APE WARRIOR

KATA SAKSI PADA KASUS PERDAGANGAN SANTWA BANTUL

Masih ingat tertangkap tangannya pedagang satwa liar di Potorono, Bantul, Yogyakarta pada 5 Agustus 2017 yang lalu? Pada saat itu tim berhasil menyelamatkan 1 binturong, 1 landak, 1 trenggiling, 1 alap-alap sapi, 5 kucing hutan, 2 jelarang dan 2 garangan jawa. Kamis, 16 November 2017 sidang kedua kasus kejahatan ini kembali digelar di Pengadilan Negeri Bantul.

Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan saksi tangkap dari BKSDA Yogya dan Gakum. Selain itu, saksi ahli juga menyampaikan kesaksiannya. Terdakwa dengan inisial W tidak bisa berbicara banyak ketika para saksi menyampaikan pendapat di pengadilan.

Pada sidang yang sempat diundur menjadi pukul 13.30 WIB, Hakim dan Jaksa lebih banyak menanyakan seputar satwa dan regulasinya termasuk juga kondisi di lapangan saat penangkapan. Sedangkan saksi ahli hakim dan jaksa menanyakan jenis satwa yang dilindungi serta jenis apa saja yang masuk dalam barang bukti terdakwa W. Sidang yang berjalan selama 20 menit akan dilanjutkan lagi pada minggu depan dengan agenda saksi yang dapat meringankan.

“Kami inginkan yang terbaik dengan hukuman yang setimpal atas perbuatan terdakwa. Putusan yang ada akan menjadi pelajaran buat masyarakat, bahwa kejahatan perdagangan satwa liar yang dilindungi bukan main-main. Hukum di Indonesia harus ditegakkan.”, tegas Daniek Hendarto, manajer aksi COP. (NIK)

TIM BENCANA GUNUNG AGUNG PULANG

Sejak 2010, Centre for Orangutan Protection bekerja membantu satwa yang terdampak bencana alam. Tahun itu adalah saat COP pertama kali turun menyelamatkan hewan ternak dan peliharaan yang ditinggal pemiliknya mengunggsi karena bencana alam. Tahun ini pula lahir APE Warrior yang didukung Orangufriends (kelompok pendukung COP) di Yogyakarta saat gunung Merapi meletus dengan hebatnya. Menghadapi bencana tak bisa hanya sendiri. Bekerja sama adalah kunci utama keberhasilan bangkit dari bencana.

Selama satu bulan secara bergantian relawan COP membantu anjing, kucing maupun sapi yang berada di zona berbahaya gunung Agung, Bali. Sejak status gunung berapi ini menjadi awas pada 22 September yang lalu, tim penolong satwa ini bergerak cepat ke desa-desa yang ditinggal penduduk mengungsi. Tim ini bergerak dengan penuh perhitungan. Koordinasi dengan pemerintahan setempat dan Polsek suatu keharusan untuk menjaga keselamatan tim. Tentu saja koordinasi lintas organisasi untuk menghindari tumpang tindih bantuan harus diterapkan.

COP, BARC dan JAAN saling bahu membahu menyalurkan bantuan pakan satwa. “Luar biasa bantuan yang mengalir. Ada yang berbentuk pakan anjing kucing, ada juga dalam bentuk uang. Yang membantu kebutuhan tim juga ada. Di sinilah manajemen bencana berlaku. Uniknya, manajemen ini sangat dinamis dan cepat.”, jelas Hery Susanto, kapten APE Warrior COP.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 29 Oktober 2017 mengumumkan penurunan status gunung agung dari level IV (Awas) menjadi level III (Siaga). “Dengan status gunung Agung menjadi Siaga, COP menarik timnya dari Bali. Tapi kami tetap memantau situasi dan kondisi, agar dapat bergerak cepat jika dibutuhkan bantuan lagi.”, ujar Hery lagi.

Terimakasih semua pihak yang bekerja bersama dalam bencana gunung Agung ini. “Para donatur di kitabisa.com/anjingkucingbali kami berkemas untuk pulang kembali ke Yogya. Para pengungsi sudah mulai berdatangan kembali ke desa. Anjing dan kucing kembali bertemu dengan pemiliknya.”, kata Hery Susanto. Terimakasih International Fund for Animal Welfare (IFAW), BARC, Animals Indonesia, JAAN, Polsek setempat, BNPB dan penduduk desa yang mempercayakan kami membantu satwa bencana gunung Agung. Kami pulang.

SENJATA API UNTUK KEPENTINGAN OLAHRAGA

Lagi, penggunaan senapan disalah gunakan untuk menembak satwa. Dan parahnya untuk menembak satwa liar yang statusnya dilindungi Undang-Undang. Namun yang membuat situasi menjadi lebih parah dan memalukan, penembakan burung yang dilindungi ini dilakukan oleh oknum kepolisian dan oknum Perbakin.

Ketua Perbakin yang sekaligus Kapolres Tanah Datar seharusnya menjadi penegak hukum malah melakukan tindakan menyalahi hukum dan melanggar Peraturan Kapolri yang merupakan institusinya sendiri. Kapolri mengeluarkan peraturan No. 08 pada tahun 2012 tentang “Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga”. Tidak mungkin bapak Kapolres Tanah Datar AKBP Bayuaji Yudha belum membaca peraturan ini atau terlupa. Wah perintah Kapolri ditentang dan dilanggar oleh seorang Kapolres.

Dalam PerKapolri nomor 08 tahun 2012 dikatakan bahwa, ”Penggunaan senapan angin dengan kaliber 4,5 hanya untuk olahraga di lapangan khusus menembak dengan target.”. Maksudnya target bukan satwa liar tapi kertas sasaran. Sedangkan untuk berburu sudah ada standar kaliber tersendiri yang besar. Sekali lagi agak susah dinalar jika seorang Kapolres sekaligus ketua Perbakin kabupaten Tanah Datar tidak paham atau belum tahu.

Selain itu sudah sepatutnya, sebelum angkat senjata dan melakukan tindakan koboi terlebih dahulu mengetahui targetnya, apakah layak ditembak atau tidak. Dilindungi atau tidak. Toh institusi Kepolisian adalah ujung tombak tegaknya aturan, perundangan dan hukum. Sudah sangat basi jika mengatakan tidak tahu posisi BKSDA dan bagaimana koordinasinya. (DAN)

SIDANG PERDANA PERDAGANGAN 5 ELANG JAWA

Pertengahan bulan Juli 2017, lima belas ekor elang berhasil diselamatkan tim gabungan APE Warrior COP, Animals Indonesia, Gakkum KLHK Jabalnusa dan Polres Malang. Dari kelimabelas elang terdapat lima individu elang jawa yang sering disamakan dengan lambang negara Republik Indonesia yaitu garuda. “Ini adalah tangkapan terbesar untuk predator tingkat tinggi.”, ujar Hery Susanto saat itu. Barang bukti beserta dua orang tersangka berhasil diamankan untuk selanjutnya mempertanggungjawabkan tindakannya.

12 Oktober 2017, kedua pelaku menjalani sidang pertamanya di Pengadilan Negeri Malang, Kepanjen, Jawa Timur. Kedua terdakwa yang bertempat tinggal pada satu perumahan di Pakis, Malang ini secara bergantian menjalani sidang dengan dampingan tiga penasihat hukum.

“Hukuman maksimal lima tahun kurungan penjara dan denda seratus juta rupiah untuk pelanggar UU No. 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Seberat apakah vonis yang akan diberikan hakim? Kita tunggu!”, ujar Hery Susanto, koordinator Anti Wildlife Crime COP.

TANGIS TANPA MASA DEPAN ELANG

Jujur, kondisi otak dan hati saya dan teman-teman yang bergerak diurusan satwa liar saat sekarang sudah terbiasa dengan darah, luka penuh belatung, peluru di dalam mata, patah tulang dan mayat satwa karena ulah manusia. Menjiikkan, bikin muntah dan pusing. Dan air mata kami sudah habis untuk itu. Kebal.

Malam itu, setelah perjalanan panjang kurang lebih 28 jam dari Malang, Jawa Timur menuju Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) di Garut, Jawa Barat. Perjalanan sangat padat karena hari itu adalah hari terakhir libur sekolah. Sangat melelahkan. Bahkan 5 jam sebelum sampai lokasi, saya sudah tidak mau melihat keluar jendela mobil karena sudah pusing dengan perjalanan panjang ini. Elang yang di dalam kotak angkut juga sudah sangat muak dan mungkin sudah berdoa, “Matikan aku Tuhan! Sekarang!”.

Tim APE Warrior Centre for Orangutan Protection sehari sebelumnya bersama dengan Balai Gakkum KLHK Jawa Timur melakukan operasi tangkap tangan dua orang pedagang elang terkenal dan sangat susah dilacak. Operasi dengan barang bukti semuanya elang berjumlah 15 ekor dengan berbagai jenis elang. Elang tetap elang, apapun jenisnya tetap predator yang dilindungi. Karena semua jenis elang dilindungi Undang-Undang.

dari 15 elang saat itu ada 3 ekor elang yang masih sangat bayi. Saya kira saat itu mungkin sudah lebih 1 bulan umurnya. Ternyata kata kang Zaini dan drg. Dian dari PKEK, elang itu baru berusia 1-2 minggu. Bayangkan bayi elang yang baru menetas sudah diambil dari sarang pemburu hanya untuk duit. Mungkin dia sudah melakukan breeding? Ahhrrrggg… belum ada pemilik elang yang mengaku penyayang satwa yang berani membuktikan bahwa dia sudah berhasil menetaskan telur secara ilmiah. Kenapa pemburu tega melakukan itu? Ini semua hanya karena uang. Ada permintaan dari orang yang mengaku penyayang binatang. Teori ekonomi berlaku. Dipelihara dalam kurungan atau diikat dengan tenggeran besi yang berat.

Malam itu, satu per satu kotak berisi elang kami buka bersama dengan manajer PKEK, kang Zaini dan drh. Dian. Satu per satu pula kami periksa dari yang paling besar hingga bayi-bayi elang. Semua orang di ruangan hebing. Seperti terhipnotis. Bagi dua orang ini, melihat bayi elang adalah jalan yang sangat panjang, panjang dan panjang sekali dengan akhir yang belum jelas juga apakah bisa bertahan hidup, apakah bisa direhabilitasi dan apakah bisa dilepas lagi. Rehabilitasi adalah proses yang panjang.

Lelah, muak dan hilangnya semangat saya kembali muncul kala melihat sepersekian detik, drh. Dian terdiam, kemudian berpegangan di tembok dan menyeka air matanya yang keluar. Buat saya, itu adalah tangis yang menyesakkan. Tangis sedihnya karena harus menerima lagi, lagi dan lagi elang dengan kondisi sangat bayi dari dunia perdagangan ilegal. Saya bersemangat karena masih ada petarung di garis depan mengurus elang dengan ati. Tangis itu keluar murni dari hati.

Semua terjadi hanya karena ulah orang yang berduit… ingin gagahpgagahan memiliki elang. Gengsi akan naik jika punya elang Jawa yang sudah hampir punah. Semakin diperparah dengan beredarnya foto selebriti dengan elang. Ti kreatif yang mempunyai ide itu pasti punya sejuta alasan saat ini. Tapi mohon sekali saja menghormati perjuangan para orang-orang yang bergerak di garis depan menyelamatkan satwa liar. Sekali saja! Jangan pakai otak tapi pakai hati. (DAN)

ORANGUTAN BUKAN SATWA PELIHARAAN

Dia boleh ganteng… lucu… seperti selayaknya bayi. Setiap orang yang melihatnya ingin memeluknya, membelainya dan mungkin mencubitnya karena gemas. Keinginan itu menjadi lebih lagi dengan memeliharanya dan memilikinya karena kasihan, jatuh cinta atau status sosial. Tapi itu melanggar hukum! Orangutan dilindungi Undang-undang. UU No 5 Tahun 1990 tepatnya.

Namanya Aloi. Usianya tak lebih dari 2 tahun. Jika yang selama ini merawatnya sudah 6 bulan, itu berarti saat dia ditemukan di tengah kebun, Aloi baru berusia 18 bulan. Apa yang bisa dilakukan bayi manusia saat berusia seperti itu? Sama halnya bayi orangutan, hingga ia berusia 7 tahun, ia akan terus berada dalam asuhan induknya. Tak pernah jauh dari induknya, karena ia sangat tergantung induknya.

Aloi harus berpisah dengan induknya. Hidup bersama manusia yang tak dimengertinya. Memakan makanan pabrik seperti biskuit, buah-buahan dan nasi? Aloi makan makanan manusia. Menjadi manusia. Dianggap manusia.

Aloi adalah orangutan. Orangutan termasuk satwa yang dilindungi. Pada pasal 21 ayat 2 Setiap orang dilarang untuk: (a) menangkap, melukai. membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Keseriusan untuk melindungi orangutan pun semakin meningkat. Naiknya status konservasi orangutan borneo dari terancam punah menjadi kritis oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Bagaimana kenyataannya di lapangan?

Jangan pelihara orangutan! Jangan menjual maupun membeli orangutan! Biarkan orangutan hidup di habitatnya, menjalankan fungsinya di hutan.

APE WARRIOR UNTUK SATWA GUNUNG AGUNG

Gunung tertinggi di pulau Bali ini dinyatakan berstatus Waspada pada 14 Juli 2017 yang lalu. Ini berarti berada di level II untuk gunung berapi yang aktif. Radius 3 kilometer dari kawah gunung pun menjadi steril, tidak boleh ada aktivitas pada radius tersebut.

Sejak itu pula, intensitas kegempaan menjadi lebih sering. Dan pada Senin, 18 September, Gunung Agung yang terletak di kabupaten Karangasem, Bali ditetapkan berstatus Siaga. Penduduk sekitar gunung mulai mengungsi secara mandiri.

Terhitung Jumat, 22 September 2017 pukul 20.30 WITA, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementrian ESDM mengumumkan kenaikan status gunung Agung ke level IV yaitu menjadi Awas. Radius larangan untuk tidak beraktivitasi di 9 kilometer hingga wilayah sektoral 12 kilometer pun dikeluarkan.

Keesokan paginya, Centre for Orangutan Protection (COP), Animals Indonesia, JAAN dan Bali Dong Adoption Rehabilitation Centre (BARC) langsung turun ke lapangan dan memberi pertolongan pada satwa-satwa yang membutuhkan. Berkoordinasi dengan pihak terkait pun dilakukan agar bantuan lebih tepat sasaran.

APE Warrior dengan pengalamannya menangani bencana gunung berapi pun meluncur ke pulau dewata ini bersama satu relawan. Peralatan dan perlengkapan pun memenuhi tim legendaris ini. Semoga sampai ditujuan dan segera bisa membantu satwa yang terdampak bencana gunung Agung.

SELEKSI DOKTER HEWAN COP BORNEO

Selamat ya untuk dua orang pelamar yang lolos seleksi dokter hewan untuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo adalah pusat rehabilitasi satu-satunya yang didirikan oleh putra-putri Indonesia. Kedua dokter hewan yang kebetulan perempuan ini akan mengikuti tahap seleksi selanjutnya dengan terjun langsung di lapangan.

Menjadi tim APE Defender yang mengelola pusat rehabilitasi orangutan bukanlah hal yang sulit namun bukan pula mudah. Setiap anggota tim harus punya kemampuan untuk bekerjasama. Jadi kemampuan akademis saja tidak cukup untuk bisa berkarir di dunia konservasi.

Dalam seleksi kali ini, COP juga mengajak beberapa orangufriends yang berpengalaman di bidangnya. Lewat permainan dan tes terselubung, karakter dan kemampuan dinilai. Semoga orangutan-orangutan di COP Borneo mendapatkan dokter hewan terbaiknya yang mengantarkan mereka lepas ke alam liar nantinya.

5 JAVAN HAWK-EAGLE RESCUED FROM TRADERS

Joint raid operation between Gakkum KLHK Jabalnusa, Malang Police, and Animals Indonesia on July 14th 2017 in PakisJajar, East Java, successfully rescued 15 wild animal individuals. Once the rescued animals arrived at Pusat Konservasi Elang Kamojang in Garut, the number was corrected – there were 5 Javan Hawk-Eagle instead of 3 as initially reported. This was quite shocking, since Javan Hawk-Eagle, the symbol of Indonesia (or better known as ‘Garuda’), is extremely hard to find. On 1992, Javan Hawk-Eagle or Nisaetus bartelsi was named as the symbol as endangered wild animal in Indonesia. Even IUCN (world conservation organization) enlisted Javan Hawk-Eagle as Endangered.

“Javan Hawk-Eagle is endemic in Java Island, it is extremely rare and endangered. Hunting and trafficking are the most serious threat, after losing their habitat. Last July’s operation was the biggest catch in hawk trafficking.” stated Daniek Hendarto, action manager of COP. The rescued animals were consist of 5 Javan Hawk-Eagle, 3 Black Hawk, 4 Changeable Hawk-Eagle, 1 Black-winged kite Hawk, and 2 baby hawks that too young to identify. “This is a serious crime. Justice will come for the endangered wildlife traders.” stated Daniek.

All of the individuals arrived in Kamojang, Garut after having a 24 hour-long road trip. Based on the suspect’s information, these birds were captured in West Java. After thorough medical examination, all birds are in good condition and ready to be released.

“Do not buy wild animals! Do not sell wild animals! Or you will be dealing with APE Warrior!”. (Zahra_Orangufriends)

5 ELANG JAWA DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Operasi penggerebekkan bersama Gakkum KLHK Jabalnusa, Polres Malang dan Animals Indonesia pada Jumat, 14 Juli 2017 di desa Pakisjajar, kecamatan Pakis, kabupaten Malang, Jawa Timur berhasil menyelamatkan 17 individu satwa liar. Dari ketujuh belas satwa tersebut, setelah tiba di Pusat Konservasi Elang Kamojang di Garut, Jawa Barat mengalami koreksi. 15 individu elang yang dimaksud adalah 5 individu elang jawa bukan 3 seperti yang diberitakan sebelumnya. Ini cukup mengejutkan, elang jawa yang merupakan lambang negara Republik Indonesia ini atau yang sering disebut garuda ini adalah elang yang paling sulit ditemukan. Pada tahun 1992, elang jawa atau Nisaetus bartelsi ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. Bahkan organisasi koservasi dunia IUCN memasukkan elang jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam punah).

“Elang Jawa adalah satwa endemik pulau Jawa yang sangat langka dan terancam. Perburuan dan perdagangan menjadi ancaman serius selain kehilangan habitat. Operasi pertengahan Juli kemaren merupakan tangkapan terbesar untuk perdagangan elang.”, ujar Daniek Hendarto, manajer aksi Centre for Orangutan Protection. Ada 5 elang jawa, 3 elang hitam, 4 elang brontok, 1 elang alap tikus dan 2 individu elang yang unidentified karena masih terlalu bayi (kurang dari 2 minggu). “Ini adalah kejahatan serius. Putusan hukum akan menanti dari dua pedagang yang lakukan jual beli satwa dilindungi ini.”, tegas Daniek.

Kelimabelas elang tiba di Kamojang, Garut setelah melalui perjalan darat selama 24 jam. Dari tersangka di dapat infoemasi, tersangka memperoleh elang dari daerah Jawa Barat. Setelah dilakukan pemeriksaan medis secara umum, semua elang dalam keadaan baik dan berpotensi untuk dilepasliarkan, dalam artian tidak cacat.

“Jangan beli satwa liar! Jangan jual satwa liar! Atau kamu berhadapan dengan APE Warrior!”.

THREE GARUDA RESCUED FROM TRADER

Garuda which is the symbol of the Republic of Indonesia is observed more closely resemble the Java Eagle (Javanese Hawk-Eagle).This eagle had a characteristic appearance of black crest towering up that emerge when it reach the age of mature adult. Javanese Hawk-Eagles include in to the Government Regulation No.7 of 1999 for Protected Animals. Any action of capturing, hunting, sale and purchase, and ownership of any reason (such as falconry, Javanese Hawk-Eagle) can be sentenced to a maximum imprisonment of 5 years. This punishment is still relatively mild.

The Javanese Hawk-Eagle is a monogamous animal, i.e; during it’s life, it has only one partner. Threats that usually arise are, eagle eggs are preyed by other animals or deliberately taken by humans. When it grows, eagles are a high-level predators, and are the top consumer in animal kingdom. The difficulty in reproducing and the important role of the eagle makes trafficker punishment and eagle ownership too light.

Friday, July 14th, 2017 Gakkum KLHK together with Polres Malang. Animals Indonesia and COP managed to rescue 3 Javanese juvenile eagles from two suspects of wildlife traders. The two suspects in this one residence area, know each other.

“Concerned and angry . How they (the suspects) do not care about the existence of Javanese eagles in nature. These traders have been operating long enough and we have observed them. This is the first time with a considerable evidence. Even the biggest we’ve ever dealt with.”, said Hery Susanto, coordinator of Anti Wildlife Crime from the Center for Orangutan Protection. (Dhea_Orangufriends)

TIGA BURUNG GARUDA DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Burung Garuda yang merupakan lambang negara Republik Indonesia jika diamati lebih teliti lagi akan menyerupai Elang Jawa (Javan Hawk-Eagle). Ciri khas yang muncul saat mulai dewasa dari burung elang ini adalah munculnya jambul menjulang ke atas berwarna hitam. Elang Jawa termasuk satwa yang dilindungi PP No 7 tahun 1999. Setiap tindakan penangkapan, perburuan, jual beli dan kepemilikan atas alasan apapun (seperti falconry, elang jawa) dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 5 tahun. Hukuman ini pun masih tergolong ringan.

Elang Jawa termasuk hewan monogami, yakni selama hidupnya, dia hanya memiliki satu pasangan. Ancaman yang biasanya muncul adalah, telur-telur elang tersebut dimangsa oleh hewan lain atau sengaja diambil manusia. Saat tumbuh besar, elang merupakan predator tingkat tinggi, dan merupakan hewan konsumen puncak. Sulitnya bereproduksi dan peran elang yang penting membuat hukuman pedagang maupun kepemilikan elang terlalu ringan.

Jumat, 14 Juli 2017 Gakkum KLHK bersama Polres Malang, Animals Indonesia dan COP berhasil menyelamatkan 3 elang jawa remaja dari 2 orang tersangka, pedagang satwa liar. Kedua tersangka yang berada pada satu perumahan ini, saling mengenal.

“Prihatin dan marah. Betapa mereka (tersangka) tidak peduli keberadaan elang jawa di alam. Para pedagang ini sudah cukup lama beroperasi dan kami amati. Baru kali ini berkesempatan dengan barang bukti yang cukup besar. Bahkan yang paling besar yang pernah kami tangani.”, tegas Hery Susanto, koordinator Anti Wildlife Crime dari Centre for Orangutan Protection. (YUN)

Page 1 of 912345...Last »