March 2017

BAYI MADUN AKHIRNYA PUNYA HARAPAN

Senin, 20 Maret 2017 tim APE Crusader bersama BKSDA Pos Sampit pada pukul 13.00 WIB melakukan evakuasi bayi orangutan berumur sekitar 1 tahun di Desa Lempuyang Kecamatan Teluk Sampit.

Bayi orangutan yang diberi nama Madun ini berjenis kelamin jantan berumur sekitar 1 tahun dan sempat dipelihara selama 25 hari. Sebelumnya, Pak M. Aini diberi oleh seorang pemburu rusa yang menemukan bayi orangutan tersebut di perkebunan tempat ia berburu tak jauh dari desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit, kabupaten Kotawaringin Timur.

Orangutan Madun selama dipelihara dipakaikan pakaian layaknya seperti bayi manusia dan diberikan susu serta makanan ayam goreng dan tempe. Kemungkinan besar, inilah yang menyebabkan bayi orangutan ini terdapat benjolan di leher sebelah kiri, dikarenakan peradangan akibat makanan yang diberikannya.

Orangutan bukanlah satwa peliharanaan. Orangutan merupakan satwa liar yang 60% makanannya adalah buah-buahan, pucuk daun muda, serangga, tanah, kulit pohon dan kadang-kadang vertebrata kecil.

Segera hubungi info@orangutanprotection.com jika kamu melihat orangutan dipelihara. Orangutan adalah satwa yang dilindungi Undang-Undang No 5 tahun 1990. “Jangan pelihara Orangutan!”, tegas Faruq Zafran. (PETz)

SAATNYA KEBUN BINATANG HENTIKAN SESI FOTO BERSAMA SATWA LIAR

Pada tanggal 14 Maret 2017 telah terjadi sebuah tragedi yang menimpa seorang anak di Museum Satwa Jatim Park 2 saat ingin berfoto bersama Harimau. Harimau jenis Benggala itu melukai seorang anak berumur 4 tahun. Ini bukanlah kejadian yang pertama kalinya, satwa liar menyerang pengunjung yang ingin berfoto bersama dengan satwa liar.

Kebun binatang dibangun memiliki fungsi konservasi, pendidikan, penelitian dan sebagai benteng perlindungan bagi satwa liar di luar habitatnya. Kebun binatang seharusnya memberikan pendidikan yang baik dan benar akan kehidupan satwa liar kepada para pengunjung dan bukan hanya menonjolkan sisi eksploitasi satwa dengan melakukan sirkus dan foto bersama satwa liar.

Centre for Orangutan Protection (COP) menyampaikan sikap dalam kasus ini:

1. Sudah saatnya kebun binatang menghentikan segala kegiatan eksploitasi satwa seperti pertunjukkan sirkus dan foto bersama satwa liar karena adanya kejadian kejadian penyerangan ini membuktikan bahwa kontak secara langsung dengan satwa liar sangat membahayakan.

2. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah saatnya menerbitkan kebijakan baru tentang pelarangan sirkus satwa liar dan foto bersama satwa liar di lembaga konservasi karena ini bentuk edukasi yang tidak baik.

3. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan sanksi kepada pihak manajemen kebun binatang akan kelalalian ini. Dan tidak menutup kemungkinan tragedi ini akan terulang kembali jika masih ada pembiaran foto bersama satwa liar.

4. Sudah saatnya lembaga konservasi memberikan edukasi yang baik dan benar akan satwa liar, bukan hanya sekedar eksploitasi satwa lewat sirkus dan foto bersama satwa liar.

Centre for Orangutan Protection (COP) sudah memulai kampanye tolak sirkus dan tidak berfoto dengan satwa liar khususnya orangutan di lembaga konservasi sejak tahun 2011. Beberapa kebun binatang sudah komitmen menghentikan foto dan sirkus di kebun binatang seperti Kebun Binatang Surabaya (KBS), Maharani Zoo Lamongan dan Kebun Binatang Bandung. Kami sangat mengapresiasi penghentian kegiatan ini. Pengunjung tidak akan bisa belajar akan satwa liar secara baik dan benar dari sebuah panggung hiburan sirkus dan foto bersama satwa liar.

Untuk informasi dan wawancara silahkan menghubungi:

Hery Susanto
Koordinator APE Warrior COP

HP: 081284834363
email: hery@orangutan.id

LAGI, VONIS RENDAH UNTUK KEJAHATAN BESAR TERHADAP SATWA LIAR

Vonis rendah pelaku kejahatan satwa liar kembali terulang terjadi di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat. Pada hari Kamis 16 Maret 2017 Pengadilan Negeri Bandung manjatuhkan vonis kepada Kusnadi (65 tahun) berupa hukuman penjara 3 bulan dan denda Rp 1.000.000,00 akibat perbuatannya memperniagakan, menyimpan kulit, tubuh dan bagian-bagian lain satwa yang dilindungi. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa yaitu 5 bulan penjara dan denda Rp 1.000.000,00.

Kusnadi dijerat Undang-Undang No 5 tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Kusnadi adalah pemilik toko Old n New Shop di jalan RE Martadinata Bandung dimana pada tanggal 30 Juli 2015 tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dan Polda Jawa Barat dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Jakarta Animals Aid Network (JAAN) menggrebek toko Old n New karena memperjualbelikan bagian satwa satwa dilindungi. 
Saat menggrebek toko tersebut petugas mengamankan barang bukti berupa 5 opsetan Penyu, 11 tanduk rusa, 1 potongan kaki Harimau, 1 potongan kaki kancil, 2 kulit utuh kancil, 22 potongan kuku Macan,1 topi terbuat dari kulit Macan Tutul, 1 opsetan Trenggiling, 1 potongan gading gajah, 1 tengkorak Harimau jawa,1 opsetan Cendrawasih, 1 tengkorak Rusa,1 potongan kulit macan, 1 opsetan kepala rusa sambar, 1 opsetan kepala Beruang dan 7 buah potongan kulit Harimau(aksesoris/pedang).

“Ini merupakan sebuah bukti bahwa upaya penegakan hukum perdagangan satwa liar masih sangat lemah dimana pelaku hanya dijerat dengan hukuman yang ringan dengan barang bukti yang cukup banyak ditemukan di toko tersebut dan jelas diperjualbelikan. Barang bukti yang ditemukan di lokasi berupa 5 opsetan Penyu, 11 tanduk rusa, 1 potongan kaki Harimau, 1 potongan kaki kancil, 2 kulit utuh kancil, 22 potongan kuku Macan,1 topi terbuat dari kulit Macan Tutul, 1 opsetan Trenggiling, 1 potongan gading gajah, 1 tengkorak Harimau jawa,1 opsetan Cendrawasih, 1 tengkorak Rusa,1 potongan kulit macan, 1 opsetan kepala rusa sambar, 1 opsetan kepala Beruang dan 7 buah potongan kulit Harimau (aksesoris/pedang) adalah jumlah yang cukup besar dan seharusnya pelaku kejahatan ini mendapat vonis hukuman yang berat .”, Hery Susanto Koordinator APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection.

Upaya yang dilakukan pihak BKSDA Jawa Barat dan Polda Jawa Barat mengungkap kasus ini sangat kami apresiasi, namun ketika masuk ranah penggadilan seolah kasus kejahatan sebesar ini seperti angin lalu dengan vonis hukuman yang jauh dari kata maksimal. Hal serupa juga pernah terjadi di tahun 2016 dimana Polda Sumatera Selatan dibantu COP dan Animals Indonesia pada tanggal 26 Februari 2016 Mengungkap kasus perdagangan Kulit Harimau di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Saat itu tim mengamankan barang bukti berupa 1 kulit harimau Sumatera dengan ukuran +/- 120 cm dan tulang-tulang dengan berat +/- 2 kilogram yang akan diperjualbelikan. Pada tanggal 8 Juni 2016 Pengadilan Negeri Palembang hanya menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara terhadap pelaku dan juga pedagang kulit dan tulang harimau ini.

“Nampaknya usaha keras para aparat penegak hukum seperti BKSDA dan Kepolisian untuk membendung kejahatan ini terus bergulir menjadi sangat berat manakala pihak pengadilan pemberi keputusan hukuman masih belum bisa menjatuhkan vonis yang berat pelaku kejahatan ini. Karena efek jera dan pengulangan kejahatan ini akan mungkin terjadi manakala vonis hukuman sangat rendah.”, Hery Susanto Koordinator APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection.

Kejahatan satwa liar merupakan rantai yang sangat rapi dan tertutup, butuh keberanian membongkar dan menegakan hukum yang tegas. Dengan vonis rendah ini membuktikan bahwa keseriusan dalam upaya penegakan hukum masih menjadi wacana belaka. Karena penegakan hukum menjadi kunci penting untuk membendung kejahatan ini terus bergulir.

Untuk Informasi dan Wawancara bisa menghubungi:
Hery Susanto, Koordinator APE Warrior COP
Mobile Phone: 081284834363
Email: Hery@orangutan.id

VONIS RENDAH UNTUK TOKO OLD & NEW BANDUNG

Pengadilan Negeri Bandung pada 16 Maret 2017, menjatuhkan vonis kepada Kusnadi (65 tahun) berupa hukuman penjara 3 bulan dan denda Rp 1.000.000,00 akibat perbuatannya memperniagakan, menyimpan kulit, tubuh dan bagian-bagian lain satwa yang dilindungi. Vonis ini lebih tingan dari tuntutan jaksa yaitu 5 bulan penjara dan denda Rp 1.000.000,00. Kusnadi dijerat Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya.

Kusnadi adalah pemilik toko Old & New Shop di jalan RE Martadinata Bandung. Dia ditangkap oleh Polda dan BKSDA Jawa Barat dibantu Centre for Orangutan Protection serta Jakarta Animal Aid Network pada tanggal 30 Juli 2015 di toko Old & New. Saat menggrebek toko tersebut petugas mengamankan barang bukti berupa 5 opsetan Penyu, 11 tanduk rusa, 1 potongan kaki Harimau, 1 potongan kaki kancil, 2 kulit utuh kancil, 22 potongan kuku Macan, 1 topi terbuat dari kulit Macan Tutul, 1 opsetan Trenggiling, 1 potongan gading gajah, 1 tengkorak Harimau jawa, 1 opsetan Cendrawasih, 1 tengkorak Rusa, 1 potongan kulit macan, 1 opsetan kepala rusa sambar, 1 opsetan kepala Beruang dan 7 buah potongan kulit Harimau (aksesoris/pedang).

“Vonis ini rendah sekali dengan barang bukti yang sangat banyak dan bernilai tinggi. Bagaimana ini akan jadi pelajaran untuk pedagang bagian satwa yang dilindungi, jika hukumannya rendah seperti ini. Pedagang akan semakin berani memperjual belikan bagian-bagian tubuh satwa.”, ujar Hery Susanto dengan kesal. “Bagaimana pun kami mengapresiasi kerja penegak hukum di Indonesia yang telah berusaha. Kasus yang hampir dua tahun ini akhirnya sampai pada putusan.”, tambah Hery, kapten APE Warrior COP.

ORANGUTAN TERJEBAK DI AIR TERJUN GORILLA, SELAMAT!

Matahari condong ke Barat waktu kami sampai di air terjun gorila. Besok adalah hari terakhir kami di Hutan Lindung Sungai Lesan. Setelah capek dengan pekerjaan 4 hari renovasi camp Lejak kami bermaksud untuk mengakhirinya dengan bersenang-senang di air terjun Gorila. Jarak dari camp Lejak ke air terjun lumayan jauh, cukup berjalan selama 3,5 jam. Medan yang kami lalui pun sangat menantang. Namun perjalanan 3,5 jam tidak terasa berat karena di sepanjang perjalanan kami disuguhi udara yang sejuk dan suara merdu penghuni hutan. Sebenarnya tujuan kami ke air terjun gorila tidak hanya bersenang-senang tetapi juga survei sarang orangutan. Ya! hutan Lindung Sungai Lesan adalah habitat bagi orangutan, sangat mudah untuk menemukan sarang orangutan. Tidak hanya sarang orangutan, kami juga menemukan beberapa batang pohon yang terkelupas bekas dimakan orangutan, biasanya mereka memakan kambiumnya.

Tidak terasa hampir 2,5 jam kami menyusuri hutan, medan yang terjal dan menurun, suara air terjun yang semakin dekat membuat kami tidak memperhatikan lagi sarang orangutan di atas pohon. Pikiran dan penglihatan kami hanya terfokus pada bagaimana caranya turun agar tidak terpeleset. Pagi tadi hujan, wajar kalau jalanan licin. Air terjun sudah di depan kami, dengan tidak sabar kami melepas sepatu untuk segera terjun ke air. Bahagia rasanya melihat pemandangan yang sangat indah seperti ini, air terjun di tengah-tengah hutan lindung yang masih sangat terjaga kealamiannya. 15 menit berlalu, kami mencari spot lain untuk membasahi badan. Rupanya ada yang mendahului kami bermain di air terjun, ssatu orangutan jantan. Awalnya kami berpikir orangutan jantan ini hanya mandi, karena cuaca siang ini memang panas. Namun lama-lama kami berpikir tidak mungkin orangutan ini mandi hanya diam saja memegang batu di tengah-tengah air. Akhirnya kami menyadari bahwa orangutan ini terjebak, tidak bisa berenang ke seberang karena arusnya sangat deras dan dalam.

Kami berenang melewati arus berusaha untuk membantu orangutan jantan ini menyebrang. Kami melihat orangutan ini sudah sangat capek, mungkin dia terjebak di sana sudah beberapa jam yang lalu. Dengan segera kami mencari dan memotong batang pohon untuk dijadikan jembatan tempat dia berpijak dan menyebrang. Bukan hal yang mudah menahan batang pohon yang panjang di tengah derasnya arus air, dari batang pohon kecil sampai batang pohon sebesar lengan kami coba.

Orangutan jantan ini sepertinya tau kalau kami akan menolongnya, dia meraih dan memegang erat batang pohon yg kami buat seperti jembatan. Tetapi dia sempat marah karena batang pohon yang kami beri terlalu kecil. Setengah jam lebih berlalu, sepertinya orangutan ini mulai percaya dengan kami dia terlihat yakin saat berjalan di batang pohon. Ketika dia berjalan dan hampir sampai di seberang dekat kami, dia mencoba meraih dahan pohon terdekat dan memanjatnya. Lega rasanya! Yeayyyyy akhirnya dia selamat!!!!

Orangutan Jantan ini langsung memanjat mendekati bekas sarangnya, mungkin bekas tempat tidurnya semalam. Sebelum akhirnya benar-benar naik dan berpindah ke pohon yang lain, diketinggian sekitar 10 m orangutan jantan ini sempat beberapa detik memandang ke arah kami, mungkin dia mengucapkan terimakasih. Sangat beruntung kami bisa bertemu orangutan liar di hutan, tetapi kali ini entah kami yang beruntung bertemu orangutan liar langsung di habitatnya atau orangutan jantan ini yang beruntung bertemu kami.(WET)

IT’S ABOUT LIFE OR DEATH

Epic. It’s about life or death.
Orangutans do like water, but they do not swim. We found this poor orangutan trapped in swift water of Lesan river, just below the Gorilla Waterfall. We found this orangutan by accident when we do survey. If we’re late, maybe orangutan is already dead. Currently we are building research stations and security posts. Your support save more orangutans.

Epik. Ini tentang hidup atau mati.
Orangutan memang menyukai air, tetapi mereka tidak berenang. Kami menemukan orangutan malang ini terjebak di derasnya air sungai Lesan, tepat di bawah air terjun Gorilla. Kami menemukan orangutan ini secara tidak sengaja pada saat kami survey kawasan. Jika kami terlambat, mungkin orangutan ini sudah tewas. Saat ini kami sedang membangun stasiun riset dan pos pengamanan kawasan. Dukungan anda menyelamatkan lebih banyak orangutan.

PERBAIKAN DERMAGA CAMP LEJAK

Secara bertahap Camp Lejak diperbaiki. Hari ini dermaga yang menjadi tempat perahu berlabuh yang akan diperbaiki. Dermaga dan anak-anak tangganya banyak yang sudah lapuk. Satu persatu diganti dan diperiksa kembali. Ini adalah rangkaian persiapan yang harus APE Guardian jalani, untuk membawa pulang kembali, orangutan pada habitatnya.

Tidak hanya APE Guardian yang bekerja memperbaiki camp Lejak. BKSDA SKW I Berau dan OWT juga tak tinggal diam. Ini adalah kerja bersama untuk dunia konservasi.

Rencananya dermaga Camp Lejak yang berada di Hutan Lindung Sungai Lesan akan menjadi tempat berlabuhnya orangutan dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

HAPPI FEEL SLEEPY IN THE MIDDLE FOREST SCHOOL

Seperti bayi manusia yang lebih banyak tidur, ternyata bayi orangutan bernama Happi ini pun tertidur kelelahan di saat sekolah hutan berlangsung. Tidak perduli ada dimana dalam posisi seperti apa, Happi akan tidur dimana saja dia suka. Sayang, dia tertidur bukan dalam pelukan ibunya.

Happi adalah orangutan yang masuk Pusat Rehabilitasi COP Borneo pada 30 Agustus 2016 yang lalu. Belum juga satu tahun usianya, dia sudah harus sampai ke tangan manusia. Menurut Herman Rijksen dan Erik Meijard dalam bukunya  Di Ambang Kepunahan, “satu induk yang mati terbunuh mewakili setidaknya 2 – 10 orangutan yang mati terbunuh.”.

Memasuki semester pertama Happi di COP Borneo, dia menjadi orangutan yang dicari Popi. Happi juga yang mendekati Popi saat Popi menangis. Happi akan memeluk Popi, menenangkannya, pinga Popi berhenti menangis. “Tangisan bayi-bayi orangutan memang menyayat hati yang mendengarkannya. Tapi pada siapa lagi mereka bergantung untuk bisa bertahan hidup.”, ujar Wety dengan sedih. Wety adalah baby sister COP Borneo. “Melihat bayi-bayi ini tumbuh dan berkembang sungguh luar biasa. Dan bahagia sekali saat mereka mulai mandiri.”, tambahnya. Masih panjang perjalanan bayi-bayi ini untuk kembali ke habitatnya. Dukungan moral dan materi sungguh sangat berarti. Hubungi email kami di info@orangutanprotection.com untuk memberikan bantuan.

HARI PERTAMA YANG MERUBAH DUNIAKU

28 Mei 2006. Siang bolong di Pusat Reintroduksi Orangutan Nyarumenteng. Ada pesan masuk : orangutan besar ditangkap pekerja di perkebunan kelapa sawit PT. Globalindo Alam Perkasa, anak perusahaan Musim Mas. Tim Penyelamat segera bersiap dan melaju ke arah kota Sampit, berburu dengan waktu, agar orangutan itu masih bisa diselamatkan. Lambat bisa mengakibatkan cacat tubuh atau kematian bagi orangutan. 

Kami mengemudi tanpa henti selama 6 jam melalui aspal yang pecah sana sini dilindas truk – truk pengangkut kelapa sawit yang melebihi batas muatan. Dari kota Sampit masih tambah 1 jam lagi ke arah Barat Daya, memasuki kawasan perkebunan kelapa sawit. Senja mulai turun. Perasaan saya remuk redam menyaksikan pohon – pohon yang baru saja dirobohkan oleh ekskavator. Benar – benar hancur lebur. Untuk mencapai perkebunan Musim Mas, saya harus melewati kawasan konsesi PT. Agro Bukit, anak perusahaan Goodhope Asia Holdings Ltd. Bram Sumantri, paramedis menyela,”Kita sudah me-rescue banyak orangutan dari Agro Bukit, mungkin akan terus berlanjut karena mereka sedang land clearing.”  

Tiba di PT. Globalindo Alam Perkasa sudah sekitar jam 7 malam. Tim langsung menuju ke kantor perkebunan. “Orangutan sudah tidak ada, sudah mati,” kata petugas keamanan. “Saya ingin lihat tubuhnya,” saya ngotot. Lalu kami dipandu ke belakang. Terlihat seorang polisi, yang mengaku bernama Teguh dari Polres Sampit, bersama dengan 2 orang petugas keamanan hendak menguburkan orangutan. Tak terasa, air mata saya meleleh. Apa yang dilakukan mereka sampai orangutan ini tewas? Kami memutuskan untuk membawa jenazah orangutan itu ke Nyarumenteng, malam itu juga. Besoknya akan dilakukan otopsi. 

Hasil otopsi tidak mengejutkan. Tim medis menemukan retak di tengkorak kepala si orangutan. Kemungkinan dipukul dengan benda keras dan tumpul. “Hampir 100% orangutan yang tertangkap perusahaan kelapa sawit menderita luka serius di tangan, kaki dan kepala,” kata Lone Droscher Nielsen, atasan saya waktu itu. “Untuk menangkap orangutan, para pekerja harus memukul kepalanya, lalu mengikat tangan dan kakinya dengan tali plastik atau kawat,” lanjutnya. 

Malamnya, saya tidak bisa tidur. Semua yang kusaksikan selama 24 jam terakhir sungguh menyiksaku, menakutiku, bahkan menghantuiku. Pada orangutan yang merupakan kerabat dekat manusia secara biologis saja kita berlaku sedemikian kejam, lalu apa yang bisa kita tawarkan pada species lainnya? Saya merasa benar – benar malu. Merasa tidak layak menyebut diri sebagai pecinta alam. Malam itu juga saya berjanji, untuk membalas dendam.