APE CRUSADER

A BABY WITH BULLET IN HIS CHEST?

A baby orangutan, without his mommy… his mommy can be ascertained dead, killed.
Baby Apung/Bumi is a baby orangutan rescued from Tumbang Koling village, Central Kalimantan by APE Crusader team Centre for Orangutan Protection on June 17, 2016 a month ago. When APE Crusader found him, Apung/Bumi is very weak. After passing a medical at the BOS Nyarumenteng, he is known to have a bullet in his chest.

Baby with bullet in the his chest??? Can you imagine it?

Thank you for you support, so that we can save Apung/Bumi or the others.
Bayi orangutan, tanpa induk… dapat dipastikan induknya mati, terbunuh.
Bayi Apung/Bumi adalah bayi orangutan yang diselamatkan dari desa Tumbang Koling oleh tim APE Crusader Centre for Orangutan Protection pada 17 Juni 2016 yang lalu. Pada saat tim menemukannya, Apung/Bumi sangat lemah sekali. Setelah melalui tes kesehatan di BOS Nyarumenteng, diketahui ada sebutir peluru di dadanya.

Bayi dengan sebutir peluru di dada? Apakah kamu bisa membayangkannya? 
Terimakasih atas dukunganmu, sehingga kami bisa menyelamatkan bayi Apung/Bumi ini.

APE CRUSADER HEADING TO THE WEST

It has been almost two years that APE CRUSADER did not range to the west. In the beginning of June, APE Crusader, which is a rapid response team of COP was upset of their findings. They found five orangutans owned illegally. Four of them have been successfully rescued and are waiting to be relocated.

A finding of 18 corpses of pangolins made the journey more challenging. The corpses probably were disposed by pangolin trafficker because they perished. This case is being handled by Polsek Sampit.
Besides, APE Crusader has to go back to the muddy road to defend the orangutan habitat in Central Borneo.

Hampir dua tahun APE Crusader tidak melakukan perjalanan ke barat. Awal bulan Juni 2016 ini, APE Crusader yang merupakan tim gerak cepat Centre for Orangutan Protection ini pun terkejut dengan temuannya. Mereka menemukan lima orangutan yang dipelihara secara illegal dalam sebulan perjalanannya. Empat orangutan berhasil diselamatkan, satu lagi sedang menunggu untuk dipindahkan.

Penemuan delapanbelas bangkai trenggiling membuat perjalanan ke baratnya APE Crusader menjadi semakin menarik. Trenggiling tersebut diduga dibuang oleh pedagang trenggiling karena mulai membusuk. Kasus ini ditangani Polsek Sampit.

Tidak hanya itu saja, APE Crusader pun harus berlumpur lagi mempertahankan hutan habitat orangutan di Kalimantan Tengah.

DUYU IS THE 5TH ORANGUTAN FOR THIS MONTH

She is Duyu. She is kept illegally by a local in Central Kalimantan. It is not always easy to deal with locals. They may fight us back whenever we force them to hand over their orangutan. Sometimes we need to set back to get bigger support from police and forest rangers. Your APE Crusader Team has back to town to local Wildlife Authority for this purpose. She is the 5th orangutan for this month. Please support the only mobile team in Borneo. Please support this team through: https://redapes.org/projects-partners/cop/
Dia bernama Duyu. Gadis kecil ini dipelihara illegal oleh seseorang di Kalimantan Tengah. Tidak selalu mudah berurusan dengan masyarakat. Mereka bisa menyerang balik jika kami memaksa mereka untuk menyerahkan orangutan. Kadang kami harus kembali untuk mendapatkan bantuan lebih besar dari polisi dan jagawana. Tim APE Crusader anda saat ini sudah kembali ke kota untuk keperluan ini. Ini adalah orangutan ke-5 dalam bulan ini. Mohon dukungannya pada satu – satunya tim keliling satu-satunya di Kalimantan ini. Dukunglah melalui tautan di atas.

PROSECUTE CASE 18 PANGOLIN CORPSES

On Thursday (23/6) BKSDA Sampit, Mangala Agni Sampit and the Centre for Orangutan Protection (COP), evacuated 18 pangolin corpses (manis javanica) at JL. Housing Betang Kingdom, Sampit. The corpses were floating in shallow marshes, some were still wrapped in plastic, ready for sale. Most corpses were surrounded by maggots, some of them have even only skeletons. Evacuation is carried out at 9.30 pm. The corpses were also directly buried there. “The process of burial was quick, this should be done to anticipate the society to come.”, said one of the team of Mangala Agni.
According to Muriansyah, the commander of BKSDA Sampit, eighteenth corpses were reported by one of the residents around the site. “Someone has phoned me on Wednesday morning. He said that he saw a pile of cardboard boxes and smelt something bad like corpses at Jalan Perum Betang Kingdom. In wednesday morning, we sent a team of Mangala Agni to check the location and they found the corpses. ” explained him. He also explained that the eighteen corpses intentionally discarded by one of the collectors of pangolin meat in Sampit. He might have kept the them for a long time and and there was no buyer, so the meat started to rot. Seen from the size, the weight of the corpses are estimated approximately 4-5 kg. He also explained the price range of pangolin meat in Sampit. The price is 250.000 rupiah/ Kg. The price of the shell can reach up to 2-3 million / Kg. The price can greatly affect the manhunt of Pangolin in Sampit, particularly in East Kotawaringin in which the manhunt rate is very high.
“The case of this pangolin corpses finding is currently being reported into the Police Kutim. We have to wait then, “said Reza, a staff of COP who took part in the burial process. He also explained that, “the rate of hunting of protected wildlife Kutim is already high, considering that Sampit is one of the cities which have an access to other islands. This strongly causes the hunting of wild animals out of control.”, he said.
Previously, Pangolin is in the list of mammals that protected by the law in the Republic of Indonesia. As outlined in the annex of PP RI No. 7 1999 and in UU No 5 of 1990 that: Anyone who deliberately captures, injures, kills, keeps, possesses, maintains, transports, and sells or trades protected animals/wildlife alive or dead. (Article 21 paragraph (2)) shall be punished with 5 years imprisonment and a fine of 100 million rupiah (one hundred million rupiah) (Article 40 paragraph (2)).
BKSDA Sampit, Manggala Agni Pos Sampit dibantu Centre for Orangutan Protection (COP), mengevakusai 18 bangkai Trenggiling (manis javanica) yang berada dipinggir JL. Perumahan Betang Raya, Sampit, Kalimantan Tengah. Posisi bangkai mengapung di rawa-rawa dangkal, beberapa masih terbungkus rapi dalam kemasan plastik siap jual. Kondisi bangkai sebagian besar sudah dikerumuni belatung, bahkan ada yang hanya tinggal tulang belulang. Evakuasi ini dilakukan pada pukul 9.30 WIB. Bangkai-bangkai tadi langsung juga dikubur di tempat. “Proses penguburan berjalan dengan cepat, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi ramainya masyarakat berdatangan.”, ujar salah satu tim Manggala Agni.
Bedasarkan penuturan Muriansyah selaku Komandan Pos BKSDA Sampit, kedelapan belas mayat ini dilaporkan oleh salah satu warga di sekitar lokasi. “Pas itu saya ditelpon dari salah seorang warga, pada Rabu dini hari. Bilangnya dia melihat tumpukan kardus dan bau busuk seperti bangkai di ruas jalan Perum Betang Raya. Rabu pagi kami turunkan tim Manggala Agni untuk kroscek lokasi dan menemukan bangkai-bangkai terebut.”, jelasnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa diduga delapan belas bangkai ini sengaja dibuang oleh salah satu pengepul daging Trenggiling di Sampit. Karena sudah lama disimpan dan tidak ada pembeli, daging-daging mulai membusuk. Jika dilihat dari besarnya bangkai, kemungkinan beratnya kurang lebih 4-5 kg. Beliau juga menjelaskan kisaran harga daging Trenggiling di pasaran Sampit. Harganya Rp 250,00 per Kg. Kalau sisiknya sampai 2-3 Juta/Kg. Dengan pasaran harga ini sangat mempengarui faktor pemburuan Trenggiling di Sampit, Khususnya di Kotawaringin Timur sangat tinggi.
“Saat ini kasus penemuan bangkai Trenggiling sedang dimasukkan ke Polres Kotim. Untuk selanjutnya tinggal menungu penyelidikan lebih lanjut oleh pihak Polres Kotawaringin Timur.”, ungkap Reza salah satu staff COP yang ikut proses penguburan. Ia juga menjelaskan bahwa perburuan satwa liar dilindungi di Kotim sudah di level yang bisa dikatakan tinggi. Mengingat kota Sampit merupakan salah satu kota pelabuhan yang mempunyai jalur antar pulau. Hal ini sangat mendukung perburuan satwa-satwa liar sangat tidak terkendali.
Sebelumnya, Trenggiling termasuk satwa liar mamalia yang dilindungi Undang Undang Republik Indonesia. Sebagai mana tertuang dalam lampiran PP RI No. 7 tahung 1999 dan tertuang dalam UU No. 5 Tahun 1990 bahwa, “Barang siapa dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan atau memperjualbelikan binatang/hewan yang dilindungi dalam keadaan hidup maupun mati (Pasal 21 ayat (2). Diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000 rupiah (seratus juta rupiah) (Pasal 40 ayat (2).” (SAT)

TWO YOUNG ORANGS, CHAINED!

Those two young orangutans have been chained when we found them in two separe places. The first one being chained onhis neck, and still, placed inside the wooden cage. The second one, being chained on his leg in the river bank. According to the local Wildlife Authority officer, the trend of illegal captivity of orangutans have been increasing since forest fires back in 2015. Most of them to make way for oil palm plantation.
Please donate through Orangutan Outreach for supporting the APE Crusader Team in rescuing orangutans and its habitat.
Kedua bayi orangutan ini ditemukan dengan leher terikat, dimasukkan ke dalam kotak kayu. Satu bayi sakit di pergelangan kaki kirinya, kondisi buruk ini diperolehnya saat hidup dalam pemeliharaan dekat sungai dan sampah. Kedua bayi orangutan ditemukan sudah terpisah dengan induknya. Pemeliharaan orangutan illegal semakin banyak setelah kasus kebakaran hutan 2015 yang lalu. Ketersediaan luasan dan pakan sangat kurang, dimana hutan sudah beralih fungsi menjadi konsesi perkebunan sawit. APE Crusader menyelamatkan kedua bayi tersebut, tadi siang.

APE CRUSADER SAVED BABY APUNG

The APE Crusader Team rescued a two weeks baby from a local in Tumbang Koling village last night. We call him, APUNG. Just like human baby, he is still very weak. Just drink milk. If he drink too much, he started diarrhea. We took him to nearest Centre: BOS Nyarumenteng. Hope he can survive.
It been a week, this team patrolling in Central Kalimantan. The mission to spot the illegal captivity and to monitor the potential threat towards orangutan. At least 3 orangutans cases in our list now and also a big plan from a RSPO member to clear forest have been identified. Thanks to Orangutan Outreach as well as Georgina Stewart for supporting us.
Tim APE Crusader baru saja menyelamatkan satu bayi orangutan dari desa Tumbang Koling tadi malam. Seperti halnya bayi manusia yang masih sangat lemah, ia hanya minum susu. Jika terlalu banyak dia mulai mencret. Kami membawanya ke pusat penyelamatan terdekat: BOS Nyarumenteng. Semoga dia bisa bertahan hidup.
Sudah seminggu ini Tim APE Crusader berada di Kalimantan Tengah dalam perjalanan patroli rutinnya. Sudah ada beberapa informasinya orangutan yang dipelihara illegal oleh masyarakat setempat dan juga rencana – rencana pembabatan hutan yang akan dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Terima kasih kepada Orangutan Outreach dan Georgina Stewart yang mendukung penuh operasi tim ini.

THE APE CRUSADER TEAM JUST SAVED 2 YEARS OLD BABY

Another orangutan just rescued yesterday from a local in Sampit District, Central Kalimantan by the APE Crusader Team and Wildlife Authority (BKSDA). Sampit is the deadliest spot for orangutan as the direct impact of the forest clearing to make for oil palm plantation.
Parjan, this young boy have been kept illegally by Ibu Natun for about 2 years. She found him alone, without mother, in her farm. Parjan, have been treated just like human baby. As he is growing bigger and stronger, he started causing troubles in neighbourhood.
Thanks to the Orangutan Outreach for funding the APE Crusader Team. More than 100 orangutans have been treated since its inception in 2008.

INDONESIA SUSTAINABLE PALM OIL

Alongside with the Ministry of Agriculture, the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) are ignoring our appeal to the fate of orangutans in the concession area of PT. AE. Apparently, they choose to cover up the crimes against orangutan and its habitat. Share this wide and far, make it your FB cover.
Bersama dengan Kementerian Pertanian, ISPO mengabaikan seruan kami untuk nasib orangutan yang berada di kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit PT. AE. Mereka memilih untuk menutupi kejahatan kerhadap orangutan dan habitatntya. Sebarkan ini seluas dan sejauh mungkin. Jadikan sampul FB mu.

ADULT ORANGUTAN KILLED IN SANGATTA RIVER

KLIKSANGATTA. An adult orangutan (Pongo pygmaeus) was found on the banks of the River Sangatta, precisely at the end of the Gang Jalan Rawa Indah, Sangatta District of North, East Kutai Regency, East Kalimantan, Sunday, May 1, 2016. Approximately at 10:50 pm, some police personnel, firefighters, Kutim PMI has been in the location for evacuation.
The East Kutai Police Commander, Adj AKP Andika Dharma Sena stated, the initial report came from the police Sangatta about 30 minutes ago. He said he had coordinated with the BKSDA Kaltim and the Centre for Orangutan Protection (COP).
“We evacuate it first. We also coordinate with COP, BKSDA Kaltim and relevant agencies for further treatment. We’ve asked COP’S medical team have to come from for autopsy. We’ll see, whether the cause of his death : is it deliberately killed by human or not,” Sena stated.
Currently, the body of the poor orangutans have been taken to the General Hospital of Kudungga in Jalan Soekarno-Hatta for the initial inspection until the autopsy team coming, he added.
“All the witnesses first statement will also be taken for examination. Including areas surrounding the examination will be narrowed, it will be described the scene of his, “said Sena.
He did not comment much related to any speculation regarded swelling sores and maggots crowd. He only suspected that orangutan have died a few days ago.
“However, lets the COP’s vet autopsy it.”
KLIKSANGATTA – Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) dewasa ditemukan hanyut dalam kondisi telah membusuk di tepi Sungai Sangatta, tepatnya di ujung Gang Rawa I Jalan Rawa Indah, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutim, Kalimatan Timur, Minggu 1 Mei 2016.
Satwa yang masuk kategori terancam punah itu ditemukan dalam kondisi telungkup dengan bagian punggung menyembul ke permukaan air. Sekira pukul 10.50 wita, sejumlah personel kepolisian, pemadam kebakaran, PMI Kutim telah berada di lokasi untuk evakuasi.
Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Andika Dharma Sena menyebutkan, laporan awal berasal dari Polsek Sangatta sekitar 30 menit yang lalu. Dirinya mengatakan telah berkordinasi dengan BKSDA Kaltim dan Centre of Orangutan Protection (COP), salah satu NGO pelestarian dan perlindungan orangutan.
“Kita evakuasi dulu. Koordinasi dengan BKSDA Kaltim dan COP serta instansi terkait untuk penanganan lebih jauh juga sudah. Kita sudah minta datangkan tim medis dari COP di Berau untuk otopsi. Kita lihat nanti, apakah penyebabnya kematiannya. Disengaja (ulah manusia, Red.), hanyut atau dia tenggelam atau bagaimana,” ungkap Sena di lokasi.
Saat ini, jasad orangutan malang itu telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Kudungga di Jalan Soekarno-Hatta untuk pemeriksaan awal hingga tim otopsi datang, ia menambahkan.
“Semua saksi-saksi pertama kali juga akan diambil keterangannya untuk pemeriksaan. Termasuk sekitar areal pemeriksaan akan dipersempit, akan digambarkan TKP-nya,” ujar Sena.
Ia tak banyak berkomentar terkait perkiraan orangutan itu meregang nyawa. Melihat luka pembengkakan dan kerumunan belatung, ia menduga orangutan itu tewas beberapa hari lalu.
“Namun, nanti dokter yang bisa memastikan,” singkatnya. (*)
#BLACKSUNDAY

http://kliksangatta.com/berita-3116-orangutan-dewasa-ditemukan-tewas-membusuk-di-sungai-sangatta.html

STOP SAWIT IN EARTH DAY

“Stop Palm Oil!”, said Paulinus Kristanto. “April 16, 2016 COP found one (1) baby orangutan using old nest. At the same time, COP found one (1) adult orangutan walking on the ground in Palma Serasih’s oil palm plantation.”, he explained.
“The location where we found the orangutan was a fragmented forest. Orangutan will be more pressured because their living space is getting narrower. They could die of starvation, be killed by workers of the plantation because it is considered as pest, be killed by local people because they endanger the safety or be killed by traditional hunters to be eaten or to be sold.
‪#‎StopSawit‬ ‪#‎ForestWars‬ ‪#‎ConflictPalmOil‬
This year, COP along with Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim, Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, RASI Foundation, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-biduk and Gusdurian commemorated the Earth Day which falls on April, 22 each year.
‪#‎HariBumi2016‬ ‪#‎EarthDay2016‬
“Stop Sawit!”, tegas Paulinus Kristanto. “16 April 2016 COP menemukan 1 (satu) anak orangutan yang menggunakan sarang lama. Pada saat yang bersamaan, COP menemukan 1 (satu) orangutan dewasa yang berjalan di tanah perkebunan sawit Palma Serasih.”, jelasnya.
“Lokasi tempat ditemukan kedua orangutan tersebut merupakan kawasan berhutan yang sudah sangat terfragmentasi. Orangutan akan semakin terdesak karena ruang hidupnya semakin sempit. Mereka bisa mati kelaparan, tewas dibunuh pekerja sawit karena dianggap hama, dibunuh masyarakat setempat karena dianggap membahayakan keselamatan dan atau dibunuh pemburu tradisional untuk dimakan atau diambil bayinya untuk dijual.
Tahun ini, COP bersama Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, Yayasan RASI, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-Biduk dan Gusdurian bersatu dalam FORUM SATU BUMI KALIMANTAN TIMUR dalam memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April setiap tahunnya.

Page 4 of 6« First...23456