sekedar ketidak-sukaan bisa memicu perkelahian. Dan ketika ada orangutan yang berkelahi, biasanya Leci akan mendekat lalu dengan santainya tidur-tiduran di antara mereka yang berkelahi. Kalau sudah begitu, mereka tidak jadi berkelahi lalu satu per satu pergi dengan sendirinya dan Leci tetap di situ untuk bermain.

Memang dasar anak kecil, umurnya masih sekitar 5 tahunan. Umur dimana anak orangutan seharusnya masih bersama induknya, bermain… dan bermain… tanpa peduli bahaya yang mengincar. (WET)

MAMPUKAH NOVI BERTAHAN DI TAHAP AKHIR?

Tatapan matanya semakin tajam saat suara mesin perahu mendekati pulau. Sikapnya sangat awas sekali. Terisolir dari campur tangan manusia membuatnya begitu asing dengan manusia. Tak terkecuali animal keeper yang selalu mengirim makan pagi dan sore. Bahkan dia dengan sabar menunggu pakan diletakkan dan animal keeper menjauh. Itu adalah Novi. Orangutan jantan remaja yang menghuni pulau pra rilis orangutan di COP Borneo sejak Desember 2015 yang lalu.

Novi adalah orangutan yang diselamatkan APE Defender dari kecamatan Kongbeng, Kalimantan Timur. Hilangnya hutan sebagai habitatnya yang mengantarkan mimpi buruknya berada di kolong rumah dengan rantai terikat di leher. Rantai itu menghiasi lehernya selama 5 tahun, sepanjang hari dan malam hingga meninggalkan bekas. Berteman seekor anjing pemburu, Novi bertahan hidup.

Masih teringat saat Novi pertama kali masuk sekolah hutan. Novi tampak merinding dan bingung saat ditinggal di atas akar. Dia mencoba memanjat lebih tinggi lagi sambil menggigiti akar maupun daun yang diraihnya. Novi pun tak bisa membedakan mana akar, dahan atau duri rotan hingga tangannya terluka.

Kini Novi terlihat lebih sering menyendiri. Novi juga lebih sering mencari makanannya sendiri tanpa berharap makanan yang diantar animal keeper setiap pagi dan sore hari. Sarang buatannya pun semakin kokoh. Apakah Novi orangutan selanjutnya yang akan dilepasliarkan kembali ke alam tahun ini?

Mari berikan dukunganmu lewat https://en.kitabisa.com/orangindo4orangutan?ref=2a0a9&utm_source=embed&utm_medium=usershare&utm_campaign=embed COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia. Centre for Orangutan Protection adalah satu-satunya gerakan akar rumput lokal untuk menyelamatkan orangutan Indonesia. Sekarang kamu tahu, Indonesia bisa!

ENRICHMENT BENTUK SARANG LEBAH

Jevri, alumni siswa COP School Batch 7 ini adalah seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ide kreatifnya kali ini membuat enrichment dari akar pohon yang bergelantungan.

Sepanjang jalan dari camp COP Borneo menuju ke kandang orangutan memang banyak akar-akar yang bergelantungan. Awalnya, Jevri menjadikan akar-akar ini mainan untuk dirinya sendiri. Jevri mengikat batu-batu sebesar telapak tangan pada akar-akar tersebut. “Iseng aja.”, katanya. Dari keisengannya itu, dia jadi tahu, akar itu sangat kuat sekali dan mulailah dia berkreasi.

Enrichment yang dibuatnya kali ini diberi nama, enrichment sarang lebah. Akar-akar pohon tersebut dililit-lilit hingga menyerupai sarang lebah, lalu di dalamnya diberi daun dan juga kuaci, tidak lupa dilumuri dengan madu diluarnya. Sangat susah dan membutuhkan kesabaran yang tinggi untum membuat enrichment ini. Dari bentuknya sangat sayang kalau enrichent sarang lebah hanya akan dirusak oleh orangutan Ambon maupun Debbie hanya dalam waktu singkat. Karena untuk membuat satu enrichment, Jevri menghabiskan waktu 30 menit sendiri. Dan benar… tak sampai 10 menit orangutan Ambon berhasil membuka dengan mengigitnya. Sama halnya Memo yang tumbuh menjadi orangutan betina dewasa yang tak mungkin kembali ke hutan karena penyakit hepatitis yang dideritanya. Memo pun menggigit akar-akar itu dengan mudah dan menikmati kuaci yang terseimpan di dalamnya.

“Tujuan enrichment ini sih untuk membuat orangutan sibuk dan melatih insting liarnya dalam mencari makanan.”, jelas Jevri pada saat menjalin akar-akar gantung tersebut. Yang terjadi… ini enrichment untuk orangutan atau manusia ya? (WET)

KUNJUNGAN SEKRETARIS BLI DI COP BORNEO

Hampir 2 tahun Centre for Orangutan Protection mencari lokasi untuk pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Timur. Suatu kondisi yang sangat mendesak dengan semakin prihatinnya orangutan yang berada di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) saat itu. Dengan ijin dari BKSDA Kalimantan Timur dan B2P2EHD Samarinda, COP membangun pusat rehabilitasi orangutan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan. Tahun 2014 menjadi tahun yang bersejarah bagi dunia konservasi Indonesia untuk pertama kalinya putra-putri Indonesia mendirikan pusat rehabilitasi orangutan.

Usaha membangun pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo tak lepas dari dukungan para orangufriends. Orangufriends adalah kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection yang bekerja tanpa henti, dimana saja dan kapan saja. Dukungan itu tak hanya dari dalam negeri saja, beberapa organisasi seperti Orangutan Outreach, The Orangutan Project dan With Compassion and Soul dan perorangan juga mendukung finansial pembangunan COP Borneo. Mimpi anak bangsa untuk orangutan Indonesia yang diwujudkan dari kerjasama semua pihak.

Kunjungan Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi (BLI), ibu DR. Sylvana Ratina bersama Kepala Balai Besar Litbang Ekosistem Hutan Dipterokarpa, bapak Ir. Ahmad Saerozi pada 6 Oktober 2017 menjadi semangat untuk teman-teman di lapangan untuk merehabilitasi orangutan hingga orangutan bisa dilepasliarkan kembali. Rehabilitasi adalah proses panjang dan berbiaya besar yang membutuhkan dukungan dari banyak pihak.

Para tamu disambut dengan sederhana oleh manajer operasional COP, Daniek Hendarto dan manajer komunikasi, Ramadhani. “Bantu kami memberikan kesempatan kedua bagi orangutan-orangutan ini, untuk kembali ke habitatnya dan menjalankan fungsi alaminya di hutan.”, ujar Ramadhani.

SEKOLAH HUTAN COP BORNEO UNTUK BAYI

Ketika mendengar kata sekolah hutan pasti banyak diantara kita yang bertanya apa itu sekolah hutan? Sekolah kok di hutan! Sekolah apa itu?

Sekolah hutan adalah rutinitas setiap hari para animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ketika selesai bersih kandang dan feeding pagi biasanya para bayi orangutan akan dibawa ke hutan untuk sekolah hutan. Untuk apa mereka dibawa ke sekolah hutan?

Rata-rata bayi orangutan yang datang di COP Borneo masih berusia sangat muda, di bawah satu tahun. Di COP Borneo para bayi orangutan wajib untuk mengikuti sekolah hutan. Di sekolah hutan mereka akan belajar dan bermain, belajar mengenali alam liar tempat tinggal mereka kelak dan juga bermain untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka. Di alam liar para bayi orangutan akan selalu bersama induknya sampai sekitar umur 6-7 tahun dan selama itu pulalah mereka akan belajar bertahan hidup dari induknya. Di COP Borneo para keeperlah yang mengajari dan menemani mereka bermain di hutan. Lalu para bayi orangutan ini bermain apa di sekolah?

Bermacam-macam aktivitas selama bayi orangutan berada di sekolah hutan. Arena sekolah hutan seperti tempat untuk mengekspresikan diri mereka, sekedar berguling-guling di tanah atau berayun-ayun di akar. Akar yang menggantung di antara pepohonan adalah mainan idola bagi para bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo karena dengan bantuan akar tersebut mereka dapat naik ke ujung pohon. Bonti adalah salah satu orangutan yang sangat suka bermain di akar, biasanya dia akan berayun-ayun di akar dan ketika sudah bosan dia hanya akan bergelantungan di akar sambil memandangi keeper dari atas pohon. (WET)

WHEN BONTI SEPERATED WITH OWI

Even baby Bonti the Orangutan always with baby Owi, not that he always stuck like a glue in stamps on the envelope. Owi always had a way to get rid of his loyal followers… Bonti. The way Owi.. escaped and approached the animal keeper who was then invited him to go to the forest school. Bonti is most is most afraid of the animal keeper. Maybi Bonti traumatized with humans. “The baby’s orangutan is separated from her mother when the dog is pursuing the mother.”, Bonti\s founder said when asked by the APE Crusader team.

Over the past three months, Bonti has been practicing more often in the trees. “Climbing the tree though not too high is enough to make us happy,” said Wety Rupiana. Just look at how he tried to move from one tree to another. The movement of his feet make the animal keeper stand their ground, worrying Bonti might fell. “To Bad, Bonti still can not make a nest. He just broke the twigs and turned it into a toy. “, added Wety.

Hopefully the weather will be more friendlu, to keep the forest schools running every day. “We believe. the more they practice in the forest school, the orangutan babies will accelerate more quickly. They must have their natural instincts, “said Reza Kurniawan, manager of the COP Borneo. (dhea_orangufriends)

SAAT BONTI TERPISAH DENGAN OWI
Walaupun bayi orangutan Bonti selalu bersama bayi orangutan Owi, bukan berarti dia selalu menempel seperti perangko menempel pada amplop. Owi selalu ada cara untuk lepas dari pengikut setianya… Bonti. Caranya… Owi melarikan diri dan mendekati animal keeper yang saat itu mengajaknya ke sekolah hutan. Bonti memang paling takut dengan animal keeper. Mungkin, Bonti trauma dengan manusia. “Bayi orangutan betina ini terpisah dari induknya saat anjing mengejar induk orangutan ini.”, ujar penemu orangutan Bonti saat ditanyai tim APE Crusader.

Selama tiga bulan terakhir, Bonti semakin sering berlatih di pohon. “Memanjat pohon walau tak terlalu tinggi sudah cukup membuat kami bahagia.”, ujar Wety Rupiana. Lihat saja bagaimana dia mencoba berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Gerakan kakunya membuat para animal keeper berjaga-jaga, kawatir Bonti terjatuh. “Sayang, Bonti masih belum bisa membuat sarang. Dia hanya mematah-matahkan ranting dan dijadikan mainan.”, tambah Wety.

Semoga saja cuaca semakin bersahabat, agar sekolah hutan tetap berjalan setiap hari. “Kami berkeyakinan, semakin sering mereka berlatih di sekolah hutan, bayi-bayi orangutan akan semakin cepat menyesuaikan diri. Mereka pasti punya insting alaminya.”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

HAPPI WON’T COME DOWN

Lina walk faster to the Clinic. She took a bottle, pour in warm water and four spoon full of milk then stir it. Milk for luring Happi the orangutan that won’t come down were made in the speed of tlight.

This is not the first time Happi the orangutan won’t come down from the tree. Usually when the time to come home, Owi the orangutan came down and not long after other orangutans will follow, Happi not exception. But this time when all the orangutans had come down, back to the cage and all the hammocks had been packed, Happi the orangutan still did not want to go down. it’s had been 45 minutes for Herlina, animal keeper yelled for Happi but ignored. Happi was busy eating the fruit of the forest, sitting in the nest at the tip of the tree.

Climb to catch up.. not possible. The tree is to high, almost 25 meters. Desperate, Herlina sat at the root of the tree waiting for Happi the orangutan. The milk she made was also useless, Happi the orangutan did not look down at all. But Lina did not give up, her eyes always looked up, hoping Happi will saw it.

“Pucuk di cinta, ulam pun tiba” (shoots in loved, dish arrived – Indonesian words means : gaining something more than what been hope for/ dream for – Ed). Herlina waited was not in vain. Happi the orangutan sees it and immediately looks for ways to get off. It took about 10 minutes for Happi to get off the tree. “Happi is to cool to play, not realizing that all other orangutans are back in the cage,” said Lina. “Happi, if you want to climb later on, remember the time ya, Nak! Your mother is not able to climb to get you,” she added. (Dhea_Orangufriends)

HAPPI TIDAK MAU TURUN
Kaki Lina melaju cepat menuju klinik. Lina mengambil botol, mengisinya dengan air hangat dan memasukkan empat sendok susu lalu mengaduknya. Susu untuk memancing orangutan Happi yang tak mau turun pun jadi secepat kilat.

Ini bukan kali pertama orangutan Happi tidak mau turun pohon. Biasanya ketika waktunya pulang, orangutan Owi akan turun lalu tak lama kemudian orangutan yang lain akan mengikutinya, tidak terkecuali Happi. Namun kali ini ketika semua orangutan sudah turun, kembali ke kandang dan semua hammock sudah dikemasi, orangutan Happi masih saja tidak mau turun. 45 menit sudah Herlina, animal keeper teriak-teriak memanggil Happi tetapi tidak juga dihiraukannya. Happi sibuk memakan buah hutan, duduk di sarang buatannya di ujung pohon.

Memanjat untuk menyusulnya… tidak mungkin. Pohonnya terlalu tinggi, hampir 25 meter. Seperti putus asa, Herlina duduk di akar pohon menunggu orangutan Happi. Susu yang dibuatnya pun juga seperti tidak berguna, orangutan Happi tidak melihat ke bawah sama sekali. Tapi Lina tidak menyerah, matanya selalu melihat ke atas, berharap orangutan Happi melihatnya.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Penantian Herlina tidak sia-sia. Orangutan Happi melihatnya dan segera mencari cara untuk turun. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk Happi bisa turun dari pohonnya. “Happi terlalu asik main, tidak sadar kalau teman-temannya sudah kembali ke kandang semua.”, ujar Lina. “Happi, besok-besok kalau manjat, ingat waktu ya nak. Ibumu ini ngak bisa manjat nyusulin kamu.”, tambahnya. (WET)

POPI’S HIDE AND SEEK

Yellow light entered the window of COP borneo mini clinic. It is half past six. Under the morning light through forest canopy, Popi was playing in the baby house, waiting for meal time and forest school afterwards. That were our routine in the morning. While Popi plays in the baby house, I clean her enclosure, prepare milk for the baby orangutans in enclosure 2, COP Borneo rehabilitation center, East Kalimantan.

What would Popi do when someone approach her?

Popi knows that when she plays in the baby house, there will be someone bringing her food. Popi will hide in her favorite spot, inside a blue container. She will hide there while observing the surroundings. Just like kids who like to play hide and seek, Popi will continue to hide, even when her name is called over and over. But she will stay in her favorite spot, leaving the keeper busy looking for her.

Now Popi has a new hiding spot. Volunteers from China provided additional variation to the baby house, built by Angel COP Borneo Project. It is a project of female volunteer from Australia led by Bev Luff from With Compassion and Soul. Baby house is a playing and training arena for baby orangutans to train their muscles and reflexes. When the weather doesn’t allow for forest school activity, the baby house is the destination for the younger orangutans.

Popi’s new hiding spot is a hanging tire. Her small figure allows her to hide in it. Popi will hide until the keeper left. Baby sitter Wetty Rupiana thought her behavior is hilarious.

Popi seems very happy to play alone in the baby house. Baby house is the place to express herself. Maybe baby house is comfortable for her, with less denser forest canopy. She was reluctant to go to forest school. She stayed on the top until Wety come and get her. (Zahra_Orangufriends)

POPI BERMAIN PETAK UMPET
Cahaya kuning menembus jendela mini klinik COP Borneo. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Di bawah cahaya pagi yang menerobos kanopi hutan, Popi bermain di baby house, menunggu saat makan lalu berangkat sekolah hutan. Ya begitulah kebiasaan kami di pagi hari, Popi bermain di baby house, lalu saya akan membersihkan kandangnya, membuat susu untuk para bayi orangutan di kandang 2, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur.

Apa yang dilakukan Popi saat ada yang datang menghampirinya?

Popi tahu, saat dia bermainan di baby house, akan ada yang datang membawakan makanan. Popi memilih bersembunyi di dalam tong biru. Tong biru itu adalah tempat favorit Popi bersembunyi sambil mengamati sekeliling. Seperti anak-anak yang suka bermain petak umpet, Popi pun akan terus bersembunyi, sekalipun namanya dipanggil-panggil berulang kali. Semakin sibuk animal keeper mencarinya, Popi pun akan tetap bertahan di dalam tong birunya.

Kini, Popi punya tempat persembunyian baru lagi. Relawan dari China, memberi variasi tambahan untuk baby house yang dibangun oleh Angel COP Borneo Project. Suatu project relawan perempuan dari Australia yang dikoordinir oleh Bev Luff dari With Compassion and Soul. Baby house menjadi arena bermainan yang sangat berguna melatih otot-otot dan refleks para bayi orangutan. Saat cuaca di COP Borneo tidak memungkin untuk ke sekolah hutan, biasanya orangutan-rangutan kecil akan bermain di sini juga. Tempat persembunyian Popi yang baru adalah ban bekas yang digantung. Tubuh kecilnya masih memungkinkan dia bersembunyi di situ. Popi akan pura-pura hilang hingga animal keeper pergi. Baby Sitter, Wety Rupiana nyaris tak bisa menahan tawanya melihat kelakuan Popi.

Popi terlihat senang sekali ketika bermain sendirian di baby house. Baby house adalah tempatnya mengekspresikan dirinya. Mungkin baby house lebih nyaman buatnya, dengan kanopi pohon yang tidak terlalu rapat. Dia pun terlihat enggan untuk berangkat ke sekolah hutan. Dia pun bertahan terus di atas, hingga Wety menjemputnya ke atas. (WET)

OWI ESCAPE FROM FOREST SCHOOL

This is the development story of Owi the orangutan. Owi still a role model to Bonti and Happi the orangutans in the last 3 months. Owi the ‘Gang Boss’ recorded undergoing forest school as much as 36 times. The extreme weather that causes the school notes are not taken every day. The baby orangutans are still very frightened when they heard thunder and see lightning flashes.

Bringing Owi to the forest school always keeps animal keepers anxious. For several times Owi escaped during the forest school. This may be due to the location of the forest school which is indeed in controlled by Owi. Owi looks like to explore furher.

But… Bonti who always follow Owi wherever he goes, he held back Owi motion . Maybe that’s why, Owi run away. Tired of facing ‘follower’. In forest schools, the average height of the trees is 30 meters high. Owi usually climb up to the end of the tree. Maybe if the trees in the forest school reach to 100 meters, he will climb up to the tip too. What about the animal keeper watching him > Tucked in gratitude. Forgive us Owi. (Dhea_Orangufriends)

KABURNYA OWI DI SEKOLAH HUTAN
Ini adalah cerita perkembangan orangutan Owi. Owi masih menjadi panutan untuk orangutan Bonti dan Happi dalam 3 bulan terakhir ini. Owi si ‘Bos Geng’ tercatat menjalani sekolah hutan sebanyak 36 kali. Cuaca ekstrim yang menyebabkan catatan sekolah hutan tak setiap hari. Bayi-bayi orangutan ini ternyata masih sangat ketakutan saat mendengar halilintar maupun melihat kilat petir.

Membawa Owi ke sekolah hutan selalu saja membuat animal keeper was-was. Bagaimana tidak kawatir. Owi beberapa kali kabur saat sekolah hutan. Ini mungkin karena lokasi sekolah hutan yang memang sangat dikuasai Owi. Owi terlihat ingin menjelajah lebih jauh.

Tapi… Bonti yang selalu mengikuti Owi kemanapun dia pergi, membuat gerak Owi tidak leluasa. Mungkin itu juga sebabnya, Owi melarikan diri. Capek menghadapi ‘follower’. Di sekolah hutan, rata-rata ketinggian pohon 30 meter. Owi biasanya memanjat hingga ujung pohon. Mungkin kalau pohon-pohon di sekolah hutan mencapai 100 meter, dia akan memanjat sampai ujungnyanya juga. Bagaimana dengan para animal keeper yang mengawasinya? Terselip rasa syukur. Maafkan kami Owi. (WET)

BAMBOO CANE ENRICHMENT

When happi spends his time at the socialization enclosure, the animal keepers are making enrichment for him. These enrichment are to help the orangutans shows their natural instinct. Not only for making them busy, but also to avoid boredom and feeling stressed out being in a cage. Therefore, these bamboos-and-leaves-made enrichment are created for them.

Several kinds of Happi’s favorite fruits are inserted inside the bamboo cane. Guavas, papayas, bananas, and corns are diced, then put into the bamboo cane with a hole on the top of it, then sealed with leaves. And the keepers also add some honey to stimulates their sense of smell and taste bud so they are more excited when opening the bamboo cane.

In the end, Happi needed a quite long time opening the cane. He even asked for our help opening this bamboo enrichment. Perhaps he begins to feel desperate. Happi is in the same enclosure with Owi, Bonti and Pingpong, and they are started to work together. They take turns to smash the bamboo cane, working through the hole, extended their finger and mouth to reach the fruits inside until they finally get the prize.

Would you like to be his adopter? Find this link to adopting him https://www.orangutan.org.au/adoption/adopt/happi/?referrer_source=COP

Page 1 of 712345...Last »