BACK TO PETOBO BECAUSE OF HER SMALL CAT

A mother with her third-grade elementary school child is putting in pieces of wood. There is a small cat who follows her into her yard. “Can we feed the cat, Ma’am?” said Ami while squatting and stroking the little cat. “Oh… you guys from cat lovers, right? Yes, you can. I haven’t feed him since I left him. I brought food from the evacuation camp but he didn’t want it.”

The little cat hid behind the mother. “Just put the food in the place to eat. That… there. ” Ami also started the conversation, asking how the mother was. Her family survived, but the furniture in her house was broken. They left the house and followed the other residents to the evacuation camp. The devastating earthquake at September 28 was very traumatic to them. At that time, she only had limited time to run away, so she only took her children and left the cat at the house.

When she arrived at the evacuation camp, she realized her beloved cat was left behind. Three days in evacuation made her even more uneasy. Finally, she came home and found her cat still on the porch of the house. She plans to bring her cat to the camp.

In the midst of the trauma of the refugees, not only this mother who returned to her home because worrying of her beloved cat. Your help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu will keep being distributed until the situation gets better. (IND)

KEMBALI KE PETOBO KARENA KUCING KECILNYA
Seorang ibu dengan anaknya yang kelas 3 SD sedang memasukkan potongan kayu. Ada kucing kecil yang mengikutinya bolak-balik masuk ke pekarangannya. “Boleh kasih makan kucing ya Bu…”, sapa Ami sambil jongkong dan mengelus kucing kecil. “O… kalian dari pecinta kucing ya? Kasih saja, sejak ku tinggal belum makan dia. Tadi kubawakan makanan dari posko, ngak mau dia.”.

Kucing kecil itu pun bersembunyi di balik si ibu. “Taruh saja di tempat makannya. Itu… di situ.”. Ami pun memulai perbincangan, dengan menanyakan kabar si Ibu. Mereka sekeluarga selamat, namun perabotan di rumahnya pecah semuanya. Mereka meninggalkan rumah dan mengikuti warga lain untuk ke posko. Gempa maha dahsyat 28 September itu pun menjadi trauma tersendiri. Saat itu tak terpikir olehnya untuk membawa apapun, kecuali anak-anaknya dan keluarga kecilnya.

Sesampai di Posko Pengungsian, baru dia tersadar, kucing kesayangan anaknya tertinggal. Tiga hari di pengungsian membuatnya semakin tidak tenang. Akhirnya dia pulang dan menemukan kucingnya masih di teras rumah. Dia pun berencana membawa kucingnya ke tempat pengungsian.

Di tengah trauma para pengungsi, tak cuman ibu dengan tiga anak ini yang kembali ke rumahnya karena terpikir nasib kucing kesayangan anaknya. Bantuan kamu lewat https://kitabisa.com/bantusatwapalu akan terus kami distribusikan hingga keadaan semakin membaik.

WHO IS COP AND WHAT IS ORANGUFRIENDS?

* If you watch Animal Planet, National Geographic or Discovery Channel, even though the contents are Indonesian nature and wildlife but how come it is occupied by foreigner? This is weird, why the wildlife of Indonesia is handled by foreigner? Where are Indonesian people?
* Then there is a kind of opinion that evolves in the communities that foreigner cares, and Indonesian doesn’t. And the perception that it is normal is also evolving.
* Departing from such reality, some Indonesian youths are determined to prove that we can do what foreigner does. Proving that Indonesian youths are capable to manage Indonesian wildlife and wild nature themselves. Then, they founded COP.

* Why orang-utans? Because Panda is identical to China and Elephants are identical to Thailand. Well then, we just take the orangutan. After all, this is the only great ape in Asia. Only in Indonesia and a few in Malaysia. And this is a bit ironic that Malaysia, which has fewer orangutans, is more popular as nature conservation destination to see orang-utans. Indonesia that has orang-utans but Malaysia that grabs billion of dollars from orangutan tourism. So, let’s grab that reputation!

* Another reason why orangutans is communication strategy. This is the entry point to something bigger, namely: Animal – People – Environment. If we use Snake Protection, it will be difficult because people will be afraid from the start, won’t they? And in fact, working in orangutan conservation is a strategic and intelligent step to protect other types of wildlife. Which also has direct impacts on the local community and its environment.

* Well, what about Orangufriends? COP realises that this is a considerable work that is not possible to be done by few people. Nature conservation should be a mass movement, become a part of Indonesia social responsibility and lifestyle. Because of that, COP formed a support group to become a member of Orangufriends.

* It is easy. Don’t have to take a hard training like nature-lovers club does. No punishments, no push-ups, etc. Why make it difficult to care? So, to become Orangufriends member you just have to fill the forms and pay contribution, also agree to obey values of conservationist, such as not hunting/poaching wild animals, not making pet of wild animals or sell them. After becoming member, it is also easy to participate. For those who doesn’t have much time, you can just ‘like, comment, and share’ on social media. We call them Cyber Campaigner. In the current era of New Media, their stregth becomes a decisive factor in winning or losing the opinion war against the perpetrators of crime and cruelty to animals. Those who have much time can also help in education and awareness activities directly, such as exhibitions, school visit, music events or festivals. Those who are dare and crazy enough are welcome to spend time being members of Rescue, Rehab, and Release team or Law Enforcement team.

*Orangufriends is also a great place for self-development for youth. Learn many things from each other from various regions and various countries. Opportunities to travel in various assignments. No more story of unemployed after graduating because of no life-skill and connections/networking.

* For those who are serious to learn deeper, COP also educates a new generation of wildlife protectors since 2011. Commonly called COP School. This is a training and indoctrination program designed specifically for young people who want to work in nature conservation world. Only 35 students a year, get a scholarship and certainly, there is an entry selection.

* If you are already a member of Orangufriends or have graduated from COP School, what activities will you do? Read again the explanation above hehehe. But for sure, this makes us different from other young people who can only take a selfie and write ‘My Trip My Adventure’ caption, It’s about real work as a member of style – funky – global team. (SAR)

SIAPA COP dan APA ITU ORANGUFRIENDS?
* Jika kalian menonton Animal Planet, National Geographic atau Discovery Channel, meskipun isi acaranya satwa liar dan alam Indonesia tapi kok isinya orang asing? Ini aneh, kenapa satwa liar dan alam liar di Indonesia tapi yang menanganinya kok orang – orang asing? Ke manakah anak – anak bangsa Indonesia?
* Lalu ada semacam opini yang berkembang di masyarakat bahwa orang bule itu peduli, kalau orang Indonesia tidak. Lalu berkembang pula persepsi bahwa itu memang sudah sewajarnya.
* Berangkat dari realitas semacam itu, beberapa anak bangsa Indonesia bertekad untuk membuktikan bahwa kita bisa. Membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mengelola satwa liar dan alam liar sendiri. Lalu mereka mendirikan COP.

* Mengapa orangutan? Karena mau pakai Panda sudah telanjur identik dengan China. Mau Gajah sudah telanjur identik dengan Thailand. Ya sudah, kita pakai Orangutan aja. Lagipula ini satu – satunya kera besar di Asia. Hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Lagipula, ini sedikit ironis sebenarnya. Malaysia yang punya sedikit orangutan malah lebih ngetop sebagai tujuan wisata konservasi alam untuk melihat orangutan daripada Indonesia. Indonesia yang punya orangutan tapi Malaysia yang panen milyaran dolar dari wisata orangutan. Jadi, mari kita rebut reputasi itu.

* Alasan lain kenapa orangutan adalah strategi komunikasi saja. Ini hanya entry point untuk sesuatu yang lebih besar, yakni: Animal – People – Enviroment. Kalau kita pakai perlindungan ular, akan sangat sulit karena orang sudah merasa takut duluan. Ya kan? Dan pada kenyataannya, kerja konservasi orangutan ini ternyata langkah strategis dan cerdas untuk melindungi jenis satwa liar lainnya. Yangmana jika kita telusuri juga berdampak langsung pada masyarakat setempat dan lingkungannya.

* Nah, bagaimana dengan Orangufriends? COP sadar bahwa ini adalah kerja besar yang tidak mungkin dilakukan oleh segelintir orang. Sudah seharusnya konservasi alam menjadi gerakan massa. Menjadi bagian dari tanggung sosial masyarakat Indonesia dan gaya hidup. Karena itu COP membentuk kelompok pendukung untuk menjadi anggota Orangufriends.

* Caranya mudah. Tidak harus mengikuti pendidikan yang keras seperti kelompok pecinta alam. Tidak ada hukuman tidak ada push up dll. Mau peduli aja kok susah. Jadi, untuk jadi anggota Orangufriends cukup dengan isi Fomulir anggota dan bayar iuran, serta sepakat untuk mentaati nilai – nilai yang patut bagi konservasionis, misalnya tidak berburu satwa liar, tidak memelihara atau jual beli. Setelah jadi anggota juga mudah untuk berpartisipasi. Yang tidak punya waktu cukup like, comment dan share di medsos. Kami mengebutnya dengan Cyber Campaigner. Di era New Media saat ini, kekuatan mereka menjadi faktor penentu kalah menangnya perang opini melawan pelaku kejahatan dan kekejaman terhadap satwa. Yang punya banyak waktu juga bisa membantu secara langsung dalam kegiatan pendidikan dan penyadaran seperti pameran, kunjungan ke sekolah, event – event musik atau festival. Yang gila dan nekat bisa menghabiskan waktu dengan jadi anggota tim Rescue Rehab Release atau anggota tim penegakan hukum.

* Orangufriends juga wahana yang bagus untuk mengembangkan diri bagi anak – anak muda. Belajar banyak dari yang lain dari berbagai daerah dan berbagai negara. Berkesempatan bepergian dalam berbagai penugasan. Gak ada lagi ceritanya lulus kuliah menganggur karena tidak punya life skill dan jaringan kerja / koneksi.

* Bagi kalian yang serius ingin belajar lebih dalam, COP juga mendidik generasi baru para pelindung satwa liar sejak tahun 2011. Biasa disebut COP School. Ini adalah program pelatihan dan indoktrinasi yang dirancang khusus bagi anak muda yang ingin berkarier di dunia konservasi alam. Hanya 35 orang pertahun, dapat beasiswa dan pastinya ada seleksi masuknya.

* Kalau sudah jadi anggota Orangufriends atau lulus COP School, lalu kegiatannya apa? Baca lagi penjelasan di atas hehehe. Tapi, yang pasti, ini membuat kita beda dengan anak muda lainnnya yang cuma bisa selfie dan bikin caption My Trip My Adventure. Ini tentang kerja nyata sebagai anggota tim yang gaya – gaul – global. (BAK)

HELP ANIMALS IN BKSDA CENTRAL SULAWESI

Today the Animals Warrior team went to Palu, to the office of BKSDA Central Sulawesi. The area around their office is still paralyzed by the earthquake that occurred on September 28, 2018. At the BKSDA office, there is 1 crocodile, 1 eagle, 2 Moluccan cockatoos, 2 yellow-crested cockatoos, 5 black head parrots, 1 parrot, and 2 maleo birds. These animals are confiscated by the BKSDA Central Sulawesi.

Since the earthquake occurred, the animals were in cages without eating or drinking because all of the BKSDA staff were affected by the disaster. This morning, the team communicated briefly with the keeper and offered temporary maintenance there. The team also provided fresh fruit and corn to feed the animals, and luckily the fruit market return to open. Don’t forget drinking water for these animals. These are all the activities that will be carried out during disaster response.

Center for Orangutan Protection with Animals Indonesia made BKSDA Central Sulawesi office as a rescue post. For those of you who care about animals in Palu can show your support by sending animal food to Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu 94121 or click https://kitabisa.com/bantusatwapalu

BANTU SATWA GEMPA DI BKSDA SULTENG
Hari ini tim Animals Warrior yang terjun ke Palu datang ke kantor BKSDA Sulawesi Tengah. Daerah sekitar kantornya masih lumpuh karena gempa yang terjadi 28 September 2018 ini. Di kantor BKSDA terdapat 1 buaya, 1 elang, 2 kakatua molucencis, 2 kakatua jambul kuning, 5 nuri kepala hitam, 1 bayan dan 2 burung maleo. Satwa-satwa tersebut merupakan sitaan BKSDA Sulteng.

Sejak gempa terjadi, meraka yang di kandang tanpa makan dan minuman karena semua staf BKSDA Sulteng terdampak bencana ini. Pagi tadi, tim berkomunikasi singkat dengan penjaga dan menawarkan pemeliharaan sementara di sana. Tim pun memberikan pakan buah segar dan jangung yang kebetulan sekali sudah ada penjual buah yang berjualan. Tak lupa air minum untuk satwa-satwa tersebut. Ini merupakan kegiatan yang akan dilakukan selama tanggap bencana.

Centre for Orangutan Protection bersama Animals Indonesia menjadikan tempat di BKSDA Sulteng sebagai posko dan tinggal tim. Bagi kamu yang peduli satwa di Palu bisa mengirimkan bantuan berupa pakan satwa ke Jl. Prof M. Yamin No 19 Palu 94121 atau klik https://kitabisa.com/bantusatwapalu

HELP ANIMAL VICTIMS IN PALU

The city of Palu and several surrounding cities are totally paralysed by the earthquake and tsunami. The number of human victims has reached more than 800 people. Humanitarian assistance continues to come. Even so, is there anyone help pets and livestock victims?

As usual, Animals Indonesia with the support from COP are sending the Animals Warrior team to help displaced animals in disaster-affected areas such at Mount Merapi – Yogya, Mount Kelud Malang – Kediri, Mount Sinabung – North Sumatra, Mount Agung – Bali, and others. This team will rescue, take care, and reunite animals with their owners, including taking care of animals that have already dead.

The help from all of animal lovers is pretty much needed so the team can work well and help animals as many as possible. You can help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu or directly to Centre for Orangutan Protection account no. 0137088800 (BNI NI DJA) by adding 9 at the final nominal, we can immediately confirm it is a donation to Palu animals. (SAR)

BANTU SATWA PALU
Kota Palu dan beberapa kota sekitarnya lumpuh total karena dihentak gempa bumi dan tsunami. Jumlah korban manusia sudah mencapai 800an lebih. Bantuan kemanusian terus mengalir. Namun demikian, adakah yang membantu korban satwa kesayangan dan ternak? 

Animals Indonesia dengan dukungan dari COP seperti biasa menerjunkan tim Animals Warrior untuk menolong satwa yang telantar di kawasan – kawasan terdampak bencana seperti di gunung Merapi-Yogya, gunung Kelud Malang – Kediri, gunung Sinabung – Sumatra Utara, gunung Agung – Bali dan lain – lain. Tim ini akan menyelamatkan, merawat dan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Termasuk mengurus satwa yang sudah telanjur tewas. 

Mohon bantuan anda semua para pecinta binatang agar tim ini dapat bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa. Melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu atau langsung ke nomer rekening Centre for Orangutan Protection 0137088800 (BNI NI DJA) dengan menambahkan nominal akhir 9 agar kami segera dapat mengkonfirmasi itu merupakan sumbangan untuk satwa Palu.

BEHIND THE CAGE OF THE ZOO

Indonesia has a lot of zoo located in various places. In the city center or in suburb area. The capacity also varies, some are small and some are hectares wide. The animals collection also varies, some are only collected one type of animals, some are collected animals from all around the world. Are zoos in Indonesia already decent enough for its animal welfare?
Various problems become issues regarding the lifes behind the zoo cage. From the space of cage, till the number of animals live in the cage. Sometimes, one orangutan can occupies 2×2 m cage. Or one 5×5 m bird cage occupied dozens of birds. Are those feasible for animals life in the cage?

Besides cage issues, there are numbers of animals that live in one zoo area that are not well treated. The reason is the lack of human resource to take care all of them. One zoo keeper can take care up to three or more animal cages. this is why some animals don’t get noticed properly. From the cleanliness of the cage, unhealthy food, to the health of the animals itself. At the end, animals in zoo die because of lack of attention from the zoo management.

In addition to above problems, the lack of awareness of zoo visitor is one of the factors why zoo animals are suffering. We often unconciously feed the animals, even though there is already written not to feed animals in front of the cage. Because of pity, we give them a piece of bread to the orangutan who is reaching out his hand.  Do you know that bread is not orangutan’s food?

Not without reason does the zoo wrote the prohibition to feed the animals. The animals already have their own food, the right food to be eaten. So that their health can be maintained. (SAR)

DI BALIK KANDANG KEBUN BINATANG
Indonesia memiliki banyak kebun binatang. Tersebar di berbagai tempat. Ada yang di pusat kota, atau di daerah-daerah kecil. Luasnya pun beragam, ada yang berkapasitas kecil dan luas berhektar-hektar. Koleksi satwanya pun bermacam-macam, ada yang hanya mengpleksi satu jenis atau koleksi dari berbagai negara. Apakah kebun binatang di Indonesia sudah layak untuk kehidupan satwanya?

Berbagai masalah menjadi persoalan mengenai kehidupan satwa dibalik jeruji kebun binatang. Mulai dari luas kandang, hingga jumlah satwa yang menempati satu kandang tersebut. Terkadang, satu individu orangutan hanya menempati kandang berukuran 2×2 meter saja. Atau satu kandang burung yang berukuran 5×5 meter ditempati belasan burung. Apakah itu layak untuk kehidupan satwa di dalam kandang?

Selain masalah kandang, banyaknya jumlah hewan dalam satu area kebun binatang tidak terurus dengan baik. Alasannya adalah kurangnya SDM untuk mengurus keseluruhan satwa tersebut. Satu orang perawat satwa kebun binatang dapat mengurus 3 atau lebih kandang satwa. Ini yang menyebabkan beberapa satwa tidak diperhatikan dengan baik. Misalnya kebersihan kandang, pakan yang tidak sehat, hingga kesehatan satwa itu sendiri. Pada akhirnya, satwa di kebun binatang mati karena kurangnya perhatian dari pihak manajemen sendiri.

Selain masalah diatas, kurangnya kesadaran kita sebagai pengunjung kebun binatang menjadi faktor tersiksanya satwa di kebun binatang. Kita secara tak sadar sering memberi makanan kepada satwa disana. Padahal di depan kandang sudah tertulis larangan memberi makan satwa. Alih-alih karena kasihan, kita pun memberi sepotong roti kepada orangutan yang sedang menjulurkan tangan. Tau kah kita, bahwa roti bukanlah makanan dari orangutan?.

Bukan tanpa alasan pihak kebun binatang menuliskan larangan memberi makan kepada satwa. Para satwa tersebut sudah memiliki makanan tersendiri, makanan yang tepat untuk dikonsumsi. Tujuannya, agar nutrisi mereka tetap terjaga. (RYN)

INDONESIA, WHEN?

Circus. An entertaining performance. Amusing. Making laugh. Inviting admiration. Have you ever asked how those animals can do such amazing attractions? How can an elephant stands on a beam with one leg? How can a lion pass through the circle of fire without getting hurt? How can an orangutan rides a bike? Not many do knows how a handler trains those animals to do such kind of circus attractions. Nobody know how a lion can pass through the circle of fire. We don’t know the process behind it.

Basically, a lion can never pass through a circle of fire in the forest. So does orangutan that can never ride a bike in the jungle. So, how do they do it? It’s because they are trained by the handler. These animals are trained to do what the handler wants them to do. Ride a bike, pass through a fire circle, sit on a beam with one leg, till perform a magic show. How does the handler train them?

Those animals are made hungry and scared. Believe it or not,, they made the animals hungry and scared so that they will do what the circus handler commands. The circus animals will not be fed before they carry out the orders from handler. If in a starving condition the animal still doesn’t want to do the order, they will make them afraid. Feared by being beaten by blunt object, kicked, pierced by sharp object, and so on. So in the end, the animal does the handler commands with hunger and fear. Very cruel.

Therefore, when we watch the circus attraction, we are watching the animals starve and fear. The animals do the attraction with pressure. With hunger and fear. And we who watch have supported all those cruel actions. Support the torture given by the handlers to these animals.

Several countries have issued regulation to ban circus attractions. Because they felt it is a cruel attraction to animals. When is Indonesia? Do we have the heart to watch the cruelty committed to animals? Do we have the heart to laugh when they feel the hunger and the fear? (SAR)

INDONESIA KAPAN?
Sirkus. Tontonan yang menyenangkan. Menghibur. Membuat ketawa. Mengundang decak kagum. Pernahkah kita bertanya bagaimana hewan-hewan tersebut dapat melakukan atraksi sehebat itu?. Bagaimana seekor gajah dapat berdiri di atas sebuah balok dengan satu kaki?. Bagaimana seekor singa dapat melompat di lingkaran api dapat terluka sedikit pun? Bagaimana Orangutan dapat mengendarai sepeda dengan lincah?. Tak banyak yang tau apa yang terjadi di belakangnya. Tak ada yang tau bagaimana seekor pawang melatih hewan-hewan tersebut untuk melakukan aktraksi sirkus. Tak ada yang tau bagaimana seekor singa dapat melewati lingkaran api. Kita tak ada yang tau bagaimana proses di balik semua itu.

Pada dasarnya, seekor singa tidak akan pernah melewati lingkaran api di hutan. Begitu juga orangutan, dia tidak akan pernah mengendarai sepeda di hutan. Jadi, bagaimana mereka dapat melakukannya? Dilatih oleh pawang. Para hewan tersebut dilatih agar dapat melakukan apa yang diinginkan oleh para pawang tersebut. Mengendarai sepeda, melewati lingkaran api, duduk di atas balok dengan satu kaki, hingga melakukan atraksi sulap. Bagaimana cara pawang tersebut melatih hewan-hewan sirkus?

Para hewan tersebut dibuat lapar dan takut. Percaya atau tidak, hewan-hewan sirkus tersebut dibuat lapar dan takut agar dapat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh para pawang sirkus. Para hewan sirkus tidak akan diberi makan sebelum mereka melakukan perintah dari pawang. Jika dalam kondisi lapar hewan tersebut masih tidak mau melakukan perintah dari pawang, maka hewan tersebut akan dibuat takut. Dibuat takut dengan cara dipukuli dengan benda tumpul, ditendang, ditusuk dengan benda tajam, dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya para hewan tersebut melakukan perintah pawang dengan rasa lapar dan takut. Sangat kejam.

Jadi ketika kita menonton aktraksi sirkus, maka kita sedang menonton para hewan tersebut kelaparan dan ketakutan. Para hewan tersebut melakukan atraksi dengan penuh tekanan. Dengan rasa lapar dan takut. Dan kita yang menonton telah mendukung semua tindakan tersebut. Mendukung siksaan yang diberikan para pawang kepada hewan-hewan tersebut.

Beberapa negara telah mengeluarkan peraturan untuk pelarangan atraksi sirkus. Karena mereka merasa itu adalah atraksi kekejaman untuk hewan. Indonesia kapan?. Apakah kita tega menonton kekejaman yang dilakukan untuk hewan?. Apakah kita tega tertawa diatas rasa lapar dan takut hewan-hewan tersebut? (RYN)

ORANGUTANS ARE NOT TOYS

In 2003, Safari World, Bangkok, Thailand held a “Boxing Show” in their zoo. Boxing show is a boxing show using orangutan as the object. Besides boxing show, Safari World, Bangkok, Thailand, there are several zoos in Indonesia that still performs entertainment involving orangutan. The performance is held as a way to attract visitors.

Orangutan is one of the great apes in the world and only spread in Sumatera, Kalimantan, and some parts of Malaysia. Other great apes are found in Africa (Simpanse, Gorilla, and Bonobo). Futhermore, orangutan has DNA similarity with humans as great as 97%. Orangutan is also classified as critically endangered and protected animals by Indonesian government (IUCN). It is a pity to treat orangutan as an animal for human entertainment.

Departing from that matters, COP initiated an #OrangutanBukanMainan or #OrangutansAreNotToys campaign. COP thinks that orangutans should not be treated as entertainment objects, but as animals we should protect. Remembering its status is critically endangered and protected by law.

Some of developed countries has made a regulation to ban animals shows (circus), whether at zoos or other places. The aim is to protect these animals from being exploitation objects by various parties. The Indonesian government has not yet established any regulations to ban animal shows (circus). This is very unfortunate, we still lose at animal welfare with other countries. We still use animals as entertainment objects to gain money for certain parties benefit. Without knowing, indirectly, we who watch the show have supported animal exploitation carried out by various parties.

As a good citizen, let’s stop watching animals show and support the government to immediately make regulations that prohibit animal shows. Indeed, #OrangutansAreNotToys let them free living peacefully in the forest. Not in cages that are used for many people’s entertainment.(SAR)

ORANGUTAN BUKAN MAINAN
Pada tahun 2003, Safari World, Bangkok, Thailand pernah menggelar “Boxing Show” di kebun binatang mereka. Boxing Show adalah pertunjukan olahraga tinju yang menggunakan orangutan sebagai obyeknya. Selain Boxing Show, Safari World, Bangkok Thailand juga mempertontonkan pertunjukan lainnya yang melibatkan orangutan. Tidak hanya Safari World, Bangkok, Thailand, di berbagai kebun binatang Indonesia, masih terdapat pertunjukan hiburan yang melibatkan orangutan. Pertunjukan itu digadang sebagai cara untuk menggaet pengunjung untuk datang ke Kebun Binatang tersebut.

Orangutan adalah salah satu kera besar yang terdapat di dunia dan hanya tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Malaysia. Kera besar lainnya terdapat di Afrika (Simpanse, Gorila, dan Bonobo). Selain itu, orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 97%. Orangutan juga diklasifikasikan sebagai hewan yang dilindungi pemerintah Indonesia dan terancam punah (IUCN). Sungguh sangat disayangkan, jika kita memperlakukan orangutan sebagai hewan untuk hiburan.

Berangkat dari hal tersebut, COP menggagas kampanye #OrangutanBukanMainan. COP merasa orangutan seharusnya tidak diperlakukan sebagai obyek pertunjukan, melainkan hewan yang seharusnya kita lindungi. Mengingat statusnya sudah terancam punah dan dilindungi oleh Undang-Undang.

Beberapa negara maju telah membuat peraturan untuk melarang pertunjukan satwa (sirkus), baik di kebun binatang atau tempat-tempat lainnya. Tujuannya adalah agar satwa-satwa tersebut tidak menjadi obyek eksploitasi oleh berbagai pihak. Pemerintah Indonesia hingga sekarang belum menetapkan peraturan untuk pelarangan penyelenggaraan pertunjukan satwa (sirkus). Hal ini sangat disayangkan, kita masih kalah dalam perlakukan yang baik terhadap hewan dengan negara lain. Kita masih menjadikan satwa untuk hiburan yang menarik pundi-pundi rupiah untuk keuntungan pihak tertentu. Tanpa kita sadari, secara tidak langsung, kita yang menonton pertunjukan tersebut telah mendukung eksploitasi satwa yang dilakukan oleh berbagai pihak.

Sebagai warga negara yang baik, mari kita berhenti menonton pertunjukan satwa dan mendukung pemerintah agar segera membuat peraturan yang melarang penyelenggaraan pertunjunkan satwa. Sejatinya #OrangutanBukanMainan, biarkan mereka bisa hidup bebas dengan tenang di hutan. Bukan di kandang yang menjadi hiburan bagi orang-orang. (RYN)

ORANGUTANS IN REHABILITATION CENTER OR IN THE ZOO?

If there is a question “Which is better, orangutans in the zoo or rehabilitation center?”, then the answer is the rehabilitation center. Why? Because the future is clearer.

Is the future of orangutans in the zoo unclear? Of course, it is clear. Obviously, they will be a spectacle of many people, on display like a doll, then people try to get close to seeing his behavior. Whereas in a rehabilitation center, the orangutan will be placed in a place far away from the crowd and only meet certain people.

Genetically, orangutans have similarities with humans up to 97%. It makes orangutans and humans have some similarities in disease, such as flu, fever, typhoid, malaria, hepatitis, herpes to tuberculosis. So that orangutans and humans can transmit diseases (zoonosis). Some diseases also have special treatment to be cured such as laboratory tests to quarantine.

A zoo is an easy place for the transmission of diseases between humans and animals, especially orangutans, and vice versa. Why? Because the interaction between humans and orangutans is not properly monitored by officers and occurs freely. The warning board has indeed been installed in each enclosure, but who can ensure orangutans and humans do not come into direct contact? The number of visitors causes the interaction to be unavoidable and spread the disease easily.

If orangutans are in a rehabilitation center, orangutans will only interact with a few people like the animal keepers and the medical team. Their condition is also always monitored with regular checks. A special program for orangutans at the rehabilitation center also stimulates the wild nature of the orangutan, because rehab center has its own rehabilitation goal to release orangutans to their habitat. Every individual orangutan has the opportunity to return to live in its natural habitat. (IND)

REHABILITASI ORANGUTAN ATAU ORANGUTAN DI KEBUN BINATANG
Jika ada pertanyaan, “Lebih baik mana, orangutan di kebun binatang atau pusat rehabilitasi?”, maka jawabannya adalah pusat rehabilitasi. Kenapa? Karena masa depannya lebih jelas.

Lalu apakah masa depan orangutan di kebun binatang tidak jelas? Tentu saja jelas, jelas dia akan menjadi tontonan banyak orang, dipajang kemudian orang-orang berusaha mendekat untuk melihat tingkah lakunya. Sedangkan jika berada di pusat rehabilitasi, maka orangutan tersebut akan di tempatkan di kandang yang jauh dari keramaian dan hanya bertemu dengan orang-orang tertentu saja.

Secara genetik, orangutan memiliki kemiripan dengan manusia hingga 97%. Maka orangutan dan manusia memiliki beberapa kesamaan penyakit. Misalnya flu, pilek, demam, tipes, malaria, hepatitis, herpes hingga tuberkolosis. Sehingga orangutan dan manusia dapat saling menularkan penyakit (zoonosis). Beberapa penyakit juga memiliki perlakuan khusus agar dapat disembuhkan seperti pemeriksaan laboratorium hingga karantina.

Kebun binatang adalah tempat yang mudah untuk penularan penyakit antara manusia dan satwa khususnya orangutan, begitu pula sebaliknya. Kenapa? Karena interaksi antara manusia dan orangutan tidak terawasi dengan baik oleh petugas dan terjadi dengan bebas. Papan peringatan memang sudah dipasang di setiap kandang, tapi siapa yang bisa memastikan orangutan dan manusia tidak bersentuhan secara langsung? Banyaknya pengunjung menyebabkan interaksi tersebut tak terhindarkan dan penyebaran penyakit pun dengan bebas terjadi.

Jika orangutan berada di pusat rehabilitasi, orangutan hanya akan berinteraksi pada beberapa orang saja seperti animal keeper dan bagian medis saja. Kondisi mereka juga selalu dalam pantauan dengan pemeriksaan berkala. Program khusus untuk orangutan di pusat rehabilitasi juga merangsang sifat liar orangutan tersebut, karena tujuan rehabilitasi sendiri untuk melepasliarkan kembali orangutan ke habitatnya. Setiap individu orangutan mempunyai kesempatan untuk kembali hidup di habitat alaminya. (RYN)

NORTH SUMATRA REGIONAL POLICE, WHERE DID THE TRADER OF 4 ORANGUTANS CASE GO?

Illegal trading case of four orangutan babies in Medan two years ago has been losing its track. Certain criminal act unit of Police Headquarter Criminal Investigation Agency (Tipidter Bareskrim Mabes Polri), Centre for Orangutan Protection, JAAN and Animals Indonesia exposed the largerst orangutan trading with the capture of Zulfikar aka Buyung on July 26, 2016. Even so, after the case was handed over to North Sumatera Police, the legal process has been unknown.”, said Hery Susanto, Coordinator of Anti Wildlife Crime COP

Buyung the suspect was caught with the evidences of 3 orangutan babies in iron cage wrapped in plastic and one orangutan in plastic rice sack in Maksum city, South Medan Area, Medan. Orangutans are protected animal and become a high conservacy priority by the Republic of Indonesia government.

“This is the largest orangutan trading that has ever existed. How is the legal proceeding? While the trader of one individual orangutan caught in Kp. Rambutan terminal, Jakarta, on July 24, 2016 with Hendri Yarsudi as the suspect was sentenced to 1 year and 8 months imprisonment and fined Rp 100.000.00,00. Even that is not even to the loss it is caused. Yet this one in Medan had evidences of 4 babies orangutan!”, Hery Susanto added. (SAR)

POLDA SUMUT, KEMANA KASUS PEDAGANG 4 ORANGUTAN 2016?
Kasus perdagangan ilegal empat bayi orangutan di Medan dua tahun yang lalu hingga saat ini tak ada kabar berita. “Tipidter Bareskrim Mabes Polri, Centre for Orangutan Protection, JAAN dan Animals Indonesia pada 26 Juli 2016 membongkar perdagangan orangutan terbesar dengan tertangkapnya Zulfikar alias Buyung. Namun setelah kasus dilimpahkan ke Polda Sumatera Utara, proses hukum tidak diketahui.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Tersangka Buyung tertangkap tangan dengan barang bukti 3 bayi orangutan dalam kandang besi berbungkus plastik dan satu individu orangutan di dalam karung beras plastik di kota Maksum, kecamatan Medan Area Selatan, Medan. Orangutan merupakan satwa dilindungi dan menjadi prioritas konservasi tinggi oleh pemerintah Republik Indonesia.

“Ini adalah kasus perdagangan orangutan terbesar yang pernah ada. Bagaimana proses hukumnya? Sedangkan proses hukum pedagang satu individu orangutan yang tertangkap di terminal Kp. Rambutan, Jakarta pada 24 Juli 2016 dengan terdakwa Hendri Yarsudi telah di vonis 1 tahun 8 bulan penjara dan denda Rp 100.000.000,00. Itu saja tidak setimpal dengan kerugian yang diakibatkan. Sementara yang di Medan ini dengan barang bukti 4 individu bayi orangutan!”, tambah Hery Susanto.

COP SENDS SUPPORT LETTER TO NORTH SUMATERA BKSDA TO TAKE OVER THE ORANGUTAN FROM THS

Boncel and Ina the orangutan are two individuals who entered Siantar Animal Park (THS) a month ago. Those orangutans are allegedly local’s property who were handed over to THS. Physically, they’re pretty good and decent to enter a rehabilitation center before release back to its nature. North Sumatera has a good facilities of Orangutan rehabilitation center, in Sibolangit, North Sumatera to be exact. The track record shows the credibility of the one and only orangutan rehabilitation center in Sumatera. There’s no way else, THS must deliver the orangutan to the state, to undergo a rehabilitation process, before return back to the wild.

The future of the orangutan is still far away. And the rehabilitation process is one of right moves in the effort to increase the Sumateran Orangutan population in the wild which is nearly extinct. BKSDA of North Sumatera has full authority to this matter and COP fully support them to take a decisive action to evacuate the orangutan from THS and send them to Orangutan rehabilitation center.

Thursday, July 19, 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) sent a support letter for North Sumatera BKSDA, with copies to The Director General KSDAE, The Secretariat of Directorate General KSDAE, and the Directorate of KKH, to evacuate Boncel and Ina the orangutan from THS and do an effort of rehabilitation to those two individuals of orangutan. (SAR)

COP KIRIM DUKUNGAN KE BKSDA SUMUT UNTUK AMBIL ORANGUTAN DARI THS
Orangutan Boncel dan Ina adalah dua individu orangutan yang masuk ke Taman Hewan Siantar (THS) sebulan yang lalu. Orangutan tersebut diduga dari kepemilikan masyarakat yang diserahkan kepada THS. Secara fisik, orangutan tersebut cukup baik dan layak dimasukkan ke pusat rehabilitasi sebelum dikembalikan menuju ke alam. Sumatera Utara memiliki fasilitas pusat penyelamatan orangutan yang baik, tepatnya di Sibolangit, Sumatera Utara. Rekam jejak menunjukkan kredibilitas pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya di Sumatera. Tidak ada alasan lain, THS harus menyerahkan satwa tersebut kepada negara untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi sebelum dikembalikan ke alam.

Masa depan orangutan tersebut masih panjang dan proses rehabilitasi untuk pelepasliaran adalah salah satu langkah yang baik untuk dilakukan dalam upaya peningkatan populasi orangutan Sumatera di alam yang terancam punah. BKSDA Sumut memiliki wewenang penuh akan hal ini dan COP mendukung upaya tegas untuk mengevakuasi orangutan dari THS untuk masuk Pusat Rehabilitasi Orangutan.

Kamis, 19 Juli 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) mengirimkan surat dukungan kepada BKSDA Sumatera Utara dengan tembusan Dirjen KSDAE, Setdijen KSDAE dan Dir KKH untuk melakukan evakuasi orangutan Boncel dan Ina dari THS dan melakukan upaya rehabilitasi bagi kedua individu orangutan tersebut.

Page 3 of 1412345...10...Last »