APE CRUSADER

MUSIM KAWIN PREDATOR SUNGAI

Tiba-tiba seekor buaya bermoncong pendek menyerang pak Sahran (56 tahun) warga desa Hanaut, Sampit, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah pada 27 Desember 2016. Korban sempat terseret ke sungai dan segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Murjani Sampit. Jari tengahnya terpaksa diamputasi akibat serangan buaya itu.

Kurun waktu 2013 – 2016 dari data yang ada, korban luka dan mati akibat serangan Buaya terjadi pada bulan Januari hingga Mei di kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, data yang diperoleh dari Kepala Balai Konservasi dan Sumber daya Alam (BKSDA) Sampit Pak Muriansyah, total jumlah warga yang meninggal ada 5 orang dan 6 orang menderita luka serius. Dan rata-rata kejadian terjadi pada pagi hari dan sore menjelang malam. Ini adalah sebuah permasalahan yang sangat serius yang sedang dihadapi oleh BKSDA Sampit, terlebih lagi banyak yang angkat tangan dengan persoalan ini, seolah-olah ini adalah permasalahan yang harus di tanggung oleh BKSDA Sampit saja.

Dari olah lapangan, ada beberapa penyebab buaya menjadi ganas. Tim BKSDA Sampit memperkirakan habitat yang menjadi tempat satwa yang dilindungi yaitu Buaya telah rusak. Sumber makanan buaya di darat seperti babi, rusa dan lainnya menghilang. Ikan berkurang dikarenakan pencari ikan yang menyalahi aturan menangkap menggunakan zat kimia dan alat setrum diduga menyebabkan sungai Sampit tercemar. Sementara itu bulan Januari hingga Mei adalah musim dimana musim kawinnya predator sungai yaitu Buaya.

Upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir korban dengan cara memasang papan peringatan daerah rawan Buaya dan masih perlu ada penambahan pemasangan papan peringatan, dilanjutkan dengan penyuluhan ke daerah rawan buaya. Pada rapat koordinasi bulan Mei tahun 2014 dari instansi daerah memutuskan kesepakatan untuk menanggapi serius permasalahan ini dikarenakan sudah banyak menelan korban jiwa berkaitan dengan satwa yang dilindungi. Beberapa solusi yang disepakati dalam rapat diantaranya menambah pemasangan papan peringatan, kemudin pemasangan jaring dipinggir sungai dan pembentukan tim khusus. BKSDA Sampit menyarankan untuk jangka panjang agar penyediaan air bersih untuk desa yang tinggal di tepi sungai Mentaya terutama untuk 3 Kecamatan (kecamatan mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau Hanaut) sudah 2 tahun berlalu sampai sekarang hasil rapat tersebut belum menemui titik terang dari pihak pemerintah Provinsi. (PIL)

CATATAN APE CRUSADER TAHUN 2016

APE Crusader adalah tim gerak cepatnya COP yang berada di garis depan untuk perlindungan orangutan dan habitatnya. Sepanjang tahun 2016, APE Crusader menangani 16 orangutan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Selain itu kasus-kasus satwa liar lainnya seperti penemuan 18 tringgiling di Sampit, evakuasi Bekantan (monyet Belanda) dan mitigasi konflik dengan buaya juga menjadi catatan APE Crusader menutup tahun 2016.

Tahun 2016, APE Crusader harus menghadapi kematian 5 orangutan, termasuk di dalamnya kasus 3 orangutan di Bontang yang mati dalam kondisi terbakar. Kasus ini menarik dan menantang pihak kepolisian untuk melakukan proses penegakan hukum. Berawal dari postingan seseorang di Facebooknya, bahwa ada tiga orangutan yang mati. Proses ini berhasil membuktikan pelaku dengan sengaja membakar orangutan sehingga melakukan tindak kriminal terhadap satwa endemik asli Indonesia yang dilindungi oleh undang–undang ini. Terdakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 21 ayat (2) huruf a dan pasal 40 ayat (2) UU RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sehingga terdakwa terjerat hukuman vonis penjara 1 tahun 6 bulan. Keberhasilan kasus ini tidak lepas dari dorongan orangufriends dan media.

Sementara itu kasus pemeliharaan orangutan ilegal dengan latar belakang rasa kasihan mendominasi. Sebagian besar orangutan tersebut adalah bayi. Sebagai contoh kepemilikan dan pemeliharaan illegal yang dilakukan oleh anggota TNI yang bertugas di Bontang. Menurut Pasal 40 ayat 2 UU No. 5 Tahun 1990, para pemelihara satwa dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) serta dikatagorikan sebagai tindak pidana kejahatan. Masih menjadi pertanyaan besar, bagaimana bayi-bayi orangutan tersebut sampai ke tangan manusia. Induk orangutan merawat anaknya hingga usia 6-8 tahun. “Dapat dipastikan, induknya mati.”, ujar Satria, kapten APE Crusader.

Seperti kasus orangutan Apung yang akhirnya berganti nama menjadi orangutan Bumi. Orangutan dengan tali pusar yang baru lepas ini diselamatkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Setiap kali tubuhnya diangkat dia menjerit kesakitan. Setelah dilakukan x-ray ditemukan peluru senapan angin di dadanya. Bayi orangutan berusia 2 minggu dengan peluru senapan angin di dadanya? Bagaimana nasib induknya?

APE Crusader bersyukur bisa memberikan kesempatan kedua bagi orangutan-orangutan yang bisa diselamatkan dalam kondisi hidup di tahun 2016. Namun juga harus mengatasi depresi yang mendalam saat menangani orangutan maupun satwa liar lainnya yang mati. Dan terus mencari jalan terbaik untuk orangutan-orangutan liar yang terjebak di hutan terfragmentasi akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit yang terjadi di PT AE, Kalimantan Timur. Dukungan anda semua adalah kekuatan tim ini untuk terus melakukan yang terbaik untuk orangutan dan habitatnya. (PET)

COP REPORTED PS GRUP TO MINISTRY OF ENVIRONMENT AND FORESTRY

Centre for Orangutan Protection, once again reported PS Grup to ministry of environment and forestry today, on the alleged case of crime towards orangutan and their habitat. This palm oil company that supplies Sinar Mas and Wings Food destroyed 7,400 acres forest which adjacent with Sungai Lesan Conservatory Park, East Kalimantan. At least 2 orangutans identified in this forest, which were currently destroyed by 4 heavy equipment.

Based on Indonesia Law No. 5/1990, article 5 paragraph 2

Everyone is prohibited to:

a. Capture, injure, kill, keep, own, nurture, carry and trade protected species.

c. Transport protected species from one place in Indonesia to another place within Indonesia or outside Indonesia.

e. Take, damage, destroy, trade, keep or possess the egg and/or nest of the protected species.

For further information and interview, please contact:

Ramadhani
COP Operational Director
HP: +6281349271904
email: dhani@cop.or.id

Note: based on article 40 paragraph (2), for whoever deliberately violate the provisions stated on article 21 paragraph 1 and 2, and Indonesia Law No. 5/1990 article 33 paragraph 3; is subject to be convicted for maximum 5 years of imprisonment and maximum Rp.100.000.000 of penalty

COP LAPORKAN PS GRUP KE MENTERI LHK

Centre for Orangutan Protection pada hari ini kembali melaporkan PS Grup kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas dugaan kejahatan pada orangutan dan habitatnya. Perusahaan kelapa sawit pemasok Sinar Mas dan Wings Food ini membuldoser kawasan berhutan seluas kurang lebih 7.400 hektar yang berbatasan dengan Hutan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur. Setidaknya 2 (dua) individu orangutan teridentifikasi di kawasan yang sedang dibabat dengan 4 (empat) alat berat. 

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, pasal 21 ayat 2

Setiap orang dilarang untuk:
a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/ sarang satwa yang dilindungi.”

Untuk informasi lebih lanjut dan wawancara, harap menghubungi:

Ramadhani
Direktur Operasional COP
HP : +6281349271904
email : dhani@cop.or.id

Catatan: Berdasarkan pasal 40 ayat (2) Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta pasal 33 ayat (3) UU No. 5 Tahun 1990 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak  Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

APE CRUSADER EVACUATED A BEKANTAN

Villagers in Sampit found a long-nosed monkey drifted away in Mentaya River, Sampit, Central Borneo. Bekantan (Nasalis larvatus) is a long-nosed monkey which in Bahasa Indonesia sometimes called ‘dutch monkey’. Bekantan lives in a group which consists of one adult male and several adult females with their children. APE Crusader helped BKSDA and Manggala Agni to evacuate the bekantan. “This is a prompt evacuation, because people are starting to come to see it on this narrow pier.” Stated Muriansyah, BKSDA Sampit.

Bekantan also a kind of primate that have a high stress level. “The bekantan looked very weak,” stated Faruq, one of the COP rapid response team, APE Crusader. Next, the bekantan will be relocated to safer place.

Wildlife capturing and losing their habitat had put bekantan in endangered list in IUCN Red List and listed in CITES Appendix I.

Warga menemukan bekantan hayut di sungai Mentaya, Sampit, Kalimantan Tengah. Bekantan (Nasalis larvatus) adalah monyet berhidung panjang yang sering disebut monyet Belanda. Biasanya Bekantan hidup dalam kelompok yang terdiri dari satu jantan dewasa dengan beberapa betina dewasa bersama anak-anak. APE Crusader membantu BKSDA dan Manggala Agni untuk mengevakuasi bekantan ini. “Ini adalah evakuasi secepat kilat, karena semakin banyak orang yang ingin melihat di atas pelabuhan yang sempit.”, ujar Muriansyah, BKSDA Sampit.

Bekantan juga merupakan primata yang memiliki tingkat stres yang tinggi. “Bekantan terlihat sangat lemah.”, ujar Faruq dari tim gerak cepat COP, APE Crusader. Selanjutnya, Bekantan akan dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Penangkapan liar dan hilangnya habitat bekantan memasukkan bekantan sebagai satwa Terancam Punah di dalam IUCN Red List dan termasuk dalam CITES Appendix I. (YUN)

BEWARE OF SMOKE! LET’S FACE IT TOGETHER

Joint patrol to anticipate forest fire is still on going. Mentaya Seberang area, Seranau, Central Kalimantan is one of the targeted area. Started the trip by motorcycle and then boat ride to cross the river, the objective was to raise awareness of forest fire. The forest area burnt last year have not been recovered. The identification of peat depth was part of the patrol.

APE Crusader participated on socialization when there’s conflict between orangutan and human. BKSDA Sampit, Manggala Agni, Indonesia Police and Indonesia Army collaborate in the forest fire patrol. Scenarios of forest fire points requires identification of rivers in the area and its depth. Local community were encouraged to be actively contributed by not burning down forest to open a field. Forest fire is everyone’s problem.

AWAS ASAP! DIHADAPI BERSAMA

Patroli gabungan untuk mengantisipasi kebakaran terus dilakukan. Daerah Mentaya Seberang, Seranau, Kalimantan Tengah tak luput dari pantauan. Mulai dari naik sepeda motor dan dilanjutkan menyeberang menggunakan perahu untuk meningkatkan kewaspadaan kebakaran. Hutan yang habis terbakar tahun lalu masih belum pulih juga. Pendataan kedalaman gambut menjadi bagian dari patroli awas asap ini.

APE Crusader ikut mensosialisasikan jika terjadi konflik orangutan dengan manusia. BKSDA Sampit, Manggala Agni, Kepolisian maupun TNI jalan bersama dalam patroli. Skenario seandainya muncul titik api menuntut pencatatan titik letak sungai hingga kedalamannya. Masyarakat diminta peran serta aktifnya, untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Kebakaran hutan adalah masalah bersama.

WHAT HAPPENED TO SONIA?

Not even a year old, this baby orangutan has to be put under human’s care. Still in Sampit area, Central Borneo. Parenggean, East Kotawaringin district to be exact. According to the keeper, this baby has been under their care for 6 months. What happened to her mother?

Reports have been received by the APE Crusader, COP’s rapid response team. APE Crusader will work to confirm the reports. This time, it’s so heartbreaking. Another baby orangutan. Almost the entire land of Kotawaringin district now have turned into palm plantation. No forest left for orangutan’s habitat.

Sonia’s arrival on human hands represents 2 to 10 other wild orangutan that was killed. Sonia represents her family. What about the other animals?
APA YANG SUDAH TERJADI SONIA?

Belum juga genap usianya satu tahun. Bayi orangutan ini terpaksa diasuh manusia. Masih di seputaran Sampit, Kalimantan Tengah. Tepatnya Parenggean, kabupaten Kotawaringin Timur. Menurut yang mengasuhnya, bayi ini sudah 6 bulan dirawatnya. Bagaimana dengan ibunya?

Laporan demi laporan diterima APE Crusader, tim gerak cepatnya Center for Orangutan Protection. APE Crusader akan segera mengkonfirmasi laporan tersebut. Kali ini, membuat miris. Bayi orangutan lagi. Hampir seluruh lahan kabupaten Kotawaringin beralihfungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Sementara tak ada lagi hutan sebagai habitat orangutan yang tersisa.

Sampainya Sonia (nama bayi orangutan) ke tangan manusia mewakili 2 sampai 10 orangutan liar lainnya yang mati. Sonia mewakili kerabatnya. Bagaimana dengan satwa liar lainnya?

WILD ORANGUTAN WERE FORCED TO EAT PALM PLANTS

Nest is a very crucial resting place for orangutan. Orangutans make their nest twice each day. One for rest in the afternoon, and a larger one for evening until the next morning. On November 7th 2016, COP received a report that two orangutans destroyed palm and pineapple plantations owned by Mr. Bayu. After field review, APE Crusader, COP’s rapid response team, found two newly made nests.
Once again, we found fragmented forest. The forest that stuck between a plantation owned by PT. MAP and villager’s plantation. These orangutans must be distressed, all the food in the forest were gone and forced to enter the plantation owned by Mr. Bayu,
After two days, Mr. Bayu reported that the orangutan destroyed the palm plantation again. APE Crusader along with BKSDA Sampit immediately headed to the location, and tried to chase the orangutan. Wild orangutan was very agile, and the team lost track.
Conflict between orangutan and plantations will never stop, as long as the field used for plantation was orangutan’s habitat.

ORANGUTAN LIAR TERPAKSA MAKAN SAWIT

Sarang adalah tempat istirahat penting bagi orangutan. Dalam kesehariannya, orangutan akan membuat sarang sebanyak dua kali. Satu sarang pada saat istirahat di siang hari, dan satu sarang yang lebih besar pada sore hari untuk tidurnya hingga esok pagi. 7 November 2016, COP mendapat laporan ada dua orangutan merusak perkebunan sawit dan nenas milik pak Bayu. Hasil dari lapangan, APE Crusader, tim gerak cepatnya Center for Orangutan Protection menemukan dua buah sarang yang masih baru.

Sekali lagi kami menemukan hutan yang terfragmentasi. Hutan yang terjepit di antara perkebunan PT. MAP dengan milik masyarakat. Orangutan ini pasti terdesak, pakan di hutan habis dan terpaksa masuk ke perkebunan sawit milik pak Bayu.

Selang dua hari kemudian, pak Bayu melaporkan kembali orangutan tersebut merusak perkebunan sawit lagi. APE Crusader bersama BKSDA Sampit segera menuju lokasi, dan mengejar orangutan tersebut. Orangutan liar memang sangat lincah sekali, tim pun kehilangan jejaknya.

Konflik orangutan dan perkebunan tidak akan pernah berhenti, semasa lahan perkebunan yang digunakan adalah habitat orangutan.

INTEGRATED PATROL FOR FOREST FIRE PREVENTION

Forest fire haunts every dry season. The preparation to face forest fire is always a question APE Crusader which happened to be in Central Kalimantan along with Indonesian Army (TNI), police and local community inspected the potential areas for forest fire.

Socialization of forest fire hazard had been delivered structurally by BKSDA and Manggala Agni in West Baamang. To reach the location, team required to use motorcycle. APE Crusader helped the inspection by operated drone to check the forest fire potential area.

This is the collaboration to prevent forest fire which devastated a lot of parties, including orangutans that must lost their habitat due to forest fire. When they lost their habitat, orangutans will enter villager’s farm or even houses. “It is better to prevent!” stated Satria, APE Crusader captain.

PATROLI TERPADU KEBAKARAN HUTAN

Kebakaran hutan seperti hantu yang selalu muncul saat musim kemarau tiba. Kesiapan menghadapi nya selalu dipertanyakan. APE Crusader yang kebetulan sedang di Kalimantan Tengah bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian dan warga setempat mengecek tempat-tempat yang berpotensi terjadi kebakaran.

Sosialisasi bahaya kebakaran secara terstruktur disampaikan BKSDA dan Manggala Agni di Baamang Barat. untuk mencapat lokasi, tim harus menggunakan sepeda motor. APE Crusader membantu dengan menerbangkan drone untuk memantau kawasan yang berpotensi terbakar lewat udara.

Ini adalah kerja bersama untuk mencegah kebakaran, yang tiap tahunnya merugikan banyak pihak. Termasuk orangutan yang akhirnya harus kehilangan habitatnya. Akibat habitat orangutan terbakar, orangutan terpaksa masuk ke ladang bahkan pemukiman manusia. “Lebih baik mencegah… kan!”, tegas Satria, kapten APE Crusader.

RESCUED TWO ORANGUTAN BABIES TODAY

We have rescued two orangutan babies today. The first one in East Kalimantan and the second one in Central Kalimantan. They are now going to rescue centers. The first one, we named him Happi, is going to our own centre COP Borneo. The second one don’t have name yet, is going to Wildlife Authority Office in Sampit. Let’s hope the authority decide BOSF Nyarumenteng as her new home.
COP thanks to you all for kind support, especially who fund us through With Compassion & Soul ( COP Borneo Centre), The Orangutan Project (Ape Guardian Team) and Orangutan Outreach (The Ape Crusader Team).

BELAJAR DAN BERBAGI DI CEMPAGA HULU

“Masih banyak masyarakat di daerah-daerah hulu yang perlu di beri pengetahuan lebih tentang perlindungan orangutan. Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat saya dukung, karena bisa menambah wawasan murid-murid di sini, karena di desa ini sering terjadi konfik antara masyarakat dan orangutan.”, ujar Mila, salah satu guru di SMP.
Maraknya alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, sangat berpengaruh langsung terhadap kehidupan satwa liar, terutama orangutan. Di Kotawaringin Timur, tepatnya di desa Tumbang Koling dulunya termasuk kantong habitat orangutan Kalimantan Tengah (pongo pygmeus wrumbii). Akan tetapi, sekarang hutan-hutan di sekitar sudah berubah semua menjadi perkebunan kelapa sawit. Lantas kemana orangutan-orangutan itu?
Bulan Juli lalu tim Centre for Orangutan Protection (COP) mengevakuasi 1 individu bayi orangutan tanpa induk, berumur kurang dari sebulan. Satu butir peluru bersarang di bagian punggung bayi ini. Kondisinya sangat lemah dan memaksa tim untuk langsung membawanya ke Pusat Reintroduksi Orangutan BOS Nyarumenteng, Kalimantan Tengah.
Kasus tersebut hanyalah salah satu jawaban dari sekian banyak pertanyan bagaimana nasib orangutan di Kalimantan Tengah. Semakin banyak hutan yang dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit, menyebabkan orangutan tersebut kehilangan sumber pakan. Beberapa orangutan yang beruntung, mungkin bisa lari dari kondisi ini. Tapi tidak sedikit juga yang masuk ke kebun masyarakat dan menimbulkan konflik baru orangutan dengan masyarakat.
Rabu, 24 Agustus tim COP melakukan kegiatan penyadartahuan perlindungan orangutan di SMPN SATAP Cempaga Hulu. Aga yang merupakan salah satu dari tim COP menjelaskan, “Kegiatan ini adalah lanjutan dari kasus yang kita temukan bulan Juli lalu. Melalui penyadartahuan ini, kami berharap ketika ada orangutan yang masuk ke kebun atau warga maupun anak-anak yang melihat atau memelihara orangutan, baik yang terluka atau tidak. Bisa langsung menghubungi pihak-pihak yang berwenang.”
Metode penyadartahuan tentang perlindungan orangutan disampaikan tim COP kepada siwa dengan media gambar cetak. Kemudian diisi dengan permainan kecil yang banyak mengambil unsur lingkungan. Bersyukur siswa-siswi di SMP ini sangat antusias mengikuti hingga selesai kegiatan.
Tidak banyak kegiatan penyadartahuan tentang perlindungan satwa liar yang dilakukan di daerah hulu. Di samping akses yang susah dan menempuh waktu yang lama menjadi kendalanya. Namun jika tidak ada yang mengambil peran tersebut, satwa-satwa liar yang tersisa tidak akan bertahan lama. Akan terus ada korban-korban berjatuhan akibat dari perburuan maupun pemeliharaan. (SAT)

Page 2 of 512345