UNYIL SURVIVES AFTER THE RELEASE IN THE HABITAT

Unyil, an orangutan with his background evacuated from the bathroom of a resident in Muara Wahau, East Kalimantan has been released back to his new habitat on April 11, 2019. In his remarks the Head of Collaborative Information Data, Ir. Eded Suryadi, MM said that the Dipterokarpa Forest Ecosystem Research and Development Center (B2P2EHD) is very concerned about the existence of orangutans and their ecosystems. All parties are expected to be able to provide support to the COP in order to continue to handle Orangutan Protection.

KHDTK (Special Purpose Forest Area) for the Labanan Research Forest is located in Berau district, East Kalimantan which is managed by B2P2EHD since 2014 in collaboration with the Orangutan Rescue and Rehabilitation Development. “Orangutan protection from extinction is our shared responsibility. Luckily we got a location where the best rainforests of Kalimantan are located. Forest schools are a favourite place for small orangutans to practice growing their instincts, “said Daniek Hendarto, action manager for the Center for Orangutan Protection.

For three months after the release of Unyil, the APE Guardian team (orangutan release monitoring team) recorded to have met the orangutan four times. Unyil looks capable of surviving in its new habitat. “He seems to lose his weight, but that is a natural thing. These three months will certainly be a difficult time and a very liberating period. Unyil also looks like he doesn’t like to meet the team. Good job Unyil! “, Said Reza Kurniawan, COP Borneo manager, Berau, East Kalimantan.(EBO)

UNYIL BERTAHAN SETELAH PELEPASLIARAN DI HABITAT BARUNYA

Unyil, orangutan dengan latar belakang dievakuasi dari kamar mandi seorang warga di Muara Wahau, Kalimantan Timur telah dilepasliarkan kembali ke habitatnya yang baru pada 11 April 2019. Dalam sambutan Kepala Bidang Data Informasi Kerjasama Ir. Eded Suryadi, MM mengatakan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) sangat peduli pada keberadaan orangutan dan ekosistemnya. Semua kalangan diharapkan dapat memberikan dukungan  pada COP agar dapat terus menangani Perlindungan Orangutan.

KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) untuk Hutan Penelitian Labanan berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang dikelola oleh B2P2EHD ini sudah sejak tahun 2014 bekerjasama untuk Pembangunan Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan. “Perlindungan Orangutan dari kepunahan adalah tanggung jawab kita bersama. Beruntung sekali kami dapat lokasi dimana hutan hujan terbaik Kalimantan berada. Sekolah Hutan menjadi tempat favorit orangutan kecil untuk berlatih menumbuhkan instingnya.”, ujar Daniek Hendarto, manajer aksi Centre for Orangutan Protection. 

Selama tiga bulan setelah pelepasliaran Unyil, tim APE Guardian (tim monitoring pelepasliaran orangutan) tercatat berjumpa sebanyak empat kali. Unyil terlihat mampu bertahan di habitatnya yang baru. “Dia terlihat kehilangan bobotnya, tapi itu adalah hal yang wajar. Tiga bulan ini tentu menjadi masa sulit sekaliguskan masa yang sangat membebaskan. Unyil juga terlihat tidak suka bertemu dengan tim. Good job Unyil!”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur.

UNTUNG’S NEST NEAR THE APE GUARDIAN CAMP

A peaceful afternoon was struck by the sound of something falling in the bathroom. All reflexes immediately tried to look to find out where the sound came from. The APE Guardian team found a messy bathroom, the shower was no longer in place and the shampoo condition was running out. Widi and Wan’s wardrobe opened with contents littered with the smell of very stinging dirt from the bedroom.

“Oh, my God! This must be the orangutans! ” While looking for the orangutan that has made a chaotic afternoon in the monitoring camp, Reza continued to sniff out the existence of orangutans. It was getting dark, the team was busy turning on the generator set. When we let our guard down, the orangutans went back into the kitchen by gouging wood vents. The condition of the kitchen is really like a broken ship. All food supplies are scattered and run out. Chicken eggshells are on the bed of the lower room, it seems the perpetrator is satisfied to ravage the kitchen and enjoy eggs while on the mattress. The smell of dirt and urine is everywhere. And … Untung looking at us from the tree with satisfaction!

Upset and angry! The team began to hush Untung away. But it seems that Untung still wants to play with us. That night, he made a simple nest, just above the hut. We were busy cleaning and tidying the camp. Arghhh … but the smell of the male orangutan filled the camp. Nobody fell asleep … a frustrating day. 

Untung is an orangutan from a zoo. His fingers are not perfect, but does not mean preventing him from becoming a wild orangutan. Untung managed to survive and become an ex-rehabilitation orangutan. His presence in the destruction this time seemed to be a form of resentment. “Well, Untung, soon we will completely disappear from you. Good luck untung! ” (EBO)

SARANG UNTUNG DEKAT CAMP APE GUARDIAN

Siang hari yang damai dikejutkan suara sesuatu terjatuh di kamar mandi. Refleks semuanya langsung mencoba melihat untuk mencari tahu asal suara. Tim APE Guardian menemukan kamar mandi yang berantakan, alat mandi tak lagi di tempatnya dan kondisi shampo terbuka habis. Lemari baju Widi dan Wan terbuka dengan isi yang berserakan dengan bau kotoran yang sangat menyengat dari kamar tidur.

“Ya … Tuhan! Ini pasti ulah orangutan!”. Sambil mencari-cari sosok orangutan pelaku kekacauan di camp monitoring, Reza terus mengendus keberadaan orangutan. Hari mulai gelap, tim sibuk menyalakan genset. Saat kami lengah, kembali orangutan masuk ke dapur dengan mencongkel kayu lubang angin. Kondisi dapur benar-benar seperti kapal pecah. Seluruh persediaan makanan berhamburan dan habis. Kulit telur ayam berada di atas kasur kamar bawah, sepertinya si pelaku dengan puas memporak-porandakan dapur dan menikmati telur sembari di atas kasur. Bau kotoran dan air seni dimana-mana. Dan… Untung memandang kami dari atas pohon dengan puas!

Kesal dan marah! Tim mulai mengusir Untung. Namun sepertinya Untung masih ingin mempermainkan kami. Malam itu, dia membuat sarang ala kadarnya, tepat di atas pondok. Kami pun sibuk membersihkan dan merapikan camp. Arghhh… tapi bau orangutan jantan Untung memenuhi camp. Tak seorang pun tertidur… hari yang mengesalkan.

Orangutan Untung adalah orangutan dari kebun binatang. Jari-jari Untung yang tak sempurna, bukan berarti menghambatnya menjadi orangutan liar. Untung berhasil bertahan dan menjadi orangutan ex-rehabilitasi. Kehadirannya dalam perusakan kali ini sepertinya sebagai bentuk kekesalannya. “Baiklah Untung, tak lama lagi kami akan benar-benar menghilang dari hadapanmu. Goodluck Untung!”. (REZ)

A CLOSE ENCOUNTER

Unyil has disappeared again. Let alone Untung, whose existence is still unknown since the second day of monitoring. The team has searched the location but has not found him. To help finding them the team agreed to install trap cameras around the location where both of them disappeared.

The debate began, because not all rangers were good at climbing trees to install cameras. 

Fortunately, the ranger who is usually called Marison managed to set the camera trap at an altitude of more than 20 meters. The way he climbed was just like a wild  orangutan that made him got praises.

Every day the monitoring team evaluates daily results to plan monitoring the following day. This time, the team searched at the river. Two hours walking, the team also rested on the river bank while enjoying a cup of coffee prepared by the logistics team.

Suddenly, one of the rangers shouted, “Woy … Untung !!!” Spontaneous all turned back and Untung was already 1 meter behind. Some ran to the right, some to the left, and even towards the river. The team were shocked. Slowly Untung began to climb trees and glared. The team packed up and immediately followed Untung from behind. Sure this time will not lose Untung, but then he just disappeared.

After disappearing for 14 days, Untung began to show the development of good adaptation. He no longer pursues humans. (EBO)

KEMUNCULAN UNTUNG MENGANGETKAN RANGER

Unyil kembali menghilang, apalagi Untung yang sejak hari kedua monitoring belum diketahui keberadaannya. Penyisiran lokasi secara berpencar sudah, namun tim belum menemukan keberadaan keduanya. Sebagai alat bantu sembali melakukan penyisiran lokasi, tim sepakat untuk memasang kamrea jebak di sekitar lokasi keduanya menghilang.

Perdebatan pun di mulai, karena tidak semua ranger lihai memanjat pohon untuk memasang kamera. Untunglah, ranger yang biasa dipanggil Marison berhasil memansang kamera jebak di ketinggian lebih dari 20 meter. Gerakannya memanjat seperti orangutan liar membuatnya banjir pujian.

Setiap hari tim monitoring mengevaluasi hasil harian untuk merencakan pemantauan hari berikutnya. Kali ini, tim menyisir aliran sungai. Dua jam berjalan, tim pun beristirahat di pinggir sungai sambil menikmati secangkir kopi yang telah dipersiapkan tim logistik. 

Tiba-tiba, salah seorang ranger berteriak, “Woy.. Untung!!!”. Spontan semuanya menoleh ke belakang dan Untung sudah berada tepat 1 meter di belakang. Ada yang berlari ke kanan, kekiri bahkan ke arah sungai. Kaget bukan main rasanya. Perlahan Untung mulai memanjat pohon dan melotot. Tim pun berkemas dan segera membututi Untung dari belakang. Yakin kali ini tidak akan kehilangan Untung, namun jejaknya kali ini, hilang begitu saja.

Setelah menghilang selama 14 hari, Untung mulai menunjukkan perkembangan adaptasi yang baik. Ia tak lagi mengejar manusia. 

 

THE APE GUARDIAN SPOTTED UNYIL IN THE RIVER

Losing orangutan tracks during post-release monitoring is normal. The next agenda will definitely start from the last point we lost it. A day, two days has passed until a week later the team finally saw Unyil the orangutan. Unyil was seen relaxing in a creek. 

The distance between the team and the orangutan tells whether the orangutan is aware of the existence of the team, or the team managed to record all orangutan activities completely. For this encounter, it turned out that the team was still too close, Unyil was aware of APE Guardian’s existence, the team that is responsible for the release of orangutans. Unyil, who has the ability to walk on the ground quickly, looked angry and chased the team. The team was made helpless. “Confronting Unyil is really exhausting. It’s better to run than to be hit or even bitten by Unyil. That will be a nightmare.”, said Bit, one of the rangers who participated.

After running far enough, the team began to turn around, observe and look for Unyil again. Again, the team lost track of Unyil. “It looks like Unyil is watching us.” Unyil is an orangutan who was illegally cared for by someone in Muara Wahau, East Kalimantan. He was treated like a human in terms of diet, even fed like a human child. However, Unyil was still kept in a 50 cm wooden box. And the cage was put in the bathroom.

The caregiver’s love for Unyil is wrong. Orangutan is a wildlife that protected by law. Its role is far more important in nature, than living in a citizen’s bathroom. We thanked the caregiver’s understanding to hand over Unyil to be rehabilitated. Help COP to save other Unyils. For more information, contact email info@orangutanprotection.com  (EBO)

APE GUARDIAN BERTEMU UNYIL DI SUNGAI

Kehilangan jejak orangutan saat monitoring paska pelepasliaran menjadi sesuatu yang lumrah. Agenda selanjutnya pasti dimulai dari titik kehilangan tersebut. Satu, dua bahkan seminggu kemudian tim akhirnya bertemu orangutan Unyil. Unyil terlihat sedang bersantai di anak sungai.

Jarak tim dengan orangutan menjadi penentu, apakah orangutan menyadari keberadaan tim atau tim berhasil mencatat semua aktivitas orangutan dengan lengkap. Untuk perjumpaan kali ini, ternyata tim masih terlalu dekat, Unyil menyadari keberadaan APE Guardian, tim yang bertanggung jawab pada orangutan pelepasliaran. Khusus untuk Unyil yang memiliki kemampuan berjalan di tanah dengan cepat, tim harus berlari menghindar dari kejaran Unyil yang terlihat marah. Tim dibuat loyo. “Menghadapi Unyil benar-benar menguras tenaga. Lebih baik lari daripada terpukul orangutan bahkan tergigit Unyil. Itu akan jadi mimpi buruk.”, ujar Bit, salah satu ranger yang ikut.

Setelah berlari cukup jauh, tim mulai berbalik arah, mengamati dan mencari Unyil lagi. Lagi-lagi, tim kehilangan jejak Unyil. “Sepertinya Unyil mengamati kami.”. Unyil adalah orangutan yang dipelihara seseorang secara ilegal di Muara Wahau, Kalimantan Timur. Dia diperlakukan seperti manusia dalam artian makan makanan manusia, bahkan disuapi seperti anak manusia.  Namun, Unyil tetap dimasukkan dalam kotak kayu berukuran 50 cm. Dan kandang tersebut dimasukkan ke dalam kamar mandi. 

Kecintaan pemelihara pada Unyil menjadi keliru. Unyil adalah orangutan yang merupakan satwa liar yang dilindungi. Perannya jauh lebih penting di alam, dibandingkan hidup di kamar mandi warga. Terimakasih atas pengertian pemelihara Unyil untuk menyerahkan Unyil direhabilitasi. Bantu COP untuk menyelamatkan Unyil-Unyil yang lain. Untuk informasi lebih lanjut hubungi email info@orangutanprotection.com (WID)

UNTUNG SURVIVES IN HIS HABITAT

Fruit season is the best time to release orangutan to its habitat. However, it does not last forever. The season will also end and change. When it ends it will be a difficult time for the released orangutans.

Untung and Unyil are rehabilitated orangutans that released back to their habitat. We are quite satisfied with the release point in early April 2019. Trees around the release point were bearing fruit and abundant food. As natural food gets fewer, Untung and Unyil are seen moving to explore the forest which is a new habitat for both.

“Both orangutans are seen eating young leaves, tree cambium and occasional ant nests.”, Said Reza Kurniawan, primate expert at the Center for Orangutan Protection. Found in separate places, both Untung and Unyil frequently drink in the creek. Untung was also seen eating young flowers and leaves around the creek. “We call it water apple,” said Yosep Wan, the ranger who filled the orangutan feed data. The trees are not high and the flowers are abundant, making Untung liked to spend a long time in the river. Untung ate it heartily, the flowers he chewed sounded so delicious.

Only around 4 pm, the team lost track of Untung again. Untung ran away from the rangers because he avoided bees that attacked him. He grabbed a tree branch quickly and moved from one tree to another, until the team could no longer see him. (EBO)

UNTUNG BERTAHAN HIDUP DI HABITAT BARUNYA

Musim buah adalah masa yang paling tepat untuk melepasliarkan orangutan rehabilitasi. Namun, itu tidak bisa berlangsung sepanjang waktu. Musim buah juga akan berhenti dan berganti. Saat itu akan menjadi masa yang sulit bagi orangutan rehabilitasi.

Untung dan Unyil adalah orangutan rehabilitasi yang dilepasliarkan kembali ke habitatnya, cukup puas dengan titik pelepasliaran di awal April 2019. Pohon-pohon di sekitar titik pelepasliaran sedang berbuah dan makanan melimpah. Seiring semakin menipisnya pakan alami, Untung dan Unyil terlihat bergerak menjelajah hutan yang merupakan habitat baru untuk keduanya. 

“Kedua orangutan terlihat makan daun muda, kambium pohon dan sesekali sarang semut.”, ujar Reza Kurniawan, ahli primata Centre for Orangutan Protection. Ditemukan dalam tempat terpisah, baik Untung maupun Unyil memperbanyak minum di anak sungai. Untung juga tercatat makan bunga dan daun-daun muda di sekitaran anak sungai. “Kalau kami menyebutnya jambu air.”, kata Yosep Wan, ranger yang mengisi data pakan orangutan. Pohonnya yang tidak tinggi dan bunganya yang melimpah membuat Untung betah berlama-lama di sungai. Saking lahapnya Untung makan, bunga yang dikunyahnya terdengar begitu lezat.

Baru sekitar pukul 16.00 WITA, tim kehilangan jejak Untung lagi. Untung berlari menjauhi ranger karena menghindari kawanan lebah yang telah menyerangnya. Ia meraih ranting pohon dengan cepatnya dan berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya, sampai tim tak lagi bisa melihat batang hidungnya. (WID)

APE GUARDIANS RAN FRANTICALLY

Monitoring or observing orangutan activities after the release of Untung and Unyil this time, really made the team almost gave up. These two orangutans have made the monitoring team run in chaos. We call this team the APE Guardian team.

When the release, APE Guardian team for Untung first informed us that Untung’s cage had been opened. Only 420 meters away, the APE Guardian for Unyil team gave a signal, Unyil’s cage was ready to be opened. As predicted earlier, both Untung and Unyil ran towards the tree and climbed it. But not long after that, Untung climbed down and began chasing. As soon as possible, the monitoring team and even the transporting cage carriers ran away from Untung.

“It’s normal for orangutans who have undergone the rehabilitation process to still follow humans. They only need to go through adaptation again in a new environment, where humans are no longer friends, but something they must avoid. “, Said Reza Kurniawan, a primatologist at the Center for Orangutan Protection.

The APE Guardian team worked hard to avoid Untung and Unyil. Including jumping into a creek with depths of more than 1 meter. Of course they hoped that these two orangutans would be reluctant to chase. “Damn, they are not afraid of water,” said Yusak, one of the rangers.

Already soaked in the creek, still we have to run because of being chased by orangutans. The sky began to darken, Untung and Unyil seemed tired of playing chases. Unyil climbed into the tree and soon no visible movement from him, but Untung was still playing on the ground even though he was no longer chasing. “Monitoring these two orangutans is really physical draining.” (EBO)

APE GUARDIAN LARI KALANG KABUT

Monitoring atau kegiatan memantau orangutan setelah pelepasliaran orangutan Untung dan Unyil kali ini, benar-benar membuat tim nyaris angkat tangan. Kedua orangutan ini membuat tim patroli kalang kabut berlarian. Kami menyebut tim ini sebagai tim APE Guardian.

Tim APE Guardian orangutan Untung terlebih dahulu menginformasikan, kandang Untung telah dibuka. Hanya berjarak 420 meter, tim APE Guardian orangutan Unyil memberi aba-aba, kandang Unyil siap dibuka. Seperti prediksi sebelumnya, baik Untung maupun Unyil berlari menuju pohon dan memanjatnya. Tapi tak berapa lama kemudian, Untung turun dan mulai mengejar. Secepatnya, tim monitoring bahkan tukang pikul kandang angkut lari terbirit-birit untuk menghindari kejaran Untung.

“Ini hal yang biasa bagi individu orangutan yang telah menjalani proses rehabilitasi masih terlihat mengikuti manusia. Mereka hanya perlu melalui adaptasi lagi di lingkungan yang baru, dimana manusia bukanlah teman lagi, tapi adalah sesuatu yang harus dihindarinya.”, ujar Reza Kurniawan, primatologis Centre for Orangutan Protection. 

Tim APE Guardian bekerja keras untuk mengurangi intesitas kejaran Untung maupun Unyil. Salah satunya dengan menyeburkan diri di anak sungai yang kedalamannya lebih dari 1 meter. Tentu saja harapannya agar kedua orangutan rehabilitasi ini enggan mengejar. “Sial, mereka tidak takut air.”, ujar Yusak salah satu ranger.

Sudah basah kuyup karena monitoring orangutan sambil berendam di anak sungai masih saja harus berlari karena dikejar orangutan. Langit mulai gelap, Untung dan Unyil namaknya sudah bosan bermain kejar-kejaran. Unyil naik ke pohon dan mulai tidak ada pergerakan, namun Untung masih bermain di tanah meski tak lagi mengejar. “Monitoring kedua orangutan ini sungguh menguras fisik.”. (WID)

 

GOOD BYE UNTUNG AND UNYIL!

When both of the transport cage doors are lifted, the two orangutans come out and reach for the nearest tree to climb. Untung and Unyil returned to their habitat and have overwhelmed the APE Guardian COP team.

Thursday, April 11, 2019 is still nine days to commemorate Earth Day. Two orangutans were released by East Kalimantan BKSDA, Dipterokarpa and Center for Orangutan Protection in Berau, East Kalimantan. A number of invited guests from the Berau Environmental Office, OWT, Kelay Koramil and Lesan Dayak Chief participated in witnessing the release this time. Luckily, the APE Guardian COP team immediately evacuated guests to leave the release site. “Untung suddenly came down from the tree and chased the team that was carrying an empty transport cage. We immediately ran away. “, Said Hery Susanto, while catching his breath. It turned out that the sound of the transport cage was enough to disturb Untung, which made Untung turned around and chased them.

While Unyil’s cage was opened by Mr. Aganto Seno from KSDA SKW I Berau. Unyil, who was worried to approach the team, was the opposite. Immediately he climbed the tree and move from one tree to another. The APE Guardian team that will monitor Unyil orangutans at their new home will keep their distance further because of Unyil’s habit to occasionally approach the team. Both are still monitored and are adapting to their new environment. 

Releases have different stories  when the cage door is opened. “We believe, every wildlife has an instinct to survive. Rehabilitation efforts will never be in vain. The dream of returning to habitat is not just wishful thinking. Thank you for the support of all parties that have enabled each individual orangutan to return to their habitat, from rescue, rehabilitation to release. A better life for orangutans, “said Reza Kurniawan, Center for Orangutan Protection optimistically. (EBO)

SELAMAT TINGGAL UNTUNG DAN UNYIL!

Saat kedua pintu kandang angkut diangkat, keduanya pun keluar dan meraih pohon terdekat untuk dipanjat. Untung dan Unyil kembali ke habitatnya dan membuat tim APE Guardian COP kewalahan.

Kamis, 11 April 2019 masih sembilan hari lagi peringatan Hari Bumi. Dua orangutan dilepasliarkan kembali oleh BKSDA Kaltim, Dipterokarpa dan Centre for Orangutan Protection di Berau, Kalimantan Timur. Beberapa tamu undangan dari Dinas Lingkungan Hidup Berau, OWT, Koramil Kelay dan Kepala Adat Lesan Dayak ikut menjadi saksi pelepasliaran kali ini. Beruntung sekali, tim APE Guardian COP segera mengevakuasi para tamu untuk meninggalkan tempat pelepasliaran. “Untung tiba-tiba saja turun dari pohon dan mengejar tim yang membawa kandang angkut kosong. Kami langsung lari tunggang langgang.”, ujar Hery Susanto sambil mengatur nafasnya kembali. Ternyata suara kandang angkut cukup menganggu Untung, hingga Untung berbalik arah dan mengejar tim.

Sementara kandang orangutan Unyil dibuka oleh Pak Aganto Seno dari KSDA SKW I Berau. Unyil yang sempat dikawatirkan mendekati tim, malah sebaliknya. Segera naik ke atas pohon dan berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Tim APE Guardian yang akan memantau orangutan Unyil di rumahnya yang baru ini sengaja menjaga jarak lebih jauh, karena kebiasaan Unyil yang sesekali mendekati tim dulunya. Keduanya masih terpantau dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pelepasliaran punya cerita yang berbeda saat pintu kandang dibuka. “Kami percaya, setiap satwa liar memiliki insting untuk bertahan hidup. Usaha rehabilitasi tidak akan pernah sia-sia. Mimpi untuk kembali ke habitat bukan sekedar angan-angan. Terimakasih atas dukungan semua pihak yang telah memungkinkan setiap individu orangutan kembali ke habitatnya, mulai dari penyelamatan, rehabilitasi hingga pelepasliaran. Kehidupan yang lebih baik untuk orangutan.”, ujar Reza Kurniawan, Centre for Orangutan Protection dengan optimis.

APE GUARDIAN ARE PREPARED FOR UNYIL AND UNTUNG

The release day for Unyil and Untung orangutans is getting closer. The APE Guardian team is responsible for examining several points to facilitate the release process. Many considerations to determine this location. One of them is the weight of the cage that will be carried to reach that point, besides of course the location is quite safe so that orangutans can survive in their first days and so on.

The character of the orangutan to be released is another determinant. Like Unyil, who loves water and Untung who loves coconut. It’s quite complicated if you have to fulfil all this. The team debated to find best solution.

Pathways, weight of cages, availability of natural food and location security are finally priorities that cannot be negotiated. The release team’s physical fitness must also be improved because they must continuously monitor the orangutans after being released. Team logistics must also be considered.
So, releasing orangutans is not only the work of one person, not the work of one institution. The release of orangutans is a joint work for Indonesian orangutans.(EBO)

APE GUARDIAN BERSIAP UNTUK UNYIL DAN UNTUNG
Hari pelepasliaran orangutan Unyil dan Untung semakin dekat. Tim APE Guardian yang bertanggung jawab mencoba beberapa titik untuk mempermudah proses pelepasliaran. Banyak pertimbangan untuk menentukan titik tersebut. Salah satunya, beratnya kandang yang akan dipikul untuk mencapai titik tersebut, selain tentu saja titik cukup aman sehingga orangutan dapat survive dihari-hari pertamanya dan seterusnya.

Karakter orangutan yang akan dilepasliarkan juga menjadi salah satu penentu titik yang akan digunakan. Seperti orangutan Unyil yang sangat menyukai air dan orangutan Untung yang sangat menyukai kelapa. Cukup rumit jika harus memenuhi ini semua. Sampai akhirnya tim pun berdebat.

Jalur, berat kandang, ketersediaan pakan alami dan keamanan lokasi akhirnya menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar lagi. Fisik tim pelepasliaran pun harus ditingkatkan karena tim harus terus memonitor orangutan setelah dilepasliarkan. Logistik tim juga harus diperhatikan.

Jadi, melepasliarkan orangutan bukan hanya kerja satu orang, bukan pula kerja satu lembaga. Pelepasliaran orangutan adalah kerja bersama untuk orangutan Indonesia.

ORANGUTAN SANCTUARY FULL OF DURIAN TREES

Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary is a place for resting orangutans that cannot be released back into their habitat. Orangutans who have been in contact with humans for too long and lose their ability as wild orangutans also deserve a good life, live without bars. These orangutans can also try to live like wild orangutans but with limited roaming area.

Before these orangutans got the chance, the APE Guardian team explored and get data about the island. “The first time I set foot I found a red durian fell on the ground. It turned out that not only one, but there were eight pieces scattered on the ground and the team became busy opening the red durian, “said Widhi, COP volunteers who participated. This has made the survey process for fruit tree species on the island then slowed down.

The availability of fruit feed for orangutans on this island is quite abundant. Besides red durian, commonly called laung by local residents, we can find green prickly durians too. The team also found krutungan, a small green-skinned durian with the size of only two human fists.

“We hope that this orangutan island can be a home for those who cannot return to their habitat.”, said Reza Kurniawan, APE Guardian COP coordinator. “Hopefully this dream can be realized. We ask for help from all parties, orangutans are the pride of Indonesia.”. (EBO)

SANCTUARY ORANGUTAN PENUH POHON DURIAN
Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary adalah sebuah tempat peristirahatan orangutan yang tak bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Yaitu orangutan yang sudah terlalu lama bersentuhan dengan manusia dan kehilangan kemampuannya sebagai orangutan liar yang juga berhak untuk mendapatkan kehidupan yang baik, hidup tanpa jeruji besi. Orangutan-orangutan ini juga bisa mencoba hidup seperti orangutan liar dengan daya jelajah terbatas.

Sebelum orangutan-orangutan ini mendapatkan kesempatan itu, tim APE Guardian menjajaki dan mendata pulau ini. “Pertama kali menapakkan kaki saja sudah menemukan buah durian merah yang terjatuh. Ternyata tak hanya satu, tapi ada delapan buah berserakan di tanah dan tim pun menjadi sibuk membuka durian merah tersebut.”, ujar Widhi, relawan COP yang ikut. Rencana survei spesies pohon buah di pulau pun tersendat.

Ketersediaan pakan buah bagi orangutan di pulau ini bisa dibilang cukup berlimpah. Selain durian merah atau biasa disebut warga setempat dengan laung, kita bisa menjumpai durian berduri hijau juga. Tim juga menemukan durian mungil berkulit dan berduri hijau yang besarnya hanya sebesar dua kepalan telapak tangan manusia dengan nama lokalnya krutungan.

“Kami berharap, pulau orangutan ini bisa menjadi rumah untuk mereka yang tak bisa kembali ke habitatnya.”, harap Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian COP. “Semoga mimpi ini bisa terwujud. Mohon bantuan semua pihak, orangutan adalah kebanggaan Indonesia.”. (Widhi_COPSchool8)

LET’S ENJOY COFFEE IN THE MIDDLE OF FORESTS

Who said “coffee break” only applies at a formal meeting? It also happens in the forest. We pause our activity after monitoring orangutans, or after hours of walking to track orangutans. Then we take “coffee break”. We stop for a moment, relieving fatigue and thirst. Even without sweet cakes to balance the bitter of the coffee, “coffee break” remains the sweetest activity for all rangers.

“Break!” Don’t be surprised you heard this sound in the forest. On the riverside, one thermos of black coffee is shared with separate sugars. Each ranger has a different taste of sweetness. After the coffee and sugar entering the glass, just remember that the spoon is left in the camp. So, how could we stir the coffee without a spoon? The rangers use wood branches to stir and add flavor.

Spending time with small talk and jokes, the “coffee break” was always followed by laughter. In fact, with a glass of black coffee and a little chat, the fatigue we felt was gone. Being a ranger takes a lot of physical energy because you have to walk in the forest with difficult terrain. “Let’s go”, said one of the ranger to end the “coffee break”. We continue to patrol with a new passion. (IND)

NIKMATNYA NGOPI DI TENGAH HUTAN
Siapa bilang istilah “coffee break” hanya berlaku di sebuah acara pertemuan formal. Istilah tersebut juga berlaku di hutan. Benar-benar di tengah hutan. Sesaat saja, berhenti sejenak dari monitoring orangutan, atau setelah berjam-jam berjalan menelusuri jejak orangutan. Maka “coffee break” pun berlaku. Sambil melepas penat dan dahaga walau tanpa kue manis lawan pahitnya kopi, tapi “coffee break” tetap menjadi bagian termanis bagi para ranger.

“Break”! Jangan sampai kaget jika di sunyinya hutan terdengar kata ini. Seperti biasa, di pinggiran anak sungai, satu termos kopi hitam dibagi rata, dengan gula yang terpisah. Tiap ranger punya rasa yang berbeda. Setelah gula masuk ke dalam segelas kopi, baru ingat kalau sendok tidak terbawa. Karena sendok tak jadi ngopi? Masih ada ranting kayu untuk mengaduk, ini akan menambah citarasa.

Diselipi dengan obrolan ringan dan candaan, “coffee break” pun selalu diikuti gelak tawa para ranger. Nyatanya, dengan segelas kopi hitam dan sedikit obrolan, penat yang dirasakan ranger pun menyusut. Wajar saja, menjadi ranger banyak menguras tenaga fisik karena harus berjalan di hutan dengan medan yang tidak mudah. “Lanjut”, sahut salah seorang ranger untuk mengakhiri “coffee break”. Patroli lagi dengan semangat terbaru. (REZ)

Page 1 of 712345...Last »