SELAMATKAN ORANGUTAN WANATIRTA BONTANG

Masih ingatkah kasus tiga orangutan yang terbakar di kelurahan Belimbing, kota Bontang tahun 2016 yang lalu? Pengadilan Negeri Bontang menjatuhkan vonis kepada Andi Sahar, penjara 1 tahun 6 bulan, subsidir 1 bulan dan denda Rp 50.000.000,00 karena sengaja membakar lahan kosong untuk mengusir orangutan.

Lokasi kematian tiga orangutan tersebut berdekatan dengan kawasan hutan Wanatirta. Di kawasan tersebut, pada akhir November 2018, tim APE Crusader menemukan 9 sarang orangutan kelas C. Kelas sarang tersebut diidentifikasi sebagai sarang tua dengan daun yang sudah kering dan berwarna coklat tetapi sarang masih kokoh dan berbentuk.

Tak jauh dari kawasan hutan Wanatirta, sekitar 4 km ada Taman Nasional Kutai yang memang merupakan habitat orangutan. COP menghimbau agar Pemerintah Kota Bontang ikut memperhatikan pelestarian orangutan yang merupakan satwa dengan kondisi kritis terancam punah atau critically endangered (CR). Tak hanya Pemkot Bontang, tetapi semua pihak yang berada di sekitar Wanatirta, Orangutan adalah kebanggaan Indonesia.

ORANGUTANS THREATENED BY SML

Centre for Orangutan Protection (COP) suspects that the plantation business permit of SML in Batang Kawa sub-district, Lamandau district, Central Kalimantan is in the area of orangutan habitat. This is supported by the findings of orangutan nest right in the middle of the permit area for land clearing plan. It’s even strengthened by the survey conducted by Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) in 2015, in the report entitled “Population Survey and Conservation Management of Orangutans in the Palm Oil Plantation of PT. SML” stated that there were 28 nests with 6 lines of transects along 8500 meters that the orangutan population is estimated at 0,23 individuals/km2 in the area of PT.SML

COP team found piles of logging and a road devide the forest and also a forest area that had been evicted for oil palm plantation plan belong to SML. In the area of the planned land clearing block, there was at least 4 nests found that was located only 200-500 meters away.

COP suspects that at least 10.000 hectares of forested area that had been cleared for oil palm plantation. COP hopes that the remaining areas of orangutan habitat should be rescued immediately by stopping all the land clearing process for oil palm plantation. Ramadhani, the manager of COP Habitat Protection said, “ We have to push SML to stop all activities that endangered the orangutans, also request the Ministry of Environment and Forestry as soon as possible to re-verify the permits of SML plantation area that is suspected in the orangutan habitat area.”

For interview and further information please contact:
Ramadhani
Manager of COP Orangutan and Habitat Protection unit
HP : +62 813 4927 1904
Email : info@orangutanprotection.com

ORANGUTAN TERANCAM SML
Centre for Orangutan Protection (COP) menduga bahwa ijin usaha perkebunan milik SML di kecamatan Batang Kawa, kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah berada di kawasan yang merupakan habitat orangutan. Hal ini diperkuat dengan temuan sarang yang berada tepat di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan. Hal ini semakin diperkuat dengan survei yang dilakukan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) tahun 2015, dalam laporannya yang berjudul “Survei Populasi dan Pengelolaan Konservasi Orangutan di areal Perkebunan Kelapa Sawit PT. SML”, menyataan bahwa terdapat 28 sarang dengan 6 jalur transek sepanjang 8.500 meter diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 di area PT. SML.

Tim COP menemukan tumpukan kayu tebangan dan jalan blok membelah hutan serta kawasan hutan yang sudah digusur untuk perencanaan perkebunan kelapa sawit milik SML. Di area jalan blok perencanaan pembukaan lahan yang dimaksud ditemukan setidaknya ada 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter.

COP menduga bahwa setidaknya ada kurang lebih 10.000 hektar kawasan berhutan yang telah dibuka menjadi perkebunan kelapa sawit. COP berharap kawasan tersisa yang merupakan habitat orangutan harus segera diselamatkan dengan menghentikan segala proses pembukaan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat COP menyatakan, “Kita harus mendorong SML untuk menghentikan aktifitas yang membahayakan orangutan ini, serta memohon Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesegera mungkin melakukan verifikasi ulang ijin perkebunan SML yang diduga berada di kawasan habitat orangutan.”.

Untuk wawancara dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Ramadhani
Manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

DOZENS OF ORANGUTANS LOST THEIR HABITAT IN CENTRAL KALIMANTAN

The APE Crusader team found another threatened orangutan habitat in Lamandau, Central Kalimantan. Our finding is strengthened by the discovery of orangutan nests in the middle of an area that has clearing permission for oil palm plantations. From the survey of orangutan organizations in 2015, it was estimated that there were 0.23 individuals/km2 along 8,500 meters in the plantation area.

Among the pile of logs and a road that cut through the forested area, the team also found 4 nests that were only 200-500 meters away from the road. “This area is an orangutan habitat! The brutal process of clearing forests into oil palm plantations must be stopped,” said Paulinus Kristanto, Habitat Campaigner of COP.

The Act of Indonesia Republic No. 5 of 1990 concerning Conservation of Natural Resources and Ecosystems in article 21 paragraph 2e reads, “taking, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animals” will be punished with a maximum jail sentence of 5 years and a maximum fine of IDR 100 million. (IND)

PULUHAN ORANGUTAN TERANCAM KEHILANGAN HABITAT DI KALTENG
Tim APE Crusader menemukan satu lagi habitat orangutan yang terancam di kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Habitat orangutan diperkuat dengan penemuan sarang yang berada di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil survei organisasi orangutan tahun 2015 diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 sepanjang 8.500 meter di areal perkebunan tersebut.

Di antara tumpukan kayu tebangan dan jalan yang membelah kawasan berhutan, tim juga menemukan 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter. “Kawasan ini merupakan habitat orangutan! Proses pembukaan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit harus dihentikan.”, ujar Paulinus Kristanto, juru kampanye Habitat COP.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam pasal 21 ayat (2) e berbunyi, “mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.”, dengan sanksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dengan paling banyak Rp 100.000.0000,00. (NUS)

THERE ARE 2 BULLETS IN THE BODY OF ORANGUTAN BABY

Monday, 15 October 2018 BKSDA Pos Sampit and the APE Crusader team evacuated a female orangutan baby in Santiung Village, Mentaya Hulu, Kotawaringin Timur District, Central Kalimantan. The condition of the baby was quite wild and nearly fool the team. The baby has wound and it became an important note for further examination when translocated to BKSDA SKW II Pangkalan Bun.

“Hopefully it’s not bullet wounds”, Paulinus Kristanto prayed along the way after evacuating the baby orangutan named Sutan.

This wound is a concern during a medical examination at the OFI clinic in Central Kalimantan. Baby Sutan was x-rayed and the result found two air rifle bullets lodged in his tiny body. One bullet on the left side of the head was removed.

Baby Sutan is found in a palm oil plantation in Kotawaringin Timur, Central Kalimantan. Orangutan babies aged 1-2 years are very dependent on their mothers, but Sutan was found alone with 2 bullets in his body. Is it true that the conversion of forests to palm oil plantations has ignored the high conservation value area? (IND)

ADA 2 PELURU DI TUBUH BAYI SUTAN
Senin, 15 Oktober 2018 KSDA Pos Sampit dan tim APE Crusader mengevakuasi bayi orangutan betina di desa Santiung, kecamatan Mentaya Hulu, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kondisi bayi yang cukup liar sempat mengecohkan tim. Berkat ketelitian tim, kondisi fisik dengan luka menjadi catatan untuk pemeriksaan lanjutan saat diserahkan ke KSDA SKW II Pangkalan Bun.

Semoga bukan luka karena peluru, begitu doa Paulinus Kristanto sepanjang jalan usai mengevakuasi bayi orangutan bernama Sutan ini.

Catatan ini menjadi perhatian saat pemeriksaan medis di klinik OFI, Kalteng. Bayi Sutan pun di rontgen dan terlihat peluru senapan angin bersarang di tubuh mungilnya. Satu peluru di kepala bagian samping kiri berhasil di keluarkan.

Bayi Sutan ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bayi orangutan berusia 1-2 tahun sangat tergantung dengan induknya. Sementara Sutan ditemukan sendiri dengan 2 peluru yang bersarang di tubuhnya. Benarkah alih fungsi hutan untuk perkebunan kelapa sawit telah mengabaikan nilai konservasi tinggi kawasan tersebut?

BAYI SUTAN KORBAN ALIH FUNGSI HUTAN?

Bayi orangutan ini terlihat stres. Berada di kotak kayu dengan lubang cahaya yang sedikit seperti menambah ketakutannya. Semakin bertambah saat pemeliharanya memandikannya di tepi sungai belakang rumahnya. Luka di kepalanya tampak mengering.

Tim APE Crusader berusaha mendekati bayi orangutan ini. Namun dengan cepat dia pun berusaha menjauh. “Jika baru dua bulan ditemukan, pasti dia masih cukup liar.”, gumam Paulinus Kristanto. Tak lama kemudian, Paulinus membawa setumpuk daun-daun. Dan benar saja, dengan sigap bayi orangutan ini menumpuk-numpuk dedaunan yang ada seperti membuat sarang.

Penemuan bayi orangutan di perkebunan bukanlah hal yang baru. Bagaimana mungkin bayi orangutan berada di perkebunan tanpa induknya. Sementara bayi orangutan dengan induknya mememiliki hubungan yang sangat dekat hingga usia anak 5-8 tahun.

Pembukaan perkebunan kelapa sawit di kecamatan Mentaya Hulu, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah bukan hitungan belasan bahkan ratusan ha lagi. Tapi puluhan ribu ha yang juga menghabiskan hutan di luar hutan konservasi. Bagaimana satwa yang hidup di dalamnya? Sudah pasti harus mencari tempat lagi atau mati tak mampu bertahan saat alih fungsi terjadi. Masih adakah hutan di Kotim?

APE CRUSADER GOES TO CENTRAL KALIMANTAN TO SAVE BABY ORANGUTAN

From east to West Kalimantan, APE Crusader finally arrived in East Kotawaringin regency, Central Kalimantan. With KSDA Region II Post Sampit section, the baby orangutan finally handed over to the country after 2 months of being cared illegally.

This female baby orangutan didn’t look healthy. There was groans several times, as if she was dealing with pain. The team saw a wound on her head that had just dry out. According to Pak Ali who found the orangutan, he found her on his farm when he was about to fishing, then he took her to be kept as pet.

How the baby orangutan was found always when the baby was alone in a farm of the locals. The local who found the baby felt pity and took it home to be cared. In fact, they didn’t even know how to take care of baby orangutan. Just like this baby orangutan called Sutan. He was put in a wooden box of 50 cm x 30 cm x 30 cm. The box condition was dirty like it had never been cleaned, there was also rotten banana leftover inside the box. The box was located behind the hut not far from the bathroom on the riverside.

If you see or heard a baby orangutan found in a farm or being kept as pet by someone, please contact Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 or contact through COP’s email on info@orangutanprotection.com or instagram @orangutan_COP.(SAR)

APE CRUSADER MENUJU KALTENG UNTUK SELAMATKAN BAYI ORANGUTAN
Dari timur Kalimantan menuju barat, APE Crusader akhirnya tiba di kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bersama KSDA seksi wilayah II Pos Sampit, bayi orangutan akhirnya diserahkan kembali ke negara setelah dua bulan dipelihara secara ilegal.

Bayi orangutan berjenis kelamin betina ini terlihat tidak sehat. Beberapa kali terdengar rintihannya, seperti menahan sakit. Tim melihat ada luka di kepalanya dan sudah mulai mengering. Menurut pak Ali yang menemukan bayi orangutan tersebut, dia menemukannya di kebun sewaktu memancing, lalu membawanya untuk dipelihara.

Bagaimana bayi orangutan ditemukan selalu saja saat bayi sendiri di kebun atau ladang warga. Warga yang menemukan merasa kasihan dan membawanya untuk dipelihara. Pada kenyataannya, bagaimana cara merawat bayi orangutan pun tidak tahu. Seperti bayi orangutan bernama Sutan ini. Dia dimasukkan ke dalam kotak kayu berukuran 50cm x 30 cm x 30 cm. Kondisi kandang kotor karena tidak pernah dibersihkan, terdapat sisa pisang mentah bahkan busuk di dalamnya. Kandang pun terletak di belakang pondok tak jauh dari kamar mandi di sisi sungai.

Jika kamu melihat atau mendengar ada bayi orangutan yang ditemukan di ladang atau dipelihara seseorang, hubungi Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 atau informasikan melalui email COP info@orangutanprotection.com atau Instagram @orangutan_COP

LOOKING FORWARD TO THE EFFICACY OF PALM OIL PLANTATION MORATORIUM IN THE NEW PRESIDENTIAL INSTRUCTION

September 19, 2018, the President of the Republic of Indonesia has signed Presidential Instruction (INPRES) Number 8/2018 about The Postponement and Evaluation of Licensing and Productivity Improvement of Palm Oil Plantations. The government emphasized this temporary suspension for three years period.

The moratorium on palm oil plantation aims to organize, foster and regulate permits in forest areas, rejuvenate palm oil to be more productive, also develop the quality and quantity in the downstream. For this reason, it is necessary for the government to improve their surveillance in collecting and verifying data of the Location Permit and Plantation Business Permit or Plantation Business Registration Certificate. The government also has to emphasize the transparency process so that public participation in this INPRES is fair for the people, the environment and the restoration of its ecosystem.

The Center for Orangutan Protection welcomed positively the Presidential Instruction on the Palm Oil Plantation Moratorium. “Moratorium on palm oil plantation licenses for the next three years must be a time to evaluate the activities of palm oil plantations in Indonesia, ranging from licensing, handling social and wildlife conflicts that are already underway. But it must also be noted that this INPRES is only intended for forest areas, then the status outside the forest area is still questioned,” said Ramadhani, COP’s Orangutan and Habitat Protection manager.

Three years is a very short time for a moratorium. Let’s support the government to not just evaluate, but also encourage the law enforcement for the use of forest areas for palm oil plantations. (IND)

MENANTIKAN TAJAMNYA INPRES MORATORIUM PERKEBUNAN SAWIT
19 September 2018, Presiden RI telah menandatangani Inpres Nomor 8/2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit. Pemerintah menengaskan penghentian sementara ini selama masa tiga tahun.

Moratorium Perkebunan Sawit bertujuan untuk menata, membina serta menertibkan perizinan di kawasan hutan, peremajaan kelapa sawit untuk lebih produktif dan mengembangkan hilirisasi. Untuk itu diperlukan perbaikan pemerintah pada pengumpulan dan verifikasi atas data dan peta Izin Lokasi dan Izin Usaha Perkebunan atau Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk lebih menekankan proses keterbukaan sehingga partisipasi publik pada Inpres ini dipandang hal yang berkeadilan bagi rakyat dan lingkungan hidup serta pemulihan ekosistemnya.

Centre for Orangutan Protection menyambut positif Inpres Moratorium Perkebunan Sawit ini. “Moratorium izin perkebunan kelapa sawit untuk tiga tahun ke depan harus menjadi saat untuk mengevaluasi kegiatan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, mulai dari perizinan, penanganan konflik sosial dan satwa liar hingga perkebunan yang sudah berjalan. Namun juga harus diperhatikan bahwa Inpres ini diperuntukkan untuk kawasan hutan, lalu bagaimana yang statusnya di luar kawasan hutan yang mana persoalannya sama.”, ujar Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Waktu tiga tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah moratorium. Mari kita dukung pemerintah untuk tak sekedar evaluasi, tapi juga penegakan hukum atas penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

COP REPORTED THE CRIME TO LAW ENFORCER

One day later, the APE Crusader team who had just arrived from the field were already in the office of the Ministry of Environment and Forestry (MoEF) in Jakarta. On September 6, the team came to the MoEF with a complete report presenting the findings in the field. Unfortunately, the director of the Directorate General of Law Enforcer who should be on the 4th floor was not in place.

“Then, we moved to the office of the Peat Restoration Agency. Indonesia’s peat is under a serious threat.”, said Paulinus Kristianto, disappointed, because he could not meet the person in charge. “We hope that our reports of the alleged crime of land clearing in orangutan habitat and also on peatland can be immediately responded. It’s like counting down time. The faster it is, the more you can save. “Center for Orangutan Protection fully supports the MoEF to conduct studies and inspections in Seruyan District, Central Kalimantan.”, said Ramadhani, manager of the orangutan and habitat protection.

The death of an adult male orangutan on the canal of palm oil plantation with a body caught in a timber log is unusual. From the autopsy, there were 7 air rifle bullets and the orangutan’s right-hand thumb was missing. When the body was found, the team also saw two excavators that were land clearing the area. Around the location were also found several orangutan nests. “Come on, Law Enforcer, we are ready to support.” (IND)

COP MELAPOR ADA KEJAHATAN PADA GAKKUM
Berselang satu hari, tim APE Crusader yang baru saja tiba dari lapangan sudah berada di kantor Kementian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. Siang, 6 September, lengkap dengan laporan tertulisnya menyampaikan hasil temuan di lapangan. Sayang direktur Direktorat Jenderal Gakkum yang berada di lantai 4 tidak ada di tempat.

“Kami pun pindah ke kantor Badan Restorasi Gambut. Gambut Indonesia sedang terancam.”, ujar Paulinus Kristianto dengan kecewa, karena tidak dapat bertemu dengan orang yang bertanggung jawab. “Kami berharap laporan dugaan telah terjadi kejahatan pembukaan lahan di habitat orangutan yang juga berada di lahan gambut dapat segera ditanggapi. Ini seperti menghitung mundur waktu. Semakin cepat akan semakin banyak yang bisa diselamatkan. Centre for Orangutan Protection mendukung penuh Gakkum KLHK untuk melakukan kajian dan pemeriksaan di Seruyan, Kalimantan Tengah.”, tegas Ramadhani, manajer perlindungan Orangutan dan Habitatnya.

Kematian satu orangutan jantan dewasa di kanal konsesi perkebunan sawit dengan tubuh tersangkut pada batang kayu bukanlah hal yang biasa. Dari otopsi diketahui ada 7 peluru senapan angin dan jempol tangan kanan orangutan tersebut hilang. Pada saat ditemukan ada dua ekskavator yang sedang landclearing. Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa sarang orangutan. “Ayo Gakkum, kami siap membantu.”.

THE SUSPECT OF BAEN KILLER CAUGHT, COP APPRECIATE THE CENTRAL KALIMANTAN REGIONAL POLICE

Centre for Orangutan Protection (COP) appreciates the Central Kalimantan Regional Police (Polda Kalteng) for the death of orangutan case. Determination of the two suspects carried out by Polda Kalteng for the death of orangutan named Baen found at PT. WSSL II subsidiary of Best Agro, Hanau district, Seruyan, right after 40 days of the case were found. Two suspects were charged under the Emergency Law until the DNA test result released.

Air guns or air riffles weapon are as dangerous as other guns. which can kill lives. Because of that, the use of air guns can be charged under Emergency Law No 12 of 1951 concerning registration and granting of ownership for firearms. ” This will be a big step for the campaign of Air Guns/ Air Riffles Terror that has been published for the past seven years. We are looking forward for strict actions against all parties who do not have permits and misuse the weapons. ” , said Ramadhani, manager of COP Orangutan and Habitat Protection.

The death of Baen orangutan which located in palm oil plantations is inseparable from the forest conversion. ” The death of orangutan in PT WSSL in the early July 2018 is not the first to happen. In September 2015, four carcasses of orangutans found at PT WSSL II palm oil plantation. Is this only a coincidence?”, asked Ramadhani again.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email : info@orangutanprotection.com

TERSANGKA PEMBUNUH BAEN DITANGKAP, COP APRESIASI POLDA KALTENG
Centre for Orangutan Protection (COP) mengapresiasi Polda Kalteng atas kasus kematian orangutan. Penetapan dua tersangka yang dilakukan Polda Kalimatan Tengah atas kematian orangutan bernama Baen yang ditemukan di PT. WSSL II anak perusahaan dari Best Agro, kecamatan Hanau, Seruyan tepat setelah 40 hari penemuan kasus tersebut. Dua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Darurat hingga menunggu hasil DNA keluar.

Senjata jenis air gun atau senapan angin sama berbahaya dengan senjata api lainnya, yaitu dapat menghilangkan nyawa. Karena itu penyalahgunaan senapan angin dapat dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang pendaftaran dan pemberian izin kepemilikan senjata api. “Ini akan menjadi langkah besar untuk kampanye Teror Senapan Angin yang sejak tujuh tahun terakhir ini dipublikasikan. Tindakakan tegas terhadap semua pihak yang tidak memiliki izin dan menyalahgunakan senjata tersebut, sangat kami tunggu pelaksanaannya.”, kata Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Kematian orangutan Baen yang berada di lokasi perkebunan kelapa sawit tidak terlepas dari alih fungsi hutan. “Kematian orangutan di PT WSSL pada awal Juli 2018 bukanlah yang pertama terjadi. Pada September 2015, empat bangkai orangutan ditemukan di perkebunan kelapa sawit juga. Apakah ini sebuah kebetulan?”, tanya Ramadhani lagi.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat
HP : 081349271904
Email : info@orangutanprotection.com

30 DAYS OF BAEN ORANGUTAN CASE

The discovery of a rotten corpse of adult male orangutan called Baen on July 1, 2018 in the area of palm oil company, PT. WSSL II, Seruyan, Central Borneo, with an autopsy conducted by OFI states that the death of orangutan due to human violence factor. X-rays show that at least 7 (seven) pellets of air gun, plus open wounds by sharp object found on it hands.
 
The case was taken over by the Police and the Ministry of Environment and Forestry (KLHK), but there has been no confirmation of who will be responsible for the death until now. “We, Centre for Orangutan Protection, strongly support the efforts made by the Police and KLHK to completely investigate the case to a verdict, just like the case of decapitated orangutan found in Kalahien in early 2018. We hope that the success of Kalahien case can be repeated.”, said Ramadhani, COP Manager of Orangutan and Habitat Protection.
 
So far there is a similar pattern, which is quite apprehensive, in the finding of orangutan corpse cases, that is the autopsy findings of air gun pellets. Even though the use of air guns has been regulated in the Regulation of the Chief of National Police Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for Sports Interest. “It is very clear that the Chief of Police regulation emphasizes in article 4(3) that Air Guns are used only for shooting sports purposes and article 5(2) Air Guns are only used in match or training location. So the use of air guns in the community to shoot wildlife is certainly illegal.”
 
In COP’s own record in Central Borneo, the discovery of orangutan (live and dead) with air gun bullets is at least 15 cases with a total of 215 air gun bullets. This number is collected from several conservation agencies that handle orangutans in Central Borneo, and of course, many are unrecorded.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani
COP Manager of Orangutan and Habitat Protection
Phone : 081349271904
E-mail : info@orangutanprotection.com

30 HARI KASUS ORANGUTAN BAEN
Temuan mayat orangutan jantan dewasa bernama Baen yang sudah membusuk pada tanggal 1 Juli 2018 di perusahaan sawit PT. WSSL II, Seruyan, Kalimantan Tengah dengan hasil otopsi yang dilakukan oleh OFI menyatakan kematian orangutan karena adanya faktor kekerasan oleh manusia. Hasil rontgen memperlihatkan paling tidak ada 7 (tujuh) peluru senapan angin, disertai luka terbuka oleh benda tajam yang dominan posisinya berada di tangan.

Kasusnya pun diambil alih oleh Polri dan KLHK, namun hingga sekarang belum ada penetapan siapa yang akan bertanggung jawab atas kematian orangutan ini. “Kami dari Centre for Orangutan Protection sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh Kepolisian dan KLHK untuk bisa mengungkap kasus ini hingga tuntas sampai vonis pengadilan seperti kasus pembunuhan orangutan tanpa kepala di Kalahien awal tahun 2018. Kami berharap banyak kesuksesan pengungkapan kasus Kalahien itu bisa terulang lagi.”, Ramadhani, manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan COP.

Ada pola yang sama selama ini yang cukup memprihatinkan, yaitu kasus-kasus temuan mayat orangutan ketika dilakukan otopsi terdapat peluru senapan angin. Padahal tentang penggunaan senapan angin ini sudah tertuang dalam Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga. “Sangat jelas Peraturan Kapolri ini menekankan di pasal 4 (3) Senapan Angin digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target dan pasal 5 (2) Senapan Angin hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan. Jadi penggunaan senapan angin yang berada di masyarakat untuk menembak satwa liar tentunya ilegal.”.

Dalam catatan COP sendiri di Kalimantan Tengah temuan orangutan (dalam keadaan hidup dan mati) dengan peluru senapan angin setidaknya ada 15 kasus dengan total 215 peluru senapan angin. Ini angka yang terhimpun dari beberapa lembaga konservasi yang menangani orangutan di Kalimantan Tengah, tentunya masih banyak yang tidak terdata.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani
Manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan
HP : 081349271904
Email : info@orangutanprotection.com

Page 1 of 1012345...10...Last »