HARI PERTAMA YANG MERUBAH DUNIAKU

28 Mei 2006. Siang bolong di Pusat Reintroduksi Orangutan Nyarumenteng. Ada pesan masuk : orangutan besar ditangkap pekerja di perkebunan kelapa sawit PT. Globalindo Alam Perkasa, anak perusahaan Musim Mas. Tim Penyelamat segera bersiap dan melaju ke arah kota Sampit, berburu dengan waktu, agar orangutan itu masih bisa diselamatkan. Lambat bisa mengakibatkan cacat tubuh atau kematian bagi orangutan. 

Kami mengemudi tanpa henti selama 6 jam melalui aspal yang pecah sana sini dilindas truk – truk pengangkut kelapa sawit yang melebihi batas muatan. Dari kota Sampit masih tambah 1 jam lagi ke arah Barat Daya, memasuki kawasan perkebunan kelapa sawit. Senja mulai turun. Perasaan saya remuk redam menyaksikan pohon – pohon yang baru saja dirobohkan oleh ekskavator. Benar – benar hancur lebur. Untuk mencapai perkebunan Musim Mas, saya harus melewati kawasan konsesi PT. Agro Bukit, anak perusahaan Goodhope Asia Holdings Ltd. Bram Sumantri, paramedis menyela,”Kita sudah me-rescue banyak orangutan dari Agro Bukit, mungkin akan terus berlanjut karena mereka sedang land clearing.”  

Tiba di PT. Globalindo Alam Perkasa sudah sekitar jam 7 malam. Tim langsung menuju ke kantor perkebunan. “Orangutan sudah tidak ada, sudah mati,” kata petugas keamanan. “Saya ingin lihat tubuhnya,” saya ngotot. Lalu kami dipandu ke belakang. Terlihat seorang polisi, yang mengaku bernama Teguh dari Polres Sampit, bersama dengan 2 orang petugas keamanan hendak menguburkan orangutan. Tak terasa, air mata saya meleleh. Apa yang dilakukan mereka sampai orangutan ini tewas? Kami memutuskan untuk membawa jenazah orangutan itu ke Nyarumenteng, malam itu juga. Besoknya akan dilakukan otopsi. 

Hasil otopsi tidak mengejutkan. Tim medis menemukan retak di tengkorak kepala si orangutan. Kemungkinan dipukul dengan benda keras dan tumpul. “Hampir 100% orangutan yang tertangkap perusahaan kelapa sawit menderita luka serius di tangan, kaki dan kepala,” kata Lone Droscher Nielsen, atasan saya waktu itu. “Untuk menangkap orangutan, para pekerja harus memukul kepalanya, lalu mengikat tangan dan kakinya dengan tali plastik atau kawat,” lanjutnya. 

Malamnya, saya tidak bisa tidur. Semua yang kusaksikan selama 24 jam terakhir sungguh menyiksaku, menakutiku, bahkan menghantuiku. Pada orangutan yang merupakan kerabat dekat manusia secara biologis saja kita berlaku sedemikian kejam, lalu apa yang bisa kita tawarkan pada species lainnya? Saya merasa benar – benar malu. Merasa tidak layak menyebut diri sebagai pecinta alam. Malam itu juga saya berjanji, untuk membalas dendam. 

Comments

comments

You may also like