APE GUARDIAN

ORANGUTAN TRAPPED AT GORILLA WATERFALL, AND SURVIVED!

Orangutan trapped at Gorilla waterfall, and survived!
The sun was leaning toward west when we arrived at the Gorilla waterfall. We had one day left at Conservatory Park Sungai Lesan. After 4 exhausting days working for our Lejak camp renovation, we wanted to have fun at Gorilla waterfall. The distance from Lejak camp to the waterfall was pretty far, 3.5 hours walking. The track we took also quite challenging. But the cool breeze and beautiful sound of the forest made the 3.5 hours journey worthwhile.
Actually, our journey to the waterfall was not only to have fun, but also to conduct a survey on orangutan nests. Yes! Sungai Lesan Conservatory Park is habitat for orangutans, it was very easy to find orangutan nest there. Not only orangutan nest, we also found some ripped tree bark that eaten by orangutan, they usually eat the cambium.
We had spent 2.5 hours on the forest, through steep and challenging track, the sound of waterfall was getting closer – that shifted our attention from the orangutan nests. Our minds and sights were focused on how to carefully step without slipping down. It was raining in the morning, no wonder it was slippery. We saw the waterfall ahead of us, we can’t wait to take off our shoes and play in the water. It was wonderful to see such a beautiful view, waterfall in the middle of the park, untouchable by the human. After 15 minutes, we searched for another spot to dip.
Apparently, there was a male orangutan playing on the waterfall. At first we thought he was just taking a bath because the weather was quite hot. But after a while, the orangutan could not be taking a bath since he was juts holding to a stone in the middle of the stream. We finally realized that he was trapped, he was not able to swim to the other side since the stream was too fast and deep. We swam across the stream to try and help him. We figured that he look tired, he might had been stuck for several hours.
We searched for a tree branch right away, and cut it as fast as we can. We used the branch as a bridge for him to cross. It was not an easy job to hold a long branch in the middle of stream. We tried several sizes of branch. The orangutan finally figured that we were trying to help him, he reached out and held the branch tightly. But he was upset when we handed out a branch that was too small for him.
After half an hour, we have gained trust from him. He looked assured when he walked on the branch. When he walked and almost reached the land, he reached for a tree and climbed it. It was so relieving! Finally he survived!! He immediately climbed next to his nest, maybe it was from the night before. Before he was lost on the trees, on about 10 meters from the ground, he was staring at us for several seconds, maybe it was his way to say thank you.
We were very lucky to have the chance to meet a wild orangutan. But we could not decide whether it was us being lucky or him being lucky that we found him. (WET)

ORANGUTAN TERJEBAK DI AIR TERJUN GORILLA, SELAMAT!
Matahari condong ke Barat waktu kami sampai di air terjun gorila. Besok adalah hari terakhir kami di Hutan Lindung Sungai Lesan. Setelah capek dengan pekerjaan 4 hari renovasi camp Lejak kami bermaksud untuk mengakhirinya dengan bersenang-senang di air terjun Gorila. Jarak dari camp Lejak ke air terjun lumayan jauh, cukup berjalan selama 3,5 jam. Medan yang kami lalui pun sangat menantang. Namun perjalanan 3,5 jam tidak terasa berat karena di sepanjang perjalanan kami disuguhi udara yang sejuk dan suara merdu penghuni hutan. Sebenarnya tujuan kami ke air terjun gorila tidak hanya bersenang-senang tetapi juga survei sarang orangutan. Ya! hutan Lindung Sungai Lesan adalah habitat bagi orangutan, sangat mudah untuk menemukan sarang orangutan. Tidak hanya sarang orangutan, kami juga menemukan beberapa batang pohon yang terkelupas bekas dimakan orangutan, biasanya mereka memakan kambiumnya.

Tidak terasa hampir 2,5 jam kami menyusuri hutan, medan yang terjal dan menurun, suara air terjun yang semakin dekat membuat kami tidak memperhatikan lagi sarang orangutan di atas pohon. Pikiran dan penglihatan kami hanya terfokus pada bagaimana caranya turun agar tidak terpeleset. Pagi tadi hujan, wajar kalau jalanan licin. Air terjun sudah di depan kami, dengan tidak sabar kami melepas sepatu untuk segera terjun ke air. Bahagia rasanya melihat pemandangan yang sangat indah seperti ini, air terjun di tengah-tengah hutan lindung yang masih sangat terjaga kealamiannya. 15 menit berlalu, kami mencari spot lain untuk membasahi badan. Rupanya ada yang mendahului kami bermain di air terjun, ssatu orangutan jantan. Awalnya kami berpikir orangutan jantan ini hanya mandi, karena cuaca siang ini memang panas. Namun lama-lama kami berpikir tidak mungkin orangutan ini mandi hanya diam saja memegang batu di tengah-tengah air. Akhirnya kami menyadari bahwa orangutan ini terjebak, tidak bisa berenang ke seberang karena arusnya sangat deras dan dalam.

Kami berenang melewati arus berusaha untuk membantu orangutan jantan ini menyebrang. Kami melihat orangutan ini sudah sangat capek, mungkin dia terjebak di sana sudah beberapa jam yang lalu. Dengan segera kami mencari dan memotong batang pohon untuk dijadikan jembatan tempat dia berpijak dan menyebrang. Bukan hal yang mudah menahan batang pohon yang panjang di tengah derasnya arus air, dari batang pohon kecil sampai batang pohon sebesar lengan kami coba.

Orangutan jantan ini sepertinya tau kalau kami akan menolongnya, dia meraih dan memegang erat batang pohon yg kami buat seperti jembatan. Tetapi dia sempat marah karena batang pohon yang kami beri terlalu kecil. Setengah jam lebih berlalu, sepertinya orangutan ini mulai percaya dengan kami dia terlihat yakin saat berjalan di batang pohon. Ketika dia berjalan dan hampir sampai di seberang dekat kami, dia mencoba meraih dahan pohon terdekat dan memanjatnya. Lega rasanya! Yeayyyyy akhirnya dia selamat!!!!

Orangutan Jantan ini langsung memanjat mendekati bekas sarangnya, mungkin bekas tempat tidurnya semalam. Sebelum akhirnya benar-benar naik dan berpindah ke pohon yang lain, diketinggian sekitar 10 m orangutan jantan ini sempat beberapa detik memandang ke arah kami, mungkin dia mengucapkan terimakasih. Sangat beruntung kami bisa bertemu orangutan liar di hutan, tetapi kali ini entah kami yang beruntung bertemu orangutan liar langsung di habitatnya atau orangutan jantan ini yang beruntung bertemu kami.(WET)

IT’S ABOUT LIFE OR DEATH

Epic. It’s about life or death.
Orangutans do like water, but they do not swim. We found this poor orangutan trapped in swift water of Lesan river, just below the Gorilla Waterfall. We found this orangutan by accident when we do survey. If we’re late, maybe orangutan is already dead. Currently we are building research stations and security posts. Your support save more orangutans.

Epik. Ini tentang hidup atau mati.
Orangutan memang menyukai air, tetapi mereka tidak berenang. Kami menemukan orangutan malang ini terjebak di derasnya air sungai Lesan, tepat di bawah air terjun Gorilla. Kami menemukan orangutan ini secara tidak sengaja pada saat kami survey kawasan. Jika kami terlambat, mungkin orangutan ini sudah tewas. Saat ini kami sedang membangun stasiun riset dan pos pengamanan kawasan. Dukungan anda menyelamatkan lebih banyak orangutan.

PERBAIKAN DERMAGA CAMP LEJAK

Secara bertahap Camp Lejak diperbaiki. Hari ini dermaga yang menjadi tempat perahu berlabuh yang akan diperbaiki. Dermaga dan anak-anak tangganya banyak yang sudah lapuk. Satu persatu diganti dan diperiksa kembali. Ini adalah rangkaian persiapan yang harus APE Guardian jalani, untuk membawa pulang kembali, orangutan pada habitatnya.

Tidak hanya APE Guardian yang bekerja memperbaiki camp Lejak. BKSDA SKW I Berau dan OWT juga tak tinggal diam. Ini adalah kerja bersama untuk dunia konservasi.

Rencananya dermaga Camp Lejak yang berada di Hutan Lindung Sungai Lesan akan menjadi tempat berlabuhnya orangutan dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

TAHUN 2016 BERSAMA APE GUARDIAN

Pertengahan tahun 2016 adalah awal kiprah tim APE Guardian. APE yang merupakan singkatan dari Animal (Satwa), People (Masyarakat) dan Environment (Lingkungan) bergandengan dengan Guardian yang dapat diartikan sebagai malaikat pelindung orangutan. APE Guardian bekerja di Kalimantan Timur.

Satu bulan setibanya APE Guardian di Kalimantan Timur, langsung menyelamatkan orangutan Happi yang berasal dari Taman Nasional Kutai pada 29 Agustus 2016. Satu kawasan yang seharusnya cukup aman untuk induk dan bayi orangutan hidup. Namun Happi yang saat itu berusia 11 bulan tanpa induknya.

Sebulan setelah penyelamatan Happi, APE Guardian harus menyelamatkan bayi orangutan lagi. Kali ini masih berusia 8 minggu. Kami mnyebutnya bayi Popi, tanpa gigi dan sangat lemah. Bayi ini ditemukan warga di perkebunan sawit di desa Sempayau, kabupaten Kutai Timur, kalimantan Timur pada 20 September 2016.

“Dua bulan yang berat.”, begitu kata Eliz anggota tim yang baru bergabung. Emosi karena senang bisa menolong bercampur dengan sedih dan amarah melihat bayi yang harus terpisah dengan induknya ini. Di akhir November, APE Guardian terpaksa menyelamatkan orangutan Lana yang masih sangat liar. Lana pun tak berlama-lama singgah di COP Borneo, dan ditranslokasi ke Hutan Lindung Sungai Lesan pada 10 Desembernya.

APE Guardian adalah tim yang menangani proses pelepasliaran orangutan. 2017 adalah tahun kebebasan untuk orangutan-orangutan COP Borneo yang memenuhi syarat. Hidup di alam, adalah tempat terbaik bagi satwa liar. (YUN)

FINALLY, LANA COMES BACK HOME

Seven hours on the road and river finally brought back orangutan Lana to Sungai Lesan Conservatory Park, East Borneo. Orangutan Lana is a male orangutan rescued by APE Defender last November. Lana was forced to enter the farms and plantation fields because his habitat was destroyed. Field opening for palm plantation pushed Lana to eat palm sprouts. Lana also had to eat fruits from villager’s farm.

“Lana is still very wild. We do not want to keep him any longer. We are worried he will get used to human and being fed. Today on December 10th 2016, orangutan Lana, is being released in Sungai Lesan Conservatory Park.” Stated DVM. Eliz, APE Guardian.

Orangutan translocation is not an easy job. The main concern is choosing the forest for orangutan’s new habitat, and the next thing is how to reach the agreed location. This is all about teamwork. Thanks to KPHP West Berau, OWT, Head of Lesan Dayak Village, Cultural Chief of Lesan Dayak Village, Koramil, POice Chief of Kelay, BKSDA Berau and people of Lesan Dayak that have always been able to protect and preserve the conservatory park through orangutan, which played the role as umbrella species for the forest itself and other wildlife.

LANA PUN KEMBALI KE HUTAN

Tujuh jam perjalanan darat dan sungai akhirnya mengantarkan orangutan Lana ke Hutan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur. Orangutan Lana adalah orangutan jantan yang dievakuasi tim APE Defender akhir November yang lalu. Lana terpaksa masuk ke ladang masyarakat karena hutan sebagai habitatnya telah habis. Pembukaan perkebunan kelapa sawit memaksa Lana memakan tunas muda pohon kelapa sawit. Lana juga terpaksa memakan buah di kebun masyarakat.

“Lana masih sangat liar sekali. Kami tidak ingin menahannya lebih lama lagi. Kawatir, dia terbiasa dengan dengan manusia dan diberi makanan, 10 Desember 2016 ini, orangutan Lana, kami lepaskan di Hutan Lindung Sungai Lesan.”, ujar drh Eliz, APE Guardian.

Translokasi orangutan bukanlah hal yang mudah. Pemilihan hutan sebagai habitat baru orangutan tersebut adalah persoalan yang utama. Selanjutnya, upaya untuk mencapai lokasi yang dimaksud. Ini semua adalah kerja keras tim. Terimakasih KPHP Berau Barat, OWT, Kepala Desa Lesan Dayak, Kepala Adat Lesan Dayak, Koramil, Kepa Polsek Kelay, BKSDA Berau dan masyarakat Lesan Dayak untuk menjaga kelestarian hutan lindung lewat orangutan yang merupakan spesies payung untuk hutan dan satwa liar lainnya.

RESCUED TWO ORANGUTAN BABIES TODAY

We have rescued two orangutan babies today. The first one in East Kalimantan and the second one in Central Kalimantan. They are now going to rescue centers. The first one, we named him Happi, is going to our own centre COP Borneo. The second one don’t have name yet, is going to Wildlife Authority Office in Sampit. Let’s hope the authority decide BOSF Nyarumenteng as her new home.
COP thanks to you all for kind support, especially who fund us through With Compassion & Soul ( COP Borneo Centre), The Orangutan Project (Ape Guardian Team) and Orangutan Outreach (The Ape Crusader Team).

APE GUARDIAN THE NEWEST TEAM

Centre for Orangutan Protection hari ini, 17 Juli 2016 memberangkatkan satu tim barunya. Tim ini membawa perbekalan dan keperluan pusat rehabilitasi orangutan COP BORNEO yang sulit ditemukan di Kalimantan. Kedua kru nya berangkat dari camp APE Warrior sore hari dengan perkiraan keesokkan paginya dilanjutkan dengan kapal laut ke Kalimantan.
Tim baru ini diberi nama APE Guardian. APE sendiri merupakan singkatan dari Animal(Satwa), People (Masyarakat) dan Environment (lingkungan). Guardian adalah malaikat pelindung orangutan. Tim ini membantu kedua tim terdahulunya yang berada di Kalimantan untuk melindungi orangutan dari kejahatan dan kekejaman.

Page 2 of 212