WHEN BABY BITES LANDED SMOOTHLY (2)

An orangutan baby named Alouise was only 1 year old, but his fearful attitude was shown by biting all the humans who tried to approach him, including the medical team. At the beginning of his arrival he looked very scared. Even his body trembles. Although he has been adapted at the arrival quarantine enclosure and is getting used to the presence of orangutan nurses. But still when invited out to the playground area, he was still very scared and biting.

The bite is also different from the other eight baby orangutans. The bite is very strong and long, different from Popi and Mary who bite only to threaten. Alouise’s baby bite is enough to make the skin peel and turn blue for more than 3 days.

Because of Alouise’s nature, who is still afraid of the orangutan nurse, the medical team is looking for orangutan companion for him. A companion who can be a foster parent so that Alouise becomes comfortable. The choice fell on Septi. In the past, Septi had been a foster parent for Popi. Now, Septi is back as a foster parent for Alouise.

Hopefully baby Alouise’s can reduce the trauma huh … (EBO)

SAAT GIGITAN BAYI MENDARAT DENGAN MULUS (2)

Bayi orangutan bernama Alouise baru berumur 1 tahun, namun sikap takutnya ditunjukkan dengan menggigit semua manusia yang berusaha mendekatinya, tak terkecuali tim medis. Awal kedatangan memang dia terlihat sangat takut. Bahkan badannya bergetar. Meskipun telah diadaptasikan di kandang karantina kedatangan dan mulai terbiasa dengan kehadiran perawat orangutan. Namun tetap saja saat diajak keluar ke area playground, dia masih sangat takut dan menggigit.

Gigitannya juga berbeda dengan kedelapan bayi orangutan lainnya. Gigitannya sangat kuat dan lama, beda dengan Popi dan Mary yang menggigit hanya untuk mengancam. Gigitan bayi Alouise cukup untuk membuat kulit terkelupas dan membiru selama lebih dari 3 hari.

Karena sifat bayi Alouise yang masih takut dengan perawat orangutan, tim medis mencarikan pendamping orangutan untuknya. Pendamping yang bisa menjadi induk asuh agar Alouise menjadi nyaman. Pilihan jatuh pada orangutan Septi. Dulu, Septi pernah menjadi induk asuh untuk orangutan Popi. Kini, Septi kembali menjadi induk asuh untuk Alouise. 

Semoga bayi Alouise bisa mengurangi traumanya ya… (FLO)

LEMANG JELLY FOR ORANGUTAN

Have you ever eaten lemang? Glutinous rice which is put into bamboo and cooked by burning the bamboo? In Berau, East Kalimantan we call it lemang, while in Toraja, South Sulawesi it’s called Piong Bo’bo. What is it called in other regions?

Well, specifically at the COP Borneo orangutan rehabilitation center in Berau, East Kalimantan, there is a food called ‘Lemang Jelly’. Actually it depends on the contents. This time the lemongrass is filled with jelly mixed with several pieces of fruit, eggs and banana stems. According to nutritionists, banana tree trunks contain various nutrients such as tannin, sugar, vitamins A, B, C, starch saponins, potassium, serotine, hydrocytitamine and norepinephrine. The benefits of banana stems which are rich in fiber are certainly good for orangutan intestinal health.

How does it taste? To be sure, orangutans really enjoy this jelly lemang … until the last jelly slice. Especially when they find an egg in it. Sure … they won’t want to let go of this special lemang. (EBO)

LEMANG JELLY UNTUK ORANGUTAN

Sudah pernah makan lemang? Beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dimasak dengan cara dibakar? Lemang namanya kalau di Berau, Kalimantan Timur, sementara kalau di tanah Toraja, Sulawesi Selatan disebut pa Piong Bo’bo. Kalau di daerah lain disebut apa ya?

Nah, khusus di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang terletak di Berau, Kalimantan Timur ada makanan yang namanya ‘Lemang Jelly’. Sebenarnya tergantung isinya. Kali ini lemangnya diisi dengan jelly yang dicampur dengan beberapa potongan buah, telur dan juga batang pisang. Menurut ahli gizi, batang pohon pisang mengandung berbagai nutrisi seperti tanin, gula, vitamin A, B, C, saponin zat tepung, kalium, serotin, hidrokitiptamin dan neropinefrin. Manfaat dari batang pisang yang kaya akan serat ini tentunya baik untuk kesehatan usus orangutan. 

Rasanya bagaimana ya? Yang pasti, orangutan terlihat sangat menikmati lemang jelly ini… hingga potongan jelly paling akhir. Apalagi saat mereka menemukan sebutir telur di dalamnya. Yakin… mereka tidak akan mau melepaskan lemang istimewa ini. (FLO)

HERCULES TRICK, THE BUILDER

How is Hercules? Hercules which was once the largest, dashing and authoritative in the Unmul Samarinda Botanical Garden (KRUS)? Unfortunately, his development is surpassed by orangutans of the same age like Oki and Untung, who have now been released back into their habitat. Then how is he after being withdrawn from the pre-release island of COP Borneo?

Hercules who lost the competition, had to spend his days in the quarantine cage of the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. The medical team tried hard to improve his health which had fallen sharply. But the development of his behavior has not changed much.

Hercules in a cage is not much different from Hercules on the island. Every morning and evening when an animal nurse comes to his cage to feed him, he will try to make a nest from the remains of corn husk in her hammock. Just like on the island when he is about to be fed, Hercules looks busy making nests from the grass around the orangutan feedlot.

“Les … come down Les. cage washing is done. Now it’s time to eat. No need to pretend to build a nest again. “, Said Steven, the animal keeper. Then in a few moment later Hercules came down from his hammock to eat.

Is ‘making a nest’ just a trick from Hercules to get fed? Hmmm … we’ll see. (EBO)

TRIK HERCULES, SI PEMBUAT SARANG

Apakabarnya Hercules? Hercules yang dulunya paling besar, gagah dan berwibawa di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS)? Sayang, perkembangannya didahului orangutan seumurannya seperti Oki bahkan Untung yang kini sudah dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Lalu apakabarnya Hercules setelah penarikannya dari pulau pra-pelepasliaran COP Borneo?

Hercules yang kalah bersaing, harus menghabiskan hari-harinya di kandang karantina pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Tim medis berusaha keras memperbaiki kesehatannya yang sempat merosot tajam. Namun perkembangan tingkah lakunya tak banyak berubah.

Hercules di kandang tidak jauh berbeda dengan Hercules di pulau. Setiap pagi dan sore saat perawat satwa mendatangi kandangnya untuk memberi makan, dia akan berusaha membuat sarang dari sisa-sisa kulit jagung di hammocknya. Sama seperti di pulau saat dia akan diberi makan, Hercules terlihat sibuk membuat sarang dari rumput-rumput yang ada di sekitaran tempat pemberian pakan orangutan.

“Les… turun Les. Cuci kandang sudah selesai. Sekarang waktunya makan. Tidak perlu pura-pura buat sarang lagi.”, sahut Steven, animal keeper yang bertugas. Tak menunggu lama, Hercules pun turun dari hammock untuk makan. 

Apakah ‘membuat sarang’ itu hanya trik Hercules agar diberi makan? Hmmm… kita lihat saja nanti. (FLO)

ALOUISE TOOK REFUGE IN SEPTI

Alouise took part in a forest school class several times. But repeatedly, his behavior made other orangutans avoid him. Such as not wanting to let Annie out of his arms, pulling bigger orangutans until finally no orangutans would want to get close to him. What makes it more difficult is this exclusion made Alouise choose to play alone and stay alone at the forest school location.

His small body and very high climbing ability really made it difficult for animal keepers at the COP Borneo forest school. Alouise seemed to disappear in the thick of the forest school. “If he doesn’t move, we don’t know of his whereabouts,” Jevri said.

After weeks full of drama Alouise did not have friends and stayed at the jungle school finally Alouise could make us breathe a sigh of relief. “We tried to introduce Alouise to Septi, a female orangutan who had been a sister to Popi. Small orangutans do need a protective figure. As the body and age get stronger, he will be more independent later.”, said Reza Kurniawan, the primatologist of orangutans.

Septi accepts and looks after Alouise. “This has been going on for almost 2 weeks, I just saw it once, Alouise played alone, and even then it didn’t last long. When I approached Alouise, he immediately went to Septi, “Jevri said again.

Like mother and baby orangutan, in the wild, children will not play away from their mothers. When there is danger approaching, the orangutan will run to his mother. Like a human child too, who always looks for his mother when she starts feeling alone. Alouise took refuge in Septi. (EBO)

ALOUISE BERLINDUNG PADA SEPTI

Beberapa kali Alouise mengikuti kelas sekolah hutan. Tapi berulang kali, tingkahnya membuat orangutan lainnya menghindar darinya. Mulai dari tak mau melepas Annie dari pelukannya, menarik orangutan yang lebih besar darinya hingga akhirnya tak satupun orangutan mau berdekatan dengannya. Lebih menyulitkan lagi pengucilan ini membuat Alouise memilih bermain sendiri dan menginap sendiri di lokasi sekolah hutan.

Tubuh nya yang kecil dan kemampuan memanjatnya yang sangat tinggi benar-benar menyulitkan para animal keeper di sekolah hutan COP Borneo. Alouise seperti menghilang di lebatnya sekolah hutan. “Jika dia tidak bergerak, ya kita tidak mengetahui keberadaannya.”, ujar Jevri.

Setelah minggu-minggu penuh drama Alouise tidak punya teman dan menginap di sekolah hutan akhirnya Alouise bisa membuat kami bernafas lega. “Kami mencoba mengenalkan Alouise pada Septi, orangutan betina yang pernah menjadi kakak untuk Popi. Orangutan kecil memang membutuhkan sosok pelindung. Seiring usia dan tubuhnya yang semakin kuat, dia akan lebih mandiri nantinya.”, ujar Reza Kurniawan, primatologis orangutan.

Septi pun menerima dan terlihat menjaga Alouise. “Ini sudah berlangsung hampir 2 minggu, saya baru melihat sekali, Alouise bermain sendiri, itupun tidak berlangsung lama. Ketika saya mendekati Alouise, dia langsung beranjak ke badan Septi.”, ujar Jevri lagi. 

Seperti induk dan anak orangutan yang di alam liar, anak tidak akan bermain jauh-jauh dari ibunya. Ketika ada bahaya mendekat, anak orangutan akan berlari ke ibunya. Seperti anak manusia juga, yang selalu mencari ibunya saat mulai merasa sendirian. Alouise berlindung pada Septi. (WET)

WHEN BABY BITES LANDED SMOOTHLY (1)

Bitten by an orangutan baby? How does it feel? Babies are cute, cute and adorable. Are you sure???

There are currently 9 orangutan babies at the Borneo COP Orangutan Rehabilitation Center, Berau, East Kalimantan. Orangutan babies have physical and behavioral characteristics similar to human babies. The difference is that orangutan babies have 10 teeth when they are one year old, including canines. You can imagine when they want to play or feel disturbed and do biting actions, right?

Baby orangutan bites landed smoothly on your skin, this commonly experienced by baby sitters and medical team. Usually, new baby orangutans enter the quarantine cage for the first time. This is an orangutan baby self-defence mechanism.

Orangutan babies experienced past trauma before arriving at the rehabilitation center, when they were forced to escape from their mothers. It could be that the mother was brutally murdered before their eyes. In fact, the orangutan mothers will not part with their children before their children are ready to live their own lives in the forest. The child is separated from the mother when she or he is 6-8 years old. (EBO)

SAAT GIGITAN BAYI MENDARAT DENGAN MULUS (1)

Tergigit bayi orangutan? Bukan tergigit tapi digigit bayi orangutan. Gimana rasanya? Bayi kan lucu, imut dan menggemaskan. Yakin???

Saat ini ada 9 bayi orangutan di pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Bayi orangutan memiliki karakter fisik dan perilaku yang mirip dengen bayi manusia. Bedanya, bayi orangutan sudah mempunyai 10 gigi saat berumur satu tahun termasuk gigi taring. Bisa dibayangkan saat mereka ingin bermain atau merasa terganggu dan melakukan tindakan gigit-menggigit, bukan? 

Kejadian gigitan bayi mendarat dengan mulus sudah biasa dirasakan baby sitter maupun medis. Biasanya, bayi orangutan yang baru masuk ke kandang karantina untuk pertama kalinya. Ini merupakan usaha bayi orangutan mempertahankan diri. 

Trauma masa lalu sebelum bayi orangutan sampai di pusat rehabilitasi, dimana dia secara terpaksa lepas dari induknya. Bisa jadi, induknya dibunuh secara kejam di depan matanya. Faktanya, induk orangutan tidak akan berpisah dengan anaknya sebelum anaknya siap menjalani kehidupan sendiri di hutan. Anak baru terpisah dengan induknya saat berumur 6-8 tahun. (FLO)

ROOM MAKE UP FOR ORANGUTAN

Since the block enclosure was established in 2015 and inhabited by Ambon and Memo, it has never been repainted. Small repairs such as for broken bars or cage floor damage have been carried out periodically. Now, the room make up team will work to improve any defects for the orangutan’s cage.

Limited number of enclosures require continuous planning. When the medical team is ready for their job to check orangutan’s health in this block, the animal keepers prepare for painting, hammock repairs and inspection of the cage. Orangutans prepare to move rooms.

The room make up team who are none other than tireless workers at COP Borneo are ready to sand, paint and make sure the rooms are ready to be occupied. Giving disinfectants is a signal, Ambon the orangutan is welcome to occupy his new room.

“Amazing room make up team!” Hopefully team will always be in good health to able to give new colors to other orangutan rooms. (EBO)

BEDAH KAMAR UNTUK ORANGUTAN

Sejak kandang blok yang dihuni orangutan Ambon dan Memo berdiri di tahun 2015, kadang belum pernah dicat ulang. Perbaikan-perbaikan kecil seperti besi yang putus atau semen lantai kandang yang bolong secara berkala sudah dilakukan. Kini, kehadiran tim bedah kamar orangutan akan bekerja memperbaiki kekurangan yang ada.

Keterbatasan kandang membutuhkan perencanaan yang berkesinambungan. Bagian medis tentu saja siap dengan pekerjaan pemeriksaan kesehatan orangutan di blok ini. Sementara animal keeper bersiap untuk pengecatan, perbaikan hammock dan pemeriksaan kelayakkan kandang. Orangutan bersiap untuk berpindah kamar.

Tim bedah kamar yang tak lain adalah pekerja-pekerja tak kenal lelah di COP Borneo telah siap mengamplas, mengecat dan memastikan kamar siap dihuni. Pemberian disinfektan menjadi isyarat, orangutan Ambon dipersilahkan menempati kamar barunya. 

“Tim bedah kamar yang luar biasa!”. Semoga tim sehat terus agar selalu bisa memberi warna baru di kamar-kamar orangutan lainnya. (FLO)

AMBON WEIGHS 69 KG NOW

Who owns a body weight of almost 70 kg at the Borneo COP orangutan rehabilitation center? That weight of course does not belong to orangutan children who are attending forest school classes. That’s like an adult’s weight. This must belong to an adult orangutan. Who is he? Or maybe it’s an animal keeper!

His handsome face is often admired by many people. It shows his dignity but unfortunately must end up in a cage. Dreams still continue, taking him to an island, where he can freely climb, choose the foods he wants to eat or explore in limited ways.

All know him as the cool Ambon. His eyes always stared pleasantly. His cheek pad often makes anyone who first approaches him back off. With his big body and long hair, we can feel his dominance from a distance.

Today, Ambon underwent an annual health check. Its weight is recorded again. “With the current weight, Ambon looks more agile. Hopefully Ambon will have the opportunity to return to the orangutan island, “said vet Flora, full of hope. (EBO)

BOBOT AMBON SEKARANG 69 KG

Siapakah pemilik berat badan 70 kg kurang 1 kg di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo? Berat segitu, pastinya bukan milik anak-anak orangutan yang sedang mengikuti kelas sekolah hutan. Itu seperti berat badan seorang dewasa. Ini pasti milik orangutan dewasa. Siapakah dia? Jangan-jangan miliknya animal keeper!

Wajah tampannya sering dikagumi banyak orang. Terlihat sekali wibawanya namun sayang harus berakhir di kandang. Mimpi masih terus berlanjut, membawanya ke sebuah pulau, dimana dia bisa dengan bebas memanjat, memilih makanan yang ingin dimakannya atau menjelajah secara terbatas. 

Semua mengenalnya dengan sebutan si kalem Ambon. Matanya selalu menatap dengan ramah. Checkpadnya sering membuat mundur siapapun yang pertama kali mendekatinya. Apalagi tubuh besar dan rambutnya yang gondrong. Dari jauh terasa dominasinya.

Hari ini, Ambon menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan. Beratnya tercatat kembali. “Dengan beratnya yang sekarang, Ambon terlihat lebih lincah. Semoga Ambon berkesempatan kembali ke pulau orangutan.”, ujar drh. Flora penuh harapan. (FLO)

 

APE DEFENDER TAKES CARE OF A GIBBON’S WOUND

This male gibbon has been in the cage of BKSDA SKW I Berau for almost two years. Surprising reports of increasing injuries in his left thigh area made the COP Borneo medical team immediately adjust the schedule of visits. Friday night, April 12, 2019 the APE Defender team examined the gibbon.

From the results of the interim examination, the following day vet Satria anesthetized the gibbon and began cleaning the wound. Many tissues experience necrosis and there is no external bleeding. The wound starts to rot and the peculiar smell of pus indicates that the infection has sharply smelled. The left thigh wound is finally operated on minor to cover the wound. While the wound in the buttocks is treated because it does not allow for surgery.

After evaluating the position of the cage that is too close to the bear cage, the gibbon cage is finally removed under the sapodilla tree but still gets sunlight to avoid humidity at the cage so the wounds are always dry. (EBO)

APE DEFENDER MERAWAT LUKA OWA

Owa jantan ini sudah hampir dua tahun berada kandang BKSDA SKW I Berau. Laporan mengejutkan adanya luka yang semakin besar di daerah paha kirinya membuat tim medis COP Borneo segera menyesuaikan jadwal kunjungan. Jumat malam, 12 April 2019 tim APE Defender memeriksa Owa tersebut.

Dari hasil pemeriksaan sementara, keesokan harinya drh. Satria membius Owa dan mulai membersihkan luka yang sudah cukup lama. Banyak jaringan yang mengalami nekrosis dan sudah tidak terdapat pendarahan eksternal. Luka mulai membusuk dan bau khas nanah yang menandakan sudah terjadi infeksi tercium dengan tajam. Luka di paha kiri akhirnya dioperasi minor untuk menutup luka. Sementara luka di bagian pantat dirawat karena tidak memungkinkan untuk dioperasi. 

Setelah mengevaluasi posisi kandang yang terlalu dekat dengan kandang beruang, kandang owa akhirnya dipindahkan di bawah pohon sawo namun masih mendapat sinar matahari untuk menghindari kandang lembab dan luka dapat cepat kering. Mohon doanya ya… agar Owa bisa pulih.

 

UNYIL AND UNTUNG ARE TAKEN OUT FROM THE ORANGUTAN ISLAND

This morning, the APE Defender team has prepared to take out Untung and Unyil from the orangutan island. Orangutan Island is an island inhabited by orangutan that are ready to be released. Orangutans living on this island, must be able to live with very minimum help from humans. Human intervention is only limited to providing additional food in the morning and evening. The rest, they have to find their own food on the island.

Untung, with his imperfect fingers is able to do the same activities with other orangutans. Physical disability does not prevent him from being released back into his habitat. Since December 2015, Untung has been living on the orangutan island with other male orangutans. Some have been released to the wild, and now it is his turn.

Unyil’s background was raised by residents in a toilet in his house and treated like humans both in terms of diet and behaviour. Finally he got his chance to return to his habitat. His abilities are not as good as other male orangutans on the island of orangutan, Berau, East Kalimantan. But he managed to convince the team, to become a release candidate.

The anesthesia has stuck in Untung’s body. Before it is actually working and makes him fell asleep, Untung climbed a tree, and stayed at a height of 10 meters. Now what? “We are forced to pick him up. Jhonny and Jefri, both climbed the tree quickly, Yes, we must be quick, then carry unconscious Untung. “, Vet Flora reminded the possibility of Untung to regain consciousness. “Untung!!! this is the last time ok. I will not pick up and carry you again!”, Jhonny said a little furiously.

The physical and health checks were again carried out by the medical team. Task division between vet Flora, vet Satria and vet Kiki made this process run fast. After the two orangutans entered the transport cage, the team proceeded by boat. The boat from the Sound For Orangutan charity music also delivered Untung and Unyil to his house. (EBO)

APE DEFENDER MENARIK UNTUNG DAN UNYIL DARI PULAU

Pagi ini, tim APE Defender sudah mempersiapkan diri untuk menarik kembali orangutan Untung dan Unyil dari pulau orangutan. Pulau orangutan adalah pulau yang dihuni para orangutan kandidat pelepasliaran. Orangutan yang tinggal di pulau ini, harus bisa hidup bertahan dengan bantuan manusia seminimal mungkin. Campur tangan manusia hanya sebatas memberi tambahan makanan di pagi dan sore hari. Selebihnya, mereka harus mencari makanan sendiri di pulau.

Untung dengan jari yang tidak sempurna (difabel) mampu melakukan aktivitas yang sama dengan orangutan yang lain. Cacat fisik tak menghalanginya untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sejak Desember 2015, Untung hidup di pulau orangutan bersama orangutan jantan lainnya. Beberapa sudah dilepasliarkan kembali, dan sekarang adalah gilirannya.

Latar belakang Unyil, orangutan yang dipelihara warga di sebuah toilet rumahnya dan mendapat perlakuan seperti manusia baik secara makanan dan tingkah laku akhirnya mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya. Kemampuannya tak sebaik orangutan jantan lainnya di pulau orangutan, Berau, Kalimantan Timur. Tapi dia berhasil menyakinkan tim, untuk menjadi kandidat pelepasliaran. 

Bius sudah menancap di tubuh Untung. Sebelum benar-benar bekerja membuatnya tertidur, Untung memanjat pohon, dan bertahan di ketinggian 10 meter. Bagaimana ini? “Kita terpaksa menjemputnya ke atas. Jhonny dan Jefri, mereka berdua memanjat pohon dengan cepat, Ya harus cepat, lalu menggendong Untung yang tak sadarkan diri.”, drh. Flora mengingatkan kemungkinan Untung untuk sadar kembali. “Untung!!! ini terakhir kalinya ya. Aku tidak akan menjemput dan menggendong kamu lagi!” ujar Jhonny sedikit geram.

Pemeriksaan fisik dan kesehatan kembali dilakukan tim medis. Pembagian tugas drh. Flora, drh. Satria dan drh. Kiki membuat proses ini berjalan dengan cepat. Setelah kedua orangutan masuk kandang angkut, tim melanjutkan perjalanan dengan perahu. Perahu hasil musik amal Sound For Orangutan pun mengantarkan Untung dan Unyil ke rumahnya.

 

MIKI RAN AND DISAPPEARED IN THE DENSE JUNGLE

Since 2011, Miki (the name of a gibbon) had been illegally kept by a resident of Long Beluah, Bulungan, North Kalimantan. During that time Miki never held trees, moved from one tree to another, and even ate his natural diet. Bananas and tomatoes became so familiar to him. Exploring the jungle was a dream that would never be realized.

March 26, 2019, BKSDA Section I East Kalimantan, assisted by the APE Defender COP team took this Bornean Gibbon. “Ten hours of commuting with a hope. What would Miki do when the door to the transport cage is opened? “, Asked vet Satria at Flora Felisitas. “Just wait and see later,” answered Flora.

When the Chief of KSDA Section I, Aganto Seno prepared to go up to the transport cage and open the cage door, there was no sound at all. Slowly the door was lifted. “Gibbons are very agile. Yes, Miki immediately came out and ran… disappeared,” said Pak Seno.

Wild animals live in the forest. Every wildlife has a role. Bornean gibbons are increasingly threatened with extinction with the decreasing forest as their habitat. Bornean Gibbons are typical Borneo animals that is endangered. Bornean gibbons need help from all parties to save them. (EBO)

MIKI PUN BERLARI MENGHILANG DI LEBATNYA HUTAN
Sejak tahun 2011, Miki (nama owa) berada dalam pemeliharaan ilegal seorang warga Long Beluah, Bulungan, Kalimantan Utara. Miki tak pernah lagi memegang pohon, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, bahkan makan makanan alami lainnya. Pisang dan tomat menjadi begitu akrab dengannya. Menjelajah menjadi mimpi yang tak kan pernah terwujud.

26 Maret 2019, BKSDA Seksi I Kalimantan Timur dengan dibantu tim APE Defender COP mengambil Owa Kalimantan ini. “Sepuluh jam perjalanan pulang pergi menjadi harapan tersendiri. Apa yang akan dilakukan Miki saat pintu kandang angkut dibuka ya?”, tanya drh. Satria pada drh Flora Felisitas. “Lihat saja nanti.”, jawab Flora.

Saat Kepala KSDA Seksi I, Aganto Seno bersiap naik ke kandang angkut untuk membuka pintu kandang, tak ada suara sama sekali. Perlahan pintu diangkat. “Owa sangat lincah, ya Miki langsung keluar dan berlari… menghilang.”, ujar pak Seno.

Satwa liar hidupnya di hutan. Setiap satwa liar memiliki peran. Owa Kalimantan semakin terancam punah dengan semakin berkurangnya hutan sebagai habitatnya. Owa Kalimantan adalah satwa khas Kalimantan yang berstatus genting atau endangered. Owa Kalimantan membutuhkan bantuan semua pihak untuk menyelamatkannya. (NIK)

Page 3 of 912345...Last »