JONI, RAMBO DARI COP BORNEO

Ada 3 animal keeper yang sudah cukup lama bergabung dengan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Salah satunya bernama Joni. Dia tumbuh dan besar di kampung Merasa yang tak jauh dari lokasi berdirinya COP Borneo.

Sejak November 2015, Joni pun sekarang sudah mahir menggunakan tulup, senapan bius dan menagani orangutan. Joni juga jago membawa ketinting dalam jalur sungai yang berat sekalipun. Kini tanggung jawab perawatan orangutan dan logistik pun dipegangnya. Selain itu, Joni juga punya andil dalam pembangunan kandang karantina untuk orangutan serta renovasi titian.

Saat pemindahan orangutan, translokasi dan penyelamatan orangutan, Joni selalu di garis depan bersama tim medis COP Borneo. Dialah, eksekutor handal pembiusan yang selalu dipercaya tim medis. Joni pun mendapat julukan, Joni Rambo, seperti di film Hollywood yang heroik dengan senjata apinya. (WET)

SELAMAT DATANG DI SEKOLAH HUTAN, ANNIE

Dua bulan sudah Annie tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. “Perilaku Annie selama dua bulan itu sempat membuat kami yakin, Annie akan langsung memanjat pohon lalu menghilang di dedaunan. Tak hanya itu, kami juga memperkirakan, kami akan kesulitan mengajak Annie kembali ke kandang.” ujar Reza Kurniawan, antropologis primata COP.

Namun apa yang telah kami prediksi, meleset. Annie terlihat bingung di lokasi sekolah hutan. Dia hanya berjalan-jalan di sekitar animal keeper dan memanjat tidak lebih tinggi dari 3 meter. Iya, ini adalah hari pertamanya bebas dari kandang.

Annie adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di desa Merapun, Kalimantan Timur. Tiga tahun masa pemeliharaan tersebut membuat prilakunya menjadi jinak. Terlebih lagi di usianya yang masih bayi, saat itu sekitar 1 tahun. Usia bayi orangutan yang sedang berada dalam pengawasan ketat induknya. Anak orangutan akan terus menerus melekat pada induknya hingga berusia 6 tahun. Setelah itu, induk akan mulai menyapih anaknya agar bisa hidup sendiri. Orangutan pada dasarnya adalah mahkluk soliter.

Hari pertama Annie akan menjadi catatan tersendiri untuk kami. Kami berharap, para pendukung COP juga mengikuti perkembangan Annie selama di COP Borneo dan memberikan dukungannya lewat Tunggu rapot tiga bulanannya di bulan Agustus ya.

ORANGUTAN DI KEBUN BINATANG BANDUNG

Orangutan jantan ini terlihat duduk-duduk di antara rerumputan. Kandang tanpa jeruji adalah kandang modern yang direkomendasikan untuk lembaga konservasi umum atau sering disebut juga enclosure. Secara umum, kondisi enclosure Kebun Binatang Bandung ini cukup baik. Ada satu tempat berteduh berbentuk gazebo yang seharusnya bisa lebih berbentuk rumah pohon yang bisa memaksa orangutan memanjat agar bisa melatih otot-otot tangannya.

Luas enclosure yang diperkirakan sekitar 15×15 meter dilengkapi dengan 2 buah kandang jebak cukup bisa mengatasi orangutan saat enclosure harus dibersihkan secara berkala. Di dalam kandang jebak sendiri terlihat enrichment untuk mengatasi kebosanan saat berada di kandang jebak.

Papan informasi juga cukup komunikatif. Tak lupa juga himbauan untuk tidak memberi makanan maupun minuman. “Ini menuntut para pengunjung untuk lebih disiplin mematuhi peraturan yang ada.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP. “Apalagi ini akan memasuki musim liburan yang biasanya akan terjadi peningkatan jumlah pengunjung dengan latar belakang yang berbagai macam.”.

Sayang air yang seharusnya mengelilingi enclosure terlihat kering. Kolam keliling itu seharusnya bisa menjadi jarak untuk orangutan dan pengunjung selain tembok. Sehingga jika ada pengunjung nakal yang melemparkan sesuatu ke orangutan tidak bisa langsung sampai pada orangutannya. Air itu juga bisa dimanfaatkan orangutan sebagai air minumnya saat dia kehausan.

SATWA SITAAN PEDAGANG ILEGAL KEMBALI LIAR DI HABITATNYA

Usaha merehabilitasi satwa liar dari perdagangan tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Satwa hasil sitaan dari operasi gabungan Kepolisian dan Centre for Orangutan Protection bersama organisasi lainnya pada tahun 2013 baru bisa dikembalikan ke alam di tahun 2018 ini. “Seperti kelima ekor musang pandan (Paradoxurus hermaphroditus) yang dititipkan dan direhabilitasi di Wildlife Rescue Centre Jogja, sejak 18 September 2013 ini.”, jelas Daniek Hendarto, manajer program eks situ COP.

Tak hanya sekedar merehabilitasi, pencarian lokasi pelepasliaran juga menjadi permasalahan tersendiri. “Jaringan harus cukup kuat agar proses bisa berjalan dengan cepat. Untuk itu, tak jarang kami juga harus menyertakan bukti seperti foto bahwa lokasi pelepasliaran merupakan habitat satwa tersebut.”, tambah Daniek Hendarto.

19 Mei 2018 ini ada delapan satwa liar dari operasi penyitaan perdagangan ilegal satwa liar yaitu 5 musang pandan, 2 kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dan satu landak jawa (Hystrix Javanica). Kedelapan satwa sudah menunjukkan kelayakan untuk dikembalikan ke habitatnya baik dari sisi kesehatan dan perilakunya. “Semua satwanya sehat, tidak ada penyakit dan perilakunya layak untuk dikembalikan lagi ke alam.”, kata drh. Irhamna Putri Rahmawati., M.Sc.

WRC Jogja yang berada di bawah Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta berlokasi di Paigan, Pengasih, Kulon Progo saat ini masih merawat 170-an satwa liar yang dilindungi. Semuanya merupakan hasil operasi penyitaan BKSDA maupun Kepolisian dibantu COP, Animals Indonesia dan lembaga swadaya masyarakat lainnya. Perdagangan satwa liar memang masih cukup tinggi, ini disebabkan kesadaran masyarakat memelihara dan memiliki satwa liar sebagai hewan pelihara sangat rendah. Centre for Orangutan Protection berharap besar pada peran Orangufriends (kelompok pendukung COP) yang selama ini menjalankan edukasi dan penyadartahuan ke sekolah maupun masyarakat. “Satwa liar… ya di alam rumahnya.”.(NIK)

BAGAIMANA KABAR AMBON?

Ambon, orangutan jantan dewasa yang sudah puluhan tahun hidup di balik jeruji telah berhasil bertahan hidup selama satu bulan di pulau orangutan. Pulau, dimana Ambon hidup tanpa pembatas buatan. Sungai beraliran deraslah yang menjadi pagar alami untuknya sebagai batas interaksi orangutan dengan manusia.

Ambon juga telah berhasil memanjat pohon, yang sebelumnya sempat membuat tim kawatir akan kemampuan memanjatnya, mengingat sejarah Ambon yang tak pernah hidup di luar kandang. Di luar perkiraan, hanya dalam hitungan 3 jam, Ambon sudah berada di atas pohon yang dipilihnya.

Sebulan berlalu. Tim pemantau tak melihat Ambon turun untuk makan. Tim memanggil-manggil Ambon, namun Ambon tak kunjung turun untuk makan. Pakan alami di pulau tidak cukup untuk menompang orangutan, itu sebabnya, tim COP Borneo setiap pagi dan sore selalu meletakkan makanan orangutan sembari mengecek keberadaan orangutan di pulau.

Tiga hari berlalu, tim mulai menyusun rencana untuk menarik Ambon ke kandang. Pertengahan April 2018, Ambon kembali ke kandang karantina. Tim medis mengamati Ambon lebih detil lagi. Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi yang merupakan ahli antropologi primata juga tak lepas dalam mengamati Ambon.

“Akhirnya Ambon mau makan.”. Ambon terlihat lebih nyaman berada di dalam kandangnya. Memang tidak mudah merubah sebuah kebiasaan. Apalagi sudah terbiasa selama puluhan tahun. Tim hanya bisa merencanakan kembali, kapan Ambon bisa kembali ke pulau. Bagaimana pun, Ambon berhak hidup tanpa jeruji besi.

SIDANG KEDUA KASUS KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru di tubuhnya sudah memasuki sidang kedua. Rabu, 16 Mei 2018 di Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli menghadirkan drh. Felisitas Flora S.M dari Centre for Orangutan Protection dan Yoyok Sugianto dari BKSDA Kaltim.

Kematian orangutan yang diotopsi pada tanggal 6 Februari 2018 yang lalu memastikan bahwa orangutan berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun. Dari hasil rontgen ditemukan 74 peluru pada kepala, 9 peluru pada tangan kanan, 14 peluru pada tangan kiri, 10 peluru pada kaki kanan, 6 peluru pada kaki kiri dan 17 peluru pada dada. Namun tim otopsi hanya mampu mengeluarkan 48 peluru senapan angin.

“Ini adalah kasus orangutan dengan peluru terbanyak yang pernah ada. Mudahnya kepemilikan senapan angin ini adalah salah satu penyebab satwa liar menjadi sasaran kebrutalan senapan angin. Teror senapan angin terjadi dimana saja. Peluru senapan angin tidak langsung mematikan, namun jika jumlahnya sebegitu banyak akhirnya membuat orangutan tak berdaya.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

Orangutan tersebut juga ditembak pada kawasan dimana seharusnya dia terlindungi. Taman Nasional Kutai dengan status kawasan konservasi masih juga tak bisa melindungi satwa liar yang dilindungi UU Nomor 5 Tahun 1990. Keempat tersangka masih akan menjalani sidang lanjutan yang akan dilaksanakan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan tersangka. (REZ)

HERCULES TERLIHAT RENOVASI SARANG LAMA

Sebulan sudah Hercules menghuni pulau orangutan sendirian. Tanpa orangutan Ambon yang terlihat lebih besar dan dominan, Hercules menjadi lebih leluasa menjelajah pulau. Berita menggembirakan dari perkembangan Hercules. Hercules terlihat memperbaiki sarang lama bekas orangutan Novi.

“Tak lama setelah Hercules sibuk di sarang lama bekas Novi, hari menjadi gelap. Dan Hercules masih tetap disitu dan tak bergerak. Kemungkinan dia benar-benar tidur di sarang ini.”, ujar Inoy saat mengamati pulau dari camp pantau.

“Ini adalah berita yang menggembirakan. Permulaan yang baik untuk perkembangan Hercules. Harapan itu tak pernah putus, kami di COP Borneo pun menjadi lebih bersemangat lagi. Bahwa tak ada yang tak mungkin!”, tegas Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi COP Borneo.

Hercules adalah orangutan jantan dari kebun binatang, tepatnya Kebun Raya Unmul Samarinda/KRUS. Tahun 2010 yang lalu, Hercules adalah orangutan yang sangat nakal hingga berulang kali keluar dari kandang tanpa jeruji besi/enclosure untuk makan dari warung. Tubuhnya yang besar sempat membuat takut animal keeper yang lain. Namun perkembangan Hercules seperti berhenti, orangutan yang seumuran dengannya berkembang lebih pesat lagi seiring dengan kemampuan bertahan di alam mereka. Seperti membuat sarang, memanjat, mencari pakan alami bahkan bertahan hidup dengan berkelahi dengan orangutan lainnya. Orangutan lainnya, yang sebelumnya menghuni pulau orangutan bersama Hercules sedang menjalani masa karantina untuk pelepasliaran kembali ke habitatnya. Sementara Hercules ditinggal karena kemampuannya bertahan hidup dianggap tidak memenuhi prasyaratan pelepasliaran tersebut. “Kini, kami bisa kembali berharap, Hercules pun punya harapan untuk kembali ke habitatnya.”, ujar Inoy dengan semangat. (NOY)

COP BORNEO NEED HANDY TALKIE

Smart Phone sudah menjamur menjadi kebutuhan primer yang akan selalu diutamakan untuk bepergian kemana saja. Kantor, warung, pantai ataupun ke tempat pacar. Bahkan bagi beberapa orang, lebih memilih ketinggalan dompetnya dibandingkan ketinggalan smart phone miliknya. Kebutuhan fungsi dari smart phone sendiri sudah dirasa sangat penting dalam menjaga komunikasi di sektor pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Hampir seluruh hal bisa dilakukan dengan smart phone seperti SMS, berbicara, nonton TV, edit foto maupun video bahkan untuk mengerjakan laporan. Komunikasi menjadi hal yang sangt penting bagi kehidupan sekarang. Ini semua tergantung dengan ketersediaan sinyal telepon maupun internet. Lantas bagaimana dengan nasib orang-orang yang tinggal di hutan?

Tidak adanya sinyal membuat fungsi smart phone berkurang lebih dari 50%. Smart phone hanya berfungsi menjadi kamera, mendengarkan musik, main game dan mengetik sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup di hutan dan tanpa sinyal, konflik antar manusia sangatlah rentan terjadi, hal ini disebabkan seringnya mis komunikasi diantara mereka. Kami hanya bisa berkomunikasi jarak dekat. Jika berbeda lokasi, hanya bisa menyampaikan pesan lewat teman yang akan bertemu dengan orang tersebut. “Untuk langsung berteriak? Wah… mustahil karena jarak yang lumayan jauh.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo. “Ini cukup menghambat pekerjaan, karena harus saling tunggu menunggu.”, tambahnya lagi.

Dalam maktu dekat ini, COP Borneo akan melepasliarkan 2 individu orangutan terbaiknya. Akan ada 2 titik lokasi rilis dengan 2 tim monitoring. Handy Talkie akan menjadi satu hal vital untuk melancarkan kegiatan ini. Bantu kami yuk lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

ABU VULKANIK MENYELIMUTI PAKEM, YOGYAKARTA

Letusan gunung Merapi pada Jumat pagi yang terlihat dari camp APE Warrior Yogyakarta ternyata mempunyai tinggi kolom 5.500 m dari puncak kawahnya. Gunung Merapi yang berada di kabupaten Klaten, Magelang, Boyolali dan Sleman itu melontarkan abu vulkanik, pasir dan meterial piroklatik.

“Letusan yang terjadi adalah letusan freatik yaitu akibat dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah gunung Merapi.”, kata Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui rilis.

“Status gunung Merapi hingga saat ini masih tetap normal (level I) dengan radius berbahaya di 3 km dari puncak kawah.”.

Hujan abu pun sampai di camp APE Warrior. Tim APE Warrior bersama Orangufriends Yogyakarta segera berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan assessment awal untuk penanggulangan bencana jika diperlukan nantinya. Tim menaikkan drone di kecamatan Pakem, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada siang harinya. Abu vulkanik telah menyelimuti kecamatan ini.

PERAHU “WAY BACK HOME” KEMBALI BERTUGAS

Setelah menjalani perbaikan, perahu ‘Way Back Home’ kembali bertugas. Perahu ini adalah perahu pertama yang diperoleh dari hasil keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang dikoordinir Orangufriends (kelompok pendukung COP). Perahu ini berfungsi seperti sepeda motor jika di daratan. Perahu ini mengantarkan makanan orangutan yang berada di pulau, bahkan mengangkut orangutan untuk dibawa ke kandang karantina sebelum dilepasliarkan nantinya. Perahu ini juga mondar-mandir berpatroli untuk memastikan keselamatan orangutan di pulau.

Kebocoran perahu sudah ditambal, pengecatan ulang juga membuat perahu terlihat seperti baru. Semangat tim di camp monitoring untuk kembali mengendarai perahu tak bisa dibendung lagi. “Penasaran, perahu benar-benar sudah sembuh atau masih ada air yang berusaha masuk.”, ujar Danel penasaran.

Saat perahu mulai di turunkan, pemasangan mesin dan… “Yes… selamat datang kembali! Bersiap untuk tugas berat pelepasliaran orangutan Untung, Novi, Unyil dan Leci ya!”. (NOY)

Page 1 of 212