AUTOPSY NEEDED FOR ORANGUTAN BODY

Once again, an orangutan body was found in Barito River, Buntok, Central Kalimantan. The body’s condition was heartbreaking to see: no head, no hair all over the body.

This is the second time a body of orangutan was found floating in a river, the first case was back in May 2016 in Sangatta River, East Kalimantan. Back then, the body was secured by the local police and a necropsy was conducted to investigate the cause of death, however it won’t reveal who did it.

Today, the body found in Barito River by BKSDA Central Kalimantan was burried, no necropsy conducted. This is very unfortunate, since a thorough examination by veteranarians would be highly beneficial to investigate what was the cause of death, especially when the body found was in a very unsual condition.

Centre for Orangutan Protection dissatisfied with the swift action taken by BKSDA, burrying the adult male orangutan body found floating with no head in Kalahien back in January 15th 2018. It is expected for BKSDA Central Kalimantan to act proactively to solve this serious crime. Autopsy is the first step to solve the crime, and BKSDA have the qualified partners such as BOSF, OFI and COP. COP has involved in similar case in the past, supporting BKSDA East Kalimantan and Bontang Police.

“The immediate burrial sent a message as a hurried burrial to make it impossible to investigate the possible suspects,” said Ramadhani, Program Manager of Habitat Protection COP.

Information and Interview contact:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

MAYAT ORANGUTAN PERLU OTOPSI
Lagi, ditemukan satu mayat yang diduga adalah satwa liar yang dilindungi yaitu orangutan di Sungai Barito, Buntok, Kalimantan Tengah. Kondisi yang sangat mengenaskan ialah mayat ditemukan tanpa kepala, rambut atau bulu diseluruh tubuh sudah tidak ada.

Penemuan mayat orangutan ini menjadi catatan yang kedua ditemukan mengapung di sungai, yang mana pada bulan Mei 2016 ditemukan juga satu mayat orangutan di Sungai Sangatta, Kalimantan Timur. Saat itu mayat diamankan oleh pihak Kepolisian dan dilakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Namun tidak bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhannya.

Hari ini mayat yang ditemukan di Sungai Barito oleh pihak BKSDA Kalimantan Tengah tidak dilakukan nekropsi namun langsung dikubur. Sangat disayangkan sebenarnya karena dengan pemeriksaan mayat oleh dokter hewan akan menjadi data tambahan yang sangat ilmiah dalam mengungkap penyebab kematian. Apalagi mayat yang ditemukan sangat tidak wajar.

Centre for Orangutan Protection menyesalkan gerak cepat BKSDA Kalteng dalam menguburkan jenazah 1 (satu) orangutan jantan dewasa yang ditemukan tewas mengapung tanpa kepala di Kalahien pada tanggal 15 Januari 2018. Sudah seharusnya BKSDA proaktif untuk membongkar kasus kejahatan serius ini. Otopsi adalah langkah awal untuk itu dan BKSDA Kalteng memiliki mitra – mitra yang memiliki kemampuan dalam hal ini seperti Yayasan BOSF, OFI dan COP. COP sendiri pernah membantu aparat BKSDA Kaltim dan Polres Bontang dalam penanganan kasus kejahatan seperti ini.

“Penguburan segera jenazah orangutan terkesan seperti penguburan segera kasus ini sehingga tidak bisa dilacak lagi kemungkinan tersangkanya,” kata Ramadhani, Program Manager Perlindungan Habitat dari COP.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
081349271904

CRUCIAL , ORANGUTAN IN LESAN RIVER PROTECTED FOREST

Deforestation of forested areas to open Palm Oil plantations around the Lesan Ricer Protected Forest allegedly threatened the orangutan population of the sub-species of Pongo Pygmaeus Morio. Recent surveys show that the orangutan population within the Lesan River Protected Forest continues to decline year by year.

The Lesan River Protected Forest covering 13,565 hectares is an important habitat for orangutans and various rare wildlife species and protected by laws such as sun bears, leopards and Grafts. Unfortunately, its conservation efforts are sabotaged by palm oil companies so that forested areas that should be the connecting corridor between Lesan River Protected Forest and other otangutan habitats are running out.

On July 8th and August 2nd 2017 the Center for Orangutan Protection (COP) together with the East Kalimantan BKSDAE section was forced to transplant orangutans in areas that were supposed to be corridors but had been cut off by palm oil plantation and settlement activities. Sadly, 1 (one) individual orangutan found on August 2nd 2017 suffered serious head injuries. Most likely hacked with sharp weapons such as machetes.

A Serious focused effort is absolutely necessary to maintain the remaining population. BKSDAE of East Kalimantan has released 1 (one) individual 15-year-old male orangutan ex-rehabilitation Center for Orangutan Protection on September 16th, 2017. The release was followed by monitoring and securing the area involving the local community. At least 5 (five) orangutans will again be released in the region. However, such efforts will be in vain if the palm oil companies around the area have no intention of participating in safeguarding Indonesia’s wildlife.

For Information and Interviews:

Ramadhani
Habitat Protection Program Manager
Email : ramadhani@orangutan.id
Mobile : 081349271904

GAWAT, ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN
Pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit di dan sekitar Hutan Lindung Sungai Lesan diduga kuat telah mengancam populasi orangutan Kalimantan sub spesies Pongo pygmaeus morio. Survey terbaru menunjukkan bahwa populasi orangutan di dalam kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan terus menurun dari tahun ke tahun.

Hutan Lindung Sungai Lesan yang luasnya mencapai 13.565 ha merupakan habitat penting bagi orangutan dan beraneka jenis satwa liar langka dan dilindungi undang-undang seperti beruang madu, macan dahan dan rangkok. Sayangnya, upaya konservasinya disabotase oleh perusahaan-perusahaan kelapa sawit sehingga kawasan-kawasan berhutan yang seharusnya menjadi koridor penghubung antara Hutan Lindung Sungai Lesan dengan habitat orangutan lainnya semakin habis.

Pada tanggal 8 Juli dan 2 Agustus 2017 Centre for Orangutan Protection (COP) bersama seksi BKSDAE Kalimantan Timur terpaksa mentranslokasi orangutan di kawasan yang seharusnya menjadi koridor tetapi telah terpotong dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pemukiman. Yang menyedihkan, 1 (satu) individu orangutan yang ditemukan pada tanggal 2 Agustus 2017 mengalami luka serius pada bagian kepala. Kemungkinan besar dibacok dengan senjata tajam seperti parang.

Sebuah upaya terfokus untuk serius mutlak diperlukan untuk mempertahankan populasi yang tersisa. BKSDAE Kaltim telah melepasliarkan 1 (satu) individu orangutan jantan berusia 15 tahun eks-rehabilitasi Centre for Orangutan Protection pada tanggal 16 September 2017. Pelepasliaran tersebut diikuti dengan pemantauan dan pengamanan kawasan yang melibatkan masyarakat setempat. Setidaknya 5 (lima) orangutan lagi akan dilepasliarkan di kawasan tersebut. Namun demikian, upaya tersebut akan sia-sia jika perusahaan kelapa sawit di sekitar kawasan tidak memiliki niat untuk turut menjaga satwa liar kebanggaan Indonesia ini.

Untuk informasi dan wawancara:

Ramadhani
Manajer Program Perlingungan Habitat
email : ramadhani@orangutan.id
HP : 081349271904

CATATAN APE CRUSADER DI TAHUN 2017

APE Crusader, adalah tim gerak cepat COP yang pertama kali hadir di tahun 2007. Tepat di usianya yang 10 tahun, tim ini menerima 21 laporan konflik satwa liar versus manusia di Kalimantan Tengah, termasuk kepemilikan illegal. APE Crusader adalah tim yang selalu menyapu bersih informasi yang sampai padanya, termasuk di tahun 2017 ini. 100% laporan tersebut ditindaklanjuti.

Dari laporan-laporan tersebut, ada 16 satwa liar yang diselamatkan. 9 diantaranya adalah orangutan yang merupakan ikon satwa kebanggaan Indonesia yang berhasil diselamatkan dari kepemilikan ilegal. 25% diantaranya merupakan korban dari pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit.

Ada 2 kasus penegakkan hukum yang dipantau, yakni perdagangan anak burung elang dan pembunuhan orangutan di kawasan konsesi Genting Plantation Berhard. Untuk kasus perdagangan, ini adalah kasus pertama kalinya APE Crusader sampai pada proses tersangka tertangkap tangan. “Tersangka masih di bawah umur dan baru pertama kali mencoba bisnis ilegal ini yang mengantarkan pada upaya diversi, yaitu pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses pidana ke proses di luar peradilan pidana menjadi penyelesaian kasus ini.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader.

COP juga mengorganisir kampanye untuk mendorong RSPO bertindak sesuai dengan kapasitasnya. RSPO berjanji meningkatkan kasus menjadi komplain meskipun tanpa komplain resmi dari COP. Ada dua orang pekerja PT. Susantri dipenjara selama 1,5 tahun. APE Crusader akan tetap menjadi tim gerak cepat COP yang berada di garis terdepan menyelamatkan orangutan dan habitatnya. (BAK)

APE CRUSADER DISKUSI RINGAN BERSAMA SISWI SMA 1 KUMAI

Awal November 2017, 37 siswi SMA 1 Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah melakukan kunjungan rutin dalam pembelajaran materi penyemaian bibit untuk penanaman pasca kebakaran hutan yang terjadi tahun 2015. Siswi binaan dari program FNPF ini tergabung dalam ekstra kulikuler MIPA yang bernama Water Air Forest School Conservation (WAFSC). APE Crusader bergabung untuk diskusi orangutan, konflik satwa liar dan habitatnya.

WAFSC aktif dalam kegiatan biopori, pembuatan kompos organik, karya ilmiah remaja dan penanaman kembali hutan. Basuki Budi Santoro, manajer FNPF Kalimantan mengapresiasi semangat siswi binaannya yang aktif berkegiatan konservasi, “Kepedulian akan lingkungan untuk menjaga dan melestarikan hutan adalah modal dasar untuk mencapai tujuan jangka panjang konservasi berkelanjutan.”.

Peran aktif para siswi ditunjukkan pada semakin banyaknya pertanyaan mengenai dunia konservasi satwa liar, mulai dari habitatnya yang semakin tergusur dan hilang akibat alih fungsi hutan, perluasan atau pembukaan baru perkebunan kelapa sawit, kebakaran, perburuan liar, perdagangan dan pemeliharaan satwa liar secara ilegal.

Jesika, salah satu siswi SMA 1 Kumai menuturkan, “Kami di sini hidup berdampingan dengan hutan dan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Kami sangat butuh informasi apa, kenapa dan bagaimana kami memperlakukan satwa liar khususnya orangutan ini. Diskusi kali ini, semoga menambah peran aktif kami dalam perlindungan lingkungan.”.

Kesempatan dalam diskusi santai kali ini menjadi semangat tersendiri untuk tim APE Crusader. “Selalu ada ide baru saat kunjungan edukasi dan penyadartahuan. Semangat mereka yang muda seperti vitamin untuk kami, menyelamatkan orangutan dan habitatnya.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader. (PETz)

SANTRI PEDULI ORANGUTAN

Selasa, 31 Oktober yang lalu, APE Crusader melakukan kegiatan Ponpes Visit dalam rangka penyadartahuan dan pengenalan tentang orangutan dan satwa liar lainnya. Pondok Pesantren SMP IT Al-Huda Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah dengan 83 santrinya diajak untuk lebih peduli pada satwa liar yang terancam kepunahan akibat tergusurnya habitat satwa tersebut.

Melalui slide materi dan pemutaran video tentang orangutan dan habitatnya, APE Crusader mengisi sore hingga malam hari kegiatan di Ponpes Al Huda ini. “Mari kita berikan perhatian lebih pada satwa liar yang dilindungi khususnya orangutan yang menjadi satwa khas pulau Borneo ini.”, ujar Gusti Samudra, SE sebagai ketua Yayasan Ponpes SMP IT Al-Huda.

Rasa ingin tahu tentang sifat dan karateristik orangutan menjadi pertanyaan para santri paling banyak. Hilangnya habitat orangutan menjadikan kunjungan kali ini menjadi lebih berarti. Seperti kata salah seorang santri yang bernama Yudha, ”Menjaga dan melestarikan lingkungan dan menyelamatkan orangutan adalah salah satu cara kita bersyukur dan bertaqwa kepada Allah SWT.”. (PETz)

ANTISIPASI KONFLIK BUAYA DAN MANUSIA

Saat air sungai pasang, warga desa Bapinang, Kalimantan Tengah pun diliputi ketakutan. Buaya muara muncul di halaman rumah pak Sugian yang berjarak 5 meter dari sungai Bamandu. Kemunculan buaya muara sepanjang 3 meter pun segera dilaporkan kepada BKSDA Pos Sampit. APE Crusader bersama BKSDA Pos Sampit segera turun untuk menghindari konflik lebih lanjut.

Muriansyah selaku komandan BKSDA Pos Sampit langsung menanggapi laporan tersebut. Tim akhirnya memasang jaring untuk rumah terdekat dengan sungai. “Ini sebagai antisipasi terhadap serangan buaya yang sangat membahayakan jiwa manusia.”, jelasnya.

Senin, 16 September tim melakukan survei pada lokasi kemunculan buaya muara. Habitat buaya muara yang rusak membuat buaya kesulitan sumber makanan, inilah yang menyebabkan buaya berani mendekati pemukiman. Pada tahun 2013 hingga 2016 tercatat 11 kasus penyerangan buaya di kabupaten Kotawaringin Timur. Ada 5 orang yang meninggal, 2 diantaranya tidak ditemukan dan 6 orang menderita luka serius hingga putus jari tangan dan kaki.

“Kami, APE Crusader siap membantu penanganan konflik satwa dan manusia. Kerusakan habitat adalah penyebab utama konflik terjadi. Sebelum itu terjadi, kami akan maju untuk menyelamatkan hutan.”, tegas Faruq, kapten APE Crusader COP.

PENYELAMATAN ORANGUTAN ALOI

Minggu pagi bukanlah hari untuk berlibur. Satu orangutan jantan berusia 2 tahun menanti untuk diselamatkan APE Crusader. Bersama BKSDA Pos Sampit, tim segera meluncur ke desa Eka Bahurui, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Menurut bapak Opik yang menemukan bayi orangutan tersebut, orangutan terpisah dari induknya ditemukan di tengah kebun yang kemudian dirawat selama enam bulan. Orangutan ini pun diberi nama Aloi. Selama dirawat bapak Opik, Aloi diberi makan apa saja seperti biskuit, buah bahkan nasi.

“Sangat disayangkan, bayi orangutan sampai terpisah dengan induknya di sebuah kebun warga. Hilangnya hutan karena alih fungsinya yang merupakan habitat orangutan merupakan penyebab utama, orangutan mendekati manusia. Anak orangutan akan selalu menempel pada induknya hingga berusia 6-8 tahun. Terpisahnya induk dan anak dapat dipastikan induknya tewas.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader sambil mengamati Aloi yang terlihat ketakutan.

Keberadaan Aloi ini merupakan informasi dari masyarakat. “Pada hari Jumat (29/11) ada yang melaporkan orangutan dipelihara. Setelah kami periksa kebenarannya, tim pun segera meluncur ke lokasi untuk mengevakuasi.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

Sosialisasi orangutan adalah satwa yang dilindungi Undang-undang akan semakin digalakkan. ”Kami berharap masyarakat dapat dengan sukarela melaporkan atau memberitahu keberadaan pemeliharaan satwa liar dilindungi UU No 5 tahun 1990 ini.”, tambah pak Muriasyah.

Aloi akan dibawa ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun untuk menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitas. Ini akan menjad kesempatan keduanyanya untuk kembali ke hutan yang merupakan habitatnya dan menjadikannya satwa dengan peran penghijauan alami terbaik. (Petz)

PELIHARA ELANG MELANGGAR HUKUM

Pemberitaan media cetak dan online tentang penangkapan pedagang elang brontok pada 11 September menyadarkan ibu Masriah, bahwa dia melanggar hukum. Ibu Masriah pun akhirnya menyerahkan dua elang laut (Haliaeetus heucogaster) kepada BKSDA Pos Sampit dibantu Manggala Agni dan APE Crusader.

Menurut keterangan warga kecamatan Mentaya Baru Ketapang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini, kedua elang dipeliharanya selama enam bulan. Kedua elang dimasukkan ke dalam kandang berukuran 5×6 meter dan diberi makan ikan setiap pagi dan sore hari.

“Serah-terima ini adalah contoh kesadaran masyarakat dalam memahami bahwa elang adalah satwa yang termasuk dilindungi UU No. 5 Tahun 1990.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

Keesokan harinya, elang-elang dibawa ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun dan bersiap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya untuk menjalani perannya dalam rantai makanan. “Elang adalah predator puncak pada rantai makanan yang mempunyai peran sangat penting di alam liar. Membiarkan satwa liar di alam adalah tindakan terbaik manusia untuk kelestarian alam.”, kata Faruq Zafran, kapten APE Crusader COP. (Petz)

PENYERAHAN BERUANG MADU DARI ANTANG KALANG

Seseorang akan langsung jatuh hati pada satwa. Biasanya karena lucunya. Lucunya pada saat masih bayi. Dan pada saat bayi itulah, satwa diculik dari induknya. Bagaimana dengan induknya? Kecarian anaknya… atau mati saat mempertahankan anaknya. Inilah nasib beruang madu. Kalung yang melingkar di lehernya adalah tanda unik dari jenis beruang dengan tubuh yang tak terlalu besar.

Selasa, 12 September 2017, bayi beruang madu berusia 1 tahun diserahkan warga Parenggean, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Timur. Beruang madu yang berasal dari desa Sungai Keruh, kecamatan Antang Kalang ini ditemukan pak Cuandi saat mencari batu akik. Bayi beruang madu dipelihara seseorang. Setelah Pak Cuandi datang untuk yang ke-5 kali nya, beruang madu akhirnya diserahkan ke kantor BKSDA Pos Sampit. “Terimakasih pak Cuandi atas bantuannya menyerahkan beruang madu yang termasuk satwa dilindungi UU No. 5 Tahun 1990.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

“Selanjutnya dari arahan BKSDA Pos Sampit, Bayi beruang madu akan kami antar ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader COP. “Selain beruang madu, kami akan mengantarkan 1 ekor anakan burung elang yang berasal dari perdagangan ilegal hasil operasi tangkap tangan 11 Agustus 2017 yang lalu.”, tambah Faruq. Selanjutnya, kedua satwa diharapkan dapat melalui rehabilitasi untuk dilepasliarkan kembali ke alam. (PETz)

PEDAGANG ELANG TERTANGKAP DI SAMPIT

Satu anakan burung Elang berhasil diselamatkan dari perdagangan satwa liar ilegal pada 11 September 2017 yang lalu di Sampit, Kalimantan Tengah. Lagi-lagi media sosial menjadi wadah perdagangan predator tingkat tinggi ini. Dalam operasi ini, tiga tersangka pelaku perdagangan satwa dilindungi tertangkap tangan. Dua diantaranya masih di bawah umur.

Dari akun Facebook berlanjut komunikasi lewat Whatsapp, anak elang yang berusia 2 bulan ini dijual Rp 1.000.000,00. Menurut pengakuan tersangka MT (19 tahun), dia Sudan menjual 3 ekor elang semenjak 6 bulan terakhir. MT mendapatkan elang tersebut dengan mencari sarang-sarang elang di hutan.

Kerja bersama BKSDA Pos Sampit, Manggala Agni dan Centre for Orangutan Protection memerangi perdagangan satwa liar akan terus berlangsung. “Jangan jual satwa liar dilindungi! Atau berhadapan dengan APE Crusader!”, seru Faruq tegas. Perburuan satwa liar apalagi yang berada di tingkat tinggi pada rantai makanan akan berakibat buruk bagi kelangsungan ekosistem. Bencana ekologis akan terjadi seiring gelindingan bola es yang semakin besar. Itu sebabnya, COP memerangi perdagangan satwa liar.

Page 3 of 912345...Last »