MICHELLE’S SECOND MONTH IN THE ORANGUTAN ISLAND

Since mid-May 2019, Michelle has inhabited a pre-release island which is the final stage of a rehabilitation process at COP Borneo. Michelle survives in semi-wild environments such as by making nests, looking for natural food, and others and this will determine whether she can be released back into her habitat or not.

During the first month Michelle was still adapting to her new environment. She never looked down to the ground, she just moved around with the help of a rope mounted on a tree on the island.

The second month, Michelle began to look down to the ground, usually during the day. She went down to the ground maybe to find food on the old feeding platform. Not finding food there, she immediately returned to the tree quickly. “It looks more like running,” said Steven, an island monitoring staff during June. (

BULAN KEDUA MICHELLE DI PULAU

Sejak pertengahan bulan Mei 2019, Michelle menghuni pulau pra-pelepasliaran yang merupakan tahapan akhir sebuah proses rehabilitasi di COP Borneo. Perkembangannya Michelle bertahan hidup di lingkungan yang semi liar seperti membuat sarang, mencari pakan alami, dan lain-lain akan menjadi penentu, apakah dia bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya atau tidak. 

Sebulan pertama Michelle dipindahkan ke pulau, dia masih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tidak pernah terlihat Michelle turun ke tanah, dia hanya berpindah-pindah tempat dengan bantuan tali yang dipasang di atas pohon di dalam pulau.

Bulan kedua, Michelle mulai terlihat turun ke tanah, biasanya pada siang hari. Dimungkinkan dia turun ke tanah untuk mencari makan di feeding platform yang lama. Tidak mendapati makanan di situ, dia langsung kembali ke atas pohon dengan cepat. “Lebih terlihat seperti berlari.”, kata Steven, staf monitoring pulau selama bulan Juni. (FLO)

MICHELLE DAN HUJAN DI PULAU ORANGUTAN

Hari yang dingin kadang membuat kita lapar. Hujan yang turun seharian di pulau pra-pelepasliaran sepertinya mempengaruhi nafsu makan Michelle. Sudah sebulan lebih Michelle bertahan di pulau ini sendirian. Campur tangan manusia hanya saat pagi dan sore hari ketika memberi makan dua kali sehari. Tidak seperti biasanya, dia muncul di tempat feeding lebih lambat satu jam. Setelah makan, dia kembali lagi ke tengah pulau, tempat biasanya dia berisitarahat.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang cukup panas, hari ini dia sangat sering terlihat muncul di tempat feeding untuk mengambil makanan. Setiap mendengar suara ketinting dari tim patroli, dia akan muncul mengintip dari balik pohon, lalu kemudian menuju menara mencari makanan lagi. 

Dingin-dingin begini enaknya mengisi perut agar tetap hangat ya. Ternyata seperti kita juga ya! (FLO)

 

FIVE YEARS OF COP BORNEO ORANGUTAN RESCUE CENTER

Orangutan Rescue Center program is a joint work between the East Kalimantan Natural Resources Conservation Center and the Dipterokarpa Forest Ecosystem Research and Development Center. Infrastructure development was carried out in stages establish 1 block of quarantine cages, 1 block of socialization cages, 1 block of adult orangutan pens, 1 clinic, 1 employee mess, 1 kitchen, 2 bathrooms / toilets and 1 fruit warehouse. Throughout 2014 to 2019, Borneo COP has accommodated 24 individual orangutans from state confiscations, handed over by communities and victims of conflict.

Forest schools are part of the orangutan rehabilitation program under the age of 5 years. Currently there are 9 orangutans registered in the forest school program. Furthermore, while locations where orangutans are ready to be released needs further evaluation, the Center for Orangutan Protection is building orangutan monitoring posts and operating pre-release islands.

To date, there have been five individual orangutans released after going through the Borneo COP orangutan rehabilitation program. The existence of the Borneo COP also helps the East Kalimantan BKSDA in handling orangutan conflicts and supports the enforcement of wildlife crime in the East Kalimantan region.

Borneo COP also involves the community in providing orangutan feed, helps tourism conscious villages through village ecotourism programs and conducts free village animal treatment by the COP medical team. The strategic location of Borneo COP covering East Kalimantan and North Kalimantan has become an important part of orangutan conservation in a rehabilitation program. Hopefully the Orangutan Rescue Program in East Kalimantan can continue. (EBO)

LIMA TAHUN PUSAT PENYELAMATAN ORANGUTAN COP BORNEO

Program Pusat Penyelamatan Orangutan ini adalah kerja bersama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa. Pembangunan infrastruktur dilakukan secara bertahap hingga menghasilkan 1 blok kandang karantina, 1 blok kandang sosialisasi, 1 blok kandang orangutan dewasa, 1 klinik, 1 mess karyawan, 1 dapur, 2 kamar mandi/wc dan 1 gudang buah. Sepanjang tahun 2014 hingga 2019, COP Borneo telah menampung 24 individu orangutan yang berasal dari sitaan negara, serahan masyarakat dan korban konflik.

Sekolah hutan adalah bagian dari program rehabilitasi orangutan yang berusia di bawah 5 tahun. Saat ini ada 9 orangutan yang terdaftar dalam program sekolah hutan. Selanjutnya kebutuhan pada lokasi dimana orangutan yang sudah siap untuk dilepasliarkan namun masih diperlukan evaluasi lebih dalam lagi, Centre for Orangutan Protection membangun pos monitoring orangutan dan mengoperasikan pulau pra-pelepasliaran.

Hingga saat ini, ada lima individu orangutan yang telah dilepasliarkan setelah melalui program rehabilitasi orangutan COP Borneo. Keberadaan COP Borneo juga membantu BKSDA Kaltim dalam penanganan konflik orangutan dan mendukung penegakkan hukum kejahatan satwa liar di wilayah Kalimantan Timur. 

COP Borneo juga melibatkan masyarakat dalam pengadaan pakan orangutan, membantu desa sadar wisata melalui progam ekowisata kampung (ecotrip) dan melakukan pengobatan satwa desa gratis oleh tim medis COP. Lokasi COP Borneo yang sangat strategis mencakup Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara telah menjadi bagian penting konservasi orangutan dalam program rehabilitasi. Semoga Program Penyelamatan Orangutan di Kalimantan Timur dapat terus berkelanjutan.

JOJO SPENDING TIME IN PLAYGROUND

Entering the third month of the cessation of forest school classes at the Borneo COP orangutan rehabilitation center. Jojo was quite amused by reactivating the Borneo COP playground. This playground is a park built by Orangutan Angle’s volunteers from Australia. Jojo is an orangutan who is quite active in the forest school classes. He always hopes to undergo forest school classes every day. If not, he will cry as hard as he can.

Termination of forest school classes due to forest clearing around Borneo COP threatens the existence of small orangutans. The orangutans look scared when they hear the sound of a chainsaw followed by the sound of falling trees.

Jojo adjusted his cruising power. “He must be quite satisfied with used tires containing leaves and twigs. It’s sad … hopefully the safety of the Labanan Research Forest can be immediately maintained, so that the orangutans can return to the forest school class. “, Hope Jhonny is the coordinator of Borneo COP animal care. (EBO)

JOJO MENGHABISKAN WAKTU DI TAMAN BERMAIN

Memasuki bulan ketiga berhentinya kelas sekolah hutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Jojo cukup terhibur dengan diaktifkannya kembali taman bermain COP Borneo. Taman bermain ini adalah taman yang dibangun para Orangutan Angle’s yang merupakan relawan dari Australia. Jojo adalah orangutan yang cukup aktif di kelas sekolah hutan. Dia selalu berharap untuk menjalani kelas sekolah hutan setiap hari. Kalau tidak, dia akan menangis sekuat-kuatnya.

Penghentian kelas sekolah hutan karena perambahan hutan di sekitar COP Borneo mengancam keberadaan orangutan-orangutan kecil. Orangutan-orangutan terlihat takut saat mendengar suara gergaji mesin yang diikuti suara rubuhnya pohon. 

Jojo menyesuaikan daya jelajahnya. “Dia harus cukup puas dengan ban bekas berisi daun-daun dan ranting. Sedih sih… semoga keamanan Hutan Penelitian Labanan ini dapat segera terjaga, agar orangutan bisa kembali ke kelas sekolah hutan.”, harapan Jhonny kordinator perawat satwa COP Borneo. 

SPOILED MICHELLE BECOMES INDEPENDENT

When the cage door was lifted, Michelle crawled, stepped out and climbed onto the tower on the pre-release island of the COP Borneo. Fruits are available in the tower. Michelle stayed silent while watching the team lift the transport cage that had just taken her. When the team got on the boat and began to move away, Michelle remained in her tower.

From across the island, the team observed Icel’s movements. Icel, Michelle’s nickname, looks comfortable in the tower. Occasionally she is seen holding a rope that connects the tower to the surrounding trees. But Icel did not leave the tower.

“How long will Icel stay there? During in the forest school classes, Icel was noted to have most often approached animal care. She rarely roams, and if she spends time in a tree, it is because the animal keepers threaten her with rattan thorns. Taking her to forest school often only becomes a nuisance for other small orangutans. Its bigger body also makes it difficult for animal nurses. That is why, when the orangutan island is empty, Icel has the opportunity to live independently on this island. And … “, said Reza Kurniawan, COP Borneo manager, interrupted when seeing Icel, who was in the middle of a rope that was exploring the tree opposite the tower. “See … Icel started her new life!” Exclaimed Reza. (EBO)

SI MANJA MICHELLE MENJADI MANDIRI

Saat pintu kandang diangkat, Michelle merangkak, melangkah dan naik ke atas menara di pulau pra-pelepasliaran orangutan COP Borneo. Di menara telah tersedia buah-buahan. Michelle berdiam sembari mengamati tim mengangkat kandang angkut yang baru saja membawanya. Saat tim naik ke perahu dan mulai menjauh, Michelle tetap berdiam di menaranya.

Dari seberang pulau, tim mengamati gerak-gerik Icel. Icel yang merupakan panggilan Michelle terlihat nyaman berada di menara. Sesekali terlihat memegang tali yang menghubungkan menara dengan pohon di sekitarnya. Tapi Icel tak beranjak dari menara juga.

“Sampai kapan ya Icel bertahan di situ? Saat di kelas sekolah hutan, Icel tercatat paling sering mendekati perawat satwa. Dia jarang menjelajah, kalaupun dia menghabiskan waktu di atas pohon, itu karena para perawat satwa mengancamnya dengan duri rotan. Membawanya ke sekolah hutan sering hanya menjadi penganggu buat orangutan kecil lainnya. Badannya yang semakin besar juga menyulitkan perawat satwa. Itulah sebabnya, saat pulau orangutan kosong, Icel memiliki kesempatan untuk hidup mandiri di pulau ini. Dan…”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Borneo terpotong Icel yang berada di tengah tali yang sedang menjelajah ke pohon yang ada di seberang menara. “Lihat… Icel memulai kehidupan barunya!”, seru Reza. (WET)

SMALL ORANGUTANS STILL HAVE TO BE PATIENT

It’s been a month since the forest school class stopped. Illegal logging is increasingly worrying. “For us, safety first. We don’t know who we are dealing with. Orangutans are forced to spend their days in cages. Forest schools are cancelled until the class is completely safe, “said Reza Kurniawan, manager of the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

The team became more alert. While waiting, the team made enrichment for orangutans. This condition must not disturb orangutans emotion. But for how long?

Small orangutans still have to practice climbing. Expectations are focused on the playground for baby orangutans. “This damaged playground has begun to be repaired. Small orangutans are rotated to play in this arena. Not allowed to roam. “, Reza said again carefully.

What happens to otangutans without trees. Orangutans are arboreal animals, which spend most of their activities in the trees. The collapse of the trees in the Labanan Research Forest which is the place for the orangutan rescue center is a threat to orangutan rehabilitation activities. “Sir … Madam … do orangutans have to be extinct?” (EBO)

ORANGUTAN KECIL MASIH HARUS BERSABAR

Sudah satu bulan kelas sekolah hutan berhenti. Pembalakan liar semakin mengkawatirkan. “Bagi kami, keselamatan adalah yang utama. Kami tidak tahu siapa yang kami hadapi. Orangutan-orangutan terpaksa menghabiskan hari-harinya di dalam kandang. Sekolah hutan ditiadakan hingga kelas benar-benar aman.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Tim pun menjadi lebih waspada. Di sela-sela itu, tim mengusahakan pengayaan (enrichment) untuk orangutan. Kondisi ini tidak boleh menganggu psikis orangutan. Tapi sampai kapan?

Orangutan-orangutan kecil tetap harus berlatih memanjat. Harapan pun tertumpu pada arena bermain untuk bayi orangutan. “Playground yang telah rusak ini mulai diperbaiki. Orangutan-orangutan kecil digilir agar bisa bermain di arena ini. Tidak dibiarkan menjelajah.”, kata Reza lagi dengan hati-hati.

Apa jadinya orangutan tanpa pohon. Orangutan adalah satwa aboreal, yang menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di atas pohon. Robohnya pohon-pohon di Hutan Penelitian Labanan yang merupakan tempat pusat penyelamatan orangutan merupakan ancaman aktivitas rehabilitasi orangutan. “Pak… Bu… apakah orangutan harus punah?”

A NEW BASKET FOR MORE HYGIENE

Feed holds the most important role in orangutan growth and development in a rehabilitation center. but on the other hand it is also the main media for disease to spread. Herbicides, pesticides, germs, pollutants when carried on the road and contact with other animals when in fed sheds are nightmare because these fruits might spread disease.

So, is there a solution for everything? Of course there are, every fruit is washed and rinsed. Is thus all feed safe from harmful contaminants? Not yet, there is still one more critical point, which is when bringing food to orangutans.

Usually the transport media is supported by using a sack then collected in a lajung (a kind of basket made of woven rattan) per each cage. Now woven baskets that are easier to clean are the choice of the medical team. “Yes, usually the remnants of feed are still stucked in sacks and between lajung. With hand-held baskets that are in more suitable size, it is expected to be easier to clean so that the hygiene can be maintained.

The Borneo COP Orangutan Rehabilitation Center always strives to improve the quality of caring for its orangutans. What do you think? (EBO)

KERANJANG BARU AGAR PAKAN LEBIH HIGENIS

Pakan memegang peranan terpenting dalam tumbuh kembang orangutan. namun di sisi lain juga sebgai media utama penyebaran penyakit. Herbisida, pestisida, kuman, polutan saat dibawa di jalan serta kontak dengan hewan lain ketika di gudang pakan menjadi momok penyebaran penyakit dari buah-buah tersebut.

Lantas, adakah solusi untuk semuanya? Tentu ada, setiap buah dicuci dan dibilas. Apakah dengan begitu seluruh pakan aman dari kontaminan berbahaya? Belum, masih ada satu cara lagi critical point yaitu saat membawa pakan ke orangutan.

Selama ini, media angkut disokong dengan menggunakan karung kemudian dikumpulkan dalam lajung (semacam keranjang gendong dari anyaman rotan) per tiap kandang. Kini keranjang tenteng dari anyaman yang lebih mudah dibersihkan menjadi pilihan tim medis. “Iya, biasanya sisa-sisa pakan masih saja menyangkut di karung maupun sela-sela lajung. Dengan keranjang tenteng yang ukurannya lebih pas diharapkan lebih mudah dibersihkan sehingga higenisnya dapat tetap terjaga. 

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo selalu berusaha dalam peningkatan kualitas perawatan orangutannya. Bagaimana menurutmu? (SAT)

WHEN BABY BITES LANDED SMOOTHLY (2)

An orangutan baby named Alouise was only 1 year old, but his fearful attitude was shown by biting all the humans who tried to approach him, including the medical team. At the beginning of his arrival he looked very scared. Even his body trembles. Although he has been adapted at the arrival quarantine enclosure and is getting used to the presence of orangutan nurses. But still when invited out to the playground area, he was still very scared and biting.

The bite is also different from the other eight baby orangutans. The bite is very strong and long, different from Popi and Mary who bite only to threaten. Alouise’s baby bite is enough to make the skin peel and turn blue for more than 3 days.

Because of Alouise’s nature, who is still afraid of the orangutan nurse, the medical team is looking for orangutan companion for him. A companion who can be a foster parent so that Alouise becomes comfortable. The choice fell on Septi. In the past, Septi had been a foster parent for Popi. Now, Septi is back as a foster parent for Alouise.

Hopefully baby Alouise’s can reduce the trauma huh … (EBO)

SAAT GIGITAN BAYI MENDARAT DENGAN MULUS (2)

Bayi orangutan bernama Alouise baru berumur 1 tahun, namun sikap takutnya ditunjukkan dengan menggigit semua manusia yang berusaha mendekatinya, tak terkecuali tim medis. Awal kedatangan memang dia terlihat sangat takut. Bahkan badannya bergetar. Meskipun telah diadaptasikan di kandang karantina kedatangan dan mulai terbiasa dengan kehadiran perawat orangutan. Namun tetap saja saat diajak keluar ke area playground, dia masih sangat takut dan menggigit.

Gigitannya juga berbeda dengan kedelapan bayi orangutan lainnya. Gigitannya sangat kuat dan lama, beda dengan Popi dan Mary yang menggigit hanya untuk mengancam. Gigitan bayi Alouise cukup untuk membuat kulit terkelupas dan membiru selama lebih dari 3 hari.

Karena sifat bayi Alouise yang masih takut dengan perawat orangutan, tim medis mencarikan pendamping orangutan untuknya. Pendamping yang bisa menjadi induk asuh agar Alouise menjadi nyaman. Pilihan jatuh pada orangutan Septi. Dulu, Septi pernah menjadi induk asuh untuk orangutan Popi. Kini, Septi kembali menjadi induk asuh untuk Alouise. 

Semoga bayi Alouise bisa mengurangi traumanya ya… (FLO)

LEMANG JELLY FOR ORANGUTAN

Have you ever eaten lemang? Glutinous rice which is put into bamboo and cooked by burning the bamboo? In Berau, East Kalimantan we call it lemang, while in Toraja, South Sulawesi it’s called Piong Bo’bo. What is it called in other regions?

Well, specifically at the COP Borneo orangutan rehabilitation center in Berau, East Kalimantan, there is a food called ‘Lemang Jelly’. Actually it depends on the contents. This time the lemongrass is filled with jelly mixed with several pieces of fruit, eggs and banana stems. According to nutritionists, banana tree trunks contain various nutrients such as tannin, sugar, vitamins A, B, C, starch saponins, potassium, serotine, hydrocytitamine and norepinephrine. The benefits of banana stems which are rich in fiber are certainly good for orangutan intestinal health.

How does it taste? To be sure, orangutans really enjoy this jelly lemang … until the last jelly slice. Especially when they find an egg in it. Sure … they won’t want to let go of this special lemang. (EBO)

LEMANG JELLY UNTUK ORANGUTAN

Sudah pernah makan lemang? Beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dimasak dengan cara dibakar? Lemang namanya kalau di Berau, Kalimantan Timur, sementara kalau di tanah Toraja, Sulawesi Selatan disebut pa Piong Bo’bo. Kalau di daerah lain disebut apa ya?

Nah, khusus di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang terletak di Berau, Kalimantan Timur ada makanan yang namanya ‘Lemang Jelly’. Sebenarnya tergantung isinya. Kali ini lemangnya diisi dengan jelly yang dicampur dengan beberapa potongan buah, telur dan juga batang pisang. Menurut ahli gizi, batang pohon pisang mengandung berbagai nutrisi seperti tanin, gula, vitamin A, B, C, saponin zat tepung, kalium, serotin, hidrokitiptamin dan neropinefrin. Manfaat dari batang pisang yang kaya akan serat ini tentunya baik untuk kesehatan usus orangutan. 

Rasanya bagaimana ya? Yang pasti, orangutan terlihat sangat menikmati lemang jelly ini… hingga potongan jelly paling akhir. Apalagi saat mereka menemukan sebutir telur di dalamnya. Yakin… mereka tidak akan mau melepaskan lemang istimewa ini. (FLO)

HERCULES TRICK, THE BUILDER

How is Hercules? Hercules which was once the largest, dashing and authoritative in the Unmul Samarinda Botanical Garden (KRUS)? Unfortunately, his development is surpassed by orangutans of the same age like Oki and Untung, who have now been released back into their habitat. Then how is he after being withdrawn from the pre-release island of COP Borneo?

Hercules who lost the competition, had to spend his days in the quarantine cage of the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. The medical team tried hard to improve his health which had fallen sharply. But the development of his behavior has not changed much.

Hercules in a cage is not much different from Hercules on the island. Every morning and evening when an animal nurse comes to his cage to feed him, he will try to make a nest from the remains of corn husk in her hammock. Just like on the island when he is about to be fed, Hercules looks busy making nests from the grass around the orangutan feedlot.

“Les … come down Les. cage washing is done. Now it’s time to eat. No need to pretend to build a nest again. “, Said Steven, the animal keeper. Then in a few moment later Hercules came down from his hammock to eat.

Is ‘making a nest’ just a trick from Hercules to get fed? Hmmm … we’ll see. (EBO)

TRIK HERCULES, SI PEMBUAT SARANG

Apakabarnya Hercules? Hercules yang dulunya paling besar, gagah dan berwibawa di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS)? Sayang, perkembangannya didahului orangutan seumurannya seperti Oki bahkan Untung yang kini sudah dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Lalu apakabarnya Hercules setelah penarikannya dari pulau pra-pelepasliaran COP Borneo?

Hercules yang kalah bersaing, harus menghabiskan hari-harinya di kandang karantina pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Tim medis berusaha keras memperbaiki kesehatannya yang sempat merosot tajam. Namun perkembangan tingkah lakunya tak banyak berubah.

Hercules di kandang tidak jauh berbeda dengan Hercules di pulau. Setiap pagi dan sore saat perawat satwa mendatangi kandangnya untuk memberi makan, dia akan berusaha membuat sarang dari sisa-sisa kulit jagung di hammocknya. Sama seperti di pulau saat dia akan diberi makan, Hercules terlihat sibuk membuat sarang dari rumput-rumput yang ada di sekitaran tempat pemberian pakan orangutan.

“Les… turun Les. Cuci kandang sudah selesai. Sekarang waktunya makan. Tidak perlu pura-pura buat sarang lagi.”, sahut Steven, animal keeper yang bertugas. Tak menunggu lama, Hercules pun turun dari hammock untuk makan. 

Apakah ‘membuat sarang’ itu hanya trik Hercules agar diberi makan? Hmmm… kita lihat saja nanti. (FLO)

Page 1 of 712345...Last »