5 YEARS TIGHT IN CHAIN, 4 YEARS IN REHAB, FINALLY NOVI RETURNED

In November 2014, COP met orangutan Novi for the first time. Novi was put on the side of the house with a rope around his neck for 5 years so he could not go anywhere. Novi was not alone. He had some dogs as friends since childhood. Poor Novi. He is a victim of forest destruction by a palm oil company that destroys his home and his source of food.

Novi underwent all rehabilitation processes to re-recognize the forest. 4 years in rehab was full of stories and memories, especially on how Novi met other orangutans at the COP Borneo rehabilitation center. Now, he turned out to be the first one who has to say goodbye to the other orphans at COP Borneo. Novi released to the forest who had been waiting for him for a long time where he should be.

Welcome to your new adventure in the forest that we promised you 4 years ago, Novi. The cage is not your home anymore.

Thank you the great team for realizing Novi’s dream to release back to the forest. Our tears are not sadness but happiness to see him run out of the cage towards the trees, celebrating his freedom. (IND)

5 TAHUN DIRANTAI, 4 TAHUN DIREHAB AKHIRNYA NOVI KEMBALI KERUMAHNYA

Pada tahun 2014 bulan November, COP bertemu Orangutan Novi pertama kali. Iya diletakan di samping rumah dengan tali di lehernya selama 5 tahun agar ia tidak dapat pergi kemana pun saat pemilik rumah sedang berpergian. Novi tidak sendiri, beberapa anjing setia bermain dengannya dan mereka sudah berteman sejak kecil. Novi yang malang adalah korban dari perusakan hutan oleh sebuah perusahan sawit yang merusak rumah dan tempatnya mencari makan.

Tepat 4 tahun setelah cerita itu, Novi menjalani semua proses rehabilitasi untuk membiasakan ia kembali mengenali hutan. 4 tahun yang penuh dengan cerita dan catatan kenangan, bagaimana novi bertemu dengan orangutan lainnya di pusat rehabilitasi COP Borneo. Ia ternyata harus mengucapkan selamat tinggal lebih dahulu dari teman-teman yatim piatu lainnya yang berada di COP Borneo, Novi kembali ke hutan yang telah menunggunya sejak lama dimana seharusnya ia berada.

Selamat menempuh petualangan baru di hutan yang pernah kita janjikan kepada mu 4 tahun lalu, sebab kandang bukanlah rumahmu lagi.

Terimakasih semua tim yang hebat untuk mewujudkan mimpi Novi kembali ke hutan, air mata kita bukanlah kesedihan melainkan kebahagian melihat mereka lari keluar kandang menuju pepohonan kebebasan. (NUS)

A THANK-YOU NOTE FROM NOVI

Perhaps the owner of orangutan Novi had never imagined, a long road that must finally be passed because Novi had been cared for by humans. Novi has been chained in his neck and be friends with dogs. After going through the stage of a long and expensive medical check-up, he must struggle from one class to another in the forest school. Finally, COP Borneo can release Novi back into his habitat.

This will be Novi’s last stare we can see before he completely disappeared in the jungle of Borneo. He disappeared very fast, shortly after the cage door was opened.

This photo was taken shortly after Novi climbing back into his habitat. We feel the happiness when Novi stops and sees us for a second, maybe saying “Thank you”. All we know is that thanks to you, all COP supporters, for giving your eternal support and trust to us.

Thanks also to Novi adopters who have provided the financial need for Novi. Novi’s freedom can be achieved because of the hard work of all people who care for orangutans.(IND)

SESAAT, TERIMAKASIH DARI NOVI
Mungkin pemelihara orangutan Novi tidak pernah membayangkan, jalan panjang yang akhirnya harus ditempuh Novi karena dia pernah dipelihara manusia. Novi yang pernah berkalung rantai dalam kesehariannya dan berteman anjing dalam kesendiriannya. Setelah melalui tahapan pemeriksaan kesehatan yang panjang dan mahal dengan perjuangannya naik dari satu kelas ke kelas lainnya di pusat rehabilitasi COP Borneo akhirnya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Mungkin ini akan menjadi tatapan Novi yang terakhir kalinya bisa kita lihat, sebelum dia benar-benar menghilang di rimbunya hutan Kalimantan. Kecepatan Novi meninggalkan kandang angkut, sesaat setelah pintu kandang diangkat memang sudah diprediksi. Karena sudah beberapa kali, untuk keperluan pemeriksaan kesehatan, Novi harus menjalani proses karantina.

Foto ini diambil sesaat setelah Novi dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Kebahagiaan yang kami rasakan, saat dia berhenti dan memandang kami untuk ‘mungkin’ mengucapkan terimakasih. Yang kami tahu, terimakasih itu pun untuk Kamu, para pendukung COP yang telah begitu teguh memberikan kepercayaanmu untuk kami.

Terimakasih juga untuk para adopter Novi terdahulu https://www.withcompassion.com.au yang telah memberikan dukungan finansial untuk perawatan Novi. Kebebasan Novi adalah kerja keras semua pihak yang peduli pada orangutan.

NOVI REACHES HIS FIRST TREE AND GOES WITH LECI WHO HAVE WAITED FOR HIM

This morning, on November 3rd, 2018 the Director of Biodiversity Conservation, drh. Indra Exploitasia, M.Sc, began the release of two orangutans from COP Borneo rehabilitation center. Orangutan conservation in Berau has been supported by many stakeholders, especially the local community. We involved locals to create a traditional ceremony before beginning the release process.

The difficulty of going through the low tide of the Kelay river and the heavy of the transport cage did not ruin the enthusiasm of our APE Guardian team. There was a silence when Mr. Sunandar Trigunajasa, head of the Natural Resources Agency (BKSDA) East Kalimantan, opened a cage carrying Leci. Only in seconds, Leci runs and climbs the tree. 100m later, he stopped between forest canopies.

Then the second cage was opened by Mr. Ahmad Saerozi. Just like Leci, Novi ran and immediately climbed a tree, following Leci. Shortly thereafter, Leci and Novi continued their journey. The monitoring team quietly followed both of them.

“The process was so fast. Luckily the APE Guardian team had practiced enough before. Two orangutans with different backgrounds, but the same rehabilitation period, will have a different reaction to nature”, said Reza Kurniawan, APE Guardian captain.

Novi had been kept as a pet in Kongbeng, East Kalimantan. Meanwhile, Leci were wild but young when he arrived. They were expected to carry out their functions in the forest. Orangutans are the best forest farmer ever. The wide roaming of orangutans and their diversity of food makes orangutans have an important role in nature. (IND)

NOVI MERAIH POHON PERTAMANYA DAN PERGI BERSAMA LECI YANG SUDAH MENUNGGU
Pagi ini, 3 November 2018 Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, drh. Indra Exploitasia, M.Si, memulai pelepasliaran dua orangutan dari pusat rehabilitasi COP Borneo. Konservasi orangutan di Berau mendapat dukungan dari banyak pihak terutama masyarakat sekitar, upacara adat pun mengawali proses pelepasliaran kali ini.

Sulitnya melalui sungai Kelay yang agak surut dan beratnya kandang angkut orangutan tak sedikitpun menyurutkan semangat tim APE Guardian. Suasana hening saat Sunandar Trigunajasa, kepala Balai KSDA Kalimantan Timur membuka kandang angkut orangutan Leci. Hanya hitungan detik, Leci berlari dan memanjat pohonnya. 100m kemudian, dia berhenti di antara kanopi.

Kemudian kandang kedua dibuka oleh Ahmad Saerozi. Sama saja seperti Leci, Novi pun berlari dan langsung memanjat pohon menyusul Leci. Tak lama kemudian, Leci dan Novi melanjutkan perjalanan mereka. Tim monitoring dengan sigap mengikuti mereka berdua.

“Proses tadi begitu cepat. Untung saja tim APE Guardian sudah cukup berlatih sebelumnya. Dua orangutan dengan latar belakang yang berbeda ini, namun masa rehabilitasi yang sama akan menjadi catatan tersendiri.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian.

Novi yang sebelumnya pernah dipelihara warga Kongbeng, Kalimantan Timur dan Leci yang liar namun berusia muda diharapkan bisa menjalankan fungsi nya di hutan. Orangutan adalah pelaku reboisasi terbaik yang pernah ada. Daya jelajah orangutan dan keanekaragaman makanannyalah yang menjadikan orangutan punya peran penting di alam.

RELEASING NOVI AND LECI IN THIS NOVEMBER

There was no dramatic moment when the former rehab orangutans of COP Borneo were released. No orangutan hugged his nurse to say goodbye. Nor does anyone come down to give a flower as orangutans do to conservation experts. Everything was fast and spontaneously. When we release orangutans from the cage, there are only two possibilities: Jump and climb trees as high as possible and then disappear or attack people.

November 3rd is a thrilling day for the Center for Orangutan Protection family. This was our second orangutan release after a year earlier. In 2017, we released orangutan from the zoo, named Oki. Oki managed to make an achievement as an orangutan who used to live behind bars and could go back wild. Now, Novi and Leci also get their chance to return to their habitat.

Novi, previously kept under a house with chains around his neck. In April 2015, Novi was rescued from Kongbeng, East Kalimantan. His body was so small because of lack of nutrition, as he did not eat proper food for orangutans. At that time, Novi made friends with dogs.

While Leci is a wild agile orangutan who lost his mother in the middle of a field. How were Novi and Leci when their cage doors were lifted? (IND)

MELEPAS NOVI DAN LECI DI AWAL NOVEMBER
Tidak ada momen yang dramatis pada saat orangutan mantan pusat rehabilitasi COP Borneo dilepasliarkan. Tidak ada orangutan yang memeluk perawatnya untuk berpamitan. Pun tidak ada yang turun memberikan sekuntum bunga seperti yang dilakukan orangutan ke para pakar konservasi. Semuanya akan berlangsung cepat dan waspada. Orangutan yang dilepaskan dari kandang, kemungkinannya hanya dua. Langsung melompat dan memanjat pohon setinggi mungkin dan lalu menghilang atau menyerang orang – orang.

3 November menjadi hari yang mendebarkan keluarga Centre for Orangutan Protection. Walaupun ini adalah pelepasliaran orangutan kedua setelah setahun sebelumnya, orangutan mantan dari kebun binatang berhasil dilepasliarkan. Orangutan Oki namanya. Oki berhasil mengukir prestasi sebagai orangutan yang terbiasa tinggal dibalik jeruji besi dan bisa kembali liar. Kini, orangutan Novi dan Leci mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya.

Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu mengalungi lehernya hingga meninggalkan bekas akan mendapatkan kebebasannya. April 2015, Novi diselamatkan dari Kongbeng, Kalimantan Timur. Tubuhnya kecil karena kurang gizi, dia dipelihara dengan makan makanan yang bukan makanannya. Saat itu, Novi bertemankan anjing.

Sementara Leci, adalah orangutan lincah nan liar yang kehilangan induknya di tengah ladang buah. Bagaimana Novi dan Leci saat pintu kandang diangkat?

THE ORANGUFRIENDS OF BERAU  STOP BY AT SMAN 2

How are the orangutan populations stated to be critically vulnerable to extinction? Through education to schools and communities, orangufriends share their knowledges as well as finding out what these high schools students think. Approximately, 100 students of XI IPA SMAN 2 Berau, East Kalimantan, came together after the second breaktime.

Ipeh, Yanti, dan Aldo were the three orangufriends who engaged the students to think creatively. The discussions, which started from about the presence of orangutans around them to orangutans that they saw on the road around Muara Wahau, were coming to a conclusion that is how close the kinship of humans and the one and only living great apes on this Asia continent are.

Orangutans and humans share 97% of their DNA. The orangutan at the roadside definitely learns how difficult it is to find foods in a damaged habitat. Easier to find at the roadside, begging and getting food thrown by humans. The students concerned not only about orangutan habitats that are being degraded by plantations and mining, but they were also asking about the fate of orangutans in the Safari park and Zoos.

“The enthusiasm of students and the Orangufriends of Berau today have made us racing against the time to save orangutans from extinction. Thank you, SMAN 2, see you some other time!”. (SAR)

ORANGUFRIENDS BERAU MAMPIR DI SMAN 2
Bagaimana populasi orangutan dinyatakan sangat terancam punah? Melalui edukasi ke sekolah dan masyarakat, Orangufriends berbagi pengetahuannya juga mencari tahu apa pendapat siswa menengah atas ini. Kurang lebih 100 siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 2 Berau, Kalimantan Timur berkumpul usai istirahat kedua.

Ipeh, Yanti dan Aldo adalah tiga orangufriends yang mengajak para siswa berpikir kreatif. Diskusi santai mulai dari keberadaan orangutan di sekeliling mereka hingga orangutan yang mereka temui di pinggir jalan di daerah Muara Wahau sampai pada sebuah kesimpulan, betapa dekatnya kekerabatan antara manusia dan kera besar satu-satunya yang hidup di benua Asia ini.

Orangutan memiliki DNA 97% sama dengan manusia. Orangutan yang berada di pinggir jalan tentunya belajar betapa sulitnya mencari makanan di habitat yang telah rusak. Lebih mudah berada di pinggir jalan, mengemis dan mendapatkan lemparan makanan dari manusia. Tak hanya semakin tergusurnya habitat orangutan untuk lahan perkebunan maupun pertambangan yang menjadi konsentrasi para siswa, mereka pun menanyakan nasib orangutan yang berada di Taman Safari maupun Kebun Binatang.

“Semangat siswa dan orangufriends Berau hari ini membuat kami berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan. Terimakasih adik-adik SMAN 2, sampai bertemu lagi di lain kesempatan!”. (NIK)

SCHOOL VISIT TO SMK NEGERI 2 BERAU

All of a sudden, the electricity went out when APE Guardian team (Centre for Orangutan Protection team who work on orangutan release) conducted a school visit activity. There was shouts of disappointment heard at this vocational school at the time. The team immediately modificated the school visit process. Story telling and question and answer session became a more interesting discussion session.

September 6, 2016, All of 10th grade and 11th grade students of SMKN 2 Berau, Easti Kalimantan were gathered in the school hall. At 09.00 WITA sharp, Ipeh, a volunteer who came from Jogja, started introducing the team. This was the second volunteering activity of Ipeh after helping the APE Guardian team in the orangutan release forest last year. ” Being a volunteer of COP is different and addictive. Just like today, facilities limitation such as black out will not stop us. When will we practice modifying the limitation if we don’t jump into action?.” that was what Ipeh said.

East Kalimantan province is a home to the Pongo pygmaeus morio, a sub-species of orangutan. The sub-species is the smallest sub-species in Kalimantan. Educating from school to school became an important activity to directly provide information about the increasingly threat of morio orangutan presence. ” We believe that the conservation of Borneo lies on their hands.” added Ipeh optimistically. (SAR)

SCHOOL VISIT DI SMK NEGERI 2 BERAU
Tiba-tiba saja listrik padam saat tim APE Guardian (tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja untuk pelepasliaran orangutan) melakukan kegiatan kunjungan ke sekolah. Terdengar teriakkan kecewa para siswa Sekolah Menengah Kejuruan ini. Tentu saja tim langsung memodifikasi proses ’school visit’ kali ini. Cerita dan tanya jawab menjadi sebuah diskusi yang lebih menarik.

6 September 2018, seluruh kelas X dan XI SMKN 2 Berau, Kalimantan Timur sudah berkumpul di aula sekolah. Tepat pukul 09.00 WITA, relawan Ipeh yang baru saja datang dari Yogyakarta memulai perkenalan tim. Ini adalah kegiatan relawan Ipeh yang kedua kalinya setelah tahun lalu ikut membantu tim APE Guardian di hutan pelepasliaran orangutan. “Jadi relawan di COP itu unik dan bikin ketagihan. Seperti hari ini, keterbatasan fasilitas seperti matinya listrik tidak akan membuat kita berhenti. Kapan lagi kita bisa berlatih memodifikasi keterbatasan kalau tidak langsung terjun ke lapangan.”, begitu ujar Ipeh.

Kalimantan Timur adalah provinsi dengan keberadaan sub-spesis orangutan Pongo pygmaeus morio. Sub spesies ini merupakan sub spesies terkecil di Kalimantan. Edukasi dari sekolah ke sekolah menjadi begitu penting untuk secara langsung memberikan informasi tentang semakin terancamnya keberadaan orangutan morio. “Kami yakin, di tangan merekalah nantinya dunia konservasi Kalimantan.”, tambah Ipeh optimis. (RYN)

SCHOOL VISIT TO SMA NEGERI 1 BERAU

To commemorate International Primate Day, APE Guardian team of Centre for Orangutan Protection did a series of school visit. The first visit to SMA Negeri 1 Berau was the first school visit in Berau by COP team. Last Friday, August 31, about 100 of 10th grade students had gathered.

Through slideshows and short films, the team began introducing orangutans as one of the great apes that only exist in Indonesia, especially in Sumatera and Kalimantan island. “We are grateful to have the opportunity to share the knowledges at SMAN 1 Berau, among them who had never seen orangutan before and can not distinguish orangutans from other primates. We hope that its existence in Indonesia can make Indonesian proud.” said Ipeh, orangufriends who is volunteering in Kalimantan for the next three months.

The questions from students were no less suprising. It was simple and easy but quite difficult to answer. From “Why does the media concentrate less on orangutan deaths?”, “why was the punishment for orangutan killers so light?, to ” Does COP also educationg the companies that destroy orangutan habitat?”.

We were very happy and proud to see the students enthusiasm. ” We are very hopeful when we got questions from the SMAN 1 Berau students who are smart and critical. Indonesia orangutans and forests are increasingly threatened with endless conversion of forests. We hope the students can disseminate this chain of information, so that Indonesian young are more concerned about orangutans.” said Ipeh happily. (SAR)

SCHOOL VISIT KE SMA NEGERI 1 BERAU
Untuk memperingati Hari Primata Sedunia atau International Primate Day, tim APE Guardian Centre for Orangutan Protection melakukan serangkaian kunjungan ke sekolah yang sering disebut ‘School Visit’. Kunjungan pertama ke SMA Negeri 1 Berau adalah school visit pertama tim COP di kota Berau. Jumat, 31 Agustus yang lalu, sekitar 100 siswa dari kelas X sudah berkumpul.

Melalui slide dan film pendek, tim mulai memperkenalkan orangutan sebagai salah satu kera besar yang hanya ada di Indonesia khususnya pulau Sumatera dan Kalimantan. “Kami bersyukur berkesempatan berbagi di SMAN 1 Berau, di antara mereka ada yang belum pernah melihat orangutan serta belum bisa membedakan orangutan dengan primata lainnya. Kami berharap, keberadaan di Indonesia bisa menjadi spesies yang membanggakan Indonesia.”, ujar Ipeh, orangufriends yang menjadi relawan di Kalimantan untuk tiga bulan ke depan.

Pertanyaan para siswa tak kalah mengejutkan. Simpel atau mudah tapi cukup sulit untuk dijawab. Kenapa media sedikit sekali menyoroti kematian orangutan, kenapa hukuman untuk pelaku pembunuhan orangutan kecil sekali sampai pertanyaan apakah COP juga melakukan edukasi ke perusahaan-perusahaan pelaku perusakan habitat orangutan.

Kami sangat senang dan bangga melihat antusiasnya para siswa. “Besar sekali harapan kami saat mendapatkan pertanyaan dari para siswa SMAN 1 Berau yang cerdas dan kritis. Orangutan dan Hutan Indonesia semakin terancam dengan alih fungsi hutan yang tak berkesudahan. Kami berharap para siswa dapat menyebarkan informasi berantai ini, agar anak muda Indonesia semakin peduli dengan orangutan.”, kata Ipeh dengan senang. (RYN)

MONITORING TRAINING FOR ORANGUTAN RELEASE

Do you know that when one wild orangutan enters a rehabilitation centre it means it represents 2 to 8 other wild orangutans killed in their habitat? The entry of the orangutan to a rehabilitation centre signifies a long process that he will go through for years. The periodic health examination, growth and development observation, which is not only physically but also behaviourally, are requiring many people and experts involvement. Of course it costs a lot of money in a long period of time. And after that?

When the orangutan is considered as ready to be released, a series of examination will be carried out. The tests are related to zoonosis. Yes, either diseases to transmit or to be transmitted in the orangutan should be negative. Stage of pasca-orangutan release monitoring is also need to keep under careful observation. On August 23, 2016, APE Guardian team conducted an internal training of pasca-release monitoring for its own staffs who will be the rangers so that they can do their duties as well as possible in the release site.

Every orangutan activites after release should be observed. Including their behaviour toward humans and other orangutans. Also heights of the climb, feed recognation, and there’s also specific form to fill every 10 minutes. One thing that is as important is the physical condition of the team must be in a top condition. The contour of Kalimantan tropical rainforest is the next challenges. This stage will be carried out for 3 months. It can be assured that it requires a substantial cost. If you are interested in helping APE Guardian team to be a volunteer, please contact email: info@orangutanprotectio.com
or helping by donate please click https://kitabisa.com/orangindo4orangutan (SAR)

PELATIHAN MONITORING ORANGUTAN RILIS
Tahukah kamu, ketika satu orangutan liar yang sampai ke pusat rehabilitasi itu mewakili 2 sampai 8 orangutan liar lainnya yang mati terbunuh dihabitatnya? Masuknya orangutan tersebut ke pusat rehabilitasi orangutan menandakan proses panjang yang akan dijalaninya selama bertahun-tahun. Pemeriksaan berlapis pada kesehatannya dan pemantauan pada tumbuh kembangnya yang tidak hanya meliputi fisik namun perilakunya melibatkan banyak orang dan ahli. Tentu saja ini memakan biaya yang besar dalam jangka waktu yang panjang. Setelah itu?

Saat orangutan dinilai sudah bisa dilepasliarkan. Rangkaian pemeriksaan pun akan dijalaninya. Ini terkait dengan zoonosis. Ya, penyakit yang bisa ditularkan dan menularkan harus negatif. Tahapan untuk memonitor pasca pelepasliaran orangutan tersebut juga harus dipantau. Tim APE Guardian pada 23 Agustus 2018 melakukan pelatihan monitoring secara internal agar setiap orang yang akan ditunjuk sebagai ranger nantinya dapat melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya di lokasi pelepasliaran orangutan.

Segala aktivitas orangutan setelah dilepasliarkan harus dalam pantauan, respon terhadap manusia dan pada orangutan lain harus masuk dalam catatan. Termasuk ketinggian memanjat, mengenali jenis pakannya serta form khusus setiap 10 menit. Satu hal yang tak kalah pentingnya, fisik tim harus dalam kondisi yang prima. Kontur hutan hujan tropis Kalimantan adalah tantangan selanjutnya. Tahapan ini akandilaksanakan selama 3 bulan. Dapat dipastikan biaya tahapan ini pun tak kalah besarnya. Kamu tertarik membantu tim APE Guardian? Untuk menjadi relawan silahkan email info@orangutanprotection.com jika ingin menyumbang silahkan klik https://kitabisa.com/orangindo4orangutan (NOY)

ENJOY THE LESAN RIVER PROTECTIVE FOREST FROM MONITORING TOWER

Tropical rainforests are known for its high canopies and various kind of wildlife that coexist. Lesan River Protective Forest is one of them which located in Berau district. This forest which is rich in biodiversity that is a haven for flora and fauna life. Not less than 200 species of plants, 52 species of mamals, and 118 species of birds can be found here. 

The interesting thing about the Lesan River Protective Forest is the monitoring tower in the middle of the forest. This tower is approximately 40 meters tall and about 10 years old. Made from the Bangkirai woods and attached to Red Meranti tree as a support. This tower can be used to see the beauty of the canopies in Lesan River Protective Forest from above, to see how magnificent the giant trees that stand tall around the tower. Also, this tower can be used for monitoring activity.

Of course, it takes a lot of courage and braveness to climb the tower. If you lucky, you can also see orangutan nest from the top of the tower. To go to this monitoring tower, first you have to go to Lejak research camp, this camp can be reached approximately 1 hour from Lesan Dayak village using Katinting boat. This camp is right at the riverside of Lesan river. Compared to the large Kelay river, Lesan river is only 10-20 metres wide and there are large stones with diameter up to 5-10 metres. 

There are also small river rocks (gritstone) which fairly expanse that when the river recedes that wide expanse of gritstone will looks colorfull. Other than that, there will be some rapids with quite strong current found there and Katinting boat of visitors will be sunk due to the swift current and long rapids if it’s not an expert who steers the boat in the rainy season. 

After arriving at Lejak Research Camp, you have to continue your journey by walking in the middle of the jungle trees for approximately 1,5 hours to reach the monitoring tower. This walk will be decorated by quite steep incline and make you feel the fatigue in the first 30 minutes. But unfortunately, this tower has to be renovated because some of the woods has looked a little weathered. Hopefully, there will be renovations for this 40 meters tall tower. (SAR)

MENIKMATI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN DARI MENARA PANTAU
Hutan hujan tropis terkenal dengan kanopi yang tinggi dan berbagai macam satwa liar yang hidup berdampingan. Salah satunya adalah Hutan Lindung Sungai Lesan yang berada di kabupaten Berau. Hutan yang kaya akan keanekaragaman hayatinya ini, merupakan surga bagi kehidupan flora dan fauna unik dan langka. Tidak kurang dari 200 jenis tumbuhan, 52 jenis mamalia, dan 118 jenis burung dapat ditemukan di sini.

Hal yang menarik dari Hutan Lindung Sungai Lesan ialah Menara Pantau yang berada di tengah-tengah hutan. Menara ini menjulang setinggi 40 meter. Menara ini sudah berumur kurang lebih 10 tahun lamanya. Dibuat dari Kayu Bangkirai dan menempel dengan Pohon Meranti Merah sebagai penyangganya. Menara ini bisa digunakan untuk melihat keindahan kanopi di Hutan Lindung Sungai Lesan dari atas, betapa megahnya pohon-pohon raksasa yang berdiri di antara menara bisa kita lihat. Selain itu, menara ini juga digunakan untuk pengamatan.


Tentu saja dibutuhkan nyali dan keberanian untuk menaiki menara ini. Jika beruntung, kalian juga bisa melihat sarang orangutan dari atas menara. Untuk menuju ke Menara Pantau ini, kita harus menuju ke camp penelitian Lejak terlebih dahulu, camp ini bisa dicapai kurang lebih 1 jam dari kampung Lesan Dayak menggunakan perahu bermesin ketinting. Camp ini berada tepat di pinggir Sungai Lesan. Dibanding Sungai Kelay yang besar, Sungai Lesan lebarnya hanya sekitar 10-20 meter dan terdapat batu-batu besar berdiameter mencapai 5-10 meteran. Di pinggiran sungai ini juga tampak bebatuan kecil (kersik) yang menjadi hamparan yang lumayan luas, bahkan saat sungai surut hamparan kersik yang luas di sungai akan terlihat dengan aneka warna. Selain bebatuan yang besar dan kecil, dalam perjalanan ini juga akan ditemukan beberapa beberapa titik jeram dengan arus yang cukup deras, bahkan jika bukan ahlinya dan saat musim hujan di jeram ini tidak sedikit katinting pengunjung akan karam karena derasnya arus dan jeram yang panjang.


Setelah sampai di Camp Penelitian Lejak, kita diharuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki diantara pohon-pohon rimba selama kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke lokasi menara pantau. Perjalanan ini akan dihiasi dengan tanjakan yang sedikit curam dan bisa membuat kelelahan di 30 menit pertama. Namun sayangnya menara ini sudah saatnya untuk direnovasi, karena beberapa kayu nya Sudah terlihat sedikit lapuk. Semoga segera ada renovasi pada menara setinggi 40 meter ini.

A NOTE FOR WORLD RANGER DAY

Annually, the world celebrates the World Ranger Day on July 31. Tough figures of the guardian of natural richness, or so called rangers, are often injured or even killed while they carry out their duties. The presence of rangers is often ignored, while natural resources and cultural heritage of our planet lie on their hands.

Centre for Orangutan Protection through its first rapid-response team, the APE Crusader, has repeatedly had to be at the forefront against the orangutan habitat destructor. Bulldozers and excavators are forced to stop the forest clearing process for oil palm plantation. APE Crusader, along with its Captain, Paulinus Kristianto, the son of Dayak Siberuang tribe of Sentarum lakeside who is also an alumni of COP School Batch 1, fighting the companies that are considered to colonize and exploit the land of Borneo.

When Linus, as he’s called, was busy extinguishing the fire at Tanjung Puting National Park (TNTP) Central Kalimantan, while his house in the village was burned by the forest fire. His grandfather was killed. Instead of shutting it down, his enthusiasm was burning even brighter.

Let’s just stop thinking other things and try reflecting on the ranger’s sacrifice for our mother earth for awhile. We need more rangers to guard our planet. Thank you International Ranger Federation for initiating World Ranger Day. (SAR)

CATATAN WORLD RANGER DAY
Setiap tahun, dunia memperingati Hari Ranger Dunia atau World Ranger Day pada 31 Juli. Sosok tangguh penjaga kekayaan alam atau disebut juga ranger dalam menjalankan tugas banyak yang terluka bahkan terbunuh. Keberadaan para ranger sering terabaikan, padahal di tangan merekalah kekayaan alam dan warisan budaya planet bumi ini berada.

Centre for Orangutan Protection melalui tim gerak cepat pertamanya yaitu tim APE Crusader telah berulang kali harus berada di garis depan para perusak habitat orangutan. Buldoser maupun ekskavator pun dipaksa untuk menghentikan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. APE Crusader dengan kapten Paulinus Kristanto, si putra daerah dari suku Dayak Siberuang di tepian danau Sentarum yang merupakan alumni COP School Batch 1 bergerilya melawan perusahaan-perusahaan yang menurutnya menjajah dan menghisap bumi Kalimantan.

Saat Linus, begitu panggilan akrabnya, sibuk memadamkan api di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Kalimantan Tengah, rumahnya di kampung justru dilalap kebakaran hutan. Kakeknya tewas. Bukannya surut, semangatnya semakin membara.

Sesaat saja kita berhenti memikirkan yang lain, mari merenungkan pengorbanan para ranger untuk bumi ini. Kita membutuhkan para ranger untuk menjaga planet kita. Terimakasih Federasi Ranger Internasional yang menginisiasi Hari Ranger Dunia.

Page 3 of 712345...Last »