BERANI BUKAKAN KELAPA UNTUK ORANGUTAN LAINNYA

Berbagai cara orangutan makan kelapa. Kali ini, kelapa dimasukkan ke kandang orangutan dalam keadaan utuh, lengkap dengan sabutnya. Orangutan Berani langsung mengambil kelapa dan mulai membuka bagian terluarnya. Tidak ada yang berani mengganggunya, bahkan Annie sekalipun, apalagi Owi. Mereka hanya bisa melihat Berani dari jauh sampai kelapa berhasil dibuka.

Berani terlihat sangat menimati daging kelapa, sehingga Annie beberapa kali mencoba untuk mengambil bagian putih dari kelapa yang dibuka oleh Berani. Namun Annie selalu mendapat gigitan dari Berani. Annie menjerit dan mulai marah. 

Sampai pada akhirnya, Happi mendekati Berani dan tanpa penolakan sama sekali. Kesempatan bagi Annie dan Owi yang berada satu kandang orangutan jantan ini untuk ikut mencicipi kelapa. Berani pun akhirnya mempersilahkan teman-teman sekandangnya untuk memakan kelapa yang berhasil dibukanya. Berani… kamu baik sekali… (WET)

HERCULES MEMBUAT SARANG DI PULAU ORANGUTAN

Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah lebih dari dua bulan dipindah ke pulau pra-rilis orangutan bersama Nigel, kabar baik datang dari Hercules. Hercules membuat sarang di pohon.

Belum lama ini, Nigel dan Hercules kembali bertengkar hebat. Hercules kalah dan terlihat sangat takut pada Nigel. Hercules tidak berani turun ke tanah bahkan untuk mengambil makanan pun, Hercules sangat waspada. “Kami harus memisah tempat pemberian makanan. Jika Nigel di sisi utara, maka makanan Hercules kami letakkan disisi selatan.”, ujar Simson, perawat satwa yang kebetulan bertugas di pulau orangutan. 

Beberapa hari setelah kejadian itu, terlihat beberapa patah-patahan ranting yang membetuk seperti sarang. Ternyata itu sarang Hercules. Sampai saat ini, sudah terlihat dua sarang buatan Hercules. Sarang Hercules masih terlihat belum sempurna tetapi setidaknya, dia sudah tidak tidur di dahan pohon lagi. (WET)

ANTAK INGIN KEMBALI KE PULAU ORANGUTAN

Pagi ini dingin sekali. Hujan yang turun semalaman membuat hutan semakin basah. Sambil jalan ke kandang orangutan, tebasan daun dan ujung pohon sedikit terkumpul. Untuk teman orangutan yang tak pernah keluar kandang karena sebab tertentu. Kali ini, cerita Antak si orangutan dari kebun binatang.

Mengenal Antak di tahun 2010, saat itu tubuhnya kecil, kurus berada dalam satu kandang bersama Oki, Hercules dan Nigel. Kedatangan COP di kebun binatang itu membawa harapan baru dengan sesekali mengajak Antak ke sekolah hutan. Kandang kawat yang biasanya dipegang beralih dengan memegang pohon. Tak lama kemudian, enclosure pun berdiri. Menjalani hidup tidak dibalik jeruji besi lagi, tapi di pulau buatan kecil yang lumayan besar.

April 2015, Antak pun pindah ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, kembali ke kandang karantina, tidak lama, enam bulan kemudian, sebuah pulau pra pelepasliaran menjadi rumahnya. Tak mudah untuk orangutan dari kebun binatang untuk bisa bersaing hidup di alam liar. Bersaing dengan orangutan jantan lainnya, berebut makanan, berebut pohon dan kalah dari orangutan dominan menjadi pil pahit untuk Antak. Antak harus ditarik kembali ke kandang karantina, berobat dan dalam perawatan intensif. Luka dan kurang gizi menjadi pekerjaan tersendiri untuk tim medis COP Borneo.

Pagi ini, Antak menatap daun yang ada di tangan. Tak banyak, perlahan… Antak mendekati jeruji besi dan mengeluarkan tangannya, meminta daun-daun basah. Usai memilih-milih, dia mengambil daun pisang, daun yang lebar ini, dan meletakkannya di kepalanya. Hujan gerimis semakin lebat… apakah kamu berlindung dari hujan Antak? 

Semoga kamu bisa kembali ke pulau dua atau tiga bulan nanti ya. Bersaing kembali dengan Nigel dan Hercules.

 

BISAKAH BAYI ORANGUTAN MEMBUKA KELAPA?

Kelapa… untuk membukanya saja kita memerlukan alat yang tajam. Lalu, bagaimana cara para bayi orangutan di pusat rehabilitasi COP Borneo membuka kelapa?

Karena ini tujuannya untuk membuat para orangutan sibuk, maka kami menaruh kelapa-kelapa tersebut di atas kandang. Setengah jam berlalu, kelapa hanya berguling kesana-kemari sebagai bahan rebutan. 

Tidak sabar, akhirnya kami membuka pintu kandang lalu menaruh kelapa di dalam kandang. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit, Bonti dan Berani berhasil meminum air dan memakan daging kelapanya.

Hari ini, Bonti beruntung karena teman-teman sekandangnya sedang sekolah hutan, jadi tidak ada yang mengganggunya menikmati kelapa muda yang sangat segar. Para bayi-bayi ini memiliki gigi yang sangat tajam untuk mengupas kulit dan tempurung kelapa. Kebayang kan, kalau gigi-gigi itu mendarat di kulitmu? (WET)

WATCH OUT FOR THE SNAKE

During forest school, the animal keepers must help baby orangutans to learn to behave like other orangutan in their natural habitat in the forest. Beside climbing and making nest, they also have to introduce the orangutan to the predators  in the wild. One of them that often seen and encountered is snakes.

Usually, animal keepers will bring a rubber snake toy to scare the orangutan who are lazy to climb up the trees. One of the target is Popi who usually lazy to climb high. Every time Popi wants to climb down, the animal keeper ready with the rubber snake in their hand and Popi will soon rush to flee and climb up again.

But after few days meet the snake, it looks like Popi was immune and no longer afraid to the rubber snake. Indeed orangutan are smart, they know which snake is real and which is the fake one. Maybe this time we have to use a new snake that can move and hiss so it looks more similar with the real snake.

Finally, the rubber snake toy which didn’t scary anymore is stored and hung just like that in the food storage. Even though the snake failed the orangutan, it always succeed to make every staff who worked in the storage jump and suprised. (LDS)

AWAS ADA ULAR

Selama sekolah hutan, para perawat satwa harus membantu orangutan-orangutan kecil untuk belajar berperilaku seperti orangutan lainnya yang hidup secara alami di hutan. Selain memanjat dan membuat sarang, mereka juga harus mengenalkan para orangutan dengan predator-predator di alam. Salah satunya yang sering ditemui adalah ular.

Biasanya para perawat satwa akan membawa ular mainan yang terbuat dari karet untuk menakut-nakuti para orangutan yang malas memanjat. Salah satunya yang sering menjadi target adalah Popi yang terkadang malas memanjat. Setiap kali Popi hendak turun dari pohon, perawat satwa sudah siap dengan ular di tangan dan Popi pun akan segera memanjat terbirit-birit kabur ke atas pohon.

Namun setelah beberapa hari selalu bertemu dengan ular karet itu, sepertinya Popi sudah kebal dan tidak takur lagi. Memang orangutan itu pintar, mereka bisa mengetahui mana ular yang asli dan mana yang palsu. Mungkin kali ini kami harus memakai mainan ular jenis baru yang bisa bergerak dan bersuara sehingga lebih mirip dengan aslinya. Adakah?

Akhirnya ular karet mainan yang sudah tidak menakutkan itu disimpan dan digantung begitu saja di gudang pakan. Meski sudah gagal menakuti para orangutan, ular mainan itu selalu berhasil membuat jantungan siapapun yang bertugas memotong buah di gudang pakan. (LDS)

MEMO THE GREAT PITCHER OF COP BORNEO

One time when the animal keepers were on their holiday, we (the volunteers) were asked to help clean the septic tank in each cage area. One of the septic tank is placed right next to the Memo’s cage. With a curious mind, Memo watched the five of us with Flora as the vet took turns in digging and moving the dirt from the septic tank.

However, when we were busy with cleaning, suddenly we heard something.

“Duk…”

A red tomato rolled next to us. It turns out that Memo threw us with some left over fruits.

Indeed, Memo is famous as a great pitcher in COP Borneo. Some of us have tasted her sharp shot of tomatoes or eggplants. And we usually try to remind her not to threw away and waste her foods.

Memo is a clever orangutan, but unfortunately Memo can not be released to the wild because she has a history of Hepatitis B. That’s why she tried to do anything to amused herself and to reduce her boredom and curiosity.

Only this time it seemed that Memo was trying to attract our attention so we did not just pay attention to the almost empty septic tank but also play with her.

Okay Memo, please be patient, we will immediately pay attention to you after we finish clean the septic tank. (LDS)

MEMO SI PELEMPAR JITU DI COP BORNEO

Suatu kali ketika para perawat satwa sedang libur, kami para relawan diminta untuk membantu membersihkan septic tank di setiap area kandang. Salah satu septic tank berada tepat di samping kandang Memo. Dengan penasaran Memo memperhatikan kami berlima bersama drh. Flora yang sedang bergantian menggali dan memindahkan kotoran dari dalam septic tank.

Namun ketika sedang sibuk-sibuknya dan khusyuk membersihkan septic tank, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Duk…”

Sebuah tomat merah menggelinding terjatuh di dekat kami. Ternyata Memo dengan isengnya melempari kami dengan buah-buah yang beum dimakannya.

Memang, Memo terkenal sebagai pelempar ulung. Beberapa dari kami sudah merasakan tomat atau terong lemparannya yang jitu. Dan kami sering kali berusaha mengingatkannya untuk tidak membuang-buang makanannya.

Memo adalah orangutan yang pintar, namun sayangnya Memo tidak dapat dilepasliarkan karena memiliki riwayat penyakit Hepatitis B. Oleh karena itu, berbagai cara ia lakukan untuk sekedar mengurangi rasa bosan dan penasarannya.

Hanya kali ini, sepertinya Memo memang berusaha menarik perhatian kami agar tidak hanya memperhatikan septic tank yang sudah hampir kosong itu dan bermain dengan dirinya.

Baiklah Memo, sabar ya… setelah selesai kami akan segera memperhatikan dirimu lagi. (LDS)

KOLA TAK BISA MEMBUKA MANGGIS

Pandangan pertamanya jatuh pada manggis. Namun… Kola membuangnya dan mengambil cempedak untuk dinikmati. Ternyata Kola tidak bisa membuka buah manggis. Kerasnya kulit manggis tanpa tahu cara membukanya tak cukup membuat penasaran orangutan repatriasi Thailand ini. Kola menyerah. 

Perawat satwa mendekati Kola sambil membawa manggis, menekan manggis dengan kedua tangannya. Kola berhenti memakan cempedaknya dan meletakkannya di bagian dalam kandang. Kola memperhatikan tangan perawat satwa dengan seksama dan menjulurkan tangannya. 

Jari telunjuknya mengutik bagian putih dari manggis. Kola memakannya dan… semua manggis bagiannya habis. Perawat satwa membukakan lagi manggis berikutnya. Kola menyukai manggis. Sampai Kola mencari sisa-sisa di kulit manggis yang baru saja dimakannya.

“Baiklah Kola, selanjutnya kamu harus bisa membuka manggis sendiri ya! Manggis ini termasuk buah hutan loh. Di hutan lebih banyak buah lainnya yang membutuhkan cara untuk menikmati buahnya. Jangan menyerah Kola!”. (WET)

KOLA: A CEMPEDAK (Artocarpus integer) OR MANGOSTEEN?

Guess the mangosteen…does she laugh sweetly? This time we have a new fruit for Kola, a Thai repatriated orangutan. New fruit for Kola? Because for a month at the COP Borneo Rehabilitation Center in KHDTK Labanan, the only fruits she knew were bananas, pineapples, papayas, tomatoes and oranges. This time, we tried to introduce Cempedak and Mangosteen fruits for Kola.

From his first glance, it was seen that Kola glanced at the mangosteen more than Cempedak. Itself are seasonal local fruits. If it’s not time to bear fruits, so there is no fruit. However, after taking the mangosteen, Kola threw it away and took Cempedak.

“Suprised…Kola suddenly took a splash from the hands of the animal keeper on duty in quarantine cages.”, said Wety Rupiana. Kola brought the choke up, opening it with her big teeth and long fingers. Bananas are his favourite so far be ignored. While lying on his hammock…Kola sucked in Cempedak.(LRS)

 

KOLA: CEMPEDAK ATAU MANGGIS?

Tebak-tebak buah manggis… apakah dia tertawa manis? Kali ini kami punya buah baru untuk Kola, orangutan repatriasi Thailand. Buah baru untuk Kola? karena selama sebulan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, buah yang dikenalnya hanyalah pisang, nanas, pepaya, tomat dan jeruk. Kali ini, kami mencoba memperkenalkan buah Cempedak dan Manggis untuk Kola.

Dari pandangan pertamanya, terlihat Kola lebih melirik manggis dibandingkan cempedak. Manggis dan Cempedak sendiri adalah buah lokal musiman. Kalau tidak waktunya berbuah, ya buah itu tidak ada. Namun, setelah mengambil manggis, Kola membuangnya dan mengambil Cempedak.

“Kaget… Kola tiba-tiba saja mengambil cempedak dari tangan perawat satwa yang bertugas di kandang karantina.”, ujar Wety Rupiana. Kola membawa cempedak ke atas, membukanya dengan gigi-giginya yang besar dan jari-jarinya yang panjang. Pisang yang menjadi kesukaannya selama ini tidak dipedulikannya lagi. Sambil tiduran di hammock nya… Kola mengulum cempedak. (WET)

CEMPEDAK (Artocarpus integer) MAKE ANNIE CONFUSION

Cempedak (Artocarpus integer) season is coming again. This fruit is an idol for orangutans at the COP Borneo Rehabilitation Center. The taste is sweet and also the fragrant smell is the main attraction for them.

In the market, Cempedak fruit has a price that is arguably higher than other fruits. Because this price is what makes us often miss this seasonal fruit. But…this time the price was a little shopper and there was a donation from good people through https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan . We immediately paid and put it in a sack of groceries to give to the orangutans at the Borneo Orangutan Rehabilitation Center.

Without chopping we took it to the forest school location. Initially we wanted to hide it from forest students, hoping they would find it. But it turns out that Annie’s sense of smell is very good, Annie trails the animal nuts who carries Cempedak in her basket and ignores her breakfast. Finally, we handed the basket of Cempedak to Linau, the animal keeper Annie feared. Successfully, Annie stayed away.

But not to stay away from Cempedak, but rather looking for ways to trim Linau. Annie spun around, climbed up, approacehed Linau then pulled away again, watching the surroundings so continuously. All her friends were quite while eating on a tree, only Annie looked very worried. The smell and taste of Cempedak really disturbed Annie’s mind. After struggling for fifteen minutes, Annie got her Cempedak coveted fruit without allowing her friend to taste 

Thank you for the donation… I am very happy to see Annie’s enjoying Cempedak, a seasonal fruit that is hard to come by. (LRS)

 

CEMPEDAK MEMBUAT ANNIE RISAU

Musim Cempedak datang lagi. Buah yang satu ini menjadi idola bagi para orangutan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo. Rasanya yang manis dan juga baunya yang harum menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Di pasar, buah Cempedak memiliki harga yang bisa dibilang tinggi dibandingkan buah lainnya. Karena harganya ini lah yang membuat kami sering melewatkan buah musiman ini. Tapi… kali ini harganya sedikit lebih murah dan ada donasi dari orang baik melalui kitabisa.com Kami langsung membayar dan memasukkannya ke karung belanjaan untuk diberikan kepada orangutan-orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. 

Tanpa dipotong-potong kami membawanya ke lokasi sekolah hutan. Awalnya kami ingin menyembunyikannya dari para siswa sekolah hutan, dengan harapan mereka mencarinya. Namun ternyata indra penciuman Annie sangat bagus, Annie membuntuti perawat satwa yang membawa Cempedak di dalam keranjangnya dan mengabaikan makan paginya. Akhirnya, kami menyerahkan keranjang berisi Cempedak itu ke Linau, perawat satwa yang ditakuti Annie. Berhasil, Annie menjauh.

Tapi bukan untuk menjauhi Cempedak. melainkan mencari cara mengelabui Linau. Annie berputar, memanjat, mendekati Linau lalu menjauh lagi, mengamati sekeliling begitu terus menerus. Semua teman-temannya diam sambil makan di atas pohon, hanya Annie yang terlihat sangat risau. Bau dan rasa Cempedak benar-benar menganggu pikiran Annie. Setelah berjuang selama limabelas menit, Annie mendapatkan buah Cempedak incarannya tanpa memperbolehkan temannya untuk mencicipi. 

Terimakasih ya donasinya… bahagia sekali melihat Annie menikmati Cempedak, buah musiman yang sulit didapat. (WET)

BERANI TAK BERANI TURUN

Memahami perilaku orangutan tak cukup hanya mengamatinya satu atau dua kali saja. Berani yang dari catatan sekolah hutan sering bermain di lantai hutan apalagi kalau sudah ketemu Annie yang menjadi temannya bergelut. Keduanya bisa berjam-jam berdua saling gigit, bergulung-gulung di tanah. Bahkan usaha untuk memisahkan keduanya terkesan sia-sia, karena ternyata mereka tidak berkelahi serius, tapi lebih ke bermain.

Dan suatu sore menjadi sore terlama untuk Amir saat hujan terus menerus menguyur hutan hujan Kalimantan yang menjadi kelas sekolah hutan COP Borneo. Berani naik ke atas pohon di depan kandangnya. Naik dan naik terus, tak menghiraukan teriakan untuk turun dan saatnya masuk kandang. 

Hari semakin gelap, Berani masih di atas. Menjemputnya ke atas semakin tak mungkin, licin karena hujan. Berani berdiam di atas… ternyata dia pun takut. Beberapa kali memberanikan diri untuk turun dengan berpegangan pada akar yang menggelantung, dan terpeleset. Berani pun memilih berdiam. Bermalam di atas pohon, di depan kandang.

Page 1 of 2712345...1020...Last »