SANG-SANG FOR INDONESIA WILD ANIMALS

Working in the world of conservation in Indonesia is working in a small world. In fact, Indonesia’s conservation is very broad. However, those who really dive in it can be counted. The world of conservation is a world that requires physical and mental endurance.

His name is Pak Sang-sang. He is the most senior animal keeper at the Yogyakarta Wildlife Rescue Center (WRC). He worked since 2003 at this animal rescue center. Today I had a chance to meet and take a picture with him during the release of the crescent serpent-eagle and the crested goshawk in the WRC area. His eyes glistened as the rope of the habituation cage opened and the eagle flew free. Maybe he is not famous and does not have a big name, but I am the one who is most certain of his great dedication in the efforts to conserve wildlife. Far from the frenzy, he remains humble and remains on track to help animals. Stay healthy and strong Sir in taking care of your other “children”.

Come on, young Indonesians, be like Pak Sang-Sang. Let’s start from being Orangufriends, an orangutan support group. (NIK)

SANG-SANG UNTUK SATWA LIAR INDONESIA
Bekerja di dunia konservasi Indonesia adalah bekerja di dunia yang sempit. Padahal, konservasi Indonesia itu sangat luas. Namun, mereka yang benar-benar terjun di dalamnya bisa dihitung dengan jari. Dunia konservasi adalah dunia yang membutuhkan ketahanan fisik maupun mental.

Namanya pak Sang-sang, dia merupakan animal keeper yang paling senior di Wildlife Rescue Center (WRC) Yogyakarta. Beliau bekerja sejak tahun 2003 di pusat penyelamatan satwa ini. Hari ini saya sempat ketemu dan foto dengan beliau saat pelepasan satwa elang ular bido dan alap-alap jambul di area WRC. Matanya berkaca-kaca saat tali pintu kandang habituasi dibuka dan elang terbang lepas bebas. Mungkin dia tidak tenar dan tidak punya nama besar, tapi saya orang yang paling yakin dedikasi dia sangat besar dalam upaya konservesi satwa liar. Jauh dari hingar-bingar, dia tetap rendah hati dan tetap masih di jalur pilihannya membantu satwa. Sehat selalu pak, tetap gagah bertugas merawat ‘anak-anakmu’ yang lainnya.

Yuk anak muda Indonesia, jangan mau kalah dengan pak Sang-sang. Mari memulainya dari menjadi Orangufriends, kelompok pendukung orangutan. (NIK)

ORANGUTAN SANCTUARY FULL OF DURIAN TREES

Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary is a place for resting orangutans that cannot be released back into their habitat. Orangutans who have been in contact with humans for too long and lose their ability as wild orangutans also deserve a good life, live without bars. These orangutans can also try to live like wild orangutans but with limited roaming area.

Before these orangutans got the chance, the APE Guardian team explored and get data about the island. “The first time I set foot I found a red durian fell on the ground. It turned out that not only one, but there were eight pieces scattered on the ground and the team became busy opening the red durian, “said Widhi, COP volunteers who participated. This has made the survey process for fruit tree species on the island then slowed down.

The availability of fruit feed for orangutans on this island is quite abundant. Besides red durian, commonly called laung by local residents, we can find green prickly durians too. The team also found krutungan, a small green-skinned durian with the size of only two human fists.

“We hope that this orangutan island can be a home for those who cannot return to their habitat.”, said Reza Kurniawan, APE Guardian COP coordinator. “Hopefully this dream can be realized. We ask for help from all parties, orangutans are the pride of Indonesia.”. (EBO)

SANCTUARY ORANGUTAN PENUH POHON DURIAN
Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary adalah sebuah tempat peristirahatan orangutan yang tak bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Yaitu orangutan yang sudah terlalu lama bersentuhan dengan manusia dan kehilangan kemampuannya sebagai orangutan liar yang juga berhak untuk mendapatkan kehidupan yang baik, hidup tanpa jeruji besi. Orangutan-orangutan ini juga bisa mencoba hidup seperti orangutan liar dengan daya jelajah terbatas.

Sebelum orangutan-orangutan ini mendapatkan kesempatan itu, tim APE Guardian menjajaki dan mendata pulau ini. “Pertama kali menapakkan kaki saja sudah menemukan buah durian merah yang terjatuh. Ternyata tak hanya satu, tapi ada delapan buah berserakan di tanah dan tim pun menjadi sibuk membuka durian merah tersebut.”, ujar Widhi, relawan COP yang ikut. Rencana survei spesies pohon buah di pulau pun tersendat.

Ketersediaan pakan buah bagi orangutan di pulau ini bisa dibilang cukup berlimpah. Selain durian merah atau biasa disebut warga setempat dengan laung, kita bisa menjumpai durian berduri hijau juga. Tim juga menemukan durian mungil berkulit dan berduri hijau yang besarnya hanya sebesar dua kepalan telapak tangan manusia dengan nama lokalnya krutungan.

“Kami berharap, pulau orangutan ini bisa menjadi rumah untuk mereka yang tak bisa kembali ke habitatnya.”, harap Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian COP. “Semoga mimpi ini bisa terwujud. Mohon bantuan semua pihak, orangutan adalah kebanggaan Indonesia.”. (Widhi_COPSchool8)

TWO CONFISCATED HAWKS BACK TO NATURE

One female crescent serpent-eagle (accipiter trivirgatus) which was confiscated by the East Java POLDA, assisted by the Center for Orangutan Protection and Animals Indonesia in July 2015, in Surabaya finally returned to nature. The perpetrator was sentenced to 7 months in prison and fined Rp 2,500,000.00 on October 21, 2015. Since 2017, the crescent serpent-eagle was rehabilitated by the Yogyakarta Nature Conservation Foundation (YKAY).

Based on the observations of the daily behavior and physical health conditions by animal keepers and veterinarians the crescent-serpent eagle with a male goshawk (spilornis cheela), a confiscated hawk by Kalibarang police that has been rehabilitated since 2011 are considered ready for release. Both of them underwent habituation for approximately 15 days and were installed rings and wing markers to facilitate the post-release monitoring process.

Both crescent-serpent eagle and goshawk are species protected by Law No. 5 of 1990 concerning Conservation of Biological Resources and Ecosystems. “Both are high-level predators that maintain ecosystem balance. Don’t keep eagles for personal pleasure. It violates the law and destroys nature! “Said Daniek Hendarto, COP’s action manager. (EBO)

DUA ELANG SITAAN NEGARA KEMBALI KE ALAM
Satu Elang Alap Jambul (Accipiter trivirgatus) betina yang merupakaan sitaan POLDA Jawa Timur dibantu Centre for Orangutan Protection dan Animals Indonesia di bulan Juli 2015 kota Surabaya akhirnya kembali ke alam. Pelaku dijatuhi vonis 7 bulan penjara dan denda Rp 2.500.000,00 pada 21 Oktober 2015. Sejak tahun 2017, Elang Alap Jambul ini direhabilitasi Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY).

Berdasarkan hasil pengamatan prilaku harian animal keeper dan dokter hewan disertai kondisi kesehatan fisik, Elang Alap Jambul bersama Elang Ular Bido (Spilornis cheela) jantan sitaan Polsek Kalibarang yang direhabilitasi sejak tahun 2011 dianggap siap untuk dilepasliarkan. Keduanya pun menjalani habituasi selama kurang lebih 15 hari dan pemasangan cincin serta wing marker untuk mempermudah proses monitoring paska pelepasliaran.

Elang Ular Bido dan Alap-alap Jambul merupakan spesies dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Keduanya merupakan predator tingkat tinggi yang menjaga keseimbangan ekosistem. Jangan pelihara Elang untuk gagah-gagahan, atau sekedar kesenangan pribadi. Itu melanggar hukum dan merusak alam!”, tegas Daniek Hendarto, manajer aksi COP. (PETz)

WHAT’S UP WITH UNTUNG?

Being in nature makes life easier. Like the proliferation of outbound activities in various tourist attractions in Indonesia. Just say traditional games by utilizing materials around us, such as re-introducing walking with coconut shells, egrang, breaking stones, jumping rope and so on. Then what about orangutans? Is the playing world the same as humans?

Heavy rain washed away a coconut tree during the flood. And it’s been week, Untung and Unyil orangutans were not seen inside the orangutan island. Patrols were intensified, again they were both seen on the stranded coconut tree. Not only coconut trees, there are several large trees which are also stranded at the end of the pre-release island of this orangutan. What did the two orangutans do?

Yes, they are hanging on the tree. Repeatedly herded to go inside the island, repeatedly also Untung turned away to patrol the team. Until finally the team decided to cut the trees so that the two orangutans could not play in the open space again. Why did the team do that? For four days, Untung did not approach the food sent by the patrol team. The team were worried because Untung didn’t seem to eat at all. The reality was …

It turned out that the coconut tree was full of coconuts. The food was really abundant and Untung became very interested in his new discovery. The patrol team found coconut remains on other tree trunks, maybe a lot of them were washed away too. “Now Untung is really angry. He didn’t care anymore when the patrol team call his name. At mealtime, he chose to be in his nest. Alright Untung, next month you will really be in your habitat. Hopefully your anger will be paid off when you return to your real home, “said Daniel, coordinator of the COP Borneo orangutan island. (EBO)

KENAPA DENGAN UNTUNG?
Berada di alam membuat hidup lebih mudah. Seperti menjamurnya kegiatan outbond di berbagai tempat wisata di Indonesia. Sebut saja permainan-permainan tradisional dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita, kembali diperkenalkan seperti berjalan dengan batok kelapa, enggrang, pecah batu, lompat tali dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan orangutan? Apakah dunia bermainnya sama dengan manusia?

Hujan lebat menghanyutkan sebatang pohon kelapa saat banjir. Dan sudah seminggu itu pula, orangutan Untung dan Unyil tidak terlihat di dalam pulau orangutan. Patroli pun semakin diperbanyak, lagi-lagi mereka berdua terlihat berada di pohon kelapa yang hanyut. Tak hanya pohon kelapa, ada beberapa pohon besar yang juga terdampar di ujung pulau pra rilis orangutan ini. Apa yang dilakukan kedua orangutan tersebut?

Ya, mereka bergelantungan di pohon itu. Berulang kali diusir untuk segera masuk ke dalam, berulang kali pula Untung berbalik mengusir tim patroli. Hingga akhirnya tim memutuskan untuk memotong-motong pohon-pohon tersebut agar kedua orangutan tak bisa bermain di tempat terbuka itu lagi. Kenapa tim sampai melakukan hal itu? Selama empat hari, Untung tak menghampiri makanan yang dikirim tim patroli. Tim khawatir karena Untung tak terlihat makan sama sekali. Kenyataannya…

Ternyata pohon kelapa itu penuh dengan buah kelapa. Makanan benar-benar melimpah dan Untung menjadi sangat tertarik dengan penemuan barunya. Tim patroli menemukan bekas kelapa di batang pohon yang lain, mungkin sudah banyak yang hanyut juga. “Sekarang Untung benar-benar marah. Panggilan tim patroli tak didengarkannya lagi. Saat jam makan, dia pun memilih berada di sarangnya. Baiklah Untung, bulan depan kamu akan benar-benar berada di habitatmu. Semoga kemarahanmu terbayarkan saat kamu kembali ke rumahmu.”, ujar Daniel, kordinator pulau orangutan COP Borneo. (Anen).

LET’S MAKE A HAPPY ENDING STORY

COP works everywhere orangutans are, both in natural habitats and those in captivities, including zoos. We assist the captive wildlife managements to improve the welfare of their orangutans, If it is technically not possible, we recommend closure and evacuation of the orangutans to a better facility. In 2011, the goverment execited COP’s recommendation to close down Rominsy Zoo in Central Java and evacuated 2 orangutans to the Wildlife Rescue Center in Yogyakarta. Those orangutans are Joko and Ucokwati. This couple had a baby named Mungil in 2013.

Will they be forever inside the cage? Help COP to send Mungil to the wild, also send Joko-Ucokwati to the sanctuary island of COP Borneo. Let’s make a happy ending story.

AKHIR CERITA YANG BAHAGIA
COP bekerja dimana pun orangutan berada, baik di habitat alami maupun yang berada dalam pemeliharaan, termasuk kebun binatang. Kami membantu manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan orangutannya. Jika secara teknis memungkinkan, kami merekomendasikan penutupan dan evakuasi orangutannya ke fasilitas yang lebih baik. Pada tahun 2011, pemerintah mendengarkan rekomendasi COP untuk menutup kebun binatang Rominsy di Jawa Tengah dan mengevakuasi orangutannya ke Pusat Penyelamatan Satwa Yogya. Mereka adalah Joko dan Ucokwati. Pasangan ini akhirnya melahirkan 1 anak bernama Mungil pada tahun 2013.

Apakah mereka selamanya berada di kandang? Bantu COP untuk mengirim si Mungil ke alam bebas dan Joko-Ucokwati ke pulau sanctuary COP Borneo.

BERAU ORANGUTANS ARE LOSING THEIR HABITAT

Excavators continue to knock down trees that are orangutan feed on. New land clearing for palm oil plantations has ignored orangutans existence. The orangutans, which look very similar to humans, also lost their home.

“Land clearing continues to move to the north where the largest orangutan population in Berau is located. Only 2.5 km left.”, said Paulinus Kristanto, APE Crusader captain, COP’s fast-moving team to protect orangutan habitat.

Orangutans are more frequently seen on the roadside to look for food. “Four bulldozers and one excavator are seen parking while waiting for logging in Kelay sub-district, Berau district, East Kalimantan.”, said Ramadhani, COP campaigner for COP Habitat and Orangutan Protection. “Don’t wait for trees that feed the orangutan to collapse! Let’s save the Berau orangutan.”, added Ramadhani. (EBO)

ORANGUTAN BERAU KEHILANGAN HABITATNYA
Ekskavator terus merobohkan pohon-pohon yang merupakan pakan orangutan. Pembukaan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit tak menghiraukan keberadaan orangutan lagi. Orangutan yang terlihat sangat mirip dengan manusia ini pun kehilangan rumahnya.

“Landclearing terus bergerak ke arah utara dimana populasi orangutan terbesar di Berau berada. Tinggal 2,5 km lagi.”, ujar Paulinus Kristanto, kapten APE Crusader, tim gerak cepat perlindungan habitat orangutan COP.

Orangutan semakin sering terlihat muncul di tepi jalan raya untuk mencari makan. “Empat buldoser dan 1 ekskavator sedang terpakir sambil menunggu penebangan kayu di kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.”, ujar Ramadhani, juru kampanye Perlindungan Habitat dan Orangutan COP. “Jangan tunggu pohon-pohon pakan orangutan itu roboh! Mari selamatkan orangutan Berau.”, tambah Ramadhani.

EARLY YEAR SCHOOL VISIT AT CIKAL AMRI SETU SCHOOL

An invitation to request a speaker for the Environment and Development class at Cikal school – AMRI Setu, East Jakarta started COP’s school visit in 2019. Tuesday, January 8, 2019, Amadhea W. Kaslan along with one of Orangufriend Jakarta members who is also an alumni of COP Batch 8, Zara Zein, began sharing how to protect orangutans by the Center for Orangutan Protection, the only orangutan organization established by Indonesian youths.

Twelve students from grades 6,7,8 and 9 took part in the program with the topic of Wildlife and Its Contribution to Sustainable Environment. The school visit this time became very much alive because the student were active. Quizzes about orangutans and other wildlife also colored the class for almost two hours.

COP, with the assistance of Orangufriends (an orangutan support group), sees education as having an important role in the protection of orangutans. “Later, those students will replace us, continue to protect orangutans,” Amadhea said excitedly. For those who want their school to be visited by COP and want to know more about orangutans, contact email info@orangutanprotection.com (EBO)

SCHOOL VISIT AWAL TAHUN DI SEKOLAH CIKAL-AMRI SETU
Undangan permohonan menjadi pembicara untuk kelas Environment and Development di sekolah Cikal – AMRI Setu, Jakarta Timur mengawali kunjungan ke sekolah COP tahun 2019. Selasa, 8 Januari 2019, Amadhea W. Kaslan bersama satu orangufriends Jakarta yang juga merupakan alumni COP School Batch 8 yaitu Zara Zein mulai berbagi bagaimana perlindungan orangutan yang dilakukan Centre for Orangutan Protection, satu-satunya organisasi orangutan yang didirikan oleh putra-putri Indonesia.

Dua belas siswa dari kelas 6,7,8 dan 9 yang mengikuti program mendapatkan topik Wildlife and Its Contribution to Sustainable Environment. Kunjungan ke sekolah kali ini menjadi berbeda dengan begitu aktifnya para siswa. Kuis-kuis tentang orangutan dan satwa liar lainnya mewarnai kelas selama hampir dua jam.

COP dengan bantuan Orangufriends (kelompok pendukung orangutan) memandang edukasi memiliki peran penting dalam perlindungan orangutan. “Kelak, mereka yang akan menggantikan kita, melanjutkan perlindungan orangutan.”, ujar Amadhea dengan bersemangat. Untuk kamu yang ingin sekolahnya dikunjungi COP dan ingin lebih tahu tentang orangutan, hubungi email info@orangutanprotection.com Yuk jadikan Orangutan kebanggaan Indonesia.

BERANI’S FIRST DAY AT FOREST SCHOOL

One more hope in early 2019. An orangutan was rescued from a wooden box in the village of Meratak, East Kutai, East Kalimantan on 23 October 2018. After going through a quarantine period and extended with a comprehensive medical examination, Berani, the orangutan, started his forest school class. He did not scream. He did not move much either. The first day Berani just spent his time staying on the ground, under the hammock of the animal keeper.

The second week is of course different from the first week. Berani started to climb trees. Went up and down from the same tree. He has not touched hanging roots and branches yet. Berani is still trying to adjust.

The look in his eyes slowly began to change. From fear to calm with hope. Berani will keep trying, it all depends on the skills of the animal keepers who take him to forest school. Let’s send your enthusiasm to the animal keepers. (Lina_CB)

HARI PERTAMA BERANI DI SEKOLAH HUTAN
Satu lagi harapan di awal tahun 2019. Ini adalah orangutan yang diselamatkan dari kotak kayu di desa Meratak, Kutai Timur, Kalimantan Timur pada 23 Oktober 2018 yang lalu. Setelah melalui masa karantina dan diperpanjang dengan pemeriksaan medis secara menyeluruh, orangutan Berani pun memulai kelas sekolah hutannya. Tak ada teriakan darinya. Tak ada pergerakan juga dari Berani. Hari pertama Berani hanya dihabiskan dengan berdiam di tanah, di bawah hammock animal keeper.

Minggu pertama tentu saja berbeda dengan minggu kedua. Berani mulai memanjat pohon. Naik dan kemudian turun dari pohon yang sama. Tali akar yang menggantung bahkan ranting-ranting yang bercabang belum juga dijamahnya. Berani terus berusaha menyesuaikan diri.

Tatapan matanya perlahan mulai berubah. Dari takut jadi teduh dengan harapan. Berani akan terus mencoba, semua tergantung kecakapan para animal keeper yang membawanya ke sekolah hutan. Yuk kirim semangat mu untuk para animal keeper. (Lina_CB)

WELCOME TO COP SCHOOL BATCH 9

Since Tuesday afternoon, one by one the Batch 9 COP School participants arrived. New faces, looked hesitant at first, reached out to get acquainted. They are agents of change for the next conservation world.

Of course their presence in the APE Warrior camp went through some struggle. They ventured to register, reached into their pockets to pay the registration fee, took the time to work on assignments at the selection stage and the costs to arrive in Yogyakarta was not small . Of the nearly 170 who were interested, it shrank to 49 people and ended up with 29 people who had the opportunity to take part in the COP School on 9-14 January 2019. “Actually there were 31 who passed the selection stage, but three of them had to resign due to urgent needs. If you want to join next year, you have to register and went through the selection process again”, Said Ramadhani, head of the COP School.

“This is not over, if you have participated in the Batch 9 COP School then what next? Please apply what you have learned in the next five days. At the end of 2019, at the Jambore Orangufriends, it’s graduation time with what you have applied after finishing Yogya sessions,” added Ramadhani again. Then … let’s be companions for the Batch 10 COP School participants. This is what we call the regeneration of Indonesia’s change agents. #IndonesiaBisa (EBO)

SELAMAT DATANG DI COP SCHOOL BATCH 9
Sejak Selasa sore, satu persatu peserta COP School Batch 9 berdatangan. Wajah-wajah baru dengan tingkah yang ragu-ragu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Mereka adalah agen perubahan untuk dunia konservasi selanjutnya.

Tentu saja kehadiran mereka di camp APE Warrior penuh perjuangan. Mereka memberanikan diri mendaftar, merogoh kantungnya untuk membayar biaya pendaftaran, meluangkan waktu mengerjakan tugas di tahap seleksi dan biaya yang tidak sedikit untuk sampai di Yogyakarta. Dari hampir 170 yang tertarik, menyusut menjadi 49 orang dan berakhir dengan 29 orang yang berkesempatan mengikuti COP School pada 9-14 Januari 2019. “Sebenernya ada 31 yang lulus seleksi, namun terpaksa mengundurkan diri karena ada keperluan mendesak. Jika mau ikut tahun depan, ya harus daftar dan seleksi lagi.”, ujar Ramadhani, kepala sekolah COP School tiga tahun terakhir ini.

“Ini belum berakhir, jika kamu sudah ikut COP School Batch 9 lalu bagaimana? Silahkan terapkan apa yang kamu peroleh selama lima hari kedepan. Akhir tahun 2019, di Jambore Orangufriends saatnya wisuda dengan apa yang telah kamu lakukan usai dari Yogya.”, tambah Ramadhani lagi. Kemudian… yuk jadi pendamping untuk peserta COP School Batch 10. Ini yang kami sebut regenerasi agen perubahan Indonesia. #IndonesiaBisa

WRITING COMPETITION ON ORANGUTAN HAS BEEN CLOSED

Two days before the closing of the Orangutan Short Story Writing Competition, Center for Orangutan Protection’s BNI account 1377888997 was flooded with donations of Rp. 25,003.00 as proof of participation in the competition. Ten best works are planned to be printed into books. This competition was an Indie Book Corner collaboration with the Center for Orangutan Protection.

Finally on the due date, Sunday, January 6, 2019 at 23:00 WIB the committee received 128 short stories. The committee were amazed by the ideas and storyline of each incoming short story with the theme of A Good Life for Orangutans. Starting from stories about orangutans who lost their habitat to orangutan stories in the decades ahead.

For one month, the committee will select the short stories. The initial stage 50 works are selected, then ten best works are determined. Of the ten works, three winners were chosen. “Thank you for participating. There are many ways to take part in protecting orangutans. This donation is for orangutans.”, Septian said. The winner’s announcement will be published at the opening of The 3rd Art For Orangutan on Thursday, February 14, 2019 at the Jogja National Museum, Yogyakarta. (EBO)

LOMBA MENULIS CERPEN ORANGUTAN DITUTUP
Dua hari menjelang penutupan Lomba Menulis Cerpen Orangutan, rekening BNI 1377888997 atas nama Centre for Orangutan Protection dibanjirin donasi Rp 25.003,00 sebagai bukti keikutsertaan peserta dalam lomba. Sepuluh karya terbaik rencananya akan dibukukan. Lomba ini merupakan kolaborasi Indie Book Corner dengan Centre for Orangutan Protection.

Hingga akhirnya pada hari Minggu, 6 Januari 2019 pukul 23.00 WIB panitia menerima 128 cerpen. Cerpen-cerpen yang masuk dengan tema A Good Life for Orangutan membuat panitia kagum dengan ide dan jalan cerita setiap cerpen. Mulai dari cerita mengenai orangutan yang kehilangan habitatnya sampai cerita orangutan di puluhan tahun ke depan.

Selama satu bulan, panitia akan menyeleksi cerpen-cerpen tersebut. Tahap awal ada 50 karya yang masuk yang selanjutnya akan ditentukan sepuluh karya terbaik. Dari sepuluh karya tersebut lah penentuan tiga pemenang. “Terimakasih atas keikutsertaannya. Banyak cara untuk ambil bagian dalam perlindungan orangutan. Donasi ini untuk orangutan.”, ujar Septian. Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada pembukaan Art For Orangutan 3 pada Kamis, 14 Pebruari 2019 di Jogja National Museum, Yogyakarta.

Page 1 of 212