NIGEL KEMBALI KE PULAU ORANGUTAN

Nigel, orangutan jantan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur ini terpaksa kembali ke kandang karantina pada 19 Juni 2017. Nigel yang seharusnya menjadi kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan pada tahun itu harus menjalani terapi karena mengidap penyakit herpes. Tim APE Defender, tim yang merawat orangutan di COP Borneo benar-benar kecewa. Mereka tidak menyangka, Nigel gagal kembali ke habitatnya.

Satu tahun menjalani terapi, Nigel pun dinyatakan bersih dan siap dilepasliarkan secara medis. Tapi sayang, tidak semudah itu untuk bisa melepasliarkan kembali Nigel. Nigel harus menjalani pembiasaan kembali, hidup tanpa jeruji besi. Tidak semudah itu pula untuk bisa kembali ke pulau orangutan, pulau sebagai wahana latihan untuk orangutan yang akan dilepasliarkan, kami menyebutnya pulau pra rilis orangutan, karena pulau telah diperuntukan untuk kandidat orangutan rilis lainnya. Nigel harus bersabar menunggu gilirannya untuk kembali melatih otot dan kemampuannya bertahan di alam.

Akhir November 2019, waktu yang dinanti akhirnya tiba. Pulau siap dihuni Nigel, orangutan yang akan dilepasliarkan tahun depan. Pemeriksaan fisik sebagai tanda perkembangan Nigel pun dilakukan. Nigel kini memiliki cheekpad yang tidak kecil lagi. Cheekpadnya sebagai penanda  sebagai orangutan jantan telah membesar. Berat tubuhnya kini 54 kg. 

Nama Nigel berasal dari nama seorang dokter hewan sekaligus pendiri organisasi OVAID yaitu drh. Nigel Hicks. OVAID adalah organisasi yang banyak membantu pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di bidang medis. Semoga saja, orangutan Nigel berhasil menunjukkan perkembangan yang baik selama di pulau orangutan dan segera kembali ke habitatnya. Terimakasih The Orangutan Project yang telah membantu perawatan Nigel selama setahun terakhir ini. 

ORANGUTAN KEMBALI MENJADI KORBAN SENAPAN ANGIN

Jakarta – Terjadi kembali orangutan dengan peluru senapan angin di tubuhnya, kali ini terjadi di wilayah Aceh Selatan, tepatnya di desa Gampong Teugoh, kecamatan Trumon Aceh Selatan, provinsi Aceh. Satu individu orangutan dievakuasi oleh tim BKSDA Aceh Selatan dan OIC pada 20 Desember 2019 dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Tim SOCP melakukan pemeriksaan dan hasilnya ditemukan 24 peluru jenis senapan angin.

“Kejahatan senapan angin terjadi kembali dan lagi, orangutan menjadi korbannya. Ini sebuah hal yang pahit ekali dalam upaya konservasi orangutan di Indonesia, dimana ancaman akan senapan angin terus terjadi.”, Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Centre for Orangutan Protection mencatat kasus orangutan dengan peluru senapan angin ada 52 kasus sejak tahun 2006 hingga 2019. Data ini dikumpulkan dari 5 lembaga konservasi orangutan di Indonesia. Adapun lembaga tersebut adalah OIC, BOSF, SOCP, YIARI dan COP. Terbanyak dari kasus senapan angin yang terjadi pada tanggal 3 Februari 2018 di Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur dengan kasus 130 peluru.

“Dari banyaknya catatan kasus ini pastinya menjadi fenomena yang cukup mengkhawatirkan dimana senapan angin tetap menjadi ancaman satwa liar, khususnya orangutan. Terkadang tim harus mengevakuasi orangutan dalam kondisi luka parah, cacat hingga mati akibat luka dari senapan angin ini.”, ujar Hery Susanto lagi.

Pengawasan yang ketat dan penegakkan hukum menjadi kunci penting agar kejahatan ini tidak terulang kembali. Kita berharap aparat penegak hukum tidak perlu menunggu data orangutan dengan peluru bertambah lagi untuk bertindak tegas. Karena dengan data yang saat ini menjadi bahan dorongan yang kuat agar aturan tentang penggunaan senapan angin perlu diawasi.

“Senapan angin sudah menjadi teror bagi satwa liar. Aturan serta pengawasan penggunaannya perlu diawasi dengan ketat jika tidak ingin muncul korban orangutan lainnya.”, Hery Susanto, Anti Wildlife Crime COP.

Informasi dan wawancara:

Hery Susanto, 

Anti Wildlifecrime Centre for Orangutan Protection

Mobile Phone : 081284834363

email : info@orangutanprotection.com

COP SCHOOL BATCH 10: SEPULUH HARI DI KOTA YOGYA

Ini adalah perjalanan pertama saya naik kereta api. Perjalanan ini juga untuk pertama kalinya saya melakukannya sendirian. Kereta Malioboro Express pagi akan membawa saya ke Yogyakarta yang untuk pertama kalinya saya datangi. 

Beruntung sekali setibanya di stasiun kota gudeg sudah ada dua peserta COP School Batch 10 juga yang selama dua minggu terakhir ini saya kenal lewat whatsapp dan facebook. Dan kebetulan lagi, salah satu pendiri Centre for Orangutan Protection sedang dijemput tim APE Warrior, sehingga kami bertiga bisa ikut menumpang ke camp APE Warrior. Sembilan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya malam itu, saya tertidur dengan cepat.

30 Oktober 2019, peserta COP School Batch 10 semakin banyak yang datang. Ini menjadi hari berkenalan dan hari mengumpulkan tugas yang telah diberikan oleh masing-masing penyelia. Saat perkenalan secara resmi berjalan, saya baru menyadari… ternyata saya adalah yang paling muda di antara teman-teman dengan pengalamanan mereka di berbagai sektor baik di kegiatan alam bebas, perlindungan satwa maupun pendidikan. Malam itu, tenda menjadi rumah kami.

Keesokan paginya, membereskan tenda berikut perlengkapan harus kami lakukan, hari ini kami akan meninggalkan camp APE Warrior. Usai sarapan bersama yang cukup unik, secara pribadi, saya belum pernah menjalani sarapan seperti ini. “Katanya sih, sarapan ala COP School.”. Truk pun menanti kami, barang-barang sudah disusun, dan kami pun naik truk yang lain. Serius???

Lagi-lagi… ini menjadi pengalaman pertama saya. Long march… 5 km??? Sampai lupa berapa kali saya harus berhenti menarik nafas. Capek… ya iyalah. Dan masih harus mendirikan tenda… tentang Centre for Orangutan Protection, saya dapatkan malam ini, bersama kantuk yang mulai menghampiri.

Tiba-tiba tenda seperti diguyur air. Ada apalagi dengan malam ini? Apakah ini seperti masa orientasi sekolah? Tak lama kemudian, air mulai menggenang… hujan deras ternyata. Di luar terdengar suara panitia, untuk segera memindahkan barang dan pindah tidur. 

Paginya… semakin seru… masak… sarapan… materi… pemateri yang luar biasa… permainan yang melepaskan pikiran saat menerima materi yang lumayan berat buat saya, dan pertemanan dengan lintas usia, budaya dan pendidikan. Hingga tibalah hari terakhir… hari dimana kami harus kembali ke aktivitas masing-masing. Sepuluh hari? Ah… itu seperti dua hari. (Ravenna_COPSchool10)

Page 1 of 29512345...102030...Last »