ZAENAB DARI RUMAH NELAYAN PANTAI TALISE

ZAENAB DARI RUMAH NELAYAN PANTAI TALISE

Untuk mengurangi rasa sakitnya, ibu Zaenab mengangkat tangannya sedadanya. Tangannya terlihat bengkak. Saat melarikan diri dari tsunami di daerah nelayan, pantai Talise, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Rumahnya menjadi rumah terakhir yang selamat dari terjangan tsunami.

Ibu Zaenab kembali lagi untuk mengecek keberadaan kucing-kucing yang biasanya berkumpul di rumahnya. Tak ada waktu untuk mencari kucing-kucing itu. Saat melarikan diri, dia terjatuh dan tangannya pun terasa sakit setibanya di posko Puskesmas.

Ibu Zaenab seperti ibu-ibu lainnya di Palu, kembali ke rumahnya sembari mengecek kucing-kucing yang biasanya berkumpul di halaman rumahnya. Seperti ibu Ana di pantai Talise dekat jembatan kuning, ikon kota Palu. Ibu Ana, tersadar dari tidurnya di posko. Apakah saya sudah mati? Sayup-sayup terdengar suara kucing. Dan dia pun tersadar bahwa dia masih hidup. “Masih ku dengar suara kucing yang semakin jelas dan keras. Lalu kulihat dia mendekati ku. Masih hiduplah aku.”, kata ibu Ana lagi.

Kini ibu Ana mengurus kucing-kucing di sekitarnya, ini akan jadi kesibukanku tersendiri, begitu katanya. Gempa dan Tsunami yang menerjang pantai Talise telah memporak-porandakan rumah, tempat mencari makan dan hidup warga Palu. Entah berapa ribu orang yang tercerai-berai. Kini mereka sedang berjuang menyatukan kembali puing-puing harapannya.

MOTHER IN BALAROA WITH HER ELEVEN CATS

Maybe this is the most touching disaster mission for our animal warrior team. The people in Palu are very welcome for the presence of volunteers who are the members of our Animals Warrior team. We saw huge efforts from the pet owner to rescue their pets, like this couple from Balaroa.

Earthquakes are a common thing, but that day it was getting more and more powerful. Finally, an earthquake with 7.4 magnitudes struck all of this regions. This mother called her cats. Lifted it up and took it outside the house. Then she and her husband left the house. This couple is living together with eleven cats. Their efforts to save their cats make the animal volunteers touched. Suwarno, a volunteer who has repeatedly been in various disasters such as Mount Kelud and Mount Agung, also promised to return to feed their cats.

The mother was the first person that return home after one day in the evacuation camp. She did that to feed her cats. “It was amazing. The mom still had time to think about feeding these cats”, said vet Siti Aminah while checking the health of those cats. 4 small cats were given wet food while the big ones were fed with wet and dry food.

Until this day, it is still very difficult to find cat food in Palu. For this reason, cat aid is needed. The handling post for animals affected by the earthquake and tsunami in Palu was at the Central Sulawesi BKSDA office, Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu or contact the Animals Warrior team at 081328837434. (IND)

IBU DI BALAROA DENGAN SEBELAS KUCINGNYA

Mungkin ini adalah daerah bencana yang paling mengharukan bagi para penyelamat satwa yang selama ini menjadi relawan di tempat bencana. Masyarakat Palu yang sangat ‘welcome’ akan kehadiran para relawan satwa yang tergabung dalam tim Animals Warrior hingga usaha para pemilik hewan pelihara terhadap hewan peliharaannya. Seperti usaha sepasang suami istri dari Balaroa ini.

Gempa sudah biasa dirasakan. Hari ini semakin banyak dan semakin kuat. Hingga akhirnya gempa berkekuatan 7,4 SR mengangetkan seluruh penghuni perumnas ini. Ibu satu ini memanggil satu-satu kucing-kucingnya. Mengangkatnya dan membawanya ke luar rumah. Lalu ia dan suaminya pun keluar rumah. Sepasang suami istri ini memang hidup berdua bersama sebelas kucingnya. Usaha menyelamatkan kucing-kucingnya membuat haru para relawan satwa. Suwarno, relawan yang sudah berulang kali berada di berbagai bencana seperti gunung Kelud dan gunung Agung ini pun berjanji untuk kembali lagi mengirim pakan untuk kucing-kucing tersebut.

Si ibu adalah orang pertama yang kembali ke rumahnya yang selamat setelah seharian mengungsi. Itu dilakukannya untuk memberi makan kucing-kucingnya. “Luar biasa sekali… ibu masih sempat memikirkan mengeluarkan kucing-kucing ini.”, ujar drh. Siti Aminah sembari mengecek kesehatan kucing-kucingnya. 4 kucing kecil pun diberi pakan basah sementara yang besar diberi pakan basah dan kering.

Hingga hari ini, masih sulit sekali mencari pakan kucing di Palu, untuk itu bantuan pakan kucing sangat dibutuhkan. Posko penanganan satwa terdampak gempa dan tsunami Palu berada di kantor BKSDA Sulawesi Tengah, jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu atau bisa hubungi tim Animals Warrior di 081328837434.

I LOST MY THREE-YEAR-OLD CHILD

Down to the beach which is the pride of Palu no longer gives happiness. The yellow bridge that has always been an icon and destination for visitors to Palu also leaves a grief line.

“How are you, Ma’am?” the animal volunteers greet a woman before starting their activities dealing with pets affected by the tsunami at Talise beach, Palu.
“I am fine” she answered.
“How about your family, Ma’am? Are they okay?”
“I lost my 3-year-old child”
“Do you bring cat food?” she asked again, while we were silent hearing the answer.
“Yes, Ma’am. There is it”
“There is nothing that these cats can eat anymore.”

Without waiting for her to speak again, the volunteers hugged her and she started crying. In her deep grief, she still gives love to cats who are tried hard looking for food. No more neighbors she knew. All were washed away by the tsunami. She went to the evacuation camp. Today, she is trying her luck waiting at her neighbor’s empty house, hoping a miracle to come and bring the news of her 3-year-old son.

Being an animal volunteer in disaster sites is not an easy thing. You need to be a good listener with high empathy if you want to go to the disaster site. Thanks to the Palu people. Even in difficult conditions, they are still caring for dogs and cats, sharing their love for animals without exception. (IND)

AKU KEHILANGAN ANAKKU YANG 3 TAHUN
Menyusuri pantai yang menjadi kebanggaan masyarakat Palu tak lagi memberikan kebahagiaan. Ikon jembatan kuning yang selalu menjadi tempat tujuan pengunjung kota Palu bahkan tempat berkumpulnya para penghobi mancing juga meninggalkan gurat kesedihan.

“Sehat bu?”, begitu sapa para relawan satwa sebelum memulai aktivitasnya menangani hewan peliharaan yang terdampak tsunami di pantai Talise, Palu.
“Sehat aku.”.
“Selamat semua, Bu?”.
“Anakku yang 3 tahun ngak ada.”, katanya lagi.
“Ada makanan kucing kalian bawa?’, tanya nya lagi, sementara kami terdiam mendengar jawabannya.
“Ada Bu.”.
“Kasian kucing-kucing ini tak ada yang bisa dimakannya lagi.”.

Tanpa menungu dia bicara lagi para relawan memeluknya, dan pecahlah tangisnya. Dalam dukanya yang dalam, dia masih memberi kasih pada kucing-kucing yang kebingungan mencari makanan. Tak ada lagi tetangga yang dikenalnya. Semua habis tersapu tsunami. Dia pun mengungsi, dan tadi mencoba peruntungan menunggu di rumah tetangganya yang kosong, mungkin ada keajaiban tentang kabar anaknya yang 3 tahun itu.

Menjadi relawan satwa pada bencana alam bukanlah hal yang mudah. Menjadi pendengar yang baik dengan empati yang tinggi adalah satu syarat jika kamu ingin terjun ke lokasi bencana. Terimakasih masyarakat Palu, dalam kondisi yang sulit pun, kepedulian pada anjing dan kucing tak luntur.

BACK TO PETOBO BECAUSE OF HER SMALL CAT

A mother with her third-grade elementary school child is putting in pieces of wood. There is a small cat who follows her into her yard. “Can we feed the cat, Ma’am?” said Ami while squatting and stroking the little cat. “Oh… you guys from cat lovers, right? Yes, you can. I haven’t feed him since I left him. I brought food from the evacuation camp but he didn’t want it.”

The little cat hid behind the mother. “Just put the food in the place to eat. That… there. ” Ami also started the conversation, asking how the mother was. Her family survived, but the furniture in her house was broken. They left the house and followed the other residents to the evacuation camp. The devastating earthquake at September 28 was very traumatic to them. At that time, she only had limited time to run away, so she only took her children and left the cat at the house.

When she arrived at the evacuation camp, she realized her beloved cat was left behind. Three days in evacuation made her even more uneasy. Finally, she came home and found her cat still on the porch of the house. She plans to bring her cat to the camp.

In the midst of the trauma of the refugees, not only this mother who returned to her home because worrying of her beloved cat. Your help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu will keep being distributed until the situation gets better. (IND)

KEMBALI KE PETOBO KARENA KUCING KECILNYA
Seorang ibu dengan anaknya yang kelas 3 SD sedang memasukkan potongan kayu. Ada kucing kecil yang mengikutinya bolak-balik masuk ke pekarangannya. “Boleh kasih makan kucing ya Bu…”, sapa Ami sambil jongkong dan mengelus kucing kecil. “O… kalian dari pecinta kucing ya? Kasih saja, sejak ku tinggal belum makan dia. Tadi kubawakan makanan dari posko, ngak mau dia.”.

Kucing kecil itu pun bersembunyi di balik si ibu. “Taruh saja di tempat makannya. Itu… di situ.”. Ami pun memulai perbincangan, dengan menanyakan kabar si Ibu. Mereka sekeluarga selamat, namun perabotan di rumahnya pecah semuanya. Mereka meninggalkan rumah dan mengikuti warga lain untuk ke posko. Gempa maha dahsyat 28 September itu pun menjadi trauma tersendiri. Saat itu tak terpikir olehnya untuk membawa apapun, kecuali anak-anaknya dan keluarga kecilnya.

Sesampai di Posko Pengungsian, baru dia tersadar, kucing kesayangan anaknya tertinggal. Tiga hari di pengungsian membuatnya semakin tidak tenang. Akhirnya dia pulang dan menemukan kucingnya masih di teras rumah. Dia pun berencana membawa kucingnya ke tempat pengungsian.

Di tengah trauma para pengungsi, tak cuman ibu dengan tiga anak ini yang kembali ke rumahnya karena terpikir nasib kucing kesayangan anaknya. Bantuan kamu lewat https://kitabisa.com/bantusatwapalu akan terus kami distribusikan hingga keadaan semakin membaik.

WHO IS COP AND WHAT IS ORANGUFRIENDS?

* If you watch Animal Planet, National Geographic or Discovery Channel, even though the contents are Indonesian nature and wildlife but how come it is occupied by foreigner? This is weird, why the wildlife of Indonesia is handled by foreigner? Where are Indonesian people?
* Then there is a kind of opinion that evolves in the communities that foreigner cares, and Indonesian doesn’t. And the perception that it is normal is also evolving.
* Departing from such reality, some Indonesian youths are determined to prove that we can do what foreigner does. Proving that Indonesian youths are capable to manage Indonesian wildlife and wild nature themselves. Then, they founded COP.

* Why orang-utans? Because Panda is identical to China and Elephants are identical to Thailand. Well then, we just take the orangutan. After all, this is the only great ape in Asia. Only in Indonesia and a few in Malaysia. And this is a bit ironic that Malaysia, which has fewer orangutans, is more popular as nature conservation destination to see orang-utans. Indonesia that has orang-utans but Malaysia that grabs billion of dollars from orangutan tourism. So, let’s grab that reputation!

* Another reason why orangutans is communication strategy. This is the entry point to something bigger, namely: Animal – People – Environment. If we use Snake Protection, it will be difficult because people will be afraid from the start, won’t they? And in fact, working in orangutan conservation is a strategic and intelligent step to protect other types of wildlife. Which also has direct impacts on the local community and its environment.

* Well, what about Orangufriends? COP realises that this is a considerable work that is not possible to be done by few people. Nature conservation should be a mass movement, become a part of Indonesia social responsibility and lifestyle. Because of that, COP formed a support group to become a member of Orangufriends.

* It is easy. Don’t have to take a hard training like nature-lovers club does. No punishments, no push-ups, etc. Why make it difficult to care? So, to become Orangufriends member you just have to fill the forms and pay contribution, also agree to obey values of conservationist, such as not hunting/poaching wild animals, not making pet of wild animals or sell them. After becoming member, it is also easy to participate. For those who doesn’t have much time, you can just ‘like, comment, and share’ on social media. We call them Cyber Campaigner. In the current era of New Media, their stregth becomes a decisive factor in winning or losing the opinion war against the perpetrators of crime and cruelty to animals. Those who have much time can also help in education and awareness activities directly, such as exhibitions, school visit, music events or festivals. Those who are dare and crazy enough are welcome to spend time being members of Rescue, Rehab, and Release team or Law Enforcement team.

*Orangufriends is also a great place for self-development for youth. Learn many things from each other from various regions and various countries. Opportunities to travel in various assignments. No more story of unemployed after graduating because of no life-skill and connections/networking.

* For those who are serious to learn deeper, COP also educates a new generation of wildlife protectors since 2011. Commonly called COP School. This is a training and indoctrination program designed specifically for young people who want to work in nature conservation world. Only 35 students a year, get a scholarship and certainly, there is an entry selection.

* If you are already a member of Orangufriends or have graduated from COP School, what activities will you do? Read again the explanation above hehehe. But for sure, this makes us different from other young people who can only take a selfie and write ‘My Trip My Adventure’ caption, It’s about real work as a member of style – funky – global team. (SAR)

SIAPA COP dan APA ITU ORANGUFRIENDS?
* Jika kalian menonton Animal Planet, National Geographic atau Discovery Channel, meskipun isi acaranya satwa liar dan alam Indonesia tapi kok isinya orang asing? Ini aneh, kenapa satwa liar dan alam liar di Indonesia tapi yang menanganinya kok orang – orang asing? Ke manakah anak – anak bangsa Indonesia?
* Lalu ada semacam opini yang berkembang di masyarakat bahwa orang bule itu peduli, kalau orang Indonesia tidak. Lalu berkembang pula persepsi bahwa itu memang sudah sewajarnya.
* Berangkat dari realitas semacam itu, beberapa anak bangsa Indonesia bertekad untuk membuktikan bahwa kita bisa. Membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mengelola satwa liar dan alam liar sendiri. Lalu mereka mendirikan COP.

* Mengapa orangutan? Karena mau pakai Panda sudah telanjur identik dengan China. Mau Gajah sudah telanjur identik dengan Thailand. Ya sudah, kita pakai Orangutan aja. Lagipula ini satu – satunya kera besar di Asia. Hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Lagipula, ini sedikit ironis sebenarnya. Malaysia yang punya sedikit orangutan malah lebih ngetop sebagai tujuan wisata konservasi alam untuk melihat orangutan daripada Indonesia. Indonesia yang punya orangutan tapi Malaysia yang panen milyaran dolar dari wisata orangutan. Jadi, mari kita rebut reputasi itu.

* Alasan lain kenapa orangutan adalah strategi komunikasi saja. Ini hanya entry point untuk sesuatu yang lebih besar, yakni: Animal – People – Enviroment. Kalau kita pakai perlindungan ular, akan sangat sulit karena orang sudah merasa takut duluan. Ya kan? Dan pada kenyataannya, kerja konservasi orangutan ini ternyata langkah strategis dan cerdas untuk melindungi jenis satwa liar lainnya. Yangmana jika kita telusuri juga berdampak langsung pada masyarakat setempat dan lingkungannya.

* Nah, bagaimana dengan Orangufriends? COP sadar bahwa ini adalah kerja besar yang tidak mungkin dilakukan oleh segelintir orang. Sudah seharusnya konservasi alam menjadi gerakan massa. Menjadi bagian dari tanggung sosial masyarakat Indonesia dan gaya hidup. Karena itu COP membentuk kelompok pendukung untuk menjadi anggota Orangufriends.

* Caranya mudah. Tidak harus mengikuti pendidikan yang keras seperti kelompok pecinta alam. Tidak ada hukuman tidak ada push up dll. Mau peduli aja kok susah. Jadi, untuk jadi anggota Orangufriends cukup dengan isi Fomulir anggota dan bayar iuran, serta sepakat untuk mentaati nilai – nilai yang patut bagi konservasionis, misalnya tidak berburu satwa liar, tidak memelihara atau jual beli. Setelah jadi anggota juga mudah untuk berpartisipasi. Yang tidak punya waktu cukup like, comment dan share di medsos. Kami mengebutnya dengan Cyber Campaigner. Di era New Media saat ini, kekuatan mereka menjadi faktor penentu kalah menangnya perang opini melawan pelaku kejahatan dan kekejaman terhadap satwa. Yang punya banyak waktu juga bisa membantu secara langsung dalam kegiatan pendidikan dan penyadaran seperti pameran, kunjungan ke sekolah, event – event musik atau festival. Yang gila dan nekat bisa menghabiskan waktu dengan jadi anggota tim Rescue Rehab Release atau anggota tim penegakan hukum.

* Orangufriends juga wahana yang bagus untuk mengembangkan diri bagi anak – anak muda. Belajar banyak dari yang lain dari berbagai daerah dan berbagai negara. Berkesempatan bepergian dalam berbagai penugasan. Gak ada lagi ceritanya lulus kuliah menganggur karena tidak punya life skill dan jaringan kerja / koneksi.

* Bagi kalian yang serius ingin belajar lebih dalam, COP juga mendidik generasi baru para pelindung satwa liar sejak tahun 2011. Biasa disebut COP School. Ini adalah program pelatihan dan indoktrinasi yang dirancang khusus bagi anak muda yang ingin berkarier di dunia konservasi alam. Hanya 35 orang pertahun, dapat beasiswa dan pastinya ada seleksi masuknya.

* Kalau sudah jadi anggota Orangufriends atau lulus COP School, lalu kegiatannya apa? Baca lagi penjelasan di atas hehehe. Tapi, yang pasti, ini membuat kita beda dengan anak muda lainnnya yang cuma bisa selfie dan bikin caption My Trip My Adventure. Ini tentang kerja nyata sebagai anggota tim yang gaya – gaul – global. (BAK)

BANTU SATWA GEMPA DI BKSDA SULTENG

Hari ini tim Animals Warrior yang terjun ke Palu datang ke kantor BKSDA Sulawesi Tengah. Daerah sekitar kantornya masih lumpuh karena gempa yang terjadi 28 September 2018 ini. Di kantor BKSDA terdapat 1 buaya, 1 elang, 2 kakatua molucencis, 2 kakatua jambul kuning, 5 nuri kepala hitam, 1 bayan dan 2 burung maleo. Satwa-satwa tersebut merupakan sitaan BKSDA Sulteng.

Sejak gempa terjadi, meraka yang di kandang tanpa makan dan minuman karena semua staf BKSDA Sulteng terdampak bencana ini. Pagi tadi, tim berkomunikasi singkat dengan penjaga dan menawarkan pemeliharaan sementara di sana. Tim pun memberikan pakan buah segar dan jangung yang kebetulan sekali sudah ada penjual buah yang berjualan. Tak lupa air minum untuk satwa-satwa tersebut. Ini merupakan kegiatan yang akan dilakukan selama tanggap bencana.

Centre for Orangutan Protection bersama Animals Indonesia menjadikan tempat di BKSDA Sulteng sebagai posko dan tinggal tim. Bagi kamu yang peduli satwa di Palu bisa mengirimkan bantuan berupa pakan satwa ke Jl. Prof M. Yamin No 19 Palu 94121 atau klik https://kitabisa.com/bantusatwapalu

HELP ANIMAL VICTIMS IN PALU

The city of Palu and several surrounding cities are totally paralysed by the earthquake and tsunami. The number of human victims has reached more than 800 people. Humanitarian assistance continues to come. Even so, is there anyone help pets and livestock victims?

As usual, Animals Indonesia with the support from COP are sending the Animals Warrior team to help displaced animals in disaster-affected areas such at Mount Merapi – Yogya, Mount Kelud Malang – Kediri, Mount Sinabung – North Sumatra, Mount Agung – Bali, and others. This team will rescue, take care, and reunite animals with their owners, including taking care of animals that have already dead.

The help from all of animal lovers is pretty much needed so the team can work well and help animals as many as possible. You can help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu or directly to Centre for Orangutan Protection account no. 0137088800 (BNI NI DJA) by adding 9 at the final nominal, we can immediately confirm it is a donation to Palu animals. (SAR)

BANTU SATWA PALU
Kota Palu dan beberapa kota sekitarnya lumpuh total karena dihentak gempa bumi dan tsunami. Jumlah korban manusia sudah mencapai 800an lebih. Bantuan kemanusian terus mengalir. Namun demikian, adakah yang membantu korban satwa kesayangan dan ternak? 

Animals Indonesia dengan dukungan dari COP seperti biasa menerjunkan tim Animals Warrior untuk menolong satwa yang telantar di kawasan – kawasan terdampak bencana seperti di gunung Merapi-Yogya, gunung Kelud Malang – Kediri, gunung Sinabung – Sumatra Utara, gunung Agung – Bali dan lain – lain. Tim ini akan menyelamatkan, merawat dan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Termasuk mengurus satwa yang sudah telanjur tewas. 

Mohon bantuan anda semua para pecinta binatang agar tim ini dapat bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa. Melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu atau langsung ke nomer rekening Centre for Orangutan Protection 0137088800 (BNI NI DJA) dengan menambahkan nominal akhir 9 agar kami segera dapat mengkonfirmasi itu merupakan sumbangan untuk satwa Palu.

BEHIND THE CAGE OF THE ZOO

Indonesia has a lot of zoo located in various places. In the city center or in suburb area. The capacity also varies, some are small and some are hectares wide. The animals collection also varies, some are only collected one type of animals, some are collected animals from all around the world. Are zoos in Indonesia already decent enough for its animal welfare?
Various problems become issues regarding the lifes behind the zoo cage. From the space of cage, till the number of animals live in the cage. Sometimes, one orangutan can occupies 2×2 m cage. Or one 5×5 m bird cage occupied dozens of birds. Are those feasible for animals life in the cage?

Besides cage issues, there are numbers of animals that live in one zoo area that are not well treated. The reason is the lack of human resource to take care all of them. One zoo keeper can take care up to three or more animal cages. this is why some animals don’t get noticed properly. From the cleanliness of the cage, unhealthy food, to the health of the animals itself. At the end, animals in zoo die because of lack of attention from the zoo management.

In addition to above problems, the lack of awareness of zoo visitor is one of the factors why zoo animals are suffering. We often unconciously feed the animals, even though there is already written not to feed animals in front of the cage. Because of pity, we give them a piece of bread to the orangutan who is reaching out his hand.  Do you know that bread is not orangutan’s food?

Not without reason does the zoo wrote the prohibition to feed the animals. The animals already have their own food, the right food to be eaten. So that their health can be maintained. (SAR)

DI BALIK KANDANG KEBUN BINATANG
Indonesia memiliki banyak kebun binatang. Tersebar di berbagai tempat. Ada yang di pusat kota, atau di daerah-daerah kecil. Luasnya pun beragam, ada yang berkapasitas kecil dan luas berhektar-hektar. Koleksi satwanya pun bermacam-macam, ada yang hanya mengpleksi satu jenis atau koleksi dari berbagai negara. Apakah kebun binatang di Indonesia sudah layak untuk kehidupan satwanya?

Berbagai masalah menjadi persoalan mengenai kehidupan satwa dibalik jeruji kebun binatang. Mulai dari luas kandang, hingga jumlah satwa yang menempati satu kandang tersebut. Terkadang, satu individu orangutan hanya menempati kandang berukuran 2×2 meter saja. Atau satu kandang burung yang berukuran 5×5 meter ditempati belasan burung. Apakah itu layak untuk kehidupan satwa di dalam kandang?

Selain masalah kandang, banyaknya jumlah hewan dalam satu area kebun binatang tidak terurus dengan baik. Alasannya adalah kurangnya SDM untuk mengurus keseluruhan satwa tersebut. Satu orang perawat satwa kebun binatang dapat mengurus 3 atau lebih kandang satwa. Ini yang menyebabkan beberapa satwa tidak diperhatikan dengan baik. Misalnya kebersihan kandang, pakan yang tidak sehat, hingga kesehatan satwa itu sendiri. Pada akhirnya, satwa di kebun binatang mati karena kurangnya perhatian dari pihak manajemen sendiri.

Selain masalah diatas, kurangnya kesadaran kita sebagai pengunjung kebun binatang menjadi faktor tersiksanya satwa di kebun binatang. Kita secara tak sadar sering memberi makanan kepada satwa disana. Padahal di depan kandang sudah tertulis larangan memberi makan satwa. Alih-alih karena kasihan, kita pun memberi sepotong roti kepada orangutan yang sedang menjulurkan tangan. Tau kah kita, bahwa roti bukanlah makanan dari orangutan?.

Bukan tanpa alasan pihak kebun binatang menuliskan larangan memberi makan kepada satwa. Para satwa tersebut sudah memiliki makanan tersendiri, makanan yang tepat untuk dikonsumsi. Tujuannya, agar nutrisi mereka tetap terjaga. (RYN)

INDONESIA, WHEN?

Circus. An entertaining performance. Amusing. Making laugh. Inviting admiration. Have you ever asked how those animals can do such amazing attractions? How can an elephant stands on a beam with one leg? How can a lion pass through the circle of fire without getting hurt? How can an orangutan rides a bike? Not many do knows how a handler trains those animals to do such kind of circus attractions. Nobody know how a lion can pass through the circle of fire. We don’t know the process behind it.

Basically, a lion can never pass through a circle of fire in the forest. So does orangutan that can never ride a bike in the jungle. So, how do they do it? It’s because they are trained by the handler. These animals are trained to do what the handler wants them to do. Ride a bike, pass through a fire circle, sit on a beam with one leg, till perform a magic show. How does the handler train them?

Those animals are made hungry and scared. Believe it or not,, they made the animals hungry and scared so that they will do what the circus handler commands. The circus animals will not be fed before they carry out the orders from handler. If in a starving condition the animal still doesn’t want to do the order, they will make them afraid. Feared by being beaten by blunt object, kicked, pierced by sharp object, and so on. So in the end, the animal does the handler commands with hunger and fear. Very cruel.

Therefore, when we watch the circus attraction, we are watching the animals starve and fear. The animals do the attraction with pressure. With hunger and fear. And we who watch have supported all those cruel actions. Support the torture given by the handlers to these animals.

Several countries have issued regulation to ban circus attractions. Because they felt it is a cruel attraction to animals. When is Indonesia? Do we have the heart to watch the cruelty committed to animals? Do we have the heart to laugh when they feel the hunger and the fear? (SAR)

INDONESIA KAPAN?
Sirkus. Tontonan yang menyenangkan. Menghibur. Membuat ketawa. Mengundang decak kagum. Pernahkah kita bertanya bagaimana hewan-hewan tersebut dapat melakukan atraksi sehebat itu?. Bagaimana seekor gajah dapat berdiri di atas sebuah balok dengan satu kaki?. Bagaimana seekor singa dapat melompat di lingkaran api dapat terluka sedikit pun? Bagaimana Orangutan dapat mengendarai sepeda dengan lincah?. Tak banyak yang tau apa yang terjadi di belakangnya. Tak ada yang tau bagaimana seekor pawang melatih hewan-hewan tersebut untuk melakukan aktraksi sirkus. Tak ada yang tau bagaimana seekor singa dapat melewati lingkaran api. Kita tak ada yang tau bagaimana proses di balik semua itu.

Pada dasarnya, seekor singa tidak akan pernah melewati lingkaran api di hutan. Begitu juga orangutan, dia tidak akan pernah mengendarai sepeda di hutan. Jadi, bagaimana mereka dapat melakukannya? Dilatih oleh pawang. Para hewan tersebut dilatih agar dapat melakukan apa yang diinginkan oleh para pawang tersebut. Mengendarai sepeda, melewati lingkaran api, duduk di atas balok dengan satu kaki, hingga melakukan atraksi sulap. Bagaimana cara pawang tersebut melatih hewan-hewan sirkus?

Para hewan tersebut dibuat lapar dan takut. Percaya atau tidak, hewan-hewan sirkus tersebut dibuat lapar dan takut agar dapat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh para pawang sirkus. Para hewan sirkus tidak akan diberi makan sebelum mereka melakukan perintah dari pawang. Jika dalam kondisi lapar hewan tersebut masih tidak mau melakukan perintah dari pawang, maka hewan tersebut akan dibuat takut. Dibuat takut dengan cara dipukuli dengan benda tumpul, ditendang, ditusuk dengan benda tajam, dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya para hewan tersebut melakukan perintah pawang dengan rasa lapar dan takut. Sangat kejam.

Jadi ketika kita menonton aktraksi sirkus, maka kita sedang menonton para hewan tersebut kelaparan dan ketakutan. Para hewan tersebut melakukan atraksi dengan penuh tekanan. Dengan rasa lapar dan takut. Dan kita yang menonton telah mendukung semua tindakan tersebut. Mendukung siksaan yang diberikan para pawang kepada hewan-hewan tersebut.

Beberapa negara telah mengeluarkan peraturan untuk pelarangan atraksi sirkus. Karena mereka merasa itu adalah atraksi kekejaman untuk hewan. Indonesia kapan?. Apakah kita tega menonton kekejaman yang dilakukan untuk hewan?. Apakah kita tega tertawa diatas rasa lapar dan takut hewan-hewan tersebut? (RYN)

ORANGUTANS ARE NOT TOYS

In 2003, Safari World, Bangkok, Thailand held a “Boxing Show” in their zoo. Boxing show is a boxing show using orangutan as the object. Besides boxing show, Safari World, Bangkok, Thailand, there are several zoos in Indonesia that still performs entertainment involving orangutan. The performance is held as a way to attract visitors.

Orangutan is one of the great apes in the world and only spread in Sumatera, Kalimantan, and some parts of Malaysia. Other great apes are found in Africa (Simpanse, Gorilla, and Bonobo). Futhermore, orangutan has DNA similarity with humans as great as 97%. Orangutan is also classified as critically endangered and protected animals by Indonesian government (IUCN). It is a pity to treat orangutan as an animal for human entertainment.

Departing from that matters, COP initiated an #OrangutanBukanMainan or #OrangutansAreNotToys campaign. COP thinks that orangutans should not be treated as entertainment objects, but as animals we should protect. Remembering its status is critically endangered and protected by law.

Some of developed countries has made a regulation to ban animals shows (circus), whether at zoos or other places. The aim is to protect these animals from being exploitation objects by various parties. The Indonesian government has not yet established any regulations to ban animal shows (circus). This is very unfortunate, we still lose at animal welfare with other countries. We still use animals as entertainment objects to gain money for certain parties benefit. Without knowing, indirectly, we who watch the show have supported animal exploitation carried out by various parties.

As a good citizen, let’s stop watching animals show and support the government to immediately make regulations that prohibit animal shows. Indeed, #OrangutansAreNotToys let them free living peacefully in the forest. Not in cages that are used for many people’s entertainment.(SAR)

ORANGUTAN BUKAN MAINAN
Pada tahun 2003, Safari World, Bangkok, Thailand pernah menggelar “Boxing Show” di kebun binatang mereka. Boxing Show adalah pertunjukan olahraga tinju yang menggunakan orangutan sebagai obyeknya. Selain Boxing Show, Safari World, Bangkok Thailand juga mempertontonkan pertunjukan lainnya yang melibatkan orangutan. Tidak hanya Safari World, Bangkok, Thailand, di berbagai kebun binatang Indonesia, masih terdapat pertunjukan hiburan yang melibatkan orangutan. Pertunjukan itu digadang sebagai cara untuk menggaet pengunjung untuk datang ke Kebun Binatang tersebut.

Orangutan adalah salah satu kera besar yang terdapat di dunia dan hanya tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Malaysia. Kera besar lainnya terdapat di Afrika (Simpanse, Gorila, dan Bonobo). Selain itu, orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 97%. Orangutan juga diklasifikasikan sebagai hewan yang dilindungi pemerintah Indonesia dan terancam punah (IUCN). Sungguh sangat disayangkan, jika kita memperlakukan orangutan sebagai hewan untuk hiburan.

Berangkat dari hal tersebut, COP menggagas kampanye #OrangutanBukanMainan. COP merasa orangutan seharusnya tidak diperlakukan sebagai obyek pertunjukan, melainkan hewan yang seharusnya kita lindungi. Mengingat statusnya sudah terancam punah dan dilindungi oleh Undang-Undang.

Beberapa negara maju telah membuat peraturan untuk melarang pertunjukan satwa (sirkus), baik di kebun binatang atau tempat-tempat lainnya. Tujuannya adalah agar satwa-satwa tersebut tidak menjadi obyek eksploitasi oleh berbagai pihak. Pemerintah Indonesia hingga sekarang belum menetapkan peraturan untuk pelarangan penyelenggaraan pertunjukan satwa (sirkus). Hal ini sangat disayangkan, kita masih kalah dalam perlakukan yang baik terhadap hewan dengan negara lain. Kita masih menjadikan satwa untuk hiburan yang menarik pundi-pundi rupiah untuk keuntungan pihak tertentu. Tanpa kita sadari, secara tidak langsung, kita yang menonton pertunjukan tersebut telah mendukung eksploitasi satwa yang dilakukan oleh berbagai pihak.

Sebagai warga negara yang baik, mari kita berhenti menonton pertunjukan satwa dan mendukung pemerintah agar segera membuat peraturan yang melarang penyelenggaraan pertunjunkan satwa. Sejatinya #OrangutanBukanMainan, biarkan mereka bisa hidup bebas dengan tenang di hutan. Bukan di kandang yang menjadi hiburan bagi orang-orang. (RYN)

Page 1 of 1312345...10...Last »