APE WARRIOR

10 MERAK AKAN KEMBALI KE ALAM

Masih ingat operasi tangkap tangan pedagang satwa liar di Bantul, Yogyakarta pada 7 Februari 2016 yang lalu? Pedagang atas nama M. Zulfan telah menjalani hukuman 9 bulan penjara. Dalam komentarnya di Instagram orangutan_COP, dengan akun jovan_joyodarsono, “Wah jadi inget waktu dulu digrebek cop sama jaa..sekarang dah tobat..sukses ya cop.”. Sungguh penegakkan hukum bukanlah hal yang sia-sia.

Satwa yang berhasil diselamatkan adalah 13 merak hijau, 1 beruang madu, 2 ular sanca bodo, 1 lutung jawa, 1 elang hitam dan 1 binturong dan dititipkan di Wildlife Rescue Centre Yogyakarta. Tahun 2017 ini adalah tahun kebebasan untuk satwa-satwa tersebut. 10 merak hijau ini tumbuh menjadi merak-merak yang siap untuk dirilis. 19 Februari 2017 nanti, kesepuluh merak yang berhasil bertahan akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur.

Selain merak hijau, 3 ular dan 2 landak dari operasi pasar burung Muntilan, Jawa Tengah tahun 2012 akan ikut dilepasliarkan juga. Suryanto, pedagang dengan satwa dilindungi elang brontok, alap-alap sapi, bubo sumatranus, kucing hutan, anakan kijang, landak, trenggiling, walang kopo, anakan elang, kukang dan buaya telah menjalani hukuman 9 bulan penjara.

Persiapan pelepasliaran kembali ini membawa semangat untuk APE Warrior yang telah bekerja keras menginisiasi operasi-operasi penegakkan hukum tersebut. “Tak ada yang tidak mungkin. Jangan beli satwa liar. Jangan jual satwa liar!”, Daniek Hendarto manajer Aksi Centre for Orangutan Protection. (YUN)

ORANGUFRIENDS YOGYA MERAMAIKAN ACICIS YOGYAKARTA

Ada puluhan LSM dengan fokus kemasyarakatan, pendidikan, anak dan satwa yang berada di kota Yogyakarta meramaikan Non Goverment Organization (NGO) Fair di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jumat siang.

Acara ini adalah usaha Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies untuk memperkenalkan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) kepada mahasiswa baru yang sedang melakukan studi di Indonesia terutama yang berasal dari beberapa negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris dan Belanda.

Selama tiga tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection bersama Orangufriends Yogyakarta secara rutin memenuhi undangan ACICIS untuk berpartisipasi. Acara yang berlangsung selama dua jam ini memberi kesempatan seluas-luasnya pada LSM untuk memperkenalkan kinerjanya dan para mahasiswa bebas memilih akan membantu di LSM yang cocok dengan dirinya. ACICIS berharap para mahasiswa tidak hanya menjalani studinya, tetapi juga bisa berkembang dan bergabung dengan LSM yang ada.

Terimakasih Orangufriends Yogya, Kharin, Shinta, Syaidar, Bukhori, Okto dan Zainuri yang telah membantu NGO Fair ini. (DAN)

FOUR JAVAN LANGURS SAVED FROM TRADER

Seorang pedagang satwa liar tertangkap tangan dengan barang bukti 4 lutung jawa (Tranchypithecus auratus), 3 betina dan 1 jantan pada 6 Januari 2016 di depan stasiun Lawang, Jawa Timur. Operasi ini adalah operasi pertama di awal tahun 2017 bersama Gakkum Seksi II Jawa Timur dengan COP, Animals Indonesia. Orangufriends Malang membantu penanganan keempat lutung jawa tersebut. Perdagangan lewat media sosial terus berlanjut hingga awal tahun 2017. Kini pedagang (dengan nama akun facebook setan merah) sedang di proses hukum di polsek Lawang, Jawa Timur.

Suwarno dari Animals Indonesia, “Jawa Timur memang merupakan kantong-kantong satwa liar. Dapat dilihat dari kawasan konservasinya yang paling banyak dibandingkan provinsi lainnya. Sehingga perburuan liar banyak sekali dijumpai. Sementara itu, kelompok-kelompok yang menyatakan diri sebagai ‘pecinta satwa’ sudah semakin spesifik. Sehingga permintaan pada spesies tertentu seperti lutung jawa cukup tinggi.”

Center for Orangutan Protection sudah 5 tahun ini berperan aktif dalam setiap operasi bersama dengan pihak berwajib, baik itu kepolisian maupun kementrian kehutanan. Selama ini telah 26 kali operasi bersama dan 85 persen berakhir di hukuman penjara. Namun memang hukuman masih terlalu ringan sehingga tidak cukup membuat jera pelaku.

Ramadhani, dari Centre for Orangutan Protection, “Kami berharap Undang-undang No 5 tahun 1990 segera direvisi agar disesuaikan dengan kondisi saat ini, sehingga membuat efek jera bagi pelaku kejahatan.”

Penegakkan hukum di dunia satwa liar terasa semakin berat dengan kehadiran facebook maupun media sosial lainnya tanpa menerapkan security system atas kejahatan ini. “Facebook sebagai media sosial yang menjadi pasar dunia maya perdagangan satwa liar seharusnya segera menutup grup-grup pedagang bahkan ‘komunitas pecinta satwa liar’. Karena lewat facebook mereka saling bertemu dan bertransaksi secara bebas tanpa harus bertatap muka.”, tambah Ramadhani.

Untuk wawancara lebih lanjut, silahkan hubungi:

Ramadhani
Centre for Orangutan Protection
081349271904

Suwarno
Animals Indonesia
082233951221

CATATAN AKHIR TAHUN 2016: PERDAGANGAN SATWA LIAR

TRANSFORMASI PERDAGANGAN SATWA LIAR ILEGAL DAN UPAYA PENANGANAN DI INDONESIA

Pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit dalam skala yang besar di Sumatera dan Kalimantan, telah berpengaruh besar pada pasar perdagangan satwa liar di Indonesia. Satwa Liar buruan semakin mudah di dapat, terutama yang memiliki harga mahal seperti primata dan kucing besar.
Media Sosial seperti Facebook memiliki peran besar dalam membangun pasar perdagangan satwa liar ilegal. Pemeliharaan satwa liar dilindungi, yang sebelumnya hanya dilakukan oleh kalangan tertentu saja sebagai simbol status sosial dan kekuasaan,kini sudah merambah ke masyarakat biasa, terutama anak-anak muda. Mereka berkomunikasi dan membangun kelompok maya. Di dalam kelompok inilah para pedagang masuk sebagai anggota dan menawarkan dagangannya. Kelompok-kelompok seperti ini semakin tumbuh subur dan kuat dengan membentuk organisasi nyata dan melakukan pertemuan-pertemuan. Sementara itu, para pedagangnya tetap bersembunyi dengan akun-akun palsunya.
Untuk menegakkan hukum, dibutuhkan strategi tersendiri untuk memastikan bahwa operasi tidak bocor. Besarnya nilai kejahatan ini merupakan daya tarik tersendiri bagi para petugas korup bahkan orang-orang yang bekerja untuk konservasi satwa liar itus endiri, misalnya dokter hewan. Rivalitas agensi penegakkan hukum juga merupakan tantangan tersendiri. Dalam 5 tahun terakhir, COP dan Animals Indonesia bersama aparat penegak hukum telah melakukan 25 operasi dan 168 satwa liar berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal, diantaranya 9 orangutan, 2 beruang, 21 lutung jawa. Kasus-kasus perdagangan orangutan dan harimau biasanya melibatkan para pedagang profesional dan sangat berpengalaman. Nilai transaksinya berkisar 10 juta sampai 200 juta rupiah.
14 orang telah dipenjara dengan masa hukuman 3 bulan sampai 1,5 tahun. Ringannya masa hukuman menjadikan para pedagang tidak jera. Dalam pantauan kami, sebagian pedagang yang keluar penjra masih berjualan lagi dan sebagian beralih profesi ke bentuk kejahatan yang lain karena di dalam penjara mendapatkan relasi baru.
COP masih percaya bahwa penegakkan hukum merupakan jalan terbaik untuk mengatasi perdagangan satwa liar karena hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan ketidaktahuan dan kemiskinan. Kita sedang berhadapan dengan orang-orang sakit yang merasa bangga dengan melanggar hukum dan dibutakan oleh tren keliru. (APE Warrior, 2016)

#AcehEarthquake Disaster Relief

Earthquake with magnitude of 6.5 on December 7th 2016 at 05.05 AM West Indonesia Time in Pidie Jaya, Aceh, claimed 96 lives, not including the injured. Centre for Orangutan Protection along with International for Animal Welfare (IFAW) deployed APE Warrior to handle animals that affected by the earthquake.

Communication with refugees, Search and Rescue team (SAR), journalists, government and in-field monitoring concluded that not many animals were affected by this disaster. Local people that keep livestock such as goats, sheep and cows, breed them with a tradition of not putting them inside enclosures, but instead, let them free on the field thus they able to saved their own lives. This also applied to chickens.

For pets like cats, APE Warrior and Orangufriends fed them at the disaster area. Just like livestock, local people keep their cats without enclosure, so they were also free.

APE Warrior is one of COP’s team for disaster response. APE Warrior was born at the event of Merapi eruption in the end of 2010. (Animal, People, and Environment)
#disasterrelief

Gempa berkekuatan 6,5 SR pada 7 Desember 2016 pukul 05.05 WIB di Pidie Jaya Aceh memakan korban 96 jiwa belum termasuk yang luka. Centre for Orangutan Protection bersama International for Animal Welfare (IFAW) menurunkan APE Warrior untuk menanggani satwa yang terdampak gempa bumi tersebut.

Komunikasi dengan pengungsi, tim sar, wartawan, pemerintah dan pemantauan langsung ke lapangan menyimpulkan, tidak banyak satwa yang terdampakan bencana ini. Masyarakat yang berternak kambing, domba dan sapi secara tradisi tidak mengkandangkan, melainkan dibiarkan bebas (kandang umbaran) sehingga ternak selamat dari bencana. Sama halnya dengan ternak ayam. Untuk hewan peliharaan kucing, APE Warrior beserta orangufriends hanya memberi makan di lokasi bencana saja. Kucing di Aceh juga dipelihara dengan dilepaskan, sehingga kucing bebas.

APE Warrior adalah salah satu tim COP yang tanggap terhadap bencana. APE Warrior lahir di saat gunung Merapi meletus diakhir tahun 2010. (Animal, People and Environment)

ORANGUTAN CARING WEEK

Each year, world conservation organizations especially that focused on orangutan issues, spare 1 week to focus on raising awareness for orangutan. Some events were held, from school visit, charity events, and special events on social media to fill the timeline with orangutan-related topics until it became a trending topic.
The theme raised for 2016 was “Critically Endangered, Critically in Need”. For Center for Orangutan Protection, orangutan was the entry door to save the forest and other wildlife. Orangutan was the umbrella species that protects other co-existent species.
It’s time for you to show you’re caring through KADO (Kampanye, Adopsi, Donasi, Orangufriends), Campaign, Adoption, Donation, or joining Orangufriends. Yes, Center for Orangutan Protection needs you. You can join the campaign and spread how important it is to protect orangutan to you family, relatives, and friends, even you community. You can also adopt virtually the orangutans we help in COP’s rehabilitation center. Or you can donate to our team on the field. Or even you can join orangufriends (COP’s support group) that support the APE Crusader, APE Warrior, APE defender and APE Guardian team. Choose your caring path and send us email through info@orangutanprotection.com

Setiap tahunnya, organisasi konservasi dunia khususnya orangutan meluangkan waktu satu minggu untuk fokus pada penyadartahuan orangutan. Berbagai kegiatan dilakukan mulai dari kunjungan ke sekolah, penggalangan dana, event spesial bahkan memenuhi timeline media sosial dengan kepedulian terhadap orangutan menjadi suatu trend.

Tema yang diangkat tahun 2016 ini adalah “Critically Endangered, Critically in Need”. Bagi Center for Orangutan Protection sendiri, orangutan adalah pintu masuk untuk menyelamatkan hutan dan satwa liar lainnya. Orangutan yang merupakan spesies payung adalah orangutan yang melindungi spesies lainnya yang hidup berdampingan dengannya.

Saatnya kepedulianmu diwujudkan lewat KADO, Kampanye, Adopsi, Donasi maupun menjadi Orangufriends. Ya, Center for Orangutan Protection membutuhkan kamu. Kamu bisa berkampanye ke keluarga, saudara, teman bahkan lingkunganmu, tentang betapa pentingnya orangutan. Kamu juga bisa mengadopsi secara virtual, orangutan yang kamu inginkan yang berada di pusat rehabilitasi COP Borneo. Atau lewat berdonasi untuk mendukung tim COP di lapangan. Bahkan kamu bisa menjadi Orangufriends (kelompok pendukung COP) yang membantu pekerjaan APE Crusader, APE Warrior, APE Defender dan APE Guardian. Pilih jalur kepedulianmu, dan email kami di info@orangutanprotection.com

EAGLE TRADER CAUGHT IN PALEMBANG

Palembang – South Sumatra Region Police through Tipiter Unit, supported by Centre for Orangutan Protection (COP) and Animals Indonesia, caught an eagle trader in Palembang, South Sumatra. The suspect operates his trading business via Facebook. When captured, suspect (initial ‘A P’) brought 4 eagles, stored inside carton boxes, ready to be sold.

Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP stated, “This trader has been on the radar for a while, and most of he sold mostly raptors such as eagle and falcon via Facebook. When caught by South Sumatra region Police, assisted by COP and Animals Indonesia, (we) successfully seized 4 eagles inside boxes that ready to be sold. The trader got caught at Jl. Haji Burlian KM 5, in front of Bhayangkara hospital Palembang, around 13.00 West Indonesia Time.”

The suspect is now being arrested by South Sumatra Region Police, along with several evidences: 1 young eagle and 3 eagle chicks. The high demand of eagle lovers keeps this kind of business thriving. Eagle lover clubs are also the reason why this business exists.

“The suspect is also a member of eagle lover club, which popularly called Falconry. Eagle is a type of raptor which all of its type are under the protected wildlife category. The high demands of eagles from the eagle lovers causes the capturing and trading keeps happening. We will not stop trying to break this chain of cycle crime, support the law enforcement, including disbanded of eagle lovers clubs, because for whatever reason, keeping eagle as pet and trading eagle are against the law” stated Suwarno, Animals Indonesia.

This law enforcement operation for wildlife crime is a crucial key as prevention for the business growth. Wildlife trade operation had also been conducted in South Sumatra, particularly in Lubuk Linggau. On the operation conducted back in February 2016 by Tipiter Unit supported by Centre for Orangutan Protection (COP) and Animals Indonesia, they successfully caught Sumatran Tiger skin and bone trader. Court given 6 months jail sentence for the trader, far from the maximum penalty. Meanwhile, the eagle trader’s fate is still waiting for the court process. Heavy penalty will surely teach a lesson to the similar traders.

“Even though the penalty was not in the favor of wildlife trading resistance, since it has always been minor penalty, we still support the law enforcement. We also appreciate the South Sumatra Region Police through Tipiter Unit, which responded promptly towards the report of wildlife crime”, added Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP.

For further information and interview:
Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP
HP: 081284834363
 
Suwarno, Animals Indonesia
HP: 082233951221

PEDAGANG ELANG TERTANGKAP TANGAN DI PALEMBANG

Palembang – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Sumsel) melalui Unit Tipiter Polda Sumsel dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Animals Indonesia menangkap pedagang elang di kota Palembang, Sumatra Selatan. Tersangka memperjualbelikan elang di jejaring sosial Facebook. Saat ditangkap pedagang berinisial AP membawa 4 (empat) elang yang disimpan dalam kotak kardus yang siap diperdagangkan.

Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP menjelaskan, “Pedagang ini dipantau tim sudah cukup lama dan jualan satwa kebanyakan jenis burung pemangsa seperti elang dan alap-alap di jejaring sosial Facebook. Saat ditangkap tim Polda Sumsel dibantu COP dan Animals Indonesia berhasil mengamankan 4 ekor elang yang dimasukkan ke dalam kardus yang siap dijualbelikan. Pedagang ditangkap di Jl. Haji Burlian Km 5 di depan rumah sakit Bhayangkara, Palembang pada 13.00 WIB.”.

Saat ini tersangka sudah diamankan di Polda Sumsel bersama barang bukti 1 elang remaja dan 3 masih dalam kondisi anakan. Tingginya permintaan dari peng-hobi elang membuat bisnis ini terus subur terjadi. Klub-klub pencinta burung elang menjadi salah satu pendorong perdagangan ini terus terjadi dan ada.

“Tersangka merupakan pedagang yang juga anggota kelompok pecinta burung pemangsa atau yang lebih keren disebut Falconry. Elang merupakan jenis burung predator yang semua jenisnya masuk dalam kategori satwa dilindungi. Tingginya permintaan akan elang dari para peng-hobi membuat penangkapan dan perdagangan ini terus terjadi. Mata rantai kejahatan ini akan terus kita lawan dengan mendorong penegakan hukum termasuk pembubaran klub-klub pencinta dan pemelihara burung elang. Karena apapun alasannya memelihara dan memperdagangkan burung elang adalah tindakan melawan hukum.”, tegas Suwarno, Animals Indonesia.

Operasi penyitaan dan penegakan hukum bagi pelaku kejahatan satwa liar adalah bagian kunci penting agar kejahatan ini tidak berkembang terus dan menjadi besar. Operasi perdagangan satwa liar juga pernah dilakukan di Sumatera Selatan tepatnya di Kota Lubuk Linggau. Dalam operasi yang dilakukan bulan Februari 2016 tim Tipiter Polda Sumatra Selatan dibantu COP dan Animals Indonesia menangkap pedagang kulit dan tulang Harimau Sumatera. Vonis pedagang Kulit Harimau itu hanya 6 bulan penjara dan jauh dari kata hukuman maksimal. Untuk kasus pedagang elang ini kita akan tunggu proses hukum, karena dengan dengan vonis yang berat akan menjadi efek jera bagi para pelaku kejahatan ini.

“Mesti hukuman belum berpihak untuk upaya perlawanan perdagangan satwa liar karena selalu berakhir dengan putusan vonis rendah, upaya penegakan hukum ini tetap kita dorong. Apresiasi juga kami sampaikan kepada Polda Sumsel melalui Unit Tipiter Polda Sumsel yang merespon cepat  laporan berkaitan dengan kejahatan satwa liar.”, tambah Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut:
Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP.
HP: 081284834363

Suwarno Animals Indonesia.
HP: 082233951221

GETTING TO KNOW ORANGUTAN, DESPITE THE LIMITATIONS

Started when one of the Orangufriends Yogyakarta received an information that a school requested school visit for wildlife knowledge sharing. The support group of COP or Orangufriends collect all information related to the particular school: address, number of students, and participant target. One of the biggest challenge they found was the fact that this school was not a regular school like the ones they usually visited, this school, SD (elementary school)  & MTs (junior high) Yekatunis was a school for children with special needs (disabled children). In order to prepare the materials better and more suited for the children, the visit schedule needed to be pushed back to 6 October 2016.

Coordination with the teacher is a must, so the students would be able to understand the materials and the speaker would be able to deliver materials in way that acceptable for the student. Briefing with Orangufriends conducted at 3 October 2016, 4 days before the school visit. During the briefing, Orangufriends discussed the speakers grouping for student groups. The students would be divided into 5 groups, which each consist of 14 students, 13 students, 10 students, 9 students and 10 students. This grouping was based on the special needs of the students. Those students had various disabilities: visually impaired, physically impaired, mentally challenged, handicapped, and slowlearner.

The discussion then continued to decide the materials and the best way to deliver it, best suited for the disabled student’s imagination. It was decided that for elementary school students, the material would be delivered via storytelling, and for MTs the material would be delivered via oral presentation and hand puppet. Besides that, Orangufriends also brought the orangutan costume which aimed to give the students a picture of what a real orangutan would look like.

During the discussion, there are several challenges found; the big number of students so it would be impossible to deliver the materials in one room, so Orangufriends decided to deliver the materials in separate classes based on the group. Another challenge was the limited number of hand puppet, so it was decided to distribute the puppets fairly to all groups. The next challenge was how to ensure all classes able to see the orangutan costume, so it was decided that the man in costume will visit each class for 10 minutes.

14 Orangufriends started the school visit at 8 AM. The enthusiasm of students was shown when Orangufriends entered the class, where the students hoped that there would be real orangutan. Challenges started to emerge when speakers delivered the materials, and found it quite difficult to simplify words and create common understanding with students. Inside the class, there were a lot unexpected questions asked by students: “How does orangutan give birth?” or “Does orangutan feel comfortable to live in zoo?”

The elementary school students showed various reaction when the orangutan costume entered class: some screamed hysterically, afraid of the orangutan fur; shocked and went speechless; peed their pants; threw up; even excited and hugged the costume very tightly,

At the end of the visit, the students were gathered into the school’s auditorium along with teachers and the Orangufriends. An elementary schools student named Putri was brave enough to sing in front of her friends, and another elementary school student named Panca spoke in front of his friends about his experience of the school visit. Despite the all screaming, Orangufriends was delighted to share the knowledge about wildlife to the students. This was the first experience and a very special one. The school was chosen not without a reason, but to show that knowledge knows no limitations.
Thank you for students and teachers of SD & MTs Yekatunis that hosted our visit. Thank you for Orangufriends Yogyakarta with their spirit for knowledge sharing to Yekatunis students. (Kharin-Orangufriends Yogya).

MENGENAL ORANGUTAN TANPA BATAS KEMAMPUAN

Berawal dari informasi salah satu Orangufriends Yogyakarta bahwa ada satu sekolah yang mengharapkan adanya sharing ilmu tentang satwa liar. Kelompok pendukung COP atau Orangufriends mengumpulkan berbagai informasi tentang sekolah tersebut seperti alamat sekolah, jumlah siswa-siswi dan target peserta. Satu hal yang pertama menjadi tantangan besar dan cukup membuat semua orangufriends menelan ludah yaitu ini bukan sekolah biasa yang sering orangufriends kunjungi. Sekolah Dasar dan MTs Yekatunis dengan predikat Sekolah Luar Biasa untuk siswa berkebutuhan khusus (Disabilitas).
Hal ini juga membuat jadwal school visit menjadi mundur menjadi tanggal 06 oktober 2016 karena materi dan pemateri yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya.

Koordinasi dengan guru sekolah menjadi suatu keharusan agar siswa-siswi dapat menerima materi dengan baik dan pemateri dapat menyampaikan dengan benar. Briefing dengan teman-teman orangufriends pun dilakukan pada Senin 03 oktober 2016, ympat hari sebelum school visit dilaksanakan. Beberapa hal yang orangufriends diskusikan yaitu pembagian kelompok pemateri untuk siswa. Kelompok dibagi dengan variasi jumlah 14 orang, 13 orang, 10 orang, 9 orang, dan 10 orang. Pembagian kelompok pun tidak bisa sembarangan karena ada beberapa siswa yang menderita lebih dari satu jenis disabilitas sehingga penanganannya berbeda dengan siswa lainnya. Siswa- siswa tersebut menderita disabilitas seperti tuna netra yaitu sulit dalam penglihatan, tuna daksa yaitu memiliki cacat di bagian tubuh tertentu, tuna grahita yaitu kelemahan dalam berfikir dan bernalar, handicap yaitu memiliki kombinasi kelainan dan slowlearner yaitu sulit dalam belajar.

Setelah itu, diskusi berlanjut mengenai materi yang akan dibawakan beserta cara penyampaiannya agar sesuai dengan imaginasi penderita disabilitas. Bagi siswa-siswi SD materi berbentuk dongeng tentang kehilangan hutan dan boneka tangan sedangkan untuk MTs materi lisan tentang konservasi satwa liar dan boneka tangan. Selain materi di atas orangutfriends juga membawa kostum orangutan asli yang diharapkan saat siswa melakukan kontak fisik dapat membayangkan ukuran orangutan serta bulu orangutan sebenarnya.

Selama diskusi ada beberapa hal yang menjadi kendala dan berubah-ubah seperti jumlah siswa yang cukup banyak sehingga tidak bisa pemberian materi dalam satu ruang aula seperti rencana sebelumnya maka dari orangufriends membagi menjadi 5 kelas berbeda sesuai kelompok. Tantangan pertama terselesaikan, kemudian muncul tantangan kedua untuk membagi jumlah boneka tangan yang terbatas jumlahnya agar tiap siswa-siswi di kelas dapat mengimaginasikan satwa sesuai dengan ukuran aslinya maka hanya berapa jenis boneka satwa yang digunakan seperti tupai, kodok, elang dan orangutan kecil.

Tantangan kedua selesai, kemudian ada tantangan ketiga dimana kostum orangutan hanya ada 1 sehingga dalam 10 menit sekali orang yang menggunakan kostum harus masuk ke kelas secara bergantian.

Empat belas orangufriends memulai school visit tepat pukul 08.00 pagi. Antusiasme siswa sudah mulai terlihat saat masuk kelas dimana siswa mengharapkan kehadiran orangutan. Kekhawatiran yang sebagian besar muncul saat menyampaikan materi yaitu pemateri kesulitan untuk menyederhanakan kata dan menyamakan imaginasi bersama siswa. Saat di dalam kelas banyak muncul pertanyaan dari siswa-siswi MTs yang tidak terduga seperti, “Bagaimana cara orangutan melahirkan?” atau “Sebenarnya kebun binatang itu nyaman untuk orangutan atau tidak?”.

Siswa-siswi SD memberikan respon yang berbeda-beda saat orangufriends yang menggunakan kostum masuk ruang kelas seperti ada yang histeris ketakutan dengan bulu orangutan, syok dan tidak bisa bicara, mengompol, dan muntah serta kesenangan yang tidak tertahankan sehingga orangutan dipeluk dengan erat.

Di akhir acara siswa-siswi SD dan MTs dikumpulkan di ruang aula sekolah bersama dengan guru dan orangufriends lainnya. Siswi SD bernama putri memberanikan diri bernyanyi di depan teman-temannya dan siswa Panca memberikan kesan saat orangutan datang ke kelas. Terlepas dari suara teriakan yang terdengar di sekolah orangufriends sangat senang dapat memberikan ilmu tentang satwa liar kepada siswa-siswi. Ini merupakan pengalaman pertama dan sangat spesial. Bukan tanpa alasan pemilihan sekolah dilakukan tetapi karena ilmu tidak memandang batas kemampuan seseorang untuk terus belajar.

Terima kasih untuk siswa-siswi SD dan MTs Yekatunis beserta guru-guru yang sudah menerima kehadiran kami dengan baik. Terima kasih untuk teman-teman orangufriends Yogyakarta yang dengan semangatnya dapat berbagi ilmu dengan siswa-siswi sekolah Yekatunis. (Kharin-Orangufriends Yogya)

COP COMBAT ILLEGAL WILDLIFE TRADE

Forest clearing to make way for new palm oil plantations is occurring on a massive scale in Sumatra and Kalimantan. This has clearly had a big impact on the illegal wildlife trade in Indonesia. As a result of the clearing, it is getting easier to obtain wildlife, especially those with the greatest monetary value like primates and big cats. Government control over traditional bird markets which are used to trade wildlife has increased and as a result, traders are moving online.

Social media platforms like Facebook play a large role in facilitating the market for illegal wildlife trade. Keeping of protected wildlife used to only be done by certain parts of society as a symbol of status and power. Now, it has spread to all parts of society, especially young people. Young people like to communicate via virtual groups. Traders often enter these groups, posing as members and offer their trades. These groups often become off-line groups which meet in person while the trader hides behind their fake identify and account.

Education and awareness raising efforts of COP and Animals are often met with resistance. Traders fight back and challenge law enforcement. COP and Animals believe that prison is the best classroom for them to learn lessons about wildlife protection.

Specialised strategies are needed to enforce the law and make sure that information about operations is not leaked. The monetary value associated with illegal wildlife trade means that it attracts corrupt officials and even those within wildlife conservation such as veterinarians have been found to be involved. Rivalry between law enforcement agencies is also a challenge.
In the last five years, COP and Animals, in conjunction with law enforcement agencies, have carried out 28 operations, have saved 200 live animals including 25 orangutans, 5 bears, 16 Javan langurs and 16 slow lorises. Cases involving orangutan and tigers usually involve professional and highly experienced traders. The value of the transactions can range from 10 to 200 million rupiah ($US 1,000-20,0000).

22 people have been imprisoned for illegal wildlife trade with sentences ranging from 6 months to 2,5 years. The length of the sentence does not seem to be a deterrent to traders. In our experience, some traders return to selling after being released from prison and others change profession and undertake other criminal work resulting from new relationships that they formed in prison.
COP still believes that law enforcement is the best way to tackle the illegal wildlife trade because this issue is not related to ignorance or poverty. We are dealing with sick people who are proud to break the law and are blinded by the benefits of this illegal activity.

ELEVEN WILDLIFE PROTECTION ORGANISATIONS URGES TIGHT SUPERVISION FOR AIR RIFLE

YOGYAKARTA – Eleven wildlife protection organisations consists of Centre for Orangutan Protection (COP), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animals Indonesia, International Animal Rescue (IAR), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Information Centre (OIC), Orangutan Land Trust (OLT), With Compassion and Soul (WCS), Orangutan Outreach, Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ) and Orangutan Veterinary Aid (OVAID) urge that supervision for air rifle use and distribution to be tightened. Air rifle bullets frequently found inside the body of animals rescued from conflict, hunting or trafficking. During 2004 to August 2016, at least 23 cases of orang-utans shooting using air rifle. Orang-utan usually found in crical condition, permanently injured, even dead. For orang-utan cases, hunters shot the orang-utan mother then seize the baby for trafficking. According to Erik Meijard in his book “Di Ambang Kepunahan” (on the brink of extinction), one dead orangutan, represents 2 – 10 dead orang-utans. And air rifle is being a serious threat to wildlife extinction. Therefore, we are stating these acts:

1. Kepolisian Republik Indonesia (Indonesian National Police) as the authorised supervisor for rifle distribution, needs to tighten the supervision of distribution and trade.
2. Conduct a raid and law enforcement since there were cases of abuse of rifle rights, which were used for wildlife hunting.

Conservation measures will be lagged if hunting and killing using air rifle are still happening. Head of Indonesia National Police must take a robust step to take action towards the abuse of rifle rights, as stated on Head of Indonesia National Police Regulation, No. 8/ 2012 about supervision and control of rifles for sports. In article 4 clause 3, stated that air rifles are used for target-shooting sports, and continued in article 5 clause 3 that its utilisation in only inside shooting range for competition and practice.

Today, we had action in 10 cities simultaneously : Aceh, Pekanbaru, Palembang, Banding, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya and Palangkaraya – all asking for the same thing: for the Head of Indonesia National Police Regulation to be implemented. Because with robust law enforcement, massacre of wildlife with air rifle can be reduced.

For further details and interview, please contact info@orangutanprotection.com

SEBELAS ORGANISASI PERLINDUNGAN SATWA LIAR SERUKAN PERKETAT PENGAWASAN SENAPAN ANGIN
Untuk disiarkan segera 14 September 2016

Yogyakarta – Sebelas lembaga perlindungan satwa liar terdiri dari Centre for Orangutan Protection (COP), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animals Indonesia, International Animal Rescue (IAR), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Information Centre (OIC), Orangutan Land Trust (OLT), With Compasion and Soul (WCS), Orangutan Outreach, Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ) dan Orangutan Veterinary Aid (OVAID) menyerukan agar pengawasan terhadap penggunaan serta peredaran senapan angin lebih diperketat lagi. Korban tembakan senapan angin banyak ditemukan pada satwa liar yang diselamatkan dari korban konflik, perburuan dan perdagangan.

Sepanjang kurun waktu  2004 hingga Agustus 2016 setidaknya ada 23 kasus yang tercatat untuk penembakan orangutan dengan senapan angin. Orangutan mengalami kondisi kritis, cacat permanen hingga mengalami kematian. Untuk kasus orangutan, pemburu akan menembak induk orangutan untuk mendapatkan anaknya sebelum di perdagangkan. Menurut Herman Rijksen dan Erik Meijard dalam bukunya  Di Ambang Kepunahan 1 induk yang mati terbunuh mewakili setidaknya 2 – 10 orangutan yang mati terbunuh. Dan senapan angin sudah menjadi ancaman serius akan kepunahan satwa liar dialam.

Untuk itu kami menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Kepolisian Republik Indonesia sebagai pemegang otoritas penuh sebagai pengawas peredaran senjata api dan senapan angin perlu mempeketat peredaran dan penggunaan senapan angin.
2. Melakukan razia dan penegakan hukum karena banyak kasus penyalahgunaan senapan angin untuk berburu satwa liar.

Upaya konservasi satwa liar akan terhambat manakala perburuan dan pembunuhan dengan senapan angin masih berlangsung. Kapolri sebagai pimpinan Kepolisian Republik Indonesia harus bisa mengambil langkah tegas dan berani untuk melakukan tindakan penyalahgunaan senapan angin sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga. Dalam Pasal 4 ayat 3 disebutkan senapan angin digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target serta dilanjutkan di Pasal 5 ayat 3 bahwa penggunaannya di lokasi pertandingan dan latihan.
Dan hari ini kami serentak melakukan aksi di sepuluh kota, Aceh, Palembang, Pekanbaru, Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, Samarinda dan Palangka Raya meminta hal sama agar Peraturan Kapolri tersebut dilaksanakan. Karena dengan penegakan aturan yang tegas dan berani, pembantaian satwa dengan senapan angin akan bisa ditekan.
Untuk informasi dan wawancara dapat menghubungi:
info@orangutanprotection.com

Page 2 of 812345...Last »