ORANGUTANS IN REHABILITATION CENTER OR IN THE ZOO?

If there is a question “Which is better, orangutans in the zoo or rehabilitation center?”, then the answer is the rehabilitation center. Why? Because the future is clearer.

Is the future of orangutans in the zoo unclear? Of course, it is clear. Obviously, they will be a spectacle of many people, on display like a doll, then people try to get close to seeing his behavior. Whereas in a rehabilitation center, the orangutan will be placed in a place far away from the crowd and only meet certain people.

Genetically, orangutans have similarities with humans up to 97%. It makes orangutans and humans have some similarities in disease, such as flu, fever, typhoid, malaria, hepatitis, herpes to tuberculosis. So that orangutans and humans can transmit diseases (zoonosis). Some diseases also have special treatment to be cured such as laboratory tests to quarantine.

A zoo is an easy place for the transmission of diseases between humans and animals, especially orangutans, and vice versa. Why? Because the interaction between humans and orangutans is not properly monitored by officers and occurs freely. The warning board has indeed been installed in each enclosure, but who can ensure orangutans and humans do not come into direct contact? The number of visitors causes the interaction to be unavoidable and spread the disease easily.

If orangutans are in a rehabilitation center, orangutans will only interact with a few people like the animal keepers and the medical team. Their condition is also always monitored with regular checks. A special program for orangutans at the rehabilitation center also stimulates the wild nature of the orangutan, because rehab center has its own rehabilitation goal to release orangutans to their habitat. Every individual orangutan has the opportunity to return to live in its natural habitat. (IND)

REHABILITASI ORANGUTAN ATAU ORANGUTAN DI KEBUN BINATANG
Jika ada pertanyaan, “Lebih baik mana, orangutan di kebun binatang atau pusat rehabilitasi?”, maka jawabannya adalah pusat rehabilitasi. Kenapa? Karena masa depannya lebih jelas.

Lalu apakah masa depan orangutan di kebun binatang tidak jelas? Tentu saja jelas, jelas dia akan menjadi tontonan banyak orang, dipajang kemudian orang-orang berusaha mendekat untuk melihat tingkah lakunya. Sedangkan jika berada di pusat rehabilitasi, maka orangutan tersebut akan di tempatkan di kandang yang jauh dari keramaian dan hanya bertemu dengan orang-orang tertentu saja.

Secara genetik, orangutan memiliki kemiripan dengan manusia hingga 97%. Maka orangutan dan manusia memiliki beberapa kesamaan penyakit. Misalnya flu, pilek, demam, tipes, malaria, hepatitis, herpes hingga tuberkolosis. Sehingga orangutan dan manusia dapat saling menularkan penyakit (zoonosis). Beberapa penyakit juga memiliki perlakuan khusus agar dapat disembuhkan seperti pemeriksaan laboratorium hingga karantina.

Kebun binatang adalah tempat yang mudah untuk penularan penyakit antara manusia dan satwa khususnya orangutan, begitu pula sebaliknya. Kenapa? Karena interaksi antara manusia dan orangutan tidak terawasi dengan baik oleh petugas dan terjadi dengan bebas. Papan peringatan memang sudah dipasang di setiap kandang, tapi siapa yang bisa memastikan orangutan dan manusia tidak bersentuhan secara langsung? Banyaknya pengunjung menyebabkan interaksi tersebut tak terhindarkan dan penyebaran penyakit pun dengan bebas terjadi.

Jika orangutan berada di pusat rehabilitasi, orangutan hanya akan berinteraksi pada beberapa orang saja seperti animal keeper dan bagian medis saja. Kondisi mereka juga selalu dalam pantauan dengan pemeriksaan berkala. Program khusus untuk orangutan di pusat rehabilitasi juga merangsang sifat liar orangutan tersebut, karena tujuan rehabilitasi sendiri untuk melepasliarkan kembali orangutan ke habitatnya. Setiap individu orangutan mempunyai kesempatan untuk kembali hidup di habitat alaminya. (RYN)

NORTH SUMATRA REGIONAL POLICE, WHERE DID THE TRADER OF 4 ORANGUTANS CASE GO?

Illegal trading case of four orangutan babies in Medan two years ago has been losing its track. Certain criminal act unit of Police Headquarter Criminal Investigation Agency (Tipidter Bareskrim Mabes Polri), Centre for Orangutan Protection, JAAN and Animals Indonesia exposed the largerst orangutan trading with the capture of Zulfikar aka Buyung on July 26, 2016. Even so, after the case was handed over to North Sumatera Police, the legal process has been unknown.”, said Hery Susanto, Coordinator of Anti Wildlife Crime COP

Buyung the suspect was caught with the evidences of 3 orangutan babies in iron cage wrapped in plastic and one orangutan in plastic rice sack in Maksum city, South Medan Area, Medan. Orangutans are protected animal and become a high conservacy priority by the Republic of Indonesia government.

“This is the largest orangutan trading that has ever existed. How is the legal proceeding? While the trader of one individual orangutan caught in Kp. Rambutan terminal, Jakarta, on July 24, 2016 with Hendri Yarsudi as the suspect was sentenced to 1 year and 8 months imprisonment and fined Rp 100.000.00,00. Even that is not even to the loss it is caused. Yet this one in Medan had evidences of 4 babies orangutan!”, Hery Susanto added. (SAR)

POLDA SUMUT, KEMANA KASUS PEDAGANG 4 ORANGUTAN 2016?
Kasus perdagangan ilegal empat bayi orangutan di Medan dua tahun yang lalu hingga saat ini tak ada kabar berita. “Tipidter Bareskrim Mabes Polri, Centre for Orangutan Protection, JAAN dan Animals Indonesia pada 26 Juli 2016 membongkar perdagangan orangutan terbesar dengan tertangkapnya Zulfikar alias Buyung. Namun setelah kasus dilimpahkan ke Polda Sumatera Utara, proses hukum tidak diketahui.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Tersangka Buyung tertangkap tangan dengan barang bukti 3 bayi orangutan dalam kandang besi berbungkus plastik dan satu individu orangutan di dalam karung beras plastik di kota Maksum, kecamatan Medan Area Selatan, Medan. Orangutan merupakan satwa dilindungi dan menjadi prioritas konservasi tinggi oleh pemerintah Republik Indonesia.

“Ini adalah kasus perdagangan orangutan terbesar yang pernah ada. Bagaimana proses hukumnya? Sedangkan proses hukum pedagang satu individu orangutan yang tertangkap di terminal Kp. Rambutan, Jakarta pada 24 Juli 2016 dengan terdakwa Hendri Yarsudi telah di vonis 1 tahun 8 bulan penjara dan denda Rp 100.000.000,00. Itu saja tidak setimpal dengan kerugian yang diakibatkan. Sementara yang di Medan ini dengan barang bukti 4 individu bayi orangutan!”, tambah Hery Susanto.

COP SENDS SUPPORT LETTER TO NORTH SUMATERA BKSDA TO TAKE OVER THE ORANGUTAN FROM THS

Boncel and Ina the orangutan are two individuals who entered Siantar Animal Park (THS) a month ago. Those orangutans are allegedly local’s property who were handed over to THS. Physically, they’re pretty good and decent to enter a rehabilitation center before release back to its nature. North Sumatera has a good facilities of Orangutan rehabilitation center, in Sibolangit, North Sumatera to be exact. The track record shows the credibility of the one and only orangutan rehabilitation center in Sumatera. There’s no way else, THS must deliver the orangutan to the state, to undergo a rehabilitation process, before return back to the wild.

The future of the orangutan is still far away. And the rehabilitation process is one of right moves in the effort to increase the Sumateran Orangutan population in the wild which is nearly extinct. BKSDA of North Sumatera has full authority to this matter and COP fully support them to take a decisive action to evacuate the orangutan from THS and send them to Orangutan rehabilitation center.

Thursday, July 19, 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) sent a support letter for North Sumatera BKSDA, with copies to The Director General KSDAE, The Secretariat of Directorate General KSDAE, and the Directorate of KKH, to evacuate Boncel and Ina the orangutan from THS and do an effort of rehabilitation to those two individuals of orangutan. (SAR)

COP KIRIM DUKUNGAN KE BKSDA SUMUT UNTUK AMBIL ORANGUTAN DARI THS
Orangutan Boncel dan Ina adalah dua individu orangutan yang masuk ke Taman Hewan Siantar (THS) sebulan yang lalu. Orangutan tersebut diduga dari kepemilikan masyarakat yang diserahkan kepada THS. Secara fisik, orangutan tersebut cukup baik dan layak dimasukkan ke pusat rehabilitasi sebelum dikembalikan menuju ke alam. Sumatera Utara memiliki fasilitas pusat penyelamatan orangutan yang baik, tepatnya di Sibolangit, Sumatera Utara. Rekam jejak menunjukkan kredibilitas pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya di Sumatera. Tidak ada alasan lain, THS harus menyerahkan satwa tersebut kepada negara untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi sebelum dikembalikan ke alam.

Masa depan orangutan tersebut masih panjang dan proses rehabilitasi untuk pelepasliaran adalah salah satu langkah yang baik untuk dilakukan dalam upaya peningkatan populasi orangutan Sumatera di alam yang terancam punah. BKSDA Sumut memiliki wewenang penuh akan hal ini dan COP mendukung upaya tegas untuk mengevakuasi orangutan dari THS untuk masuk Pusat Rehabilitasi Orangutan.

Kamis, 19 Juli 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) mengirimkan surat dukungan kepada BKSDA Sumatera Utara dengan tembusan Dirjen KSDAE, Setdijen KSDAE dan Dir KKH untuk melakukan evakuasi orangutan Boncel dan Ina dari THS dan melakukan upaya rehabilitasi bagi kedua individu orangutan tersebut.

COP URGES THS TO GIVE TWO ORANGUTANS UP TO THE STATE

Two orangutans entered Siantar Animal Park or Taman Hewan Siantar (THS) in Pematang Siantar city, North Sumatera, allegedly from the communities are being talked about. Here is Centre for Orangutan Protection (COP)’s attitude statements:

1. Both orangutans are still able to be rehabilitated and it is appropriate for THS to hand over two individual orangutans to the state for quarantine and rehabilitation before release them back into the forest.

2. North Sumatera has orangutan rehabilitation center that has good facilities and accredibility in orangutan rehabilitation program under the Natural Resources Conservation Center (BKSDA) of North Sumatera

3. Sumatran orangutan is listed as critically endangered and the government has efforts to increase its population and all parties must support, including THS.

4. We support North Sumatra BKSDA to evacuate those two individual orangutans and send them into rehabilitation center.

Poaching and illegal trading has been and still a serious problem for Sumateran Orangutans. In 2015-2016, the COP team had assisted the police and the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) to conducted seizure operations Sumateran orangutan trade cases for at least 4 cases with evidence of 9 Sumateran orangutan babies in Langsa, Medan, Jakarta, and Garut.

For further info and interview, please contact:
drh. Rian Winardi
COP Ex-situ Campaigner
Phone no: 085245905754
Email: info@orangutanprotection.com

COP DESAK THS SERAHKAN 2 ORANGUTAN KE NEGARA
Masuknya dua individu orangutan Sumatera di Taman Hewan Siantar (THS) di kota Pematang Siantar, Sumatera Utara yang diduga bersumber dari masyarakat sedang ramai diberitakan. Berikut pernyataan sikap dari Centre for Orangutan Protection (COP):

1. Kedua orangutan tersebut masih bisa direhabnilitasi dan sudah sepantasnya pihak THS menyerahkan 2 individu orangutan kepada Negara untuk di karantina dan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan menuju alam.

2. Sumatera Utara memiliki pusat rehabilitasi orangutan yang memiliki fasilitas serta kredibilitas yang baik dalam program rehabilitasi orangutan di bawah naugan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara.

3. Orangutan Sumatera termasuk dalam satwa yang terancam punah dan pemerintah memiliki upaya meningkatkan populasi dan semua pihak wajib mendukung termasuk THS.

4. Mendukung BKSDA Sumatera Utara untuk melakukan evakuasi terhadap kedua individu orangutan tersebut dan mengirimkannya ke pusat rehabilitasi orangutan.

Perburuan dan perdagangan masih menjadi ancaman serius bagi orangutan Sumatera. Setidaknya kurun waktu tahun 2015-2016, tim COP membantu Kepolisian dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan operasi penyitaan untuk kasus perdagangan orangutan Sumatera sebanyak 4 kasus dengan barang bukti sejumlah 9 bayi orangutan Sumatera di kota Langsa, Medan, Jakarta dan Garut.

Untuk informasi dan wawancara, silahkan hubungi:

drh. Rian Winardi
Juru Kampanye Eks Situ COP
HP: 085245905754
Email: info@orangutanprotection.com

Mustafa Imran
PLH BKSDA Sumatera Utara
HP: 081260696826

TAMAN HEWAN SIANTAR OUGHT TO RETURN TWO ORANGUTANS

Taman Hewan Siantar/ Siantar Animal Park (THS) in North Sumatera alleged to have two Sumatran orangutans obtained by poaching. The orangutans are estimated at approximately 15-20 years old for the mature and 4-5 years old for the infant. “this is a violation of the Indonesian policy and commitment in the regulation of minister of forestry number P.53/Menhut-IV/2007 on Strategy and Orangutan Conservation Action Plan 2007-2017, that all orangutans confiscated from illegal pet and trade should be set in rehabilitation program to prepare them back for the wild.”, said Panut Hadisiswoyo, Director of YOSL-OIC in Medan.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Norh Sumatera had tried to take the orangutans but THS refused and asked permission to take care if them.

“North Sumatera has orangutan rehabilitation center in Batumbelin, Simbolangin. There is no reason for THS to take care the orangutans themselves, the orangutans will lost their chance to get back wild in their habitat. The two orangutan should undergo a rehabilation!”, Ramadhani, Manager of Orangutan and Habitat Protection program boldly said.

“Pematang Siantar Animal Park or previously known as Pematang Siantar Zoo is a zoo that still need to fight to address their animal welfare issue.”, Ramadhani added.

TAMAN HEWAN SIANTAR HARUS KEMBALIKAN DUA ORANGUTAN
Diduga ada dua individu orangutan Sumatera hasil perburuan berada di Taman Hewan Siantar (THS), Sumatera Utara. Kedua individu orangutan ini diperkirakan berusia 15-20 tahun dan anakan yang berusia 4-5 tahun. “Ini adalah pelanggaran terhadap komitmen dan kebijakan pemerintah Indonesia yang ditetapkan dalam Permenhut P.53/Menhut-IV/2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2007-2017, bahwa semua orangutan sitaan dari perdagangan hewan dan peliharaan harus dimasukkan dalam program rehabilitasi untuk dikembalikan ke hutan.”, Panut Hadisiswoyo, direktur YOSL-OIC di Medan.

Pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara sudah berupaya untuk mengambil orangutan tersebut namun THS menolak dan meminta izin untuk merawat orangutan tersebut.

“Sumatera Utara itu memiliki pusat rehabilitasi orangutan di Batumbelin, Sibolangit. Tidak ada alasan, kenapa orangutan tersebut harus dirawat di THS yang menyebabkan orangutan tersebut tidak memiliki kesempatan untuk kembali ke habitatnya. Kedua orangutan tersebut harus menjalani rehabilitasi!”, tandas Ramadhani, manajer program perlindungan habitat dan orangutan COP.

“Taman Hewan Pematang Siantar atau sebelumnya lebih dikenal dengan Kebun Binatang Pematang Siantar adalah sebuah kebun binatang yang masih harus berjuang untuk mengatasi persoalan kesejahteraan satwanya.”, tambah Ramadhani.

DART FROM ORANGUFRIENDS AUSTRALIA

Kamu bingung bisa bantu apa? Ini adalah Kelsie Prabawa, salah satu alumni COP School yang berasal dari Australia. Dia menanyakan ke teman-teman nya, apa yang bisa dia bawa dari Australia untuk orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Dalam sekejap, barang-barang titipan pun sampai di rumahnya dan siap untuk dibawa ke Indonesia.

Simpel ya! Tapi tau ngak, ini sangat membantu sekali. “Perlengkapan untuk membius ini harus pesan dulu kalau di Indonesia. Bisa 3-4 bulan baru barang bisa sampai tujuan. Selain itu, jumlahnya juga kadang tidak sebanyak yang kita pesan karena keterbatasan barang.”, kata Ryan Winardi, dokter hewan COP. “Peralatan ini bisa digunakan berulang kali loh untuk menghemat.”, tambah Ryan lagi.

Nah, sudah tahu kan? Mau membantu orangutan, ngak usah bingung. Siapa pun kamu, tentu saja bisa membantu orangutan Indonesia, si kerabat merah kita yang memiliki kesamaan DNA 97%. Terimakasih mbak Kelsie dan orangufriends Australia.

VOLCANIC ASH ENVELOPED PAKEM, YOGYAKARTA

The eruption of Mount Merapi on Friday morning seen from the APE Warrior camp in Yogyakarta apparently has a column height of 5,500 m from the top of the crater. Mount Merapi located in the districts of Klaten, Magelang, Boyolali and Sleman was throwing volcanic ash, sand and meterial piroklatik.

“The eruption is a phreatic eruption that is caused by a boost of water vapor pressure caused by the contact of water masses with heat under the crater of Mount Merapi,” said Sutopo Purwo Nugroho, head of the Information Data and Public Relations Center of the National Disaster Relief Agency.

“The status of Mount Merapi to date is still normal (level I) with a dangerous radius at 3 km from the top of the crater.”

The ash rain reached the APE Warrior camp. APE Warrior Team with Orangufriends Yogyakarta immediately coordinate with related parties and conduct initial assessment for disaster management if needed later. The team raised the drones in Pakem sub-district, Sleman district, Yogyakarta Special Region in the afternoon. Volcanic ash has enveloped this district. (LSX)

ABU VULKANIK MENYELIMUTI PAKEM, YOGYAKARTA
Letusan gunung Merapi pada Jumat pagi yang terlihat dari camp APE Warrior Yogyakarta ternyata mempunyai tinggi kolom 5.500 m dari puncak kawahnya. Gunung Merapi yang berada di kabupaten Klaten, Magelang, Boyolali dan Sleman itu melontarkan abu vulkanik, pasir dan meterial piroklatik.

“Letusan yang terjadi adalah letusan freatik yaitu akibat dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah gunung Merapi.”, kata Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui rilis.

“Status gunung Merapi hingga saat ini masih tetap normal (level I) dengan radius berbahaya di 3 km dari puncak kawah.”.

Hujan abu pun sampai di camp APE Warrior. Tim APE Warrior bersama Orangufriends Yogyakarta segera berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan assessment awal untuk penanggulangan bencana jika diperlukan nantinya. Tim menaikkan drone di kecamatan Pakem, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada siang harinya. Abu vulkanik telah menyelimuti kecamatan ini.

BREAKING NEWS: FREATIC ERUPTION Mt. MERAPI YOGYAKARTA

Terlihat letusan gunung Merapi, Yogyakarta dari camp APE Warrior pada Jumat pagi. Gempa yang terjadi juga dirasakan dan membuat tim APE Warrior langsung bersiap. Tim APE Warrior adalah tim yang lahir saat gunung Merapi meletus pada tahun 2010 yang lalu. Hingga saat ini, setiap ada bencana alam, tim APE Warrior bersama Orangufriends (kelompok pendukung COP) membantu penanggulangan bencana untuk satwa yang terdampak.

Informasi terkait Letusan Freatik Gunung Merapi, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang. Jauhi radius 3 km dari puncak gunung Merapi.
Silahkan menghubungi Call Center PUSDALOPS BPBD Kabupaten Magelang di:
Telp dan Fax : (0293) 789999
Hotline/WA : +62293789999
Website :
Facebook : BPBD KabMagelang
Twitter : @BPBDMagelang
Instagram : @bpbdkabmagelang
Frekwensi Radio : RX =169.575 MHz
TX = 164.575 MHz ( dupleks -5000 )
Tone = 88,5
Email : pusdalopsbpbdmagelangkab@gmail.com
Sistem Informasi :

WOUND OF THE CRESTED HONEY BUZZARD IMPROVED

One day after the operation, a joint medical teamof WRC Jogya and COP did a bandage replacement for post-operation wound on a crested honey buzzard. One bullet that was on its left wing was successfully removed, but the broken bone fractures could not be cleaned entirely.

“For now, the wound is good and dry. It shows a good healing process. Until today, the bird is still being given medicine and being fed.”, explained drh. Felisitas Flora.

Afterwards, the bird’s condition will continue to be monitored for its development. The healing process of its left wing will certainly takes time. We can not ensure how long. This crested honey buzzard is an animal deposited by BKSDA Yogya. The bird was probably migrating from its habitat that was entering winter season and got shot by irresponsible people in Yogyakarta. The air rifle bullets that nest on its wings were evidence how weal the supervision of airguns utilisation.

Based on the Regulation of the Chief of Police Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for Sports Interest, air rifles are only used for the purpose of shooting targets (article 4 paragraph 3) and are only used at the location of matches and training (article 5 paragraph 3).(SAR)

LUKA ELANG SIKEP MADU MEMBAIK
Satu hari setelah operasi, tim medis gabungan WRC Jogja dan COP melakukan penggantian perban untuk luka paska-operasi pada Elang Sikepmadu. Satu butir peluru yang berada di pangkal sayap kirinya telah berhasil diambil, namun pembersihan serpihan tulang yang hancur tidak dapat dilakukan secara keseluruhan.

“Untuk saat ini, kondisi luka bagus dan kering. Ini menunjukkan proses penyembuhan yang baik. Hingga hari ini, Elang Sikepmadu masih diberi obat dan diberi makan dengan cara ‘diloloh’.”, demikian penjelasan drh. Felisitas Flora.

Selanjutnya Elang akan terus dipantau untuk perkembangannya. Proses pemulihan fungsi dari sayap kirinya tentunya akan memakan waktu. Kami sendiri tidak bisa memastikan berapa lama. Elang Sikepmadu ini adalah satwa titipan BKSDA Yogya. Elang Sikepmadu kemungkinan besar sedang masa bermigrasi dari habitatnya yang sedang memasuki musim dingin dan tertembak orang tak bertanggung jawab di Yogyakarta. Peluru senapan angin yang bersarang di sayapnya adalah bukti lemahnya pengawasan penggunaan senapan angin.

Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan menembak sasaran atau target (pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (pasal 5 ayat 3). (FLO)

THERE IS A BULLET IN THE BODY OF CRESTED HONEY BUZZARD

This is a migratory bird that moving when the winter arrives. He survived in mimicking a stronger predatory bird. His is a crested honey buzzard (Pernis ptilorhynchus) . He looks less active and rarely uses his left wing. “Apparently, someone has shot him. There is a bullet in his left wing,” said drh. Flora Felisitas, COP veterinarian in Yogyakarta.

X-rays show a foreign object at the base of his left wing. At 3 May 2018, a surgery was conducted by drh. Irna Irhamna Putri, MSc (WRC) with drh. Flora Felisitas (COP). One bullet was removed from its body. “When the bullet is released, there is some pieces of a broken bone. The bullet is alleged to have been in the eagle’s body for more than a month,” said drh. Flora again.

The bullet destroyed the bone at the base of the wing. “We cannot clean the broken bone fragments as a whole, because it can affect the healing time of these surgical wounds,” added drh. Flora.

This crested honey buzzard was found by the people in Kulon Progo, Yogyakarta. Then it handed over to the BKSDA Yogyakarta and entrusted to the Wildlife Rescue Center Yogya. Currently, the condition of the bird is still under an intensive supervision of veterinarians to ensure it conditions remain conducive and improved. (IND)

ADA PELURU DI TUBUH ELANG SIKEP MADU
Burung ini adalah burung migrasi saat musim dingin tiba. Dia bertahan hidup dengan menyamar menyerupai burung pemangsa yang lebih kuat. Elang Sikep Madu namanya. Dia terlihat kurang aktif dan jarang menggunakan sayap kirinya. “Ternyata, seseorang telah menembaknya. Ada peluru di sayap kirinya.”, ujar drh. Felisitas Flora, dokter hewan COP yang kebetulan sedang berada di Yogyakarta.

Hasil rontgen memperlihatkan adanya benda asing di pangkal sayap kirinya. Siang 3 Mei 2018 dilakukan operasi oleh drh. Irna Irhamna Putri, MSc (WRC) bersama drh. Felisitas Flora S. M (COP). Satu butir peluru berhasil dikeluarkan dari tubuh Elang Sikep Madu ini. “Saat peluru dikeluarkan, ada nanah yang berwarna putih keruh. Peluru diduga sudah berada di dalam tubuh elang lebih dari satu bulan.”, ujar drh. Flora lagi.

Peluru tersebut menghancurkan tulang dibagian pangkal sayap. “Kami tidak dapat membersihkan serpihan tulang yang hancur secara keseluruhan, karena dapat berpengaruh terhadap lamanya penyembuhan luka pembedahan ini.”, tambah drh. Flora.

Elang Sikep Madu ini adalah hasil temuan warga Kulon Progo, Yogyakarta yang diserahkan ke BKSDA Yogyakarta lalu dititipkan kepada Wildlife Rescue Centre Yogya. Saat ini kondisi elang masih dalam pengawasan dokter hewan secara intensif untuk memastikan kondisinya tetap kondusif dan membaik. (PETz)

Page 2 of 1312345...10...Last »