APE WARRIOR

KELANJUTAN PERDAGANGAN TOKO OLD & NEW BANDUNG

Masih ingat penggerebekan toko souvenir barang antik di RE. Martadinata Bandung? Tim gabungan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, Dit Tipidter Rekrimsus Polda Jabar, Centre for Orangutan Protection dan Jakarta Animal Aid Network menemukan bagian-bagian satwa yang dilindungi dalam bentuk awetan pada 30 Juli 2015.

Kamis, 16 Februari 2017 pukul 14.19 WIB, kasus lanjutan toko Old & New Bandung dengan barang bukti offset kepala beruang, lengan harimau, ekor harimau, tengkorak buaya memasuki sidang dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Terdakwa menyampaikan bahwa barang-barang yang dijual di tokonya semuanya barang titipan. Toko Old & New Bandung mendapat komisi 10% dari penitip barang. Toko Old & New telah berdiri sejak tahun 2004, selama ini semua offset terbuka, bisa dilihat semua orang. Terdakwa tidak tahu kalau offset satwa tersebut tidak boleh dijual dan dilindungi.

Atas perbuatannya, terdakwa akan dijerat pasal 21 ayat 2 huruf b dan d junto pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

EXCITING EXPERIENCE BECOMING KITCHEN ANGEL IN COP SCHOOL

Hi! My name is Nita Istikawati, you can call me Nita. I am a COP Supporter from Yogyakarta.
The story began in 2010 when I decided to join COP as a volunteer. At that time, I was a university student doing an Accounting degree. It can be said that my education didn’t have any correlation with orang-utans at all. So, I wasn’t surprised when some college friends bullied me about my bizarre activities outside of campus. They often said that I was a very odd person because I liked to go to the zoo to make enrichments and better enclosures for the animals, joined an orang-utan demonstration (campaign), and also spoke out loudly against the destruction of rainforests for palm oil plantations. They thought it was extremely peculiar behaviour for a student from the Faculty of Economics. Well, it never ever stopped me raising awareness and helping orang-utans through COP. From my own experience, I know that everyone can help the orang-utan and its habitat without limits and boundaries. Everything that begins from your heart will come back to your heart again.
There are so many exciting experiences I gained when I was working as a volunteer in orangutan protection. There were lots of unforgettable memories. One of them is when I became a COP School organiser. My favourite position was as part of the kitchen team or kitchen angel. First, because I could taste the food before the other people did. Second, I could taste again and then third I could do food tasting again and again (LOL). On the other hand, I love cooking. Perfect. But please take it easy, I just wanted to make sure that all of the food that we provided at COP School was healthy, free from formaldehyde and safe for consumption by participants and also the presenters. I called it working on the front line. Alibi.
Hmmm… actually becoming part of the kitchen team meant that we should be facing the reality of the lack of sleeping time. Imagine this: the kitchen angels have to wake up very early in the morning before the cock crows and are already moving in the direction of the rising sun. Meanwhile, others were still soundly resting in bed.
As a kitchen angel during COP School, I had to wake up no later than 3.30am every day, because we had to boil water for drinking and then go off to the market to buy vegetables. After that, we picked up food for the catering and also had to prepare anything else. Morning rush hour. From this activity, I learnt a lot about time management and of course became more responsible with my job.
The kitchen is the most strategic place to meet up with everyone. While the participants were making tea or a cup of hot coffee, I got lots of chances to talk with them. Warm conversation in the morning made us feel closer to each other. The participants of COP School are very multicultural. They come from various backgrounds. There is a veterinary student, biology, design, law, economy, communication, etc. Well, I came to understand a wide range of characters and it made me easier to adapt to the new environment. Yes, COP School is a place where I gained a new family, who inspire and strengthen each other. Thanks, COP.

PENGALAMAN SERU MENJADI TEAM DAPUR DI COP SCHOOL
Hai! Nama saya Nita Istikawati biasa dipanggil Nita. Salah satu pendukung COP dari Yogyakarta.
Cerita bermula di tahun 2010 ketika saya bergabung menjadi volunteer COP. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di jurusan Akutansi. Bisa dibilang latar belakang saya memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan orangutan. Jadi, tidak heran jika sering diejek teman-teman mengenai kegiatan-kegiatan saya di luar kampus. Saya dibilang orang aneh yang suka keluar masuk kebun binatang, ikut kegiatan demo (kampanye) dan teriak-teriak tentang sawit. Menurut mereka tidak wajar dilakukan oleh anak ekonomi. Namun hal itu tidak pernah mematahkan semangat saya untuk terus membantu COP. Menurut saya menyelamatkan orangutan dan habitatnya itu tanpa batas dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Semua yang berawal dari hati akan kembali ke hati.
Ada banyak sekali pengalaman seru selama berkecimpung di dunia perlindungan orangutan yang tidak akan pernah terlupakan. Salah satunya adalah setiap kali menjadi panitia kegiatan COP School. Saya paling senang menjadi bagian dari tim dapur. Pertama bisa cicip makanan, kedua cicip lagi, ketiga cicip lagi, dan lagi (hehe). Selain itu saya suka makan. Cocok ya. Eitsss tapi jangan salah persepsi. Saya cuma mau memastikan makanan di COP School semuanya sehat, bebas dari formalin dan aman dikonsumsi oleh peserta juga para pengisi acara. Ini namanya adalah bekerja di garda depan. Alibi.
Hmmm… sebenarnya menjadi tim dapur itu artinya harus menghadapi kenyataan bahwa jatah tidur sangat berkurang. Bayangkan pagi buta sebelum ayam berkokok kami para kitchen angels sudah bergerak menuju arah matahari terbit. Di saat yang lainnya masih nyenyak tidur di dalam sleeping bed.
Rutinitas selama COP School, setiap hari paling lambat bangun sekitar pukul 3.30 pagi karena wajib memasak air untuk kebutuhan minum dan pergi ke pasar membeli sayur mayur. Mengambil makanan di catering dan juga harus menyiapkan ini dan itu. Pagi yang sangat sibuk. Dari kegiatan ini saya menjadi banyak belajar tentang bagaimana mengorganisir waktu yang baik dan bertanggung jawab dengan pekerjaan.
Dapur adalah tempat paling strategis untuk bertemu dengan semua orang. Sembari para peserta membuat teh atau secangkir kopi panas, saya banyak mendapat kesempatan untuk berbincang. Obrolan hangat di pagi hari membuat susana menjadi lebih dekat dengan para peserta. Para peserta COP School sangat multikultural. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang. Ada mahasiswa kedokteran hewan, biologi, desain, hukum, eknonomi, komunikasi, bahasa, dsb. Secara tidak sadar saya menjadi memahami berbagai macam karakter orang dan membuat lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Ya, COP School adalah tempat dimana saya mendapatkan keluarga baru, saling menginspirasi dan menguatkan satu sama lain. Terimakasih COP.

SI CANTIK NAN EKSOTIS AKAN SEGERA HIDUP BEBAS

Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Centre for Orangutan Protection (COP) dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY rencananya akan melepasliarkan 10 ekor Merak Hijau (Pavo muticus muticus) atau yang dikenal juga sebagai Merak Jawa pada tanggal 19 Februari 2017 mendatang di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi – Jawa Timur. Selain itu juga akan dilepasliarkan 3 ekor ular Sanca Bodo (Python molurus) di area Taman Nasional tersebut.

Ke tiga belas ekor satwa tersebut merupakan satwa hasil sitaan dan serahan masyarakat yang kemudian direhabilitasi di WRC Jogja – site milik YKAY di Sendangsari, Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta.

“Total 13 ekor satwa yang terdiri dari 10 merak Jawa dan 3 ekor ular sanca bodo”, kata drh. Randy Kusuma – Manager Konservasi YKAY sekaligus dokter hewan YKAY. Drh. Randy Kusuma mengatakan bahwa kondisi satwa-satwa tersebut baik dan siap untuk dikembalikan ke alam. “Satwa-satwa ini sudah direhabilitasi di WRC Jogja sekitar setahunan dan kondisinya sehat serta siap release ke alam”, jelasnya. Lebih lanjut drh. Randy Kusuma mengatakan bahwa awalnya untuk merak ada 14 ekor, namun dalam upaya perawatan dan rehabilitasi 4 ekor merak tidak dapat diselamatkan. “Ada 4 ekor yang mati, sehingga tersisa 10 ekor yang bisa bertahan serta akhirnya akan kami lepasliarkan. Yang mati adalah merak yang kami terima dari hasil operasi perdagangan satwa Februari 2016 oleh Mabes Polri serta beberapa LSM di bidang satwa liar yaitu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Kondisi satwa waktu itu masih anakan dengan lingkungan saat di pedagang tidak baik. Ini berdampak ke kesehatan satwanya,dan tidak dapat bertahan.”, jelas drh. Randy Kusuma.

Ketua Dewan Pembina YKAY Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi dalam pernyataan persnya mengatakan bahwa pelepasliaran satwa yang telah dirawat dan direhabilitasi oleh YKAY merupakan langkah nyata lembaga yang dipimpinnya untuk konservasi satwa liar Indonesia. “Program pelepasliaran menjadi tanggung jawab kami selaku lembaga konservasi kepada masyarakat, bahwa satwa yang dititipkan Negara kepada YKAY bisa dirawat dan kami kembalikan ke habitatnya. Memang untuk ini kita butuh dana yang cukup besar dan kita harus mencarinya sendiri. Untuk itu kita mengharapkan kepedulian lembaga pemerintah maupun swasta untuk ikut berpartisipasi untuk penyelamatan satwa Indonesia””, ucap GKR. Mangkubumi.
Ia juga mengharapkan masyarakat semakin sadar untuk tidak membeli dan memelihara satwa liar. “Masyarakat semoga semakin sadar, bahwa satwa liar bukanlah binatang peliharaan. Bila masyarakat terus menerus memelihara satwa liar, ya perdagangan satwa liar illegal akan terus terjadi dampak jangka panjangnya ya hilanglah dari alam satwa-satwa kita yang luar biasa ini.”, ujarnya.

Sementara itu Action Coordinator COP – Daniek Hendarto mengatakan bahwa COP sangat mendukung dan menyambut gembira upaya pelepasliaran satwa yang akan dilakukan di TN.Baluran beberapa hari lagi karena satwa yang akan dilepasliarkan terutama 10 merak merupakan barang bukti perdagangan ilegal yang berhasil dihentikan pada tanggal 7 Februari 2016 bersama dengan Bareskrim Mabes Polri, COP dan JAAN di Bantul. “Ini sinergi yang sangat bagus sekali, ada upaya hukum yang dilakukan COP kemudian dilanjutkan upaya rehabilitasi dan pelepasliaran oleh WRC (YKAY).”, terang Daniek.

Di tempat yang sama Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Yogyakarta, Untung Suripto, ST, MT menjelaskan bahwa perburuan dan perdagangan satwa liar telah mengakibatkan kerugian terancam punahnya satwa di habitat aslinya dan upaya terpenting dalam menghentikan tindak pidana perburuan dan perdagangan satwa liar adalah dengan penegakan hukum yang diharapkan menimbulkan efek jera bagi pelakunya. “Kedua jenis satwa tersebut – Merak Hijau dan dan ular Sanca Bodo merupakan satwa dilindungi UU no 5 th 1990 dan PP th 1999.”, kata Untung.

Lebih lanjut Untung mengatakan bahwa pelaku perdagangan satwa telah diadili di Pengadilan Negeri Bantul dan dijatuhi hukuman. “Berdasarkan surat keputusan Pengadilan Negeri Bantul Reg no 66/Pidsus/2016/PN Btl tanggal 20 Juni 2016, pelaku atas nama Muhammad Sulvan diputus bersalah berdasarkan UU no 5 th 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan hukuman penjara selama 10 (sepuluh) bulan. Satwa sitaan sebagai barang bukti tindak pidana diserahkan ke Negara untuk selanjutnya dilakukan pelepasliaran (release) di habitat aslinya.”, terang Untung. Pihak BKSDA Yogyakarta berharap pelepasliaran diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan satwa serta dapat meningkatkan populasi di habitat aslinya.

Pemilihan tempat pelepasliaran di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi – Jawa Timur ini mempertimbangkan faktor habitat Merak Jawa dan ular piton yang memang ada di kawasan tersebut.
Sebelum dilepasliarkan satwa-satwa ini telah menjalani pemeriksaan ksehatan akhir, kemudian dilakukan penandaan individu dengan microchip yang ditanam di dalam tubuh satwa serta untuk merak dilakukan tagging dan pewarnaan pada sebagian bulu sayap guna memudahkan tim monitoring untuk pengamatan setelah dilepasliarkan.

Setibanya di Taman Nasional Baluran, satwa-satwa tersebut akan sebelum akhirnya dilepaskan.
Di Indonesia, pelaku perdagangan satwa liar melanggar Undang-undang no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman penjara 10 tahun atau denda hingga 200 juta rupiah. (**)

Narasumber :
Untuk Suripto, ST, MT – 0852 2591 9900
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Yogyakarta

Drh. Randy Kusuma – 0819 0375 1590
Dokter Hewan & Manager Konservasi YKAY

Daniek Hendarto – 0813 2883 7434
Action Coordinator Center for Orangutan Protection (COP)

10 MERAK AKAN KEMBALI KE ALAM

Masih ingat operasi tangkap tangan pedagang satwa liar di Bantul, Yogyakarta pada 7 Februari 2016 yang lalu? Pedagang atas nama M. Zulfan telah menjalani hukuman 9 bulan penjara. Dalam komentarnya di Instagram orangutan_COP, dengan akun jovan_joyodarsono, “Wah jadi inget waktu dulu digrebek cop sama jaa..sekarang dah tobat..sukses ya cop.”. Sungguh penegakkan hukum bukanlah hal yang sia-sia.

Satwa yang berhasil diselamatkan adalah 13 merak hijau, 1 beruang madu, 2 ular sanca bodo, 1 lutung jawa, 1 elang hitam dan 1 binturong dan dititipkan di Wildlife Rescue Centre Yogyakarta. Tahun 2017 ini adalah tahun kebebasan untuk satwa-satwa tersebut. 10 merak hijau ini tumbuh menjadi merak-merak yang siap untuk dirilis. 19 Februari 2017 nanti, kesepuluh merak yang berhasil bertahan akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur.

Selain merak hijau, 3 ular dan 2 landak dari operasi pasar burung Muntilan, Jawa Tengah tahun 2012 akan ikut dilepasliarkan juga. Suryanto, pedagang dengan satwa dilindungi elang brontok, alap-alap sapi, bubo sumatranus, kucing hutan, anakan kijang, landak, trenggiling, walang kopo, anakan elang, kukang dan buaya telah menjalani hukuman 9 bulan penjara.

Persiapan pelepasliaran kembali ini membawa semangat untuk APE Warrior yang telah bekerja keras menginisiasi operasi-operasi penegakkan hukum tersebut. “Tak ada yang tidak mungkin. Jangan beli satwa liar. Jangan jual satwa liar!”, Daniek Hendarto manajer Aksi Centre for Orangutan Protection. (YUN)

ORANGUFRIENDS YOGYA MERAMAIKAN ACICIS YOGYAKARTA

Ada puluhan LSM dengan fokus kemasyarakatan, pendidikan, anak dan satwa yang berada di kota Yogyakarta meramaikan Non Goverment Organization (NGO) Fair di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jumat siang.

Acara ini adalah usaha Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies untuk memperkenalkan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) kepada mahasiswa baru yang sedang melakukan studi di Indonesia terutama yang berasal dari beberapa negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris dan Belanda.

Selama tiga tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection bersama Orangufriends Yogyakarta secara rutin memenuhi undangan ACICIS untuk berpartisipasi. Acara yang berlangsung selama dua jam ini memberi kesempatan seluas-luasnya pada LSM untuk memperkenalkan kinerjanya dan para mahasiswa bebas memilih akan membantu di LSM yang cocok dengan dirinya. ACICIS berharap para mahasiswa tidak hanya menjalani studinya, tetapi juga bisa berkembang dan bergabung dengan LSM yang ada.

Terimakasih Orangufriends Yogya, Kharin, Shinta, Syaidar, Bukhori, Okto dan Zainuri yang telah membantu NGO Fair ini. (DAN)

FOUR JAVAN LANGURS SAVED FROM TRADER

Seorang pedagang satwa liar tertangkap tangan dengan barang bukti 4 lutung jawa (Tranchypithecus auratus), 3 betina dan 1 jantan pada 6 Januari 2016 di depan stasiun Lawang, Jawa Timur. Operasi ini adalah operasi pertama di awal tahun 2017 bersama Gakkum Seksi II Jawa Timur dengan COP, Animals Indonesia. Orangufriends Malang membantu penanganan keempat lutung jawa tersebut. Perdagangan lewat media sosial terus berlanjut hingga awal tahun 2017. Kini pedagang (dengan nama akun facebook setan merah) sedang di proses hukum di polsek Lawang, Jawa Timur.

Suwarno dari Animals Indonesia, “Jawa Timur memang merupakan kantong-kantong satwa liar. Dapat dilihat dari kawasan konservasinya yang paling banyak dibandingkan provinsi lainnya. Sehingga perburuan liar banyak sekali dijumpai. Sementara itu, kelompok-kelompok yang menyatakan diri sebagai ‘pecinta satwa’ sudah semakin spesifik. Sehingga permintaan pada spesies tertentu seperti lutung jawa cukup tinggi.”

Center for Orangutan Protection sudah 5 tahun ini berperan aktif dalam setiap operasi bersama dengan pihak berwajib, baik itu kepolisian maupun kementrian kehutanan. Selama ini telah 26 kali operasi bersama dan 85 persen berakhir di hukuman penjara. Namun memang hukuman masih terlalu ringan sehingga tidak cukup membuat jera pelaku.

Ramadhani, dari Centre for Orangutan Protection, “Kami berharap Undang-undang No 5 tahun 1990 segera direvisi agar disesuaikan dengan kondisi saat ini, sehingga membuat efek jera bagi pelaku kejahatan.”

Penegakkan hukum di dunia satwa liar terasa semakin berat dengan kehadiran facebook maupun media sosial lainnya tanpa menerapkan security system atas kejahatan ini. “Facebook sebagai media sosial yang menjadi pasar dunia maya perdagangan satwa liar seharusnya segera menutup grup-grup pedagang bahkan ‘komunitas pecinta satwa liar’. Karena lewat facebook mereka saling bertemu dan bertransaksi secara bebas tanpa harus bertatap muka.”, tambah Ramadhani.

Untuk wawancara lebih lanjut, silahkan hubungi:

Ramadhani
Centre for Orangutan Protection
081349271904

Suwarno
Animals Indonesia
082233951221

CATATAN AKHIR TAHUN 2016: PERDAGANGAN SATWA LIAR

TRANSFORMASI PERDAGANGAN SATWA LIAR ILEGAL DAN UPAYA PENANGANAN DI INDONESIA

Pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit dalam skala yang besar di Sumatera dan Kalimantan, telah berpengaruh besar pada pasar perdagangan satwa liar di Indonesia. Satwa Liar buruan semakin mudah di dapat, terutama yang memiliki harga mahal seperti primata dan kucing besar.
Media Sosial seperti Facebook memiliki peran besar dalam membangun pasar perdagangan satwa liar ilegal. Pemeliharaan satwa liar dilindungi, yang sebelumnya hanya dilakukan oleh kalangan tertentu saja sebagai simbol status sosial dan kekuasaan,kini sudah merambah ke masyarakat biasa, terutama anak-anak muda. Mereka berkomunikasi dan membangun kelompok maya. Di dalam kelompok inilah para pedagang masuk sebagai anggota dan menawarkan dagangannya. Kelompok-kelompok seperti ini semakin tumbuh subur dan kuat dengan membentuk organisasi nyata dan melakukan pertemuan-pertemuan. Sementara itu, para pedagangnya tetap bersembunyi dengan akun-akun palsunya.
Untuk menegakkan hukum, dibutuhkan strategi tersendiri untuk memastikan bahwa operasi tidak bocor. Besarnya nilai kejahatan ini merupakan daya tarik tersendiri bagi para petugas korup bahkan orang-orang yang bekerja untuk konservasi satwa liar itus endiri, misalnya dokter hewan. Rivalitas agensi penegakkan hukum juga merupakan tantangan tersendiri. Dalam 5 tahun terakhir, COP dan Animals Indonesia bersama aparat penegak hukum telah melakukan 25 operasi dan 168 satwa liar berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal, diantaranya 9 orangutan, 2 beruang, 21 lutung jawa. Kasus-kasus perdagangan orangutan dan harimau biasanya melibatkan para pedagang profesional dan sangat berpengalaman. Nilai transaksinya berkisar 10 juta sampai 200 juta rupiah.
14 orang telah dipenjara dengan masa hukuman 3 bulan sampai 1,5 tahun. Ringannya masa hukuman menjadikan para pedagang tidak jera. Dalam pantauan kami, sebagian pedagang yang keluar penjra masih berjualan lagi dan sebagian beralih profesi ke bentuk kejahatan yang lain karena di dalam penjara mendapatkan relasi baru.
COP masih percaya bahwa penegakkan hukum merupakan jalan terbaik untuk mengatasi perdagangan satwa liar karena hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan ketidaktahuan dan kemiskinan. Kita sedang berhadapan dengan orang-orang sakit yang merasa bangga dengan melanggar hukum dan dibutakan oleh tren keliru. (APE Warrior, 2016)

#AcehEarthquake Disaster Relief

Earthquake with magnitude of 6.5 on December 7th 2016 at 05.05 AM West Indonesia Time in Pidie Jaya, Aceh, claimed 96 lives, not including the injured. Centre for Orangutan Protection along with International for Animal Welfare (IFAW) deployed APE Warrior to handle animals that affected by the earthquake.

Communication with refugees, Search and Rescue team (SAR), journalists, government and in-field monitoring concluded that not many animals were affected by this disaster. Local people that keep livestock such as goats, sheep and cows, breed them with a tradition of not putting them inside enclosures, but instead, let them free on the field thus they able to saved their own lives. This also applied to chickens.

For pets like cats, APE Warrior and Orangufriends fed them at the disaster area. Just like livestock, local people keep their cats without enclosure, so they were also free.

APE Warrior is one of COP’s team for disaster response. APE Warrior was born at the event of Merapi eruption in the end of 2010. (Animal, People, and Environment)
#disasterrelief

Gempa berkekuatan 6,5 SR pada 7 Desember 2016 pukul 05.05 WIB di Pidie Jaya Aceh memakan korban 96 jiwa belum termasuk yang luka. Centre for Orangutan Protection bersama International for Animal Welfare (IFAW) menurunkan APE Warrior untuk menanggani satwa yang terdampak gempa bumi tersebut.

Komunikasi dengan pengungsi, tim sar, wartawan, pemerintah dan pemantauan langsung ke lapangan menyimpulkan, tidak banyak satwa yang terdampakan bencana ini. Masyarakat yang berternak kambing, domba dan sapi secara tradisi tidak mengkandangkan, melainkan dibiarkan bebas (kandang umbaran) sehingga ternak selamat dari bencana. Sama halnya dengan ternak ayam. Untuk hewan peliharaan kucing, APE Warrior beserta orangufriends hanya memberi makan di lokasi bencana saja. Kucing di Aceh juga dipelihara dengan dilepaskan, sehingga kucing bebas.

APE Warrior adalah salah satu tim COP yang tanggap terhadap bencana. APE Warrior lahir di saat gunung Merapi meletus diakhir tahun 2010. (Animal, People and Environment)

ORANGUTAN CARING WEEK

Each year, world conservation organizations especially that focused on orangutan issues, spare 1 week to focus on raising awareness for orangutan. Some events were held, from school visit, charity events, and special events on social media to fill the timeline with orangutan-related topics until it became a trending topic.
The theme raised for 2016 was “Critically Endangered, Critically in Need”. For Center for Orangutan Protection, orangutan was the entry door to save the forest and other wildlife. Orangutan was the umbrella species that protects other co-existent species.
It’s time for you to show you’re caring through KADO (Kampanye, Adopsi, Donasi, Orangufriends), Campaign, Adoption, Donation, or joining Orangufriends. Yes, Center for Orangutan Protection needs you. You can join the campaign and spread how important it is to protect orangutan to you family, relatives, and friends, even you community. You can also adopt virtually the orangutans we help in COP’s rehabilitation center. Or you can donate to our team on the field. Or even you can join orangufriends (COP’s support group) that support the APE Crusader, APE Warrior, APE defender and APE Guardian team. Choose your caring path and send us email through info@orangutanprotection.com

Setiap tahunnya, organisasi konservasi dunia khususnya orangutan meluangkan waktu satu minggu untuk fokus pada penyadartahuan orangutan. Berbagai kegiatan dilakukan mulai dari kunjungan ke sekolah, penggalangan dana, event spesial bahkan memenuhi timeline media sosial dengan kepedulian terhadap orangutan menjadi suatu trend.

Tema yang diangkat tahun 2016 ini adalah “Critically Endangered, Critically in Need”. Bagi Center for Orangutan Protection sendiri, orangutan adalah pintu masuk untuk menyelamatkan hutan dan satwa liar lainnya. Orangutan yang merupakan spesies payung adalah orangutan yang melindungi spesies lainnya yang hidup berdampingan dengannya.

Saatnya kepedulianmu diwujudkan lewat KADO, Kampanye, Adopsi, Donasi maupun menjadi Orangufriends. Ya, Center for Orangutan Protection membutuhkan kamu. Kamu bisa berkampanye ke keluarga, saudara, teman bahkan lingkunganmu, tentang betapa pentingnya orangutan. Kamu juga bisa mengadopsi secara virtual, orangutan yang kamu inginkan yang berada di pusat rehabilitasi COP Borneo. Atau lewat berdonasi untuk mendukung tim COP di lapangan. Bahkan kamu bisa menjadi Orangufriends (kelompok pendukung COP) yang membantu pekerjaan APE Crusader, APE Warrior, APE Defender dan APE Guardian. Pilih jalur kepedulianmu, dan email kami di info@orangutanprotection.com

EAGLE TRADER CAUGHT IN PALEMBANG

Palembang – South Sumatra Region Police through Tipiter Unit, supported by Centre for Orangutan Protection (COP) and Animals Indonesia, caught an eagle trader in Palembang, South Sumatra. The suspect operates his trading business via Facebook. When captured, suspect (initial ‘A P’) brought 4 eagles, stored inside carton boxes, ready to be sold.

Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP stated, “This trader has been on the radar for a while, and most of he sold mostly raptors such as eagle and falcon via Facebook. When caught by South Sumatra region Police, assisted by COP and Animals Indonesia, (we) successfully seized 4 eagles inside boxes that ready to be sold. The trader got caught at Jl. Haji Burlian KM 5, in front of Bhayangkara hospital Palembang, around 13.00 West Indonesia Time.”

The suspect is now being arrested by South Sumatra Region Police, along with several evidences: 1 young eagle and 3 eagle chicks. The high demand of eagle lovers keeps this kind of business thriving. Eagle lover clubs are also the reason why this business exists.

“The suspect is also a member of eagle lover club, which popularly called Falconry. Eagle is a type of raptor which all of its type are under the protected wildlife category. The high demands of eagles from the eagle lovers causes the capturing and trading keeps happening. We will not stop trying to break this chain of cycle crime, support the law enforcement, including disbanded of eagle lovers clubs, because for whatever reason, keeping eagle as pet and trading eagle are against the law” stated Suwarno, Animals Indonesia.

This law enforcement operation for wildlife crime is a crucial key as prevention for the business growth. Wildlife trade operation had also been conducted in South Sumatra, particularly in Lubuk Linggau. On the operation conducted back in February 2016 by Tipiter Unit supported by Centre for Orangutan Protection (COP) and Animals Indonesia, they successfully caught Sumatran Tiger skin and bone trader. Court given 6 months jail sentence for the trader, far from the maximum penalty. Meanwhile, the eagle trader’s fate is still waiting for the court process. Heavy penalty will surely teach a lesson to the similar traders.

“Even though the penalty was not in the favor of wildlife trading resistance, since it has always been minor penalty, we still support the law enforcement. We also appreciate the South Sumatra Region Police through Tipiter Unit, which responded promptly towards the report of wildlife crime”, added Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP.

For further information and interview:
Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP
HP: 081284834363
 
Suwarno, Animals Indonesia
HP: 082233951221

PEDAGANG ELANG TERTANGKAP TANGAN DI PALEMBANG

Palembang – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Sumsel) melalui Unit Tipiter Polda Sumsel dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Animals Indonesia menangkap pedagang elang di kota Palembang, Sumatra Selatan. Tersangka memperjualbelikan elang di jejaring sosial Facebook. Saat ditangkap pedagang berinisial AP membawa 4 (empat) elang yang disimpan dalam kotak kardus yang siap diperdagangkan.

Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP menjelaskan, “Pedagang ini dipantau tim sudah cukup lama dan jualan satwa kebanyakan jenis burung pemangsa seperti elang dan alap-alap di jejaring sosial Facebook. Saat ditangkap tim Polda Sumsel dibantu COP dan Animals Indonesia berhasil mengamankan 4 ekor elang yang dimasukkan ke dalam kardus yang siap dijualbelikan. Pedagang ditangkap di Jl. Haji Burlian Km 5 di depan rumah sakit Bhayangkara, Palembang pada 13.00 WIB.”.

Saat ini tersangka sudah diamankan di Polda Sumsel bersama barang bukti 1 elang remaja dan 3 masih dalam kondisi anakan. Tingginya permintaan dari peng-hobi elang membuat bisnis ini terus subur terjadi. Klub-klub pencinta burung elang menjadi salah satu pendorong perdagangan ini terus terjadi dan ada.

“Tersangka merupakan pedagang yang juga anggota kelompok pecinta burung pemangsa atau yang lebih keren disebut Falconry. Elang merupakan jenis burung predator yang semua jenisnya masuk dalam kategori satwa dilindungi. Tingginya permintaan akan elang dari para peng-hobi membuat penangkapan dan perdagangan ini terus terjadi. Mata rantai kejahatan ini akan terus kita lawan dengan mendorong penegakan hukum termasuk pembubaran klub-klub pencinta dan pemelihara burung elang. Karena apapun alasannya memelihara dan memperdagangkan burung elang adalah tindakan melawan hukum.”, tegas Suwarno, Animals Indonesia.

Operasi penyitaan dan penegakan hukum bagi pelaku kejahatan satwa liar adalah bagian kunci penting agar kejahatan ini tidak berkembang terus dan menjadi besar. Operasi perdagangan satwa liar juga pernah dilakukan di Sumatera Selatan tepatnya di Kota Lubuk Linggau. Dalam operasi yang dilakukan bulan Februari 2016 tim Tipiter Polda Sumatra Selatan dibantu COP dan Animals Indonesia menangkap pedagang kulit dan tulang Harimau Sumatera. Vonis pedagang Kulit Harimau itu hanya 6 bulan penjara dan jauh dari kata hukuman maksimal. Untuk kasus pedagang elang ini kita akan tunggu proses hukum, karena dengan dengan vonis yang berat akan menjadi efek jera bagi para pelaku kejahatan ini.

“Mesti hukuman belum berpihak untuk upaya perlawanan perdagangan satwa liar karena selalu berakhir dengan putusan vonis rendah, upaya penegakan hukum ini tetap kita dorong. Apresiasi juga kami sampaikan kepada Polda Sumsel melalui Unit Tipiter Polda Sumsel yang merespon cepat  laporan berkaitan dengan kejahatan satwa liar.”, tambah Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut:
Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP.
HP: 081284834363

Suwarno Animals Indonesia.
HP: 082233951221

Page 2 of 812345...Last »