2015 was the year that Kalimantan burned. The airports of five Kalimantan provinces were almost completely out of action. The COP Borneo Rehabilitation Centre was on standby. Centre for Orangutan Protection even stepped in to help extinguish fires at Wein River, East Kalimantan, and alongside Hutan Group with the Friends of the National Parks Foundation, in Tanjung Puting National Park, Central Kalimantan.

In the annual event One World Festival in Osaka, Japan, COP and Hutan Group had the opportunity to speak about the fires that had engulfed the whole of Kalimantan, on the 6th and 7th of February 2016. In addition, Hutan Group also made efforts during the event to raise funds and campaign for the protection of natural forests from Palm oil and fires.

Tahun 2015 adalah tahun dimana Kalimantan terbakar. Bandara lima provinsi Kalimantan hampir lumpuh total. Pusat Rehabilitasi COP Borneo siaga. Centre for Orangutan Protection pun turut membantu memadamkan kebakaran di sungai Wein, Kalimantan Timur dan bersama Hutan Group dengan FNPF di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Pada kegiatan tahunan, One World Festival di Osaka, Jepang, COP dan Hutan Group berkesempatan menceritakan kebakaran yang melanda Kalimantan keseluruhan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016. Selain itu HUTAN Group berusaha menggalang dana sekaligus mengkampanyekan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran di acara tahunan itu.


Kunthi have a tremendous spirit to recover. After being intensively nursed, this estimated 29 years old male orangutan is considered ready to be released back. Physical defects in the eyes and teeth did not become a hindrance for the translocation because Kunthi are already familiar with the condition. Nature provides everything for Kunthi to heal himself.

Kunthi was rescued by BOSF on March 8, 2000 from the village Menamang and was translocated to the Forest Meratus 5 days later. At the time Kunthi was about 13 years old. Deforestation caused by palm oil plantations has narrowed the motion and reduced the availability of fodder. This situation forced Kunthi to forage in the countryside. The society regard him as a pest, and then the tragedy happened: Kunthi was arrested, beaten and tied up.

Kunthi is the latest illustration of the impact of the lack of government’s commitment to secure the region into wildlife habitat. The road is still long for Kunthi and thousands of other orangutans displaced from their habitat. They all need your help.

#‎saveorangutan #‎waybackhome #‎orangutanrelease #‎APEDefender #‎APECrusader

Kunthi memiliki semangat yang luar biasa untuk pulih. Setelah dirawat secara intensif, orangutan jantan yang diperkirakan berusia 29 tahun ini dinilai telah siap untuk dilepasliarkan kembali. Cacat fisik pada mata dan gigi tidak menjadi halangan untuk dilakukannya translokasi karena merupakan luka lama dan Kunthi sudah terbiasa dengan kondisi fisik tersebut. Alam menyediakan segalanya bagi Kunthi untuk menyembuhkan diri.

Kunthi pernah diselamatkan Yayasan BOS pada tanggal 8 Maret 2000 dari desa Menamang dan ditranslokasikan ke Hutan Meratus 5 hari kemudian. Saat itu Kunthi diperkirakan berusia 13 tahun. Pembabatan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit telah mempersempit ruang geraknya dan mengurangi ketersediaan pakan. Situasi ini memaksa Kunthi untuk mencari makan di pedesaan. Masyarakat menganggapnya sebagai hama dan lalu terjadilah tragedi itu: Kunthi ditangkap, dipukuli dan diikat.

Kunthi adalah gambaran terkini mengenai dampak dari minimnya komitmen pemerintah untuk mengamankan kawasan yang menjadi habitat satwa liar. Jalan masih panjang bagi Kunthi dan ribuan orangutan lainnya yang tergusur dari habitatnya. Mereka semua membutuhkan bantuan Anda.


We have good news today. The big male, #‎orangutanKunthi makes it well. He is very tough man. He eat alot an work hard to heal cure himself by licking the wounds.

We put his fruits in the top of cage to check whether he can raise it or not. He did it well. He can climb!

Sorry for the pictures as they are not good enough. A bit difficult to have good one as an normal wild orangutan, he still very shy to camera.

Now we are preparing the release back to wild for tomorrow. Big forest provide everything to cure him and he now excactly how to do.
Stay tune for lastest updates.

#‎forestwars #‎conflictpalmoil #‎apecrusader

Kami punya berita gembira hari ini. Si pria besar Kunthi telah menjalaninya dengan baik. Dia adalah pria yang tangguh. Makan banyak dan berusaha mengobati dirinya sendiri dengan menjilati lukanya.

Kami menaruh makannya di atas kandang untuk menilai apakah dia bisa mengambilnya. Dia BISA! Ini artinya dia bisa memanjat.

Maaf fotonya kurang bagus karena dia, selayaknya #‎orangutanliar masih malu dengan kamera.

Saat ini kami sedang mempersiapkan pelepasliarannya kembali, besok. hutan yang luas menyediakan apapun untuk penyembuhannya dan dia tahu persis bagaimana melakukannya. ikuti terus perkembangannya.


On the 27th of January 2016 a large male orangutan was captured, who had caught the attention of the North Paser community. The orangutan, estimated at over 20 years of age, was captured by residents after entering their settlement. A visual inspection of the orangutan’s condition was made by Veterinarian Ade Fitria from the Centre for Orangutan Protection. The results revealed damage to his left eye – which was no longer functioning, several broken teeth, and mild wounds as well as swelling on his hands and feet, a result of being tied up for over 19 hours.

The following day the large male was given a full examination, which uncovered old wounds as well as new. What was surprising was the discovery of a microchip. Microchips in orangutans are an important mark, in the form of an alphanumerical code, given to an orangutan for individual records after a rescue is carried out. This is important for orangutans that have been rescued previously as the chip contains information about the orangutan’s history.

Yes, the orangutan with the blind left eye and missing teeth was Kunthi, a male orangutan rescued on the 8th of March, 2000 in the Manamang area. At that time he was estimated to be over 13 years old. Five days later, Kunthi was released again on the 13th of March 2000. (ADE)


Tertangkapnya orangutan jantan besar pada 27 Januari 2016 yang menarik perhatian masyarakat Paser Utara. Orangutan yang diperkirakan berusia 20 tahun lebih ini merupakan tangkapan warga yang masuk pemukiman. Proses inspeksi (penilaian kondisi tubuh dari luar) pun dilakukan dokter hewan Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection. Hasilnya terlihat rusaknya mata sebelah kiri yang tidak dapat berfungsi untuk melihat kembali, dan beberapa gigi yang patah dan luka ringan pada tangan dan kaki serta bengkaknya tangan dan kaki karena terikat dengan tali lebih dari 19 jam.

Keesokan harinya orangutan jantan dewasa itu diperiksa secara menyeluruh, dengan hasil ditemukannya luka lama dan luka baru. Hal yang mengejutkan adalah ditemukannya microchip. Microchip pada orangutan merupakan penanda (dalam bentuk kode angka dan huruf) yang diberikan untuk pendataan individu setelah dilakukan rescue. Microchip merupakan penanda penting bagi orangutan yang pernah direscue karena adanya catatan tentang orangutan tersebut sebelumnya.

Ya, orangutan dengan sebelah mata buta dan gigi taring rontok itu adalah orangutan Kunthi. Orangutan yang jantan yang diselamatkan pada 8 Maret 2000 di daerah Manamang. Saat itu perkiraan usianya lebih dari 13 tahun. Selang lima hari kemudian, orangutan Kuthi pun dilepasliarkan kembali (13 Maret 2000). (ADE)


Centre for Orangutan Protection was contacted by the Conservation and Natural Resources Authority of East Kalimantan about the discovery of an adult male orangutan who had bound by his hands and feet for 19 hours. The orangutan did not want to eat or drink, and appeared stressed and weak on the 27th of January 2016, in Bui village, Muara Samu, East Kalimantan. That afternoon, the Authority requested the help of COP to evacuate the orangutan.

The Head of Section III of the East Kalimantan Authority, Mrs Suriawati Halim stated, “The orangutan has been successfully moved from the site of capture. The move was carried out due to safety concerns and the large number of people wishing to see the animal. At this time the orangutan is being held at the Penajam post.”

“Based on the experience of COP since 2007, almost 100% of orangutans captured by humans are found to have serious injuries on their heads and hands.” Said Ramadhani, COP executive director. “Almost all of this is due to them being seen as pests in palm oil plantations in Kalimantan. If there are reports of conflict between humans and orangutans, our rescue team must act quickly to save them. Standing between them and the plantation workers and hunters.” He added.

The following day, January 28th 2016. Upon first glimpse of the adult male, the COP Team found bruising on the orangutan’s body and swelling on his legs and arms from his restraints. His lower canine tooth was missing and the top tooth cracked. As his face, eyes and lips were free from inflammation, the damage to the teeth was suspected to be from old injuries. However, the examination was cut short as much was still unclear, and it was instead resumed the following day.
On the 29th of January, the orangutan still in the enclosure at the Conservation and Natural Resources Authority Penajam post, Veterinarian Ade Fitria from Centre for Orangutan Protection delivered the results of his examination.

Physical Examination:
Skin: normal, no signs of dehydration; head and back free of lesions. Lesions found on right upper arm and left wrist, as well as chest area. Two outer toes on right foot exhibit swelling containing pus and blood.
Eyes: left eye not functioning and no longer in use. Right eye normal. Conjunctivitis in right and left eyes, appearing pale pink, palpebral reflex still present.
Internal Organ Examination:
Gastro-intestinal system
Teeth: upper left and right canine teeth cracked (old damage), lower left and right canine cracked (recent but no inflammation), one lower incisor missing, minor redness on gums (inflammation) but already in the process of healing. Overall no new inflammation of the gum area.
Peristaltic movement weak due to lack of previous food intake.
Arms/hands: swelling on left and right hands due to restraints, no broken bones found.
Legs/feet: swelling in left and right feet due to restraints, no broken bones found.

For information and interview please contact:

Executive Director, Centre for Orangutan Protection
Phone : 081349271904
email :

Dr. Ade Fitria
Veterinarian, Centre for Orangutan Protection
Phone : 082152828404
e-mail :


PASER – BKSDA Kalimantan Timur menghubungi Centre for Orangutan Protection (COP) tentang ditemukannya satu orangutan jantan dewasa dalam kondisi terikat kaki dan tangannya selama 19 jam. Orangutan tersebut tidak mau makan dan minum, terlihat stres dan lemas pada 27 Januari 2016 di desa Bui, Muara Samu, Kalimantan Timur. Sore itu, BKSDA Kaltim meminta bantuan COP untuk mengevakuasi orangutan tersebut.

Kepala Seksi III BKSDA Kalimantan Timur, Ibu Suriawati Halim, S.Hut., M.P. menyampaikan, “Orangutan sudah berhasil dipindahkan dari lokasi tertangkap. Pemindahan ini dilakukan karena kawatir keamanan dan terlalu ramainya orang yang ingin melihat. Saat ini orangutan berada di Pos Penajam.”

“Berdasarkan pengalaman COP sejak tahun 2007, hampir 100% orangutan yang ditangkap manusia mengalami luka serius di kepala dan tangan.”, ujar Ramadhani, direktur pelaksana COP. “Hampir seluruhnya karena dianggap hama perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Jika ada laporan konflik antara manusia dan orangutan, tim penyelamat kami harus bergerak cepat untuk menyelamatkannya. Beradu cepat dengan para pekerja perkebunan dan pemburu.”, tambahnya.

Keesokan harinya, 28 Januari 2016. Saat pertama kali Tim Centre for Orangutan Protection melihat pada orangutan jantan dewasa ini terdapat memar di bagian tubuh dan bengkak di bagian kaki maupun tangan karena ikatan tali. Gigi taring bawah hilang dan gigi taring atas patah. Tidak terlihat peradangan baru di area muka, mata maupun bibir, diduga luka lama. Namun pemeriksaan terpaksa diberhentikan karena penerangan yang sangat kurang, dan akan dilanjutkan hari berikutnya.

Masih di kandang BKSDA Kalimantan Timur pos Penajam, drh. Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection pada 29 Januari 2016 menyampaikan hasil pemeriksaan.

Pemeriksaan Fisik:

Rambut : bersih, kusam dan lebat, tidak ada kerontokan.

Kulit : normal tidak mengalami dehidrasi; bagian kepala, punggung tidak terdapat lesi, pada tangan atas kanan dan kiri bagian pergelangan tangan terdapat lesi; pada bagian dada terdapat lesi; pada bagian kaki kanan jari kelingking dan jari manis kaki mengalami pembengkakkan berisi nanah dan darah.

Limphoglandula : tidak ditemukan adanya pembengkakkan pada lgl. superficial.

Mata : bagian kiri sudah tidak dalam kondisi normal dan sudah tidak adapat digunakan untuk melihat, mata sebelah kanan masih dalam keadaan normal. Conjunctiva kanan dan kiri terlihat pink pucat dan masih memiliki reflek pelpebra.

Telinga : tidak ditemukan adanya perubahan.

Pemeriksaan Sistem Organ:

Sistem Gastro Intestinal

Mulut : tidak ditemukan adanya perubahan

Gigi : gigi caninus bagian atas kanan dan kiri patah (sudah lama), gigi caninus bagian bawah kanan dan kiri patah (masih baru tapi sudah tidak ada proses peradangan), dan satu gigi incisor bagian bawah tercabut sedikit ditemukan kemerahan pada gusi (proses peradangan) namun sudah dalam proses kesembuhan. Secara umum tidak ada peradangan baru pada daerah gusi.

Intestinal : gerak peristaltik lemah (karena tidak adanya asupan makanan sebelumnya)

Rektum : bersih tidak ada perubahan

Sistem Kardiopulmoner

Hidung : tidak ada luka maupun exsudat

Pulmo : terdengar vesicular dan tidak ada perubahan

Jantung : auskultasi daerah cardia terdengar sistol diastole yang dapat dibedakan dan ritmis

Sistem Urogenital

Genitalia eksternal : tidak ada kelukaan

Sistem Extremitas

Tangan : tangan kanan dan kiri mengalami bengkak karena ikatan tali, tidak ditemukan adanya tulang patah

Kaki : kaki kiri dan kanan mengalami bengkak karena ikatan tali, tidak ditemukan tulang patah

Informasi dan wawancara harap menghubungi:


Direktur Pelaksana Centre for Orangutan Protection

Phone : 081349271904

email :

drh. Ade Fitria

Dokter hewan Centre for Orangutan Protection

Phone : 082152828404

e-mail :


COP veterinarian, Ade Fitria and her team conducted a thorough and detailed examination to the body of orangutan that was seriously injured because of physical abuse . Based on COP’s experience in evacuating orangutans captured by the workers of palm oil plantations since 2007 , almost 100 % of them suffered from injuries on their head and hands. The orangutan seems to have been beaten on the head and all over his body. Its hands and feet are swollen because of being tied. Its teeth fell out and its left eye is blind . That’s why we built a team that is able to react quickly in responding the incoming reports . We call this team APE CRUSADER . Thanks to Orangutan Outreach, which has funded the team’s operational costs.


Dokter hewan COP Ade Fitria dan timnya melakukan pemeriksaan menyeluruh dan rinci pada tubuh orangutan yang terluka parah karena siksaan fisik. Berdasarkan pengalaman COP mengevakuasi ORANGUTAN yang tertangkap para pekerja sawit sejak 2007, hampir 100% mengalami luka di kepala dan tangan. ORANGUTAN ini menunjukkan tanda – tanda telah dipukuli di kepala dan sekujur tubuhnya. Tangan dan kakinya bengkak karena diikat. Giginya rontok dan mata sebelah kiri buta. Itulah sebabnya kami membentuk tim yang mampu bergerak cepat merespon laporan yang masuk. Kami menyebut tim ini APE CRUSADER. Terima kasih pada ORANGUTAN OUTREACH yang telah mendanai biaya operasional tim ini.

#‎forestwars #‎conflictpalmoil #‎latepost #‎apecrusader


Orangutan is a protected wildlife species which is protected by law in Indonesia. Thus, any crime against orangutan is illegal.The perpetrators should be punished, including the palm oil companies. COP makes a huge effort to help the Indonesian Government in assuring the perpetrators to be punished in accordance with the law.

COP appreciates what the palm oil companies, government, and NGOs have done for sustainable palm oil business and keep monitoring the implementation so as not to harm the orangutans.


Orangutan adalah spesies satwa liar yang dilindungi hukum di Indonesia. Dengan demikian, setiap kejahatan terhadap orangutan adalah tindakan melawan hukum. Para pelaku kejahatan terhadap orangutan harus dihukum, termasuk perusahaan – perusahaan kelapa sawit. COP bekerja membantu Pemerintah Repubik Indonesia untuk memastikan para pelaku kejahatan tersebut mendapatkan hukuman sesuai dengan Undang – Undang.

COP mengapresiasi upaya para pelaku bisnis kelapa sawit, pemerintah dan organisasi – organisasi kemasyarakatan untuk kelapa sawit yang berkelanjutan dan memantau implementasinya agar tidak merugikan orangutan.


Fires are always going to occur, whether deliberate or not, and they can also be caused by El Nino effects. We have every reason to prepare ourselves and be on full alert. The orangutan rescue centre that we run stands upon coal deposits a mere few metres below the surface. This forest region is also divided by the trans-Kalimantan road, where careless road users can just throw out their still-lit cigarette butts, starting fires in the dry grass and leaves.

With the resources that we have, we have created a system to prevent the orangutans in our care from suffering during these fires. We have bought several new water pumps, connected taps at a number of locations and prepared hoses at each site. Through radio and internet, we have been monitoring the movement of fires and hot spots. Fire patrols are in place and firebreaks have been created.

That grave day finally arrived – fire ripped along the trans-Kalimantan road that passes through our centre. Little more could be done than to defend ourselves so that the fire did not spread to our location. The situation late that night felt like hell. Fire danced and licked at the sky, as though giving us a warning – we are nothing in this great big universe.

We prayed with everything that we had. We called to all the spirits and ghosts that dwell in the forests. It seems that somebody was listening. The wind changed direction and slowly died down, though the fires that week had destroyed at least 800 hectares of the rich and biodiverse Labanan Research Forest. The good news is, we were safe, the orangutans were safe, and all of our supporting facilities were also unharmed.

All the same, we couldn’t sit by and watch the fires burning through other areas. Almost the entire island of Kalimantan was burning, the fires depleting the forests and threatening the wildlife. We had to set priorities for our teams. We chose the Tanjung Puting National Park in Central Kalimantan, and the Wain River Protected Forest. Tanjung Puting National Park is a home for 6000 orangutans, and our associates there – the Friends of the National Park Foundation (FNPF) and Orangutan Foundation International (OFI), were putting their lives on the line to extinguish the fires. The first hurdle for us was distance. The APE Crusader team drove for 3 days non-stop from Berau to Pangkalan Bun. The APE Warrior team flew to Balikpapan in Kalimantan, the only city with an airport still open, despite the thick smoke obstructing pilots’ vision. From Balikpapan, the team drove across South Kalimantan, headed for Central Kalimantan.

We began working at Beguruh Camp, where FNPF has been restoring the region since 2003. The trees that had been planted there were wiped out in a fire in 2006, but FNPF did not give up. With the help of the local community, they again replanted the area, to only be burned down again this time. But they have a good reason not to give up. As well as being a vital habitat for orangutans, Tanjung Puting National Park also gives life to the local community through the ecotourism sector. Sixteen thousand tourists visit the area each year to see the orangutans. Orangutans need forest, so they must ensure that the forest remains.

Our determination to save the forest and the orangutans from fire has truly been tested. While we were fighting to extinguish the fires, the house of one of our team members, Paulinus, was burnt to the ground. The forest fire crept its way into the village and engulfed a number of houses. Sadly, Paulinus’ grandfather lost his life in this tragedy. But will we give up? No!

We flew out a drone to monitor the situation and record the damage. We found that there are still a number of fire hotspots and smoke billowing. Hopefully they will soon die out, because the rain has begun to fall. Our estimate is that at least 91,000 hectares of the Tanjung Puting National Park region has been burnt down, 7,000 hectares of which are forest areas. This equates to the combined total of the destruction caused by the fires of both 1997 and 2006. The biggest task is yet to come – replanting. COP has decided to carry out an investigation. Somebody must be held accountable, particularly since we received a report from a water bomber pilot, that he witnessed 3 people fleeing from a place where they should not have been. It is suspected that these people were paid by the palm oil industry.  In that region, 500 hectares of land are held and defended by the local community, who refuse to sell to the palm oil companies. If the land has all been burnt down like this, what is left to defend?

Meanwhile, other teams moved out to Wain River Protected Forest, an area of vital habitat to orangutans and sunbears only 15 kilometres from Balikpapan, East Kalimantan.  Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation have released 80 orangutans in this area. For this reason, we decided to help out here. Wain River is managed by the Protected Forest Management Body, a technical implementation unit from the Balikpapan city government. Compared to other regions, perhaps the handling of issues in this area is better. The local government assigned 150 soldiers to extinguish the fires. We endeavoured to prevent the spread of fires into this area. Firebreaks were created to isolate the fires and prevent spreading. A team was put on patrol in order to ensure no fires were able to creep in, and to put out the remaining fires that could potentially reignite. We stayed at Jamaludin camp, approximately 4 hours on foot from the forest entrance.

The rain has now fallen, put out the fires, and washed away the community’s anger and the evidence of crimes that may have been committed here by forest felons. There is one big question that is always asked of us by the media and journalists: How many orangutans have become victims of the forest fires? We don’t know. What is certain is, at the time that you are reading this, our rescue centre has gained two new residents. One more has just arrived at the Forest Ministry facility in Tenggarong, East Kalimantan. As usual, we have little information of their backgrounds. If only orangutans could speak a human language, they would surely have much to tell us.

We express our thanks to The Orangutan Project, Monkey Business, International Fund for Animal Welfare, The Forest Trust and Indonesia Orangutan Forum, who have all supported us with funds and equipment for this operation.




Kebakaran pasti akan terjadi, baik disengaja atau tidak. Bisa juga karena  gejala alam El Nino. Kami memiliki semua alasan untuk mempersiapkan diri dan bersiaga penuh. Pusat Penyelamatan Orangutan yang kami jalankan berdiri di atas deposit batubara, hanya beberapa meter saja dalamnya. Jalan trans Kalimantan, juga membelah kawasan hutan itu. Para sopir yang ceroboh bisa saja membuang puntung rokoknya yang masih menyala dan membakar serasah daun serta rerumputan kering.

Dengan sumber daya seadanya, kami menciptakan system untuk mencegah agar orangutan yang berada dalam perawatan kami tidak terpanggang dalam panggang. Kami membeli beberapa mesin pompa air baru, membuat dan menghubungkan  titik – titik kran dan menyiapkan selang di lokasi. Dari radio kami memantau pergerakan api, dari internet kami memantau trend hot spot. Patroli api dijalankan. Sekat api juga dibuat.

Hari besar itu akhirnya terjadi. Api membakar sepanjang jalan trans Kalimantan yang melewati pusat kami. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain mempertahankan diri agar api tidak merambat ke lokasi kami. Malam – malam itu situasinya seperti neraka. Api menari dan menjilat langit, terlihat memberikan peringatan kepada kami: bahwa kami bukanlah apa – apa di alam raya ini.

Kami berdoa dengan semua doa yang kami ingat. Kami memanggil semua arwah binatang dan hantu yang mendiami hutan. Nampaknya, ada yang mendengarnya. Angin berubah arah dan menjauh, pelan – pelan meredup dan mati. Kebakaran minggu itu telah menghancurkan setidaknya 800 hektar hutan penelitian Labanan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Berita baiknya, kami selamat, orangutan selamat dan seluruh fasilitas pendukung juga selamat.

Namun demikian kami tidak bisa berdiam diri melihat kebakaran di tempat lain. Hampir seluruh Kalimantan sedang terbakar. Api menghabiskan hutan – hutan dan mengancam satwa liar. Kami harus menentukan prioritas untuk menerjunkan tim. Kami memilih Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dan Hutan Lindung Sungai Wain. Taman Nasional Tanjung adalah rumah bagi 6000 orangutan dan sekutu kami di sana, yakni FNPF dan OFI sedang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan api. Rintangan pertama yang menghadang adalah jarak. Tim APE Crusader harus mengemudikan mobilnya dari Berau ke Pangkalan Bun. Jaraknya 3 hari non stop mengemudi. Tim APE Warrior harus terbang dulu ke Balikpapan di Kalimantan, satu – satunya kota yang bandaranya tidak ditutup karena asap benar – benar sudah menghalangi pandangan. Dari Balikpapan, tim mengemudi melintasi Kalimantan Selatan dan lalu menuju Kalimantan Tengah.

Kami mulai bekerja di Camp Beguruh, dimana FNPF merestorasi kawasan ini sejak tahun 2003. Pohon – pohon yang pernah ditanami, pernah ludes terbakar pada tahun 2006. Mereka tidak putus asa. Dengan bantuan masyarakat setempat mereka kembali menanami kawasan itu. Kali ini terbakar lagi. Mereka punya alasan kuat kenapa tidak boleh menyerah. Selain menjadi habitat penting bagi orangutan, Taman Nasional Tanjung Puting juga  memberikan penghidupan bagi masyarakat setempat dari sektor ekowisata. Setidaknya, 16.000 wisatawan datang berkunjung setiap tahunnya: untuk melihat orangutan. Orangutan butuh hutan dan mereka harus memastikan bahwa hutan itu tetap ada.

Semangat kami untuk menyelamatkan hutan dan orangutan dari kobaran api, kali ini benar – benar diuji. Di saat kami sedang berjuang memadamkan api, rumah salah satu anggota tim kami, Paulinus, terbakar habis. Api kebakaran hutan menjalar ke kampungnya dan melalap beberapa rumah. Kakeknya tewas dalam tragedi itu. Menyerah? Tidak!

Kami menerbangkan drone, memantau situasi menginventarisasi kerusakan. Kami menemukan masih ada beberapa titik api dan asap yang mengepul. Semoga lekas padam, karena hujan mulai turun. Perkiraan kami, setidaknya 91.000 hektar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting telah terbakar, 7.000 hektar diantaranya adalah kawasan berhutan. In setara dengan kombinasi 2 kebakaran yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2006. Tugas berat lainnya sudah menunggu: menanaminya kembali. COP memutuskan untuk melakukan investigasi. Harus ada yang  bertanggung jawab, terutama setelah kami mendapatkan laporan dari pilot helikopter pengebom air, bahwa dia melihat 3 orang berlarian di tempat yang tIdak semestinya. Diduga, mereka adalah orang – orang bayaran perusahaan perkebunan kelapa sawit. Di kawasan itu, terdapat hutan seluas 500 hektar yang sedang dipertahankan oleh masyarakat setempat. Mereka menolak untuk menjualnya ke perusahaan kelapa sawit. Jika sudah terbakar habis seperti ini, apa lagi yang harus dipertahankan?

Sementara itu, tim lainnya bergerak ke Hutan LIndung Sungai Wain, habitat penting bagi orangutan dan beruang. Jaraknya hanya 15 km dari kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Yayasan BOS melepasliarkan 80 orangutan di sini. Karena itulah kami memutuskan untuk membantu di sini.  Sungai Wain dikelola oleh Badan Pengelola Hutan Lindung, sebuah Unit Pelaksana Teknis dari pemerintah kota Balikpapan. Dibandingkan kawasan lain, mungkin penanganan di sini lebih baik. Pemerintah kota setempat menerjunkan 150 orang tentara untuk memadamkan api. Kami memilih untuk mencegah meluasnya api ke dalam kawasan. Sekat api dibuat untuk mengisolasi apai agar tidak merambat. Tim berpatroli untuk memastikan tidak ada api yang merambat dan mematikan sisa api yang mungkin bisa berkobar lagi. Kami tinggal di camp Jamaludin, kira – kira 4 jam berjalan kaki dari pintu masuk kawasan.

Hujan kini telah turun. Api kebakaran padam, membasuh semua amarah masyarakat dan bukti – bukti kejahatan yang mungkin pernah dilakukan para kriminal kehutanan. Ada 1 pertanyaan besar yang selalu ditanyakan kepada kami oleh para jurnalis: berapakah orangutan yang menjadi korban dari kebakaran hutan? Kami tidak tahu. Yang pasti, saat anda membaca ini, Pusat Penyelamatan kami sudah terisi 2 penghuni baru. Ada 1 lagi yang baru datang di fasilitas milik Kemenhut di Tenggarong, Kalimantan Timur. Seperti biasa, tidak banyak informasi mengenai latar belakang mereka. Anda orangutan bisa bahasa manusia, tentu dia akan bercerita banyak.

Kami mengucapkan terima kasih kepada The Orangutan Project, Monkey Business, International Fund for Animal Welfare, The Forest Trust dan Forum Orangutan Indonesia yang telah mendukung kami dana dan peralatan untuk operasi ini.


Hingga akhir bulan Oktober 2015, jumlah titik panas yang terdeteksi di atas peta Taman Nasional Tanjung Puting adalah 2.366. Luasan kawasan yang terbakar mencapai 91.000 hektar, 7000 diantara merupakan kawasan berhutan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Kerusakan ini merupakan yang terbesar yang pernah ada, setara dengan kombinasi kebakaran tahun 1997 dan 2006. Titik api diperkirakan berasal dari luar kawasan yang berbatasan dengan Taman Nasional. Sudah seharusnya Kementerian Kehutanan melakukan investigasi mendalam atas kasus ini.

Diperkirakan, setidaknya 6000 orangutan mendiami kawasan konservasi seluas 400.000 hektar ini. Menyempitnya habitat sebagai dampak langsung kebakaran telah menjadikan kompetisi untuk ruang dan makanan menjadi semakin berat. Diperkirakan, kedepannya akan semakin banyak orangutan yang keluar dari kawasan dan mencari makan di areal masyarakat, terutama orangutan jantan yang tidak dominan. Konflik dengan manusia menjadi tak terhindarkan. Tim – tim rescue orangutan seperti dari Orangutan Foundation International (OFI) dan Centre for Orangutan Protection (COP) dipastikan akan bekerja lebih keras agar korban orangutan dapat dicegah. Orangutan yang terluka harus dirawat agar bisa bertahan hidup. Pusat Penyelamatan terdekat, yang dikelola oleh Orangutan Foundation di Pasir Panjang, saat ini dihuni oleh 330 orangutan.

Upaya instan untuk menyelamatkan orangutan yang berkonflik adalah dengan translokasi, yakni memindahkan mereka dari kawasan konflik ke kawasan berhutan yang jauh dari pemukiman masyarakat. Upaya ini sangat sulit dan berbiaya tinggi.

Kebakaran ini berdampak sangat buruk pada perekonomian setempat yang bergantung pada industri ekowisata. Sepanjang tahun 2014, jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 16.689 orang, yangmana 10. 986 diantaranya adalah wisatawan asing. Jumlah kunjungan wisatawan asing selama kebakaran terjadi turun drastis hingga ke titik nol. Bandara Pangkalan Bun seringkali ditutup karena kabut asap yang ditimbulkan. Akibatnya, perjalanan – perjalanan wisata yang sudah dipesan oleh wisatawan harus dibatalkan. Kerugian yang diderita oleh para pelaku ekowisata di Tanjung Puting diperkirakan sejumlah 6 milyar rupiah selama 2 bulan terakhir.

Upaya pemadaman telah dilakukan dengan sangat keras oleh Balai Taman Nasional dengan dukungan dari Friends of National Park Foundation (FNPF), Orangutan Foundation International (OFI) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan seperti Sekonyer dan Teluk Pulai juga membantu upaya pemadaman. Centre for Orangutan Protection (COP) memberikan dukungan teknologi untuk menginventarisir kerusakan.

Komitmen FNPF sejak tahun 2003 untuk merestorasi kawasan di dan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting tidak akan berubah, meskipun ancaman kebakaran terus terjadi. COP berkomitmen untuk melakukan kerja – kerja advokasi agar orangutan di TNTP terlindungi dari ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kegiatan ekonomi yang kontraproduktif dengan misi konservasi dan ekonomi kerakyatan. OFI tetap berkomitmen mendukung Balai TNTP untuk melindungi orangutan kawasan konservasi TNTP.

Untuk wawancara dan informasi lebih mendalam, silakan berkomunikasi dengan:

Basuki Budi Santoso, Manager FNPF Kalimantan.

Telepon : 08125490673

Email :

Fajar Dewanto, Manager Orangutan Foundation International

Telepon :

Email : 081349749208

Hardi Baktiantoro, Ketua Centre for Orangutan Protection

Telepon : 08121154911

Email :


Asia for Animals conference starting October 6th-10th in Kuching on the island of Borneo, with a packed programme of presentations covering a huge range of issues. More than 400 delegates from 26 countries are attend that event. But so many of delegates can’t come because to much hazz and some of airport just closedown. Some of speaker just cancel to come in last day because the airport close specialy has plan transit at Pontianak west Borneo, Indonesia.
To much scedule change in firstday of conference.

This Conference talk about animal wildlife trade and some of them talk about animal farm, animal right and animal welfare in many place of this world. There have 3 speaker talk about orangutan, 2 from International Animal Rescue and 1 from Centre for Orangutan Protection.

Paulinus Kristianto from the Centre for Orangutan Protection in East Kalimantan on Indonesian Borneo called for an end to the ravages being caused to orangutan habitat by palm oil companies. Paulinus say, enough is enough no more palm oil, RSPO is biggers lie there is no sustainable in palm oil. Forest conservation by palm oil and recomendation by RSPO in reality is nothing. He say forest conservation recomendation by rspo just make legal palm oil company can distroy more and more high conservation forest in borneo.

Juanisa Andiani from International Animal Rescue Indonesia spoke about habitat destruction and told delegates that orangutans were being pushed onto rubber and oil palm plantations because they are desperate for fruit and water. “There used to be a lot of forest around the rubber plantations in Ketapang, but the trees have burnt down and suddenly the orangutans have to come and eat the rubber trees,” she said.

Adi Irawan, also from International Animal Rescue Indonesia, said there had been a 50 percent decline in orangutan populations in Indonesia over the past 60 years and most of the animals were now living outside protected areas. There are more than 1,000 orangutans in rescue and rehabilitation centres in Indonesia, Adi says. Hundreds of the animals are displaced or killed every years

This conference close at October 9th night and October 10th all delegate  have trip to some of rescue centre at Kuching.

Page 10 of 11« First...7891011