APE CRUSADER

TWO YOUNG ORANGS, CHAINED!

Those two young orangutans have been chained when we found them in two separe places. The first one being chained onhis neck, and still, placed inside the wooden cage. The second one, being chained on his leg in the river bank. According to the local Wildlife Authority officer, the trend of illegal captivity of orangutans have been increasing since forest fires back in 2015. Most of them to make way for oil palm plantation.
Please donate through Orangutan Outreach for supporting the APE Crusader Team in rescuing orangutans and its habitat.
Kedua bayi orangutan ini ditemukan dengan leher terikat, dimasukkan ke dalam kotak kayu. Satu bayi sakit di pergelangan kaki kirinya, kondisi buruk ini diperolehnya saat hidup dalam pemeliharaan dekat sungai dan sampah. Kedua bayi orangutan ditemukan sudah terpisah dengan induknya. Pemeliharaan orangutan illegal semakin banyak setelah kasus kebakaran hutan 2015 yang lalu. Ketersediaan luasan dan pakan sangat kurang, dimana hutan sudah beralih fungsi menjadi konsesi perkebunan sawit. APE Crusader menyelamatkan kedua bayi tersebut, tadi siang.

APE CRUSADER SAVED BABY APUNG

The APE Crusader Team rescued a two weeks baby from a local in Tumbang Koling village last night. We call him, APUNG. Just like human baby, he is still very weak. Just drink milk. If he drink too much, he started diarrhea. We took him to nearest Centre: BOS Nyarumenteng. Hope he can survive.
It been a week, this team patrolling in Central Kalimantan. The mission to spot the illegal captivity and to monitor the potential threat towards orangutan. At least 3 orangutans cases in our list now and also a big plan from a RSPO member to clear forest have been identified. Thanks to Orangutan Outreach as well as Georgina Stewart for supporting us.
Tim APE Crusader baru saja menyelamatkan satu bayi orangutan dari desa Tumbang Koling tadi malam. Seperti halnya bayi manusia yang masih sangat lemah, ia hanya minum susu. Jika terlalu banyak dia mulai mencret. Kami membawanya ke pusat penyelamatan terdekat: BOS Nyarumenteng. Semoga dia bisa bertahan hidup.
Sudah seminggu ini Tim APE Crusader berada di Kalimantan Tengah dalam perjalanan patroli rutinnya. Sudah ada beberapa informasinya orangutan yang dipelihara illegal oleh masyarakat setempat dan juga rencana – rencana pembabatan hutan yang akan dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Terima kasih kepada Orangutan Outreach dan Georgina Stewart yang mendukung penuh operasi tim ini.

THE APE CRUSADER TEAM JUST SAVED 2 YEARS OLD BABY

Another orangutan just rescued yesterday from a local in Sampit District, Central Kalimantan by the APE Crusader Team and Wildlife Authority (BKSDA). Sampit is the deadliest spot for orangutan as the direct impact of the forest clearing to make for oil palm plantation.
Parjan, this young boy have been kept illegally by Ibu Natun for about 2 years. She found him alone, without mother, in her farm. Parjan, have been treated just like human baby. As he is growing bigger and stronger, he started causing troubles in neighbourhood.
Thanks to the Orangutan Outreach for funding the APE Crusader Team. More than 100 orangutans have been treated since its inception in 2008.

INDONESIA SUSTAINABLE PALM OIL

Alongside with the Ministry of Agriculture, the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) are ignoring our appeal to the fate of orangutans in the concession area of PT. AE. Apparently, they choose to cover up the crimes against orangutan and its habitat. Share this wide and far, make it your FB cover.
Bersama dengan Kementerian Pertanian, ISPO mengabaikan seruan kami untuk nasib orangutan yang berada di kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit PT. AE. Mereka memilih untuk menutupi kejahatan kerhadap orangutan dan habitatntya. Sebarkan ini seluas dan sejauh mungkin. Jadikan sampul FB mu.

ADULT ORANGUTAN KILLED IN SANGATTA RIVER

KLIKSANGATTA. An adult orangutan (Pongo pygmaeus) was found on the banks of the River Sangatta, precisely at the end of the Gang Jalan Rawa Indah, Sangatta District of North, East Kutai Regency, East Kalimantan, Sunday, May 1, 2016. Approximately at 10:50 pm, some police personnel, firefighters, Kutim PMI has been in the location for evacuation.
The East Kutai Police Commander, Adj AKP Andika Dharma Sena stated, the initial report came from the police Sangatta about 30 minutes ago. He said he had coordinated with the BKSDA Kaltim and the Centre for Orangutan Protection (COP).
“We evacuate it first. We also coordinate with COP, BKSDA Kaltim and relevant agencies for further treatment. We’ve asked COP’S medical team have to come from for autopsy. We’ll see, whether the cause of his death : is it deliberately killed by human or not,” Sena stated.
Currently, the body of the poor orangutans have been taken to the General Hospital of Kudungga in Jalan Soekarno-Hatta for the initial inspection until the autopsy team coming, he added.
“All the witnesses first statement will also be taken for examination. Including areas surrounding the examination will be narrowed, it will be described the scene of his, “said Sena.
He did not comment much related to any speculation regarded swelling sores and maggots crowd. He only suspected that orangutan have died a few days ago.
“However, lets the COP’s vet autopsy it.”
KLIKSANGATTA – Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) dewasa ditemukan hanyut dalam kondisi telah membusuk di tepi Sungai Sangatta, tepatnya di ujung Gang Rawa I Jalan Rawa Indah, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutim, Kalimatan Timur, Minggu 1 Mei 2016.
Satwa yang masuk kategori terancam punah itu ditemukan dalam kondisi telungkup dengan bagian punggung menyembul ke permukaan air. Sekira pukul 10.50 wita, sejumlah personel kepolisian, pemadam kebakaran, PMI Kutim telah berada di lokasi untuk evakuasi.
Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Andika Dharma Sena menyebutkan, laporan awal berasal dari Polsek Sangatta sekitar 30 menit yang lalu. Dirinya mengatakan telah berkordinasi dengan BKSDA Kaltim dan Centre of Orangutan Protection (COP), salah satu NGO pelestarian dan perlindungan orangutan.
“Kita evakuasi dulu. Koordinasi dengan BKSDA Kaltim dan COP serta instansi terkait untuk penanganan lebih jauh juga sudah. Kita sudah minta datangkan tim medis dari COP di Berau untuk otopsi. Kita lihat nanti, apakah penyebabnya kematiannya. Disengaja (ulah manusia, Red.), hanyut atau dia tenggelam atau bagaimana,” ungkap Sena di lokasi.
Saat ini, jasad orangutan malang itu telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Kudungga di Jalan Soekarno-Hatta untuk pemeriksaan awal hingga tim otopsi datang, ia menambahkan.
“Semua saksi-saksi pertama kali juga akan diambil keterangannya untuk pemeriksaan. Termasuk sekitar areal pemeriksaan akan dipersempit, akan digambarkan TKP-nya,” ujar Sena.
Ia tak banyak berkomentar terkait perkiraan orangutan itu meregang nyawa. Melihat luka pembengkakan dan kerumunan belatung, ia menduga orangutan itu tewas beberapa hari lalu.
“Namun, nanti dokter yang bisa memastikan,” singkatnya. (*)
#BLACKSUNDAY

http://kliksangatta.com/berita-3116-orangutan-dewasa-ditemukan-tewas-membusuk-di-sungai-sangatta.html

STOP SAWIT IN EARTH DAY

“Stop Palm Oil!”, said Paulinus Kristanto. “April 16, 2016 COP found one (1) baby orangutan using old nest. At the same time, COP found one (1) adult orangutan walking on the ground in Palma Serasih’s oil palm plantation.”, he explained.
“The location where we found the orangutan was a fragmented forest. Orangutan will be more pressured because their living space is getting narrower. They could die of starvation, be killed by workers of the plantation because it is considered as pest, be killed by local people because they endanger the safety or be killed by traditional hunters to be eaten or to be sold.
‪#‎StopSawit‬ ‪#‎ForestWars‬ ‪#‎ConflictPalmOil‬
This year, COP along with Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim, Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, RASI Foundation, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-biduk and Gusdurian commemorated the Earth Day which falls on April, 22 each year.
‪#‎HariBumi2016‬ ‪#‎EarthDay2016‬
“Stop Sawit!”, tegas Paulinus Kristanto. “16 April 2016 COP menemukan 1 (satu) anak orangutan yang menggunakan sarang lama. Pada saat yang bersamaan, COP menemukan 1 (satu) orangutan dewasa yang berjalan di tanah perkebunan sawit Palma Serasih.”, jelasnya.
“Lokasi tempat ditemukan kedua orangutan tersebut merupakan kawasan berhutan yang sudah sangat terfragmentasi. Orangutan akan semakin terdesak karena ruang hidupnya semakin sempit. Mereka bisa mati kelaparan, tewas dibunuh pekerja sawit karena dianggap hama, dibunuh masyarakat setempat karena dianggap membahayakan keselamatan dan atau dibunuh pemburu tradisional untuk dimakan atau diambil bayinya untuk dijual.
Tahun ini, COP bersama Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, Yayasan RASI, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-Biduk dan Gusdurian bersatu dalam FORUM SATU BUMI KALIMANTAN TIMUR dalam memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April setiap tahunnya.

ORANGUTANS COUNT DOWN TO DEATH IN OIL PALM PLANTATION OF PT. AE

Today, Centre for Orangutan Protection (COP) published the latest conditions : The fate of orangutans affected by deforestation for oil palm plantations allegedly committed by PT. AE in East Kalimantan. There are some important things in the report:

COP found one (1) baby orangutan in an old nest. At the same time, COP found one (1) adult orangutan walking on the oil palm plantation. Both were found on April16, 2016 between 17:00 to 17:30 in a fragmented forest.
The forests seem to be fragmented through clearing and burning process. Thus, the orangutan will be increasingly pressured because their living space more is getting narrower. They would starve to death, be killed by workers of the plantation because they are considered as pests, be killed by local people because they endanger the safety, or be killed by traditional hunters to be eaten or sold.

This report reinforces the previous reports submitted by COP on March 10, 2016, with reference number 06/HQ-03/COP/2016. The report mentions that 13 (thirteen) orangutans were threatened. The report has been followed up by the BKSDA Kaltim, Secretariat of the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), The Forest Trust (TFT), Golden Agri Resources (GAR) and Gawi Plantation. Unfortunately, the Ministry of Agriculture, Palm Oil Association Indonesia (GAPKI) and the Indonesian Sustainable Palm Oil decided to cover this crime by ignoring the report from COP. Counterproductive action was taken by PT AE by providing information that suggests that there is nothing wrong with the company’s operations and orangutans in its concession. Other action that is more counterproductive is to bribe the media Bisnis Indonesia to release a unilateral opinion. COP deplores the attitude of PT. AE suggesting that the effort taken by COP is a kind of Black Campaign in the palm oil industry. PT. AE should be focus to resolve the problem with the orangutans. It will build a good
image for national palm oil industry.

Ramadhani, Managing Director COP states:
“BKSDA Kaltim should be proactive to deal with these cases so that victims (orangutan) can be prevented early. The Ministry of Forestry should learn from the previous cases that the lack of law enforcement has led to more casualties (orangutan). 5 Orangutan rescue center in Borneo Orangutan with more than 2000 orangutans is a valid proof on manmade disaster caused by irresponsible palm oil industry.”.

“PT AE should admit their mistakes and focus to find a solution so that
orangutans could be saved. Irresponsible palm oil companies like PT AE
affects the image of the palm oil industry company. COP believes that TFT
and RSPO will eagerly help PT. AE to grow into a company that is friendly
towards orangutans and forests.”.

For further information and interviews, please contact:
Ramadhani
HP :081349271904
email :dhani@cop.or.id

ORANGUTAN MENGHITUNG MUNDUR KEMATIAN DI KEBUN SAWIT PT. AE

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini mempublikasikan kondisi terkini : nasib orangutan yang terdampak pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit yang diduga dilakukan oleh PT. AE di Kalimantan Timur. Ada beberapa hal penting dalam laporan tersebut, yakni: 

COP menemukan 1 (satu) anak orangutan yang menggunakan sarang lama. Pada saat yang bersamaan, COP menemukan 1 (satu) orangutan dewasa yang berjalan di tanah perkebunan sawit. Keduanya ditemukan pada tanggal 16 April 2016 jam 17.00 – 17.30. Lokasi tempat ditemukan ke dua orangutan tersebut merupakan kawasan berhutan yang sudah sangat terfragmentasi. 
Hutan – hutan yang terfagmentasi tersebut nampak dalam proses dibabat dan dibakar. Dengan demikian, orangutan akan semakin terdesak karena ruang hidupnya semakin sempit. Mereka bisa mati kelaparan, tewas dibunuh pekerja sawit karena dianggap hama, dibunuh masyarakat setempat karena dianggap membahayakan keselamatan dan atau dibunuh pemburu tradisional untuk dimakan atau diambil bayinya untuk dijual. 

Laporan ini menguatkan laporan COP sebelumnya yang dikirimkan pada tanggal 10 Maret 2016 dengan nomor surat 06/HQ-03/COP/2016. 13 (tiga belas) orangutan dilaporkan terancam dalam laporan tersebut. Laporan tersebut sudah ditindaklanjuti oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Sekretariat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) , The Forest Trust (TFT), Golden Agri Resources (GAR) dan Gawi Plantation. Sayangnya, Kementerian Pertanian, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Indonesian Sustainable Palm Oil memilih untuk melindungi kejahatan ini dengan mengabaikan laporan COP. Tindakan kontraproduktif malah diambil pihak PT AE dengan memberikan keterangan yang mengesankan bahwa tidak ada yang salah dengan operasional perusahaan dan orangutan di kawasan konsesinya. Tindakan kontraproduktif lainnya adalah dengan membayar media Bisnis Indonesia untuk memuat opini sepihaknya. COP menyesalkan sikap PT. AE yang mensankan bahwa upaya COP adalah Black Campaign pada industri kelapa sawit. Sudah seharusnya PT. AE fokus menyelesaikan masalahnya dengan orangutan. Ini akan membangun citra yang baik bagi industri kelapa sawit nasional. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan sebagai berikut: 

“BKSDA Kaltim hendaknya proaktif dalam menangani kasus ini agar korban orangutan bisa dicegah lebih dini. Sudah seharusnya Kementerian Kehutanan belajar dari kasus – kasus sebelumnya bahwa nihilnya penegakan hukum telah menyebabkan korban orangutan terus berjatuhan. 5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dengan 2000 lebih orangutannya adalah bukti yang valid atas bencana buatan industri kelapa sawit yang tidak bertanggung jawab.” 

“Sebaiknya PT AE mengakui saja kesalahannya dan fokus ke solusi sehingga orangutan dapat diselamatkan. Yang merusak citra industri kelapa sawit adalah perusahaan – perusahaan tak bertanggung jawab seperti PT AE inilah. COP yakin, TFT dan RSPO akan bersemangat membantu perusahaan PT. AE untuk tumbuh menjadi perusahaan yang ramah orangutan dan ramah hutan.” 

Untuk informasi lebih lanjut dan wawancara, harap menghubungi 
Ramadhani
HP : 081349271904
email : dhani@cop.or.id

13 ORANGUTANS TRAPPED IN AE CORPORATION PALM PLANTATION, MINISTRY OF ENVIRONMENT AND FORESTRY MUST BE FIRM

Centre for Orangutan Protection (COP) are urging the Ministry of Environment and Forestry to summon all of their power to save the 13 orangutans trapped in AE Corporation’s land in East Kutai, East Kalimantan. The pressure has been put on the Ministry through a demonstration in the lobby and grounds of the Ministry building in Jakarta. COP Activists wore orangutan costumes.

COP greatly appreciates the response from the East Kalimantan Conservation and National Resources Agency. The report was submitted on the 10th of March 2016, and immediately followed up with a field visit on the 20th – 21st March 2016. In this visit, although the team did not encounter the orangutans directly, four nests were sighted. This is an indication that there are indeed orangutans present on the land. With letter number S 330 / BKSDA – 1.4/2014, The Conservation and Natural Resources Agency (BKSDA) recommended that AE Corporation take an active role in the rescue efforts of protected wildlife within the plantation area, and other areas in which wildlife has been affected due to the presence of AE Corporation.

COP deems this recommendation to be insufficient. More proactive tangible actions are needed, as AE Corporation continues to publicly deny the presence of the trapped orangutans, through both media publications and official reports given to the Conservation and Natural Resources Agency and forwarded to various other parties.

Ramadhani, COP Managing Director gave the following statement:

“The denial from AE Corporation is an indication of bad faith. AE Corporation refuse to acknowledge their wrongdoings, which is dangerous to the orangutans that remain on their land. The Ministry of Environment and Forestry should not just blindly trust in the reports given by AE Corporation.”

“The Ministry must act quickly to send out a rescue team to help these orangutans, and an investigation team to uncover their crimes. Tolerance of cases like this in the past have sacrificed orangutans as a result of the expansion of palm oil plantations. At least 2000 orangutans have been evacuated to 5 Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and this atrocity continues on. The main cause is the lack of firm actions against it, particularly from a legal perspective.”

“The eyes of the international palm oil industry are currently on this case. Golden Agri Resources (GAR) and Wings Food have confirmed that they have temporarily suspended their trading agreement with PS Group, the parent organisation of AE Corporation. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) have also responded swiftly to this case. AE Corporations denial will only worsen the situation. Firmness from the Ministry of Environment and Forestry will improve the image of the international palm oil industry, which will ultimately have a positive impact on the national economy.”
 
For interviews and further information please contact:
Ramadhani,
Managing Director COP
dhani@cop.or.id
081349271904
For photo and video requests please contact:
Wahyuni,
Communication Manager COP
yuyun@cop.or.id
082143671729

13 ORANGUTAN TERJEBAK DI KEBUN SAWIT PT AE, KLHK HARUS TINDAK TEGAS

Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk mengerahkan segenap potensi untuk menyelamatkan 13 orangutan yang terjebak dalam kawasan konsesi PT. AE di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Desakan disampaikan dalam demonstrasi di lobi gedung dan halaman Kementerian Kehutanan di Jakarta. Para aktivis COP mengenakan kostum orangutan. 

COP sangat mengapresiasi respon Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Laporan yang disampaikan pada tanggal 10 Maret 2016 langsung ditanggapi dengan kunjungan lapangan pada tanggal 20 – 21 Maret 2016. Dalam kunjungan tersebut, meskipun tim tidak berjumpa langsung dengan orangutan namun tim menemukan 4 sarang orangutan. Ini adalah indikasi kuat keberadaan orangutan. Melalui surat nomor S 330 / BKSDA -1.4/2014, BKSDA merekomendasikan PT AE untuk berperan aktif dalam upaya penyelamatan satwa dilindungi yang berada di areal kebun dan areal berdampak bagi satwa sebagai akibat keberadaan PT. AE. 

COP menilai bahwa rekomendasi tersebut tidak cukup. Diperlukan tindakan prokatif yang lebih nyata mengingat PT AE terus melakukan penyangkalan atas keberadaan orangutan yang terjebak. Penyangkalan dilakukan melalui publikasi di media maupun surat resmi ke BKSDA dan ditembuskan ke berbagai pihak. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan: 

“Penyangkalan yang dilakukan oleh PT AE merupakan indikasi itikad tidak baik. PT AE terkesan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuat dan ini membahayakan orangutan yang tersisa di kawasan konsesi mereka. Tidak seharusnya KLHK mempercayai begitu saja laporan – laporan yang disampaikan oleh PT. AE” 

“Kementerian LH&K harus bergerak cepat menerjunkan tim rescue untuk menolong orangutan dan tim penyidik untuk mengungkap kejahatan ini. Pembiaran atas kasus – kasus serupa telah mengakibatkan korban orangutan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit terus berjatuhan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke 5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hal ini masih terus berlangsung. Penyebab utamanya adalah nihilnya tindakan tegas terutama dalam hal penegakan hukum.” 

“Mata industri kelapa sawit internasional sedang menatap ke arah kasus ini. Golden Agri Resources (GAR) dan Wings Food dikonfirmasi telah memutuskan sementara kontrak dagang dengan PS Group, induk perusahaan PT. AE. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) juga merespon cepat kasus ini. Penyangkalan PT AE hanya akan memperparah situasi. Sikap tegas KLHK akan memperbaiki citra industri kelapa sawit nasional, yang pada akhirnya berdampak baik pada perekonomian nasional.” 

Wawancara dan informasi harap menghubungi: 

Ramadhani, 
Managing Director COP 
dhani@cop.or.id
081349271904 

Permintaan foto dan video harap menghubungi: 
Wahyuni, 
Communication Manager COP 
yuyun@cop.or.id
082143671729 

CRITICAL: THE FATE OF 13 ORANGUTANS IN PALM PLANTATION SUSPECTED TO BELONG TO AE CORPORATION

Centre for Orangutan Protection (COP) is urging the AE Corporation to stop endangering the lives of orangutans. This demand is based on COP’s findings regarding the presence of 13 (thirteen) orangutans (Pongo pygmaeus morio) trapped in several small fragmented forests, which are suspected to be within the AE Corporation’s land and/or affected by the company logging the natural forest area to open up a new palm oil plantation in East Kalimantan. As well as orangutans, COP also recorded various rare and protected animal species in this area, such as Müller’s Bornean Gibbon (Hylobates muelleri) and Hornbills (Bucerotidae sp.).

The AE Corporation must act fast to prevent any further crimes such as hunting, which is now very likely. The thirteen orangutans are now an easy target for hunters due to the small size of the remaining forest area and the sparsity of trees. COP considers the capacity of the forest to no longer be sufficient to support these animals, and as a result the orangutans have begun consuming oil palm shoots. The demise of the orangutans in this area is only a matter of time as they will be considered pests.

COP believes a serious mistake has been made in the provision and implementation of permits for palm oil plantations in the aforementioned region. The presence of a rich diversity of wild animal species is evidence that the area would have previously been considered a region of High Conservation Value, which can be considered a crime based on Regulation 5 1990, section 21 paragraph 2 clause (e):
“All persons are prohibited from removing, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animal species.”

The clearing of forests in order to establish a new palm oil plantation poses a threat for the longevity of orangutans and other wild animals in Kalimantan. At least 2000 orangutans have been forced to be evacuated to Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and until now the influx of displaced orangutans is showing no signs of stopping.

KRITIS, NASIB 13 ORANGUTAN DI KEBUN SAWIT
Jakarta, Centre for Orangutan Protection (COP) pada 10 Maret 2016 dalam aksi damai mendesak PT. AE untuk berhenti membahayakan nyawa orangutan. Desakan ini didasarkan pada temuan COP mengenai keberadaan 13 (tiga belas) orangutan (Pongo pygmaeus morio)  yang terjebak dalam beberapa hutan kecil yang sudah terfragmentasi, yang mana diduga berada di dalam kawasan konsesi PT. AE dan atau terdampak PT. AE yang melakukan pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit baru di Kalimantan Timur. Selain orangutan, COP juga berhasil mengidentifikasi berbagai jenis satwa liar langka dan dilindungi seperti Owa Abu (Hylobates muelleri) dan Rangkok (Bucherotidae). 

PT. AE harus bergerak cepat untuk mencegah kejahatan lanjutan yang sangat mungkin terjadi, misalnya perburuan. Ke 13 orangutan tersebut merupakan target mudah bagi para pemburu karena sempitnya kawasan yang tersisa dan jarangnya pepohonan. COP menilai bahwa daya dukung kawasan tersebut sudah tidak memadai, karenanya orangutan memakan tunas-tunas kelapa sawit. Dibasminya orangutan di kawasan tersebut hanyalah soal waktu saja karena dianggap sebagai hama. 

COP menilai bahwa telah terjadi kesalahan serius dalam hal pemberian ijin dan pelaksanaan ijin perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut. Keberadaan beragam jenis satwa liar merupakan bukti bahwa kawasan tersebut dulunya memang merupakan kawasan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi (High Conservation Value) dan hal ini bisa dipandang sebagai sebuah kejahatan jika didasarkan pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, pasal 21 ayat 2 point (e): 

“Setiap orang dilarang untuk mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan / sarang satwa yang dilindungi.”

Pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup orangutan dan satwa liar lainnya di Kalimantan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke-5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hingga sekarang arus pengungsi orangutan belum ada tanda – tanda berhenti. 

COP URGES THE POLICE TO FIRMLY PENALIZE THE BURNER OF THREE ORANGUTANS

Today the Centre for Orangutan Protection (COP) urges the Indonesian National Police (Polri) to immediately establish a suspect in the case of the land burning resulting in the deaths of three (3) orangutans in Bontang, East Kalimantan. An official letter containing the insistence is escorted to the Police Headquarters in Jakarta by the COP volunteers wearing orangutan costumes. In the same occasion, the COP also appreciates the work of Bontang Police in handling such cases. So far, 11 people were questioned as witnesses. Crime scene (TKP) investigation and an autopsy the corpses of the three orangutans have also been done to determine the cause of the death.
Ramadhani, the Managing Director of COP states:
“We have provided technical support needed to handle this case, so that the police and KLHK can uphold the justice for orangutans that become the victims. If we fail to enforce the laws on this conservation mascot, then this would be a bad precedent for the protection of a wide range of other rare wildlife. People will go around killing wildlife without legal consequences. Based on UU No. 5 1990 on Conservation of Biodiversity and Ecosystems, then it was worth to sentence the burner 5 years imprisonment and a fine of 100 million.”
 
“This case is very strategic. If the police successfully jail the suspect, this would send a message to the public that nobody should ever harm orangutans. The success of the police in jailing the orangutan killers from various palm oil companies in 2011 gave a tremendous psychological impact. In East Kalimantan, both companies and individuals will report immediately when they have a problem with orangutans. They know exactly the impact that would be incurred if they act illegally. Over time, the law enforcement is needed to refresh the public memory about the importance of the protection of orangutans.”
 
The number of orangutans in Kalimantan estimated to be 52,000 in 2004 and the numbers keep falling because of the forest clearing for palm oil plantations. At least 2000 orangutans had to be evacuated to 5 Orangutan rescue centers spreading over several areas in Kalimantan, one of them is operated by the COP at the Forest Research Labanan, Berau. Experts estimate that the first baby orangutan up in rescue centers may represent 2 to 10 other orangutans that were killed. In the case of this burned dead orangutan, 1 baby orangutan was found dead along with two other adult orangutans.

More information and interview:
Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

NOTES
February 20, 2016
Fires in Belimbing Village , District West Bontang , East Kalimantan Bontang occur .
 
February 21, 2016
COP obtained preliminary information on social media about orangutans that become the victims in the area burned. Then the team coordinated with BKSDA East-Bornep, SPORC East-Borneo, Bontang Police, Kutai National Park regarding this incident. The team found that allegedly used tires to burn the land.
 
February 22, 2016
Coordination with the Police and BKSDA Kaltim Bontang to conduct autopsies on the three orangutans that were found.
 
February 23, 2016
Demolition of orangutans’ cemetery under the direction of Police Bontang, East Kalimantan, BKSDA and TNK. The COP’s medical team performed the autopsy to the three corpses of orangutan to ensure and conclude the cause of the death. And now the case is handled by Bontang Police.

COP MEMINTA POLISI MENINDAK TEGAS PEMBAKAR 3 ORANGUTAN 

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri)  untuk segera menetapkan tersangka pada kasus pembakaran lahan yang berakibat tewasnya 3 (tiga) individu orangutan di Bontang, Kalimantan Timur. Surat resmi yang berisikan desakan tersebut diantar ke Mabes Polri di Jakarta oleh para relawan COP dengan mengenakan kostum orangutan. Dalam kesempatan yang sama, COP juga mengapresiasi kerja Polres Bontang dalam menangani kasus tersebut. Sejauh ini, sudah 11 orang yang diperiksa sebagai saksi. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan otopsi mayat orangutan untuk mengetahui penyebab kematian juga sudah dilaksanakan. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan sebagai berikut: 

“Kami telah memberikan dukungan teknis yang dibutuhkan untuk menangani kasus ini, agar Polri dan KLHK dapat menegakkan keadilan pada orangutan yang menjadi korban. Jika kita gagal menegakkan hukum pada maskot konservasi ini, maka ini akan menjadi preseden buruk bagi perlindungan beragam jenis satwa liar langka lainnya. Orang akan seenaknya membunuh satwa liar tanpa adanya konsekuensi hukum. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, maka si pembakar orangutan itu layak dihukum penjara 5 tahun dan denda 100 juta.”  

“Kasus ini sangat strategis. Jika polisi berhasil menjebloskan si tersangka ke penjara, ini akan memberikan pesan ke publik bahwa jangan pernah berbuat jahat pada orangutan. Keberhasilan Polri dalam menjebloskan para pembunuh orangutan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2011 memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Di Kalimantan Timur, baik perusahaan maupun perorangan akan segera melapor manakala bermasalah dengan orangutan. Mereka tahu persis dampak hukum yang bakal ditanggung jika bertindak sendiri. Seiring berjalannya waktu, maka penegakan hukum sangat diperlukan untuk menyegarkan ingatan masyarakat mengenai pentingnya perlindungan orangutan. 

Jumlah orangutan di Kalimantan diperkirakan 52.000 pada tahun 2004 dan jumlahnya terus merosot dikarenakan hutan yang menjadi habitatnya dibabat untuk membuka perkebunan kelapa sawit. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke 5 Pusat Penyelamatan Orangutan yang tersebar di beberapa daerah di Kalimantan, salah satunya dikelola oleh COP di Hutan Penelitian Labanan, Kabupaten Berau. Para ahli memperkirakan bahwa 1 bayi orangutan yang sampai di Pusat Penyelamatan bisa jadi mewakili 2 sampai 10 orangutan lainnya yang terbunuh. Dalam kasus orangutan tewas terpanggang ini, 1 bayi orangutan ditemukan tewas bersama 2 orangutan dewasa lainnya. 

Untuk informasi dan wawancara: 

Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

CATATAN REDAKSI 
20 Februari 2016
Kebakaran lahan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, Bontang Kalimantan Timur terjadi.

21 Februari 2016
COP mendapatkan informasi awal dari sosial media perihal korban orangutan di areal yang dibakar. Kemudian tim melakukan koordinasi dengan BKSDA Kaltim, SPORC Kaltim, Polres Bontang, Balai Taman Nasional Kutai perihal kejadian ini. Tim menemukan ban bekas yang diduga untuk membakar lahan.

22 Februari 2016 
Koordinasi dengan Polres Bontang dan BKSDA Kaltim guna melakukan otopsi untuk ketiga individu orangutan yang ditemukan.

23 Februari 2016
Dilakukan pembongkaran kuburan Orangutan dan atas arahan dari Polres Bontang, BKSDA Kaltim dan Balai TNK tim medis COP melakukan otopsi ketiga individu orangutan untuk memastikan orangutan dan menyimpulkan penyebab kematian. Dan saat ini kasus ditangani oleh Polres Bontang.

Page 4 of 6« First...23456