WISATA BERBURU? ITU HANYA BISNIS!

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan pemerintah berencana mengembangkan Pulau Komodo menjadi wisata safari bertaraf international seperti di Afrika, salah satunya wisata berburu. Pernyataan ini tentu saja meresahkan pegiat konservesi mengingat kasus perburuan liar di Pulau Komodo termasuk tinggi.

Pulau Komodo adalah habitat bagi setidaknya 22 spesies reptil, 72 spesies burung, 7 spesies mamalia darat, 1000 spesies ikan, 260 spesies terumbu karang, 70 spesies spons laut, 14 spesies mamalia laut da beragam hewan lainnya. Pulau Komodo teletak di kawasan Wallacea, Daerah yang memiliki tingkat keanekaragaman spesies yang sangar tinggi. Banyak spesies di kawasan Wallacea merupakan sawa endemik, artinya tidak bisa ditemui di tempat lain. Komodo, kerbau, rusa timor dan kakatua jambul kuning sering menjadi sasaran perburuan liar di Pulau Komodo. Jika wisata berburu dilakukan, tentu semakin mendorong hilangnya populasi hewan di pulau ini. 

Wisata berburu adalah bisnis yang sengaja ditutupi dengan kedok konservasi. Tidak masuk akal menyelamatkan populasi suatu spesies dengan cara membunuhnya. Seharusnya pemerintah memikirkan cara agar spesies-spesies ini tidak diburu. Perburuan liar saja sudah sulit untuk dicegah, apalagi jika ditambah perburuan legal. Hewan-hewan endemik pulau Komodo bisa punah jika pengelolanya sembrono. (IND)

 

HARI PERTAMA SEKOLAH HUTAN USAI KEBAKARAN HUTAN

Tanpa menunggu disuruh untuk keluar, semua orangutan kecil yang mengikuti kelas sekolah hutan keluar dari kandang melewati para perawat satwa yang bersiap untuk menggendong mereka ke sekolah hutan. Tujuan mereka cuman satu, segera bermain!

Udara kering dan panas perlahan mulai berubah kembali menjadi segar dan basah seperti namanya hutan hujan Kalimantan. Bergerak bebas tanpa dibatasi besi kandang membuat ekspresi setiap orangutan berbeda. 

Kebebasan bermain di lantai hutan yang dilakukan Owi sempat membuat para perawat satwa tertawa. Namun tak lama kemudian, Owi mulai mendekati orangutan kecil lainnya yang sedang asik bermain dan menggigitnya. 

Mary langsung meraih pohon yang dipanjatnya, bermain di atas tanpa peduli yang lainnya. Bonti mengamatinya dan sesekali memperhatikan Happi. Happi seperti hilang diantara pepohonan. Semua orangutan kecil menjadi sibuk. Perawat satwa menjadi lebih sibuk dari biasanya, memperhatikan setiap orangutan yang menjadi tanggung jawabnya dan tak lupa mencatatnya. 

Hari pertama sekolah setelah ancaman kebakaran hutan benar-benar membuat semua bersyukur. Tingkah orangutan hari ini mengingatkan kami, saat hujan turun pertama kali di saat usaha memadamkan kebakaran lahan beberapa hari yang lalu. Semoga bahagianya kami bisa dirasakan kamu juga.

ORANGUTAN KEBUN BINATANG MEDAN, MEROKOK

Orangutan bisa dibilang sebagai satwa observer atau pengamat. Dalam kehidupannya, orangutan belajar apapun dengan cara mengamati. Bayi orangutan akan belajar tentang bertahan hidup di hutan dari induknya selama kurang lebin 7 tahun. Oleh karena itu, Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo juga menerapkan metode ini. Orangutan yang sudah tidak memiliki induk dan masuk ke pusat rehabilitasi dipaksa untuk mengamati tentang cara bertahan hidup kepada orangutan lainnya di sekolah hutan. 

Hal ini terbukti berhasil dengan dilepasliarkannya orangutan eks-rehabilitasi COP Borneo. Pada intinya, perawat satwa tidak mengajari mereka cara mencari makan, cara memanjat ataupun membuat sarang. Namun mereka akan dilepas di hutan selama sekolah hutan dan akan mengamati orangutan lainnya yang lebih pandai dan akan menirunya.

“Kiriman video dari Orangufriends Medan tentang orangutan merokok di kebun binatang Medan , jelas ini ada seseorang yang memang memancing orangutan untuk mengamatinya. Ada seseorang yang memang merokok di dekat orangutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini menjadi lebih parah, ketika orang tersebut melemparkan rokok yang sudah menyala kepada orangutan. Karena dirasa tidak masuk akal, jika orangutan menyalakan rokok dengan tangannya.”, ujar Reza Kurniawan, antropolog primata COP.

Proses pengamatan oleh orangutan berhasil dilakukan. Yang perlu digaris-bawahi di sini adalah kurangnya proses pengamanan kebun binatang dari pihak kebun binatangnya sendiri. Ketika pihak kebun binatang lebih cermat dalam memberikan pengawasan terhadap pengunjungnya, hal-hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. (REZ)

Page 1 of 29212345...102030...Last »