APE CRUSADER

CRITICAL: THE FATE OF 13 ORANGUTANS IN PALM PLANTATION SUSPECTED TO BELONG TO AE CORPORATION

Centre for Orangutan Protection (COP) is urging the AE Corporation to stop endangering the lives of orangutans. This demand is based on COP’s findings regarding the presence of 13 (thirteen) orangutans (Pongo pygmaeus morio) trapped in several small fragmented forests, which are suspected to be within the AE Corporation’s land and/or affected by the company logging the natural forest area to open up a new palm oil plantation in East Kalimantan. As well as orangutans, COP also recorded various rare and protected animal species in this area, such as Müller’s Bornean Gibbon (Hylobates muelleri) and Hornbills (Bucerotidae sp.).

The AE Corporation must act fast to prevent any further crimes such as hunting, which is now very likely. The thirteen orangutans are now an easy target for hunters due to the small size of the remaining forest area and the sparsity of trees. COP considers the capacity of the forest to no longer be sufficient to support these animals, and as a result the orangutans have begun consuming oil palm shoots. The demise of the orangutans in this area is only a matter of time as they will be considered pests.

COP believes a serious mistake has been made in the provision and implementation of permits for palm oil plantations in the aforementioned region. The presence of a rich diversity of wild animal species is evidence that the area would have previously been considered a region of High Conservation Value, which can be considered a crime based on Regulation 5 1990, section 21 paragraph 2 clause (e):
“All persons are prohibited from removing, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animal species.”

The clearing of forests in order to establish a new palm oil plantation poses a threat for the longevity of orangutans and other wild animals in Kalimantan. At least 2000 orangutans have been forced to be evacuated to Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and until now the influx of displaced orangutans is showing no signs of stopping.

KRITIS, NASIB 13 ORANGUTAN DI KEBUN SAWIT
Jakarta, Centre for Orangutan Protection (COP) pada 10 Maret 2016 dalam aksi damai mendesak PT. AE untuk berhenti membahayakan nyawa orangutan. Desakan ini didasarkan pada temuan COP mengenai keberadaan 13 (tiga belas) orangutan (Pongo pygmaeus morio)  yang terjebak dalam beberapa hutan kecil yang sudah terfragmentasi, yang mana diduga berada di dalam kawasan konsesi PT. AE dan atau terdampak PT. AE yang melakukan pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit baru di Kalimantan Timur. Selain orangutan, COP juga berhasil mengidentifikasi berbagai jenis satwa liar langka dan dilindungi seperti Owa Abu (Hylobates muelleri) dan Rangkok (Bucherotidae). 

PT. AE harus bergerak cepat untuk mencegah kejahatan lanjutan yang sangat mungkin terjadi, misalnya perburuan. Ke 13 orangutan tersebut merupakan target mudah bagi para pemburu karena sempitnya kawasan yang tersisa dan jarangnya pepohonan. COP menilai bahwa daya dukung kawasan tersebut sudah tidak memadai, karenanya orangutan memakan tunas-tunas kelapa sawit. Dibasminya orangutan di kawasan tersebut hanyalah soal waktu saja karena dianggap sebagai hama. 

COP menilai bahwa telah terjadi kesalahan serius dalam hal pemberian ijin dan pelaksanaan ijin perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut. Keberadaan beragam jenis satwa liar merupakan bukti bahwa kawasan tersebut dulunya memang merupakan kawasan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi (High Conservation Value) dan hal ini bisa dipandang sebagai sebuah kejahatan jika didasarkan pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, pasal 21 ayat 2 point (e): 

“Setiap orang dilarang untuk mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan / sarang satwa yang dilindungi.”

Pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup orangutan dan satwa liar lainnya di Kalimantan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke-5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hingga sekarang arus pengungsi orangutan belum ada tanda – tanda berhenti. 

COP URGES THE POLICE TO FIRMLY PENALIZE THE BURNER OF THREE ORANGUTANS

Today the Centre for Orangutan Protection (COP) urges the Indonesian National Police (Polri) to immediately establish a suspect in the case of the land burning resulting in the deaths of three (3) orangutans in Bontang, East Kalimantan. An official letter containing the insistence is escorted to the Police Headquarters in Jakarta by the COP volunteers wearing orangutan costumes. In the same occasion, the COP also appreciates the work of Bontang Police in handling such cases. So far, 11 people were questioned as witnesses. Crime scene (TKP) investigation and an autopsy the corpses of the three orangutans have also been done to determine the cause of the death.
Ramadhani, the Managing Director of COP states:
“We have provided technical support needed to handle this case, so that the police and KLHK can uphold the justice for orangutans that become the victims. If we fail to enforce the laws on this conservation mascot, then this would be a bad precedent for the protection of a wide range of other rare wildlife. People will go around killing wildlife without legal consequences. Based on UU No. 5 1990 on Conservation of Biodiversity and Ecosystems, then it was worth to sentence the burner 5 years imprisonment and a fine of 100 million.”
 
“This case is very strategic. If the police successfully jail the suspect, this would send a message to the public that nobody should ever harm orangutans. The success of the police in jailing the orangutan killers from various palm oil companies in 2011 gave a tremendous psychological impact. In East Kalimantan, both companies and individuals will report immediately when they have a problem with orangutans. They know exactly the impact that would be incurred if they act illegally. Over time, the law enforcement is needed to refresh the public memory about the importance of the protection of orangutans.”
 
The number of orangutans in Kalimantan estimated to be 52,000 in 2004 and the numbers keep falling because of the forest clearing for palm oil plantations. At least 2000 orangutans had to be evacuated to 5 Orangutan rescue centers spreading over several areas in Kalimantan, one of them is operated by the COP at the Forest Research Labanan, Berau. Experts estimate that the first baby orangutan up in rescue centers may represent 2 to 10 other orangutans that were killed. In the case of this burned dead orangutan, 1 baby orangutan was found dead along with two other adult orangutans.

More information and interview:
Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

NOTES
February 20, 2016
Fires in Belimbing Village , District West Bontang , East Kalimantan Bontang occur .
 
February 21, 2016
COP obtained preliminary information on social media about orangutans that become the victims in the area burned. Then the team coordinated with BKSDA East-Bornep, SPORC East-Borneo, Bontang Police, Kutai National Park regarding this incident. The team found that allegedly used tires to burn the land.
 
February 22, 2016
Coordination with the Police and BKSDA Kaltim Bontang to conduct autopsies on the three orangutans that were found.
 
February 23, 2016
Demolition of orangutans’ cemetery under the direction of Police Bontang, East Kalimantan, BKSDA and TNK. The COP’s medical team performed the autopsy to the three corpses of orangutan to ensure and conclude the cause of the death. And now the case is handled by Bontang Police.

COP MEMINTA POLISI MENINDAK TEGAS PEMBAKAR 3 ORANGUTAN 

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri)  untuk segera menetapkan tersangka pada kasus pembakaran lahan yang berakibat tewasnya 3 (tiga) individu orangutan di Bontang, Kalimantan Timur. Surat resmi yang berisikan desakan tersebut diantar ke Mabes Polri di Jakarta oleh para relawan COP dengan mengenakan kostum orangutan. Dalam kesempatan yang sama, COP juga mengapresiasi kerja Polres Bontang dalam menangani kasus tersebut. Sejauh ini, sudah 11 orang yang diperiksa sebagai saksi. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan otopsi mayat orangutan untuk mengetahui penyebab kematian juga sudah dilaksanakan. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan sebagai berikut: 

“Kami telah memberikan dukungan teknis yang dibutuhkan untuk menangani kasus ini, agar Polri dan KLHK dapat menegakkan keadilan pada orangutan yang menjadi korban. Jika kita gagal menegakkan hukum pada maskot konservasi ini, maka ini akan menjadi preseden buruk bagi perlindungan beragam jenis satwa liar langka lainnya. Orang akan seenaknya membunuh satwa liar tanpa adanya konsekuensi hukum. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, maka si pembakar orangutan itu layak dihukum penjara 5 tahun dan denda 100 juta.”  

“Kasus ini sangat strategis. Jika polisi berhasil menjebloskan si tersangka ke penjara, ini akan memberikan pesan ke publik bahwa jangan pernah berbuat jahat pada orangutan. Keberhasilan Polri dalam menjebloskan para pembunuh orangutan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2011 memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Di Kalimantan Timur, baik perusahaan maupun perorangan akan segera melapor manakala bermasalah dengan orangutan. Mereka tahu persis dampak hukum yang bakal ditanggung jika bertindak sendiri. Seiring berjalannya waktu, maka penegakan hukum sangat diperlukan untuk menyegarkan ingatan masyarakat mengenai pentingnya perlindungan orangutan. 

Jumlah orangutan di Kalimantan diperkirakan 52.000 pada tahun 2004 dan jumlahnya terus merosot dikarenakan hutan yang menjadi habitatnya dibabat untuk membuka perkebunan kelapa sawit. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke 5 Pusat Penyelamatan Orangutan yang tersebar di beberapa daerah di Kalimantan, salah satunya dikelola oleh COP di Hutan Penelitian Labanan, Kabupaten Berau. Para ahli memperkirakan bahwa 1 bayi orangutan yang sampai di Pusat Penyelamatan bisa jadi mewakili 2 sampai 10 orangutan lainnya yang terbunuh. Dalam kasus orangutan tewas terpanggang ini, 1 bayi orangutan ditemukan tewas bersama 2 orangutan dewasa lainnya. 

Untuk informasi dan wawancara: 

Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

CATATAN REDAKSI 
20 Februari 2016
Kebakaran lahan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, Bontang Kalimantan Timur terjadi.

21 Februari 2016
COP mendapatkan informasi awal dari sosial media perihal korban orangutan di areal yang dibakar. Kemudian tim melakukan koordinasi dengan BKSDA Kaltim, SPORC Kaltim, Polres Bontang, Balai Taman Nasional Kutai perihal kejadian ini. Tim menemukan ban bekas yang diduga untuk membakar lahan.

22 Februari 2016 
Koordinasi dengan Polres Bontang dan BKSDA Kaltim guna melakukan otopsi untuk ketiga individu orangutan yang ditemukan.

23 Februari 2016
Dilakukan pembongkaran kuburan Orangutan dan atas arahan dari Polres Bontang, BKSDA Kaltim dan Balai TNK tim medis COP melakukan otopsi ketiga individu orangutan untuk memastikan orangutan dan menyimpulkan penyebab kematian. Dan saat ini kasus ditangani oleh Polres Bontang.

AGAIN, ORANGUTANS BURNED

Facebook users were shocked by photos of two orangutans burned to death because of forest fire in Belimbing, West-Bontang, East Borneo. The photos show a female orangutan and her baby died in the fire until there is no hair remains.

Together with BKSDA Est-Borneo, the Kutai National Park officers, and Bontang Police, APE Crussader arrived on the location on Sunday afternoon, Februari 21, 2016. COP’s team has not got a lot of additional data because the bodies of orangutans were already buried nearby the location.

One of the instructions in order to determine the cause of the deaths was to perform an autopsy on the corpse of these orangutans. Beside, a chronological investigation to the occurrence has also to be done.

“This case has become viral on social media and the international community. The world challenges and highlights us, if we can finish this case of unnatural death of orangutans to its conclusion.” said Ramadhani, COP’s Director of Operations.

In Article 21 paragraph (2) letter a in conjunction with Article 40 paragraph (2) of UU No. 5 1990 on Conservation of Biological Resources and ecosystems sentences an imprisonment of 5 (five) years in prison and a maximum fine of Rp 100,000,000.00 (One hundred million rupiah) for capturing, injuring, killing, keeping, owning, raising, transporting and trading protected animals alive.

For further information and interviews please contact:
Ramadhani
Director of Operations of Centre for Orangutan Protection
email: dhani@cop.or.id
HP: 081349271904

LAGI ORANGUTAN TERPANGGANG

Media Social Facebook diramaikan dengan beredarnya foto orangutan mati terpanggang karena pembakaran lahan di kelurahan Belimbing, kecamatan Bontang Barat, Kalimantan Timur. Dalam foto terlihat orangutan mati terbakar hingga tidak ada sisa rambut atau bulunya disertai dengan kematian anaknya.

Siang, 21 Februari 2016 tim APE Crusader berada di lokasi kejadian bersama BKSDA Kalimantan Timur, Balai Taman Nasional Kutai dan Polres Bontang. Tim Centre for Orangutan Protection belum banyak mendapat data tambahan karena mayat orangutan sudah terlanjur dikubur dekat lokasi kejadian.

Salah satu petunjuk agar mengetahui asal usul kematian orangutan adalah dengan melakukan otopsi terhadap mayat otangutan. Serta melakukan penyelidikan kronologis secara menyeluruh terjadinya kebakaran yang mengakibatkan kematian satwa liar yang dilindungi ini.

“Kasus ini sudah menjadi viral di media sosial dan dunia Internasional. Kita ditantang dan disorot oleh dunia, apakah kita bisa menyelesaikan kasus kematian orangutan tidak wajar ini hingga tuntas.”, ujar Ramadhani, Direktur Operasional COP.

Pada pasal 21 ayat (2) huruf a jo pasal 40 ayat (2) Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya mengancam hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) bagi orang yang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut silahkan menghubungi:
Ramadhani
Direktur Operasional Centre for Orangutan Protection
email : dhani@cop.or.id
HP : 081349271904

ONE WORLD FESTIVAL JAPAN

2015 was the year that Kalimantan burned. The airports of five Kalimantan provinces were almost completely out of action. The COP Borneo Rehabilitation Centre was on standby. Centre for Orangutan Protection even stepped in to help extinguish fires at Wein River, East Kalimantan, and alongside Hutan Group with the Friends of the National Parks Foundation, in Tanjung Puting National Park, Central Kalimantan.

In the annual event One World Festival in Osaka, Japan, COP and Hutan Group had the opportunity to speak about the fires that had engulfed the whole of Kalimantan, on the 6th and 7th of February 2016. In addition, Hutan Group also made efforts during the event to raise funds and campaign for the protection of natural forests from Palm oil and fires.

Tahun 2015 adalah tahun dimana Kalimantan terbakar. Bandara lima provinsi Kalimantan hampir lumpuh total. Pusat Rehabilitasi COP Borneo siaga. Centre for Orangutan Protection pun turut membantu memadamkan kebakaran di sungai Wein, Kalimantan Timur dan bersama Hutan Group dengan FNPF di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Pada kegiatan tahunan, One World Festival di Osaka, Jepang, COP dan Hutan Group berkesempatan menceritakan kebakaran yang melanda Kalimantan keseluruhan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016. Selain itu HUTAN Group berusaha menggalang dana sekaligus mengkampanyekan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran di acara tahunan itu.

ORANGUTAN KUNTHI BACK HOME

Kunthi have a tremendous spirit to recover. After being intensively nursed, this estimated 29 years old male orangutan is considered ready to be released back. Physical defects in the eyes and teeth did not become a hindrance for the translocation because Kunthi are already familiar with the condition. Nature provides everything for Kunthi to heal himself.

Kunthi was rescued by BOSF on March 8, 2000 from the village Menamang and was translocated to the Forest Meratus 5 days later. At the time Kunthi was about 13 years old. Deforestation caused by palm oil plantations has narrowed the motion and reduced the availability of fodder. This situation forced Kunthi to forage in the countryside. The society regard him as a pest, and then the tragedy happened: Kunthi was arrested, beaten and tied up.

Kunthi is the latest illustration of the impact of the lack of government’s commitment to secure the region into wildlife habitat. The road is still long for Kunthi and thousands of other orangutans displaced from their habitat. They all need your help.

#‎saveorangutan #‎waybackhome #‎orangutanrelease #‎APEDefender #‎APECrusader

Kunthi memiliki semangat yang luar biasa untuk pulih. Setelah dirawat secara intensif, orangutan jantan yang diperkirakan berusia 29 tahun ini dinilai telah siap untuk dilepasliarkan kembali. Cacat fisik pada mata dan gigi tidak menjadi halangan untuk dilakukannya translokasi karena merupakan luka lama dan Kunthi sudah terbiasa dengan kondisi fisik tersebut. Alam menyediakan segalanya bagi Kunthi untuk menyembuhkan diri.

Kunthi pernah diselamatkan Yayasan BOS pada tanggal 8 Maret 2000 dari desa Menamang dan ditranslokasikan ke Hutan Meratus 5 hari kemudian. Saat itu Kunthi diperkirakan berusia 13 tahun. Pembabatan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit telah mempersempit ruang geraknya dan mengurangi ketersediaan pakan. Situasi ini memaksa Kunthi untuk mencari makan di pedesaan. Masyarakat menganggapnya sebagai hama dan lalu terjadilah tragedi itu: Kunthi ditangkap, dipukuli dan diikat.

Kunthi adalah gambaran terkini mengenai dampak dari minimnya komitmen pemerintah untuk mengamankan kawasan yang menjadi habitat satwa liar. Jalan masih panjang bagi Kunthi dan ribuan orangutan lainnya yang tergusur dari habitatnya. Mereka semua membutuhkan bantuan Anda.

GOOD NEWS BIG MALE KUNTHI

We have good news today. The big male, #‎orangutanKunthi makes it well. He is very tough man. He eat alot an work hard to heal cure himself by licking the wounds.

We put his fruits in the top of cage to check whether he can raise it or not. He did it well. He can climb!

Sorry for the pictures as they are not good enough. A bit difficult to have good one as an normal wild orangutan, he still very shy to camera.

Now we are preparing the release back to wild for tomorrow. Big forest provide everything to cure him and he now excactly how to do.
Stay tune for lastest updates.

#‎forestwars #‎conflictpalmoil #‎apecrusader

Kami punya berita gembira hari ini. Si pria besar Kunthi telah menjalaninya dengan baik. Dia adalah pria yang tangguh. Makan banyak dan berusaha mengobati dirinya sendiri dengan menjilati lukanya.

Kami menaruh makannya di atas kandang untuk menilai apakah dia bisa mengambilnya. Dia BISA! Ini artinya dia bisa memanjat.

Maaf fotonya kurang bagus karena dia, selayaknya #‎orangutanliar masih malu dengan kamera.

Saat ini kami sedang mempersiapkan pelepasliarannya kembali, besok. hutan yang luas menyediakan apapun untuk penyembuhannya dan dia tahu persis bagaimana melakukannya. ikuti terus perkembangannya.

THAT BIG MALE ORANGUTAN WAS KUNTHI

On the 27th of January 2016 a large male orangutan was captured, who had caught the attention of the North Paser community. The orangutan, estimated at over 20 years of age, was captured by residents after entering their settlement. A visual inspection of the orangutan’s condition was made by Veterinarian Ade Fitria from the Centre for Orangutan Protection. The results revealed damage to his left eye – which was no longer functioning, several broken teeth, and mild wounds as well as swelling on his hands and feet, a result of being tied up for over 19 hours.

The following day the large male was given a full examination, which uncovered old wounds as well as new. What was surprising was the discovery of a microchip. Microchips in orangutans are an important mark, in the form of an alphanumerical code, given to an orangutan for individual records after a rescue is carried out. This is important for orangutans that have been rescued previously as the chip contains information about the orangutan’s history.

Yes, the orangutan with the blind left eye and missing teeth was Kunthi, a male orangutan rescued on the 8th of March, 2000 in the Manamang area. At that time he was estimated to be over 13 years old. Five days later, Kunthi was released again on the 13th of March 2000. (ADE)

ORANGUTAN JANTAN BESAR ITU ADALAH KUNTHI

Tertangkapnya orangutan jantan besar pada 27 Januari 2016 yang menarik perhatian masyarakat Paser Utara. Orangutan yang diperkirakan berusia 20 tahun lebih ini merupakan tangkapan warga yang masuk pemukiman. Proses inspeksi (penilaian kondisi tubuh dari luar) pun dilakukan dokter hewan Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection. Hasilnya terlihat rusaknya mata sebelah kiri yang tidak dapat berfungsi untuk melihat kembali, dan beberapa gigi yang patah dan luka ringan pada tangan dan kaki serta bengkaknya tangan dan kaki karena terikat dengan tali lebih dari 19 jam.

Keesokan harinya orangutan jantan dewasa itu diperiksa secara menyeluruh, dengan hasil ditemukannya luka lama dan luka baru. Hal yang mengejutkan adalah ditemukannya microchip. Microchip pada orangutan merupakan penanda (dalam bentuk kode angka dan huruf) yang diberikan untuk pendataan individu setelah dilakukan rescue. Microchip merupakan penanda penting bagi orangutan yang pernah direscue karena adanya catatan tentang orangutan tersebut sebelumnya.

Ya, orangutan dengan sebelah mata buta dan gigi taring rontok itu adalah orangutan Kunthi. Orangutan yang jantan yang diselamatkan pada 8 Maret 2000 di daerah Manamang. Saat itu perkiraan usianya lebih dari 13 tahun. Selang lima hari kemudian, orangutan Kuthi pun dilepasliarkan kembali (13 Maret 2000). (ADE)

ORANGUTAN, BLIND IN ONE EYE AND MISSING TEETH, CAPTURED BY MUARA SAMU RESIDENTS

Centre for Orangutan Protection was contacted by the Conservation and Natural Resources Authority of East Kalimantan about the discovery of an adult male orangutan who had bound by his hands and feet for 19 hours. The orangutan did not want to eat or drink, and appeared stressed and weak on the 27th of January 2016, in Bui village, Muara Samu, East Kalimantan. That afternoon, the Authority requested the help of COP to evacuate the orangutan.

The Head of Section III of the East Kalimantan Authority, Mrs Suriawati Halim stated, “The orangutan has been successfully moved from the site of capture. The move was carried out due to safety concerns and the large number of people wishing to see the animal. At this time the orangutan is being held at the Penajam post.”

“Based on the experience of COP since 2007, almost 100% of orangutans captured by humans are found to have serious injuries on their heads and hands.” Said Ramadhani, COP executive director. “Almost all of this is due to them being seen as pests in palm oil plantations in Kalimantan. If there are reports of conflict between humans and orangutans, our rescue team must act quickly to save them. Standing between them and the plantation workers and hunters.” He added.

The following day, January 28th 2016. Upon first glimpse of the adult male, the COP Team found bruising on the orangutan’s body and swelling on his legs and arms from his restraints. His lower canine tooth was missing and the top tooth cracked. As his face, eyes and lips were free from inflammation, the damage to the teeth was suspected to be from old injuries. However, the examination was cut short as much was still unclear, and it was instead resumed the following day.
On the 29th of January, the orangutan still in the enclosure at the Conservation and Natural Resources Authority Penajam post, Veterinarian Ade Fitria from Centre for Orangutan Protection delivered the results of his examination.

Physical Examination:
Skin: normal, no signs of dehydration; head and back free of lesions. Lesions found on right upper arm and left wrist, as well as chest area. Two outer toes on right foot exhibit swelling containing pus and blood.
Eyes: left eye not functioning and no longer in use. Right eye normal. Conjunctivitis in right and left eyes, appearing pale pink, palpebral reflex still present.
Internal Organ Examination:
Gastro-intestinal system
Teeth: upper left and right canine teeth cracked (old damage), lower left and right canine cracked (recent but no inflammation), one lower incisor missing, minor redness on gums (inflammation) but already in the process of healing. Overall no new inflammation of the gum area.
Intestinal
Peristaltic movement weak due to lack of previous food intake.
Extremities
Arms/hands: swelling on left and right hands due to restraints, no broken bones found.
Legs/feet: swelling in left and right feet due to restraints, no broken bones found.

For information and interview please contact:

Ramadhani
Executive Director, Centre for Orangutan Protection
Phone : 081349271904
email : dhani@cop.or.id

Dr. Ade Fitria
Veterinarian, Centre for Orangutan Protection
Phone : 082152828404
e-mail : ade@cop.or.id

ORANGUTAN DENGAN SEBELAH MATA BUTA DAN GIGI RONTOK TERTANGKAP WARGA MUARA SAMU

PASER – BKSDA Kalimantan Timur menghubungi Centre for Orangutan Protection (COP) tentang ditemukannya satu orangutan jantan dewasa dalam kondisi terikat kaki dan tangannya selama 19 jam. Orangutan tersebut tidak mau makan dan minum, terlihat stres dan lemas pada 27 Januari 2016 di desa Bui, Muara Samu, Kalimantan Timur. Sore itu, BKSDA Kaltim meminta bantuan COP untuk mengevakuasi orangutan tersebut.

Kepala Seksi III BKSDA Kalimantan Timur, Ibu Suriawati Halim, S.Hut., M.P. menyampaikan, “Orangutan sudah berhasil dipindahkan dari lokasi tertangkap. Pemindahan ini dilakukan karena kawatir keamanan dan terlalu ramainya orang yang ingin melihat. Saat ini orangutan berada di Pos Penajam.”

“Berdasarkan pengalaman COP sejak tahun 2007, hampir 100% orangutan yang ditangkap manusia mengalami luka serius di kepala dan tangan.”, ujar Ramadhani, direktur pelaksana COP. “Hampir seluruhnya karena dianggap hama perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Jika ada laporan konflik antara manusia dan orangutan, tim penyelamat kami harus bergerak cepat untuk menyelamatkannya. Beradu cepat dengan para pekerja perkebunan dan pemburu.”, tambahnya.

Keesokan harinya, 28 Januari 2016. Saat pertama kali Tim Centre for Orangutan Protection melihat pada orangutan jantan dewasa ini terdapat memar di bagian tubuh dan bengkak di bagian kaki maupun tangan karena ikatan tali. Gigi taring bawah hilang dan gigi taring atas patah. Tidak terlihat peradangan baru di area muka, mata maupun bibir, diduga luka lama. Namun pemeriksaan terpaksa diberhentikan karena penerangan yang sangat kurang, dan akan dilanjutkan hari berikutnya.

Masih di kandang BKSDA Kalimantan Timur pos Penajam, drh. Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection pada 29 Januari 2016 menyampaikan hasil pemeriksaan.

Pemeriksaan Fisik:

Rambut : bersih, kusam dan lebat, tidak ada kerontokan.

Kulit : normal tidak mengalami dehidrasi; bagian kepala, punggung tidak terdapat lesi, pada tangan atas kanan dan kiri bagian pergelangan tangan terdapat lesi; pada bagian dada terdapat lesi; pada bagian kaki kanan jari kelingking dan jari manis kaki mengalami pembengkakkan berisi nanah dan darah.

Limphoglandula : tidak ditemukan adanya pembengkakkan pada lgl. superficial.

Mata : bagian kiri sudah tidak dalam kondisi normal dan sudah tidak adapat digunakan untuk melihat, mata sebelah kanan masih dalam keadaan normal. Conjunctiva kanan dan kiri terlihat pink pucat dan masih memiliki reflek pelpebra.

Telinga : tidak ditemukan adanya perubahan.

Pemeriksaan Sistem Organ:

Sistem Gastro Intestinal

Mulut : tidak ditemukan adanya perubahan

Gigi : gigi caninus bagian atas kanan dan kiri patah (sudah lama), gigi caninus bagian bawah kanan dan kiri patah (masih baru tapi sudah tidak ada proses peradangan), dan satu gigi incisor bagian bawah tercabut sedikit ditemukan kemerahan pada gusi (proses peradangan) namun sudah dalam proses kesembuhan. Secara umum tidak ada peradangan baru pada daerah gusi.

Intestinal : gerak peristaltik lemah (karena tidak adanya asupan makanan sebelumnya)

Rektum : bersih tidak ada perubahan

Sistem Kardiopulmoner

Hidung : tidak ada luka maupun exsudat

Pulmo : terdengar vesicular dan tidak ada perubahan

Jantung : auskultasi daerah cardia terdengar sistol diastole yang dapat dibedakan dan ritmis

Sistem Urogenital

Genitalia eksternal : tidak ada kelukaan

Sistem Extremitas

Tangan : tangan kanan dan kiri mengalami bengkak karena ikatan tali, tidak ditemukan adanya tulang patah

Kaki : kaki kiri dan kanan mengalami bengkak karena ikatan tali, tidak ditemukan tulang patah

Informasi dan wawancara harap menghubungi:

Ramadhani

Direktur Pelaksana Centre for Orangutan Protection

Phone : 081349271904

email : dhani@cop.or.id

drh. Ade Fitria

Dokter hewan Centre for Orangutan Protection

Phone : 082152828404

e-mail : ade@cop.or.id

INTENSIVE CARE BIG MALE ORANGUTAN

COP veterinarian, Ade Fitria and her team conducted a thorough and detailed examination to the body of orangutan that was seriously injured because of physical abuse . Based on COP’s experience in evacuating orangutans captured by the workers of palm oil plantations since 2007 , almost 100 % of them suffered from injuries on their head and hands. The orangutan seems to have been beaten on the head and all over his body. Its hands and feet are swollen because of being tied. Its teeth fell out and its left eye is blind . That’s why we built a team that is able to react quickly in responding the incoming reports . We call this team APE CRUSADER . Thanks to Orangutan Outreach, which has funded the team’s operational costs.

ORANGUTAN BESAR DIRAWAT INSENTIF

Dokter hewan COP Ade Fitria dan timnya melakukan pemeriksaan menyeluruh dan rinci pada tubuh orangutan yang terluka parah karena siksaan fisik. Berdasarkan pengalaman COP mengevakuasi ORANGUTAN yang tertangkap para pekerja sawit sejak 2007, hampir 100% mengalami luka di kepala dan tangan. ORANGUTAN ini menunjukkan tanda – tanda telah dipukuli di kepala dan sekujur tubuhnya. Tangan dan kakinya bengkak karena diikat. Giginya rontok dan mata sebelah kiri buta. Itulah sebabnya kami membentuk tim yang mampu bergerak cepat merespon laporan yang masuk. Kami menyebut tim ini APE CRUSADER. Terima kasih pada ORANGUTAN OUTREACH yang telah mendanai biaya operasional tim ini.

#‎forestwars #‎conflictpalmoil #‎latepost #‎apecrusader

COP’S POLICY TO THE PALM OIL

Orangutan is a protected wildlife species which is protected by law in Indonesia. Thus, any crime against orangutan is illegal.The perpetrators should be punished, including the palm oil companies. COP makes a huge effort to help the Indonesian Government in assuring the perpetrators to be punished in accordance with the law.

COP appreciates what the palm oil companies, government, and NGOs have done for sustainable palm oil business and keep monitoring the implementation so as not to harm the orangutans.

KEBIJAKAN COP PADA KELAPA SAWIT

Orangutan adalah spesies satwa liar yang dilindungi hukum di Indonesia. Dengan demikian, setiap kejahatan terhadap orangutan adalah tindakan melawan hukum. Para pelaku kejahatan terhadap orangutan harus dihukum, termasuk perusahaan – perusahaan kelapa sawit. COP bekerja membantu Pemerintah Repubik Indonesia untuk memastikan para pelaku kejahatan tersebut mendapatkan hukuman sesuai dengan Undang – Undang.

COP mengapresiasi upaya para pelaku bisnis kelapa sawit, pemerintah dan organisasi – organisasi kemasyarakatan untuk kelapa sawit yang berkelanjutan dan memantau implementasinya agar tidak merugikan orangutan.

Page 6 of 7« First...34567