RANGER NEED TO KNOW GPS TO NOT GET LOST

Here is the loyal friend of the rangers when patrolling. A navigation system device, GPS, is the only tool that can help to find a way back to camp. Being in a forest with an area of 13,565,58 hectares, it is impossible for the forest guards to memmorize the way to go back home. Of course, GPS skill is very important asset. “Tools without ability are the same as suicide.”, said Reza Setiawan, captain of the APE Guardian team of Centre for Orangutan Protection (COP).

Rangers in the APE Guardian team have an additional duty to monitor the orangutans that have just released. Every new location finding of orangutan nest to the discovery of leftover orangutan food have to be marked in GPS. Do not forget to mark the farthest monitoring point every day. “Mark” is a jargon that the ranger always use when marking position. In turn, all the rangers got their chance to operate GPS.

The more exciting thing is when leaving for monitoring at dawn, the rangers remind each other to always start the track on GPS to count the distance accumulation throughout the day. “There’s always funny things that remind them to the marked points they made. I found an exhilarating family in the middle of jungle.:, said Widi, a volunteer who participated in the monitoring team for Novi and Leci who had just been released on Nov 3, 2018. (SAR)

RANGER HARUS BISA MEMBACA GPS AGAR TIDAK TERSESAT
Ini dia teman setia para ranger saat patroli. Perangkat sistem navigasi GPS yang menjadi satu-satunya alat yang dapat menemukan jalan pulang kembali ke camp. Berada di hutan dengan luas 13.565,58 hektar mustahil rasanya bagi para penjaga hutan menghafal jalan pergi dan pulang. Tentu saja keterampilan membaca GPS menjadi aset yang sangat penting. “Alat tanpa kemampuan, itu sama saja bunuh diri.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian Pusat Perlindungan Orangutan atau COP.

Ranger yang bergabung di tim APE Guardian punya tugas tambahan untuk melakukan monitoring orangutan yang baru saja dilepasliarkan. Setiap temuan lokasi baru, sarang orangutan hingga lokasi penemuan bekas makanan orangutan selalui ditandai dalam GPS. Tak lupa menandai titik monitoring terjauh dalam setiap harinya. “Tandai”, adalah jargon yang selalu dipakai ranger ketika akan menandai lokasi. Secara bergiliran, semua ranger mendapat jatah mengoperasikan GPS.

Hal yang tak kalah serunya adalah saat berangkat monitoring fajar, para ranger saling mengingatkan untuk selalu memulai track di GPS agar nampak akumulasi jarak tempuh setiap harinya ketika monitoring. Dan saat akhir perjalanan monitoring, para ranger berebut melihat perjalanan meraka selama seharian tadi. “Ada saja cerita lucu yang mengingatkan mereka dengan titik-titik yang mereka buat. Saya menemukan keluarga yang seru di tengah hutan.”, ujar Widi, relawan yang ikut tim monitoring orangutan Novi dan Leci yang baru saja dilepasliarkan kembali pada 3 November 2018 yang lalu. (WIDI_Orangufriends)

BACK HOME, LECI AND NOVI HAPPILY HUG EACH OTHER

Finally, after the long road of medical check up and administration process of the release of four orangutans that will be held this year in Lesan River Protected Forest (HLSL), Berau, East Kalimantan, orangutan Leci and Novi were released on Nov 3rd, 2018. The release was the second COP’s ex-rehabilitated orangutan release after the release of orangutan Oki in 2017.

“There will be two possibilities, either they will go straightly into the jungle or turn back and attack the guests. Then, please do not get closer to the cage.”, said Reza Kurniawan, the Captain of APE Guardian team, a moment before release while directing guests to stand behind the COP line which was at a distance of 20 m to the cage. I was worried that Leci and Novi would turn back and attack the guests. But, when the first cage opened by Ir. Saerozi Ahmad, the head of B2P2EHD, with Hardi Baktiantoro, the principal of COP, Leci came out briskly into the jungle, climbed a tree,and hang on the tree. And not long after, the second cage containing Novi was opened by Ir. Sunandar Trigunajasa, the Head of BKSDA of East Kalimantan with Hardi Baktiantoro, Novi came out and walked into the forest.

After a moment, a sound came from above the tree. It was Leci and Novi meeting up! They looked like hugging each other and holding hands as they were hanging on the trees. As if they were delighted to return to their habitat. Welcome back home, Leci and Novi! Hope you both always be healthy and happy! (SAR)

KEMBALI KE RUMAH, LECI DAN NOVI BERPELUKAN BAHAGIA
Akhirnya, setelah perjalanan panjang pemeriksaan medis dan urusan administrasi untuk pelepasliaran 4 individu orangutan yang akan dilepasliarkan tahun ini di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), Berau, Kalimantan Timur, orangutan Leci dan Novi dapat dilepasliarkan pada tanggal 3 November 2018 yang lalu. Pelepasliaran ini adalah pelepasliaran kedua dari orangutan eks-rehabilitasi COP setelah pelepasliaran orangutan Oki Tahun 2017 yang lalu.

“Terdapat dua kemungkinan saat orangutan dilepasliarkan, entah dia akan langsung masuk ke dalam hutan atau berbalik menyerang ke arah kita. Jadi mohon jangan mendekat ke arah kandang.”, ujar Reza Kurniawan, kapten tim APE Guardian, sesaat sebelum pelepasliaran sambil mengarahkan para tamu untuk berdiri di belakang garis COP yang berjarak 20 m dari kandang pelepasliaran. Sempat cemas kalau-kalau Leci dan Novi akan berbalik dan menyerang para tamu. Namun saat kandang pertama dibuka oleh Ir. Saerozi Ahmad, kepala B2P2EHD, bersama Hardi Baktiantoro, ketua COP, Leci keluar dengan lincahnya masuk ke dalam hutan dan langsung memanjat dan bergelantungan di atas pohon. Lalu tidak lama setelahnya, kandang kedua yang berisi Novi dibuka oleh Ir. Sunandar Trigunajasa, Kepala Balai KSDA Kaltim bersama Hardi Baktiantoro. Novi pun keluar dan berjalan masuk ke hutan dengan cepat. “Untung saja tim dokumentasi sudah bersiap, kalau tidak, momen itu akan terlewat.”, ujar Sari Fitriani, alumni COP School Batch 8 yang ikut terlibat dalam persiapan pelepasliaran Novi dan Leci.

Lalu tidak lama kemudian, terdengar suara dari atas pohon. Ternyata Leci dan Novi bertemu! Mereka seperti berpelukan dan berpegangan tangan sambil bergelantungan di atas pohon. Seakan-akan sangat senang dapat kembali ke habitat aslinya. Selamat kembali ke rumah Leci dan Novi. Semoga sehat dan selalu! (SAR)

IN 5 HOURS, LECI AND NOVI DISAPPEAR

The first week of November was a week of great relief. The release of Novi and Leci began with a series of ceremonies at the Lesan Dayak village hall. The team was very grateful, the director of Biodiversity Conservation (Konservasi Keanekaragaman Hayati – KKH). drh. Indra Exploitasia, M.Si speed up the ceremony, so that the monitoring team had the opportunity to follow the two orangutans longer. “ Mrs. Indra really understands our condition. Because after the cage opened, wherever orangutan goes, we have to follow them to make sure that they can survive in their new home.”, said Reza Kurniawan, the captain of APE Guardian COP.

At 11.00 WITA, via river and land, the release team came to release point. In less than 5 secs, Leci already on the tree and started to drive the team away. Not long after that, Novi’s cage was opened. In about 5 hours, the team recorded Novi and Leci’s activities. They were seen together and sounded like they wanted to be left alone.

At 16.00 WITA o’clock, the monitoring team lost track of Novi and Leci. “Both of these orangutans are like wild orangutans. It’s very difficult to follow them. Their fast move make it difficult for the team to catch up.”, said Bit, a local ranger who had known the forest for a long time.

After the release, the monitoring team continued to patrol every morning and evening with different routes, hoping to meet one of the two released orangutan. For almost two weeks, the team still haven’t had meet them. (SAR)

DALAM WAKTU 5 JAM, LECI DAN NOVI PUN HILANG
Minggu pertama November adalah minggu yang sangat melegakan. Pelepasliaran orangutan Novi dan Leci diawali serangkaian seremoni di Balai Kampung Lesan Dayak. Tim bersyukur sekali, direktur KKH (Konservasi Keanekaragaman Hayati) drh. Indra Exploitasia, M.Si mempercepat upacara ini, sehingga tim monitoring berkesempatan untuk mengikuti kedua orangutan lebih lama lagi. “Ibu Indra benar-benar memahami kondisi kami. Karena setelah pintu kandang dibuka, kemana pun orangutan pergi, kami harus mengikutinya untuk memastikan, orangutan mampu bertahan di rumah barunya.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian COP.

Pukul 11.00 WITA, melalui jalur sungai dan darat, tim pelepasliaran tiba di titik pelepasliaran. Tidak sampai 5 detik, Leci sudah berada di atas pohon dan mulai mengusir tim. Tak lama kemudian pintu kandang Novi pun dibuka. Selama kurang lebih lima jam, tim masih mencatat aktivitas Novi maupun Leci. Mereka terlihat berdua dan mengeluarkan suara mengusir.

Tepat pukul 16.00 WITA, tim monitoring kehilangan jejak Novi dan Leci. “Kedua orangutan ini sudah seperti orangutan liar. Sulit sekali mengikuti mereka. Gerakan yang cepat membuat tim kesulitan mengejar.”, ujar Bit, ranger lokal yang sudah mengenal hutan ini sejak lama.

Paska pelepasliaran, tim monitoring masih terus patroli setiap pagi dan sore hari dengan jalur yang berbeda, tentu saja berharap bertemu dengan salah satu dari kedua orangutan yang dilepasliarkan. Hampir dua minggu, tim masih tak berjumpa juga. (NIK)

5 YEARS TIGHT IN CHAIN, 4 YEARS IN REHAB, FINALLY NOVI RETURNED

In November 2014, COP met orangutan Novi for the first time. Novi was put on the side of the house with a rope around his neck for 5 years so he could not go anywhere. Novi was not alone. He had some dogs as friends since childhood. Poor Novi. He is a victim of forest destruction by a palm oil company that destroys his home and his source of food.

Novi underwent all rehabilitation processes to re-recognize the forest. 4 years in rehab was full of stories and memories, especially on how Novi met other orangutans at the COP Borneo rehabilitation center. Now, he turned out to be the first one who has to say goodbye to the other orphans at COP Borneo. Novi released to the forest who had been waiting for him for a long time where he should be.

Welcome to your new adventure in the forest that we promised you 4 years ago, Novi. The cage is not your home anymore.

Thank you the great team for realizing Novi’s dream to release back to the forest. Our tears are not sadness but happiness to see him run out of the cage towards the trees, celebrating his freedom. (IND)

5 TAHUN DIRANTAI, 4 TAHUN DIREHAB AKHIRNYA NOVI KEMBALI KERUMAHNYA

Pada tahun 2014 bulan November, COP bertemu Orangutan Novi pertama kali. Iya diletakan di samping rumah dengan tali di lehernya selama 5 tahun agar ia tidak dapat pergi kemana pun saat pemilik rumah sedang berpergian. Novi tidak sendiri, beberapa anjing setia bermain dengannya dan mereka sudah berteman sejak kecil. Novi yang malang adalah korban dari perusakan hutan oleh sebuah perusahan sawit yang merusak rumah dan tempatnya mencari makan.

Tepat 4 tahun setelah cerita itu, Novi menjalani semua proses rehabilitasi untuk membiasakan ia kembali mengenali hutan. 4 tahun yang penuh dengan cerita dan catatan kenangan, bagaimana novi bertemu dengan orangutan lainnya di pusat rehabilitasi COP Borneo. Ia ternyata harus mengucapkan selamat tinggal lebih dahulu dari teman-teman yatim piatu lainnya yang berada di COP Borneo, Novi kembali ke hutan yang telah menunggunya sejak lama dimana seharusnya ia berada.

Selamat menempuh petualangan baru di hutan yang pernah kita janjikan kepada mu 4 tahun lalu, sebab kandang bukanlah rumahmu lagi.

Terimakasih semua tim yang hebat untuk mewujudkan mimpi Novi kembali ke hutan, air mata kita bukanlah kesedihan melainkan kebahagian melihat mereka lari keluar kandang menuju pepohonan kebebasan. (NUS)

A THANK-YOU NOTE FROM NOVI

Perhaps the owner of orangutan Novi had never imagined, a long road that must finally be passed because Novi had been cared for by humans. Novi has been chained in his neck and be friends with dogs. After going through the stage of a long and expensive medical check-up, he must struggle from one class to another in the forest school. Finally, COP Borneo can release Novi back into his habitat.

This will be Novi’s last stare we can see before he completely disappeared in the jungle of Borneo. He disappeared very fast, shortly after the cage door was opened.

This photo was taken shortly after Novi climbing back into his habitat. We feel the happiness when Novi stops and sees us for a second, maybe saying “Thank you”. All we know is that thanks to you, all COP supporters, for giving your eternal support and trust to us.

Thanks also to Novi adopters who have provided the financial need for Novi. Novi’s freedom can be achieved because of the hard work of all people who care for orangutans.(IND)

SESAAT, TERIMAKASIH DARI NOVI
Mungkin pemelihara orangutan Novi tidak pernah membayangkan, jalan panjang yang akhirnya harus ditempuh Novi karena dia pernah dipelihara manusia. Novi yang pernah berkalung rantai dalam kesehariannya dan berteman anjing dalam kesendiriannya. Setelah melalui tahapan pemeriksaan kesehatan yang panjang dan mahal dengan perjuangannya naik dari satu kelas ke kelas lainnya di pusat rehabilitasi COP Borneo akhirnya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Mungkin ini akan menjadi tatapan Novi yang terakhir kalinya bisa kita lihat, sebelum dia benar-benar menghilang di rimbunya hutan Kalimantan. Kecepatan Novi meninggalkan kandang angkut, sesaat setelah pintu kandang diangkat memang sudah diprediksi. Karena sudah beberapa kali, untuk keperluan pemeriksaan kesehatan, Novi harus menjalani proses karantina.

Foto ini diambil sesaat setelah Novi dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Kebahagiaan yang kami rasakan, saat dia berhenti dan memandang kami untuk ‘mungkin’ mengucapkan terimakasih. Yang kami tahu, terimakasih itu pun untuk Kamu, para pendukung COP yang telah begitu teguh memberikan kepercayaanmu untuk kami.

Terimakasih juga untuk para adopter Novi terdahulu https://www.withcompassion.com.au yang telah memberikan dukungan finansial untuk perawatan Novi. Kebebasan Novi adalah kerja keras semua pihak yang peduli pada orangutan.

NOVI REACHES HIS FIRST TREE AND GOES WITH LECI WHO HAVE WAITED FOR HIM

This morning, on November 3rd, 2018 the Director of Biodiversity Conservation, drh. Indra Exploitasia, M.Sc, began the release of two orangutans from COP Borneo rehabilitation center. Orangutan conservation in Berau has been supported by many stakeholders, especially the local community. We involved locals to create a traditional ceremony before beginning the release process.

The difficulty of going through the low tide of the Kelay river and the heavy of the transport cage did not ruin the enthusiasm of our APE Guardian team. There was a silence when Mr. Sunandar Trigunajasa, head of the Natural Resources Agency (BKSDA) East Kalimantan, opened a cage carrying Leci. Only in seconds, Leci runs and climbs the tree. 100m later, he stopped between forest canopies.

Then the second cage was opened by Mr. Ahmad Saerozi. Just like Leci, Novi ran and immediately climbed a tree, following Leci. Shortly thereafter, Leci and Novi continued their journey. The monitoring team quietly followed both of them.

“The process was so fast. Luckily the APE Guardian team had practiced enough before. Two orangutans with different backgrounds, but the same rehabilitation period, will have a different reaction to nature”, said Reza Kurniawan, APE Guardian captain.

Novi had been kept as a pet in Kongbeng, East Kalimantan. Meanwhile, Leci were wild but young when he arrived. They were expected to carry out their functions in the forest. Orangutans are the best forest farmer ever. The wide roaming of orangutans and their diversity of food makes orangutans have an important role in nature. (IND)

NOVI MERAIH POHON PERTAMANYA DAN PERGI BERSAMA LECI YANG SUDAH MENUNGGU
Pagi ini, 3 November 2018 Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, drh. Indra Exploitasia, M.Si, memulai pelepasliaran dua orangutan dari pusat rehabilitasi COP Borneo. Konservasi orangutan di Berau mendapat dukungan dari banyak pihak terutama masyarakat sekitar, upacara adat pun mengawali proses pelepasliaran kali ini.

Sulitnya melalui sungai Kelay yang agak surut dan beratnya kandang angkut orangutan tak sedikitpun menyurutkan semangat tim APE Guardian. Suasana hening saat Sunandar Trigunajasa, kepala Balai KSDA Kalimantan Timur membuka kandang angkut orangutan Leci. Hanya hitungan detik, Leci berlari dan memanjat pohonnya. 100m kemudian, dia berhenti di antara kanopi.

Kemudian kandang kedua dibuka oleh Ahmad Saerozi. Sama saja seperti Leci, Novi pun berlari dan langsung memanjat pohon menyusul Leci. Tak lama kemudian, Leci dan Novi melanjutkan perjalanan mereka. Tim monitoring dengan sigap mengikuti mereka berdua.

“Proses tadi begitu cepat. Untung saja tim APE Guardian sudah cukup berlatih sebelumnya. Dua orangutan dengan latar belakang yang berbeda ini, namun masa rehabilitasi yang sama akan menjadi catatan tersendiri.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian.

Novi yang sebelumnya pernah dipelihara warga Kongbeng, Kalimantan Timur dan Leci yang liar namun berusia muda diharapkan bisa menjalankan fungsi nya di hutan. Orangutan adalah pelaku reboisasi terbaik yang pernah ada. Daya jelajah orangutan dan keanekaragaman makanannyalah yang menjadikan orangutan punya peran penting di alam.

RELEASING NOVI AND LECI IN THIS NOVEMBER

There was no dramatic moment when the former rehab orangutans of COP Borneo were released. No orangutan hugged his nurse to say goodbye. Nor does anyone come down to give a flower as orangutans do to conservation experts. Everything was fast and spontaneously. When we release orangutans from the cage, there are only two possibilities: Jump and climb trees as high as possible and then disappear or attack people.

November 3rd is a thrilling day for the Center for Orangutan Protection family. This was our second orangutan release after a year earlier. In 2017, we released orangutan from the zoo, named Oki. Oki managed to make an achievement as an orangutan who used to live behind bars and could go back wild. Now, Novi and Leci also get their chance to return to their habitat.

Novi, previously kept under a house with chains around his neck. In April 2015, Novi was rescued from Kongbeng, East Kalimantan. His body was so small because of lack of nutrition, as he did not eat proper food for orangutans. At that time, Novi made friends with dogs.

While Leci is a wild agile orangutan who lost his mother in the middle of a field. How were Novi and Leci when their cage doors were lifted? (IND)

MELEPAS NOVI DAN LECI DI AWAL NOVEMBER
Tidak ada momen yang dramatis pada saat orangutan mantan pusat rehabilitasi COP Borneo dilepasliarkan. Tidak ada orangutan yang memeluk perawatnya untuk berpamitan. Pun tidak ada yang turun memberikan sekuntum bunga seperti yang dilakukan orangutan ke para pakar konservasi. Semuanya akan berlangsung cepat dan waspada. Orangutan yang dilepaskan dari kandang, kemungkinannya hanya dua. Langsung melompat dan memanjat pohon setinggi mungkin dan lalu menghilang atau menyerang orang – orang.

3 November menjadi hari yang mendebarkan keluarga Centre for Orangutan Protection. Walaupun ini adalah pelepasliaran orangutan kedua setelah setahun sebelumnya, orangutan mantan dari kebun binatang berhasil dilepasliarkan. Orangutan Oki namanya. Oki berhasil mengukir prestasi sebagai orangutan yang terbiasa tinggal dibalik jeruji besi dan bisa kembali liar. Kini, orangutan Novi dan Leci mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya.

Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu mengalungi lehernya hingga meninggalkan bekas akan mendapatkan kebebasannya. April 2015, Novi diselamatkan dari Kongbeng, Kalimantan Timur. Tubuhnya kecil karena kurang gizi, dia dipelihara dengan makan makanan yang bukan makanannya. Saat itu, Novi bertemankan anjing.

Sementara Leci, adalah orangutan lincah nan liar yang kehilangan induknya di tengah ladang buah. Bagaimana Novi dan Leci saat pintu kandang diangkat?

THE ORANGUFRIENDS OF BERAU  STOP BY AT SMAN 2

How are the orangutan populations stated to be critically vulnerable to extinction? Through education to schools and communities, orangufriends share their knowledges as well as finding out what these high schools students think. Approximately, 100 students of XI IPA SMAN 2 Berau, East Kalimantan, came together after the second breaktime.

Ipeh, Yanti, dan Aldo were the three orangufriends who engaged the students to think creatively. The discussions, which started from about the presence of orangutans around them to orangutans that they saw on the road around Muara Wahau, were coming to a conclusion that is how close the kinship of humans and the one and only living great apes on this Asia continent are.

Orangutans and humans share 97% of their DNA. The orangutan at the roadside definitely learns how difficult it is to find foods in a damaged habitat. Easier to find at the roadside, begging and getting food thrown by humans. The students concerned not only about orangutan habitats that are being degraded by plantations and mining, but they were also asking about the fate of orangutans in the Safari park and Zoos.

“The enthusiasm of students and the Orangufriends of Berau today have made us racing against the time to save orangutans from extinction. Thank you, SMAN 2, see you some other time!”. (SAR)

ORANGUFRIENDS BERAU MAMPIR DI SMAN 2
Bagaimana populasi orangutan dinyatakan sangat terancam punah? Melalui edukasi ke sekolah dan masyarakat, Orangufriends berbagi pengetahuannya juga mencari tahu apa pendapat siswa menengah atas ini. Kurang lebih 100 siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 2 Berau, Kalimantan Timur berkumpul usai istirahat kedua.

Ipeh, Yanti dan Aldo adalah tiga orangufriends yang mengajak para siswa berpikir kreatif. Diskusi santai mulai dari keberadaan orangutan di sekeliling mereka hingga orangutan yang mereka temui di pinggir jalan di daerah Muara Wahau sampai pada sebuah kesimpulan, betapa dekatnya kekerabatan antara manusia dan kera besar satu-satunya yang hidup di benua Asia ini.

Orangutan memiliki DNA 97% sama dengan manusia. Orangutan yang berada di pinggir jalan tentunya belajar betapa sulitnya mencari makanan di habitat yang telah rusak. Lebih mudah berada di pinggir jalan, mengemis dan mendapatkan lemparan makanan dari manusia. Tak hanya semakin tergusurnya habitat orangutan untuk lahan perkebunan maupun pertambangan yang menjadi konsentrasi para siswa, mereka pun menanyakan nasib orangutan yang berada di Taman Safari maupun Kebun Binatang.

“Semangat siswa dan orangufriends Berau hari ini membuat kami berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan. Terimakasih adik-adik SMAN 2, sampai bertemu lagi di lain kesempatan!”. (NIK)

SCHOOL VISIT TO SMK NEGERI 2 BERAU

All of a sudden, the electricity went out when APE Guardian team (Centre for Orangutan Protection team who work on orangutan release) conducted a school visit activity. There was shouts of disappointment heard at this vocational school at the time. The team immediately modificated the school visit process. Story telling and question and answer session became a more interesting discussion session.

September 6, 2016, All of 10th grade and 11th grade students of SMKN 2 Berau, Easti Kalimantan were gathered in the school hall. At 09.00 WITA sharp, Ipeh, a volunteer who came from Jogja, started introducing the team. This was the second volunteering activity of Ipeh after helping the APE Guardian team in the orangutan release forest last year. ” Being a volunteer of COP is different and addictive. Just like today, facilities limitation such as black out will not stop us. When will we practice modifying the limitation if we don’t jump into action?.” that was what Ipeh said.

East Kalimantan province is a home to the Pongo pygmaeus morio, a sub-species of orangutan. The sub-species is the smallest sub-species in Kalimantan. Educating from school to school became an important activity to directly provide information about the increasingly threat of morio orangutan presence. ” We believe that the conservation of Borneo lies on their hands.” added Ipeh optimistically. (SAR)

SCHOOL VISIT DI SMK NEGERI 2 BERAU
Tiba-tiba saja listrik padam saat tim APE Guardian (tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja untuk pelepasliaran orangutan) melakukan kegiatan kunjungan ke sekolah. Terdengar teriakkan kecewa para siswa Sekolah Menengah Kejuruan ini. Tentu saja tim langsung memodifikasi proses ’school visit’ kali ini. Cerita dan tanya jawab menjadi sebuah diskusi yang lebih menarik.

6 September 2018, seluruh kelas X dan XI SMKN 2 Berau, Kalimantan Timur sudah berkumpul di aula sekolah. Tepat pukul 09.00 WITA, relawan Ipeh yang baru saja datang dari Yogyakarta memulai perkenalan tim. Ini adalah kegiatan relawan Ipeh yang kedua kalinya setelah tahun lalu ikut membantu tim APE Guardian di hutan pelepasliaran orangutan. “Jadi relawan di COP itu unik dan bikin ketagihan. Seperti hari ini, keterbatasan fasilitas seperti matinya listrik tidak akan membuat kita berhenti. Kapan lagi kita bisa berlatih memodifikasi keterbatasan kalau tidak langsung terjun ke lapangan.”, begitu ujar Ipeh.

Kalimantan Timur adalah provinsi dengan keberadaan sub-spesis orangutan Pongo pygmaeus morio. Sub spesies ini merupakan sub spesies terkecil di Kalimantan. Edukasi dari sekolah ke sekolah menjadi begitu penting untuk secara langsung memberikan informasi tentang semakin terancamnya keberadaan orangutan morio. “Kami yakin, di tangan merekalah nantinya dunia konservasi Kalimantan.”, tambah Ipeh optimis. (RYN)

SCHOOL VISIT TO SMA NEGERI 1 BERAU

To commemorate International Primate Day, APE Guardian team of Centre for Orangutan Protection did a series of school visit. The first visit to SMA Negeri 1 Berau was the first school visit in Berau by COP team. Last Friday, August 31, about 100 of 10th grade students had gathered.

Through slideshows and short films, the team began introducing orangutans as one of the great apes that only exist in Indonesia, especially in Sumatera and Kalimantan island. “We are grateful to have the opportunity to share the knowledges at SMAN 1 Berau, among them who had never seen orangutan before and can not distinguish orangutans from other primates. We hope that its existence in Indonesia can make Indonesian proud.” said Ipeh, orangufriends who is volunteering in Kalimantan for the next three months.

The questions from students were no less suprising. It was simple and easy but quite difficult to answer. From “Why does the media concentrate less on orangutan deaths?”, “why was the punishment for orangutan killers so light?, to ” Does COP also educationg the companies that destroy orangutan habitat?”.

We were very happy and proud to see the students enthusiasm. ” We are very hopeful when we got questions from the SMAN 1 Berau students who are smart and critical. Indonesia orangutans and forests are increasingly threatened with endless conversion of forests. We hope the students can disseminate this chain of information, so that Indonesian young are more concerned about orangutans.” said Ipeh happily. (SAR)

SCHOOL VISIT KE SMA NEGERI 1 BERAU
Untuk memperingati Hari Primata Sedunia atau International Primate Day, tim APE Guardian Centre for Orangutan Protection melakukan serangkaian kunjungan ke sekolah yang sering disebut ‘School Visit’. Kunjungan pertama ke SMA Negeri 1 Berau adalah school visit pertama tim COP di kota Berau. Jumat, 31 Agustus yang lalu, sekitar 100 siswa dari kelas X sudah berkumpul.

Melalui slide dan film pendek, tim mulai memperkenalkan orangutan sebagai salah satu kera besar yang hanya ada di Indonesia khususnya pulau Sumatera dan Kalimantan. “Kami bersyukur berkesempatan berbagi di SMAN 1 Berau, di antara mereka ada yang belum pernah melihat orangutan serta belum bisa membedakan orangutan dengan primata lainnya. Kami berharap, keberadaan di Indonesia bisa menjadi spesies yang membanggakan Indonesia.”, ujar Ipeh, orangufriends yang menjadi relawan di Kalimantan untuk tiga bulan ke depan.

Pertanyaan para siswa tak kalah mengejutkan. Simpel atau mudah tapi cukup sulit untuk dijawab. Kenapa media sedikit sekali menyoroti kematian orangutan, kenapa hukuman untuk pelaku pembunuhan orangutan kecil sekali sampai pertanyaan apakah COP juga melakukan edukasi ke perusahaan-perusahaan pelaku perusakan habitat orangutan.

Kami sangat senang dan bangga melihat antusiasnya para siswa. “Besar sekali harapan kami saat mendapatkan pertanyaan dari para siswa SMAN 1 Berau yang cerdas dan kritis. Orangutan dan Hutan Indonesia semakin terancam dengan alih fungsi hutan yang tak berkesudahan. Kami berharap para siswa dapat menyebarkan informasi berantai ini, agar anak muda Indonesia semakin peduli dengan orangutan.”, kata Ipeh dengan senang. (RYN)

Page 2 of 612345...Last »