APE WARRIOR KEMBALI KE GUNUNG AGUNG (1)

Gurung Agung adalah Gunung tertinggi yang berada di Pulau Bali dengan memiliki ketinggian 3.031 MDPL yang terlihat kerucut runcing, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar terletak di kecamatan Rendang, kabupaten Karangasem, Bali.

Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano yang sudah mengalami letusan sebanyak 4 kali yaitu tahun 1808, 1821, 1843 dan 1963. Gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan uap air.

Masyarakat Hindu Bali percaya, bahwa gunung Agung adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa. Masyarakat juga mempercayai bahwa di gunung ini terdapat istana dewata. Oleh karena itu, masyarakat Bali menjadikan tempat keramat yang disucikan.

Sabtu 25 November 2017, gunung Agung kembali mengeluarkan erupsi magmatik dengan letusan dahsyat lapisan gelap abu yang berakibat lebih dari 122.500 jiwa diungsikan ke zona aman 12 km dari mulut kawah gunung Agung. APE Warrior yang telah sebulan menarik diri dari gunung Agung, spontan kembali lagi.

Hari pertama pemberian makanan atau feeding di kecamatan Selat Desa Sebudi, desa Amarte Bhuana dan desa Santi dengan membawa 7 karung makanan anjing/dogfood, 2 karung makanan kucing/catfood dan 5 jerigen air. Desa terlihat sunyi-sepi dampak guguran abu vulkanik yang menyelimuti desa. Tampak anjing-anjing yang ditinggalkan pemiliknya seperti sudah mengetahui, tim datang untuk memberikan makanan kepada mereka dan anjing-anjing menyambut dengan gonggongan yang saling bersahutan.

Hujan bercampur abu menemani kami, perih terasa di mata dan bau asap namun tak melunturkan semangat tim untuk terus membagikan makanan anjing, kucing dan unggas yang ada. (Petz)

APE GUARDIAN UNTUK ORANGUTAN LESAN

“Kami berharap anak-anak bisa menceritakan ke orang yang lebih besar, seandainya ada satwa liar yang masuk dan merusak tempat tinggal mereka.”, ujar Yanto saat mengunjungi SD Negeri 02 Kelay Merapun di kampung Merapun kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sabtu, 4 November yang lalu, para relawan APE Guardian mengedukasi 82 murid kelas 3 sampai kelas 6.

Konflik masyarakat dan satwa liar masih sangat tinggi terutama mereka yang tinggal berbatasan langsung dengan hutan. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan seperti kecelakaan dan kerusakan, tim APE Guardian bersama Operasi Wallacea Terpadu (OWT) bekerja sama mensosialisasikan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) beserta satwa endemiknya. “Masyarakat sekitar sudah seharusnya bangga dengan kekayaan lingkungannya dan menjaga kekayaan alami ini.” ujar Ipeh.

Sambil bernanyi dengan nada lagu Ampar-Ampar Pisang, Ipeh dan relawan lainnya menyanyikan lagu Orangutan Lesan. Anak-anak menjadi lebih bersemangat lagi. Permainan demi permainan yang berisikan materi betapa pentingnya hutan dan satwa liar yang menghuninya bagi kehidupan diharapkan bisa lebih dimengerti anak-anak. “Kami senang menjadi relawan. Kami senang berbagi. Jika ada kesempatan lagi, kami akan kembali lagi.”, ujar relawan COP yang lebih terkenal dengan sebutan Orangufriends. (REZ)

★ ORANGUTAN SUNGAI LESAN ★

KERA BESAR APA YANG TINGGALNYA DIHUTAN ?
MEREKA ADALAH BINATANG ORANGUTAN
ORANGUTAN..ORANGUTAN..BINATANG KHAS KALIMANTAN
MEREKA PENGHUNI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN 2X
ORANGUTAN..ORANGUTAN..STATUSMU RENTAN
AYOO SELAMATKAN..SELAMATKAN ORANGUTAN !! 2X

POPI, INI SARANG UNTUKMU

Sudah enam bulan bayi orangutan yang bernama Popi mengikuti kegiatan sekolah hutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Selama itu juga, para animal keeper bersabar menunggu perkembangan Popi di sekolah hutan. Mulai dari Popi hanya bisa berdiam di hammock, tidur dimana pun yang ia inginkan, menangis sepanjang berada di sekolah hutan karena ditinggal dan bingung untuk turun hingga sampai saat ini, Popi berani memanjat dan turun pohon sendiri.

Perkembangan Popi tak lepas dari program di sekolah hutan COP Borneo. Program yang menuntut para animal keeper sabar karena tingkah murid sekolah hutan yang tak mau tahu jika mereka telah asik bermain. Enam bulan saat yang tepat mengenalkan Popi sebuah sarang di sekolah hutan. Pagi ini, Danel memanjat pohon, menjalin beberapa ranting dan menyempurnakannya dengan daun-daun. Sarang buatan Danel untuk Popi. “Kita ini kan ibunya bayi-bayi malang ini. Kalau bukan kita yang mengajarinya atau mengenalkan sarang orangutan di hutan. Terus siapa lagi?”, ujar Danel serius.

Danel hampir saja selesai membuat sarang. Sementara itu, Jevri bersiap-siap membawa Popi untuk naik ke atas pohon. Dalam gendongan Jevri, Popi mempererat peganggannya. “Rasanya benar-benar jadi seorang ibu yang menggendong bayinya. Popi memelukku dengan kuatnya, seakan-akan dia tak mau sampai jatuh. Aku sendiri pun takut jika Popi sampai terjatuh.”, kenang Jevri saat makan malam bersama di dapur.

Sungguh luar biasa. Popi terlihat menyukai sarang buatan Danel. Tak ada tangisan Popi saat Danel dan Jevri meninggalkannya di sarang. Popi asik menggigit-gigiti ranting, daun dan memberanikan diri bergelantungan lalu kembali lagi ke sarangnya. Popi pun mengamati animal keeper dari sarang barunya. “Popi… kalau sekarang kamu duduk-duduk di sarang buatanku. Suatu saat nanti, kamu pasti bisa buat sarang mu sendiri ya!”, teriak Danel. (WET)

Page 1 of 16212345...102030...Last »