February 2017

BERTEMU ORANG-ORANG BARU DI COP SCHOOL

Namaku Mikaela, 19 tahun asal Bandung. Dari kecil aku sudah dibiasakan oleh nenek untuk dapat merawat hewan sekali pun itu serangga. Oleh karena itu rasa simpati kepada hewan yang tinggi di dalam diriku tumbuh. Gak sengaja ketika melihat Facebook muncul COP, kepo tuh langsung otak-atik fanpage nya. Terus muncul poster COP School Batch 5, langsung tertarik pengen banget ikutan. Setelah ijin ke orangtua ternyata dibolehin, langsung deh daftar.

Proses daftar COP School Batch 5 yang menurutku tidak sulit dan informasi yang disampaikan pun sangat lengkap jadi ngak bikin pusing untuk daftar. Setelah aku daftar kami diundang ke grup COP School dan diberi beberapa tugas sebelum kami dinyatakan lulus sebagai siswa COP School Batch 5 yang resmi. Di waktu luangku, aku mengerjakan tugas dari COP, tapi sekali lagi karena aku sangat berminat jadi ku kerjakan dengan sungguh-sungguh dan enjoy.

Waktunya pun tiba, hasil seleksi akan diumumkan. Rasanya deg-degan, takut gak lulus. Ternyata… Namaku ada di daftar siswa COP School Batch 5!!. Senangnya bukan main!!. Pada bulan Juni pun aku berangkat dari Bandung ke Yogja, rasa antusias menyelimutiku. Sesampainya aku di Jogja langsung berangkat menuju Camp COP yang berlokasi di Gondanglegi, Sleman. Aku bertemu dengan orang-orang yang memang benar-benar baru dan gak kenal satu pun, rasanya aneh sih tapi aku selalu ingat tujuanku bahwa aku ingin ikut serta dalam misi penyelamatan hewan.

Aku bersama kak Citra, kak Ucup dan dengan mentor kami kak Dea hari pertama kami ngecamp dibelakang Camp COP. Malamnya kami berkumpul dan memperkenalkan diri lalu kami tidur. Keesokan hari, kami sarapan pagi bersama lalu bersiap dan menggendong ransel dan mengenakan topi kami untuk persiapan longmarch dari Gondanglegi menuju Kaliurang. Perjalanan yang sungguh melelahkan tapi menyenangkan. Kami melewati persawahan, pedesaan, dan menyelusuri sungai. Akhirnya pada sore hari kami sampai di Kaliurang dan langsung mendirikan tenda untuk tempat istirahat kami dan menyiapkan makan malam dengan memasak bersama lalu makan bersama, kebersamaan mulai terasa ketika kami semua selesai makan.

Malam itu kami mengikuti materi dari Pak Jamartin Sihite dari BOSF. materi-materi yang disampaikan pun sangat membuatku tercengang mendengar keseruannya, setelah materi kami pergi tidur.

Hari ketiga kami awali dengan memasak bersama yang bahan-bahan masakannya udah disiapkan panitia, kemudian sarapan. Lanjut materi dari kakak-kakak COP yang sharing tentang pengalamannya di hutan Kalimantan dan menangani perdagangan satwa liar sampai keliling Indonesia. “WOW” aku berdecak kagum banget mendengar kerseruan, ketegangan dan keharuan dari cerita mas Hardi, mas Daniek, mas Dhani, kak Jambrong.

Hari keempat, kami menerima materi enrichment untuk satwa seperti orangutan, beruang madu, kukang, bekantan. Jadi di materi enrichment kami diajarkan untuk membuat kreasi dan dirangkai untuk mengajarkan satwa liar yang sudah lama ditangkap, berada di kandang dan lupa cara mencari makan di hutan. Dari bahan-bahan yang ada seperti karet, batang pohon, barang-barang bekas dan bambu kami mengkombinasikan dengan makanan sesuai hewan yang akan kita buat enrichmentnya. Seru abissss…!. Dan kami juga mendapat materi dari mas Warno dan kak Punky dari Animal Indonesia. Materi yang disampaikannya pun menarik dan diselingi games.

Hari kelima untuk kami, kami diajarkan untuk menjadi juru kampanye yang biasa COP lakukan yaitu aksi diam. Saat itu aku ditugaskan menjadi kameramen dan partnerku kak Wildan. Kali ini agak menegangkan tidak seperti biasanya yang santai karena kita diajarkan agar bisa kuat dan melakukan aksi diam. Kami mengibarkan bendera COP yang sangat besar, KEREN! Pada sore haripun kami semua masuk ke dalam kolam lumpur dan perang lumpur!. Pokoknya semua harus hitam pekat haha. Setelah habis main lumpur kita semua mandi di sungai, hari pun semakin malam kami mulai masak dan makan malam.

Hari keenam hari terakhir kami menuju Camp COP, sedih sih karena akan berakhir tapi sekaligus antusias karena kami telah membuat Program Kerja Mandiri untuk daerah kami masing-masing. Memang kenangan dan ilmu yang luar biasa. Thanks to COP School, aku pun bisa menyalurkan passion dan impianku untuk menyelamatkan satwa liar. Sampai sekarangpun walau kami jauh masih terus terhubung dengan media sosial. (Mikaela_COP School Batch 5)

EXCITING EXPERIENCE BECOMING KITCHEN ANGEL IN COP SCHOOL

Hi! My name is Nita Istikawati, you can call me Nita. I am a COP Supporter from Yogyakarta.
The story began in 2010 when I decided to join COP as a volunteer. At that time, I was a university student doing an Accounting degree. It can be said that my education didn’t have any correlation with orang-utans at all. So, I wasn’t surprised when some college friends bullied me about my bizarre activities outside of campus. They often said that I was a very odd person because I liked to go to the zoo to make enrichments and better enclosures for the animals, joined an orang-utan demonstration (campaign), and also spoke out loudly against the destruction of rainforests for palm oil plantations. They thought it was extremely peculiar behaviour for a student from the Faculty of Economics. Well, it never ever stopped me raising awareness and helping orang-utans through COP. From my own experience, I know that everyone can help the orang-utan and its habitat without limits and boundaries. Everything that begins from your heart will come back to your heart again.
There are so many exciting experiences I gained when I was working as a volunteer in orangutan protection. There were lots of unforgettable memories. One of them is when I became a COP School organiser. My favourite position was as part of the kitchen team or kitchen angel. First, because I could taste the food before the other people did. Second, I could taste again and then third I could do food tasting again and again (LOL). On the other hand, I love cooking. Perfect. But please take it easy, I just wanted to make sure that all of the food that we provided at COP School was healthy, free from formaldehyde and safe for consumption by participants and also the presenters. I called it working on the front line. Alibi.
Hmmm… actually becoming part of the kitchen team meant that we should be facing the reality of the lack of sleeping time. Imagine this: the kitchen angels have to wake up very early in the morning before the cock crows and are already moving in the direction of the rising sun. Meanwhile, others were still soundly resting in bed.
As a kitchen angel during COP School, I had to wake up no later than 3.30am every day, because we had to boil water for drinking and then go off to the market to buy vegetables. After that, we picked up food for the catering and also had to prepare anything else. Morning rush hour. From this activity, I learnt a lot about time management and of course became more responsible with my job.
The kitchen is the most strategic place to meet up with everyone. While the participants were making tea or a cup of hot coffee, I got lots of chances to talk with them. Warm conversation in the morning made us feel closer to each other. The participants of COP School are very multicultural. They come from various backgrounds. There is a veterinary student, biology, design, law, economy, communication, etc. Well, I came to understand a wide range of characters and it made me easier to adapt to the new environment. Yes, COP School is a place where I gained a new family, who inspire and strengthen each other. Thanks, COP.

PENGALAMAN SERU MENJADI TEAM DAPUR DI COP SCHOOL
Hai! Nama saya Nita Istikawati biasa dipanggil Nita. Salah satu pendukung COP dari Yogyakarta.
Cerita bermula di tahun 2010 ketika saya bergabung menjadi volunteer COP. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di jurusan Akutansi. Bisa dibilang latar belakang saya memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan orangutan. Jadi, tidak heran jika sering diejek teman-teman mengenai kegiatan-kegiatan saya di luar kampus. Saya dibilang orang aneh yang suka keluar masuk kebun binatang, ikut kegiatan demo (kampanye) dan teriak-teriak tentang sawit. Menurut mereka tidak wajar dilakukan oleh anak ekonomi. Namun hal itu tidak pernah mematahkan semangat saya untuk terus membantu COP. Menurut saya menyelamatkan orangutan dan habitatnya itu tanpa batas dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Semua yang berawal dari hati akan kembali ke hati.
Ada banyak sekali pengalaman seru selama berkecimpung di dunia perlindungan orangutan yang tidak akan pernah terlupakan. Salah satunya adalah setiap kali menjadi panitia kegiatan COP School. Saya paling senang menjadi bagian dari tim dapur. Pertama bisa cicip makanan, kedua cicip lagi, ketiga cicip lagi, dan lagi (hehe). Selain itu saya suka makan. Cocok ya. Eitsss tapi jangan salah persepsi. Saya cuma mau memastikan makanan di COP School semuanya sehat, bebas dari formalin dan aman dikonsumsi oleh peserta juga para pengisi acara. Ini namanya adalah bekerja di garda depan. Alibi.
Hmmm… sebenarnya menjadi tim dapur itu artinya harus menghadapi kenyataan bahwa jatah tidur sangat berkurang. Bayangkan pagi buta sebelum ayam berkokok kami para kitchen angels sudah bergerak menuju arah matahari terbit. Di saat yang lainnya masih nyenyak tidur di dalam sleeping bed.
Rutinitas selama COP School, setiap hari paling lambat bangun sekitar pukul 3.30 pagi karena wajib memasak air untuk kebutuhan minum dan pergi ke pasar membeli sayur mayur. Mengambil makanan di catering dan juga harus menyiapkan ini dan itu. Pagi yang sangat sibuk. Dari kegiatan ini saya menjadi banyak belajar tentang bagaimana mengorganisir waktu yang baik dan bertanggung jawab dengan pekerjaan.
Dapur adalah tempat paling strategis untuk bertemu dengan semua orang. Sembari para peserta membuat teh atau secangkir kopi panas, saya banyak mendapat kesempatan untuk berbincang. Obrolan hangat di pagi hari membuat susana menjadi lebih dekat dengan para peserta. Para peserta COP School sangat multikultural. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang. Ada mahasiswa kedokteran hewan, biologi, desain, hukum, eknonomi, komunikasi, bahasa, dsb. Secara tidak sadar saya menjadi memahami berbagai macam karakter orang dan membuat lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Ya, COP School adalah tempat dimana saya mendapatkan keluarga baru, saling menginspirasi dan menguatkan satu sama lain. Terimakasih COP.

SELAMA COP SCHOOL BERLANGSUNG

Hi, namaku Shaniya asal Surabaya. Di foto itu aku yang paling depan dengan jilbab hitam. Aku adalah salah satu dari 40 orang yang lolos tahap seleksi untuk mengikuti COP School Batch 6 yang diadakan pada 18-22 Mei tahun lalu di Yogyakarta. Saat ini, statusku sudah menjadi Alumni dari kegiatan tersebut.

Pertama, aku mau bilang. Sama sekali nggak bakal rugi kamu daftar dan ikut seleksi COP School. Kalau kamu lolos, kamu akan dapat salah satu pengalaman yang ngak akan kamu dapatkan di tempat lain. Kalau belum lolos, kamu masih punya banyak kesempatan untuk coba daftar lagi tahun depan, dan tahun depannya lagi, dan seterusnya.

Setelah lolos seleksi, kamu pun nggak perlu takut bakal ‘terdampar’ ketika kamu sampai di Yogyakarta sebelum waktu yang ditentukan untuk kumpul di Camp COP. Kalau tahun lalu, teman-teman Batch 6 yang memang tinggal di Yogyakarta dengan senang hati membantu siapa saja yang membutuhkan akomodasi sementara sebelum kegiatan dimulai.

Siang pertama kegiatan mulai, kami kumpul di Camp COP dan menyerahkan tugas yang harus dibawa. Sorenya semua membangun tenda sesuai kelompok masing-masing dan berkenalan dengan semua yang ada di Camp. Di sini, menurutku sebaiknya kamu ngak cuma kenalan sama COP School angkatanmu aja, tapi juga sama alumni-alumni yang ada, baik yang jadi panitia maupun pendamping kelompok. Setelah semuanya kenal satu sama lain, malamnya dipilih siapa yang jadi Ketua Kelas dari Batch 6.

Hari kedua kumpul, kami sudah dapat materi sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kedua. Nah setelah materi pertama ini serunya bener-bener dimulai. Di sini, fisik kamu bakal diuji juga ketahanannya. Longmarch bersama, yaa lumayanlah kalau buat yang jarang olahraga. Jadi, ada baiknya juga kamu latihan fisik sebelum berangkat ikut COP School.

Selama kegiatan di lokasi kedua tidur di tenda, kita bakal dapat banyak banget materi, nggak cuma tentang konservasi dan satwa liar, tapi juga jurnalistik dan bahkan bagaimana jadi investigator kasus perdagangan satwa liar! Keren kaaan! Selain itu, materi yang paling aku suka adalah tentang animal welfare. Karena di sini kamu bakal ditantang untuk bikin design kandang dan enrichment untuk satwa yang ada di kandang rehabilitasi maupun di kebun binatang. Dalam satu hari, ada sekitar 3 sampai 4 materi diselingi istirahat dan berbagai games yang seru semua. Games yang paling seru menurutku, saat kita diajak keluar pendopo buat melakukan pengamatan, ada binatang apa aaja di sekitar kita. Ini gak asal lho, karena panitia udah menyiapkan boneka berbagai binatang yang disembunyikan di sekitar jalur yang ditentukan. Di sini mata kita dituntut buat jeli sama keadaan sekitar. Dan nanti bakal di cek, apakah hewan yang kamu tulis itu bener atau bukan bagian dari binatang yang udah disembunyiin dan ditentuin sama panitia kegiatan.

Selain itu, kamu juga dituntut untuk bisa kerjasama sama kelompok kamu. Kalian bakal bagi tugas setiap harinya. Siapa yang ambil bahan masakan, yang masak, yang cuci piring, cuci alat masak, dan lain-lain, karena kita bakal masak sendiri buat sarapan dan makan malam.

Selama COP School, aku dapat banyak banget pengalaman berharga yang aku yakin berguna banget buat diriku ke depannya. Juga buat kamu yang memang ingin banget punya peran dalam membantu kelangsungan satwa liar di negara kita, kamu mungkin harus coba ikut kegiatan yang satu ini. Teamwork kamu teruji, public speaking-mu terlatih, dan kamu dapat banyak materi mengenai satwa liar, jadi ke depannya saat kamu terjun ke dunia konservasi, kamu nggak asal ikut-ikutan orang lain karena kamu punya dasar yang kamu dapat selama COP School.

Gimana, seru banget kan? Tahun ini aku berharap aku punya waktu untuk jadi pendamping kelompok selama kegiatan berlangsung. Kalau kamu bener-bener tertarik, saranku kamu harus sesegera mungkin daftar karena kalau ketinggalan ya sudah, kamu harus tunggu tahun depan lagi.
Jadi sampai ketemu ya di COP School Batch 7 nanti! See you soon! (Shaniya_Orangufriends)

COP MENGUTUK PEMBUNUHAN ORANGUTAN YANG TERJADI DI KAWASAN KONSESI GENTING BERHAD

Centre for Orangutan Protection mengutuk pembunuhan orangutan yang diduga terjadi di dalam kawasan konsesi PT. Susantri Permai anak perusahaan Genting Berhad di Kapuas, Kalimantan Tengah. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh COP dari lapangan, kejadian ini terjadi pada tanggal 27 Januari 2017. Orangutan ditembak di antara Blok F11 – F12 dengan senapan angin dan setelah tewas dibawa ke Camp Tapak. Di camp tersebut, orangutan disembelih dan dipotong – potong.

Berkaca pada kejadian serupa di Makin Group, Kalimantan Timur pada tahun 2011, polisi hendaknya segera bertindak menegakkan hukum. Orangutan adalah salah satu spesies yang paling dilindungi di Indonesia. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, pelaku bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda 100 juta.

Pembunuhan ini tidak perlu terjadi jika anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini menjalankan prinsip dan kriterianya.

Hardi Baktiantoro, Principal COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Pembunuhan ini menunjukkan bahwa telah terjadi kesalahan dari hulu ke hilir dalam segala hal, mulai dari perijinan hingga penilaian. Ini menunjukkan bahwa konsesi yang diberikan berada dalam habitat orangutan. Laporan – laporan penilaian yang disampaikan ke RSPO diduga kuat tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Ini menjadikan kredibilitas RSPO diragukan. RSPO harus segera menendang Genting Berhard, perusahaan asal Malaysia ini dari keanggotaan.”

Informasi mengenai perusahaan ini bisa dilihat di:

http://www.bloomberg.com/research/stocks/private/snapshot.asp?privcapId=58833630

Untuk informasi dan wawancara:
Hardi Baktiantoro
08121154911
hardi@orangutan.id

Untuk koordinasi kunjungan ke lapangan, hubungi:
Ramadhani
Communication Manager
0813 49271904
dhani@orangutan.id

APE CRUSADER’S VISITING SMPN 4 KUMAI

Empat puluh siswa berkumpul di perpustakaan sekolahnya. APE Crusader bersama Friends of National Parks Foundation Kumai datang untuk berbagi informasi tentang orangutan dan habitatnya. Ternyata masih ada yang bingung membedakan orangutan dengan primata lainnya.

Kelas 7 hingga 9 SMPN 4 Kumai merupakan sekolah binaannya FNPF Kumai. APE Crusader tidak susah lagi menceritakan fungsi hutan untuk manusia. Tinggal mengingatkan siswa untuk menjaga satwa liar yang berada di hutan, karena satwa tersebut memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Seperti orangutan yang merupakan spesies payung bagi satwa liar lainnya. Kemampuannya menjaga keberlangsungan hutan belum tergantikan. Ini berkaitan dengan daya jelajah orangutan yang sekitar 3 km per hari dan variasi makanannya. Orangutan yang merupakan satwa arboreal juga membantu tumbuhan untuk mendapatkan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Dalam satu hari ini, APE Crusader melakukan school visit di dua jenjang sekolahan. SDN 1 Sungai Kapitan dengan murid kelas 3 dan 4 serta SMPN 4 Kumai kelas 7 sampai 9. “Ya materi yang kami sampaikan memang harus berbeda. Harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan yang ada. Cara penyampaiannya juga berbeda. Untung saya ikut COP School Batch 6. Jadi sudah tidak canggung lagi untuk school visit.”, kata Septian sambil tersenyum.

ORANGUTAN DIBUNUH DAN DIJADIKAN MAKANAN DI KAPUAS, KALTENG

Satu orangutan dijadikan makanan diduga terjadi di perkebunan PT Susanti Permai, desa Tumbang Puroh, kecamatan Sei Hanyo, kabuaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Kejadian bermula dari seorang pekerja tengah mengambil buah sawit pada 28 Januari 2017. Operator Jhondare yang sedang bekerja melangsir buah sawit, saat itu bertemu orangutan dan dikejar orangutan. Setelah tiba di camp Tapak, Jhondare menceritakan ke beberapa teman dan warga desa sekitar. Arianto tertarik untuk mencari keberadaan orangutan tersebut. Arianto dan Cunong tiba di blok F11 atau F12 bertemu dengan orangutan tersebut. Arianto menembak orangutan dengan senjata angin rakitan. Bersama teman dan warga sekitar dibawa ke camp Tapak, dikuliti dan dipotong-potong kemudian dikonsumsi oelh beberapa warga setempat. Tempat pembuangan tengkorak dan sisa tubuh orangutan tidak diketahui karena beberapa karyawan yang menjadi saksi takut bercerita setelah mendapatkan ancaman dari pihak perusahaan.

APE Crusader, tim gerak cepat Centre for Orangutan Protection yang saat ini sedang berada di Kalimantan Tengah segera menuju lokasi.

#conflictpalmoil

SCHOOL VISIT AT SDN 1 SUNGAI, KAPITAN

Kurangnya informasi tentang satwa liar mengantarkan APE Crusader masuk dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Tidak peduli jenjang pendidikan yang menjadi prioritas. Memastikan informasi pentingnya satwa liar dan hutan yang berbatasan langsung dengan tempat tinggal para siswa adalah tantangan tersendiri.

Bersama FNPF (Friends of National Parks Foundation) Kumai, Kalimantan Tengah, APE Crusader mengunjungi SDN 1 Sungai, Kapitan. Siswa kelas 3 dan 4 sekolah dasar yang berjumlah 60 siswa terlihat sangat antusias sekali. “Waduh, sebenarnya ini terlalu banyak. Bisa dijadikan 2 kelompok. Karena keterbatasan waktu, kegiatan jadinya disesuaikan untuk kelompok besar. Salah satunya menonton film.”, ujar Faruq dari APE Crusader.

Biasanya FNPF mengajak siswa menanam dan mengenal hutan lebih dalam. Kali ini bersama COP, para siswa diajak untuk mengenal satwa liar terutama satwa liar yang dilindungi. Khusus satwa orangutan, APE Crusader mengajak siswa untuk bangga pada satwa yang tergolong kera besar ini, yang hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Orangutan adalah kebanggan Indonesia.

INTERAKSI SISWA SAAT PRA COP SCHOOL

Tahun lalu setelah mendaftarkan diri di COP School lewat email yang saya ketahui dari media sosial, kita pun akan diberikan beberapa tugas Program Seleksi yang selama dua minggu melalui tugas-tugas lapangan atau pun membaca literasi dan merangkumnya dalam sebuah tulisan. Tugas diberikan di grup Facebook dan kita dibuatkan kelompok dengan didampingi satu orang panitia.
Mengawali dengan membiasakan diri berkomunikasi lewat media sosial untuk menerima tugas, terjun langsung ke lapangan, mengamati tugas lapangan yang diberikan, membaca literasi dan menyampaikan laporan tulisnya. Tahap selanjutnya, lima hari di Yogyakarta dengan materi yang sangat padat dan praktek langsung di lokasi kegiatan. Tidak hanya komunikasi satu arah, namun dua arah, dimana peserta dan pemateri sama-sama belajar.

Yang menarik, peserta yang telah lolos seleksi menjadi siswa akan dibuatkan kelompok dan didampingi panitia dari siswa COP School sebelumnya, disinilah kita sebagai siswa COP School yang lolos seleksi akan berkomunikasi satu sama lain tanpa mementingkan status sosial, agama, ras, suku, kesetaraan gender ataupun bahasa. Karena selain dari negara kita sendiri yang mempunyai berbagai macam bahasa ada juga beberapa siswa COP School berasal dari Negara lain.
Dalam kelompok yang akan dibuatkan oleh panitia, disini kita menjalin komunikasi yang saling mengenalkan satu sama lainnya sebelum kita sama-sama bertemu secara langsung. Komunikasi lewat group Line, WhatsApp ataupun Facebook akan memberikan sebuah keakraban yang berbeda, saling berinteraksi mengenai perkenalan diri sampai hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk pelatihan di Yogyakarta.

Beberapa persiapan dari panitia pelaksana sebelum kegiatan dilakukan akan diinformasikan terlebih dahulu ke pendamping kelompoknya dan selanjutnya akan dibagikan informasi tersebut ke group masing-masing kelompok. Mulai dari persiapan bahan materi, perbekalan yang akan dibawa, sampai keperluan dan perlengkapan bersama untuk kelompok. Biasanya dari berbagai kebutuhan yang diperlukan pasti akan ada teman kelompok kita yang tidak mempunyai, ini akan menuntut kita untuk sama-sama menutupi kekurangan dalam kelompok dan memang dituntut untuk saling melengkapi dan mendukung satu sama lainnya.

Walaupun kita belum pernah bertemu dan baru kenal lewat media sosial saja, tetapi ini menjadi wahana yang sangat unik mengakrabkan diri sebelum bertemu pada saat pelaksanaan COP School.
Dari komunikasi yang berjalan inilah sehari sebelum COP School saya sudah berada di Yogyakarta. Kami berkumpul dengan teman satu kelompok untuk sekedar berkenalan dan makan malam menikmati kota Yogyakarta. Siswa yang luar kota bahkan tertolong bisa dijemput oleh siswa yang dari Yogyakarta di stasiun, terminal dan bandara. Bahkan ada yang mendapat tumpangan tidur baik sebelum COP School maupun setelahnya. Ya saya itu orangnya. (PETz)

SI CANTIK NAN EKSOTIS AKAN SEGERA HIDUP BEBAS

Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Centre for Orangutan Protection (COP) dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY rencananya akan melepasliarkan 10 ekor Merak Hijau (Pavo muticus muticus) atau yang dikenal juga sebagai Merak Jawa pada tanggal 19 Februari 2017 mendatang di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi – Jawa Timur. Selain itu juga akan dilepasliarkan 3 ekor ular Sanca Bodo (Python molurus) di area Taman Nasional tersebut.

Ke tiga belas ekor satwa tersebut merupakan satwa hasil sitaan dan serahan masyarakat yang kemudian direhabilitasi di WRC Jogja – site milik YKAY di Sendangsari, Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta.

“Total 13 ekor satwa yang terdiri dari 10 merak Jawa dan 3 ekor ular sanca bodo”, kata drh. Randy Kusuma – Manager Konservasi YKAY sekaligus dokter hewan YKAY. Drh. Randy Kusuma mengatakan bahwa kondisi satwa-satwa tersebut baik dan siap untuk dikembalikan ke alam. “Satwa-satwa ini sudah direhabilitasi di WRC Jogja sekitar setahunan dan kondisinya sehat serta siap release ke alam”, jelasnya. Lebih lanjut drh. Randy Kusuma mengatakan bahwa awalnya untuk merak ada 14 ekor, namun dalam upaya perawatan dan rehabilitasi 4 ekor merak tidak dapat diselamatkan. “Ada 4 ekor yang mati, sehingga tersisa 10 ekor yang bisa bertahan serta akhirnya akan kami lepasliarkan. Yang mati adalah merak yang kami terima dari hasil operasi perdagangan satwa Februari 2016 oleh Mabes Polri serta beberapa LSM di bidang satwa liar yaitu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Kondisi satwa waktu itu masih anakan dengan lingkungan saat di pedagang tidak baik. Ini berdampak ke kesehatan satwanya,dan tidak dapat bertahan.”, jelas drh. Randy Kusuma.

Ketua Dewan Pembina YKAY Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi dalam pernyataan persnya mengatakan bahwa pelepasliaran satwa yang telah dirawat dan direhabilitasi oleh YKAY merupakan langkah nyata lembaga yang dipimpinnya untuk konservasi satwa liar Indonesia. “Program pelepasliaran menjadi tanggung jawab kami selaku lembaga konservasi kepada masyarakat, bahwa satwa yang dititipkan Negara kepada YKAY bisa dirawat dan kami kembalikan ke habitatnya. Memang untuk ini kita butuh dana yang cukup besar dan kita harus mencarinya sendiri. Untuk itu kita mengharapkan kepedulian lembaga pemerintah maupun swasta untuk ikut berpartisipasi untuk penyelamatan satwa Indonesia””, ucap GKR. Mangkubumi.
Ia juga mengharapkan masyarakat semakin sadar untuk tidak membeli dan memelihara satwa liar. “Masyarakat semoga semakin sadar, bahwa satwa liar bukanlah binatang peliharaan. Bila masyarakat terus menerus memelihara satwa liar, ya perdagangan satwa liar illegal akan terus terjadi dampak jangka panjangnya ya hilanglah dari alam satwa-satwa kita yang luar biasa ini.”, ujarnya.

Sementara itu Action Coordinator COP – Daniek Hendarto mengatakan bahwa COP sangat mendukung dan menyambut gembira upaya pelepasliaran satwa yang akan dilakukan di TN.Baluran beberapa hari lagi karena satwa yang akan dilepasliarkan terutama 10 merak merupakan barang bukti perdagangan ilegal yang berhasil dihentikan pada tanggal 7 Februari 2016 bersama dengan Bareskrim Mabes Polri, COP dan JAAN di Bantul. “Ini sinergi yang sangat bagus sekali, ada upaya hukum yang dilakukan COP kemudian dilanjutkan upaya rehabilitasi dan pelepasliaran oleh WRC (YKAY).”, terang Daniek.

Di tempat yang sama Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Yogyakarta, Untung Suripto, ST, MT menjelaskan bahwa perburuan dan perdagangan satwa liar telah mengakibatkan kerugian terancam punahnya satwa di habitat aslinya dan upaya terpenting dalam menghentikan tindak pidana perburuan dan perdagangan satwa liar adalah dengan penegakan hukum yang diharapkan menimbulkan efek jera bagi pelakunya. “Kedua jenis satwa tersebut – Merak Hijau dan dan ular Sanca Bodo merupakan satwa dilindungi UU no 5 th 1990 dan PP th 1999.”, kata Untung.

Lebih lanjut Untung mengatakan bahwa pelaku perdagangan satwa telah diadili di Pengadilan Negeri Bantul dan dijatuhi hukuman. “Berdasarkan surat keputusan Pengadilan Negeri Bantul Reg no 66/Pidsus/2016/PN Btl tanggal 20 Juni 2016, pelaku atas nama Muhammad Sulvan diputus bersalah berdasarkan UU no 5 th 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan hukuman penjara selama 10 (sepuluh) bulan. Satwa sitaan sebagai barang bukti tindak pidana diserahkan ke Negara untuk selanjutnya dilakukan pelepasliaran (release) di habitat aslinya.”, terang Untung. Pihak BKSDA Yogyakarta berharap pelepasliaran diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan satwa serta dapat meningkatkan populasi di habitat aslinya.

Pemilihan tempat pelepasliaran di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi – Jawa Timur ini mempertimbangkan faktor habitat Merak Jawa dan ular piton yang memang ada di kawasan tersebut.
Sebelum dilepasliarkan satwa-satwa ini telah menjalani pemeriksaan ksehatan akhir, kemudian dilakukan penandaan individu dengan microchip yang ditanam di dalam tubuh satwa serta untuk merak dilakukan tagging dan pewarnaan pada sebagian bulu sayap guna memudahkan tim monitoring untuk pengamatan setelah dilepasliarkan.

Setibanya di Taman Nasional Baluran, satwa-satwa tersebut akan sebelum akhirnya dilepaskan.
Di Indonesia, pelaku perdagangan satwa liar melanggar Undang-undang no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman penjara 10 tahun atau denda hingga 200 juta rupiah. (**)

Narasumber :
Untuk Suripto, ST, MT – 0852 2591 9900
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Yogyakarta

Drh. Randy Kusuma – 0819 0375 1590
Dokter Hewan & Manager Konservasi YKAY

Daniek Hendarto – 0813 2883 7434
Action Coordinator Center for Orangutan Protection (COP)

TASK BY TASK TO JOIN COP SCHOOL

Jadi gini, flashback ke tahun 2016 sekitar pertengahan hingga akhir bulan April ada beberapa tugas yang diberikan setelah mendaftar jadi peserta COP School Batch 6. Tugas ini merupakan tahapan seleksi calon siswa COP School menjadi siswa. Diantaranya tugas berkunjung ke pasar burung/pasar hewan, berkunjung ke kebun binatang, memberikan komentar tentang iklan yang beredar, dan tugas esai tentang “Mengapa Orangutan Perlu Dilindungi”.

Setiap tugas yang diberikakan mempunyai batasan waktu pengumpulan yang mana pada waktu itu sistemnya diunggah di grup facebook khusus COP School Batch 6. Tugas pertama tentang berkunjung ke pasar hewan waktu itu saya mengerjakan dengan sangat mepet batas pengumpulan, sebab berhubung di tempat saya berkuliah lumayan disibukkan dengan praktikum hingga petang hari. Jadi 1 jam sebelum batas pengumpulan saya berkunjung ke salah satu petshop dan melaporkan hasilnya beberapa menit sebelum batas pengumpulan.

Setelah itu, tugas kedua dirilis beberapa hari kemudian yaitu berkunjung ke kebun binatang maupun taman satwa sekitar daerah yang kita tempati. Tugas ini lumayan santai karena waktu yang diberikan lumayan sekitar beberapa hari. Kebetulan saya berkuliah di Yogyakarta jadi tujuan saya adalah ke kebun binatang kesayangan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti biasa setelah kunjungan gratis *eh (cerita untuk masuk gratis kebun binatang di Jogja nanti aja yah, kalo dah ketemu, haha) dilanjutkan dengan menulis laporan dan mengunggahnya di Facebook.

Beranjak ke tugas ketiga, nah ini lumayan bikin penasaran tugasnya buat apa? Tugas ketiga sangat gampang tetapi rada sulit. Tugasnya adalah mengambil gambar dan dibagi di grup Facebook. Gambarnya adalah tentang iklan/reklame/billboard dan sejenisnya yang menurut anda menarik. Mudah sih buat nyari iklannya yang susahnya adalah memilih iklan mana yang paling menarik karena waktu itu saya dihadapkan pada dua pilihan, ya dua pilihan itu sangat sulit antara ya dan tidak, tetapi kamu harus berani menentukan pilihan walaupun dua-duanya punya resiko dan dua-duanya punya kenikmatan yang terembunyi (ngomong opo toh iki).

Tadaa~ saatnya untuk tugas ke-4, the last task. Jadi gini, tugas keempat kita disuruh menulis esai tentang ”Mengapa Orangutan Perlu Dilindungi?”. Nyari semalaman saya di depan layar komputer, merangkai kata-kata dan membandingkan dengan literatur demi tugas keempat ini. Tiada rasa puas yang terbandingkan jika kita melakukannya dengan tangan sendiri meski masih banyak evaluasi, kritik dan saran maupun komentar. Tetapi itulah yang membuat langkah kaki tetap kuat bertumpu di tanah air tercinta ini.

Ternyata setelah materi-materi diberikan di COP School saya baru mengerti kenapa tugas-tugas dalam seleksi calon siswa itu untuk apa. Materi yang diberikan akan mudah kita mengerti karena kita sudah pernah melihat langsung dan membaca litarasinya. Sampai bertemu ya di COP School batch 7.(Tete_Orangufriends)

Page 1 of 3123