ALOUISE TOOK REFUGE IN SEPTI

Alouise took part in a forest school class several times. But repeatedly, his behavior made other orangutans avoid him. Such as not wanting to let Annie out of his arms, pulling bigger orangutans until finally no orangutans would want to get close to him. What makes it more difficult is this exclusion made Alouise choose to play alone and stay alone at the forest school location.

His small body and very high climbing ability really made it difficult for animal keepers at the COP Borneo forest school. Alouise seemed to disappear in the thick of the forest school. “If he doesn’t move, we don’t know of his whereabouts,” Jevri said.

After weeks full of drama Alouise did not have friends and stayed at the jungle school finally Alouise could make us breathe a sigh of relief. “We tried to introduce Alouise to Septi, a female orangutan who had been a sister to Popi. Small orangutans do need a protective figure. As the body and age get stronger, he will be more independent later.”, said Reza Kurniawan, the primatologist of orangutans.

Septi accepts and looks after Alouise. “This has been going on for almost 2 weeks, I just saw it once, Alouise played alone, and even then it didn’t last long. When I approached Alouise, he immediately went to Septi, “Jevri said again.

Like mother and baby orangutan, in the wild, children will not play away from their mothers. When there is danger approaching, the orangutan will run to his mother. Like a human child too, who always looks for his mother when she starts feeling alone. Alouise took refuge in Septi. (EBO)

ALOUISE BERLINDUNG PADA SEPTI

Beberapa kali Alouise mengikuti kelas sekolah hutan. Tapi berulang kali, tingkahnya membuat orangutan lainnya menghindar darinya. Mulai dari tak mau melepas Annie dari pelukannya, menarik orangutan yang lebih besar darinya hingga akhirnya tak satupun orangutan mau berdekatan dengannya. Lebih menyulitkan lagi pengucilan ini membuat Alouise memilih bermain sendiri dan menginap sendiri di lokasi sekolah hutan.

Tubuh nya yang kecil dan kemampuan memanjatnya yang sangat tinggi benar-benar menyulitkan para animal keeper di sekolah hutan COP Borneo. Alouise seperti menghilang di lebatnya sekolah hutan. “Jika dia tidak bergerak, ya kita tidak mengetahui keberadaannya.”, ujar Jevri.

Setelah minggu-minggu penuh drama Alouise tidak punya teman dan menginap di sekolah hutan akhirnya Alouise bisa membuat kami bernafas lega. “Kami mencoba mengenalkan Alouise pada Septi, orangutan betina yang pernah menjadi kakak untuk Popi. Orangutan kecil memang membutuhkan sosok pelindung. Seiring usia dan tubuhnya yang semakin kuat, dia akan lebih mandiri nantinya.”, ujar Reza Kurniawan, primatologis orangutan.

Septi pun menerima dan terlihat menjaga Alouise. “Ini sudah berlangsung hampir 2 minggu, saya baru melihat sekali, Alouise bermain sendiri, itupun tidak berlangsung lama. Ketika saya mendekati Alouise, dia langsung beranjak ke badan Septi.”, ujar Jevri lagi. 

Seperti induk dan anak orangutan yang di alam liar, anak tidak akan bermain jauh-jauh dari ibunya. Ketika ada bahaya mendekat, anak orangutan akan berlari ke ibunya. Seperti anak manusia juga, yang selalu mencari ibunya saat mulai merasa sendirian. Alouise berlindung pada Septi. (WET)

WHEN BABY BITES LANDED SMOOTHLY (1)

Bitten by an orangutan baby? How does it feel? Babies are cute, cute and adorable. Are you sure???

There are currently 9 orangutan babies at the Borneo COP Orangutan Rehabilitation Center, Berau, East Kalimantan. Orangutan babies have physical and behavioral characteristics similar to human babies. The difference is that orangutan babies have 10 teeth when they are one year old, including canines. You can imagine when they want to play or feel disturbed and do biting actions, right?

Baby orangutan bites landed smoothly on your skin, this commonly experienced by baby sitters and medical team. Usually, new baby orangutans enter the quarantine cage for the first time. This is an orangutan baby self-defence mechanism.

Orangutan babies experienced past trauma before arriving at the rehabilitation center, when they were forced to escape from their mothers. It could be that the mother was brutally murdered before their eyes. In fact, the orangutan mothers will not part with their children before their children are ready to live their own lives in the forest. The child is separated from the mother when she or he is 6-8 years old. (EBO)

SAAT GIGITAN BAYI MENDARAT DENGAN MULUS (1)

Tergigit bayi orangutan? Bukan tergigit tapi digigit bayi orangutan. Gimana rasanya? Bayi kan lucu, imut dan menggemaskan. Yakin???

Saat ini ada 9 bayi orangutan di pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Bayi orangutan memiliki karakter fisik dan perilaku yang mirip dengen bayi manusia. Bedanya, bayi orangutan sudah mempunyai 10 gigi saat berumur satu tahun termasuk gigi taring. Bisa dibayangkan saat mereka ingin bermain atau merasa terganggu dan melakukan tindakan gigit-menggigit, bukan? 

Kejadian gigitan bayi mendarat dengan mulus sudah biasa dirasakan baby sitter maupun medis. Biasanya, bayi orangutan yang baru masuk ke kandang karantina untuk pertama kalinya. Ini merupakan usaha bayi orangutan mempertahankan diri. 

Trauma masa lalu sebelum bayi orangutan sampai di pusat rehabilitasi, dimana dia secara terpaksa lepas dari induknya. Bisa jadi, induknya dibunuh secara kejam di depan matanya. Faktanya, induk orangutan tidak akan berpisah dengan anaknya sebelum anaknya siap menjalani kehidupan sendiri di hutan. Anak baru terpisah dengan induknya saat berumur 6-8 tahun. (FLO)

ROOM MAKE UP FOR ORANGUTAN

Since the block enclosure was established in 2015 and inhabited by Ambon and Memo, it has never been repainted. Small repairs such as for broken bars or cage floor damage have been carried out periodically. Now, the room make up team will work to improve any defects for the orangutan’s cage.

Limited number of enclosures require continuous planning. When the medical team is ready for their job to check orangutan’s health in this block, the animal keepers prepare for painting, hammock repairs and inspection of the cage. Orangutans prepare to move rooms.

The room make up team who are none other than tireless workers at COP Borneo are ready to sand, paint and make sure the rooms are ready to be occupied. Giving disinfectants is a signal, Ambon the orangutan is welcome to occupy his new room.

“Amazing room make up team!” Hopefully team will always be in good health to able to give new colors to other orangutan rooms. (EBO)

BEDAH KAMAR UNTUK ORANGUTAN

Sejak kandang blok yang dihuni orangutan Ambon dan Memo berdiri di tahun 2015, kadang belum pernah dicat ulang. Perbaikan-perbaikan kecil seperti besi yang putus atau semen lantai kandang yang bolong secara berkala sudah dilakukan. Kini, kehadiran tim bedah kamar orangutan akan bekerja memperbaiki kekurangan yang ada.

Keterbatasan kandang membutuhkan perencanaan yang berkesinambungan. Bagian medis tentu saja siap dengan pekerjaan pemeriksaan kesehatan orangutan di blok ini. Sementara animal keeper bersiap untuk pengecatan, perbaikan hammock dan pemeriksaan kelayakkan kandang. Orangutan bersiap untuk berpindah kamar.

Tim bedah kamar yang tak lain adalah pekerja-pekerja tak kenal lelah di COP Borneo telah siap mengamplas, mengecat dan memastikan kamar siap dihuni. Pemberian disinfektan menjadi isyarat, orangutan Ambon dipersilahkan menempati kamar barunya. 

“Tim bedah kamar yang luar biasa!”. Semoga tim sehat terus agar selalu bisa memberi warna baru di kamar-kamar orangutan lainnya. (FLO)

AMBON WEIGHS 69 KG NOW

Who owns a body weight of almost 70 kg at the Borneo COP orangutan rehabilitation center? That weight of course does not belong to orangutan children who are attending forest school classes. That’s like an adult’s weight. This must belong to an adult orangutan. Who is he? Or maybe it’s an animal keeper!

His handsome face is often admired by many people. It shows his dignity but unfortunately must end up in a cage. Dreams still continue, taking him to an island, where he can freely climb, choose the foods he wants to eat or explore in limited ways.

All know him as the cool Ambon. His eyes always stared pleasantly. His cheek pad often makes anyone who first approaches him back off. With his big body and long hair, we can feel his dominance from a distance.

Today, Ambon underwent an annual health check. Its weight is recorded again. “With the current weight, Ambon looks more agile. Hopefully Ambon will have the opportunity to return to the orangutan island, “said vet Flora, full of hope. (EBO)

BOBOT AMBON SEKARANG 69 KG

Siapakah pemilik berat badan 70 kg kurang 1 kg di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo? Berat segitu, pastinya bukan milik anak-anak orangutan yang sedang mengikuti kelas sekolah hutan. Itu seperti berat badan seorang dewasa. Ini pasti milik orangutan dewasa. Siapakah dia? Jangan-jangan miliknya animal keeper!

Wajah tampannya sering dikagumi banyak orang. Terlihat sekali wibawanya namun sayang harus berakhir di kandang. Mimpi masih terus berlanjut, membawanya ke sebuah pulau, dimana dia bisa dengan bebas memanjat, memilih makanan yang ingin dimakannya atau menjelajah secara terbatas. 

Semua mengenalnya dengan sebutan si kalem Ambon. Matanya selalu menatap dengan ramah. Checkpadnya sering membuat mundur siapapun yang pertama kali mendekatinya. Apalagi tubuh besar dan rambutnya yang gondrong. Dari jauh terasa dominasinya.

Hari ini, Ambon menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan. Beratnya tercatat kembali. “Dengan beratnya yang sekarang, Ambon terlihat lebih lincah. Semoga Ambon berkesempatan kembali ke pulau orangutan.”, ujar drh. Flora penuh harapan. (FLO)

 

APE DEFENDER TAKES CARE OF A GIBBON’S WOUND

This male gibbon has been in the cage of BKSDA SKW I Berau for almost two years. Surprising reports of increasing injuries in his left thigh area made the COP Borneo medical team immediately adjust the schedule of visits. Friday night, April 12, 2019 the APE Defender team examined the gibbon.

From the results of the interim examination, the following day vet Satria anesthetized the gibbon and began cleaning the wound. Many tissues experience necrosis and there is no external bleeding. The wound starts to rot and the peculiar smell of pus indicates that the infection has sharply smelled. The left thigh wound is finally operated on minor to cover the wound. While the wound in the buttocks is treated because it does not allow for surgery.

After evaluating the position of the cage that is too close to the bear cage, the gibbon cage is finally removed under the sapodilla tree but still gets sunlight to avoid humidity at the cage so the wounds are always dry. (EBO)

APE DEFENDER MERAWAT LUKA OWA

Owa jantan ini sudah hampir dua tahun berada kandang BKSDA SKW I Berau. Laporan mengejutkan adanya luka yang semakin besar di daerah paha kirinya membuat tim medis COP Borneo segera menyesuaikan jadwal kunjungan. Jumat malam, 12 April 2019 tim APE Defender memeriksa Owa tersebut.

Dari hasil pemeriksaan sementara, keesokan harinya drh. Satria membius Owa dan mulai membersihkan luka yang sudah cukup lama. Banyak jaringan yang mengalami nekrosis dan sudah tidak terdapat pendarahan eksternal. Luka mulai membusuk dan bau khas nanah yang menandakan sudah terjadi infeksi tercium dengan tajam. Luka di paha kiri akhirnya dioperasi minor untuk menutup luka. Sementara luka di bagian pantat dirawat karena tidak memungkinkan untuk dioperasi. 

Setelah mengevaluasi posisi kandang yang terlalu dekat dengan kandang beruang, kandang owa akhirnya dipindahkan di bawah pohon sawo namun masih mendapat sinar matahari untuk menghindari kandang lembab dan luka dapat cepat kering. Mohon doanya ya… agar Owa bisa pulih.

 

UNYIL AND UNTUNG ARE TAKEN OUT FROM THE ORANGUTAN ISLAND

This morning, the APE Defender team has prepared to take out Untung and Unyil from the orangutan island. Orangutan Island is an island inhabited by orangutan that are ready to be released. Orangutans living on this island, must be able to live with very minimum help from humans. Human intervention is only limited to providing additional food in the morning and evening. The rest, they have to find their own food on the island.

Untung, with his imperfect fingers is able to do the same activities with other orangutans. Physical disability does not prevent him from being released back into his habitat. Since December 2015, Untung has been living on the orangutan island with other male orangutans. Some have been released to the wild, and now it is his turn.

Unyil’s background was raised by residents in a toilet in his house and treated like humans both in terms of diet and behaviour. Finally he got his chance to return to his habitat. His abilities are not as good as other male orangutans on the island of orangutan, Berau, East Kalimantan. But he managed to convince the team, to become a release candidate.

The anesthesia has stuck in Untung’s body. Before it is actually working and makes him fell asleep, Untung climbed a tree, and stayed at a height of 10 meters. Now what? “We are forced to pick him up. Jhonny and Jefri, both climbed the tree quickly, Yes, we must be quick, then carry unconscious Untung. “, Vet Flora reminded the possibility of Untung to regain consciousness. “Untung!!! this is the last time ok. I will not pick up and carry you again!”, Jhonny said a little furiously.

The physical and health checks were again carried out by the medical team. Task division between vet Flora, vet Satria and vet Kiki made this process run fast. After the two orangutans entered the transport cage, the team proceeded by boat. The boat from the Sound For Orangutan charity music also delivered Untung and Unyil to his house. (EBO)

APE DEFENDER MENARIK UNTUNG DAN UNYIL DARI PULAU

Pagi ini, tim APE Defender sudah mempersiapkan diri untuk menarik kembali orangutan Untung dan Unyil dari pulau orangutan. Pulau orangutan adalah pulau yang dihuni para orangutan kandidat pelepasliaran. Orangutan yang tinggal di pulau ini, harus bisa hidup bertahan dengan bantuan manusia seminimal mungkin. Campur tangan manusia hanya sebatas memberi tambahan makanan di pagi dan sore hari. Selebihnya, mereka harus mencari makanan sendiri di pulau.

Untung dengan jari yang tidak sempurna (difabel) mampu melakukan aktivitas yang sama dengan orangutan yang lain. Cacat fisik tak menghalanginya untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sejak Desember 2015, Untung hidup di pulau orangutan bersama orangutan jantan lainnya. Beberapa sudah dilepasliarkan kembali, dan sekarang adalah gilirannya.

Latar belakang Unyil, orangutan yang dipelihara warga di sebuah toilet rumahnya dan mendapat perlakuan seperti manusia baik secara makanan dan tingkah laku akhirnya mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya. Kemampuannya tak sebaik orangutan jantan lainnya di pulau orangutan, Berau, Kalimantan Timur. Tapi dia berhasil menyakinkan tim, untuk menjadi kandidat pelepasliaran. 

Bius sudah menancap di tubuh Untung. Sebelum benar-benar bekerja membuatnya tertidur, Untung memanjat pohon, dan bertahan di ketinggian 10 meter. Bagaimana ini? “Kita terpaksa menjemputnya ke atas. Jhonny dan Jefri, mereka berdua memanjat pohon dengan cepat, Ya harus cepat, lalu menggendong Untung yang tak sadarkan diri.”, drh. Flora mengingatkan kemungkinan Untung untuk sadar kembali. “Untung!!! ini terakhir kalinya ya. Aku tidak akan menjemput dan menggendong kamu lagi!” ujar Jhonny sedikit geram.

Pemeriksaan fisik dan kesehatan kembali dilakukan tim medis. Pembagian tugas drh. Flora, drh. Satria dan drh. Kiki membuat proses ini berjalan dengan cepat. Setelah kedua orangutan masuk kandang angkut, tim melanjutkan perjalanan dengan perahu. Perahu hasil musik amal Sound For Orangutan pun mengantarkan Untung dan Unyil ke rumahnya.

 

MIKI RAN AND DISAPPEARED IN THE DENSE JUNGLE

Since 2011, Miki (the name of a gibbon) had been illegally kept by a resident of Long Beluah, Bulungan, North Kalimantan. During that time Miki never held trees, moved from one tree to another, and even ate his natural diet. Bananas and tomatoes became so familiar to him. Exploring the jungle was a dream that would never be realized.

March 26, 2019, BKSDA Section I East Kalimantan, assisted by the APE Defender COP team took this Bornean Gibbon. “Ten hours of commuting with a hope. What would Miki do when the door to the transport cage is opened? “, Asked vet Satria at Flora Felisitas. “Just wait and see later,” answered Flora.

When the Chief of KSDA Section I, Aganto Seno prepared to go up to the transport cage and open the cage door, there was no sound at all. Slowly the door was lifted. “Gibbons are very agile. Yes, Miki immediately came out and ran… disappeared,” said Pak Seno.

Wild animals live in the forest. Every wildlife has a role. Bornean gibbons are increasingly threatened with extinction with the decreasing forest as their habitat. Bornean Gibbons are typical Borneo animals that is endangered. Bornean gibbons need help from all parties to save them. (EBO)

MIKI PUN BERLARI MENGHILANG DI LEBATNYA HUTAN
Sejak tahun 2011, Miki (nama owa) berada dalam pemeliharaan ilegal seorang warga Long Beluah, Bulungan, Kalimantan Utara. Miki tak pernah lagi memegang pohon, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, bahkan makan makanan alami lainnya. Pisang dan tomat menjadi begitu akrab dengannya. Menjelajah menjadi mimpi yang tak kan pernah terwujud.

26 Maret 2019, BKSDA Seksi I Kalimantan Timur dengan dibantu tim APE Defender COP mengambil Owa Kalimantan ini. “Sepuluh jam perjalanan pulang pergi menjadi harapan tersendiri. Apa yang akan dilakukan Miki saat pintu kandang angkut dibuka ya?”, tanya drh. Satria pada drh Flora Felisitas. “Lihat saja nanti.”, jawab Flora.

Saat Kepala KSDA Seksi I, Aganto Seno bersiap naik ke kandang angkut untuk membuka pintu kandang, tak ada suara sama sekali. Perlahan pintu diangkat. “Owa sangat lincah, ya Miki langsung keluar dan berlari… menghilang.”, ujar pak Seno.

Satwa liar hidupnya di hutan. Setiap satwa liar memiliki peran. Owa Kalimantan semakin terancam punah dengan semakin berkurangnya hutan sebagai habitatnya. Owa Kalimantan adalah satwa khas Kalimantan yang berstatus genting atau endangered. Owa Kalimantan membutuhkan bantuan semua pihak untuk menyelamatkannya. (NIK)

TWO SUN BEARS TAKE A MEDICAL TEST

There are two sun bears at the office of Natural Resources Agency (BKSDA) Berau, East Kalimantan. The APE Defender team has just taken their blood samples for the lab test. The team did not face any difficulties during anesthesia so the sampling process can run quickly.

Barbie, the female sun bear, has been kept illegally for more than five years. She was still a baby when being pet and grown up for five years with humans. It has made Barbie become so tame. After being confiscated from Bulungan resident and limited human contact in the BKSDA enclosure, currently, Barbie is very difficult to be touched.

The same thing happens for the male sun bear from Kayan Mentarang National Park, Tanjung Selor, East Kalimantan. When arriving at BKSDA Berau, Jantan (the bear name) is still wild. “The condition of the small cage seems to make him stressed. The fur around his face falls down. This has happened since the end of December 2018, “said vet Flora.

The condition of the sun bears is quite good. It prompted the APE Defender team to conduct a deeper medical test for the preparation of their release. The number of Kalimantan sun bears continues to decline, as the forest loss continues. Center for Orangutan Protection together with BKSDA Berau hope that the release of these sun bears can maintain the ecosystem balance. “We believe that every individual of wildlife has an important role in nature,” said Reza Kurniawan, coordinator of the APE Guardian team, a team formed to release wildlife back into their habitat.

Help COP through this site https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan for the release process. (IND)

DUA BERUANG MADU JALANI TES MEDIS
Ada dua beruang madu sebagai penghuni kantor BKSDA Seksi 1 Berau, Kalimantan Timur. Tim APE Defender baru saja mengambil contoh darah untuk diperiksa. Tim tidak begitu mengalami kesulitan saat pembiusan sehingga proses pengambilan sample bisa berjalan dengan cepat.

Beruang madu berjenis kelamin betina yang kami sebut Barbie adalah beruang madu yang telah dipelihara warga secara ilegal selama lebih lima tahun. Lamanya masa pemeliharaan ini dan usianya yang waktu itu masih bayi membuat beruang Barbie menjadi jinak. Namun setelah diserahkan dari warga Bulungan dan terbatas bertemu manusia di kandang BKSDA Berau, Barbie semakin sulit untuk didekati.

Begitu pula dengan beruang madu jantan yang berasal dari Taman Nasional Kayan Mentarang, Tanjung Selor, Kalimantan Timur. Saat tiba di BKSDA SKW 1 Berau, Jantan (panggilannya) hingga saat ini masih sangat liar. “Kondisi kandang yang kecil sepertinya membuat dirinya mulai stres, rambut disekitar mukanya rontok. Ini sudah terjadi sejak akhir Desember 2018 yang lalu.”, ujar drh. Flora prihatin.

Kondisi beruang madu cukup baik ini lah yang mendorong tim APE Defender melakukan pemeriksaan lebih dalam, untuk keperluan pelepasliarannya. Jumlah beruang madu Kalimantan terus mengalami penurunan, seiring semakin hilangnya hutan. Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Berau berharap, kembalinya sepasang beruang madu ini ke alam, dapat menjaga keseimbangan alam. “Kami percaya setiap individu satwa liar memiliki peran penting di alam.”, ujar Reza Kurniawan, kordinator tim APE Guardian, tim yang terbentuk untuk melepasliarkan satwa kembali ke habitatnya.

APE DEFENDER SAVED ONE BABY ORANGUTAN

Finally, the APE Defender team with the Berau BKSDA succeeded in rescuing a female orangutan in the village of Long Beliu, East Kalimantan. This 1-2 year old baby has been under illegal captive of a resident since November 2018. According to the resident, the small orangutan was found on the roadside of Wahau when crossing the road alone. Feeling sorry, this baby orangutan was brought home and kept in a 1.5 x 1 meter wooden cage.

In April, July and August 2017, APE Defender has carried out translocation of adult male orangutans entering community palm oil plantations and eating palm oil seedlings. Other male orangutans were also found entering residents’ settlements and the last one was the orangutan with a wounded head was found on the roadside of the Muara Wahau, East Kalimantan.

What happened along the Muara Wahau road that forced the orangutans who usually avoid busy road to be there? COP’s fast-moving team to protect habitats as orangutan homes do not just remain silent. “Maybe there is something wrong with the habitat, so the orangutans are pushed into the settlements or plantations. Orangutans are explorers. They will continue to move and make a nest during the day and evening to rest. With instincts they look for food to survive.”

Inform us via email to info@orangutanprotection.com or COP social media (IG:@orangutan_cop), (FB page: @saveordelete), (Twitter: @orangutan_cop). Orangutan protection is our shared responsibility. (EBO)

APE DEFENDER SELAMATKAN SATU BAYI ORANGUTAN
Akhirnya, tim APE Defender bersama BKSDA Berau berhasil menyelamatkan satu anak orangutan betina di kampung Long Beliu, Kalimantan Timur. Bayi berusia 1-2 tahun ini berada dalam pemeliharaan ilegal seorang warga sejak November 2018 yang lalu. Menurutnya, orangutan kecil tersebut ditemukan di pinggir jalan poros Wahau saat menyebrang jalan sendirian. Karena merasa kasihan, orangutan yang masih bayi ini dibawa pulang ke rumah dan dipelihara di kandang kayu berukuran 1,5 x 1 meter.

Pada April, Juli dan Agustus 2017, APE Defender telah melakukan translokasi orangutan jantan dewasa yang memasuki perkebunan kelapa sawit warga dan memakan bibit sawit. Orangutan jantan lainnya juga ditemukan memasuki pemukiman warga dan terakhir orangutan dengan kepala terluka ditemukan di pinggir jalan poros Muara Wahau, Kalimantan Timur.

Apa yang terjadi sepanjang jalan Muara Wahau ini, hingga orangutan berada di jalan yang biasanya mereka hindari karena ramainya kendaraan melintas? Tim gerak cepat COP untuk perlindungan habitat sebagai rumah orangutan tak hanya tinggal diam. “Mungkin ada yang salah dengan habitatnya, sehingga orangutan terdesak masuk ke pemukiman ataupun perkebunan. Orangutan adalah satwa penjelajah. Dia akan terus bergerak dan membuat sarang saat siang maupun sore hari untuk istirahatnya. Dengan nalurinya dia mencari makanan untuk bertahan hidup.”.

Informasikan kami lewat email info@orangutanprotection.com atau media sosial COP (IG: @orangutan_cop), (FB page: @saveordelete), (Twitter: @orangutan_cop). Perlindungan orangutan adalah tanggung jawab kita bersama.

PLEASE HELP US BUYING A KETINTING MACHINE

Orangutans on the island are those who ready to be released. They are learning to live independently without human intervention. But the limitations of natural food on the island makes the team in monitoring post need to send food every morning and evening. The monitoring team is there to keep observing on the existence and development of orangutans on the pre-release island.

Routine patrols are carried out using a motorized boat or often called ketinting. Unfortunately, the ‘way back home’ boat continues to have leaks. Maybe because of the boat age and relentless use to send food and to patrol. “It’s time to buy a new one. But the team is still trying to patch it because the price of the boat is quite expensive,” said Danel, assistant logistics officer for the COP Borneo Rehabilitation Center.

Not only the boat is broken but also the boat machine. The monitoring team is not losing their minds. They were tinkering the machine. Two machines from different years, manufactured in 2015 and 2017, are transformed into one usable machine. “It’s a pleasure, the two broken machines can produce one machine that can deliver orangutan food to the pre-release island,” said Danel again.

But sadly, a month later, the machine has a problem again. This time the piston ring is replaced. If the ketinting machine really can’t be used like before, the team was forced to rent a machine to the local residents. Of course, this will inhibit our team activity. Please help the COP Borneo Rehabilitation Center to buy a new ketinting machine. Donations can be sent to https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Thank you. (IND)

BELIKAN MESIN KETINTING DONK!
Orangutan yang berada di pulau adalah orangutan yang siap dilepasliarkan. Mereka adalah orangutan-orangutan yang sedang belajar mandiri tanpa ikut campur tangan manusia. Tapi keterbatasan pakan alami yang berada di pulau, menjadwalkan tim Pos Pantau untuk mengirim makanan pada pagi dan sore hari. Ini dilakukan untuk terus mengawasi keberadaan dan perkembangan orangutan yang berada di pulau pra-rilis.

Patroli berkala dalam satu hari dilakukan dengan menggunakan perahu bermesin atau sering juga disebut ketinting. Tapi sayang, perahu ‘way back home’ terus menerus mengalami kebocoran. Mungkin karena usia dan penggunaan tanpa henti untuk kirim pakan dan patroli. “Sudah satnya beli yang baru. Tapi tim masih berusaha menambalnya, karena harga perahu yang cukup mahal.”, ujar Danel, asisten Logistik pusat rehabilitasi COP Borneo.

Tak hanya perahu/ketinting yang mengalami kerusakan. Mesin yang menggerakkan perahu pun kembali rusak. Tim pos pantau tak kehilangan akal. Utak-atik mesin dilakukan. Dua mesin dari berbeda tahun yaitu pembelian mesin 2015 dan mesin tahun 2017 disulap menjadi satu mesin yang bisa digunakan. “Senang sekali, kedua mesin rusak bisa menghasilkan satu mesin yang bisa mengantarkan pakan orangutan ke pulau pra rilis orangutan.”, ujar Danel lagi.

Tapi apa daya, sebulan kemudian, mesin pun kembali bermasalah. Kali ini ring pistonnya yang diganti. Jika mesin ketinting benar-benar tidak bisa digunakan seperti kemarin, tim terpaksa menyewa mesin ke warga. Tentu saja ini sangat menghambat aktivitas. Bantu pusat rehabilitasi COP Borneo beli mesin ketinting yang baru yuk. Donasi bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Terimakasih…

Page 2 of 712345...Last »