September 2017

SEMINGGU SEJAK AWAS GUNUNG AGUNG

Tepat seminggu COP membantu penanganan satwa pada bencana gunung Agung, Bali. Bekerja sama dengan Animals Indonesia, Bali’s Pet Crusader, BARC dan JAAN membangun penampungan sementara untuk satwa yang terdampak, mendistribusikan pakan ke anjing kucing maupun hewan ternak di desa-desa yang ditinggal mengungsi warganya. Ini bisa terlaksana setelah berkoordinasi dengan BNPB, Dinas terkait dan mendapat pengawalan dari Polsek setempat.

Terimakasih orangufriends yang telah bergabung langsung ke lokasi dan donasi melalui https://kitabisa.com/anjingkucingbali Tim APE Warrior adalah tim disaster relief yang telah bekerja sejak tahun 2010 untuk menangani bencana gunung Merapi di Yogya, gunung Kelud di Kediri, gunung Sinabung di Sumatera Utara. Tak hanya penanganan satwa pada bencana gunung berapi saja, tetapi juga gempa Bantul di Yogya, tanah longsor hingga banjir. APE Warrior dibantu orangufriends adalah tim tanggap bencana kebanggaan COP yang bergerak cepat dengan berkoordinasi dengan pihak terkait.

DICARI RELAWAN UNTUK CAMP LEJAK

Camp ini adalah camp yang telah kosong selama beberapa tahun. Camp yang dibangun dari program kerja Dinas Kehutanan/KPH dengan TNC ini sejak bulan Maret 2017 diperbaiki tim APE Guardian COP. Posisinya yang tepat di pinggir sungai Lejak ini pun kembali hidup dengan program monitoring dan patroli kawasan. Dalam seminggu ada 2-3 patroli kawasan untuk pengamanan kawasan sekaligus memantau pergerakan orangutan Oki dan menelisik potensi wisata.

Di camp Lejak inilah tim monitoring beristirahat malam hari. Camp Lejak dapat menampung 20 orang loh. Empat kamar dengan empat toilet serta satu dapur membuat camp lejak adalah tempat yang nyaman untuk disinggahi. Siapa nih yang tertarik untuk jadi relawan di sini?

COP memanggil orangufriends untuk menjadi relawan tim APE Guardian. Edukasi ke sekolah dan desa yang berbatasan dengan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), mitigasi konflik satwa liar, pemetaan potensi wisata alam dan budaya serta patroli pengamanan kawasan HLSL adalah tugas yang akan dikerjakan para relawan. Segera hubungi info@orangutanprotection.com ya.

RELAWAN SATWA GUNUNG AGUNG

Hari ke-6 berada di Bali untuk satwa gunung Agung yang berstatus Awas. Animals Indonesia, Bali’s Pet Crusader, BARC, Centre for Orangutan Protection dan JAAN hari ini ’street feeding’ di desa Jungutan dan Buana Giri kecamatan Bebandem, Bali. Wilayah dengan zona kuning di sisi tenggara gunung Agung atau radius sekitar 9 km dari kawah. Tidak seperti sebelumnya, kami tidak menemukan banyak anjing di wilayah ini.

Koordinasi dengan Polsek setempat adalah prosedur standar operasional tim #disasterreliefbali Selalu saja ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencari kesempatan di saat bencana terjadi. Beberapa hari yang lalu, warga menangkap pencuri dan relawan gadungan di desa yang ditinggal mengungsi. Itu membuat warga curiga jika ada orang asing yang masuk ke desa mereka. Pendampingan dari Polsek setempat juga untuk menjaga keselamatan tim karena gunung Agung bisa sewaktu-waktu meletus.

Terimakasih orangufriends Yogya dan Jakarta yang sudah bergabung untuk membantu APE Warrior dalam penanganan satwa bencana. “Keselamatan diri adalah yang utama.”, ujar Yulfianto Angga dari COP. “Namun satwa-satwa yang ditinggal pemiliknya juga makhluk bernyawa yang harus dibantu.”, tambahnya.

Kamu bisa bantu anjing kucing bencana gunung Agung Bali lewat https://kitabisa.com/anjingkucingbali Siapapun kamu, dan dimana pun kamu, bisa menjadi relawan sesungguhnya. (ANG)

WHEN BONTI SEPERATED WITH OWI

Even baby Bonti the Orangutan always with baby Owi, not that he always stuck like a glue in stamps on the envelope. Owi always had a way to get rid of his loyal followers… Bonti. The way Owi.. escaped and approached the animal keeper who was then invited him to go to the forest school. Bonti is most is most afraid of the animal keeper. Maybi Bonti traumatized with humans. “The baby’s orangutan is separated from her mother when the dog is pursuing the mother.”, Bonti\s founder said when asked by the APE Crusader team.

Over the past three months, Bonti has been practicing more often in the trees. “Climbing the tree though not too high is enough to make us happy,” said Wety Rupiana. Just look at how he tried to move from one tree to another. The movement of his feet make the animal keeper stand their ground, worrying Bonti might fell. “To Bad, Bonti still can not make a nest. He just broke the twigs and turned it into a toy. “, added Wety.

Hopefully the weather will be more friendlu, to keep the forest schools running every day. “We believe. the more they practice in the forest school, the orangutan babies will accelerate more quickly. They must have their natural instincts, “said Reza Kurniawan, manager of the COP Borneo. (dhea_orangufriends)

SAAT BONTI TERPISAH DENGAN OWI
Walaupun bayi orangutan Bonti selalu bersama bayi orangutan Owi, bukan berarti dia selalu menempel seperti perangko menempel pada amplop. Owi selalu ada cara untuk lepas dari pengikut setianya… Bonti. Caranya… Owi melarikan diri dan mendekati animal keeper yang saat itu mengajaknya ke sekolah hutan. Bonti memang paling takut dengan animal keeper. Mungkin, Bonti trauma dengan manusia. “Bayi orangutan betina ini terpisah dari induknya saat anjing mengejar induk orangutan ini.”, ujar penemu orangutan Bonti saat ditanyai tim APE Crusader.

Selama tiga bulan terakhir, Bonti semakin sering berlatih di pohon. “Memanjat pohon walau tak terlalu tinggi sudah cukup membuat kami bahagia.”, ujar Wety Rupiana. Lihat saja bagaimana dia mencoba berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Gerakan kakunya membuat para animal keeper berjaga-jaga, kawatir Bonti terjatuh. “Sayang, Bonti masih belum bisa membuat sarang. Dia hanya mematah-matahkan ranting dan dijadikan mainan.”, tambah Wety.

Semoga saja cuaca semakin bersahabat, agar sekolah hutan tetap berjalan setiap hari. “Kami berkeyakinan, semakin sering mereka berlatih di sekolah hutan, bayi-bayi orangutan akan semakin cepat menyesuaikan diri. Mereka pasti punya insting alaminya.”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

COP BORNEO ORANGUTAN FUNDRAISING TOUR – MARCH 2018

Ini adalah salah satu cara kamu berdonasi untuk orangutan. Ikut perjalanan COP Borneo Orangutan Fundraising di bulan Maret 2018. Selama delapan hari dengan grup kecil akan menyaksikan orangutan, beruang madu dan kehidupan satwa liar lainnya termasuk mengamati burung. Tak hanya menikmati hutan hujan tropis Kalimantan, tapi keindahan dan keunikan budaya Dayak yang merupakan suku asli Kalimantan pun ikut menyapa kamu.

Orangutan adalah satwa unik yang mirip sekali dengan manusia. Kunjungan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan oleh putra putri Indonesia akan membawa kita ke suasana lokal yang kental. COP Borneo dijalankan oleh anak muda lokal dengan mimpi untuk mengembalikan orangutan ke alam sebagi rumah terbaik orangutan.

Hardi Baktiantoro si pendiri Centre for Orangutan Protection (COP), akan menemani perjalananmu di COP Borneo Orangutan Fundraising. Tak hanya Hardi, tapi Leif Cocks yang juga merupakan pendiri The Orangutan Project (TOP) akan berbagi pengalaman denganmu, bagaimana menyelamatkan orangutan dan melepasliarkan kembali orangutan ke alam. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa bertemu dengan keduanya, mendengarkan pengalaman nyata mereka di dunia konservasi orangutan.

Tunggu apalagi? Segera daftarkan keikutsertaanmu di COP Borneo Orangutan Fundraising Tour. Just click http://www.orangutanodysseys.com/EXPEDITIONS/INDONESIA/Expeditions/Detail/COP%20Borneo%20Orangutan%20Fundraising%20Tour%20-%20March%202018&xpdkey=COPBOFT/referrer_source=COP

TOLONG ANJING KUCING DI GUNUNG AGUNG

Ketika terjadi bencana alam seperti gunung meletus, apa yang terjadi dengan satwa peliharaan? Sebagian dari mereka akan tewas saat itu juga dan yang bertahan hidup akan mati kelaparan dan kehausan karena ditinggal pemiliknya yang mengungsi.

Seperti kata penyumbang di https://kitabisa.com/anjingkucingbali ,”Anjing dan kucing adalah anggota keluarga kita, namun sering sekali tertinggal ketika kita menyelamatkan diri dari bencana alam.”.

Sejak tahun 2010, COP dengan tim APE Warriornya bekerja menyelamatkan binatang apapun, baik yang liar maupun domestik di berbagai bencana alam seperti lutusan gunung Merapi di Yogyakarta, gunung Sinabung di Sumatera Utara maupun gunung Kelud di Kediri. Kini tim sedang bekerja di gunung Agung, Bali.

Kami memberikan pengobatan, makan, minum dan memelihara dalam shelter darurat serta menguburkan yang sudah mati dengan layak. COP memanggil Orangufriends untuk terlibat langsung menangani satwa bencana gunung Agung, Bali. Bantu kami lewat https://kitabisa.com/anjingkucingbali

MALAM HARI DI CAMP LEJAK

Saat teman-teman pulang dari monitoring adalah saatnya makan malam bersama. Rejeki bagi penyuka ikan, di sinilah tempatnya. Herlina, sang juru masak tinggal minta tambahan lauk maka abang Bit dan abang Yusak segera turun ke sungai di depan camp Lejak. Sesaat menebar jala dan lauk tambahan pun tersedia di dapur.

Lelah berjalan di hutan ketika mengikuti orangutan Oki berkurang dengan sambutan hangat teman-teman di camp Lejak. Begitulah kami saling mendukung satu sama lainnya. Bercerita maupun mendengarkan cerita dan bercanda-gurau menjadikan camp Lejak hangat.

Malam berganti pagi, penat kemarin pun berakhir. Meja ini adalah saksi kekeluargaan APE Guardian. Terimakasih pendukung COP dimana pun berada, dukungan kalian adalah semangat kami. Kami tidak sendiri. (NIK)

APE WARRIOR UNTUK SATWA GUNUNG AGUNG

Gunung tertinggi di pulau Bali ini dinyatakan berstatus Waspada pada 14 Juli 2017 yang lalu. Ini berarti berada di level II untuk gunung berapi yang aktif. Radius 3 kilometer dari kawah gunung pun menjadi steril, tidak boleh ada aktivitas pada radius tersebut.

Sejak itu pula, intensitas kegempaan menjadi lebih sering. Dan pada Senin, 18 September, Gunung Agung yang terletak di kabupaten Karangasem, Bali ditetapkan berstatus Siaga. Penduduk sekitar gunung mulai mengungsi secara mandiri.

Terhitung Jumat, 22 September 2017 pukul 20.30 WITA, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementrian ESDM mengumumkan kenaikan status gunung Agung ke level IV yaitu menjadi Awas. Radius larangan untuk tidak beraktivitasi di 9 kilometer hingga wilayah sektoral 12 kilometer pun dikeluarkan.

Keesokan paginya, Centre for Orangutan Protection (COP), Animals Indonesia, JAAN dan Bali Dong Adoption Rehabilitation Centre (BARC) langsung turun ke lapangan dan memberi pertolongan pada satwa-satwa yang membutuhkan. Berkoordinasi dengan pihak terkait pun dilakukan agar bantuan lebih tepat sasaran.

APE Warrior dengan pengalamannya menangani bencana gunung berapi pun meluncur ke pulau dewata ini bersama satu relawan. Peralatan dan perlengkapan pun memenuhi tim legendaris ini. Semoga sampai ditujuan dan segera bisa membantu satwa yang terdampak bencana gunung Agung.

APE GUARDIAN MONITORING OKI

Kegiatan pasca pelepasliaran orangutan rehabilitasi adalah monitoring orangutan tersebut. Ini adalah bagian terberat yang harus dilakukan. Harus punya fisik kuat, kemampuan survival memadai dan mental yang tangguh. Inilah kemampuan tim APE Guardian COP untuk memastikan orangutan Oki, mampu bertahan di alam.

Monitoring dilakukan setiap hari mulai pukul 04.00 WITA hingga 19.00 WITA. Saat matahari belum muncul hingga matahari hilang di ufuk Barat. Tim mencatat setiap hasil pengamatan sepanjang waktu itu. Jenis sarang yang dibuat Oki, makan apa saja, cuaca, lokasi dan aktivitas Oki keseluruhan. Bukan hal mudah mengikuti pergerakan orangutan yang selalu berada di atas pohon. Sementara tim harus mencari jalan namun tak boleh kehilangan orangutan Oki.

Tim Monitoring didukung tim logistik. Tanpa kerjasama ini, mustahil sukses. Perjalan mengikuti dan kembali camp sudah sangat menguras tenaga, itu sebabnya, tim logistik mendukung penuh tim monitoring ini, termasuk konsumsi dan tidurnya tim monitoring.

Anen dan Jhonny dengan supervisi Reza Kurniawan mengisi formulir data dan catatan penting lainnya. Mereka berdua adalah dua orang yang paham karakter Oki selama di pulau orangutan. Sementara dua orang lokal bertanggung jawab sebagai pemandu jalur lapangan.

Seperti apa hasil monitoring Oki? Ikuti terus #OKIisOK! ya. (NIK)

PELIHARA ELANG MELANGGAR HUKUM

Pemberitaan media cetak dan online tentang penangkapan pedagang elang brontok pada 11 September menyadarkan ibu Masriah, bahwa dia melanggar hukum. Ibu Masriah pun akhirnya menyerahkan dua elang laut (Haliaeetus heucogaster) kepada BKSDA Pos Sampit dibantu Manggala Agni dan APE Crusader.

Menurut keterangan warga kecamatan Mentaya Baru Ketapang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini, kedua elang dipeliharanya selama enam bulan. Kedua elang dimasukkan ke dalam kandang berukuran 5×6 meter dan diberi makan ikan setiap pagi dan sore hari.

“Serah-terima ini adalah contoh kesadaran masyarakat dalam memahami bahwa elang adalah satwa yang termasuk dilindungi UU No. 5 Tahun 1990.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

Keesokan harinya, elang-elang dibawa ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun dan bersiap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya untuk menjalani perannya dalam rantai makanan. “Elang adalah predator puncak pada rantai makanan yang mempunyai peran sangat penting di alam liar. Membiarkan satwa liar di alam adalah tindakan terbaik manusia untuk kelestarian alam.”, kata Faruq Zafran, kapten APE Crusader COP. (Petz)

Page 1 of 3123