A CLOSE ENCOUNTER

Unyil has disappeared again. Let alone Untung, whose existence is still unknown since the second day of monitoring. The team has searched the location but has not found him. To help finding them the team agreed to install trap cameras around the location where both of them disappeared.

The debate began, because not all rangers were good at climbing trees to install cameras. 

Fortunately, the ranger who is usually called Marison managed to set the camera trap at an altitude of more than 20 meters. The way he climbed was just like a wild  orangutan that made him got praises.

Every day the monitoring team evaluates daily results to plan monitoring the following day. This time, the team searched at the river. Two hours walking, the team also rested on the river bank while enjoying a cup of coffee prepared by the logistics team.

Suddenly, one of the rangers shouted, “Woy … Untung !!!” Spontaneous all turned back and Untung was already 1 meter behind. Some ran to the right, some to the left, and even towards the river. The team were shocked. Slowly Untung began to climb trees and glared. The team packed up and immediately followed Untung from behind. Sure this time will not lose Untung, but then he just disappeared.

After disappearing for 14 days, Untung began to show the development of good adaptation. He no longer pursues humans. (EBO)

KEMUNCULAN UNTUNG MENGANGETKAN RANGER

Unyil kembali menghilang, apalagi Untung yang sejak hari kedua monitoring belum diketahui keberadaannya. Penyisiran lokasi secara berpencar sudah, namun tim belum menemukan keberadaan keduanya. Sebagai alat bantu sembali melakukan penyisiran lokasi, tim sepakat untuk memasang kamrea jebak di sekitar lokasi keduanya menghilang.

Perdebatan pun di mulai, karena tidak semua ranger lihai memanjat pohon untuk memasang kamera. Untunglah, ranger yang biasa dipanggil Marison berhasil memansang kamera jebak di ketinggian lebih dari 20 meter. Gerakannya memanjat seperti orangutan liar membuatnya banjir pujian.

Setiap hari tim monitoring mengevaluasi hasil harian untuk merencakan pemantauan hari berikutnya. Kali ini, tim menyisir aliran sungai. Dua jam berjalan, tim pun beristirahat di pinggir sungai sambil menikmati secangkir kopi yang telah dipersiapkan tim logistik. 

Tiba-tiba, salah seorang ranger berteriak, “Woy.. Untung!!!”. Spontan semuanya menoleh ke belakang dan Untung sudah berada tepat 1 meter di belakang. Ada yang berlari ke kanan, kekiri bahkan ke arah sungai. Kaget bukan main rasanya. Perlahan Untung mulai memanjat pohon dan melotot. Tim pun berkemas dan segera membututi Untung dari belakang. Yakin kali ini tidak akan kehilangan Untung, namun jejaknya kali ini, hilang begitu saja.

Setelah menghilang selama 14 hari, Untung mulai menunjukkan perkembangan adaptasi yang baik. Ia tak lagi mengejar manusia. 

 

THE APE GUARDIAN SPOTTED UNYIL IN THE RIVER

Losing orangutan tracks during post-release monitoring is normal. The next agenda will definitely start from the last point we lost it. A day, two days has passed until a week later the team finally saw Unyil the orangutan. Unyil was seen relaxing in a creek. 

The distance between the team and the orangutan tells whether the orangutan is aware of the existence of the team, or the team managed to record all orangutan activities completely. For this encounter, it turned out that the team was still too close, Unyil was aware of APE Guardian’s existence, the team that is responsible for the release of orangutans. Unyil, who has the ability to walk on the ground quickly, looked angry and chased the team. The team was made helpless. “Confronting Unyil is really exhausting. It’s better to run than to be hit or even bitten by Unyil. That will be a nightmare.”, said Bit, one of the rangers who participated.

After running far enough, the team began to turn around, observe and look for Unyil again. Again, the team lost track of Unyil. “It looks like Unyil is watching us.” Unyil is an orangutan who was illegally cared for by someone in Muara Wahau, East Kalimantan. He was treated like a human in terms of diet, even fed like a human child. However, Unyil was still kept in a 50 cm wooden box. And the cage was put in the bathroom.

The caregiver’s love for Unyil is wrong. Orangutan is a wildlife that protected by law. Its role is far more important in nature, than living in a citizen’s bathroom. We thanked the caregiver’s understanding to hand over Unyil to be rehabilitated. Help COP to save other Unyils. For more information, contact email info@orangutanprotection.com  (EBO)

APE GUARDIAN BERTEMU UNYIL DI SUNGAI

Kehilangan jejak orangutan saat monitoring paska pelepasliaran menjadi sesuatu yang lumrah. Agenda selanjutnya pasti dimulai dari titik kehilangan tersebut. Satu, dua bahkan seminggu kemudian tim akhirnya bertemu orangutan Unyil. Unyil terlihat sedang bersantai di anak sungai.

Jarak tim dengan orangutan menjadi penentu, apakah orangutan menyadari keberadaan tim atau tim berhasil mencatat semua aktivitas orangutan dengan lengkap. Untuk perjumpaan kali ini, ternyata tim masih terlalu dekat, Unyil menyadari keberadaan APE Guardian, tim yang bertanggung jawab pada orangutan pelepasliaran. Khusus untuk Unyil yang memiliki kemampuan berjalan di tanah dengan cepat, tim harus berlari menghindar dari kejaran Unyil yang terlihat marah. Tim dibuat loyo. “Menghadapi Unyil benar-benar menguras tenaga. Lebih baik lari daripada terpukul orangutan bahkan tergigit Unyil. Itu akan jadi mimpi buruk.”, ujar Bit, salah satu ranger yang ikut.

Setelah berlari cukup jauh, tim mulai berbalik arah, mengamati dan mencari Unyil lagi. Lagi-lagi, tim kehilangan jejak Unyil. “Sepertinya Unyil mengamati kami.”. Unyil adalah orangutan yang dipelihara seseorang secara ilegal di Muara Wahau, Kalimantan Timur. Dia diperlakukan seperti manusia dalam artian makan makanan manusia, bahkan disuapi seperti anak manusia.  Namun, Unyil tetap dimasukkan dalam kotak kayu berukuran 50 cm. Dan kandang tersebut dimasukkan ke dalam kamar mandi. 

Kecintaan pemelihara pada Unyil menjadi keliru. Unyil adalah orangutan yang merupakan satwa liar yang dilindungi. Perannya jauh lebih penting di alam, dibandingkan hidup di kamar mandi warga. Terimakasih atas pengertian pemelihara Unyil untuk menyerahkan Unyil direhabilitasi. Bantu COP untuk menyelamatkan Unyil-Unyil yang lain. Untuk informasi lebih lanjut hubungi email info@orangutanprotection.com (WID)

SCHOOL VISIT AT BINUS SERPONG

Tuesday, May 7 2019 COP had the opportunity to conduct a school visit program at the Binus Serpong school. The event was rescheduled to the next day because of the holiday fasting. The mini library hall was almost fully filled when the COP team arrived. They were teenagers from 11th grade who seemed eager to listen to information about orangutans. 

The one and half hour session ran smoothly with presentation and fruitful discussion. There are many questions from students, especially what they can do. They are interested in the adoption concept which allows them to be directly involved in saving orangutans. As a follow up to the session, the students created campaign posters to save orangutan.

After the session ended, Tristan and Gideon, representatives from the Student Council came to the COP team to elaborate ideas. Currently they are organizing a fundraising activity called HOPE, where they put empty bottles at various points in the school to be filled with donations. They have chosen 4 potential recipients of donations where the plan is one of them is COP. We also talk in more detail about what students can do to help. The discourse to conduct a field visit to Borneo COP also surfaced. “The live-in program in the Dayak village and the visit of the COP rehabilitation center is very possible, but we need to finalize the concept so as not to disturb the rehabilitation program itself, also other preparations should be done. At present the most immediate benefit is the adoption and donation program. There are orangutans like Owi, Happi and Popi who are in our adoption lists.”, Ebo, Education Specialist from COP, explained. “Owi, there is HOPE from Binus Serpong!” (EBO)

 

KUNJUNGAN KE SEKOLAH BINUS SERPONG 

Selasa, 7 Mei 2019 COP berkesempatan melakukan program school visit di sekolah Binus Serpong. Jadwal acara sendiri diundur sehari karena liburan awal puasa. Aula mini perpustakaan sudah hampir terisi penuh saat tim COP datang. Mereka adalah 200an remaja-remaja dari kelas 11 yang tampak semangat untuk mendengarkan informasi terkait orangutan.

Presentasi sendiri berlangsung sangat cair, tidak terasa satu setengah jam berlalu dengan presentasi dan tanya jawab. Ada banyak pertanyaan dari siswa terutama apa yang bisa mereka lakukan. Mereka tertarik dengan konsep adopsi yang memungkinkan mereka bisa terlibat langsung dalam penyelamatan orangutan. 

Setelah sesi berakhir, Tristan dan Gideon, perwakilan dari OSIS mendatangi tim COP untuk bertukar pikiran. Mereka sendiri sedang mengorganisasi kegiatan yang dinamai HOPE, dimana mereka meletakkan botol-botol kosong di berbagai titik di sekolah untuk diisi donasi. Mereka telah memilih 4 calon penerima donasi di mana rencananya salah satunya adalah COP. Kita juga berbicara lebih mendetail kira-kira apa yang bisa siswa lakukan untuk membantu. Wacana untuk melakukan kunjungan lapangan ke COP Borneo juga mencuat. “Program live in di perkampungan Dayak dan kunjungan pusat rehabiltasi COP itu sangat dimungkinkan, namun kami perlu mematangkan konsepnya supaya tidak mengganggu program rehabilitasi itu sendiri serta persiapan-persiapan lainnya. Saat ini yang paling langsung terasa manfaatnya adalah progam adopsi dan donasi. Ada orangutan Owi yang sedang mencari orangtua asuh, juga Happi dan Popi.” Terang Ebo, Education Specialist dari COP. “Owi, ada harapan (hope) dari Binus Serpong!” (EBO)

Page 1 of 27212345...102030...Last »