DOWN SYNDROM PADA ORANGUTAN

BKSDA Kalimantan Timur bersama BOS Foundation menyelamatkan orangutan albino pada awal bulan Mei 2017 ini. Berita ini menjadi viral, dimana kondisi orangutan yang terlihat tanpa pigmen yang memberi warna pada kulit, rambut dan mata seperti pada manusia yang terkena penyakit albinisme.

Lima tahun yang lalu, tepatnya 19 September 2011 dari tiga orangutan yang diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Centre for orangutan Protection (COP) terdapat satu orangutan yang terlihat berbeda. Evakuasi dari daerah Muara Wahau, Kalimantan Timur ini diduga menderita Down Syndrome. Demikian kesimpulan sementara setelah foto orangutan tersebut ditunjukkan kepada ahli primata dari Perth Zoo.

Down Syndrome adalah kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Anak orangutan yang berusia kira-kira 3 tahun tersebut memiliki penampilan fisik yang mirip dengan penderita Down Syndrom, yakni bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Matanya sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).

Orangutan Jimmy namanya, dengan ditemani handuk yang membalut tubuhnya. Menurut drh. Gunawan, “Jimmy menderita moon face, yaitu cacat mental yang mempengaruhi perkembangannya. Badannya seperti orangutan berusia 5 tahun, padahal umurnya diperkirakan 17-20 tahun. Usia dapat dilihat dari jumlah giginya yang 32 buah dan taringnya yang sudah panjang.”

Ternyata bukan hanya manusia, orangutan juga bisa menderita down syndrom. Wajar saja, kita memang memiliki DNA yang sama, sebanyak 97,3%.

Comments

comments

You may also like