PRO 1 RRI, SELAMATKAN SATWA KALTIM

Berita kematian dua orangutan dalam kondisi yang mengenaskan di awal tahun 2018 ini semakin menarik perhatian masyarakat. Kedua orangutan dengan lokasi yang berbeda, satu di Kalimantan Tengah ditemukan dengan kondisi tanpa kepala dan mengapung di sungai Barito dan satu lagi ditemukan dalam kondisi yang sudah sangat lemah di embung, Taman Nasional Kutai. Persamaannya, kedua orangutan mati dengan peluru yang banyak di tubuhnya.

Pro 1 RRI yang berada di jalan M Yamin Samarinda mengundang COP dan BKSDA pagi tadi. Topik ajakan ‘Selamatkan Satwa Langka Kaltim’ menjadi sangat diperlukan untuk menyadarkan kita akan peran satwa liar di alam. Jumlah yang terus menerus menurun seiring dengan semakin sempitnya hutan sebagai rumah dan tempat hidup satwa liar menjadi persoalan yang tidak dapat dipisahkan.

Seperti kata pepatah Indian yang sangat terkenal yaitu, “Only when the last tree has died and the last river been poisoned and the last fish been caught will we realise we cannot eat money.”. Peran orangutan di hutan adalah si ahli reboisasi. Ratusan jenis tanaman hutan yang dimakannya, buah-buahan hutan yang dimakan lalu bijinya berserakan di lantai hutan merupakan bibit alami yang akan tumbuh. Perjalanan orangutan dari satu pohon ke pohon yang lain, membuka kanopi-kanopi agar cahaya matahari bisa menembus lantai hutan untuk membantu bibit-bibit alami ini tumbuh. Itu, adalah peran orangutan di alam.

BANJIR KOMENTAR ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

Ratusan komentar di Instagram orangutan_COP terkait orangutan yang gagal diselamatkan Centre for Orangutan Protection. Foto wajah orangutan dengan mata terluka menarik simpatik para pemilik akun instagram.

Seperti kata akun @shelypris ”min, adanya organisasi sudah memberi dampak positif, akan tetapi masih adanya korban dari kekejaman manusia terhadap binatang, terutama orangutan. Dan adanya kasus ini lalu di share, bagaimana publik harus menyikapinya? Dan apa harapannya? Sedangkan realita media sosial hanya sekedar melewatkan foto tragis satwa dilindungi, bahkan seharusnya memiliki hak yang sama dengan manusia. Apakah memang sangat sulit melindungi satwa liar apalagi yang hidup di alam bebas? Bahkan kita bisa bicara soal wilayah. Tapi itu panjang…”.

Komentar panjang ini membuat kami yang berhadapan langsung dengan korban menjadi terdiam. “Ini adalah kegagalan konservasi orangutan Indonesia.”, ujar Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat Orangutan COP.

Akun @melvoysitorus “Jadi gak usah heran ya kalo akhir-akhir ini alam sedang marah. Itu semua karna keserakahan manusia yang merusak alam dan memusnahkan penghuninya. Mau sampe kapan lagi Tuhan marah dan mengirimkan karmanya? Tolong banget lebih peduli dengan alam dan lebih menghargai makhluk hidup lainnya. Ingat kita hidup tidak sendiri, tapi ada makhluk hidup lain juga! Jangan serakah!”

Akun @goldenfleecethief “I have less and less faith in humanity each time I see a story like this. These beings are so magical, peaceful and majestic. To kill them is to kill ourselves.”

Kamu… dimana pun berada. Sebarkan berita orangutan yang mati dengan 130 peluru senapan angin di tubuhnya. Kepedulian kamu akan mendorong kita semua bekerja lebih teliti dan lebih keras lagi untuk mengungkap kasus kematian orangutan ini.

KRONOLOGI KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

4 Februari 2018, Kepala Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat informasi melalui Call Center Balai TNK dari masyarakat desa Teluk Pandan, kecamatan Teluk Pandan, kabupaten Kutai Timur terdapat orangutan di kebunnya. Pada tanggal 5 Februari 2018, evakuasi oleh TN Kutai dan Polres Kutai Timur. Saat itu kondis orangutan sangat lemah dan berada di atas batang kayu yang melintang di permukaan danau.

Setelah melewati penanganan medis sekitar 40 menit oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP), pada pukul 01.55 WITA (6 Februari 2018) orangutan tidak dapat diselamatkan, karena kondisi yang sangat lemah dengan luka parah.

Rontgen dan Nekropsi di RS Pupuk Kaltim untuk mencari penyebab kematian orangutan dilakukan dokter hewan COP bersama Polres Kutim. Identifikasi luka-luka dan peluru sebanyak 48 butir berhasil diambil dari tubuh orangutan tersebut. Jasad orangutan untuk sementara disimpan di lemari pendingin rumah sakit dan selanjutnya disimpan di lemari pendingin milik Balai KSDA Kalimantan Timur sebagai barang bukti untuk proses hukum lebih lanjut.

Balai TN Kutai bekerjasama dengan Polda Kaltim, Polres Kutim, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Kalimantan Timur akan melanjutkan penyelidikan dan penyidikan kasus kematian orangutan tersebut.

AUTOPSY RESULT OF ORANGUTAN KALAHIEN: SHOT AND BEHEADED

On Thursday evening, January 18th, 2018, held an autopsy or necropsy of an orangutan that found dead four day ago in the Barito river, Buntok Distik, Central Kalimantan. An Autopsy was conducted by the Central Kalimanta Regional Police by deploying its forensic team and assisted by the BOSF medical team, Center for Orangutan Protection (COP). The Autopsy was conducted at the site, the location of the orangutan was buried.

From an autopsy that ran for about two hours, the autopsy team revealed:

1. Confirmed it was an adult male orangutan.
2. At the neck, found 3 more injuries caused by sharp objects and makes the neck broke or cut.
3. Found 17 air rifle bullet: 1 bullet in left thigh, 14 bullets in the front of the body and 2 bullets at the back of the body.
4. There are 7 broken ribs on the left side.
5. Estimated death when found on Monday it’s have been 3 days prior.
6. The hull broke because of air rifle bullets.
7. The Heart is exposed to air rifle bullets
8. Lungs hit by the bullets
9. The chest on the left there is a bruise due to blunt object that cause the broken ribs.
10. The losses of hair caused by the flow of water.
11. No Microchip or clarified as wild orangutans.
12. Digestion is Normal, there are bark and leaves that have not been digested perfectly.

“Today’s autopsy result have proven that orangutan death due to humans, as evidence by the discovery of many air rifle bullets. Our strong suspicion of the death is because it was shot using an air rifle that went through the heart, lungs and stomach. Then the head was cut. Broken ribs and the cut of the head due the trim should make the Police and especially KLHK to be more excited about revealing this case. The authority of KLHK in this case is at stake, “said Ramadhani, COP’s Habitat Protection Manager.
The bodies of the orangutan after the autopsy were taken and buried in BOSF Nyaru Menteng for security reasons.

Information and Interview contact:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

HASIL OTOPSI ORANGUTAN KALAHIEN: DITEMBAK DAN DIPENGGAL
Kamis petang tanggal 18 Januari 2018 telah dilakukan otopsi atau nekropsi terhadap mayat orangutan yang ditemukan tanpa kepala di sungai Barito, Kab. Buntok, Kalimantan Tengah setelah empat hari lalu ditemukan. Otopsi dilakukan oleh Polda Kalimantan Tengah dengan menurunkan tim forensiknya dan dibantu oleh tim medis BOSF, Centre for Orangutan Protection (COP). Otopsi dilakukan di tempat, dimana lokasi orangutan dikubur.

Dari otopsi yang berjalan sekitar dua jam, tim otopsi mengungkapkan :
1. Dipastikan adalah satwa jenis orangutan berjenis kelamin jantan dewasa.
2. Pada bagian leher ditemukan lebih 3 luka yang disebabkan oleh benda tajam sehingga leher putus atau tebasan
3. Ditemukan 17 peluru senapan angin : 1 peluru senapan angin di paha kiri, 14 peluru senapan angin di badan bagian depan dan 2 peluru senapan angin dibagian belakang badan atau punggung.
4. Terdapat 7 tulang rusuk sebelah kiri yang patah.
5. Perkiraan kematian ketika ditemukan pada hari Senin sudah 3 hari.
6. Lambung pecah karena peluru senapan angin.
7. Jantung terkena peluru senapan angin.
8. Paru-paru terkena peluru senapan angin.
9. Bagian dada sebelah kiri terdapat luka lebam akibat benda tumpul yang menyebabkan tulang rusuk patah.
10. Hilangnya rambut atau bulu disebabkan oleh arus air.
11. Tidak ditemukan adanya microchip atau dipastikan orangutan liar.
12. Pencernaan normal, terdapat kulit kayu dan daun-daunan yang belum tercerna sempurna.
“Hasil otopsi hari ini telah membuktikan bahwa kematian orangutan karena manusia, itu dibuktikan dengan ditemukannya banyak peluru senapan angin. Dugaan kuat kami kematian orangutan ini karena ditembak menggunakan senapan angin menembus jantung, paru-paru dan lambung. Kemudian kepala ditebas. Patah tulang iga dan putusnya kepala karena tebasan harusnya membuat Kepolisian dan terutama KLHK untuk bisa lebih bersemangat mengungkap kasus ini. Kewibawaan KLHK dalam kasus ini dipertaruhkan.”, kata Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP.

Mayat orangutan setelah otopsi dibawa dan dikubur di BOSF Nyaru Menteng untuk alasan keamanan.

Informasi dan Wawancara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

COMPLETE THE CASE OF KALAHIEN ORANGUTAN CORPSE

There is still time to dismantle the cemetery and perform an autopsy on the corpse of the orangutan.
Do not let BKSDA Central Kalimantan regretting this in the future. The results of the autopsy will assist BKSDA to conduct further investigation. It will be known whether this is a wild orangutan or ex-rehabilitation. Why can his head be decapitated ?. Was there a bullet in his body? And many other questions that can be answered from the autopsy results.

The finding of orangutan corpses with unusual conditions is not the first thing that happened in Central Kalimantan. Based on records from the Center for Orangutan Protection (COP) at least there are about 5 (five) cases occurred. And that successfully revealed until the court process is the last case that occurred in PT. SP, Tumbang Puroh Village, Kapuas District, Central Kalimantan where one orangutan is killed and then cooked.

“The case of orangutan death should be a priority by conducting a serious investigation and make it a deterrent effect against the perpetrators so that in the future it will not happen again. Past deaths cases of orangutans are not complete. Not to mention the case of shooting of orangutans. Nothing is running. The authority of BKSDA Central Kalimantan is at stake in this case, “said Ramadhani, Manager of Habitat Protection Program of COP.

Field observations from the COP team on Tuesday, January 16, 2018 is known where the orangutan corpse is found in some oil palm plantation concessions. The orangutan habitat area overlaps with the permits of oil palm plantation companies. The loses are certainly on orangutans side.

We appreciate the actions of the South Dusun Kapolsek AKP Budiono by ordering Babinkamtibmas to socialize and explore information related to the discovery of the orangutan carcass to three villages in Mampun Bay, Tanjung Java and Kahalien.

For Information and Interviews:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
HP : 081349271904
Email : ramadhani@orangutan.id

USUT TUNTAS KASUS MAYAT ORANGUTAN KALAHIEN
Masih ada waktu untuk membongkar kuburan dan melakukan otopsi terhadap mayat orangutan tersebut. Jangan sampai dalam hal ini BKSDA Kalimantan Tengah menyesal dikemudian hari. Hasil otopsi akan membantu BKSDA untuk melakukan penyelidikan selanjutnya. Akan diketahui apakah ini orangutan liar atau eks rehabilitasi. Kenapa kepalanya bisa terlepas?. Apakah ditemukan peluru dalam tubuhnya? Dan banyak pertanyaan lainnya yang bisa terjawab dari hasil otopsi.

Temuan mayat orangutan dengan kondisi tidak wajar bukanlah hal yang pertama terjadi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan catatan dari Centre for Orangutan Protection (COP) paling tidak ada sekitar 5 (lima) kasus terjadi. Dan yang berhasil diungkap sampai proses pengadilan adalah kasus terakhir yang terjadi di PT. SP, Desa Tumbang Puroh, Kab. Kapuas, Kalteng yang mana satu orangutan dibunuh kemudian dimasak.

“Kasus kematian orangutan sudah seharusnya menjadi prioritas dengan melakukan penyelidikan secara serius dan menjadikannya sebagai efek jera terhadap pelakunya agar dikemudian hari tidak terulang lagi. Kasus-kasus temuan kematian orangutan yang telah lalu banyak tidak tuntas. Belum lagi kasus penembakan terhadap orangutan. Tidak ada yang berjalan. Kewibawaan BKSDA Kalimantan Tengah dipertaruhkan dalam kasus ini.”, kata Ramadhani, Manager Program Perlindungan Habitat dari COP.

Hasil pengamatan lapangan dari tim COP hari Selasa 16 Januari 2018 ialah diketahui memang dimana lokasi ditemukan mayat orangutan terdapat beberapa konsesi perkebunan kelapa sawit. Kawasan habitat orangutan menjadi tumpang tindih dengan ijin-ijin perusahaan perkebunan kelapa sawit. Yang kalah dipastikan ialah orangutan.

Kami mengapresiasi tindakan dari Kapolsek Dusun Selatan AKP Budiono dengan memerintahkan Babinkamtibmas melakukan sosialisasi dan menggali informasi terkait penemuan bangkai orangutan tersebut untuk tiga desa di Teluk Mampun, Tanjung Jawa dan Kahalien.

Informasi dan Wawancara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP : 081349271904
Email : ramadhani@orangutan.id

AUTOPSY NEEDED FOR ORANGUTAN BODY

Once again, an orangutan body was found in Barito River, Buntok, Central Kalimantan. The body’s condition was heartbreaking to see: no head, no hair all over the body.

This is the second time a body of orangutan was found floating in a river, the first case was back in May 2016 in Sangatta River, East Kalimantan. Back then, the body was secured by the local police and a necropsy was conducted to investigate the cause of death, however it won’t reveal who did it.

Today, the body found in Barito River by BKSDA Central Kalimantan was burried, no necropsy conducted. This is very unfortunate, since a thorough examination by veteranarians would be highly beneficial to investigate what was the cause of death, especially when the body found was in a very unsual condition.

Centre for Orangutan Protection dissatisfied with the swift action taken by BKSDA, burrying the adult male orangutan body found floating with no head in Kalahien back in January 15th 2018. It is expected for BKSDA Central Kalimantan to act proactively to solve this serious crime. Autopsy is the first step to solve the crime, and BKSDA have the qualified partners such as BOSF, OFI and COP. COP has involved in similar case in the past, supporting BKSDA East Kalimantan and Bontang Police.

“The immediate burrial sent a message as a hurried burrial to make it impossible to investigate the possible suspects,” said Ramadhani, Program Manager of Habitat Protection COP.

Information and Interview contact:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

MAYAT ORANGUTAN PERLU OTOPSI
Lagi, ditemukan satu mayat yang diduga adalah satwa liar yang dilindungi yaitu orangutan di Sungai Barito, Buntok, Kalimantan Tengah. Kondisi yang sangat mengenaskan ialah mayat ditemukan tanpa kepala, rambut atau bulu diseluruh tubuh sudah tidak ada.

Penemuan mayat orangutan ini menjadi catatan yang kedua ditemukan mengapung di sungai, yang mana pada bulan Mei 2016 ditemukan juga satu mayat orangutan di Sungai Sangatta, Kalimantan Timur. Saat itu mayat diamankan oleh pihak Kepolisian dan dilakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Namun tidak bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhannya.

Hari ini mayat yang ditemukan di Sungai Barito oleh pihak BKSDA Kalimantan Tengah tidak dilakukan nekropsi namun langsung dikubur. Sangat disayangkan sebenarnya karena dengan pemeriksaan mayat oleh dokter hewan akan menjadi data tambahan yang sangat ilmiah dalam mengungkap penyebab kematian. Apalagi mayat yang ditemukan sangat tidak wajar.

Centre for Orangutan Protection menyesalkan gerak cepat BKSDA Kalteng dalam menguburkan jenazah 1 (satu) orangutan jantan dewasa yang ditemukan tewas mengapung tanpa kepala di Kalahien pada tanggal 15 Januari 2018. Sudah seharusnya BKSDA proaktif untuk membongkar kasus kejahatan serius ini. Otopsi adalah langkah awal untuk itu dan BKSDA Kalteng memiliki mitra – mitra yang memiliki kemampuan dalam hal ini seperti Yayasan BOSF, OFI dan COP. COP sendiri pernah membantu aparat BKSDA Kaltim dan Polres Bontang dalam penanganan kasus kejahatan seperti ini.

“Penguburan segera jenazah orangutan terkesan seperti penguburan segera kasus ini sehingga tidak bisa dilacak lagi kemungkinan tersangkanya,” kata Ramadhani, Program Manager Perlindungan Habitat dari COP.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
081349271904

CRUCIAL , ORANGUTAN IN LESAN RIVER PROTECTED FOREST

Deforestation of forested areas to open Palm Oil plantations around the Lesan Ricer Protected Forest allegedly threatened the orangutan population of the sub-species of Pongo Pygmaeus Morio. Recent surveys show that the orangutan population within the Lesan River Protected Forest continues to decline year by year.

The Lesan River Protected Forest covering 13,565 hectares is an important habitat for orangutans and various rare wildlife species and protected by laws such as sun bears, leopards and Grafts. Unfortunately, its conservation efforts are sabotaged by palm oil companies so that forested areas that should be the connecting corridor between Lesan River Protected Forest and other otangutan habitats are running out.

On July 8th and August 2nd 2017 the Center for Orangutan Protection (COP) together with the East Kalimantan BKSDAE section was forced to transplant orangutans in areas that were supposed to be corridors but had been cut off by palm oil plantation and settlement activities. Sadly, 1 (one) individual orangutan found on August 2nd 2017 suffered serious head injuries. Most likely hacked with sharp weapons such as machetes.

A Serious focused effort is absolutely necessary to maintain the remaining population. BKSDAE of East Kalimantan has released 1 (one) individual 15-year-old male orangutan ex-rehabilitation Center for Orangutan Protection on September 16th, 2017. The release was followed by monitoring and securing the area involving the local community. At least 5 (five) orangutans will again be released in the region. However, such efforts will be in vain if the palm oil companies around the area have no intention of participating in safeguarding Indonesia’s wildlife.

For Information and Interviews:

Ramadhani
Habitat Protection Program Manager
Email : ramadhani@orangutan.id
Mobile : 081349271904

GAWAT, ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN
Pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit di dan sekitar Hutan Lindung Sungai Lesan diduga kuat telah mengancam populasi orangutan Kalimantan sub spesies Pongo pygmaeus morio. Survey terbaru menunjukkan bahwa populasi orangutan di dalam kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan terus menurun dari tahun ke tahun.

Hutan Lindung Sungai Lesan yang luasnya mencapai 13.565 ha merupakan habitat penting bagi orangutan dan beraneka jenis satwa liar langka dan dilindungi undang-undang seperti beruang madu, macan dahan dan rangkok. Sayangnya, upaya konservasinya disabotase oleh perusahaan-perusahaan kelapa sawit sehingga kawasan-kawasan berhutan yang seharusnya menjadi koridor penghubung antara Hutan Lindung Sungai Lesan dengan habitat orangutan lainnya semakin habis.

Pada tanggal 8 Juli dan 2 Agustus 2017 Centre for Orangutan Protection (COP) bersama seksi BKSDAE Kalimantan Timur terpaksa mentranslokasi orangutan di kawasan yang seharusnya menjadi koridor tetapi telah terpotong dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pemukiman. Yang menyedihkan, 1 (satu) individu orangutan yang ditemukan pada tanggal 2 Agustus 2017 mengalami luka serius pada bagian kepala. Kemungkinan besar dibacok dengan senjata tajam seperti parang.

Sebuah upaya terfokus untuk serius mutlak diperlukan untuk mempertahankan populasi yang tersisa. BKSDAE Kaltim telah melepasliarkan 1 (satu) individu orangutan jantan berusia 15 tahun eks-rehabilitasi Centre for Orangutan Protection pada tanggal 16 September 2017. Pelepasliaran tersebut diikuti dengan pemantauan dan pengamanan kawasan yang melibatkan masyarakat setempat. Setidaknya 5 (lima) orangutan lagi akan dilepasliarkan di kawasan tersebut. Namun demikian, upaya tersebut akan sia-sia jika perusahaan kelapa sawit di sekitar kawasan tidak memiliki niat untuk turut menjaga satwa liar kebanggaan Indonesia ini.

Untuk informasi dan wawancara:

Ramadhani
Manajer Program Perlingungan Habitat
email : ramadhani@orangutan.id
HP : 081349271904

CATATAN APE CRUSADER DI TAHUN 2017

APE Crusader, adalah tim gerak cepat COP yang pertama kali hadir di tahun 2007. Tepat di usianya yang 10 tahun, tim ini menerima 21 laporan konflik satwa liar versus manusia di Kalimantan Tengah, termasuk kepemilikan illegal. APE Crusader adalah tim yang selalu menyapu bersih informasi yang sampai padanya, termasuk di tahun 2017 ini. 100% laporan tersebut ditindaklanjuti.

Dari laporan-laporan tersebut, ada 16 satwa liar yang diselamatkan. 9 diantaranya adalah orangutan yang merupakan ikon satwa kebanggaan Indonesia yang berhasil diselamatkan dari kepemilikan ilegal. 25% diantaranya merupakan korban dari pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit.

Ada 2 kasus penegakkan hukum yang dipantau, yakni perdagangan anak burung elang dan pembunuhan orangutan di kawasan konsesi Genting Plantation Berhard. Untuk kasus perdagangan, ini adalah kasus pertama kalinya APE Crusader sampai pada proses tersangka tertangkap tangan. “Tersangka masih di bawah umur dan baru pertama kali mencoba bisnis ilegal ini yang mengantarkan pada upaya diversi, yaitu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses pidana ke proses di luar peradilan pidana menjadi penyelesaian kasus ini.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader.

COP juga mengorganisir kampanye untuk mendorong RSPO bertindak sesuai dengan kapasitasnya. RSPO berjanji meningkatkan kasus menjadi komplain meskipun tanpa komplain resmi dari COP. Ada dua orang pekerja PT. Susantri dipenjara selama 1,5 tahun. APE Crusader akan tetap menjadi tim gerak cepat COP yang berada di garis terdepan menyelamatkan orangutan dan habitatnya. (BAK)

APE CRUSADER DISKUSI RINGAN BERSAMA SISWI SMA 1 KUMAI

Awal November 2017, 37 siswi SMA 1 Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah melakukan kunjungan rutin dalam pembelajaran materi penyemaian bibit untuk penanaman pasca kebakaran hutan yang terjadi tahun 2015. Siswi binaan dari program FNPF ini tergabung dalam ekstra kulikuler MIPA yang bernama Water Air Forest School Conservation (WAFSC). APE Crusader bergabung untuk diskusi orangutan, konflik satwa liar dan habitatnya.

WAFSC aktif dalam kegiatan biopori, pembuatan kompos organik, karya ilmiah remaja dan penanaman kembali hutan. Basuki Budi Santoro, manajer FNPF Kalimantan mengapresiasi semangat siswi binaannya yang aktif berkegiatan konservasi, “Kepedulian akan lingkungan untuk menjaga dan melestarikan hutan adalah modal dasar untuk mencapai tujuan jangka panjang konservasi berkelanjutan.”.

Peran aktif para siswi ditunjukkan pada semakin banyaknya pertanyaan mengenai dunia konservasi satwa liar, mulai dari habitatnya yang semakin tergusur dan hilang akibat alih fungsi hutan, perluasan atau pembukaan baru perkebunan kelapa sawit, kebakaran, perburuan liar, perdagangan dan pemeliharaan satwa liar secara ilegal.

Jesika, salah satu siswi SMA 1 Kumai menuturkan, “Kami di sini hidup berdampingan dengan hutan dan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Kami sangat butuh informasi apa, kenapa dan bagaimana kami memperlakukan satwa liar khususnya orangutan ini. Diskusi kali ini, semoga menambah peran aktif kami dalam perlindungan lingkungan.”.

Kesempatan dalam diskusi santai kali ini menjadi semangat tersendiri untuk tim APE Crusader. “Selalu ada ide baru saat kunjungan edukasi dan penyadartahuan. Semangat mereka yang muda seperti vitamin untuk kami, menyelamatkan orangutan dan habitatnya.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader. (PETz)

SANTRI PEDULI ORANGUTAN

Selasa, 31 Oktober yang lalu, APE Crusader melakukan kegiatan Ponpes Visit dalam rangka penyadartahuan dan pengenalan tentang orangutan dan satwa liar lainnya. Pondok Pesantren SMP IT Al-Huda Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah dengan 83 santrinya diajak untuk lebih peduli pada satwa liar yang terancam kepunahan akibat tergusurnya habitat satwa tersebut.

Melalui slide materi dan pemutaran video tentang orangutan dan habitatnya, APE Crusader mengisi sore hingga malam hari kegiatan di Ponpes Al Huda ini. “Mari kita berikan perhatian lebih pada satwa liar yang dilindungi khususnya orangutan yang menjadi satwa khas pulau Borneo ini.”, ujar Gusti Samudra, SE sebagai ketua Yayasan Ponpes SMP IT Al-Huda.

Rasa ingin tahu tentang sifat dan karateristik orangutan menjadi pertanyaan para santri paling banyak. Hilangnya habitat orangutan menjadikan kunjungan kali ini menjadi lebih berarti. Seperti kata salah seorang santri yang bernama Yudha, ”Menjaga dan melestarikan lingkungan dan menyelamatkan orangutan adalah salah satu cara kita bersyukur dan bertaqwa kepada Allah SWT.”. (PETz)

Page 3 of 1012345...10...Last »