WE LOST HIM

Both of his eyes were blinded, open wound and bruises found all over his body. COP Medic team tried their best to help him. Unfortunately, his injury is beyond our help.
Finally the male orangutan passed away.
This case in Bontang, East Kalimantan is the second case of orangutan violence. Back in May 2016, an orangutan was amputated due to and finnally passed away too. The case? It was shoved into the fridge. Should this case be the same? Please share… so this case won’t end up in the back of the fridge too!

Kedua matanya buta, luka-luka di sekujur tubuhnya masih menganga, lebam di tubuhnya tak terhitung lagi.
Tim medis COP berusaha memberikan pertolongan. Sayangnya sakit yang dideritanya sudah terlalu parah.
Akhirnya orangutan jantan ini merengang nyawa.
Bontang, Kalimantan Timur 2018 ini adalah kasus kekejaman terhadap orangutan yang kedua. Mei 2016 yang lalu, orangutan dengan kaki terjerat dan terpaksa diamputasi pun harus mati. Kasusnya? Masuk peti es. Harus kah yang sekarang juga?Please share… agar kasus ini tak masuk peti es juga!

KOKOHNYA SARANG ORANGUTAN LIAR

Informasi adanya konflik orangutan dengan perkebunan kelapa sawit pertengahan Desember 2017 yang lalu mengingatkan saya dengan sarang orangutan yang berhasil kami temukan. Sarang yang terletak di ujung pohon atau sering juga disebut sarang orangutan bertipe 3 berada di pucuk pohon dengan kelas 2 karena daun yang ada sudah mulai tidak segar bahkan berwarna coklat, namun bentuk sarang masih utuh.

Tanpa ragu, Danel memanjat pohon dan sesaat sudah berada di sarang tersebut. “Jalinan ranting-ranting pohon yang kokoh ini jadi PR (pekerjaan rumah) kami saat sekolah hutan”, ujar Danel terkagum-kagum.

Umumnya, orangutan liar yang hidup di hutan akan membuat sarang setiap harinya. Biasanya pada siang hari, orangutan akan membuat sarang yang cukup membuat istirahat siangnya nyaman. Dan akan membuat sarang yang lebih besar pada sore hari untuk tidur malamnya. Orangutan adalah satwa yang sangat tergantung pada pohon, aktivitasnya hampir sepanjang hari dihabiskan di atas pohon, karena itu orangutan disebut satwa aboreal. Dapat dibayangkan saat pohon-pohon hutan yang besar berganti menjadi pohon sawit yang tak bisa dipanjat atau dirangkai menjadi sarang.

“Masih terbayang betapa bingungnya induk orangutan dan anaknya tanpa pohon. Perayaan Natal tahun ini menjadi begitu menyedihkan.”, ujar Wety Rupiana. Bantu Centre for Orangutan Protection menyelamatkan orangutan dan habitatnya lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

SAAT ORANGUTAN MENJADI GELANDANGAN

Sehari dari informasi masuk dan menyerangnya orangutan ke ladang masyarakat di daerah Merapun, Kalimantan Timur mengantarkan tim APE Defender dan tim OWT mengecek keberadaan orangutan di lokasi tersebut. Menurut pak Nardi, ada induk dan anaknya orangutan yang terlihat di ladangnya pada Kamis sore 14 Desember.

Ada 2 pohon pisang besar yang telah dirusak orangutan dan banyak pohon sawit muda tercabut bekas dimakan orangutan. Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa bekas sarang dan ada satu sarang yang baru ditempati tidak lebih dari tiga hari yang lalu. “Namun induk dan anaknya sudah tidak kami temukan lagi. Kemungkinan mereka sudah bergeser ke tempat lain untuk mencari makanan.”, ujar Wety Rupiana.

Hilangnya hutan sebagai habitat orangutan yang berganti menjadi perkebunan kelapa sawit telah membuat orangutan menjadi gelandangan di rumahnya. Tak ada pohon sebagai tempat tidurnya, tak ada biji-bijian tanaman hutan lagi yang bisa disebarkannya untuk regenerasi hutan. Semua berganti menjadi tanaman sejenis yaitu kelapa sawit. Suhu udara pun menjadi ekstrim diiringi menghilangnya aliran sungai. Bencana pun di depan mata. Lagi-lagi, orangutan menjadi korban alih fungsi hutan.

APE DEFENDER SCHOOL VISIT DI SEKOLAH ANAK HIMALAYAN

Masih ada satu hari yang tersisa di kota Kathmandu, Nepal. Rencana dadakan, saya akan bercerita tentang orangutan dan primata lainnya kepada siswa-siswa di Sekolah Anak Himalaya atau Shree Mangal Dvip Boarding School. Seluruh siswa yang ada di sekitar Bouddha Nath berasal dari anak-anak yang berada di wilayah Himalaya. Mereka difasilitasi dan tidak dipungut biaya.

Hanya berjarak 30 menit dari kota Kahtmandu, saya pun bercerita sekitar 1 jam dihadapan 50 siswa yang terdiri dari kelas 5 sampai 10. Pertanyaan saya tentang orangutan? 90% siswa bahkan belum pernah mendengar orangutan. Tapi ini membuat saya semakin bersemangat karena mereka akan menjadi tahu, siapa itu orangutan.

Lewat foto-foto satwa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya seperti kukang, tarsius, lutung dan primata lainnya menjadikan kunjungan kali ini berbeda sekali. Bahkan buah-buahan yang menjadi makanan orangutan pun menjadi begitu menarik dibicarakan. Indonesia itu unik dan kaya.

“Beruntung sekali bertemu relawan sekolah ini yang mengajak saya berbagi cerita tentang orangutan. Ayo jangan sia-siakan waktu mu. Orangutan Indonesia inginkan kamu menceritakannya. Semakin banyak yang mengenalnya… semakin banyak yang bisa membantunya. Orangutan tidak hanya tinggal ceita.”, ujar Reza Kurniawan dengan semangat. (REZ)

ASIA FOR ANIMALS CONFERENCE KATHMANDU 2017

Konferensi dua tahunan Asia For Animals tahun 2017 dilaksanakan di kota Kathmandu, Nepal dari tanggal 2-5 Desember. Centre for Orangutan Protection mempresentasikan konflik yang terjadi di COP Borneo. “Sebenernya sih kita hanya dikasih waktu 5 menit untuk presentasi.”, jelas Reza. “Tapi karena masih ada kelebihan waktu, akhirnya saya manfaatkan untuk menceritakan COP lebih banyak lagi.”.

Pada kesempatan ini, COP juga memasang poster di marketplace yang disediakan panitia. Poster yang dipasang adalah tentang COP School, sekolah konservasi orangutan yang sudah berjalan selama tujuh tahun.

“Ini adalah konferensi internasional saya yang pertama kali. Benar-benar membuka mata wawasan saya. Bertemu teman baru dari organisasi lain. Ini adalah saatnya building networking.”, ujar Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

APE DEFENDER MERAWAT ORANGUTAN MOLI DAN BAYINYA

Informasi kelahiran bayi orangutan di Taman Satwa Gunung Bayan Lestari yang membutuhkan bantuan tim medis COP Borneo sempat membuat panik tim. Flora, dokter hewan yang baru bertugas segera berangkat bersama koordinator pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk tindakan medis. Setelah sehari semalam perjalanan, akhirnya tim tiba di lokasi dan mendapati induk dan bayi orangutan dalam kondisi yang cukup baik namun membutuhkan perhatian.

Orangutan Moli namanya. Usai melahirkan bayi Aldo mengalami penurunan nafsu makan. “Tepatnya, sudah tiga hari ini setelah pada tanggal 11 November 2017 melahirkan, Moli tidak mau makan.”, ujar drh. Gunawan. Tim APE Defender segera menganalisis kondisi Moli dan Aldo.

Flora dengan cermat membenahi pemberian pakan Moli. Variasi jenis makanan diatur, mulai dari buah hingga sayuran bahkan serangga. Orangutan Moli memang pemilih dalam hal makanan, hal ini sudah terjadi sejak Moli belum melahirkan, sehingga paska melahirkan semakin memperburuk pilihan makanannya. Tercatat, Moli menyukai kangkung, sehingga drh. Flora akan menambahkan takaran kangkung saat pemberian pakan Moli. Pengamatan cara makan Moli yang hanya memakan sedikit makanan yang disediakan juga ikut mengubah ritme pakannya. Moli diberikan makanan dalam sehari sebanyak empat kali. Susu yang awalnya tak disentuhnya bahkan dibuang-buang Moli, saat ini Moli sangat lahap saat menerima susu. “Susu, kuning telur, kangkung, jeruk, daging kelapa dan buah-buahan lainnya segera habis walau harus dibantu.”, ujar drh. Flora senang.

Kekawatiran tim bahwa Moli tak mau merawat anaknya pun sirna. Moli selalu menggendong Aldo dan terlihat menyusuinya. “Hingga saat ini, kondisi induk normal dan aktif. Insting sebagai seorang ibu juga sangat baik. Kondisi bayi Aldo juga normal.”, ujar drh. Flora dengan senyum bahagia.

WE HAVE RESCUED HIM

A team from COP and Wildlife Authority have rescued and translocate orangutan him to a conservation forest. There are another 3 orangutans in the same location need to be rescued also.
Please don’t forget to donate through http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

WE SEND A TEAM

Media sosial kembali dihebohkan dengan orangutan yang terlihat berada di pinggir jalan di Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah Berau memutuskan untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Siang, 7 Juli 2017, empat orang COP dengan 2 orang staf BKSDA SKW 1 Berau meluncur ke lokasi.

Semoga kami beruntung!
Bantu kami dengan berdonasi melalui http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

ORANGUTAN BEG FOR FOOD

Begging for food by street as forest keep going for oil palm plantation in Borneo.
Menurutmu, pantaskah si raja rimba Kalimantan, ikon konservasi alam Indonesia ini menjadi pengemis di pinggir jalan demi perutnya? Apakah hutan yang tersisa sudah tidak cukup memberikan pakan pengganjal perut?
#conflictpalmoil

OKI PINDAH KE KANDANG KARANTINA

COP Borneo bersiap untuk melepasliarkan kembali orangutannya. Tahap demi tahap dilalui dengan kerja keras seluruh tim COP Borneo. Juni 2017, satu orangutan dipindahkan dari pulau pra-pelepasliaran ke kandang karantina. Pemindahan ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali kesehatan orangutan secara menyeluruh sebelum dirilis.

Rencana hari ini, ada dua orangutan yang akan dipindahkan. Kedua kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan tahun ini adalah Nigel dan Oki. Tapi kondisi air sungai yang naik, ditambah orangutan Hercules yang saat itu sangat mengganggu tim, akhirnya tim medis memutuskan hanya satu individu orangutan yang ditarik terlebih dahulu dari pulau, yaitu Oki. Jadwal untuk memindahkan Nigel akan diatur kembali.

Bantu kami menyelesaikan proses rehabilitasi orangutan di COP Borneo dengan memberikan bantuan lewat http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Bersama… kita pasti bisa! (WET)

Page 1 of 512345