December 2018

HOW IS YOUR DAY, MEMO?

This is Memo, an orangutan who can peels coconuts cleanly at COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Kalimantan. After peeling it off, she broke the shell to drink the coconut water. She uses a unique technique to break the coconut, very unusual compared to other orangutans. Memo breaks the coconut by banging it on the cage wall. Then, she eats her coconut meat, slowly until it runs out.

Memo is an adult female orangutan. Her movements are limited because she spent most of her life inside a cage. She only has few activities besides looking out through the cold iron bars. We don’t know how many hammocks have been damaged, repaired or even replaced with new ones, but Memo will continue her life inside the cage.

She is Memo, an orangutan who dares to dream of living without iron bars. She cannot join with other orangutans and cannot be released into her habitat because she has hepatitis B. This disease is contagious and cannot be cured. Memo, an orangutan who was kept for years by a villager in Muara Wahau, East Kalimantan and got hepatitis from humans. “Don’t pet orangutans, we share 97% of the same DNA. Our diseases are same and can infect each other. Now you understand, don’t you?”, said Daniek Hendarto, manager of the COP Ex-Situ program. (IND)

BAGAIMANA HARI-HARIMU, MEMO?
Ini dia orangutan yang mengupas buah kelapa hingga bersih di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Selesai mengupasnya, dia pun memecahkan tempurungnya untuk meminum airnya yang segar. Cara memecahkan tempurung kelapa ini pun berbeda dengan orangutan yang lainnya. Hanya Memo yang memecahkan kelapa dengan membenturkan kelapanya ke dinding kandang. Kemudian, dia akan memakan daging kelapanya, perlahan-lahan sampai habis.

Memo orangutan betina yang sudah bukan anak-anak lagi. Usianya sudah memasuki usia dewasa. Gerakannya terbatas pada kandang. Melihat keluar dari balik jeruji besi yang dingin. Entah sudah berapa belas hammock yang rusak, diperbaiki bahkan diganti dengan yang baru. Dan Memo akan terus di dalam kandang.

Dia adalah Memo, orangutan yang berani bermimpi untuk hidup tanpa jeruji besi lagi walau bukan di habitat aslinya karena penyakit yang dideritanya yaitu hepatitis B. Itulah sebabnya, Memo tidak bisa bergabung dengan yang lainnya dan tidak mungkin dilepasliarkan ke habitatnya. Penyakit menularnya akan mewabah jika dia bergabung dengan yang lainnya. Memo, orangutan yang bertahun-tahun dipelihara seorang warga Muara Wahau, Kalimantan Timur dan tertular hepatitis dari manusia. “Jangan pelihara orangutan, kita berbagi 97% DNA yang sama. Penyakit yang diderita pun sama dan bisa saling menularkan. Sekarang kamu mengertikan.”, ujar Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP.

HELP ORANGUTANS THROUGH ART FOR ORANGUTAN

Art is an universal languages that can be accepted by many. it will become a medium to deliver current issues on what happened to orangutans. The artists, with their creativities, will show the themes of orangutan thru their arts. All the spirit is summarized by Art for Orangutan (AFO) in the form of an art exhibition that has been visited by many people.

There were 122 art works with around 1500 visitors when the 2nd AFO was held in 2016. The exhibition that was held for 4 days had it own attraction for people to visit, see, respond, and understand the condition of our current orangutans. The support for orangutans was flowing in every way.

Another energy from AFO is the collective works of Centre for Orangutan Protection (COP) supporters who are members of Orangufriends with several art communities such as Gigi Nyala, IAM Project, etc. All agreed that AFO is an art activity that is not to be affiliated with the interested parties of orangutans, especially for event supporters or sponsorship.

The fundraising is expected to cover the cost of gallery and musical instruments rental, catalogue printing and transportation for performers/panelists. Your support is the key success of #artfororangutan3 that will be held on Feb 14-17, 2019 in Yogyakarta. More people to support, more people to care about orangutans! Find us by click https://kitabisa.com/bantuafo

BANTU ORANGUTAN LEWAT ART FOR ORANGUTAN
Seni adalah bahasa universal yang bisa diterima oleh orang banyak, akan menjadi jembatan untuk menyampaikan isu terkini pada apa yang terjadi dengan orangutan. Para seniman dengan kreatifitas tersendiri akan menyampaikan tema-tema orangutan melalui karyanya. Semangat itu yang dirangkum oleh Art for Orangutan (AFO) menjadi sebuah pameran seni yang banyak dikunjungi oleh orang.

Ada 122 karya seni dengan jumlah pengunjung sekitar 1500 orang saat AFO kedua di tahun 2016 yang lalu. Pameran yang berlangsung selama 4 hari ini menjadi magnet tersendiri untuk orang-orang datang, melihat, merespon dan mengerti hingga memahami kondisi orangutan terkini. Dukungan untuk orangutan pun mengalir dengan deras dengan caranya masing-masing.

Semangat lain dari AFO adalah kerja kolektif anggota pendukung Centre for Orangutan Protection (COP) yang tergabung dalam Orangufriends dengan beberapa komunitas seni seperti Gigi Nyala, IAM Project dll. Semua sepakat bahwa AFO adalah kegiatan seni yang mencoba untuk tidak berkonflik kepentingan bagi orangutan, terutama dengan para pendukung acara atau sponsorship.

Penggalangan dana ini diharapkan bisa menutupi pengeluaran biaya seperti sewa galeri, alat musik, cetak katalog dan transportasi pengisi acara. Dukungan teman-teman adalah kunci sukses #artfororangutan3 yang akan dilaksanakan 14-17 Pebruari 2019 di Yogyakarta, sehingga semakin banyak yang peduli dengan orangutan. Kamu bisa bantu lewat https://kitabisa.com/bantuafo

60 JENIS BUAH MENANTIKAN BANTUAN ORANGUTAN

Selama satu bulan sejak pelepasan orangutan Novi dan Leci, tim APE Guardian sudah mengidentifikasi 84 jenis pohon buah. 80% nya merupakan pakan orangutan. Jadi saat orangutan memakan buah-buahan yang tersedia di hutan ini, orangutan pun mulai menjadi agen persebaran buah tersebut.

Sebut saja, rambutan hutan yang sedang dimakan Novi, tak lama kemudian, Novi berpindah tempat, menjelajah dan akhirnya beristirahat setelah berjalan sejauh sekitar 2 km. Di sela-sela istirahatnya, Novi berak, biji dari buah-buahan yang dimakannya tidak bisa dicerna dan akhirnya keluar bersama kotorannya.

Sore harinya, Novi mulai mematah-matahkan ranting, menjalinnya untuk dijadikan sarang sepanjang malamnya. Guguran daun-daun terlihat berserakan di lantai hutan bercampur dengan kotoran. Saat pagi dan matahari mulai menerobos di antara kanopi hutan berusaha mencapai lantai hutan untuk menumbuhkan tunas-tunas sebagai pengganti pohon-pohon yang tua dan mati.

Tanpa orangutan, hampir tak mungkin sinar matahari yang sangat dibutuhkan tunas-tunas tersebut sampai di lantai hutan. Tanpa orangutan tak mungkin biji-biji pohon buah itu berpindah tempat. Ya… hutan butuh orangutan untuk memperkaya dirinya.

BUAH KENARI KESUKAAN NOVI

Individu orangutan jantan bernama Novi ini memang kerap membuat tim monitoring kalang kabut. Setelah tidak terpantau jejaknya hampir selama dua pekan paska rilis, Novi kembali menunjukkan eksistensinya dengan bergelantungan di pohon. lalu dua hari berikutnya tim kembali kehilangan jejaknya. Selanjutnya, selang dua hari tim dibuat terkejut dengan kemunculan Novi di sekitar lokasi terakhir tim kehilangan jejak Novi.

Novi terus terlihat berayun kesana kemari di pohon kenari. “Ternyata si Novi ini suka buah kenari,” ucap Yusak salah seorang ranger yang tengah mengisi form pakan orangutan. Bagaimana tidak, dari menit awal Yusak mencatat, Novi banyak sekali makan buah kenari.

Rupanya, Novi suka rasa manis masam buah itu. Sampai-sampai membuat tim monitoring ingin mencicipi rasa buah kenari. Begitu ada buah kenari yang dijatuhkan Novi dari ketinggian pohon sekitar 20 meter, ada yang bergegas mengambilnya. Gigitan pertama membuat wajah Widi mengkerut. “Kukira manis, ternyata rasanya masam,” ungkap Widi relawan Tim APE Guardian. Pantas saja masam, ternyata Novi menjatuhkan buah kenari yang belum matang. Buah yang bentuknya mirip kacang almond ini, memiliki daging berwarna putih di dalamnya. Jika belum matang warna kulitnya hijau, begitu buahnya matang warna kulitnya berubah menjadi hitam dan ada tambahan rasa sedikit manis.

Saking doyan dan suka dengan buah ini, Novi tak ingin jauh-jauh dari pohon kenari. Beberapa kali Novi terpantau membuat sarang di dekat pohon kenari. “Mungkin setelah bangun tidur Novi bisa langsung makan buah kenari,” pikir para ranger. Ternyata perkiraan itu tidak meleset. Dari pukul 05.00 WITA tim memantau Novi yang kala itu masih mendekam di sarang, begitu terbangun Novi langsung bergegas berayun menuju pohon kenari.

Para ranger optimis bahwa Novi bisa menjadi agen dalam meregenerasi hutan, setelah menemukan kotoran Novi bercampur dengan puluhan biji kenari tercecer jauh dari pohon induknya. (REZ)

ORANGUTANS THREATENED BY SML

Centre for Orangutan Protection (COP) suspects that the plantation business permit of SML in Batang Kawa sub-district, Lamandau district, Central Kalimantan is in the area of orangutan habitat. This is supported by the findings of orangutan nest right in the middle of the permit area for land clearing plan. It’s even strengthened by the survey conducted by Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) in 2015, in the report entitled “Population Survey and Conservation Management of Orangutans in the Palm Oil Plantation of PT. SML” stated that there were 28 nests with 6 lines of transects along 8500 meters that the orangutan population is estimated at 0,23 individuals/km2 in the area of PT.SML

COP team found piles of logging and a road devide the forest and also a forest area that had been evicted for oil palm plantation plan belong to SML. In the area of the planned land clearing block, there was at least 4 nests found that was located only 200-500 meters away.

COP suspects that at least 10.000 hectares of forested area that had been cleared for oil palm plantation. COP hopes that the remaining areas of orangutan habitat should be rescued immediately by stopping all the land clearing process for oil palm plantation. Ramadhani, the manager of COP Habitat Protection said, “ We have to push SML to stop all activities that endangered the orangutans, also request the Ministry of Environment and Forestry as soon as possible to re-verify the permits of SML plantation area that is suspected in the orangutan habitat area.”

For interview and further information please contact:
Ramadhani
Manager of COP Orangutan and Habitat Protection unit
HP : +62 813 4927 1904
Email : info@orangutanprotection.com

ORANGUTAN TERANCAM SML
Centre for Orangutan Protection (COP) menduga bahwa ijin usaha perkebunan milik SML di kecamatan Batang Kawa, kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah berada di kawasan yang merupakan habitat orangutan. Hal ini diperkuat dengan temuan sarang yang berada tepat di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan. Hal ini semakin diperkuat dengan survei yang dilakukan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) tahun 2015, dalam laporannya yang berjudul “Survei Populasi dan Pengelolaan Konservasi Orangutan di areal Perkebunan Kelapa Sawit PT. SML”, menyataan bahwa terdapat 28 sarang dengan 6 jalur transek sepanjang 8.500 meter diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 di area PT. SML.

Tim COP menemukan tumpukan kayu tebangan dan jalan blok membelah hutan serta kawasan hutan yang sudah digusur untuk perencanaan perkebunan kelapa sawit milik SML. Di area jalan blok perencanaan pembukaan lahan yang dimaksud ditemukan setidaknya ada 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter.

COP menduga bahwa setidaknya ada kurang lebih 10.000 hektar kawasan berhutan yang telah dibuka menjadi perkebunan kelapa sawit. COP berharap kawasan tersisa yang merupakan habitat orangutan harus segera diselamatkan dengan menghentikan segala proses pembukaan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat COP menyatakan, “Kita harus mendorong SML untuk menghentikan aktifitas yang membahayakan orangutan ini, serta memohon Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesegera mungkin melakukan verifikasi ulang ijin perkebunan SML yang diduga berada di kawasan habitat orangutan.”.

Untuk wawancara dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Ramadhani
Manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

ELANG SITAAN PEDAGANG BANDUNG, DILEPASLIARKAN

Masih ingat tertangkapnya pedagang 5 elang di desa Nanjung, kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung, Jawa Barat bulan Maret 2018 yang lalu? Keluarga pedagang sesaat setelah penangkapan sempat meneror tim APE Warrior yang membantu merawat elang sitaan.

Kemudian elang sitaan tersebut menjalani rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang. Tujuh bulan berlalu, Iteung nama Elang Laut (Haliaeestus leucogaster), salah satu elang dari pedagang Bandung akhirnya dihabituasikan selama 30 hari di kawasan konservasi Pantai Sancang kecamatan Cibalong Garut. Dan pada 20 November 2018 kemarin, dilepasliarkan oleh wakil bupati Garut dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Setelah proses lama untuk rehabilitasi akhirnya mereka menemukan jalan kebebasan. Terimakasih PKEK yang sudah membuat mimpi nyata iteung kembali mengepakkan sayap, bebas kembali di udara.”, kata Daniek Hendarto, manajer program eks-situ COP dengan haru. “Jangan pelihara satwa liar! Jangan jualan satwa liar yang dilindungi!”, tambah Daniek lagi.

LOMBA MENULIS CERPEN ORANGUTAN

Art For Orangutan, pameran seni rupa ke-3 kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang membedakan adalah jangkauan pelaku seni yang tak hanya terbatas pada seni rupa saja. Untuk kamu yang hobi menulis pun kini diajak untuk aktif mengambil peran dalam pelestarian orangutan dan satwa liar lainnya. Pengumpulan karya lomba penulisan cerita pendek/cerpen paling lambat hari Minggu, 6 Januari 2019 pukul 23.00 WIB.

Mekanisme Lomba:
– Setiap peserta hanya dapat mengirimkan satu karya
– Karya bersifat asli/orinal dan belum pernah dipublikasi di media atau sedang diikutsertakan dalam lomba mana pun
– Bahasa Indonesia yang digunakan dengan baik dan benar
– Hasil karya dikirim dengan format Word
– Dewan juri akan memilih 10 karya terbaik yang akan dibukukan dan 3 pemenang.
– Karya cerpen menjadi milik panitia dan hak cipta tetap pada penulis
– Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat

Persyaratan:
– Terbuka untuk umum
– Ukuran kertas A4, font Times New Roman MS 12, spasi 1.5, Margin 4-43-3
– Panajng tulisan minimal 800 dan maksimal 1500 kata
– Kirimkan karya cerpen beserta scan/foto bukti donasi, identitas diri (KTP/KTM/KP) dan lembar pernyataan orisinalitas karya ke email: afo3.cerpen@gmail.com dengan judul email: Nama peserta_Judul Karya_No HP
– Donasi Rp 25.003,00 (dua puluh lima ribu tiga rupiah) ke rekening BNI 1377888997 a.n Centre for Orangutan Protection

Hadiah
Juara 1: Rp 700.000,00 + 2 Buku Antologi + Merchandise COP + Piagam
Juara 2: Rp 500.000,00 + 2 Buku Antologi + Merchandise COP + Piagam
Juara 3: Rp 300.000,00 + 2 Buku Antologi + Merchandise COP + Piagam

7 dari 10 karya terbaik akan mendapatkan 1 Buku Antologi
Semua peserta lomba cerpen akan mendapatkan e-sertifikat

Pengumuman pemenang akan dipublikasikan di akun instagram resmi @orangutan_COP @giginyala dan @indiebookcorner pada pembukaan #artfororangutan3 pada Kamis, 14 Pebruari 2019 di Jogja National Museum, Yogyakarta.

HAPPI MEREBUT SARANG BONTI

Mengamati perkembangan anak setiap hari akan sangat mencengangkan. Anak berkembang sesuai usia dan rangsangan yang ada di sekitarnya. Jika kemarin dia lebih suka bermain dengan dirinya sendiri, keesokan harinya mungkin saja dia akan lebih senang bermain dengan teman-temannya. Tak terkecuali, anak orangutan.

Happi, orangutan yang berusia 4 tahun, tahun lalu menjadi idola para animal keeper. Kemampuannya membuat sarang dimana orangutan seusianya bahkan lebih tua darinya yang saat itu berada di kelas sekolah hutan belum ada yang bisa membuat sarang, benar-benar membuat kagum para animal keeper. Insting yang yang dimiliki Happi saat itu berhasil membuat sarang yang cukup untuknya. Diam-diam orangutan Bonti mengamatinya dan meniru cara membuat sarang. Kini, Bonti membuat sarang lebih besar dan kokoh, sementara Happi menempati sarang Bonti begitu saja.

Jika dulu Bonti belajar dari Happi, sekarang Happi yang belajar dari Bonti. Memang usia Bonti saat ini 5 tahun, setahun lebih tua dari Happi. Andai saja mereka masih bersama induknya, tentu mereka akan jauh lebih mandiri. Ibunya adalah guru terbaik yang pernah ada. Ikatan ibu dan anak pada orangutan bahkan sangat erat. Anak orangutan akan dalam pengasuhan induknya hingga usia 6-8 tahun. Selama itu pula, induk tidak akan meninggalkan anaknya, bahkan tidak untuk bertemu jantan lain. Itulah yang menyebabkan perkembangbiakan orangutan menjadi begitu lambat.

BATALKAN KOMPETISI BERBURU TUPAI!

Centre for Orangutan Protection memanggil seluruh orangufriends, untuk memperhatikan, menyebarluaskan dan menggagalkan kompetisi berburu tupai!

Sniper Boyolali lagi ‘lali’ kalau senapan angin di Peraturan Kapolri No 8/2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga. Sangat tegas Kapolri membuat aturan di Pasal 4 ayat 3, “Senapan angin digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target.”. Pasal 5 ayat 3, “Senapan angin hanya digunakan dilokasi pertandingan atau latihan.”. “Perintah Kapolri loh pak Inspektur Jenderal Polisi Drs. Condro Kirono, M.M., M.Hum.”.

Dirjen Gakkum KLHK mengeluarkan surat S.31/PHLHK/PPH/GKM.2/3/2018 tanggal 16 Maret 2018 untuk menegakkan aturan Kapolri di atas. Semoga Gakkum tidak lupa dan bisa menjalankan amanah suratnya sendiri.

Dan PERBAKIN juga sudah mengeluarkan edaran 257/SEKJEN/PB/III/2018 untuk seluruh Pengurus Perbakin untuk tidak menembak satwa dengan senapan angin. Sekali lagi ditegaskan bahwa menembak satwa dengan senapan angin di luar arena menembak adalah melanggar aturan hukum.
Semoga cukup teman-teman komunitas Sniper Boyolali saja yang ‘lali’, tidak dengan Bapak Kapolda Jawa Tengah, Direktur Jenderal GAKKUM KLHK dan Perbakin. (DAN)