APE CRUSADER

STOP SAWIT IN EARTH DAY

“Stop Palm Oil!”, said Paulinus Kristanto. “April 16, 2016 COP found one (1) baby orangutan using old nest. At the same time, COP found one (1) adult orangutan walking on the ground in Palma Serasih’s oil palm plantation.”, he explained.
“The location where we found the orangutan was a fragmented forest. Orangutan will be more pressured because their living space is getting narrower. They could die of starvation, be killed by workers of the plantation because it is considered as pest, be killed by local people because they endanger the safety or be killed by traditional hunters to be eaten or to be sold.
‪#‎StopSawit‬ ‪#‎ForestWars‬ ‪#‎ConflictPalmOil‬
This year, COP along with Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim, Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, RASI Foundation, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-biduk and Gusdurian commemorated the Earth Day which falls on April, 22 each year.
‪#‎HariBumi2016‬ ‪#‎EarthDay2016‬
“Stop Sawit!”, tegas Paulinus Kristanto. “16 April 2016 COP menemukan 1 (satu) anak orangutan yang menggunakan sarang lama. Pada saat yang bersamaan, COP menemukan 1 (satu) orangutan dewasa yang berjalan di tanah perkebunan sawit Palma Serasih.”, jelasnya.
“Lokasi tempat ditemukan kedua orangutan tersebut merupakan kawasan berhutan yang sudah sangat terfragmentasi. Orangutan akan semakin terdesak karena ruang hidupnya semakin sempit. Mereka bisa mati kelaparan, tewas dibunuh pekerja sawit karena dianggap hama, dibunuh masyarakat setempat karena dianggap membahayakan keselamatan dan atau dibunuh pemburu tradisional untuk dimakan atau diambil bayinya untuk dijual.
Tahun ini, COP bersama Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, Yayasan RASI, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-Biduk dan Gusdurian bersatu dalam FORUM SATU BUMI KALIMANTAN TIMUR dalam memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April setiap tahunnya.

ORANGUTANS COUNT DOWN TO DEATH IN OIL PALM PLANTATION OF PT. AE

Today, Centre for Orangutan Protection (COP) published the latest conditions : The fate of orangutans affected by deforestation for oil palm plantations allegedly committed by PT. AE in East Kalimantan. There are some important things in the report:

COP found one (1) baby orangutan in an old nest. At the same time, COP found one (1) adult orangutan walking on the oil palm plantation. Both were found on April16, 2016 between 17:00 to 17:30 in a fragmented forest.
The forests seem to be fragmented through clearing and burning process. Thus, the orangutan will be increasingly pressured because their living space more is getting narrower. They would starve to death, be killed by workers of the plantation because they are considered as pests, be killed by local people because they endanger the safety, or be killed by traditional hunters to be eaten or sold.

This report reinforces the previous reports submitted by COP on March 10, 2016, with reference number 06/HQ-03/COP/2016. The report mentions that 13 (thirteen) orangutans were threatened. The report has been followed up by the BKSDA Kaltim, Secretariat of the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), The Forest Trust (TFT), Golden Agri Resources (GAR) and Gawi Plantation. Unfortunately, the Ministry of Agriculture, Palm Oil Association Indonesia (GAPKI) and the Indonesian Sustainable Palm Oil decided to cover this crime by ignoring the report from COP. Counterproductive action was taken by PT AE by providing information that suggests that there is nothing wrong with the company’s operations and orangutans in its concession. Other action that is more counterproductive is to bribe the media Bisnis Indonesia to release a unilateral opinion. COP deplores the attitude of PT. AE suggesting that the effort taken by COP is a kind of Black Campaign in the palm oil industry. PT. AE should be focus to resolve the problem with the orangutans. It will build a good
image for national palm oil industry.

Ramadhani, Managing Director COP states:
“BKSDA Kaltim should be proactive to deal with these cases so that victims (orangutan) can be prevented early. The Ministry of Forestry should learn from the previous cases that the lack of law enforcement has led to more casualties (orangutan). 5 Orangutan rescue center in Borneo Orangutan with more than 2000 orangutans is a valid proof on manmade disaster caused by irresponsible palm oil industry.”.

“PT AE should admit their mistakes and focus to find a solution so that
orangutans could be saved. Irresponsible palm oil companies like PT AE
affects the image of the palm oil industry company. COP believes that TFT
and RSPO will eagerly help PT. AE to grow into a company that is friendly
towards orangutans and forests.”.

For further information and interviews, please contact:
Ramadhani
HP :081349271904
email :dhani@cop.or.id

ORANGUTAN MENGHITUNG MUNDUR KEMATIAN DI KEBUN SAWIT PT. AE

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini mempublikasikan kondisi terkini : nasib orangutan yang terdampak pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit yang diduga dilakukan oleh PT. AE di Kalimantan Timur. Ada beberapa hal penting dalam laporan tersebut, yakni: 

COP menemukan 1 (satu) anak orangutan yang menggunakan sarang lama. Pada saat yang bersamaan, COP menemukan 1 (satu) orangutan dewasa yang berjalan di tanah perkebunan sawit. Keduanya ditemukan pada tanggal 16 April 2016 jam 17.00 – 17.30. Lokasi tempat ditemukan ke dua orangutan tersebut merupakan kawasan berhutan yang sudah sangat terfragmentasi. 
Hutan – hutan yang terfagmentasi tersebut nampak dalam proses dibabat dan dibakar. Dengan demikian, orangutan akan semakin terdesak karena ruang hidupnya semakin sempit. Mereka bisa mati kelaparan, tewas dibunuh pekerja sawit karena dianggap hama, dibunuh masyarakat setempat karena dianggap membahayakan keselamatan dan atau dibunuh pemburu tradisional untuk dimakan atau diambil bayinya untuk dijual. 

Laporan ini menguatkan laporan COP sebelumnya yang dikirimkan pada tanggal 10 Maret 2016 dengan nomor surat 06/HQ-03/COP/2016. 13 (tiga belas) orangutan dilaporkan terancam dalam laporan tersebut. Laporan tersebut sudah ditindaklanjuti oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Sekretariat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) , The Forest Trust (TFT), Golden Agri Resources (GAR) dan Gawi Plantation. Sayangnya, Kementerian Pertanian, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Indonesian Sustainable Palm Oil memilih untuk melindungi kejahatan ini dengan mengabaikan laporan COP. Tindakan kontraproduktif malah diambil pihak PT AE dengan memberikan keterangan yang mengesankan bahwa tidak ada yang salah dengan operasional perusahaan dan orangutan di kawasan konsesinya. Tindakan kontraproduktif lainnya adalah dengan membayar media Bisnis Indonesia untuk memuat opini sepihaknya. COP menyesalkan sikap PT. AE yang mensankan bahwa upaya COP adalah Black Campaign pada industri kelapa sawit. Sudah seharusnya PT. AE fokus menyelesaikan masalahnya dengan orangutan. Ini akan membangun citra yang baik bagi industri kelapa sawit nasional. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan sebagai berikut: 

“BKSDA Kaltim hendaknya proaktif dalam menangani kasus ini agar korban orangutan bisa dicegah lebih dini. Sudah seharusnya Kementerian Kehutanan belajar dari kasus – kasus sebelumnya bahwa nihilnya penegakan hukum telah menyebabkan korban orangutan terus berjatuhan. 5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dengan 2000 lebih orangutannya adalah bukti yang valid atas bencana buatan industri kelapa sawit yang tidak bertanggung jawab.” 

“Sebaiknya PT AE mengakui saja kesalahannya dan fokus ke solusi sehingga orangutan dapat diselamatkan. Yang merusak citra industri kelapa sawit adalah perusahaan – perusahaan tak bertanggung jawab seperti PT AE inilah. COP yakin, TFT dan RSPO akan bersemangat membantu perusahaan PT. AE untuk tumbuh menjadi perusahaan yang ramah orangutan dan ramah hutan.” 

Untuk informasi lebih lanjut dan wawancara, harap menghubungi 
Ramadhani
HP : 081349271904
email : dhani@cop.or.id

13 ORANGUTANS TRAPPED IN AE CORPORATION PALM PLANTATION, MINISTRY OF ENVIRONMENT AND FORESTRY MUST BE FIRM

Centre for Orangutan Protection (COP) are urging the Ministry of Environment and Forestry to summon all of their power to save the 13 orangutans trapped in AE Corporation’s land in East Kutai, East Kalimantan. The pressure has been put on the Ministry through a demonstration in the lobby and grounds of the Ministry building in Jakarta. COP Activists wore orangutan costumes.

COP greatly appreciates the response from the East Kalimantan Conservation and National Resources Agency. The report was submitted on the 10th of March 2016, and immediately followed up with a field visit on the 20th – 21st March 2016. In this visit, although the team did not encounter the orangutans directly, four nests were sighted. This is an indication that there are indeed orangutans present on the land. With letter number S 330 / BKSDA – 1.4/2014, The Conservation and Natural Resources Agency (BKSDA) recommended that AE Corporation take an active role in the rescue efforts of protected wildlife within the plantation area, and other areas in which wildlife has been affected due to the presence of AE Corporation.

COP deems this recommendation to be insufficient. More proactive tangible actions are needed, as AE Corporation continues to publicly deny the presence of the trapped orangutans, through both media publications and official reports given to the Conservation and Natural Resources Agency and forwarded to various other parties.

Ramadhani, COP Managing Director gave the following statement:

“The denial from AE Corporation is an indication of bad faith. AE Corporation refuse to acknowledge their wrongdoings, which is dangerous to the orangutans that remain on their land. The Ministry of Environment and Forestry should not just blindly trust in the reports given by AE Corporation.”

“The Ministry must act quickly to send out a rescue team to help these orangutans, and an investigation team to uncover their crimes. Tolerance of cases like this in the past have sacrificed orangutans as a result of the expansion of palm oil plantations. At least 2000 orangutans have been evacuated to 5 Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and this atrocity continues on. The main cause is the lack of firm actions against it, particularly from a legal perspective.”

“The eyes of the international palm oil industry are currently on this case. Golden Agri Resources (GAR) and Wings Food have confirmed that they have temporarily suspended their trading agreement with PS Group, the parent organisation of AE Corporation. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) have also responded swiftly to this case. AE Corporations denial will only worsen the situation. Firmness from the Ministry of Environment and Forestry will improve the image of the international palm oil industry, which will ultimately have a positive impact on the national economy.”
 
For interviews and further information please contact:
Ramadhani,
Managing Director COP
dhani@cop.or.id
081349271904
For photo and video requests please contact:
Wahyuni,
Communication Manager COP
yuyun@cop.or.id
082143671729

13 ORANGUTAN TERJEBAK DI KEBUN SAWIT PT AE, KLHK HARUS TINDAK TEGAS

Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk mengerahkan segenap potensi untuk menyelamatkan 13 orangutan yang terjebak dalam kawasan konsesi PT. AE di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Desakan disampaikan dalam demonstrasi di lobi gedung dan halaman Kementerian Kehutanan di Jakarta. Para aktivis COP mengenakan kostum orangutan. 

COP sangat mengapresiasi respon Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Laporan yang disampaikan pada tanggal 10 Maret 2016 langsung ditanggapi dengan kunjungan lapangan pada tanggal 20 – 21 Maret 2016. Dalam kunjungan tersebut, meskipun tim tidak berjumpa langsung dengan orangutan namun tim menemukan 4 sarang orangutan. Ini adalah indikasi kuat keberadaan orangutan. Melalui surat nomor S 330 / BKSDA -1.4/2014, BKSDA merekomendasikan PT AE untuk berperan aktif dalam upaya penyelamatan satwa dilindungi yang berada di areal kebun dan areal berdampak bagi satwa sebagai akibat keberadaan PT. AE. 

COP menilai bahwa rekomendasi tersebut tidak cukup. Diperlukan tindakan prokatif yang lebih nyata mengingat PT AE terus melakukan penyangkalan atas keberadaan orangutan yang terjebak. Penyangkalan dilakukan melalui publikasi di media maupun surat resmi ke BKSDA dan ditembuskan ke berbagai pihak. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan: 

“Penyangkalan yang dilakukan oleh PT AE merupakan indikasi itikad tidak baik. PT AE terkesan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuat dan ini membahayakan orangutan yang tersisa di kawasan konsesi mereka. Tidak seharusnya KLHK mempercayai begitu saja laporan – laporan yang disampaikan oleh PT. AE” 

“Kementerian LH&K harus bergerak cepat menerjunkan tim rescue untuk menolong orangutan dan tim penyidik untuk mengungkap kejahatan ini. Pembiaran atas kasus – kasus serupa telah mengakibatkan korban orangutan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit terus berjatuhan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke 5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hal ini masih terus berlangsung. Penyebab utamanya adalah nihilnya tindakan tegas terutama dalam hal penegakan hukum.” 

“Mata industri kelapa sawit internasional sedang menatap ke arah kasus ini. Golden Agri Resources (GAR) dan Wings Food dikonfirmasi telah memutuskan sementara kontrak dagang dengan PS Group, induk perusahaan PT. AE. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) juga merespon cepat kasus ini. Penyangkalan PT AE hanya akan memperparah situasi. Sikap tegas KLHK akan memperbaiki citra industri kelapa sawit nasional, yang pada akhirnya berdampak baik pada perekonomian nasional.” 

Wawancara dan informasi harap menghubungi: 

Ramadhani, 
Managing Director COP 
dhani@cop.or.id
081349271904 

Permintaan foto dan video harap menghubungi: 
Wahyuni, 
Communication Manager COP 
yuyun@cop.or.id
082143671729 

CRITICAL: THE FATE OF 13 ORANGUTANS IN PALM PLANTATION SUSPECTED TO BELONG TO AE CORPORATION

Centre for Orangutan Protection (COP) is urging the AE Corporation to stop endangering the lives of orangutans. This demand is based on COP’s findings regarding the presence of 13 (thirteen) orangutans (Pongo pygmaeus morio) trapped in several small fragmented forests, which are suspected to be within the AE Corporation’s land and/or affected by the company logging the natural forest area to open up a new palm oil plantation in East Kalimantan. As well as orangutans, COP also recorded various rare and protected animal species in this area, such as Müller’s Bornean Gibbon (Hylobates muelleri) and Hornbills (Bucerotidae sp.).

The AE Corporation must act fast to prevent any further crimes such as hunting, which is now very likely. The thirteen orangutans are now an easy target for hunters due to the small size of the remaining forest area and the sparsity of trees. COP considers the capacity of the forest to no longer be sufficient to support these animals, and as a result the orangutans have begun consuming oil palm shoots. The demise of the orangutans in this area is only a matter of time as they will be considered pests.

COP believes a serious mistake has been made in the provision and implementation of permits for palm oil plantations in the aforementioned region. The presence of a rich diversity of wild animal species is evidence that the area would have previously been considered a region of High Conservation Value, which can be considered a crime based on Regulation 5 1990, section 21 paragraph 2 clause (e):
“All persons are prohibited from removing, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animal species.”

The clearing of forests in order to establish a new palm oil plantation poses a threat for the longevity of orangutans and other wild animals in Kalimantan. At least 2000 orangutans have been forced to be evacuated to Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and until now the influx of displaced orangutans is showing no signs of stopping.

KRITIS, NASIB 13 ORANGUTAN DI KEBUN SAWIT
Jakarta, Centre for Orangutan Protection (COP) pada 10 Maret 2016 dalam aksi damai mendesak PT. AE untuk berhenti membahayakan nyawa orangutan. Desakan ini didasarkan pada temuan COP mengenai keberadaan 13 (tiga belas) orangutan (Pongo pygmaeus morio)  yang terjebak dalam beberapa hutan kecil yang sudah terfragmentasi, yang mana diduga berada di dalam kawasan konsesi PT. AE dan atau terdampak PT. AE yang melakukan pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit baru di Kalimantan Timur. Selain orangutan, COP juga berhasil mengidentifikasi berbagai jenis satwa liar langka dan dilindungi seperti Owa Abu (Hylobates muelleri) dan Rangkok (Bucherotidae). 

PT. AE harus bergerak cepat untuk mencegah kejahatan lanjutan yang sangat mungkin terjadi, misalnya perburuan. Ke 13 orangutan tersebut merupakan target mudah bagi para pemburu karena sempitnya kawasan yang tersisa dan jarangnya pepohonan. COP menilai bahwa daya dukung kawasan tersebut sudah tidak memadai, karenanya orangutan memakan tunas-tunas kelapa sawit. Dibasminya orangutan di kawasan tersebut hanyalah soal waktu saja karena dianggap sebagai hama. 

COP menilai bahwa telah terjadi kesalahan serius dalam hal pemberian ijin dan pelaksanaan ijin perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut. Keberadaan beragam jenis satwa liar merupakan bukti bahwa kawasan tersebut dulunya memang merupakan kawasan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi (High Conservation Value) dan hal ini bisa dipandang sebagai sebuah kejahatan jika didasarkan pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, pasal 21 ayat 2 point (e): 

“Setiap orang dilarang untuk mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan / sarang satwa yang dilindungi.”

Pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup orangutan dan satwa liar lainnya di Kalimantan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke-5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hingga sekarang arus pengungsi orangutan belum ada tanda – tanda berhenti. 

COP URGES THE POLICE TO FIRMLY PENALIZE THE BURNER OF THREE ORANGUTANS

Today the Centre for Orangutan Protection (COP) urges the Indonesian National Police (Polri) to immediately establish a suspect in the case of the land burning resulting in the deaths of three (3) orangutans in Bontang, East Kalimantan. An official letter containing the insistence is escorted to the Police Headquarters in Jakarta by the COP volunteers wearing orangutan costumes. In the same occasion, the COP also appreciates the work of Bontang Police in handling such cases. So far, 11 people were questioned as witnesses. Crime scene (TKP) investigation and an autopsy the corpses of the three orangutans have also been done to determine the cause of the death.
Ramadhani, the Managing Director of COP states:
“We have provided technical support needed to handle this case, so that the police and KLHK can uphold the justice for orangutans that become the victims. If we fail to enforce the laws on this conservation mascot, then this would be a bad precedent for the protection of a wide range of other rare wildlife. People will go around killing wildlife without legal consequences. Based on UU No. 5 1990 on Conservation of Biodiversity and Ecosystems, then it was worth to sentence the burner 5 years imprisonment and a fine of 100 million.”
 
“This case is very strategic. If the police successfully jail the suspect, this would send a message to the public that nobody should ever harm orangutans. The success of the police in jailing the orangutan killers from various palm oil companies in 2011 gave a tremendous psychological impact. In East Kalimantan, both companies and individuals will report immediately when they have a problem with orangutans. They know exactly the impact that would be incurred if they act illegally. Over time, the law enforcement is needed to refresh the public memory about the importance of the protection of orangutans.”
 
The number of orangutans in Kalimantan estimated to be 52,000 in 2004 and the numbers keep falling because of the forest clearing for palm oil plantations. At least 2000 orangutans had to be evacuated to 5 Orangutan rescue centers spreading over several areas in Kalimantan, one of them is operated by the COP at the Forest Research Labanan, Berau. Experts estimate that the first baby orangutan up in rescue centers may represent 2 to 10 other orangutans that were killed. In the case of this burned dead orangutan, 1 baby orangutan was found dead along with two other adult orangutans.

More information and interview:
Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

NOTES
February 20, 2016
Fires in Belimbing Village , District West Bontang , East Kalimantan Bontang occur .
 
February 21, 2016
COP obtained preliminary information on social media about orangutans that become the victims in the area burned. Then the team coordinated with BKSDA East-Bornep, SPORC East-Borneo, Bontang Police, Kutai National Park regarding this incident. The team found that allegedly used tires to burn the land.
 
February 22, 2016
Coordination with the Police and BKSDA Kaltim Bontang to conduct autopsies on the three orangutans that were found.
 
February 23, 2016
Demolition of orangutans’ cemetery under the direction of Police Bontang, East Kalimantan, BKSDA and TNK. The COP’s medical team performed the autopsy to the three corpses of orangutan to ensure and conclude the cause of the death. And now the case is handled by Bontang Police.

COP MEMINTA POLISI MENINDAK TEGAS PEMBAKAR 3 ORANGUTAN 

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri)  untuk segera menetapkan tersangka pada kasus pembakaran lahan yang berakibat tewasnya 3 (tiga) individu orangutan di Bontang, Kalimantan Timur. Surat resmi yang berisikan desakan tersebut diantar ke Mabes Polri di Jakarta oleh para relawan COP dengan mengenakan kostum orangutan. Dalam kesempatan yang sama, COP juga mengapresiasi kerja Polres Bontang dalam menangani kasus tersebut. Sejauh ini, sudah 11 orang yang diperiksa sebagai saksi. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan otopsi mayat orangutan untuk mengetahui penyebab kematian juga sudah dilaksanakan. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan sebagai berikut: 

“Kami telah memberikan dukungan teknis yang dibutuhkan untuk menangani kasus ini, agar Polri dan KLHK dapat menegakkan keadilan pada orangutan yang menjadi korban. Jika kita gagal menegakkan hukum pada maskot konservasi ini, maka ini akan menjadi preseden buruk bagi perlindungan beragam jenis satwa liar langka lainnya. Orang akan seenaknya membunuh satwa liar tanpa adanya konsekuensi hukum. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, maka si pembakar orangutan itu layak dihukum penjara 5 tahun dan denda 100 juta.”  

“Kasus ini sangat strategis. Jika polisi berhasil menjebloskan si tersangka ke penjara, ini akan memberikan pesan ke publik bahwa jangan pernah berbuat jahat pada orangutan. Keberhasilan Polri dalam menjebloskan para pembunuh orangutan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2011 memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Di Kalimantan Timur, baik perusahaan maupun perorangan akan segera melapor manakala bermasalah dengan orangutan. Mereka tahu persis dampak hukum yang bakal ditanggung jika bertindak sendiri. Seiring berjalannya waktu, maka penegakan hukum sangat diperlukan untuk menyegarkan ingatan masyarakat mengenai pentingnya perlindungan orangutan. 

Jumlah orangutan di Kalimantan diperkirakan 52.000 pada tahun 2004 dan jumlahnya terus merosot dikarenakan hutan yang menjadi habitatnya dibabat untuk membuka perkebunan kelapa sawit. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke 5 Pusat Penyelamatan Orangutan yang tersebar di beberapa daerah di Kalimantan, salah satunya dikelola oleh COP di Hutan Penelitian Labanan, Kabupaten Berau. Para ahli memperkirakan bahwa 1 bayi orangutan yang sampai di Pusat Penyelamatan bisa jadi mewakili 2 sampai 10 orangutan lainnya yang terbunuh. Dalam kasus orangutan tewas terpanggang ini, 1 bayi orangutan ditemukan tewas bersama 2 orangutan dewasa lainnya. 

Untuk informasi dan wawancara: 

Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

CATATAN REDAKSI 
20 Februari 2016
Kebakaran lahan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, Bontang Kalimantan Timur terjadi.

21 Februari 2016
COP mendapatkan informasi awal dari sosial media perihal korban orangutan di areal yang dibakar. Kemudian tim melakukan koordinasi dengan BKSDA Kaltim, SPORC Kaltim, Polres Bontang, Balai Taman Nasional Kutai perihal kejadian ini. Tim menemukan ban bekas yang diduga untuk membakar lahan.

22 Februari 2016 
Koordinasi dengan Polres Bontang dan BKSDA Kaltim guna melakukan otopsi untuk ketiga individu orangutan yang ditemukan.

23 Februari 2016
Dilakukan pembongkaran kuburan Orangutan dan atas arahan dari Polres Bontang, BKSDA Kaltim dan Balai TNK tim medis COP melakukan otopsi ketiga individu orangutan untuk memastikan orangutan dan menyimpulkan penyebab kematian. Dan saat ini kasus ditangani oleh Polres Bontang.

AGAIN, ORANGUTANS BURNED

Facebook users were shocked by photos of two orangutans burned to death because of forest fire in Belimbing, West-Bontang, East Borneo. The photos show a female orangutan and her baby died in the fire until there is no hair remains.

Together with BKSDA Est-Borneo, the Kutai National Park officers, and Bontang Police, APE Crussader arrived on the location on Sunday afternoon, Februari 21, 2016. COP’s team has not got a lot of additional data because the bodies of orangutans were already buried nearby the location.

One of the instructions in order to determine the cause of the deaths was to perform an autopsy on the corpse of these orangutans. Beside, a chronological investigation to the occurrence has also to be done.

“This case has become viral on social media and the international community. The world challenges and highlights us, if we can finish this case of unnatural death of orangutans to its conclusion.” said Ramadhani, COP’s Director of Operations.

In Article 21 paragraph (2) letter a in conjunction with Article 40 paragraph (2) of UU No. 5 1990 on Conservation of Biological Resources and ecosystems sentences an imprisonment of 5 (five) years in prison and a maximum fine of Rp 100,000,000.00 (One hundred million rupiah) for capturing, injuring, killing, keeping, owning, raising, transporting and trading protected animals alive.

For further information and interviews please contact:
Ramadhani
Director of Operations of Centre for Orangutan Protection
email: dhani@cop.or.id
HP: 081349271904

LAGI ORANGUTAN TERPANGGANG

Media Social Facebook diramaikan dengan beredarnya foto orangutan mati terpanggang karena pembakaran lahan di kelurahan Belimbing, kecamatan Bontang Barat, Kalimantan Timur. Dalam foto terlihat orangutan mati terbakar hingga tidak ada sisa rambut atau bulunya disertai dengan kematian anaknya.

Siang, 21 Februari 2016 tim APE Crusader berada di lokasi kejadian bersama BKSDA Kalimantan Timur, Balai Taman Nasional Kutai dan Polres Bontang. Tim Centre for Orangutan Protection belum banyak mendapat data tambahan karena mayat orangutan sudah terlanjur dikubur dekat lokasi kejadian.

Salah satu petunjuk agar mengetahui asal usul kematian orangutan adalah dengan melakukan otopsi terhadap mayat otangutan. Serta melakukan penyelidikan kronologis secara menyeluruh terjadinya kebakaran yang mengakibatkan kematian satwa liar yang dilindungi ini.

“Kasus ini sudah menjadi viral di media sosial dan dunia Internasional. Kita ditantang dan disorot oleh dunia, apakah kita bisa menyelesaikan kasus kematian orangutan tidak wajar ini hingga tuntas.”, ujar Ramadhani, Direktur Operasional COP.

Pada pasal 21 ayat (2) huruf a jo pasal 40 ayat (2) Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya mengancam hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) bagi orang yang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut silahkan menghubungi:
Ramadhani
Direktur Operasional Centre for Orangutan Protection
email : dhani@cop.or.id
HP : 081349271904

ONE WORLD FESTIVAL JAPAN

2015 was the year that Kalimantan burned. The airports of five Kalimantan provinces were almost completely out of action. The COP Borneo Rehabilitation Centre was on standby. Centre for Orangutan Protection even stepped in to help extinguish fires at Wein River, East Kalimantan, and alongside Hutan Group with the Friends of the National Parks Foundation, in Tanjung Puting National Park, Central Kalimantan.

In the annual event One World Festival in Osaka, Japan, COP and Hutan Group had the opportunity to speak about the fires that had engulfed the whole of Kalimantan, on the 6th and 7th of February 2016. In addition, Hutan Group also made efforts during the event to raise funds and campaign for the protection of natural forests from Palm oil and fires.

Tahun 2015 adalah tahun dimana Kalimantan terbakar. Bandara lima provinsi Kalimantan hampir lumpuh total. Pusat Rehabilitasi COP Borneo siaga. Centre for Orangutan Protection pun turut membantu memadamkan kebakaran di sungai Wein, Kalimantan Timur dan bersama Hutan Group dengan FNPF di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Pada kegiatan tahunan, One World Festival di Osaka, Jepang, COP dan Hutan Group berkesempatan menceritakan kebakaran yang melanda Kalimantan keseluruhan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016. Selain itu HUTAN Group berusaha menggalang dana sekaligus mengkampanyekan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran di acara tahunan itu.

ORANGUTAN KUNTHI BACK HOME

Kunthi have a tremendous spirit to recover. After being intensively nursed, this estimated 29 years old male orangutan is considered ready to be released back. Physical defects in the eyes and teeth did not become a hindrance for the translocation because Kunthi are already familiar with the condition. Nature provides everything for Kunthi to heal himself.

Kunthi was rescued by BOSF on March 8, 2000 from the village Menamang and was translocated to the Forest Meratus 5 days later. At the time Kunthi was about 13 years old. Deforestation caused by palm oil plantations has narrowed the motion and reduced the availability of fodder. This situation forced Kunthi to forage in the countryside. The society regard him as a pest, and then the tragedy happened: Kunthi was arrested, beaten and tied up.

Kunthi is the latest illustration of the impact of the lack of government’s commitment to secure the region into wildlife habitat. The road is still long for Kunthi and thousands of other orangutans displaced from their habitat. They all need your help.

#‎saveorangutan #‎waybackhome #‎orangutanrelease #‎APEDefender #‎APECrusader

Kunthi memiliki semangat yang luar biasa untuk pulih. Setelah dirawat secara intensif, orangutan jantan yang diperkirakan berusia 29 tahun ini dinilai telah siap untuk dilepasliarkan kembali. Cacat fisik pada mata dan gigi tidak menjadi halangan untuk dilakukannya translokasi karena merupakan luka lama dan Kunthi sudah terbiasa dengan kondisi fisik tersebut. Alam menyediakan segalanya bagi Kunthi untuk menyembuhkan diri.

Kunthi pernah diselamatkan Yayasan BOS pada tanggal 8 Maret 2000 dari desa Menamang dan ditranslokasikan ke Hutan Meratus 5 hari kemudian. Saat itu Kunthi diperkirakan berusia 13 tahun. Pembabatan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit telah mempersempit ruang geraknya dan mengurangi ketersediaan pakan. Situasi ini memaksa Kunthi untuk mencari makan di pedesaan. Masyarakat menganggapnya sebagai hama dan lalu terjadilah tragedi itu: Kunthi ditangkap, dipukuli dan diikat.

Kunthi adalah gambaran terkini mengenai dampak dari minimnya komitmen pemerintah untuk mengamankan kawasan yang menjadi habitat satwa liar. Jalan masih panjang bagi Kunthi dan ribuan orangutan lainnya yang tergusur dari habitatnya. Mereka semua membutuhkan bantuan Anda.

GOOD NEWS BIG MALE KUNTHI

We have good news today. The big male, #‎orangutanKunthi makes it well. He is very tough man. He eat alot an work hard to heal cure himself by licking the wounds.

We put his fruits in the top of cage to check whether he can raise it or not. He did it well. He can climb!

Sorry for the pictures as they are not good enough. A bit difficult to have good one as an normal wild orangutan, he still very shy to camera.

Now we are preparing the release back to wild for tomorrow. Big forest provide everything to cure him and he now excactly how to do.
Stay tune for lastest updates.

#‎forestwars #‎conflictpalmoil #‎apecrusader

Kami punya berita gembira hari ini. Si pria besar Kunthi telah menjalaninya dengan baik. Dia adalah pria yang tangguh. Makan banyak dan berusaha mengobati dirinya sendiri dengan menjilati lukanya.

Kami menaruh makannya di atas kandang untuk menilai apakah dia bisa mengambilnya. Dia BISA! Ini artinya dia bisa memanjat.

Maaf fotonya kurang bagus karena dia, selayaknya #‎orangutanliar masih malu dengan kamera.

Saat ini kami sedang mempersiapkan pelepasliarannya kembali, besok. hutan yang luas menyediakan apapun untuk penyembuhannya dan dia tahu persis bagaimana melakukannya. ikuti terus perkembangannya.

THAT BIG MALE ORANGUTAN WAS KUNTHI

On the 27th of January 2016 a large male orangutan was captured, who had caught the attention of the North Paser community. The orangutan, estimated at over 20 years of age, was captured by residents after entering their settlement. A visual inspection of the orangutan’s condition was made by Veterinarian Ade Fitria from the Centre for Orangutan Protection. The results revealed damage to his left eye – which was no longer functioning, several broken teeth, and mild wounds as well as swelling on his hands and feet, a result of being tied up for over 19 hours.

The following day the large male was given a full examination, which uncovered old wounds as well as new. What was surprising was the discovery of a microchip. Microchips in orangutans are an important mark, in the form of an alphanumerical code, given to an orangutan for individual records after a rescue is carried out. This is important for orangutans that have been rescued previously as the chip contains information about the orangutan’s history.

Yes, the orangutan with the blind left eye and missing teeth was Kunthi, a male orangutan rescued on the 8th of March, 2000 in the Manamang area. At that time he was estimated to be over 13 years old. Five days later, Kunthi was released again on the 13th of March 2000. (ADE)

ORANGUTAN JANTAN BESAR ITU ADALAH KUNTHI

Tertangkapnya orangutan jantan besar pada 27 Januari 2016 yang menarik perhatian masyarakat Paser Utara. Orangutan yang diperkirakan berusia 20 tahun lebih ini merupakan tangkapan warga yang masuk pemukiman. Proses inspeksi (penilaian kondisi tubuh dari luar) pun dilakukan dokter hewan Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection. Hasilnya terlihat rusaknya mata sebelah kiri yang tidak dapat berfungsi untuk melihat kembali, dan beberapa gigi yang patah dan luka ringan pada tangan dan kaki serta bengkaknya tangan dan kaki karena terikat dengan tali lebih dari 19 jam.

Keesokan harinya orangutan jantan dewasa itu diperiksa secara menyeluruh, dengan hasil ditemukannya luka lama dan luka baru. Hal yang mengejutkan adalah ditemukannya microchip. Microchip pada orangutan merupakan penanda (dalam bentuk kode angka dan huruf) yang diberikan untuk pendataan individu setelah dilakukan rescue. Microchip merupakan penanda penting bagi orangutan yang pernah direscue karena adanya catatan tentang orangutan tersebut sebelumnya.

Ya, orangutan dengan sebelah mata buta dan gigi taring rontok itu adalah orangutan Kunthi. Orangutan yang jantan yang diselamatkan pada 8 Maret 2000 di daerah Manamang. Saat itu perkiraan usianya lebih dari 13 tahun. Selang lima hari kemudian, orangutan Kuthi pun dilepasliarkan kembali (13 Maret 2000). (ADE)

Page 4 of 512345