LET’S ENJOY COFFEE IN THE MIDDLE OF FORESTS

Who said “coffee break” only applies at a formal meeting? It also happens in the forest. We pause our activity after monitoring orangutans, or after hours of walking to track orangutans. Then we take “coffee break”. We stop for a moment, relieving fatigue and thirst. Even without sweet cakes to balance the bitter of the coffee, “coffee break” remains the sweetest activity for all rangers.

“Break!” Don’t be surprised you heard this sound in the forest. On the riverside, one thermos of black coffee is shared with separate sugars. Each ranger has a different taste of sweetness. After the coffee and sugar entering the glass, just remember that the spoon is left in the camp. So, how could we stir the coffee without a spoon? The rangers use wood branches to stir and add flavor.

Spending time with small talk and jokes, the “coffee break” was always followed by laughter. In fact, with a glass of black coffee and a little chat, the fatigue we felt was gone. Being a ranger takes a lot of physical energy because you have to walk in the forest with difficult terrain. “Let’s go”, said one of the ranger to end the “coffee break”. We continue to patrol with a new passion. (IND)

NIKMATNYA NGOPI DI TENGAH HUTAN
Siapa bilang istilah “coffee break” hanya berlaku di sebuah acara pertemuan formal. Istilah tersebut juga berlaku di hutan. Benar-benar di tengah hutan. Sesaat saja, berhenti sejenak dari monitoring orangutan, atau setelah berjam-jam berjalan menelusuri jejak orangutan. Maka “coffee break” pun berlaku. Sambil melepas penat dan dahaga walau tanpa kue manis lawan pahitnya kopi, tapi “coffee break” tetap menjadi bagian termanis bagi para ranger.

“Break”! Jangan sampai kaget jika di sunyinya hutan terdengar kata ini. Seperti biasa, di pinggiran anak sungai, satu termos kopi hitam dibagi rata, dengan gula yang terpisah. Tiap ranger punya rasa yang berbeda. Setelah gula masuk ke dalam segelas kopi, baru ingat kalau sendok tidak terbawa. Karena sendok tak jadi ngopi? Masih ada ranting kayu untuk mengaduk, ini akan menambah citarasa.

Diselipi dengan obrolan ringan dan candaan, “coffee break” pun selalu diikuti gelak tawa para ranger. Nyatanya, dengan segelas kopi hitam dan sedikit obrolan, penat yang dirasakan ranger pun menyusut. Wajar saja, menjadi ranger banyak menguras tenaga fisik karena harus berjalan di hutan dengan medan yang tidak mudah. “Lanjut”, sahut salah seorang ranger untuk mengakhiri “coffee break”. Patroli lagi dengan semangat terbaru. (REZ)

APE GUARDIAN TERLEPAP SAAT PATROLI

Patroli dengan berjalan menyisir jalur Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) berbekal semangat dan kebersamaan untuk menjaga hutan. Tim APE Guardian pukul 04.00 WITA, para ranger sudah bangun dan bersiap. Mengandalkan kedua kaki, berjalan di hutan dengan membuat tanda di GPS ketika bertemu sarang orangutan, pakan atau bekas pakan orangutan maupun satwa liar lainnya dengan sedikit catatan kecil tak luput dari perhatian ranger selama patroli.

Setiap ranger menempuh perjalanan 10 kilometer, bahkan lebih dengan keadaan jalur yang tak semuanya mendatar. Ranger harus mendaki dua atau tiga bukit dan sesekali bonus jalan mendatar setelah itu jalur batu-batuan dan anak sungai sudah menanti. Pohon-pohon yang rapat dengan duri-duri yang menggelantung bahkan daun yang jika tersentuh kulit menyebabkan gatal yang luar biasa harus menjadi kewaspadaan tersendiri bagi para ranger yang ikut patroli. Ditambah si imut nan basah yang siap ikut berjalan bersama sembari menghisap darah di sela-sela jari kaki. Jika kamu suka tantangan… tentu perjalanan menjadi ranger akan menjadi pengalamanmu yang tak terlupakan!

Kelelahan didukung damainya hutan sulit sekali untuk menghindari tidur siang usai makan siang. Mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata sejenak walau hanya beralaskan daun kering dan batu-batuan sungai. Tentu saja, tetap ada yang terjaga dengan kamera siap mengabadikan momen yang ada, tak terkecuali saat ranger terlelap. (Ipeh_Orangufriends)

MERAWAT KAKI SAAT DI SUNGAI

Kebetulan sekali, hari ini, Bit dan dua ranger lainnya sedang mendapat jatah libur monitoring. Libur bukan berarti berdiam diri, “Malah sakit semua badanku nanti.”, ujar Bit. Bit pun mengajak Steven dan Bayu untuk membersihkan mesin ketinting dan mesin generator. “Merawat inventaris itu wajib.”, kata Bit lagi. Maklum saja, perahu menjadi transportasi utama dan satu-satunya. Pergi ke kampung, mengangkut logistik dan memancing ikan untuk lauk pun juga tak bisa dilakukan tanpa ketinting dan mesin generator adalah sumber listrik satu-satunya di camp Lejak.

Steven mengeluarkan mesin ketinting dengan bantuan Bayu. Lalu Bit membersihkan setiap bagian mesin, mengeluarkan oli lama dan menggantinya dengan oli baru. Selepas itu, Bit kembali memastikan tidak ada yang bermasalah dengan mesin ketinting. Baut-baut yang kendor dengan cepat dirapatkan kembali. Tak ketinggalan, mengecek fungsi kipas.

Lalu, Steven dan Bayu memasang kembali mesin ketinting dan mencobanya. Mesin dihidupkan dan perahu dijalankan hingga ke hulu sungai. “Aman!”, teriak Steven dari kejauhan sambal memberi isyarat kepada Bit bahwa mesin ketinting dalam kondisi bagus. Mesin sudah oke, giliran perahu ‘Way Back Home’ yang mendapat perawatan. Steven pun mengajak yang lainnya untuk memandikan perahu. “Seru!!!”. (REZ)

60 TYPES OF FRUITS ARE WAITING FOR ORANGUTAN’S HELP

For one month after the release of Novi and Leci orangutans, the APE Guardian team has identified 84 types of fruit trees. 80% of them are are natural orangutan food. When orangutans eat fruits in the forest, they will become an distribution agent of the fruit trees in the forest.

Lets say Novi is eating rambutan forest, and shortly after he moves, explores, and finally rests after walking for about 2 kms. In between, he, he poops. The seeds from the fruits he ate can not be digested and eventually came out with the feces.

In the afternoon, Novi begin to break the twigs, braiding them to become a nest throughout the night. the fallen leaves looks scattered on the ground mixed with dirt. In the morning, the sun starts to break through the forest canopy trying to reach the forest floor to grow sprouts in lieu of old, dead trees.

Without orangutans, it is almost impossible for the sunlight to reach the ground to help the sprouts grow. Without orangutans, it is impossible for fruit tree seeds to spread. Yes… the forests needs orangutans to enrich them. (SAR)

60 JENIS BUAH MENANTIKAN BANTUAN ORANGUTAN
Selama satu bulan sejak pelepasan orangutan Novi dan Leci, tim APE Guardian sudah mengidentifikasi 84 jenis pohon buah. 80% nya merupakan pakan orangutan. Jadi saat orangutan memakan buah-buahan yang tersedia di hutan ini, orangutan pun mulai menjadi agen persebaran buah tersebut.

Sebut saja, rambutan hutan yang sedang dimakan Novi, tak lama kemudian, Novi berpindah tempat, menjelajah dan akhirnya beristirahat setelah berjalan sejauh sekitar 2 km. Di sela-sela istirahatnya, Novi berak, biji dari buah-buahan yang dimakannya tidak bisa dicerna dan akhirnya keluar bersama kotorannya.

Sore harinya, Novi mulai mematah-matahkan ranting, menjalinnya untuk dijadikan sarang sepanjang malamnya. Guguran daun-daun terlihat berserakan di lantai hutan bercampur dengan kotoran. Saat pagi dan matahari mulai menerobos di antara kanopi hutan berusaha mencapai lantai hutan untuk menumbuhkan tunas-tunas sebagai pengganti pohon-pohon yang tua dan mati.

Tanpa orangutan, hampir tak mungkin sinar matahari yang sangat dibutuhkan tunas-tunas tersebut sampai di lantai hutan. Tanpa orangutan tak mungkin biji-biji pohon buah itu berpindah tempat. Ya… hutan butuh orangutan untuk memperkaya dirinya.

ALUMNI COP SCHOOL MENJADI TIM MONITORING ORANGUTAN

Sekolah tahunan yang diselenggarakan oleh Centre for Orangutan Protection menelurkan bibit penggiat konservasi baru. Ada Reza Dwi Kurniawan alumni COP School Batch 5, Lafizatun Azizah alumni COP School Batch 6, drh. Felisitas Flora dan Pasianus Idam yang merupakan alumni COP School Batch 7 serta Widi Nursanti alumni COP School Batch 8. Mereka berempat bahu membahu dan tinggal jauh dari sinyal dan hiruk pikuk kota. Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) saat ini menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu untuk membantu proses monitoring pelepasliaran orangutan yang dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Timur dibantu oleh COP.

Ini adalah hal yang sangat membanggakan ketika para alumni sekolahan COP berkumpul dan bekerja bersama untuk membantu menyelamatkan orangutan dan hutan tersisa di Kalimantan Timur. Ini sebuah regenerasi yang berhasil ketika individu muda baru tumbuh dan berkembang dalam aktivitas penyelamatan keanekaragaman hayati Indonesia.”, ujar Daniek Hendarto, kepala sekolah COP School terdahulu.

Kegiatan mereka di HLSL cukup padat, bersama para ranger mereka bekerja dari pagi hingga malam menjelang untuk menjelajahi hutan, mengawasi orangutan. Di malam hari, pekerjaan mereka belum usai, Ipeh panggilan akrab Lafizatun Azizah bersama Widi memastikan data rekap monitoring dan dokumentasi terarsip baik dan terekap dengan lengkap dalam catatan mereka. Paianus Idam memastikan data peta dari GPS tercatat dengan sempurna. Sementara drh. Flora mengevaluasi kemungkinan tindakan medis jika diperlukan orangutan. Secapek apapun mereka, pelaporan tetap dilakukan. Ditemani kopi dan teh panas dengan obrolan bagaimana pacet menghisap darah hingga jatuh terperosok di kubangan lumpur babi hutan menjadi bumbu segar sebelum mereka merebahkan diri, tidur. (NIK)

NOVI AND HIS MOST FAVORITE FRUIT

Novi, the male orangutan ex-rehab, often makes the monitoring team into chaos. After not being tracked for nearly two weeks after the release, Novi showed up his existence by hanging on a tree. Then the next two days the team lost his track again. Furthermore, two days later the team was surprised by Novi’s appearance around where the team saw him at the last time.

Novi continues to be seen swinging here and there in the Kenari tree (species of Sapindaceae or soapberry family). “Novi loves the Kenari very much,” said Yusak, one of our rangers who was filling out the orangutan food form. It can be proven by the form. From the early minutes Yusak noted, Novi ate a lot of Kenari fruits.

Apparently, Novi likes the sweet-sour taste of the fruit. The monitoring team also try Kenari fruit to fulfill their curiosity. Once there was a Kenari dropped by Novi from a 20-meters tree, someone rushed to pick it up. The first bite made Widi’s face shrink. “I thought it was sweet, but it is very sour,” said Widi, the APE Guardian team volunteer. No wonder why, Novi dropped the unripe fruit. This fruit looks like almonds with white flesh in it. If it is unripe, the skin color is green. But when it is ripe, the skin color turns black and the flavor is a little sweet.

Novi did not want to get away from Kenari trees. For several times Novi was observed making nests near that tree. “Maybe after waking up Novi will immediately eat Kenari,” thought the ranger. Apparently, the prediction went true. From 05.00 WITA the team monitored Novi, the orangutan came out from the nest. As soon as he woke up, he immediately rushed to swing towards the Kenari tree.

Rangers were optimistic that Novi could be an agent in regenerating forests, after finding that Novi’s feces are mixed with dozens of Kenari seeds, scattered far away from the main tree. (IND)

BUAH KENARI KESUKAAN NOVI
Individu orangutan jantan bernama Novi ini memang kerap membuat tim monitoring kalang kabut. Setelah tidak terpantau jejaknya hampir selama dua pekan paska rilis, Novi kembali menunjukkan eksistensinya dengan bergelantungan di pohon. lalu dua hari berikutnya tim kembali kehilangan jejaknya. Selanjutnya, selang dua hari tim dibuat terkejut dengan kemunculan Novi di sekitar lokasi terakhir tim kehilangan jejak Novi.

Novi terus terlihat berayun kesana kemari di pohon kenari. “Ternyata si Novi ini suka buah kenari,” ucap Yusak salah seorang ranger yang tengah mengisi form pakan orangutan. Bagaimana tidak, dari menit awal Yusak mencatat, Novi banyak sekali makan buah kenari.

Rupanya, Novi suka rasa manis masam buah itu. Sampai-sampai membuat tim monitoring ingin mencicipi rasa buah kenari. Begitu ada buah kenari yang dijatuhkan Novi dari ketinggian pohon sekitar 20 meter, ada yang bergegas mengambilnya. Gigitan pertama membuat wajah Widi mengkerut. “Kukira manis, ternyata rasanya masam,” ungkap Widi relawan Tim APE Guardian. Pantas saja masam, ternyata Novi menjatuhkan buah kenari yang belum matang. Buah yang bentuknya mirip kacang almond ini, memiliki daging berwarna putih di dalamnya. Jika belum matang warna kulitnya hijau, begitu buahnya matang warna kulitnya berubah menjadi hitam dan ada tambahan rasa sedikit manis.

Saking doyan dan suka dengan buah ini, Novi tak ingin jauh-jauh dari pohon kenari. Beberapa kali Novi terpantau membuat sarang di dekat pohon kenari. “Mungkin setelah bangun tidur Novi bisa langsung makan buah kenari,” pikir para ranger. Ternyata perkiraan itu tidak meleset. Dari pukul 05.00 WITA tim memantau Novi yang kala itu masih mendekam di sarang, begitu terbangun Novi langsung bergegas berayun menuju pohon kenari.

Para ranger optimis bahwa Novi bisa menjadi agen dalam meregenerasi hutan, setelah menemukan kotoran Novi bercampur dengan puluhan biji kenari tercecer jauh dari pohon induknya. (REZ)

HAPPY TO BECOME A RANGER IN APE GUARDIAN

APE Guardian is a name of the team with a heavy responsibility: to secure our orangutan release area. Physical and mental strength is obviously the main requirement to be able to join this team. There are some training to support the APE Guardian task, one of them is shooting practice. Who is shot? With what? What for?

APE Guardian needs to ensure the post-rehab orangutans can survive in the forest until they are truly wild. This process certainly has lots of obstacles. The orangutans have a possibility to experience unwanted things such as illness, malnutrition or injury. If it happened, the rescue must be done.

Vet Flora began with the introduction of all the rescue equipment. First, how to prepare anesthesia/dart bullets when the rescue process is going. All team members had the opportunity to practice how to prepare bullets that already contained drugs until they were ready to be shot.

Then, the shooting practice was given with targets that resembled the size of orangutans. Everyone has the chance to have 3 shots. The 2 best shooters who have the highest score will enter the final and will get the chance to shoot 5 times. A small tournament has taken place because it concerns shooters’ pride. Understandably, they were all animal hunters. But now, they are the guardian of the forest and all the animals living in.

The final between Yacang and Steven is inevitable. Both of these rangers really compete to get APE Guardian’s main shooter position. And finally, Steven managed to get more score. This activity really made the ranger fresh after a month full of patrolling the forest. (IND)

SERUNYA JADI RANGER DI APE GUARDIAN
APE Guardian, nama tim yang bertugas mengamankan kawasan pelepasliaran orangutan ini punya tanggung jawab yang berat. Fisik dan mental yang kuat tentu saja jadi syarat utama untuk bisa bergabung di tim ini. Selanjutnya ada pelatihan bersama untuk mendukung tugas APE Guardian ini, salah satunya latihan menembak. Menembak siapa? Dengan apa? Untuk apa?

Tim APE Guardian adalah tim yang bertugas memastikan orangutan pelepasliaran dapat bertahan hidup sampai benar-benar liar. Proses ini tentu bukan tanpa halangan, selama itu mungkin saja orangutan tersebut mengalami hal-hal yang tidak diinginkan seperti sakit, malnutrisi atau terluka. Kalau sudah begitu, usaha penyelamatan mau tidak mau harus dilakukan.

drh. Felisitas Flora mengawalinya dengan pengenalan perlengkapan penyelamatan. Pertama, bagaimana menyiapkan peluru bius/dart ketika proses rescue berjalan. Seluruh anggota tim mendapat kesempatan mempraktekkan bagaimana menyiapkan peluru yang sudah berisi obat bius sampai dengan siap untuk ditembakkan. Kemudian praktek menembak diberikan dengan sasaran yang menyerupai ukuran orangutan dengan nilai-nilai berdasarkan tempat sasaran. Setiap orang memiliki kesempatan 3 kali tembakan. 2 penembak terbaik yang memiliki nilai tertinggi akan masuk final dan akan mendapatkan kesempatan menembak sebanyak 5 kali. Sesaat telah terjadi turnamen kecil, karena ini menyangkut harga diri penembak. Maklum saja, mereka semua dulunya adalah pemburu hewan. Tapi kini, jadi penjaga hutan dan isinya.

Final antara Yacang dan Steven tak bisa dihindari lagi. Kedua ranger ini benar-benar bersaing ketat untuk mendapatkan posisi penembak utama APE Guardian. Dan akhirnya Steven berhasil memperoleh nilai lebih banyak. Kegiatan kali ini benar-benar membuat para ranger segar setelah sebulan penuh patroli kawasan hutan. (REZ)

NOVI OBSERVED BY APE GUARDIAN

After two weeks of Novi and Leci released, finally we found Novi tracks. Leftover and canopy openings lead the APE Guardian team, whose duty is monitoring the released orangutan, way to meet Novi. The team then recorded Novi’s behaviour every 5 minutes, no more per 10 minutes.

Filling out the form with 10 minutes interval was still lacking in showing the behaviour progress of the released orangutans. Starting on Nov 20, the team agreed to reduce the time interval in recording the orangutans behaviour from 10 minutes interval to 5 minutes interval. The team needs to be more focused on observing the orangutan’s behaviour and write it down.

“Leech attacks often disrupt our concentration, but the note-taking business still has to be done. What is Novi eating, on what kind of tree and what diameter of the tree he’s on and at what height he’s on, should be recorded properly. Our monitoring team’s duty is to ensure Novi can survive in nature after all these years being in the COP Borneo orangutan rehabilitation centre.”. said Reza Setiawan, coordinator of APE Guardian team.

Then, what about Leci? Since day one, after 3 hours of monitoring, Leci has had disappear from our view. “The lively Leci was like blending with the winds, soundless and trackless.”, said Widi, a volunteer of APE Guardian team with amazement. (SAR)

NOVI KEMBALI TERPANTAU APE GUARDIAN
Setelah dua minggu pelepasliaran orangutan Novi dan Leci, akhirnya kami menemukan kembali jejak Novi. Sisa-sisa makanan dan bukaan kanopi mengantarkan tim APE Guardian COP yang bertugas memantau orangutan pelepasliaran berjumpa kembali dengan Novi. Tim pun kembali mencatat perilaku Novi per lima menit tidak lagi per sepuluh menit.

Pengisian form yang awalnya memiliki interval waktu 10 menit ternyata masih kurang untuk menunjukkan progres perilaku para orangutan pelepasliaran. Mulai 20 November, tim sepakat untuk memperkecil interval waktu pengisian form monitoring dari 10 menit menjadi 5 menit. Tim dituntut untuk semakin fokus memperhatikan prilaku orangutan dan mencatatnya.

“Serangan pacet sering mengganggu konsentrasi kami, tapi urusan catat mencatat tetap harus jalan. Novi sedang makan apa, berada di pohon apa dengan diameter berapa, di ketinggian berapa harus tercatat dengan baik. Kami tim monitoring bertugas memastikan, Novi bisa bertahan hidup di alam setelah bertahun-tahun berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.”, ujar Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian.

Lalu bagaimana dengan Leci? Sejak hari pertama, setelah tiga jam dalam pantauan, Leci sudah menghilang dari pandangan kami. “Si lincah Leci seperti menyatu dengan hembusan dedauan, tanpa suara dan jejak.”, ujar Widi, relawan tim APE Guardian dengan takjub. (REZ)

EVEN STONES ARE ENTERTAINMENTS FOR THE RANGER

Playground does not only belong to children. These well-built but soft-hearted forest guards also love to play. Every forest guard, that usually called as ranger, must obey the agreed rules that one of which is to not bring any smartphones. The rules made in order to focus their attention only on the forest activities. Smartphone can distract the team attention from surroundings through games or music player. “It’s impossible to connect to social media, even telephone network is not available there. “ said Ipeh, a volunteer of APE Guardian team. Then, what will they do on break time?

Creek is rangers’s favorite place to hang, refill water, lunch, coffee break, or even play. Really? Stones around the river are their entertainment. How come? One of them pick 3 stones up then threw it up and catch it in one after another. They were also stacked stones or rock balancing or also known as gravity glue. When break time is up, they will race to throw stones to the pile of rocks at a certain distance. After that, laughter started their afternoon patrol. it’s simple, isnt it?

The rangers are the forest guards who stand on the front line. Because of them, the forest is secured and maintained. Why the forest have to be protected? Today, it’s not only houses or offices that require security but also forests. Guarding a forest is even more difficult, no fences as a border, no signals to communicate if something happens. Rangers keep all the natural wealth in the forest safe. And rangers also need entertainment, like playing stones. Have you ever played stones? If yes, give your comments! (SAR)

BATU PUN MENJADI HIBURAN BAGI RANGER
Dunia bermain tak hanya milik anak-anak. Tak terkecuali para penjaga hutan berbadan tegap namun berhati lembut ini. Setiap penjaga hutan atau ranger harus mematuhi peraturan yang telah disepakati, salah satunya adalah tidak boleh membawa smartphone. Tujuannya adalah agar kita fokus untuk kegiatan di hutan, sebab jika ada smartphone dapat dipastikan akan ada yang bermain game atau mendengarkan musik sehingga mengabaikan keadaan sekitar. “Kalau untuk ber-media sosial itu sih tidak mungkin, signal telepon saja tidak ada.”, ujar Ipeh, relawan tim APE Guardian. Lalu apa yang dilakukan para penjaga hutan saat istirahat?

Anak sungai adalah tempat favorit para ranger untuk beristirahat, mengisi ulang kebutuhan air, tempat makan atau coffee break bahkan bermain. Serius? Batu-batu yang tersebar di sungai adalah hiburan tersendiri buat para ranger. Bagaimana mungkin? Salah satu ranger memungut 3 batu lalu melemparkannya ke atas lalu akan ditangkap dengan bergantian. Ada pula yang mengambil lalu menyusunnya, bahasa kerennya rock balance ada juga yang menyebutnya garvity glue. Setelah waktu istirahat berakhir… mereka akan berebutan mengenai batu yang telah disusun dengan batu dalam jarak tertentu. Selanjutnya gelak tawa pun mengawali patroli siang mereka. Sederhana ya…!

Para ranger adalah para penjaga hutan yang berada di garis depan. Berkat merekalah keamanan hutan terjaga. Kenapa sih hutan harus dijaga? Zaman sekarang, tak hanya perumahan atau perkantoran saja yang memerlukan penjagaan, tapi hutan pun. Bahkan menjaga hutan jauh lebih sulit, tak ada pagar yang mengelilingi, tak ada jaringan telepon yang bisa menembus komunikasi jika terjadi sesuatu, ya pada para ranger lah, kekayaan hutan bisa terjaga. Dan para ranger juga butuh hiburan, yang dengan bermain batu tadi. Kamu pernah bermain batukah? Kalau ya… berikan komentarmu! (IPEH_Orangufriends)

A HUT FULL OF WASTE WAS FOUND IN THE MIDDLE OF PROTECTED FOREST

This morning, two volunteers in the APE Guardian or the orangutan release monitoring team were preparing to enter the forest again. “This time we go earlier”, said Widi, one of the volunteer. This is the tenth-day orangutan Novi and Leci are released into their habitat. “Actually, if we meet the orangutans, we still haven’t determined how to react, whether we run away or dare to observe them”, added Widi.

Widi is a volunteer who participates in the release of orangutans in Berau, East Kalimantan. Just being physically strong isn’t enough to be a volunteer. They also must have strong mentally, especially in the forest where there is no electricity, telephone signal, and no internet.

After walking for 2 hours going up and down deep into the forest, the team found plastic trash. “One… two… and more and many more! Then we found a hut in a protected forest! This is crazy! Humans left all of their trashes here!” said Widi in anger. Plastics of instant noodles, cigarettes, snacks, flour are scattered everywhere. Even some clothes are left behind. Bottles of herbal drink are also laying in a big amount. (IND)

PONDOK PENUH SAMPAH DI TENGAH HUTAN LINDUNG
Pagi ini seperti pagi kemarin. Kedua relawan tim APE Guardian atau tim monitoring pelepasliaran orangutan sudah bersiap masuk hutan kembali. “Kali ini lebih pagi.”, ujar Widi. Ini adalah hari kesepuluh orangutan Novi dan Leci dilepasliarkan ke habitatnya. Sudah sepuluh hari juga kami belum berjumpa dengan mereka lagi. “Sesungguhnya, kalau berjumpa juga kami masih belum menentukan sikap, apakah berlari menjauh atau memberanikan diri mengamati mereka.”, tambah Widi lagi.

Widi adalah relawan yang mengajukan diri untuk ikut pelepasliaran orangutan di Berau, Kalimantan Timur. Fisik saja tidak cukup katanya untuk menjadi seorang relawan. Apalagi di hutan yang tidak ada signal telepon konon internet. Sudah pasti mental kudu kuat. Tapi itu pula yang membuat hari ini penuh kemarahan, berhari-hari tinggal di hutan harus bertemu jejak manusia yang bernama sampah .

Setelah berjalan selama 2 jam dengan medan yang naik turun, tim menemukan sampah plastik. “Satu… dua… dan semakin banyak! Dan sebuah pondok di hutan lindung! Gila… manusia meninggalkan jejak dengan sampahnya!”, geram Widi. Plastik mi instan, rokok, cemilan, tepung tercecer dimana-mana, bahkan bekas pakaian sengaja dibiarkan tertinggal dengan jumlah yang tidak sedikit. Sisa-sisa botol minuman jamu pun tergeletak begitu saja. (WIDI_Orangufriends)

Page 1 of 612345...Last »