APE GUARDIAN

MISSION COMPLETED

The other begging orangutan with wound on the head, have been rescued and trans located to a conservation forest. The rescue operation itself was running smoothly.
As predicted before, the orangutan came down to kampong early morning and we were ready with tranquilizer gun. We attracted him away from people to avoid something goes wrong. It was take about 15 minutes only to sleep him and we did quick check and necessary treatment. We search any bullets in his body and thanks God, we didn’t find any. We gave him long lasting antibiotics to prevent infection on his head.
Now, he is safe and sound in the conservation forest. Let’s hope the Mother Nature cure him in the new home. By the way, do you have a name for him? Let us know what do you think.

GOING RESCUE A BEGGAR ORANGUTAN

Today, COP deploy its APE Guardian Team to rescue a wounded orangutan on his head. He is begging for food on the street in East Kalimantan as the forest has gone to make way for oil palm plantation.
2 weeks ago, we have rescued a big male orangutan from the same area and have spotted another 3 orangutans. So, at least 4 orangutans need to be rescued now from the area. The APE Guardian is joint operation between COP and TOP.

http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

Hari ini, COP mengirim tim APE Guardian untuk menyelamatkan orangutan terluka di kepalanya. Orangutan ini terlihat sedang mengemis makanan di pinggir jalan Kelay, Berau, Kalimantan Timur sebagai akibat hilangnya hutan untuk perkebunan kelapa sawit.
2 minggu yang lalu, kami harus menyelamatkan satu individu orangutan jantan dewasa. Di lokasi yang sama, kami menemukan 3 orangutan lainnya. Jadi, setidaknya ada 4 orangutan yang perlu diselamatkan dari lokasi ini.
Tim APE Guardian adalah tim yang terbentuk dari kerjasama Centre for Orangutan Protection bersama The Orangutan Project.

ORANGUTAN SUFFERING IN HIS HEAD

Almost 100% orangutans that captured by plantation workers are suffering serious wound in the head and hands. They use wooden stick or soil hoe to beat the orangutan’s head. Many of them died from this crime.
We have spotted this male orangutan in the street, begging for food as the forest gone for development of new oil palm plantation In East Kalimantan. We have translocated 1 male orangutan from the same location about 3 weeks ago and have spotted another 3 orangutans. So, totally 4 orangutans now need to be translocated. Could you help us to help them from killing?
This is donation link: http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

Hampir 100% orangutan yang ditangkap para pekerja sawit menderita luka serius dan tangan dan kepala. Beberapa dari mereka tewas karena ini.
Orangutan jantan dewasa ini ditemukan sedang mengemis makanan di tepi jalan di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur. Kami menemukan luka di kepalanya, yangmana kemungknan besar akibat dilukai oleh manusia. Tim kami akan kembali untuk menangkap dan memindahkannya ke hutan yang lebih aman.
Di kawasan yang sama, kami juga memindahkan 1 orangutan jantan dewasa 3 minggu lalu. Setidaknya ada 3 orangutan lainnya yang masih berkeliaran di daerah tersebut. Dengan demikian, jumlah totalnya 4 orangutan. Mari berharap agar mereka tidak bertemu dengan orang jahat yang main bacok atau tembak.

VET MEDICAL VISIT TO MERASA VILLAGE

The closest village to COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Borneo is the village of Merasa. A beautiful and friendly village that is an attractive nature tourism gateway. Once a week, the medical teams from COP Borneo visit the Merasa Village for the animal health program. But also not possible, the medical team called for an urgent event.
 
The selected day is Saturday. As on June 10th, 2017. The medical team followed up on a sick dog case report. “There are two patient types of dogs that we care for today. Skin diseases and itch in dogs were overcome by giving injections and ointments.”, Explain Vet Rian.
 
Animal data collection located in the village of Merasa is also equipped with check cards for health control the week after. “Wow, if more cases come, I was overwhelmed. But not every time. Very exciting and happy to help wildlife and pets. A little dream for me… to be able to help other living creatures,” said Rian Winardi again.
 
Keep the spirit Vet Rian… (Dhea_Orangufriends)

KUNJUNGAN MEDIS SATWA KE DESA MERASA
Desa terdekat dengan Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur adalah desa Merasa. Sebuah desa yang asri dan ramah yang merupakan pintu gerbang wisata alam yang menarik. Setiap seminggu sekali, tim medis dari COP Borneo berkunjung dalam program kesehatan hewan di desa Merasa. Tapi juga tidak menutup kemungkinan, tim medis dipanggil pada kejadian yang mendesak.

Hari yang dipilih adalah hari Sabtu. Seperti di tanggal 10 Juni 2017. Tim medis menindaklanjuti laporan kasus anjing yang sakit. “Ada 2 pasien jenis anjing yang kami rawat saat ini. Penyakit kulit dan gatal pada anjing pun diatasi dengan pemberian injeksi dan salep.”, demikian penjelasan drh. Rian.

Pendataan hewan yang berada di desa Merasa ini pun dilengkapi dengan kartu periksa untuk kontrol kesehatan minggu berikutnya. “Waduh kalau lagi banyak kasus, saya sempat kewalahan. Tapi ngak setiap saat. Bener-bener seru dan senang bisa membantu satwa liar maupun hewan peliharaan. Suatu mimpi kecil saya… untuk bisa membantu mahkluk hidup lainnya.”, ujar Rian Winardi lagi.

Tetap semangat drh. Rian… (NIK)

KANDANG KARANTINA SIAP DIGUNAKAN

Akhirnya kandang karantina untuk kedua orangutan yang akan dilepasliarkan kembali selesai dibangun. Penambahan instalasi air untuk membersihkan kandang karantina dan kebutuhan air untuk orangutan juga sudah selesai dikerjakan.

Kondisi curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini membuat kondisi depan kandang karantina menjadi licin dan terjal. Tim memasang titian sederhana dan tangga dari kayu-kayu yang ada agar bisa digunakan untuk berpijak saat animal keeper membersihkan kandang ataupun saat dokter hewan mengontrol kondisi orangutan.

Sekat pembatas juga dicek kembali. Karena orangutan Nigel adalah orangutan jantan alpha yang sewaktu-waktu bisa menarik orangutan Oki. Untuk menghindari kecelakaan seperti itu, tim memastikan kondisi kandang.

Setelah cek, ricek dan triple cek. Kandang karantina siap menerima kedua orangutan kandidat “Year for Freedom”. Ikuti terus perjalanan rilis orangutan Nigel dan Oki. Berikan dukunganmu melalui http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

TERBANG BEBAS SI JULANG DAN RANGKONG

Pertengahan bulan April 2017, APE Guardian bersama BKSDA SKW I Berau mengevakuasi beberapa satwa dari Golden Zoo Samarinda. Kebun Binatang ini terpaksa ditutup karena berada di jalur jalan tol Balikpapan – Samarinda yang dalam tahap pembangunan. Satwa-satwa yang dilindungi ini dievakuasi ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Labanan, Kalimantan Timur.

Selama dalam perawatan dan pemberian pakan, tim medis bersama pengamat perilaku alami satwa liar memberi penilaian untuk satwa-satwa tersebut. Panilaian ini akan menjadi acuan untuk satwa dilepasliarkan kembali ke alam.

Pada 27 April 2017, BKSDA SKW I Berau bersama B2P2EHD serta COP Borneo melepasliarkan dua burung yang dilindungi yang menjadi icon Kalimantan juga. Burung Rangkong Badak (Buceros Rhinoceros) dan burung Julang Emas (Rhyticeros Undulatus) adalah kedua burung yang beruntung itu. Ini akan memperkaya kawasan KHDTK Labanan yang masih cukup alami.

Kondisi burung yang terlalu lama dalam pemeliharaan, membuat kedua burung butuh waktu untuk akhirnya menyadari kebebasanya. Kedua burung terlihat menjauh dan berpindah-pindah ranting kemudian terbang. “Sifat liar satwa akan dengan sendirinya muncul saat mereka kembali ke alamnya.”, ujar Reza Dwi Kurniawan, manajer COP Borneo.

PERJUANGAN MENYELAMATKAN ORANGUTAN SENO

“Ada orangutan besar sedang makan bibit sawit muda.”, begitu laporan yang masuk ke BKSDA SKW 1 Berau. APE Guardian pun bersiap-siap untuk menuju lokasi. Peralatan medis, jaring, tulup, senapan bius, dart, logistik, kandang sudah siap di mobil. Siang itu, tim berangkat.

Empat jam mengendarai akhirnya tim tiba di simpang desa Batu Redi, Kalimantan Timur. Dua jam mengejar, tim pun bertemu dengan orangutan yang dimaksud. “Kami membiusnya dengan tulup. Medan yang tidak rata yang benar-benar menguras tenaga kami. Naik turun bukit harus kami lalui sambil menggendong orangutan seberat 80 kg.”, ujar drh. Ryan Winardi.

Sungguh menyedihkan, orangutan terpaksa memakan bibit sawit. Kehilangan habitat adalah penyebab orangutan terpaksa memakan tanaman yang bukan pakannya. Hutan hilang berganti perkebunan kelapa sawit, sungai pun mengering menyebabkan orangutan terpaksa bertahan hidup.

Kami memanggilnya dengan Seno. Nama yang sama dengan kepala seksi BKSDA SKW 1 Berau, pak Aganto Seno. Teperosok di tanah yang gembur berulang kali, atau tersandung batang pohon menyulitkan tim bergerak. Sementara hari sudah mulai gelap. “Semangat-semangat. Ayo gantian gendong orangutannya. Keburu siuman.”, ucap Aganto Seno, sambil terengah-engah dengan keringat bercucuran.

Besok paginya, 9 April 2017 tim berangkat ke hutan lindung Wehea untuk melepaskan orangutan Seno. Pintu kandang dibuka Aganto Seno. Tak menunggu lama, orangutan Seno pun segera keluar dan meraih pohon terdekat untuk dipanjatnya. Kepala seksi BKSDA SKW 1 Berau ini pun terlihat haru. “Lelahnya menyelamatkan Seno hilang, bersamaan dengan hilangnya Seno dirimbunnya pepohonan.”

LAGI ORANGUTAN DITRANSLOKASI DARI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Konflik orangutan dengan manusia kembali terjadi di Batu Redi, kecamatan Telen, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Satu individu orangutan jantan dewasa masuk ke kebun sawit warga. Laporan masuk ke BKSDA SKW I Berau dan ditindaklanjuti secara bersama untuk menghindari hal buruk pada orangutan tersebut.

Tim BKSDA SKW I Berau dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Prufauna Indonesia melakukan pemantauan lokasi yang sudah tidak berhutan dengan vegetasi tumbuhan sawit umur tanam sekitar 100 hari pada tanggal 9 April 2017. Dan pada sore hari menemukan orangutan jantan tersebut dengan usia sekitar 20-25 tahun sedang berada di tengah kebun sawit. Tim medis dari COP melakukan pembiusan untuk melakukan pengamanan dan penangkapan orangutan tersebut untuk ditranslokasi ke tempat yang lebih aman.

“Tim mentranslokasi satu orangutan jantan dewasa yang masuk ke kebun warga. Di sekitaran lokasi ditemukan orangutan tersebut adalah kawasan yang sudah terkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Orangutan makan tanaman sawit dan warga melaporkan hal ini kepada perangkat desa Nehas Slabing. Tim melakukan penanganan dan pengamanan satwa dilindungi tersebut.”, Paulinus Kristanto, Koordinator APE Guardian dari COP.

Orangutan tersebut ditangkap dengan metode pembiusan dan dilakukan pemeriksaan oleh tim medis APE Guardian. Atas arahan dari BKSDA SKW I Berau, orangutan yang masih liar tersebut ditranslokasikan ke lokasi yang dirasa aman di Hutan Lindung Wehea, kecamatan Muara Wahau, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

“Kondisi orangutan tersebut baik dan stabil paska dilakukan pembiusan dan dibawa dengan kandang angkut menuju ke Hutan Lindung Wehea guna proses translokasi. Pemindahan ini dilakukan karena orangutan tersebut adalah liar dan secara fisik kondisi baik dan sehat serta layak untuk secara langsung dilepasliarkan kembali.”, drh. Rian Winardi, tim dokter hewan APE Guardian COP.

Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit menghimpit habitat orangutan dan konflik orangutan masuk area perkebunan menjadi hal yang jamak terjadi. Belum lagi ketika melakukan evakuasi bayi orangutan yang induknya sudah mati terbunuh akibat dampak dari konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Lokasi ditemukan orangutan ini merupakan habitat orangutan dan satwa liar lainnya, dimana pada tahun 2016, Centre for Orangutan Protection mendapatkan perjumpaan orangutan, owa kalimantan dan juga sarang orangutan yang tak jauh dari lokasi ditemukannya orangutan tersebut.

“Hutan di Kalimantan Timur banyak terkonversi menjadi area perkebunan kelapa sawit dan ini berdampak langsung terhadap orangutan dan satwa liar lainnya. Hutan yang menjadi habitat tergusur dan beralih fungsimenjadi area perkebunan. Hal ini tidak hanya akan membuat meningginya tingkat konflik manusia dan satwa liar, namun juga upaya rehabilitasi yang membutuhkan area pelepasliaran juga semakin terhimpit. Jika ini terus berjalan tentunya upaya perlindungan orangutan dan habitatnya juga semakin berat karena konversi hutan yang terus menerus terjadi.”, Paulinus Kristianto, koordinator COP Kalimantan Timur.

Untuk informasi dan wawancara:

Paulinus Kristanto, Koordinator COP Kalimantan Timur

P: 082152828404

E: linus@orangutan.id

Ramadhani, Manager Komunikasi COP

P: 081349271904

E: dhani@orangutan.id

MENYELAMATKAN ORANGUTAN ITU PILIHAN

Aganto Seno pun akhirnya bercerita tentang menyelamatkan orangutan yang terjebak di derasnya air terjun Gorilla, Kalimantan Timur. Sepanjang dia bertugas di Kalimantan Timur sebagai koordinator BKSDA SKW I Berau, mungkin ini adalah moment yang tak akan pernah dia lupakan.

Ini adalah hari ke-5 saya berada di lapangan dengan Centre for Orangutan Protection. Sebuah organisasi yang berisi anak-anak muda yang gila kerja dan tak kenal takut. Rencananya, kami akan survei sarang orangutan yang ada di jalur camp Lejak ke air terjun Gorilla yang berada di Hutan Lindung Sungai Lesan.”, cerita Aganto.

Suara air terjun semakin terdengar. Sudah mau sampai sepertinya. Melihat dari atas aliran sungai sembari mengambil nafas dan istirahat. Batu yang di tengah sungai menjadi tempat yang enak sambil berendam sepertinya. Sambil tertegun, menajamkan penglihatan, memperhatikan batu di tengah sungai, sepertinya ada orangutan di batu itu. Sedang berendam? Pasti segar… di tengah hari yang panas ini. Orangutan tak berenang. Lalu???

Segera tersadar, orangutan ini membutuhkan bantuan. Dia terlihat semakin lemah. Mengangkat tangannya, berusaha melalui arus yang deras namun kembali lagi berpegangan pada batu, karena terhanyut. Segera mereka mendekati bibir sungai… bagaimana cara menolong orangutan ini?

Terselip rasa takut, orangutan ini cukup besar. Tapi sepertinya sudah kelelahan, bertahan diderasnya air terjun gorilla. “Ranting-ranting… biar dia bisa berpegangan menyeberang… kita tahan dari ujung ke ujung.”, ujar Sam. “Tak cukup kuat, perlu batang pohon yang lebih besar.”, ujarku. Sam pun mengambil batang pohon yang agar besar dan membawanya ke tengah sungai. Tapi apa daya, tiba-tiba Sam hilang ditelan sungai… hanyut dan segera berbalik arah. “Sam… kamu baik-baik saja?”, tanyaku lagi. Menyelamatkan orangutan ini adalah pilihan. Harus dengan strategi.

Setelah beberapa kali percobaan, sampai-sampai, orangutan pun menolak dengan ranting kecil karena memang tak cukup kuat untuk dia menyeberang. Akhirnya, orangutan ini pun menyeberang sungai dengan batang pohon yang kami pegangin dari ujung ke ujung. Orangutan pun meraih pohon terdekat di pinggir sungai, memanjatnya dengan perlahan karena tenaganya yang terkuras. Berhenti sejenak… memandang kami… dan lanjut memanjat lagi.

Masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Bahagia bisa menyelamatkannya. Hari ini, tidak akan pernah terlupakan.

PENANAMAN POHON BERSAMA DI LESAN DAYAK

Ini adalah penanaman bersama COP, KPHP Berau Barat, Dinas Pariwisata pada 1 April 2017 yang lalu. Berbagai jenis pohon buah-buahan dan tanaman hutan di lahan yang terbuka dengan bantuan anak SMA didikan Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI) yang kebetulan sedang mengadakan perkemahan.
“Semakin banyak yang terlibat penanaman pohon, maka akan semakin banyak pula harapan baru yang akan tumbuh.”, demikian kata Paulinus sambil menanam pohon rambutan.

Penduduk asli pulau Kalimantan adalah suku Dayak. Dayak berarti orang pedalaman. Umumnya masyarakat dayak adalah peladang berpindah padi huma yang menghuni tepi sungai di Kalimantan. Budaya menanam pohon diperkenalkan sebagai usaha untuk memperbaiki kondisi alam yang terbuka.

Page 2 of 3123