PENYERAHAN BUAYA MUARA KUALA PEMBUANG

Jumat, 21 Juli 2017, BKSDA Pos Sampit bersama APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection mengevakuasi buaya muara (Crocodylus Porosus) yang ditemukan warga desa Persil Raya, Seruyan Hilir, Kalimantan Tengah.

Sejak Senin, 17 Juli buaya itu berada di parit belakang gudang alat berat dan minyak PT. Buih Seruyan. “Waktu itu saya dikagetkan kedatangan buaya yang besar tepat di bawah tempat tidur saya. Saya lari dan sempat dikejar, namun buaya menceburkan diri ke parit yang berada di belakang gudang.”, ujar Mustarhin (40 tahun).

“Selama 15 tahun, baru kali ini buaya masuk ke dalam. Mungkin buaya ini masuk dari sungai Seruyan untuk mencari makan.”, tambahnya.

“Penyerahan buaya muara yang dilindungi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya ini adalah atas kesadaran warga masyarakat untuk melindungi satwa liar ini dari ancaman gangguan habitat dan konflik terhadap masyarakat.”, demikian penjelasan Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

“Kami mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam penanganan konflik satwa liar.”, kata Faruq dari Centre for Orangutan Protection. “Satwa liar apapun akan terus terdesak dan semakin mendekat ke manusia jika habitat yang menjadi tempat tinggal dan mencari makannya terganggu.”, tegas Faruq lagi. Selanjutnya, buaya akan dilepasliarkan kembali ke tempat yang lebih aman. (Petz)

COMBATTING WILDLIFE TRAFFICKING

Raku is Crested serpent eagle (Spilornis cheela bido) who was brought malnourished with a big wound on his chest. Raku must have been kept as a pet, looking at the primaries feathers that has been cut. This is the second day Raku here and don’t even ask if he is okay or if he could already fly, he couldn’t even stand or move his own two feet. That is the story from Grace Tania, member of Orangufriends Malang who is now doing an internship in Pusat Konservasi Elang Kamojang (Eagle Conservation Center, Kamojang).

Conservation world is not an easy world. Time, energy and mental are drain when we have to face the animals. The animals condition must not be in their best. So, are you still going to keep wild animals as a pet? Are you going to join the ‘animal lover’ community? Are you going to still buy wild animals?

Disconecting the circle of wildlife trade is not an easy task to do. For the last seven years Center for Orangutan Protection has been marching on many wars in wildlife trading. The movement of the transaction that is growing larger in Social Media is now happening. The seller can always accessing the transaction from anywhere and anytime. The growing of ‘wild animals lover community’ is also supporting the wildlife trade.

“The concerns and supports from orangufriends (COP supporters) are what keeps us going; fighting the wildlife trade. “, said Hery Susanto. “Their spirit is what keeps us going, that it is not just us insanely dreams wild animals are supposed to be in their habitats.”
(Grace_Orangufriends)

Raku adalah elang ular juvenile. Raku dibawa dalam kondisi malnutrisi dan dengan luka besar di bagian dada. Raku dulunya sudah pasti dipelihara orang, terlihat dari bulu primernya yang dipotong. Ini sudah hari kedua semenjak Raku diantarkan, tidak usah bertanya apa dia bisa sehat dan terbang, untuk berdiri saja dia belum bisa. Itulah cerita Grace Tania, anggota Orangufriends Malang yang saat ini sedang di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Garut.

Dunia konservasi adalah dunia yang tidak mudah. Waktu, tenaga dan mental terkuras saat berhadapan langsung dengan satwa. Kondisi satwa yang dihadapi sudah pasti tidak dalam kondisi terbaiknya. Lalu… kamu masih memelihara satwa liar? Lalu kamu tetap bergabung dengan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa? Kamu masih membeli satwa liar?

Memutus rantai perdagangan satwa liar bukanlah hal yang mudah.
Tujuh tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection berusaha memerangi perdagangan satwa liar ini. Pergeseran transaksi pedagang mulai dari pasar burung ke dunia media sosial pun terjadi. Perdagangan pun semakin marak dengan semakin mudahnya akses internet di seluruh penjuru bumi. Kemunculan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa semakin mendukung perdagangan via online ini.

“Kepedulian orangufriends (kelompok pendukung orangutan) memberi semangat baru kepada kami, untuk terus memerangi kejahatan terhadap satwa liar.”, ujar Hery Susanto. “Semangat mereka menjadi semangat kami, bahwa tak hanya kami, yang gila, bermimpi, satwa liar tempatnya di alam.”. (Grace_Orangufriends)

5 ELANG JAWA DISELAMATKAN DARI PEDAGANG

Operasi penggerebekkan bersama Gakkum KLHK Jabalnusa, Polres Malang dan Animals Indonesia pada Jumat, 14 Juli 2017 di desa Pakisjajar, kecamatan Pakis, kabupaten Malang, Jawa Timur berhasil menyelamatkan 17 individu satwa liar. Dari ketujuh belas satwa tersebut, setelah tiba di Pusat Konservasi Elang Kamojang di Garut, Jawa Barat mengalami koreksi. 15 individu elang yang dimaksud adalah 5 individu elang jawa bukan 3 seperti yang diberitakan sebelumnya. Ini cukup mengejutkan, elang jawa yang merupakan lambang negara Republik Indonesia ini atau yang sering disebut garuda ini adalah elang yang paling sulit ditemukan. Pada tahun 1992, elang jawa atau Nisaetus bartelsi ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. Bahkan organisasi koservasi dunia IUCN memasukkan elang jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam punah).

“Elang Jawa adalah satwa endemik pulau Jawa yang sangat langka dan terancam. Perburuan dan perdagangan menjadi ancaman serius selain kehilangan habitat. Operasi pertengahan Juli kemaren merupakan tangkapan terbesar untuk perdagangan elang.”, ujar Daniek Hendarto, manajer aksi Centre for Orangutan Protection. Ada 5 elang jawa, 3 elang hitam, 4 elang brontok, 1 elang alap tikus dan 2 individu elang yang unidentified karena masih terlalu bayi (kurang dari 2 minggu). “Ini adalah kejahatan serius. Putusan hukum akan menanti dari dua pedagang yang lakukan jual beli satwa dilindungi ini.”, tegas Daniek.

Kelimabelas elang tiba di Kamojang, Garut setelah melalui perjalan darat selama 24 jam. Dari tersangka di dapat infoemasi, tersangka memperoleh elang dari daerah Jawa Barat. Setelah dilakukan pemeriksaan medis secara umum, semua elang dalam keadaan baik dan berpotensi untuk dilepasliarkan, dalam artian tidak cacat.

“Jangan beli satwa liar! Jangan jual satwa liar! Atau kamu berhadapan dengan APE Warrior!”.

SHANTI, PENGUASA DAPUR COP BORNEO

Shanti dengan badannya yang kecil, cantik dan cekatan memastikan “amunisi” untuk para staf COP Borneo. Amunisi yang dimaksud, bukanlah untuk senapan, namun merupakan makanan pagi, siang dan malam yang akan dikonsumsi para staf. Shanti meracik bumbu, memasak hingga menjadi hidangan. “Saya bangun paling awal dan memulai memasak ketika aktivitas teman-teman belum di mulai. Teman-teman harus sarapan dulu sebelum beraktivitas.”, ujar Shanti bagian rumah tangga COP Borneo.

Usia Shanti tergolong muda, dia kelahiran 1996 di Bulungan, Kalimantan Utara. Kedua orangtuanya berasal dari suku dayak. Sejak Juni 2016, Shanti bergabung di COP Borneo. Memastikan perlengkapan COP Borneo bersih, menyusun daftar belanjaan, mengatur menu makanan dan kapan harus belanja bahan kebutuhan pokok harus dijalaninya. Jarak pasar dengan COP Borneo sekitar 1,5 jam sekali tempuh, maka Shanti harus teliti dalam perhitungan dan penentuan daftar belanja.

Ketika ditanya masakan apa yang menjadi favorit teman-teman COP Borneo, Shanti menjawab sambil tertawa, “Mendoan. Teman-teman sangat suka mendoan. Mendoan adalah tempe yang digoreng dengan larutan tepung bumbu dan digoreng tidak kering.”.

Mau tahu suka duka bekerja di COP Borneo versi Shanti? “Sukanya kerja di sini, saya punya banyak saudara dan pengalaman yang sangat berbeda. Dukanya… jika hujan dan bahan makanan habis.”. Tapi jangan kawatir, “Shanti akan mengambilkan sayuran dari ladang ibu dan bapaknya ketika bahan habis dan belum waktunya turun ke kota untuk belanja.”, ujar Shanti dengan senyum lepas. (WET)

THREE GARUDA RESCUED FROM TRADER

Garuda which is the symbol of the Republic of Indonesia is observed more closely resemble the Java Eagle (Javanese Hawk-Eagle).This eagle had a characteristic appearance of black crest towering up that emerge when it reach the age of mature adult. Javanese Hawk-Eagles include in to the Government Regulation No.7 of 1999 for Protected Animals. Any action of capturing, hunting, sale and purchase, and ownership of any reason (such as falconry, Javanese Hawk-Eagle) can be sentenced to a maximum imprisonment of 5 years. This punishment is still relatively mild.

The Javanese Hawk-Eagle is a monogamous animal, i.e; during it’s life, it has only one partner. Threats that usually arise are, eagle eggs are preyed by other animals or deliberately taken by humans. When it grows, eagles are a high-level predators, and are the top consumer in animal kingdom. The difficulty in reproducing and the important role of the eagle makes trafficker punishment and eagle ownership too light.

Friday, July 14th, 2017 Gakkum KLHK together with Polres Malang. Animals Indonesia and COP managed to rescue 3 Javanese juvenile eagles from two suspects of wildlife traders. The two suspects in this one residence area, know each other.

“Concerned and angry . How they (the suspects) do not care about the existence of Javanese eagles in nature. These traders have been operating long enough and we have observed them. This is the first time with a considerable evidence. Even the biggest we’ve ever dealt with.”, said Hery Susanto, coordinator of Anti Wildlife Crime from the Center for Orangutan Protection. (Dhea_Orangufriends)

TIGA BURUNG GARUDA DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Burung Garuda yang merupakan lambang negara Republik Indonesia jika diamati lebih teliti lagi akan menyerupai Elang Jawa (Javan Hawk-Eagle). Ciri khas yang muncul saat mulai dewasa dari burung elang ini adalah munculnya jambul menjulang ke atas berwarna hitam. Elang Jawa termasuk satwa yang dilindungi PP No 7 tahun 1999. Setiap tindakan penangkapan, perburuan, jual beli dan kepemilikan atas alasan apapun (seperti falconry, elang jawa) dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 5 tahun. Hukuman ini pun masih tergolong ringan.

Elang Jawa termasuk hewan monogami, yakni selama hidupnya, dia hanya memiliki satu pasangan. Ancaman yang biasanya muncul adalah, telur-telur elang tersebut dimangsa oleh hewan lain atau sengaja diambil manusia. Saat tumbuh besar, elang merupakan predator tingkat tinggi, dan merupakan hewan konsumen puncak. Sulitnya bereproduksi dan peran elang yang penting membuat hukuman pedagang maupun kepemilikan elang terlalu ringan.

Jumat, 14 Juli 2017 Gakkum KLHK bersama Polres Malang, Animals Indonesia dan COP berhasil menyelamatkan 3 elang jawa remaja dari 2 orang tersangka, pedagang satwa liar. Kedua tersangka yang berada pada satu perumahan ini, saling mengenal.

“Prihatin dan marah. Betapa mereka (tersangka) tidak peduli keberadaan elang jawa di alam. Para pedagang ini sudah cukup lama beroperasi dan kami amati. Baru kali ini berkesempatan dengan barang bukti yang cukup besar. Bahkan yang paling besar yang pernah kami tangani.”, tegas Hery Susanto, koordinator Anti Wildlife Crime dari Centre for Orangutan Protection. (YUN)

UPDATE: AMBON TODAY

Ambon adalah orangutan tertua di COP Borneo. Usianya berkisar 25-27 tahun. Ambon berada di COP Borneo sejak 11 April 2015. Jantan dewasa ini adalah pribadi yang baik dan tenang dengan siapa pun.”Ambon tidak agresif dan menyerang manakala ada aktivitas animal keeper di area kandangnya.”, ujar Danel, koordinator Animal Keeper.

Berbeda dengan orangutan dewasa lainnya yang berada dalam satu blok yaitu Debbie dan Memo. Ambon yang dikenal animal keeper memang berbeda. Tenang, kalem dan bukan tipikal perusak yang jahil.

Pola makannya juga sangat santai dan tidak tergesa-gesa seperti Memo maupun Debbie. “Ambon sangat suka makan kelapa da buah nangka.”, tambah Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Peluang Ambon untuk dikembalikan ke habitatnya cukup berat. “Namun, semoga harapan kedua dengan cara membuat enclosure untuk masa tuanya dapat terwujud.”, harapan Reza Kurniawan.

Umur yang tua dan tingkat keliaran yang kurang memadai membuat Ambon harus tinggal di COP Borneo. Danel dan animal keeper yang lain berusaha membuat enrichment yang bisa menarik dan menghabiskan waktu cukup lama, agar Ambon asik dengan enrichment tersebut. Enrichment ataupun pengayaan sangat diperlukan. Apakah kamu punya ide untuk membuat enrihment untuk Ambon?

Bantu kami dengan membeli COP_merchandise di instagramnya COP. Atau kamu bisa langsung berdonasi lewat http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Terimakasih.

DUA PEDAGANG SATWA LIAR DITANGKAP DI MALANG

Tengah malam ini, akan menentukan hasil besok. APE Warrior masih koordinasi dengan Gakkum KLHK untuk operasi penggerebekkan pedagang satwa liar. Peninjauan ke lokasi pun tak luput dari persiapan. “Pagi tadi, elang yang ditawarkan masih lengkap. Elang jawa masih dijemur.”, begitu kata Suwarno dari Animals Indonesia.

Pagi, 14 Juli 2017, Gakkum KLHK yang dipimpin pak Gunawan meluncur bersama Polres Malang ke rumah tersangka. Tim dibagi dua, penggrebekkan dilakukan bersamaan. Jarak rumah tersangka A dan D hanya terpaut 200 meter. “Kita akan membagi tim menjadi dua. Kita lakukan bersamaan, sepertinya tersangka saling mengenal karena mereka bertetanggaan. Tersangka juga sangat profesional, mereka tidak pernah mau bertatap muka langsung. Media sosial dan kemudahan bertransaksi saat ini sangat memudahkan langkah tersangka.”, ujar pak Gunawan.

Sesampai di lokasi, pedagang tertangkap tangan bersama satwa dagangannya. Dari rumah tersangka A diperoleh 10 satwa liar, sementara dari rumah tersangka D diperoleh 7 satwa liar. Dari total keseluruhan, ada 3 elang jawa (Nisaetus bartelsi), 8 elang brontok (Spizaetus cirrhatus), 3 elang hitam (Icticaetus malayensis dan 1 elang alap tikus (Elanus caeruleus). Selain elang, turut diamankan 1 ekor ular sanca kembang (Phyton reticulates) dan 1 burung hantu.

Dari pengakuan tersangka, harga jual elang secara online sekitar satu hingga lima juta rupiah. Kelima belas elang ini adalah bukti, tingginya permintaan elang di pasar perdagangan satwa liar. Tingginya permintaan ini didukung oleh ‘pecinta’ atau kolektor. Menjamurnya komunitas pecinta raptor lebih memperburuk keberadaan elang di alam.

MAKING NEST IN THE CAGE

This is the most ambiguous words for many people. Nest in the cages? Nest supposed to be on the trees, that’s more like it. It was the fact that we found at the Orangutan Rehabilitation Centre.
 
Usually, in the wild, in every day or afternoon, orangutan make nest on top of the tree. Day nest that orangutan makes was used for napping, after their daily routine looking for food. Meanwhile the afternoon nesting was made as night approaches for longer rest. The nest consist of twigs and leaf that been arrange such way strong enough to sustain their weight. But what happen at the orangutan rehabilitation center? It will be a different story.
 
Orangutans separated from infants from the orangutan mother and illegally kept, accustomed to living in situations far from natural words. Starting from the diet, habits and other natural behavior becomes very different. Many orangutans in the rehabilitation center of COP Borneo have not been able to make nests and with their natural instincts, have been dulled by human behavior that humanize orangutans.
 
“The orangutan at the rehabilitation center will undergo a series of basic training when one day it will be released, one of which is making a nest,” said Reza Kurniawan, APE Defender captain.
 
One of the methods undertaken by the animal nurses is to provide various leaves and twigs that can be the practice of making nests. The response of orangutans to learn to make nests is very diverse, there is a strange feeling with the leaves and remove the leaves. There are also those who trample the leaves, even eat the leaves and twigs. This situation is not separated from the pattern of previous care.
 
“Orangutans at the rehabilitation center will try to restore their natural instincts before they are prepared for the wild-release program,” Reza explained. Surely this long process, takes months to years, depending on the orangutan intelligence is concerned.
 
“The block 2 COP Borneo enclosure is for infant and adult orangutans. We trained his natural instinct by putting the leaves into the cage with the goal of getting used to the leaves and making nests in their cages, “said Danel, animal keeper coordinator at COP Borneo. This process is done painstakingly by the animal keeper so that when at the forest school of these orangutans can have better instinct to make a nest and go to pre release island.
 
“This is a long process that is not cheap and not easy, but friends here try their best to get both orangutans’ chance to return home.” Reza Kurniawan hopes to be responsible for COP Borneo orangutan rehabilitation center. (Dhea_Orangufriends)

MEMBUAT SARANG DALAM KANDANG
Ini adalah sebuah tulisan yang sangat ambigu bagi banyak orang. Sarang kok di kandang? Sarang ya di pohon, itu baru benar. Itulah faktanya yang dapat dijumpai di pusat rehabilitasi orangutan.

Biasanya, di alam, pada setiap siang dan sore, orangutan akan membuat sarang di pohon. Sarang siang dibuat orangutan untuk istirahat siang, setelah di pagi hari beraktivitas mencari makan. Sementara sarang sore dibuat ketika malam menjelang untuk istirahat yang lebih lama. Sarang terdiri dari ranting dan daun yang ditata sedemikian rupa yang cukup kuat untuk menopang berat badan orangutan tersebut. Namun apa yang terjadi di pusat rehabilitasi orangutan? Itu akan berbeda cerita.

Orangutan yang terpisah sejak bayi dari induk orangutan dan dipelihara secara ilegal, terbiasa hidup dalam situasi jauh dari kata alami. Mulai dari pakan, kebiasaan dan perilaku alami lainnya menjadi sangat berbeda. Banyak orangutan yang berada di pusat rehabilitasi COP Borneo belum bisa membuat sarang dan dengan insting alaminya, telah tumpul karena perilaku manusia yang memanusiakan orangutan.

“Orangutan di pusat rehabilitasi akan menjalani serangkaian pelatihan dasar ketika kelak akan dilepasliarkan, salah satunya adalah membuat sarang.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Defender.

Salah satu metode yang dilakukan oleh para perawat satwa adalah dengan memberikan aneka daun dan ranting yang bisa menjadi bahan praktek membuat sarang. Respon orangutan belajar membuat sarang sangat beragam, ada yang merasa aneh dengan daun dan membuang daun tersebut. Ada juga yang menginjak-injak daun, memakan bahkan acuh pada daun dan ranting. Situasi ini tidak lepas dari pola perawatan terdahulu.

“Orangutan di pusat rehabilitasi, akan dicoba untuk mengembalikan naluri alaminya sebelum dipersiapkan ke program lepas liar.”, jelas Reza. Tentunya ini proses panjang, memakan waktu bulan hingga tahun, tergantung kecerdasan orangutan yang bersangkutan.

“Kandang blok 2 COP Borneo adalah untuk orangutan yang berusia masih bayi dan remaja. Kami melatih naluri alaminya dengan memasukkan daun ke dalam kandang dengan tujuan mereka terbiasa dengan daun dan membuat sarang di kandangnya.”, ujar Danel, koordinator animal keeper di COP Borneo. Proses ini dilakukan dengan telaten oleh animal keeper agar kelak ketika sekolah hutan para orangutan ini lebih bisa mengasai naluri membuat sarang dan lanjut menuju pulau pra pelepasliaran.

“Ini adalah proses panjang yang tidak murah dan tidak mudah, tapi teman-teman di sini mencoba yang terbaik agar kesempatan kedua orangutan untuk kembali ke rumahnya dapat terwujud.”, harapan Reza Kurniawan sebagai penanggung jawab pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. (WET)

PERAN TIM EDUKASI PADA KONSERVASI

COP Borneo memastikan bahwa setiap ruh dan nadi konservasi selalu berkelanjutan (diteruskan ke generasi berikutnya). Sebagai usaha hal tersebut, kami berusaha menumbuhkan pengetahuan yang tepat tentang usaha melestarikan satwa liar dan habitatnya. Tak terkecuali anak-anak desa Merasa yang tinggal tak jauh dari tempat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur.

Minggu, 9 Juli 2017, dengan konsep yang sederhana, kami mengenalkan berbagai macam satwa liar yang hampir punah yang berada di Kalimantan. Seperti Bekantan, Beruang Madu, Pesut Mahakam, burung Rangkong, Orangutan dan lainnya. Lewat media gambar berwarna dan permainan interaktif, kami berusaha memberi warna yang rileks dalam menyampaikan materi. Apalagi dengan sebuah nyanyian dan gerakan yang membuat peserta menjadi lebih tertarik dan mudah memahami. Tidak terlalu lama, hanya 1 jam, anak-anak dengan usia 5-12 tahun pun tak malu-malu lagi untuk berekspresi. Terlalu besar memang pesertanya, sekitar 80 anak. Panasnya siang itu dan derasnya keringat kami tak menyurutkan semangat untuk berbagi.

Pada akhirnya kami percaya, bahwa pendidikan juga berperan penting dalam perjuangan menyelamatkan orangutan dan satwa liar dari kepunahan. Benih kebaikan yang tumbuh dari anak-anak akan berkembang layaknya tumbuhan yang subur. Maka berharap akan buahnya yang juga manis dan sanggup melakukan perubahan bagi lingkungannya pun akan semakin menyala. Namun, merubah pola pikir membutuhkan kesabaran dan usaha yang terus menerus… dimulai dari yang kecil dan sekarang. Salam edukasi! (AlfaGasani_Orangufriends)

WE HAVE RESCUED HIM

A team from COP and Wildlife Authority have rescued and translocate orangutan him to a conservation forest. There are another 3 orangutans in the same location need to be rescued also.
Please don’t forget to donate through http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

Page 1 of 212