APE DEFENDER SCHOOL VISIT DI SEKOLAH ANAK HIMALAYAN

Masih ada satu hari yang tersisa di kota Kathmandu, Nepal. Rencana dadakan, saya akan bercerita tentang orangutan dan primata lainnya kepada siswa-siswa di Sekolah Anak Himalaya atau Shree Mangal Dvip Boarding School. Seluruh siswa yang ada di sekitar Bouddha Nath berasal dari anak-anak yang berada di wilayah Himalaya. Mereka difasilitasi dan tidak dipungut biaya.

Hanya berjarak 30 menit dari kota Kahtmandu, saya pun bercerita sekitar 1 jam dihadapan 50 siswa yang terdiri dari kelas 5 sampai 10. Pertanyaan saya tentang orangutan? 90% siswa bahkan belum pernah mendengar orangutan. Tapi ini membuat saya semakin bersemangat karena mereka akan menjadi tahu, siapa itu orangutan.

Lewat foto-foto satwa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya seperti kukang, tarsius, lutung dan primata lainnya menjadikan kunjungan kali ini berbeda sekali. Bahkan buah-buahan yang menjadi makanan orangutan pun menjadi begitu menarik dibicarakan. Indonesia itu unik dan kaya.

“Beruntung sekali bertemu relawan sekolah ini yang mengajak saya berbagi cerita tentang orangutan. Ayo jangan sia-siakan waktu mu. Orangutan Indonesia inginkan kamu menceritakannya. Semakin banyak yang mengenalnya… semakin banyak yang bisa membantunya. Orangutan tidak hanya tinggal ceita.”, ujar Reza Kurniawan dengan semangat. (REZ)

ASIA FOR ANIMALS CONFERENCE KATHMANDU 2017

Konferensi dua tahunan Asia For Animals tahun 2017 dilaksanakan di kota Kathmandu, Nepal dari tanggal 2-5 Desember. Centre for Orangutan Protection mempresentasikan konflik yang terjadi di COP Borneo. “Sebenernya sih kita hanya dikasih waktu 5 menit untuk presentasi.”, jelas Reza. “Tapi karena masih ada kelebihan waktu, akhirnya saya manfaatkan untuk menceritakan COP lebih banyak lagi.”.

Pada kesempatan ini, COP juga memasang poster di marketplace yang disediakan panitia. Poster yang dipasang adalah tentang COP School, sekolah konservasi orangutan yang sudah berjalan selama tujuh tahun.

“Ini adalah konferensi internasional saya yang pertama kali. Benar-benar membuka mata wawasan saya. Bertemu teman baru dari organisasi lain. Ini adalah saatnya building networking.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

APE DEFENDER MERAWAT ORANGUTAN MOLI DAN BAYINYA

Informasi kelahiran bayi orangutan di Taman Satwa Gunung Bayan Lestari yang membutuhkan bantuan tim medis COP Borneo sempat membuat panik tim. Flora, dokter hewan yang baru bertugas segera berangkat bersama koordinator pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk tindakan medis. Setelah sehari semalam perjalanan, akhirnya tim tiba di lokasi dan mendapati induk dan bayi orangutan dalam kondisi yang cukup baik namun membutuhkan perhatian.

Orangutan Moli namanya. Usai melahirkan bayi Aldo mengalami penurunan nafsu makan. “Tepatnya, sudah tiga hari ini setelah pada tanggal 11 November 2017 melahirkan, Moli tidak mau makan.”, ujar drh. Gunawan. Tim APE Defender segera menganalisis kondisi Moli dan Aldo.

Flora dengan cermat membenahi pemberian pakan Moli. Variasi jenis makanan diatur, mulai dari buah hingga sayuran bahkan serangga. Orangutan Moli memang pemilih dalam hal makanan, hal ini sudah terjadi sejak Moli belum melahirkan, sehingga paska melahirkan semakin memperburuk pilihan makanannya. Tercatat, Moli menyukai kangkung, sehingga drh. Flora akan menambahkan takaran kangkung saat pemberian pakan Moli. Pengamatan cara makan Moli yang hanya memakan sedikit makanan yang disediakan juga ikut mengubah ritme pakannya. Moli diberikan makanan dalam sehari sebanyak empat kali. Susu yang awalnya tak disentuhnya bahkan dibuang-buang Moli, saat ini Moli sangat lahap saat menerima susu. “Susu, kuning telur, kangkung, jeruk, daging kelapa dan buah-buahan lainnya segera habis walau harus dibantu.”, ujar drh. Flora senang.

Kekawatiran tim bahwa Moli tak mau merawat anaknya pun sirna. Moli selalu menggendong Aldo dan terlihat menyusuinya. “Hingga saat ini, kondisi induk normal dan aktif. Insting sebagai seorang ibu juga sangat baik. Kondisi bayi Aldo juga normal.”, ujar drh. Flora dengan senyum bahagia.

WE HAVE RESCUED HIM

A team from COP and Wildlife Authority have rescued and translocate orangutan him to a conservation forest. There are another 3 orangutans in the same location need to be rescued also.
Please don’t forget to donate through http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

WE SEND A TEAM

Media sosial kembali dihebohkan dengan orangutan yang terlihat berada di pinggir jalan di Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah Berau memutuskan untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Siang, 7 Juli 2017, empat orang COP dengan 2 orang staf BKSDA SKW 1 Berau meluncur ke lokasi.

Semoga kami beruntung!
Bantu kami dengan berdonasi melalui http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

ORANGUTAN BEG FOR FOOD

Begging for food by street as forest keep going for oil palm plantation in Borneo.
Menurutmu, pantaskah si raja rimba Kalimantan, ikon konservasi alam Indonesia ini menjadi pengemis di pinggir jalan demi perutnya? Apakah hutan yang tersisa sudah tidak cukup memberikan pakan pengganjal perut?
#conflictpalmoil

OKI PINDAH KE KANDANG KARANTINA

COP Borneo bersiap untuk melepasliarkan kembali orangutannya. Tahap demi tahap dilalui dengan kerja keras seluruh tim COP Borneo. Juni 2017, satu orangutan dipindahkan dari pulau pra-pelepasliaran ke kandang karantina. Pemindahan ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali kesehatan orangutan secara menyeluruh sebelum dirilis.

Rencana hari ini, ada dua orangutan yang akan dipindahkan. Kedua kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan tahun ini adalah Nigel dan Oki. Tapi kondisi air sungai yang naik, ditambah orangutan Hercules yang saat itu sangat mengganggu tim, akhirnya tim medis memutuskan hanya satu individu orangutan yang ditarik terlebih dahulu dari pulau, yaitu Oki. Jadwal untuk memindahkan Nigel akan diatur kembali.

Bantu kami menyelesaikan proses rehabilitasi orangutan di COP Borneo dengan memberikan bantuan lewat http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Bersama… kita pasti bisa! (WET)

COP AND MINISTRY OF FORESTRY ASSESS SAMARINDA ZOO

This zoo have be to closed down soon due to mismanagement. Ironically, many others being proposed and waiting for approval from Ministry of Forestry. COP with the support from With Compassion and Soul is the only group In Indonesia who work directly to assist ex site conservation institutions to improve the welfare of the animals as well as campaigning to close down them that technically could not be improved. At least 12 zoos have been assisted and 4 zoos have been closed down. 

Most zoos in Indonesia are wrongly managed in every level and facing serious problem with the animal welfare issues. Lacking technical capacity and corruption are among the key problems. The zoo investors, mostly local governments believe that zoo is good investment. In fact, it is a heavily cost industry. Several zoos are involved in illegal wildlife trade.

Kebun binatang Samarinda yang berada di jalur tol yang menghubungkan kota Balikpapan dengan Samarinda dibongkar paksa oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada 28 Maret 2017 yang lalu.

Ini berdampak pada satwa yang menghuni kebun binatang yang dikelola oleh PT Samarinda Golden Prima ini. Terdapat 7 Merak Hijau, 1 Jalak Bali, 3 Rangkong Putih, 8 Kakak Tua, 3 ekor Kangkareng, 8 Elang, 5 Burung Hantu, 3 Ayam Hutan, 3 Musang pandan, 2 Kijang, 2 Kucing Hutan, 1 Tarsius, 1 Macan Dahan, 3 Beruang Madu, 3 Orangutan, 8 Owa-owa, 1 Bulus dan 32 Buaya Muara.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA SKW 1 Berau akan mengevakuasi sebagian satwa yang ada untuk direhabilitasi dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

HAPPI FEEL SLEEPY IN THE MIDDLE FOREST SCHOOL

Seperti bayi manusia yang lebih banyak tidur, ternyata bayi orangutan bernama Happi ini pun tertidur kelelahan di saat sekolah hutan berlangsung. Tidak perduli ada dimana dalam posisi seperti apa, Happi akan tidur dimana saja dia suka. Sayang, dia tertidur bukan dalam pelukan ibunya.

Happi adalah orangutan yang masuk Pusat Rehabilitasi COP Borneo pada 30 Agustus 2016 yang lalu. Belum juga satu tahun usianya, dia sudah harus sampai ke tangan manusia. Menurut Herman Rijksen dan Erik Meijard dalam bukunya  Di Ambang Kepunahan, “satu induk yang mati terbunuh mewakili setidaknya 2 – 10 orangutan yang mati terbunuh.”.

Memasuki semester pertama Happi di COP Borneo, dia menjadi orangutan yang dicari Popi. Happi juga yang mendekati Popi saat Popi menangis. Happi akan memeluk Popi, menenangkannya, pinga Popi berhenti menangis. “Tangisan bayi-bayi orangutan memang menyayat hati yang mendengarkannya. Tapi pada siapa lagi mereka bergantung untuk bisa bertahan hidup.”, ujar Wety dengan sedih. Wety adalah baby sister COP Borneo. “Melihat bayi-bayi ini tumbuh dan berkembang sungguh luar biasa. Dan bahagia sekali saat mereka mulai mandiri.”, tambahnya. Masih panjang perjalanan bayi-bayi ini untuk kembali ke habitatnya. Dukungan moral dan materi sungguh sangat berarti. Hubungi email kami di info@orangutanprotection.com untuk memberikan bantuan.

MENGENAL SI ISENG OWI LEBIH DEKAT

Kali ini kita akan berkenalan dengan Owi. Orangutan Owi adalah salah satu siswa sekolah hutan yang berada di pusat réhabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Owi yang masih berusia 2 tahun ini ditemukan pekerja di area perkebunan kelapa sawit. Karena kasihan, pekerja membawanya dan Owi akhirnya dipelihara oleh seorang tentara di daerah Tenggarong. Beruntungnya, Owi akhirnya diserahkan ke COP Borneo dan mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup liar. Sebagai siswa, Owi mengikuti program sekolah hutan. Bayi orangutan tanpa induk ini, tak hanya sendirian. Bersama dua siswa yang lain yang seumurannya, dia berlatih dan bermain.

Owi memang berbeda dengan orangutan yang lain. “Kocak, hingga sering membuat kami tertawa.”, ujar Danel. Owi memang sangat lucu sekaligus paling nakal diantara Bonti dan Happi yang hampir seumuran dengannya. Owi juga sangat rakus dan tak ragu-ragu merampas makanan temannya yang lain. Tak hanya itu, Owi juga sangat iseng dengan menggoda animal keeper yang mengawasinya bahkan menggigit animal keeper saat sekolah hutan berlangsung. Tapi tak hanya animal keeper yang pernah digigitnya, kedua temannya yang selalu mengikutinya juga pernah digigitnya, karena kesal diikuti terus. “Mungkin saat itu ingin privasinya tidak diganggu.”, kata Danel serius.

Owi juga yang paling sulit dipanggil turun saat sekolah hutan harus berakhir. Owi masih asik bermain dan belum puas. Terpaksa animal keeper Jhony memanjat pohon dan menjemputnya. Tapi, jika Owi sudah bosan di atas pohon, dia akan turun dengan sendirinya. (DANEL_COPBorneo).

Page 4 of 7« First...23456...Last »