November 2018

TERIAKAN AMBON DI SUNYINYA MALAM

Tidak banyak yang dilakukan orangutan Ambon di dalam kandang. Ruang memang selalu membatasi gerak siapapun. Tak terkecuali Ambon, orangutan jantan dewasa dengan tubuh besarnya. Kandang pun menjadi lebih sempit saat digunakannya.

Tatapan Ambon yang ramah sering membuat kita salah sangka. Ya… akhir-akhir ini Ambon menjadi lebih agresif pada animal keeper, Ambon akan marah kalau didekati atau dilihat berlama-lama. Di tengah malam yang sepi, tim yang bertugas di COP Borneo pun sering mendengar teriakan Ambon.

Suara Ambon yang besar dan berat terdengar lebih seram saat malam hari. Tim bergegas memeriksa kondisi Ambon. “Memang Ambon sering mengeluarkan suara-suara saat malam hari, biasanya karena ada binatang yang masuk ke kandang blok 1 mencari makan seperti babi.”, ujar Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo, Kalimantan Timur.

HAPPY TO BECOME A RANGER IN APE GUARDIAN

APE Guardian is a name of the team with a heavy responsibility: to secure our orangutan release area. Physical and mental strength is obviously the main requirement to be able to join this team. There are some training to support the APE Guardian task, one of them is shooting practice. Who is shot? With what? What for?

APE Guardian needs to ensure the post-rehab orangutans can survive in the forest until they are truly wild. This process certainly has lots of obstacles. The orangutans have a possibility to experience unwanted things such as illness, malnutrition or injury. If it happened, the rescue must be done.

Vet Flora began with the introduction of all the rescue equipment. First, how to prepare anesthesia/dart bullets when the rescue process is going. All team members had the opportunity to practice how to prepare bullets that already contained drugs until they were ready to be shot.

Then, the shooting practice was given with targets that resembled the size of orangutans. Everyone has the chance to have 3 shots. The 2 best shooters who have the highest score will enter the final and will get the chance to shoot 5 times. A small tournament has taken place because it concerns shooters’ pride. Understandably, they were all animal hunters. But now, they are the guardian of the forest and all the animals living in.

The final between Yacang and Steven is inevitable. Both of these rangers really compete to get APE Guardian’s main shooter position. And finally, Steven managed to get more score. This activity really made the ranger fresh after a month full of patrolling the forest. (IND)

SERUNYA JADI RANGER DI APE GUARDIAN
APE Guardian, nama tim yang bertugas mengamankan kawasan pelepasliaran orangutan ini punya tanggung jawab yang berat. Fisik dan mental yang kuat tentu saja jadi syarat utama untuk bisa bergabung di tim ini. Selanjutnya ada pelatihan bersama untuk mendukung tugas APE Guardian ini, salah satunya latihan menembak. Menembak siapa? Dengan apa? Untuk apa?

Tim APE Guardian adalah tim yang bertugas memastikan orangutan pelepasliaran dapat bertahan hidup sampai benar-benar liar. Proses ini tentu bukan tanpa halangan, selama itu mungkin saja orangutan tersebut mengalami hal-hal yang tidak diinginkan seperti sakit, malnutrisi atau terluka. Kalau sudah begitu, usaha penyelamatan mau tidak mau harus dilakukan.

drh. Felisitas Flora mengawalinya dengan pengenalan perlengkapan penyelamatan. Pertama, bagaimana menyiapkan peluru bius/dart ketika proses rescue berjalan. Seluruh anggota tim mendapat kesempatan mempraktekkan bagaimana menyiapkan peluru yang sudah berisi obat bius sampai dengan siap untuk ditembakkan. Kemudian praktek menembak diberikan dengan sasaran yang menyerupai ukuran orangutan dengan nilai-nilai berdasarkan tempat sasaran. Setiap orang memiliki kesempatan 3 kali tembakan. 2 penembak terbaik yang memiliki nilai tertinggi akan masuk final dan akan mendapatkan kesempatan menembak sebanyak 5 kali. Sesaat telah terjadi turnamen kecil, karena ini menyangkut harga diri penembak. Maklum saja, mereka semua dulunya adalah pemburu hewan. Tapi kini, jadi penjaga hutan dan isinya.

Final antara Yacang dan Steven tak bisa dihindari lagi. Kedua ranger ini benar-benar bersaing ketat untuk mendapatkan posisi penembak utama APE Guardian. Dan akhirnya Steven berhasil memperoleh nilai lebih banyak. Kegiatan kali ini benar-benar membuat para ranger segar setelah sebulan penuh patroli kawasan hutan. (REZ)

BONTI AND ANNIE ARE THE MOST DIFFICULT TO HANDLE IN ORANGUTAN POSYANDU

There are 6 small orangutans in the school forest. They are Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie and Jojo. Their behaviour development are always being monitored through daily journal, including their physical development. Every month in the 2nd week, COP Borneo orangutan rehabilitation centre holds an “Orangutan Posyandu”. The small orangutans will be weighed and measured in height. Dental and overall health examination will also be carried out.

“It’s different from human children, who has mother and caretaker to answer precisely about their name, date of birth or their medical history. While orangutans, age determination can be made by examining and calculating their number of teeth,”, said drh. Felisitas Flora.

Among the 6 orangutans who attend the forest school, Bonti and Annie are the 4-5 years old orangutans. “The mischievous age”, Wety Rupiana, coordinator of the COP Borneo rehabilitation centre, interrupted. If other small orangutans are easily to be measured and examined, these two are not. Both of them are the most difficult to be taken to the Orangutan Posyandu. Neither did they want to extent their arms and legs to be measured. They also didn’t want to open their mouths at all. and they were always trying to escape.

There’s no other way to deal with the two orangutans, Bonti and Annie, to be examined. The most effective ways to make them open their mouth, that is tickling their armpits and neck, was no longer working for them. “Maybe they’re embarrassed because they are old…”, said Flora with laugh. (SAR)

BONTI DAN ANNIE PALING SULIT DI POSYANDU ORANGUTAN
Ada enam orangutan kecil yang mengikuti kelas sekolah hutan. Mereka adalah Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie dan Jojo. Perkembangan perilaku mereka selalu terpantau melalui catatan harian termasuk juga perkembangan fisiknya. Setiap bulan di minggu kedua, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo menggelar “Posyandu Orangutan”. Para orangutan kecil akan ditimbang dan diukur tinggi badannya. Tak luput juga pemeriksaan gigi serta kesehatan secara menyeluruh.

“Tidak sama seperti anak manusia, ada ibunya atau pengasuhnya yang bisa menjawab dengan pasti, nama maupun tanggal lahirnya bahkan sekilas riwayat kesehatannya. Sementara orangutan, penentuan usia dapat dilihat dari pemeriksaan dan penghitungan jumlah gigi.”, ujar drh. Felisitas Flora.

Dari keenam orangutan yang mengikuti kelas sekolah hutan, Bonti dan Annie adalah orangutan berusia 4-5 tahun. “Usia nakal-nakalnya itu.”, sela Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo. Jika anak orangutan yang lain bisa dengan cepat dilakukan pengukuran dan pemeriksaan, berbeda dengan keduanya. Keduanya paling susah diajak ke Posyandu Orangutan. Keduanya pula tidak mau mengulurkan tangan dan kakinya untuk diukur. Untuk membuka mulut pun keduanya tidak mau sama sekali. Dan mereka berdua selalu berusaha kabur.

Tak ada cara lagi untuk mengatasi kedua orangutan, Bonti dan Annie agar mau diperiksa. Cara paling ampuh dengan mengelitik bagian ketiak dan leher pun sudah tak berlaku lagi buat mereka. “Mungkin mereka malu karena sudah tua…”, kata Flora sambil tertawa. (FLO)

NOVI OBSERVED BY APE GUARDIAN

After two weeks of Novi and Leci released, finally we found Novi tracks. Leftover and canopy openings lead the APE Guardian team, whose duty is monitoring the released orangutan, way to meet Novi. The team then recorded Novi’s behaviour every 5 minutes, no more per 10 minutes.

Filling out the form with 10 minutes interval was still lacking in showing the behaviour progress of the released orangutans. Starting on Nov 20, the team agreed to reduce the time interval in recording the orangutans behaviour from 10 minutes interval to 5 minutes interval. The team needs to be more focused on observing the orangutan’s behaviour and write it down.

“Leech attacks often disrupt our concentration, but the note-taking business still has to be done. What is Novi eating, on what kind of tree and what diameter of the tree he’s on and at what height he’s on, should be recorded properly. Our monitoring team’s duty is to ensure Novi can survive in nature after all these years being in the COP Borneo orangutan rehabilitation centre.”. said Reza Setiawan, coordinator of APE Guardian team.

Then, what about Leci? Since day one, after 3 hours of monitoring, Leci has had disappear from our view. “The lively Leci was like blending with the winds, soundless and trackless.”, said Widi, a volunteer of APE Guardian team with amazement. (SAR)

NOVI KEMBALI TERPANTAU APE GUARDIAN
Setelah dua minggu pelepasliaran orangutan Novi dan Leci, akhirnya kami menemukan kembali jejak Novi. Sisa-sisa makanan dan bukaan kanopi mengantarkan tim APE Guardian COP yang bertugas memantau orangutan pelepasliaran berjumpa kembali dengan Novi. Tim pun kembali mencatat perilaku Novi per lima menit tidak lagi per sepuluh menit.

Pengisian form yang awalnya memiliki interval waktu 10 menit ternyata masih kurang untuk menunjukkan progres perilaku para orangutan pelepasliaran. Mulai 20 November, tim sepakat untuk memperkecil interval waktu pengisian form monitoring dari 10 menit menjadi 5 menit. Tim dituntut untuk semakin fokus memperhatikan prilaku orangutan dan mencatatnya.

“Serangan pacet sering mengganggu konsentrasi kami, tapi urusan catat mencatat tetap harus jalan. Novi sedang makan apa, berada di pohon apa dengan diameter berapa, di ketinggian berapa harus tercatat dengan baik. Kami tim monitoring bertugas memastikan, Novi bisa bertahan hidup di alam setelah bertahun-tahun berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.”, ujar Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian.

Lalu bagaimana dengan Leci? Sejak hari pertama, setelah tiga jam dalam pantauan, Leci sudah menghilang dari pandangan kami. “Si lincah Leci seperti menyatu dengan hembusan dedauan, tanpa suara dan jejak.”, ujar Widi, relawan tim APE Guardian dengan takjub. (REZ)

COP BANTU KEBUN BINATANG KE-11 DI INDONESIA

Pada hari ini, 22 November 2018, Centre for Orangutan Protection bersama dengan Taman Satwa Gajahmungkur, Jawa Tengah menandatangani Nota Kesepahaman untuk bekerjasama meningkatkan kesejahteraan orangutan yang berada dalam lembaga konservasi eks-situ milik Pemda Wonogiri tersebut. Ada 1 (satu) individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berjenis kelamin jantan yang akan masuk dalam program tersebut. Dalam program tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk bekerjasama memperkaya kandang dan nutrisi agar orangutan dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Taman Satwa Gajahmungkur ini merupakan lembaga konservasi eks-situ yang kesebelas yang dibantu COP. Sebelumnya, COP pernah membantu di Bali zoo, Taru Jurug Solo, Mangkang Semarang, Seruling Mas Banjarnegara, Ragunan Jakarta, Taman Rimbo Jambi, Kinantan Bukit Tinggi, Taman Marga Satwa Sawah Lunto, Medan Zoo dan Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS). Visi COP atau Pusat Perlindungan Orangutan yang berbentuk perkumpulan ini adalah kehidupan yang baik bagi orangutan termasuk orangutan yang berada dalam lembaga konservasi.

Sebelumnya pada Januari 2018 muncul pemberitaan dimana orangutan yang menjadi koleksi obyek wisata Waduk Gajah Mungkur menyerang salah satu animal keepernya. “COP berharap, kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Pihak WGM memperbaiki diri dan itu pun harus diikuti dengan perbaikan prilaku para pengunjung obyek wisata dimana ada satwanya. Patuhi rambu atau tata tertib yang berlaku, agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi.”, ujar Daniek Hendarto, manajer konservasi eksitu COP.

GILIRAN UNTUNG UNTUK KEMBALI KE RUMAH

Dia adalah Untung, orangutan yang beruntung walau dengan jari yang tidak sempurna mampu bersaing di kelas pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Untung di tahun 2011 saat Centre for Orangutan Protection mengajaknya pertama kali ke sekolah hutan, Untung terlihat ketakutan, tubuhnya bergetar memeluk dahan. Terlihat rasa percaya dirinya yang sangat porak poranda. Dengan telaten, staf COP menemaninya, berbicara dengan suara rendah dan membelai punggungnya dengan lembut. Saat sekolah hutan berikutnya, Untung harus meraih buah-buahan sebagai makanannya di antara dahan. Rasa laparnya menuntunnya meraih pisang. Saat itulah, kami yakin, kelak Untung akan kembali ke habitatnya.

Hampir delapan tahun berlalu. Bolak balik ke luar kandang mengajarkannya, saat seseorang dengan pipa panjang mendekatinya, sebaiknya dia menghindar. Dia pun akan segera mengeluarkan suara untuk mengusir. Dan saat kita bertatapan, dia pun melihat kita dengan kebencian. Untung semakin meliar.

Pulau pra rilis orangutan adalah sebuah pulau yang dibatasi oleh sungai. Pulau mutlak dikuasai oleh orangutan-orangutan kandidat pelepasliaran. Hanya pada saat pagi dan sore hari, para animal keeper akan berlabuh sesaat di dermaganya untuk meletakkan makan pagi dan sore sebagai tambahan dari makanan yang sudah tersedia secara alami di pulau. Sikap galak Untung pun tanpa terkecuali, dengan galak dia berekspresi, mengusir para animal keeper yang bertugas.

“Syukurlah, Untung berhasil pada tahapan ini. Persiapan untuk pelepasliarannya pun sudah dimulai.”, jelas Jhony, koordinator animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Untung akan menjadi orangutan kedua yang pernah di kebun binatang dan masuk pusat rehabilitasi COP Borneo untuk dilepasliarkan. COP Borneo telah berhasil dengan orangutan Oki, orangutan dari Kebun Raya Unviversitas Mulawarman, Samarinda. Kini giliran Untung!

PULUHAN ORANGUTAN TERANCAM KEHILANGAN HABITAT DI KALTENG

Tim APE Crusader menemukan satu lagi habitat orangutan yang terancam di kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Habitat orangutan diperkuat dengan penemuan sarang yang berada di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil survei organisasi orangutan tahun 2015 diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 sepanjang 8.500 meter di areal perkebunan tersebut.

Di antara tumpukan kayu tebangan dan jalan yang membelah kawasan berhutan, tim juga menemukan 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter. “Kawasan ini merupakan habitat orangutan! Proses pembukaan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit harus dihentikan.”, ujar Paulinus Kristanto, juru kampanye Habitat COP.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam pasal 21 ayat (2) e berbunyi, “mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.”, dengan sanksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dengan paling banyak Rp 100.000.0000,00. (NUS)

TIDY UP THE TREES AROUND THE ORANGUTAN CAGES

The lush trees at the orangutan rehabilitation centre of COP Borneo, Berau, East Kalimantan, make it hard for sunlight to break into orangutan cages. Though sunlight is very necessary in managing air humidity, especially in the enclosure of COP Borneo. Finally, the team scheduled to trim the branches that block the sunlight from reaching the cage.

Jevri and Amir, two animal keepers who are masters in climbing 15 meters high trees at the school forest, were tasked with trimming the branches. With agility, both of them reached the end of the tree and effortlessly cut the sticky branches. After taking care of the twigs of one tree, they headed to another tree. Instead of going down and climb another, they were crossing over through branches as the bridge. Very similar to orangutans, just not swinging. “So that’s why all the forest school students are so good at climbing and moving from one tree to another.”, said drh. Felisitas Flora. Indeed, one of the added values for animal keeper at COP Borneo is being good at climbing.

COP Borneo orangutan rehabilitation center is the one and only rehabilitation centre founded and run by Indonesian young generation. Even most of people who run the rehab centre of COP Borneo are the local people who live in Merasa village, Berau, the nearest village to the centre. You can support the orangutan protection through kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

MERAPIKAN POHON DI SEKITAR KANDANG ORANGUTAN
Rimbunnya pepohonan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur membuat cahaya matahari sulit menerobos kandang orangutan. Padahal sinar matahari sangat diperlukan agar udara tidak terlalu lembab terutama di kandang orangutan pusat rehabilitasi COP Borneo. Akhirnya, tim mengagendakan untuk memangkas ranting-ranting yang menghalangi sinar matahari sampai ke kandang.

Biasanya, Jevri dan Amir, dua animal keeper yang menjadi andalan dalam memanjat pohon yang tingginya sekitar 15 meter pada saat sekolah hutan berlangsung kali ini bertugas merapikan ranting-ranting. Dengan lincah, keduannya sampai ke ujung pohon dan tanpa kesulitan memotong ranting-ranting yang menjulur. Selesai mengurus ranting di satu pohon, mereka pun menuju ke pohon yang lain. Tidak turun ke tanah malainkan melalui dahan yang menjadi jembatannya. Sangat mirip dengan orangutan, hanya saja tidak berayun. “Wjar saja, siswa sekolah hutan yang diasuh selama ini sangat pandai memanjat dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.”, ujar drh. Felisitas Flora. Memang, salah satu nilai tambah untuk animal keeper di COP Borneo adalah pandai memanjat.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan dan dijalankan oleh putra-putri Indonesia. Sebagian besar yang menjalankan pusat rehabilitasi bahkan orang lokal yang bertempat tinggal di desa terdekat yaitu desa Merasa, Berau. Kamu pun bisa mendukung perlindungan orangutan melalui kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

BATU PUN MENJADI HIBURAN BAGI RANGER

Dunia bermain tak hanya milik anak-anak. Tak terkecuali para penjaga hutan berbadan tegap namun berhati lembut ini. Setiap penjaga hutan atau ranger harus mematuhi peraturan yang telah disepakati, salah satunya adalah tidak boleh membawa smartphone. Tujuannya adalah agar kita fokus untuk kegiatan di hutan, sebab jika ada smartphone dapat dipastikan akan ada yang bermain game atau mendengarkan musik sehingga mengabaikan keadaan sekitar. “Kalau untuk ber-media sosial itu sih tidak mungkin, signal telepon saja tidak ada.”, ujar Ipeh, relawan tim APE Guardian. Lalu apa yang dilakukan para penjaga hutan saat istirahat?

Anak sungai adalah tempat favorit para ranger untuk beristirahat, mengisi ulang kebutuhan air, tempat makan atau coffee break bahkan bermain. Serius? Batu-batu yang tersebar di sungai adalah hiburan tersendiri buat para ranger. Bagaimana mungkin? Salah satu ranger memungut 3 batu lalu melemparkannya ke atas lalu akan ditangkap dengan bergantian. Ada pula yang mengambil lalu menyusunnya, bahasa kerennya rock balance ada juga yang menyebutnya garvity glue. Setelah waktu istirahat berakhir… mereka akan berebutan mengenai batu yang telah disusun dengan batu dalam jarak tertentu. Selanjutnya gelak tawa pun mengawali patroli siang mereka. Sederhana ya…!

Para ranger adalah para penjaga hutan yang berada di garis depan. Berkat merekalah keamanan hutan terjaga. Kenapa sih hutan harus dijaga? Zaman sekarang, tak hanya perumahan atau perkantoran saja yang memerlukan penjagaan, tapi hutan pun. Bahkan menjaga hutan jauh lebih sulit, tak ada pagar yang mengelilingi, tak ada jaringan telepon yang bisa menembus komunikasi jika terjadi sesuatu, ya pada para ranger lah, kekayaan hutan bisa terjaga. Dan para ranger juga butuh hiburan, yang dengan bermain batu tadi. Kamu pernah bermain batukah? Kalau ya… berikan komentarmu! (IPEH_Orangufriends)

PONDOK PENUH SAMPAH DI TENGAH HUTAN LINDUNG

Pagi ini seperti pagi kemarin. Kedua relawan tim APE Guardian atau tim monitoring pelepasliaran orangutan sudah bersiap masuk hutan kembali. “Kali ini lebih pagi.”, ujar Widi. Ini adalah hari kesepuluh orangutan Novi dan Leci dilepasliarkan ke habitatnya. Sudah sepuluh hari juga kami belum berjumpa dengan mereka lagi. “Sesungguhnya, kalau berjumpa juga kami masih belum menentukan sikap, apakah berlari menjauh atau memberanikan diri mengamati mereka.”, tambah Widi lagi.

Widi adalah relawan yang mengajukan diri untuk ikut pelepasliaran orangutan di Berau, Kalimantan Timur. Fisik saja tidak cukup katanya untuk menjadi seorang relawan. Apalagi di hutan yang tidak ada signal telepon konon internet. Sudah pasti mental kudu kuat. Tapi itu pula yang membuat hari ini penuh kemarahan, berhari-hari tinggal di hutan harus bertemu jejak manusia yang bernama sampah .

Setelah berjalan selama 2 jam dengan medan yang naik turun, tim menemukan sampah plastik. “Satu… dua… dan semakin banyak! Dan sebuah pondok di hutan lindung! Gila… manusia meninggalkan jejak dengan sampahnya!”, geram Widi. Plastik mi instan, rokok, cemilan, tepung tercecer dimana-mana, bahkan bekas pakaian sengaja dibiarkan tertinggal dengan jumlah yang tidak sedikit. Sisa-sisa botol minuman jamu pun tergeletak begitu saja. (WIDI_Orangufriends)

Page 1 of 3123